Ingin Ramping? Baca Tentang Reduksi Kalori Versus Puasa

Teori Kalori Keluar Dikurangi Kalori Masuk Adalah Payah

 

Apakah efek profitable dari puasa? Beberapa orang mengatakan karena adanya reduksi kalori. Jika memang seperti itu, mengapa ada perbedaan mencolok antara puasa dengan limitasi kalori? Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRaP) telah dicoba berkali-kali, dan nyaris gagal hampir setiap saat. Tetapi, puasa lebih efektif, sementara reduksi kalori sederhana tidak. Mengapa ini terjadi? Karena dengan berpuasa kita bisa mendapat benefit yaitu dengan adanya perubahan hormon. Jika kita makan secara konstan, transformasi hormon tidak akan terwujud. Efektifitasnya akan bertambah dengan adanya puasa berselang-seling. Selain itu juga akan menghentikan insulin resisten yang meraja lela, seperti yang sudah kita bahas di jurnal sebelumnya. Mari bandingkan teknik CRaP yang gagal dengan puasa intermiten (IF).

Mari kita meninjau saran konvensional (mengontrol porsi) atau mereduksi total kalori/ hari. Kita sering mendengar saran untuk memangkas 500 kalori sehari dan berharap kehilangan 1 pon lemak per minggu. Meskipun metode ini biasanya menuai kegagalan, namun bukan berarti para profesional kesehatan berhenti merekomendasikannya. Saya tanya sekarang, siapa yang belum pernah mencoba metode diet ini? Dengan strategi diet di atas, adakah yang mampu mempertahankan berat badan mereka dalam jangka waktu panjang? Apakah itu sukses? TIDAK. Dengan fakta tersebut, saya sering terkejut, hari gini masih ada yang percaya dengan teori itu?

Dari sudut pandang yang murni praktisnya, pertimbangkan hal ini. Kami, sebagai ahli medis, telah menyarankan orang-orang yang berusia minimal 40 tahun untuk mengendalikan kalori mereka. Kami memberitahu mereka bahwa itu semua tentang kalori masuk dikurangi kalori keluar. Secara teknis ini memang TAMPAK benar, ternyata kalori keluar, bagian yang TIDAK SANGGUP kita kontrol jauh lebih penting daripada kalori masuk. Meski begitu, dokter seperti Dr. Katz, terus menyarankan untuk memotong kalori mereka dan berpura-pura bahwa mereka akan gol, dan sanggup melangsing. Tapi itu tidak pernah berjaya. Tingkat kegagalan adalah 98%.

By: Dokter Jason Fung  (Caloric Reduction vs Fasting – Part 9)

Pengalaman pribadi mensinyalir bahwa ini mungkin benar. Jadi, meskipun kamu mempercayainya 100%, reduksi kalori TIDAK BEKERJA. Ini adalah fakta yang telah terbukti. Terbukti dengan air mata nanah, dari sejuta orang yang percaya dan merasa tertipu. Tapi, tidak peduli berapa kali saya memberi tahu para penggemar kalori, I get the uncomprehending gaze of an anxious monkey.

Sumber Gambar

Lantas, apa yang terjadi dengan strategi CRaP ini? Sebuah tinjauan rinci dapat ditemukan di seri kalori sebelumnya. Esensinya, tubuh bertendensi menjaga body set weight (BSW). Tubuh pada awalnya mampu melangsing. Tetapi, saat berat badan melorot, tubuh mengkompensasi penurunan berat badan ini dengan mencoba mendapatkan kembali berat badan yang hilang.

Mediator hormonal  lapar (ghrelin) melambung. Ini berarti bahwa rasa lapar dan nafsu makan meningkat. Hal ini terjadi hampir seketika dan berlanjut hampir tanpa batas waktu. Selanjutnya, metabolisme tubuh mulai dimatikan. Menanggapi turunnya 30% kalori, ada sekitar 30% penyusutan total pengeluaran energi. Kita mulai merasa lelah, kedinginan, dan kita memiliki sedikit energi untuk hal-hal seperti olahraga. Seiring TEE tubuh menurun, penurunan berat badan mulai melambat dan kemudian terjadilah plateau.

Akhirnya berat badan mulai kembali, bahkan saat kita terus mengikuti diet. Jadi adaptasi metabolik terhadap CRaP adalah degradasi rasa lapar dan metabolisme basal terjun bebas. Jadi, saat kamu diet, kamu merasa lapar, lelah, dingin dan umumnya sengsara.

Apakah ini terdengar akrab bagi pelaku diet? Mungkin terdengar akrab bagi para dieter. Inilah yang Dr. Ancel Keys telah tunjukan, puluhan tahun yang, lalu dalam eksperimen Starvation Minnesota-nya. Bagian terburuknya adalah strategi ini dijamin gagal. Sudah dibuktikan oleh sains sejak dulu. 50.000 percobaan acak wanita (Inisiatif Kesehatan Wanita) dari diet rendah kalori rendah terbukti menjadi kegagalan total untuk menurunkan berat badan. Masalah dengan strategi ini adalah tidak mengatasi kasus jangka panjang resistensi insulin dan kadar insulin tinggi. Karena insulin menetapkan ‘termostat BSW’—tubuh terus berusaha untuk mendapatkan kembali berat badan yang hilang.

Inilah intinya. Saat kamu mengerem masuknya kalori, nafsu makan naik, dan TEE turun. Kamu mengurangi kalori diserap, tapi kalori keluar juga ambles. Ini adalah kegagalan yang dijamin 100%. It’s as stupid as cracking the safe of your own bank.

Puasa Intermittent

Seperti yang baru-baru ini kami rinci dalam seri puasa, perubahan hormonal yang terjadi di IF berbeda sepenuhnya. Berbeda dengan CRaP, saat puasa, nafsu makan turun dan TEE naik. Tubuh sedang mencoba membikin tubuhmu menjadi semampai dan membantumu sekuat tenaga. Poin utamanya adalah mengatasi masalah resistensi insulin jangka panjang. Selama pengurangan kalori, kamu tidak mendapatkan adaptasi hormonal. Adaptasi hormonal sangat berbeda, seperti yang telah kita bahas sejauh ini dalam rangkaian ini. Glukosa dan insulin juga ikut turun dan tetap terjaga.

Selama IF, sifat intermiten intervensi membantu mencegah masalah resistensi insulin. Sebuah percobaan baru-baru ini—Dampak pembatasan energi intermiten atau kontinu terhadap penurunan berat badan dan penanda risiko penyakit metabolik: uji coba secara acak pada wanita muda yang obesitas—membandingkan CRaP dengan IF.

Segala Hal Yang Ingin Kamu Ketahui Tentang Diet 5:2

Dalam penelitian ini, 107 wanita dirandom untuk dua strategi. Yang pertama adalah pembatasan energi kontinu 25% (CER)—serupa dengan strategi kontrol porsi CRaP. Strategi kedua adalah pembatasan energi intermiten (IER). Pasien diijinkan memakan asupan normal pada 5 hari dalam seminggu, namun hanya 25% kalori biasa pada 2 hari dalam seminggu—sangat mirip dengan diet 5: 2 Dr. Michael Mosley.

 Anggap asupan kalori biasa adalah 2000 kalori per hari. Dengan CER, kalori dikurangi menjadi 1500, atau 10.500 kalori selama 1 minggu. Dengan IER, kalori mingguan adalah 11.000 kalori per minggu. Jadi penelitian ini secara efektif membuat asupan kalori tetap stabil.

Basic dari diet adalah diet gaya Mediterania dengan lemak 30%. Setelah dikerjakan lebih dari 6 bulan, apa hasilnya? Dalam hal penurunan berat badan dan kehilangan lemak, tidak ada perbedaan yang signifikan walaupun IER cenderung melakukan yang lebih baik (berat badan 5,7 vs 5,0 kg, kehilangan lemak 4,5kg vs 3.2kg). Tapi bagian penting dari penelitian ini adalah efek pada insulin dan resistensi insulin.

Ditambah, saya telah menghabiskan 60+ entri blog terakhir yang menyatakan bahwa insulin dan resistensi insulin adalah faktor kunci dalam obesitas dan akumulasi bobot badan. Apa yang terjadi pada tingkat insulin? Nah, ada peningkatan kadar insulin yang jelas dan menguntungkan kelompok IER.

Yang lebih mengesankan lagi adalah perubahan resistensi insulin. Ini diukur dengan HOMA, yang merupakan perbandingan glukosa puasa dengan insulin puasa. Pada kelompok CER, hampir tidak ada perubahan resistensi insulin mereka (IR). Karena tidak ada perubahan pada IR, ini akan terus menyebabkan kadar insulin lebih tinggi dan terjebak dalam lingkaran setan. Tingkat insulin yang lebih jenjang ini mengabadikan IR yang lebih tinggi.

Ini adalah masalah jangka panjang dari program melangsing. Ini adalah bagian dari equation yang biasanya diabaikan dan menyebabkan timbangan rata-rata kembali. Intermittent diet yang membuatnya efektif.

Sumber Gambar

Kita bisa melihat kembali sejarah manusia. Puasa telah digunakan selama 2000 tahun terakhir sebagai metode yang sangat efektif untuk mengendalikan obesitas. Portion control (CRaP) hanya digunakan secara ekstensif selama 50 tahun terakhir dengan kegagalan yang menakjubkan. Namun, pakar seperti Dr. Katz dan yang lainnya terus-menerus meneriaki kami melalui buku, TV, dan online untuk mengurangi kalori. Tidakkah mereka mengira kita sudah mencobanya dan khatam dengan metode itu?

Tapi strategi yang busuk luar biasa, berpuasa, terus diremehkan sebagai praktik berbahaya yang mirip dengan pemberian darah dan voodoo. Masalah diet yang mayoritas terjadi adalah bahwa mereka mengabaikan prinsip biologis homeostasis—-yaitu kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Tubuh memiliki keadaan pilihan. Jika kamu menjauh dari itu, tubuh akan menyesuaikan diri dengan itu. Misalnya, jika kamu berada di ruangan yang gelap dan tiba-tiba masuk ke ruangan yang dipenuhi sinar matahari yang terang, tiba-tiba kamu akan merasa buta. Namun, dalam beberapa saat, tubuh kamu akan beradaptasi.

Hal yang sama berlaku untuk melangsing. Jika kamu mencoba untuk tetap diet konstan, tubuh akan beradaptasi. Ini berarti bahwa diet yang berhasil memerlukan strategi intermiten/ berseling, bukan yang konstan. Ini adalah perbedaan krusial.

Variasinya adalah antara membatasi beberapa makanan setiap saat (CER) dan menyekat semua makanan pada beberapa waktu (IER). Inilah perbedaan antara kegagalan dan kesuksesan.

Ingin Ramping dan kurus? Baca Tentang Insulin Menyebabkan Kamu Menggemuk

Sumber Gambar

Pada postingan sebelumnya, kita telah membedah hubungan antara insulin dengan obesitas. Kaitannya, bukan hanya bumbu pelengkap penyebab gemuk, namun sebagai pelaku utama. Selama beberapa dekade kita telah keliru, mengira yang menyebabkan kegemukan adalah kalori (teori CRAP). Hipotesis ini bagaikan jembatan yang belum kelar dibangun, namun dipaksa untuk dipakai. Studi demi studi menunjukkan bahwa mengurangi kalori TIDAK menyebabkan kurus. Pasien demi pasien telah mencoba menurunkan berat badan dengan membatasi kalori, namun tingkat gagalnya 100%, dan konsisten gagal maning gagal maning. Tapi, kita nggak bisa menyalahkan model kalori begitu aja dong, lantas apa sih yang menyebabkan kita batal melangsing? Salahkan saja pasiennya.

Karena pasien selalu gagal melangsing, atau berhasil menjadi ramping namun menggemuk lagi (diet yoyo), hanya ada 2 kemungkinan:

  1. Saran untuk mengurangi porsi makan, diet ketat, makan hidangan rendah lemak, tambah porsi olahraga adalah saran yang salah.
  2. Atau pasiennya bandel bin bader alias tidak mau mengikuti saran di atas tadi.

Dan sepertinya, orang-orang berasumsi para pasien tidak patuh, sehingga para dokter dan ahli gizi ini lantas memarahi, mengejek, meremehkan, menegur, mencaci dan menghujat. Kemudian kita berteriak-teriak lagi, kurangi porsi makan, bergerak lebih aktif. Seolah-olah kedua saran itu bisa menyembuhkan masalah mereka. Lagi pula, piramida makanan tidak mungkin salah, kan? Iya toh? Tapi, sialnya, meski pasien telah mengikuti anjuran tadi, si lemak membandel tak mau enyah juga. As a nagging tooth.

Para dokter, pastinya, tertarik dengan hipotesis Crap bagaikan semut tertarik pada gula. Obesitas bukan karena kita telah gagal paham mengenai akar masalahnya, namun sederhana saja, karena pasien pemalas dan rakus. Itu adalah permainan favorit mereka—menyalahkan pasien. Tapi, tentu saja, masalah utamanya  adalah hipotesis CraP. Itu salah total.

By: Dokter Jason Fung

Insulin Causes Weight Gain – Hormonal Obesity IV

Jika kamu menambah porsi makanmu alias menambah kalori, penambahan itu tidak akan menyebabkan kamu menggemuk, jadi, jika kamu mengurangi porsi makanmu, artinya, kamu juga tidak akan melangsing. Olahraga pontang-panting juga sia-sia, dan pembahasan lebih dalam akan kita beberkan di postingan selanjutnya. Jadi, jika begitu, apa dong yang sebenarnya merupakan etiologi obesitas? Insulin.

Apa yang terjadi bila kita memberi dosis tinggi insulin kepada pasien? Insulin membuat pasien bertambah gemuk. Semakin banyak insulin yang dia konsumsi, semakin banyak bobot yang ia dapatkan. Hampir tidak masalah berapa banyak kamu makan dan seberapa lama durasi olahragamu. Kamu akan terus membulat.

Kami telah mendemonstrasikan prinsip ini dengan melakukan percobaan yang aduhai dan intensif pada para pasien diabetes. Para peneliti telah menunjuk 14 pasien  diabetes dan menambah insulin sampai gula darahnya berangsur normal. Pada awalnya, mereka hanya minum pil. Selama 6 bulan, insulin ditingkatkan sampai dengan 100 unit per hari. Berat Badan meningkat sebesar 8,7 kg (19 lbs). Dan lucunya, asupan kalori harian mereka telah kita kurangi hingga 300 kalori/ hari. Dengan kata lain, meski makan lebih sedikit, berat badan pasien bertambah dan semakin menggila. Itu berarti bahwa bukan kalori yang mendorong kenaikan berat badan. Penyebab absolutnya adalah insulin!

Sumber Gambar

Coba pikir sekali lagi. Insulin adalah sinyal hormonal bagi tubuh untuk menimbun lemak—Body Set Weight (BSW). Jika insulin meningkat, kita meningkatkan BSW kita. Untuk mencapai bobot baru yang lebih tinggi ini, kita perlu makan lebih banyak atau mengurangi total pengeluaran energi (TEE). Jadi insulin membuat kita gemuk. Agar berubah menjadi gendut, si tubuh akan makan lebih banyak atau mengurangi TEE. Perilaku makan sebakul adalah sebagai respons terhadap sinyal hormonal untuk menggemuk. Dalam penelitian ini, dosis insulin meningkat secara masif alias besar-besaran. Di bawah sinyal hormonal ini, tubuh mencoba menambah berat badan (meningkatkan BSW). Seiring bertambahnya berat badan, pasien mencoba membatasi kalori. Karena mereka makan lebih sedikir, tubuh mereka terpaksa ‘dimatikan’ agar menghemat energi untuk menambah berat badan. TEE diturunkan. Kita merasa lelah, dingin, dan lapar.  Dan berat badan masih saja merangkak naik. Kedengarannya seperti diet rendah kalori model jadul a.k.a konvensional. Diet, olahraga, lemas lunglai lemah lesu dan masih saja belum bisa menurunkan berat badan. Faktanya, jika kita lebih teliti, ada korelasi langsung antara dosis total dan penambahan berat badan. Semakin banyak insulin yang diberikan, pasien semakin menggemuk. Semakin tinggi kadar insulin, semakin banyak bobot yang didapat. Insulin menyebabkan obesitas.

 Sebuah studi yang lebih baru (N Engl J Med 2007; 357: 1716-30 Holman RR) menunjukkan efek yang sama persis.

Dalam penelitian ini, 708 penderita diabetes diberikan insulin per oral atau diminum. Apa yang terjadi dengan berat badan mereka? Naik dong. Bukan surprise sih sebenarnya. Setiap ahli klinis sudah mengetahui bahwa insulin membuatmu menggemuk. Dan pasien yang diberi dosis tertinggi menggemuk paling drastis. Mereka yang mendapat sedikit, mendapatkan bobot paling sedikit. Insulin tidak hanya menyebabkan obesitas secara general, tapi juga bisa menyebabkan pertumbuhan lemak lokal. Mereka yang rutin menyuntikkan insulin terkadang mengalami lipohipertrofi.

Ini semakin memperkuat anggapan kita bahwa insulin adalah sinyal untuk menimbun lemak. Ada juga sih yang membantah bahwa obat diabeteslah yang bisa menyebabkan kita menimbun lemak. Saat kita mengurangi gula darah, gula diambil dari darah dan diubah menjadi lemak. Jika ini benar, pengobatan diabetes apa pun harus menyebabkan kenaikan berat badan yang sama. Kita bisa membandingkan pengobatan diabetes tipe 2 dengan obat yang berbeda. Beruntungnya, penelitian ini sudah selesai dilakukan. Ini adalah UKPDS gigantis (Pembelajaran Diabetes prospektif yang dilakukan oleh Inggris).

Begini penjelasannya. Ada beberapa pil untuk diabetes (oral hypoglycemics). Sulphonylureas (SU) adalah kelas pengobatan yang akan merangsang pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Jika insulin menyebabkan obesitas, seperti teori obesitas hormonal, maka kelas obat ini seharusnya membuat kita menggemuk.

Metformin adalah kelas pengobatan yang lain. This is an entirely different kettle of fish. Hal ini dianggap sebagai sensitizer insulin. Artinya, membantu insulin dalam tubuh bekerja lebih efisien. Obat ini tidak meningkatkan kadar insulin serum. Obat ini kece badai.

Sekarang kita bisa membandingkan efek berbeda dari 3 jenis obat—insulin, SU, dan metformin. Mereka semua memiliki efek mengurangi gula darah, namun efeknya pada kadar insulin dalam tubuh berbeda satu sama lain. Insulin akan menaikkan kadar darah paling banyak, SU akan menaikkan kadar tapi tidak sebanyak insulin, dan metformin tidak sama sekali. Apa efeknya terhadap berat badan? Seperti yang kita duga, kelompok insulin meningkatkan berat badan paling banyak. Klorpropamida dan gliburide (sulphonyureas) juga meningkatkan berat badan, tapi tidak sebanyak insulin. Kelompok metformin bersifat netral pada berat badan. Kelompok ini tidak menyebabkan pasien menggemuk. Jadi insulin, dan gliburide (yang mana meningkatkan kadar insulin) keduanya membuat pasien menjadi gemuk. Metformin, yang mengobati gula darah namun TIDAK menaikkan kadar insulin tidak menaikkan berat badan.

Sumber Gambar

Sejak dipublikasikannya UKPDS, ada obat baru yang diperkenalkan untuk mengobati diabetes.  Ini adalah kelas pengobatan DPP4. Mekanisme kerja obat ini adalah meningkatkan kadar insulin sebagai respon terhadap makanan. Obat ini tidak menyebabkan peningkatan tingkat insulin yang terus-menerus. Seperti yang kita harapkan, DPP4 bersifat netral pada berat badan. Dalam penelitian ini, glipizide (sulfonilurea yang meningkatkan kadar insulin), menyebabkan penambahan berat badan. Januvia, yang tidak menaikkan kadar insulin terus-menerus, tidak menyebabkan pasien menggemuk. Ini terlepas dari kenyataan bahwa gula diperlakukan ke tingkat yang sama. Hasilnya sangat konsisten. Obat yang meningkatkan kadar insulin menyebabkan kenaikan berat badan.

Menurunkan kadar insulin menyebabkan kita melangsing. Dengan hal ini, seharusnya membuat kita semakin menyadari pentingnya faktor hormonal pada obesitas.

Baru-baru ini, penelitian lain yang berjudul “Resistensi insulin dan peradangan memprediksi perubahan berat badan kinetik” menunjukkan bahwa prediktor kuat dari kembalinya di berat badan adalah resistensi insulin. Bukan willpower. Bukan asupan kalori. Bukan dukungan orang sekitar.

Insulin. Insulin. Insulin. Ini semua tentang insulin.

Di bawah pengaruh insulin, tubuh kita menerima instruksi untuk “menimbun lemak”. Sebagai responnya, kita makan lebih banyak dan/ atau mengurangi pengeluaran energi. Ini bukan tindakan sukarela.

Ingat ini: Pertanyaannya adalah BUKAN cara menyeimbangkan kalori, pertanyaannya adalah bagaimana menyeimbangkan hormon kita. Dalam kebanyakan kasus, pertanyaan krusial bukanlah bagaimana mengurangi kalori tapi bagaimana cara mengurangi insulin.

Ingin Ramping Dan Kurus? Baca Tentang Piramida Makanan Yang Sesat

Sumber Gambar

Beginilah cara kita memahami obesitas di tahun 1950an. Makanan tertentu membuat kita gemuk. Mereka adalah gula dan grup hidangan bertepung. Permen, camilan, dan makanan penutup membuat kita gendut. Begitu pula dengan roti, sereal, dan pasta. Lalu ada juga makanan lain yang tidak menyebabkan obesitas sama sekali. Makan brokoli dan apel tidak membuat kita gemuk, tidak peduli berapa banyak kalori yang kita makan.

Klik di sini untuk bagian Obesitas Hormonal I.

Segalanya mulai berubah di tahun 60an dan 70an. Lemak mulai difitnah sebagai penjahat dan dalang utama penyakit jantung. Perdebatan sengit terjadi antara sisi anti-lemak dan anti-karbohidrat. Masalah majornya adalah jika kita mengurangi porsi lemak, artinya kita harus menambah karbohidrat bahkan jika bisa berpiring-piring nan mumbul. Itu artinya karbohidrat mempunyai dua mata pisau yang tajam yaitu tidak baik untuk kesehatan secara general dan menggemukkan, terjadinya pun dalam waktu yang bersamaan.

Sumber Gambar

Satu-satunya jalan disonansi kognitif ini adalah mengatakan bahwa karbohidrat tidak lagi menggemukkan. Sebaliknya, kalorilah yang membikin kita menjadi gendut.

Tentu saja tidak ada bukti bahwa ini merupakan fakta. Itu hanya berupa asumsi. Ini, tentu saja, cenderung membuat ASS keluar dari U dan ME. Not just an ass, as it turns out, but an obese ass.

The Odious Dietary Guidelines 1977 – Hormonal Obesity II

Perdebatan ini diselesaikan oleh Senator George McGovern pada tahun 1977, bukan oleh para ilmuwan, namun oleh para politisi. Dia memutuskan, setelah beberapa hari bertemu dengan para jurnalis dan ilmuwan, lemak adalah kriminal, dan karbohidrat olahan sama polosnya seperti biarawati di sebuah biara. Dosa yang dikandung gula dibebaskan. Damai sejahtera menyertai kalian, sirup jagung fruktosa tinggi. Jadi, inilah hasilnya dari the odious Dietary Goals. Saran nutrisi dari seorang politisi. Pertanyaan lanjutannya, kita bukan keledai yang tidak sanggup berpikir kan?

By: Dokter Jason Fung

Kenali juga, bahwa ini adalah terobosan penting dari tradisi. Sebelum tahun 1977, tidak ada instansi pemerintah yang memberi tahu kita apa yang harus disantap. Ibu kita memberi tahu kita apa yang harus dimakan dan apa yang terlarang. Jika kita mengalami obesitas, mereka menyuruh kita untuk jangan mengunyah permen dan makanan bertepung (roti, pasta, kentang). Dan hei, coba tebak—biasanya dengan cara itu saja sudah cukup untuk mengendalikan masalah berat badan.

Sekarang Big Brother memiliki rekomendasi spesifik tentang apa yang harus dimakan dan tidak boleh ditelan. Ini diajarkan di semua sekolah negeri. Pamflet diproduksi jor-joran. Ibu kita bahkan tidak sempat memprotes. Rendah lemak. Rendah Lemak Jenuh. Dengan sadar kita telah menambah asupan karbohidrat agar bisa menciutkan persentase lemak. Makanan yang tadinya berefek membuat buncit sekarang dijadikan makanan sehat. Kita tidak boleh mengurangi asupan roti jika ingin melangsing. Kita harus makan lebih banyak roti. Gula? Itu baik-baik saja selama kamu menyantap makanan rendah lemak.

Dengan minimnya bukti ilmiah dan semangat maniak yang kebablasan, karbohidrat yang menggemukkan telah mengubah gandum sehat menjadi tepung tidak sehat.

Transformasi yang sungguh menakjubkan. Apakah ada bukti? Oh, itu tidak penting, Gan. Jaman now  adalah masanya ortodoksi gizi. Segala sesuatu yang berbeda adalah kafir. Jika kamu tidak mengikuti barisan, kamu diejek. Hasilnya adalah piramida-makanan yang termasyur menjadi salah satu pelajaran yang diselipkan di sekolah. Inilah kejayaan kontrafakta. Dasar piramida—makanan yang harus kita makan setiap hari—roti, pasta, nasi dan kentang.

Pesan utamanya adalah semuanya oke-oke saja asalkan rendah lemak. Lemak adalah masalah utama, begitu yang diajarkan kepada kita. Puncak keekstreman kekacauan itu terjadi pada tahun 1995, yaitu dengan adanya proklamasi pamflet “Rencana Makan untuk Orang Amerika: Diet Asosiasi Jantung Amerika.”

“Untuk mengendalikan jumlah dan jenis lemak, asam lemak jenuh dan kolesterol diet yang Anda makan, pilihlah makanan ringan dari kelompok makanan lain seperti … kue rendah lemak, kerupuk rendah lemak … pretzel yang tidak enak, permen keras, permen karet, gula pasir, sirup, madu, selai, jelly, selai jeruk.”

Dengan kata lain—permen, yang rendah lemak adalah makanan ringan yang sehat untuk kita semua. Hore!  Biarkan mereka makan kue! (asalkan rendah lemak – kamu bisa mengonsumsi gula dan tepung sesuai keinginan hatimu). Lalu apa yang terjadi dengan konsumsi makanan kita? Item makanan berlemak tinggi seperti mentega, telur dan daging merah menurun, sementara konsumsi dan biji-bijian dan gula menanjak. Sukses!

Sumber Gambar

Inilah yang diinginkan pemerintah. Diet Amerika berkurang dari konsumsi lemak rata-rata 45% menjadi 35%. Masyarakat menanggapi pedoman diet baru dengan sangat patuh.

 Jika kita melihat konsumsi gula, kita melihat ada peningkatan dari tahun 1820 sampai 1920an. Ini adalah hasil dari melonjaknya ketersediaan gula seiring dengan perkebunan gula yang tersebar di seluruh Amerika Selatan dan Karibia. Hal-hal yang diratakan dari tahun 1920 sampai 1977 atau lebih. Saat itulah persediaan gula kita melimpah ruah.

Tapi ibu kita masih memberitahu jangan memakan terlalu banyak makanan manis atau kita akan menjadi seperti pesumo. Jika dosa gula diusir, konsuminya akan terus meroket sampai dengan tahun 2000.

Cerita tentang gandum juga sangat mirip. Konsumsi gandum telah menurun sampai dengan tahun 1977. Lantas, kita melihat lonjakan tajam dalam konsumsi gandum sampai dengan tahun 2000.

Sekitar waktu yang sama, dokter menasihati pasien untuk berhenti merokok—tingkat merokok turun dari 33% menjadi 25%. Para dokter meminta para pasien untuk memperhatikan tekanan darah mereka. Hipertensi (tekanan darah tinggi) turun 40% dari tahun 1976-1996. Lantas, kami menyuruh orang-orang untuk menonton kolesterol darah mereka. Hiperkolesterolemia (kolesterol darah tinggi) turun 28% pada rentang yang sama.

Beberapa orang mengabaikan peringatan kesehatan masyarakat, tetapi, kami mendengarkan dan mematuhi. Berapa imbalan untuk rasa hormat yang besar terhadap ortodoksi nutrisi saat ini?

 Well, let me show you.

Postingan sebelumnya Hormon Obesitas Bagian 1.

Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Sejarah Hormon Obesitas

Sumber Gambar

Apakah yang menyebabkan kegemukan? Dari postingan sebelumnya, kita sudah menggagalkan teori bahwa kelebihan kalori bukan akar masalahnya. Sekarang, coba kita lebih fokus pada pertanyaan berikutnya, JADI APA SEBENARNYA PENYEBAB OBESITAS atau etiologi gemuk? Kita sudah terobsesi dengan kalori selama 50 tahun dan selalu saja menemui jalan buntu. Agar lingkaran setan ini bisa diputus, kita harus menemukan akar masalah yang paling mendasar. Jadi, apa sih penyebab adipositas itu? Mari kita kembali ke masa silam, dan melihat apa yang dipikirkan tentang obesitas oleh manusia jadul?

Historic Perspective on Obesity – Hormonal Obesity I

William Banting 1796-1878 dianggap telah menulis buku diet pertama. Saat remaja dan awal usia 20-an, berat badanya normal. Tetapi, saat menginjak usia 30-an, 40-an dan 50-an, bobot badannya merayap naik. Tidak banyak, hanya beberapa kilogram per tahun. Tak lama kemudian, ketika berusia 62 dan beratnya 202 pound. Tidak buruk menurut standar modern, tapi menjadi si monyet-chunky untuk standar waktu itu. Jadi, atas saran dokternya, ia mencoba mengurangi porsi makan. Tapi kemudian, dia merasa lelah, lapar dan berat badannya tidak melorot, bergeming di angka yang sama. Lalu, dia mencoba berolahraga lebih banyak. Dia mendayung di atas sungai Thames dan menjadi sangat sehat secara fisik. Namun, dia masih belum bisa menurunkan berat badannya.

Akhirnya, atas saran seorang ahli bedah Prancis, dia memulai diet baru. Dia tidak membatasi kalori, tapi pantang gula dan tepung—yang sekarang kita sebut karbohidrat olahan. Dia menghindari semua roti, susu, bir, permen dan kentang. Poor fellow ini mencintai karbohidrat, sesungguhnya, namun harus bagaimana lagi.

By: Dokter Jason Fung

Singkat cerita, dia pun melangsing dan merasa lebih sehat sehingga ia memutuskan untuk menerbitkan temuannya di “Letter on Corpulence Addressed to the Public”. Pamflet ini dianggap sebagai buku diet modern pertama. Berdasarkan pengalaman pribadi, Banting merasa bahwa kalori TIDAK menyebabkan kenaikan berat badan, tapi karbohidrat olahanlah si biang keroknya.

Sampai dengan 100 tahun berikutnya, gagasan mengenai bahwa gula dan tepung menyebabkan obesitas masih juga terkenal. Sir William Osler—dokter Kanada yang terkenal, disegani, dan cukup berpengaruh, yang juga menulis “Prinsip dan Praktik Pengobatan”— menggambarkan bahwa sebagian besar dokter pada awal tahun 1900-an menganggap bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab utama obesitas. Dalam buku teks terkenalnya, dia menggambarkan pengobatan obesitas dengan makanan yang didominasi daging dan telur dan rendah karbohidrat olahannya. Dalam monograf 1882-nya “Obesitas dan Pengobatannya” Dr. Osler merasa bahwa makanan berlemak sangat penting untuk mengurangi obesitas karena mereka meningkatkan kenyang (perasaan kenyang).

Hal ini kontras dengan demonisasi lemak diet yang modern. Namun, toh kenyataannya, mengurangi lemak dan meningkatkan karbohidrat telah menyuburkan dengan epidemi obesitas. Mungkin Dr. Osler benar. Saran itu cukup standar untuk tahun 1950. Jika kamu meminta nasihat pada zaman itu, bagaimana supaya bisa kurus, mereka tidak akan membicarakan kalori. Kalori sebagai satuan energi sebagian besar tidak diketahui pada saat itu. Mereka akan mengatakan sebaliknya, bahwa makanan manis dan tepung bisa menyebabkan obesitas. Dr. Spock’s pemilik Baby and Child Care atau perawatan bayi, balita, dan batita—sebuah kitab suci cara membesarkan anak tahun 1950-an—menggambarkan bahwa anak kecil bisa menggemuk atau melangsing penyebab mayoritasnya adalah tergantung jumlah makanan penutup dan tepung yang dikonsumsi.

Sumber Gambar

Dr. Passmore dalam British Journal of Nutrition pada tahun 1963 menulis “Setiap wanita tahu bahwa karbohidrat menggemukkan”. Every. Woman. Knows. This was no secret. Everybody knew it.

Gagasan ini telah bertahan berpuluh-puluh tahun silam. Akal sehat dan pengamatan empiris bertugas untuk mengkonfirmasi kebenaran dari masalah ini. Gagasan ini adalah “Anti-Fragile” seperti yang telah dikatakan oleh Nassim Taleb. Dan obesitas bukanlah masalah besar saat itu.

Inilah yang mereka pikirkan: Namun, semuanya mulai berubah di tahun 1950an. Penyakit jantung meningkat. Apakah ini merupakan fakta atau sekedar asumsi, masih diperdebatkan. Gary Taubes berpendapat bahwa ini keliru dalam buku terobosannya “Why We Get Fat”. Namun demikian, orang-orang mulai mencari alasan di balik ‘epidemi hebat’ penyakit jantung ini.

Pelototan mereka segera jatuh pada makanan berlemak. The “Diet-Heart Hipotesis” semenjak mendapatkan daya tarik di tahun 1960-an. Ancel Keys, seorang ‘pakar’ gila yang sangat berpengaruh memainkan peran penting dalam mempopulerkan gagasan ini. Dengan antusiasme yang besar dan sains yang goyah, gerakan demonisasi lemak (makanan yang dikunyah manusia sejak, yah, kita menjadi manusia) ditancapkan. Masalah yang superior, meski saat itu kita tidak melihatnya.

Protein cenderung tetap konstan dalam makanan manusia. Hal ini sebenarnya cukup sulit untuk meningkatkan konsumsi protein menjadi lebih dari 20-30% kalori tanpa menggunakan protein bar/ shake dll. Jadi, jika seseorang membatasi karbohidrat, maka seseorang harus meningkatkan lemak makanan dan sebaliknya.  

Inilah hasilnya: Lemak Rendah = Karbohidrat Tinggi dan Karbohidrat Rendah = Lemak Tinggi. Karena lemak makanan sekarang menjadi penjahat kelas kakap, diet yang direkomendasikan oleh Heart Healthy adalah makanan apa pun asalkan kandungan karbohidratnya tinggi. Karena karbohidrat di belahan bumi barat cenderung disaring dan dihaluskan, kita makan lebih banyak lagi dan lagi, kita mengunyah roti dan pasta rendah lemak dengan gila-gilaan. Lagi pula, kita tidak sudi menukar hamburger dengan kembang kol dan kangkung, tapi, kita dengan senang hati mensubtitusi lemak dengan roti dan sepiring pasta ukuran jumbo.

Melalui debat ilmiah tahun 1950-an dan 1960 (terkadang sangat sengit) mereka mengamuk, sesekali maju lantas mundur. Beberapa pakar percaya bahwa lemak adalah kriminal, sementara ahli yang lain, seperti John Yudkin yakin bahwa karbohidrat olahan adalah biang keroknya.

Bukunya, “Murni, Putih dan Mematikan – Bagaimana Gula Membunuh Kita” adalah hal yang menakutkan, dan pastinya memenangkan penghargaan untuk Judul Buku Terbaik. Vitriol terkadang mencapai tingkat ekstrim. Jean Mayer, PhD dari Harvard pernah menyamakan  mengurangi karbohidrat  dalam diet “artinya setara dengan pembunuhan massal”. Hanya sedikit ekstrem … .

The American Heart Association merasa bahwa diet ini juga mode berbahaya. Umm … Bung … yang bener? Gagasan yang berusia 200 tahun? Ide yang telah bertahan dalam ujian waktu?

Lemak yang dikonsumsi manusia selama bertahun-tahun yang lalu? Itulah yang membunuh kita?

Tidakkah ini hal yang sangat genius, jika lemak diet akan membunuh kita, itu pasti sudah terjadi sebelumnya, katakanlah, 1 juta tahun yang lalu? Diet rendah lemak, tentu saja, sampai titik sekarang, sesungguhnya belum teruji pada manusia. Tak seorang pun dalam sejarah yang pernah memutuskan untuk menurunkan kandungan lemak dari makanan mereka karena alasan kesehatan. Kami tidak tahu apa efeknya. Tentu saja, ini saat dimana kita juga percaya bahwa kita bisa membuat zat yang lebih bergizi untuk bayi daripada ASI. Bahwa kita lebih cerdas dari 20 juta tahun evolusi. Jadi, daripada mengonsumsi lemak alami seperti krim, mentega, dan minyak zaitun, kita beralih ke minyak artifisial murni seperti margarin. Tentu saja, ini ternyata membunuh kita dengan lemak trans tapi itu adalah cerita untuk lain waktu.

Kita pindah dari lemak dan menuju karbohidrat olahan. Jadi siapa yang menang? Kamu sudah tahu jawabannya, dan kita semua semakin buruk karena telah memilih itu.