Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Sejarah Hormon Obesitas

Sumber Gambar

Apakah yang menyebabkan kegemukan? Dari postingan sebelumnya, kita sudah menggagalkan teori bahwa kelebihan kalori bukan akar masalahnya. Sekarang, coba kita lebih fokus pada pertanyaan berikutnya, JADI APA SEBENARNYA PENYEBAB OBESITAS atau etiologi gemuk? Kita sudah terobsesi dengan kalori selama 50 tahun dan selalu saja menemui jalan buntu. Agar lingkaran setan ini bisa diputus, kita harus menemukan akar masalah yang paling mendasar. Jadi, apa sih penyebab adipositas itu? Mari kita kembali ke masa silam, dan melihat apa yang dipikirkan tentang obesitas oleh manusia jadul?

Historic Perspective on Obesity – Hormonal Obesity I

William Banting 1796-1878 dianggap telah menulis buku diet pertama. Saat remaja dan awal usia 20-an, berat badanya normal. Tetapi, saat menginjak usia 30-an, 40-an dan 50-an, bobot badannya merayap naik. Tidak banyak, hanya beberapa kilogram per tahun. Tak lama kemudian, ketika berusia 62 dan beratnya 202 pound. Tidak buruk menurut standar modern, tapi menjadi si monyet-chunky untuk standar waktu itu. Jadi, atas saran dokternya, ia mencoba mengurangi porsi makan. Tapi kemudian, dia merasa lelah, lapar dan berat badannya tidak melorot, bergeming di angka yang sama. Lalu, dia mencoba berolahraga lebih banyak. Dia mendayung di atas sungai Thames dan menjadi sangat sehat secara fisik. Namun, dia masih belum bisa menurunkan berat badannya.

Akhirnya, atas saran seorang ahli bedah Prancis, dia memulai diet baru. Dia tidak membatasi kalori, tapi pantang gula dan tepung—yang sekarang kita sebut karbohidrat olahan. Dia menghindari semua roti, susu, bir, permen dan kentang. Poor fellow ini mencintai karbohidrat, sesungguhnya, namun harus bagaimana lagi.

By: Dokter Jason Fung

Singkat cerita, dia pun melangsing dan merasa lebih sehat sehingga ia memutuskan untuk menerbitkan temuannya di “Letter on Corpulence Addressed to the Public”. Pamflet ini dianggap sebagai buku diet modern pertama. Berdasarkan pengalaman pribadi, Banting merasa bahwa kalori TIDAK menyebabkan kenaikan berat badan, tapi karbohidrat olahanlah si biang keroknya.

Sampai dengan 100 tahun berikutnya, gagasan mengenai bahwa gula dan tepung menyebabkan obesitas masih juga terkenal. Sir William Osler—dokter Kanada yang terkenal, disegani, dan cukup berpengaruh, yang juga menulis “Prinsip dan Praktik Pengobatan”— menggambarkan bahwa sebagian besar dokter pada awal tahun 1900-an menganggap bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab utama obesitas. Dalam buku teks terkenalnya, dia menggambarkan pengobatan obesitas dengan makanan yang didominasi daging dan telur dan rendah karbohidrat olahannya. Dalam monograf 1882-nya “Obesitas dan Pengobatannya” Dr. Osler merasa bahwa makanan berlemak sangat penting untuk mengurangi obesitas karena mereka meningkatkan kenyang (perasaan kenyang).

Hal ini kontras dengan demonisasi lemak diet yang modern. Namun, toh kenyataannya, mengurangi lemak dan meningkatkan karbohidrat telah menyuburkan dengan epidemi obesitas. Mungkin Dr. Osler benar. Saran itu cukup standar untuk tahun 1950. Jika kamu meminta nasihat pada zaman itu, bagaimana supaya bisa kurus, mereka tidak akan membicarakan kalori. Kalori sebagai satuan energi sebagian besar tidak diketahui pada saat itu. Mereka akan mengatakan sebaliknya, bahwa makanan manis dan tepung bisa menyebabkan obesitas. Dr. Spock’s pemilik Baby and Child Care atau perawatan bayi, balita, dan batita—sebuah kitab suci cara membesarkan anak tahun 1950-an—menggambarkan bahwa anak kecil bisa menggemuk atau melangsing penyebab mayoritasnya adalah tergantung jumlah makanan penutup dan tepung yang dikonsumsi.

Sumber Gambar

Dr. Passmore dalam British Journal of Nutrition pada tahun 1963 menulis “Setiap wanita tahu bahwa karbohidrat menggemukkan”. Every. Woman. Knows. This was no secret. Everybody knew it.

Gagasan ini telah bertahan berpuluh-puluh tahun silam. Akal sehat dan pengamatan empiris bertugas untuk mengkonfirmasi kebenaran dari masalah ini. Gagasan ini adalah “Anti-Fragile” seperti yang telah dikatakan oleh Nassim Taleb. Dan obesitas bukanlah masalah besar saat itu.

Inilah yang mereka pikirkan: Namun, semuanya mulai berubah di tahun 1950an. Penyakit jantung meningkat. Apakah ini merupakan fakta atau sekedar asumsi, masih diperdebatkan. Gary Taubes berpendapat bahwa ini keliru dalam buku terobosannya “Why We Get Fat”. Namun demikian, orang-orang mulai mencari alasan di balik ‘epidemi hebat’ penyakit jantung ini.

Pelototan mereka segera jatuh pada makanan berlemak. The “Diet-Heart Hipotesis” semenjak mendapatkan daya tarik di tahun 1960-an. Ancel Keys, seorang ‘pakar’ gila yang sangat berpengaruh memainkan peran penting dalam mempopulerkan gagasan ini. Dengan antusiasme yang besar dan sains yang goyah, gerakan demonisasi lemak (makanan yang dikunyah manusia sejak, yah, kita menjadi manusia) ditancapkan. Masalah yang superior, meski saat itu kita tidak melihatnya.

Protein cenderung tetap konstan dalam makanan manusia. Hal ini sebenarnya cukup sulit untuk meningkatkan konsumsi protein menjadi lebih dari 20-30% kalori tanpa menggunakan protein bar/ shake dll. Jadi, jika seseorang membatasi karbohidrat, maka seseorang harus meningkatkan lemak makanan dan sebaliknya.  

Inilah hasilnya: Lemak Rendah = Karbohidrat Tinggi dan Karbohidrat Rendah = Lemak Tinggi. Karena lemak makanan sekarang menjadi penjahat kelas kakap, diet yang direkomendasikan oleh Heart Healthy adalah makanan apa pun asalkan kandungan karbohidratnya tinggi. Karena karbohidrat di belahan bumi barat cenderung disaring dan dihaluskan, kita makan lebih banyak lagi dan lagi, kita mengunyah roti dan pasta rendah lemak dengan gila-gilaan. Lagi pula, kita tidak sudi menukar hamburger dengan kembang kol dan kangkung, tapi, kita dengan senang hati mensubtitusi lemak dengan roti dan sepiring pasta ukuran jumbo.

Melalui debat ilmiah tahun 1950-an dan 1960 (terkadang sangat sengit) mereka mengamuk, sesekali maju lantas mundur. Beberapa pakar percaya bahwa lemak adalah kriminal, sementara ahli yang lain, seperti John Yudkin yakin bahwa karbohidrat olahan adalah biang keroknya.

Bukunya, “Murni, Putih dan Mematikan – Bagaimana Gula Membunuh Kita” adalah hal yang menakutkan, dan pastinya memenangkan penghargaan untuk Judul Buku Terbaik. Vitriol terkadang mencapai tingkat ekstrim. Jean Mayer, PhD dari Harvard pernah menyamakan  mengurangi karbohidrat  dalam diet “artinya setara dengan pembunuhan massal”. Hanya sedikit ekstrem … .

The American Heart Association merasa bahwa diet ini juga mode berbahaya. Umm … Bung … yang bener? Gagasan yang berusia 200 tahun? Ide yang telah bertahan dalam ujian waktu?

Lemak yang dikonsumsi manusia selama bertahun-tahun yang lalu? Itulah yang membunuh kita?

Tidakkah ini hal yang sangat genius, jika lemak diet akan membunuh kita, itu pasti sudah terjadi sebelumnya, katakanlah, 1 juta tahun yang lalu? Diet rendah lemak, tentu saja, sampai titik sekarang, sesungguhnya belum teruji pada manusia. Tak seorang pun dalam sejarah yang pernah memutuskan untuk menurunkan kandungan lemak dari makanan mereka karena alasan kesehatan. Kami tidak tahu apa efeknya. Tentu saja, ini saat dimana kita juga percaya bahwa kita bisa membuat zat yang lebih bergizi untuk bayi daripada ASI. Bahwa kita lebih cerdas dari 20 juta tahun evolusi. Jadi, daripada mengonsumsi lemak alami seperti krim, mentega, dan minyak zaitun, kita beralih ke minyak artifisial murni seperti margarin. Tentu saja, ini ternyata membunuh kita dengan lemak trans tapi itu adalah cerita untuk lain waktu.

Kita pindah dari lemak dan menuju karbohidrat olahan. Jadi siapa yang menang? Kamu sudah tahu jawabannya, dan kita semua semakin buruk karena telah memilih itu.

Ingin Kurus Dan Ramping? Baca tentang Mengapa Kita Menggemuk

Sumber Gambar

Bagaimana Kita Bisa Menggemuk? – Kalori Bagian I

Pertanyaan yang super duper penting di dunia obesitas adalah MENGAPA KITA BISA MENGGEMUK? Mustahil bisa mengobati sebuah penyakit jika kita tidak mencari akar permasalahannya (etiologi). Katakanlah, jika Anda ngerti bahwa bakteri bisa menyebabkan infeksi, lantas target Anda menjadi fokus pada si bakteri. Untuk mencegah merajalelanya bakteri di tubuh Anda, sekarang Anda menjadi pencuci-tangan-pakai-sabun-garis-keras, misalnya. Jadi, kenapa sih kita bisa membulat–atau pertanyaan lebih ilmiah—Apakah etiologi obesitas? Pertanyaan itulah yang harus kita ajukan.

Tetapi, karena karena kita sering kali sok tau alias sotoy, maka kita jarang menimbang-nimbang pertanyaan ini karena kita MERASA sudah tahu jawabannya.

By: Dokter Jason Fung

Selama ini kita berasumsi kegemukan disebabkan:

  1. Ini adalah masalah kalori masuk versus kalori keluar calories in versus calories out.
  2. Ngunyah mulu, plus jarang gerak.

Kita membiarkan diri kita beranggapan bahwa kedua asumsi di atas merupakan fakta yang tidak bisa diganggu-gugat, jadi ngapain sih pake dipikirin segala? Kita juga sering mengira bahwa mau makan segabruk kek, mau molor bae itu murni merupakan hak azasi manusia dan ngapain repot, sih? Yang mana, mau makan bajing luncat atau melahap sayuran, merdeka aja, karena orang yang bersangkutan akan memanggul tanggungjawab masing-masing. Kita boleh makan brokoli atau bakwan. Kita bisa jogging selama 5 jam, atau duduk manis tersihir tayangan TV. Bebas.

Opini Ahli

Dengan kata lain, obesitas adalah kegagalan setiap individu manusia. Cause of obesity lies in the individual. Makan berlebihan (rakus) atau ogah gerak (malas) adalah kegagalan individu —sebenarnya, ini merupakan 2 dosa dari 7 dosa yang mematikan/ deadly sins. Jika kita bertanya kepada ‘ahli’, mereka setuju bahwa kunci langsing-singset adalah makan lebih sedikit dan bergerak non-stop.

Konsensus suci, Batman. Dengan begitu banyak “ekpert” misalnya Michelle Obama sampai dengan USDA yang mengklaim dirinya sebagai profesional medis (termasuk dokter dan ahli gizi) setuju bahwa ‘Eat Less, Move More’ adalah cara untuk melangsing. Anda mungkin berpikir bahwa itu 100% benar adanya, tidak perlu lagi kita perdebatkan.

Sumber Gambar

Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan aneh sekali… Jika kita semua sepakat bahwa itu merupakan obat untuk obesitas (kita sudah menghabiskan miliaran untuk program meramping dan edukasi), tapi mengapa kita semakin menggemuk why are we getting fatter? Dengan kata lain, ‘obat’ ini nyebelin banget sih?

Ayo kita kembali ke bahasan semula. Jika penyebab obesitas adalah makan terlalu banyak dan berolahraga terlalu sedikit, kita bisa memikirkan obesitas dengan cara ini:

Teori Obesitas Konvensional

Saya menyebutnya Hipotesis Kalori sebagai Primer (CRaP). Ini berarti bahwa faktor utama (tapi bukan satu-satunya) dalam obesitas adalah kalori dan mengurangi kalori adalah pengobatan nomor wahid.

Lebih jauh lagi, alasan di balik makan terlalu banyak bukanlah hormon, bukan kelaparan, tapi pilihan pribadi. Ini juga bisa disebut model “Kalori masuk, Kalori keluar” (CICO), dan sering digambarkan sebagai skala. Kalori yang tidak digunakan untuk bahan bakar ketika berolahraga akan disimpan sebagai lemak.

Sumber Foto

Seiring berjalannya waktu, ketidakseimbangan kalori akan menggiring ke akumulasi penimbunan lemak. Ini sering disebut hukum pertama termodinamika ‘First Law of Thermodynamics‘—energi akan bisa diciptakan atau dihancurkan dalam sistem yang terisolasi. Hal ini membikin semuanya terdengar sangat sains dan membangunkan pemikiran Einstein, tetapi, jika diterapkan dengan biologi manusia, penerapan hukum termodinamika sebenarnya tidak terlalu pas.

Tubuh manusia bukanlah sistem yang terisolasi. Energi masuk dan keluar terjadi sepanjang waktu. Tubuh kita adalah sistem terbuka sehingga oleh karena itu termodinamika tidak aci dan salah fokus, mau dibolak-balik dengan cara apapun tetap saja tidak tepat. Baik Hukum Termodinamika Kedua maupun Ketiga tidak berlaku untuk manusia atau mahluk hidup lainnya, jadi mengapa Hukum Pertama diterapkan? Jawabannya adalah dengan menggunakan Hukum Pertama Termodinamika dalam diskusi membuat mereka tampak cerdas.

Dengan itu juga, mereka membuat teori obesitas mereka tampak sebagai sesuatu dengan kadar kredibilitas ilmiah yang tinggi. Maksud saya, saya tidak menerapkan Heisenberg’s Uncertainty Principle atau Prinsip Ketidakpastian Heisenberg ke menu sarapan saya? Jadi mengapa Hukum Pertama Termodinamika berlaku untuk obesitas? Luar biasanya ngawurnya. Tetapi, dengan mengaplikasikan “hukum” ini pada kalori masuk dan kalori keluar akan membuat pencetus teori ini mendapatkan respek yang sesungguhnya tidak pantas disandang. Apa yang dimaksud dengan orang-orang tersebut adalah jika massa lemak stabil maka kalori masuk harus diimbangi dengan kalori keluar.

Mereka berasumsi bahwa sebagian besar kalori dipergunakan untuk olahraga. Namun, ini salah kaprah karena sebenarnya tubuh bisa memilih bagaimana cara mengeluarkan energi yang tertelan. Mari kita lihat contohnya.

Katakanlah kita memakan 2000 kalori untuk energi, nah, nasib metabolik 2000 kalori itu bisa berbeda-beda. Kalori tersebut bisa jadi:

  1. Dibakar sebagai panas tubuh (Resting Energy Expenditure),
  2. Digunakan untuk produksi otot protein/ tulang/ otot,
  3. Dipakai sebagai energi ketika berolahraga/ pengerahan fisik,
  4. Atau disimpan sebagai lemak?

Kita tidak keberatan jika energi dibakar menjadi sumber panas, tapi kita sebal jika kalori disimpan sebagai lemak. Betul?

Sumber Gambar

Lagi pula, kalori keluar tidak stabil. Kadang dia akan naik menjadi 3000 kalori/ hari pada sebagian orang dan turun menjadi 1200 pada orang lain. Ini juga tergantung makanan apa yang kita konsumsi. Jadi, tidak sesimpel kalori bisa keluar kalau kita bergerak terus. Berdasarkan sudut pandang obesitas maka kita bisa menyimpulkan tubuh menyimpan lemak dengan cara:

Lemak Disimpan = Kalori masuk – Kalori keluar

Bila Anda memakai pola ini, maka hal yang menentukan apakah lemak akan disimpan atau dibuang adalah kalori. Jika kita berasumsi bahwa “Kalori keluar” adalah mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat, berarti “Kita menjadi gemuk karena kita terlalu banyak makan”. Sekarang asumsi bahwa ‘Kalori Out’ adalah mutlak sudah jelas keliru, tetapi, untuk saat ini mari kita sederhanakan.

Tapi kita bisa mengatur ulang persamaan dengan cara ini:

Kalori Masuk = Lemak Tubuh + Kalori keluar

Jika kita berasumsi lagi bahwa “Kalori Keluar” adalah mutlak dan tidak pernah berubah (salah), maka implikasinya disini adalah bahwa “Kalori Masuk” bergantung pada lemak tubuh. Ini berarti bahwa jumlah yang kita makan ditentukan oleh apakah kita berada dalam mode “menyimpan lemak”.

Sekarang, hal ini membuat kita bertanya—Apa yang menyebabkan kita berada dalam mode menyimpan lemak? Dengan kata lain “Kita makan terlalu banyak karena kita gemuk”. Itu memunculkan pertanyaan yang tepat “Mengapa kita menjadi gemuk?” Atau “Apa itu etiologi obesitas?”—pertanyaan sentral blog ini dan akar penyebab obesitas, diabetes, penyakit jantung, kanker dan sebagian besar penyakit yang disebut penyakit peradaban diseases of civilization.

Kedua persamaan itu tidak salah, dan tidak melanggar “Hukum Pertama Termodinamika”, namun implikasinya sangat berbeda. Manakah interpretasi yang benar?

Ingin Langsing dan Kurus baca tentang Lemak Jenuh

Sumber Gambar

Lemak Jenuh Sebagai Efek Pelindung Untuk Penyakit Kardiovaskular—Hormon Obesitas

Lemak jenuh yang dipercaya sebagai racun ternyata malah menjadi sosok pahlawan pasca lemak transnya dilucuti. Dengan kata lain, lemak jenuh tidak berbahaya, tidak seperti yang telah digembar-gemborkan selama ini. Dan telah banyak penelitian menunjukkan fakta bahwa ada kemungkinan  lemak jenuh merupakan faktor protektif terhadap penyakit jantung. Studi “Dietary fats, carbohydrate, and progression of coronary atherosclerosis in postmenopausal women” memeriksa perkembangan angiografi penyakit koroner dan hubungannya dengan diet.

By: Dokter Jason Fung

Angiogram adalah tes jantung standar dimana pewarna dimasukkan ke urat arteri di sekitar jantung untuk menentukan apakah ada penyumbatan. Melihat 235 wanita dengan penyakit jantung menahun, mereka mengukur angiogram awal dan mengulanginya rata-rata 3,1 tahun. Mereka kemudian melihat diet para wanita ini untuk melihat apakah ada pola.

Mereka membagi wanita-wanita ini ke dalam kelompok sesuai dengan asupan lemak mereka, tampaknya tidak ada hubungan sama sekali. Wanita yang paling banyak mengkonsumsi lemak memiliki sedikit penyumbatan dibandingkan mereka yang memakan lemak paling sedikit. Diet rendah lemak malah yang paling banyak tersumbat.

Satu Makro nutrien yang menonjol dan terlihat sangat menyeramkan adalah karbohidrat. Asupan karbohidrat tertinggi dikaitkan dengan tingkat penyumbatan jantung tertinggi.

Tidak terlihat terlalu bagus untuk hipotesis Diet-Jantung. Orang-orang yang sedang mengikuti diet ala American Heart Association menyetujui diet rendah lemak membuat mereka berpenyakit jantung. Orang-orang yang mengonsumsi makanan berlemak tinggi malah tidak mengalami masalah.

Jenis lemak makanan selanjutnya dibagi untuk melihat apakah semua lemak jenuh alami memang berbahaya bagi kesehatan manusia. Kelompok yang mengonsumsi lemak paling jenuh memiliki regresi penyumbatannya. Penyakit jantung mereka mencair! Di sisi lain, kelompok yang mengonsumsi lemak jenuh paling sedikit penyakitnya malah semakin menjadi-jadi.

Mengamati industri minyak nabati, tampak bahwa mengonsumsi lebih banyak minyak ini cenderung diasosiasikan dengan progres yang semakin buruk. Tunggu sebentar. Bukankah minyak nabati ini seharusnya ‘sehat bagi jantung’? Bukankah lemak jenuh seharusnya menyumbat arteri? Sepertinya efeknya adalah kebalikan dari apa yang telah diajarkan. Ini juga bukan sekadar studi rinky dink. Buku itu ditulis oleh Dr. Mozaffarian dari sebuah sekolah kecil yang dikenal sebagai Harvard.

Lemak jenuh tidak buruk, mereka baik untuk kesehatan.

Studi besar lainnya Dietary fat intake and early mortality patterns – data from The Malmo Diet and Cancer Study diikuti lebih dari 29.000 subjek di atas 6,6 tahun. Di antara wanita, peningkatan asupan lemak jenuh dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung secara signifikan lebih rendah. Sekali lagi, tidak terlihat terlalu baik untuk Diet-Heart Hipotesis. Mengonsumsi lemak jenuh justru sangat aman.

Hasil yang sama terlihat dalam penelitian Dietary intake of saturated fatty acids and mortality from cardiovascular disease in Japanese. Diikuti kohort 58.543 pria dan wanita Jepang lebih dari 14,1 tahun, para peneliti melihat hubungan antara penyakit jantung, stroke dan asupan lemak jenuh. Tidak mengherankan, ada hubungan terbalik. Itu berarti bahwa mengonsumsi lemak jenuh justru malah melindungi kita dari penyakit jantung dan stroke. Pada tahun 2014, Japan Collaborative Cohort Study found virtually identical results.       Dari kesimpulan mereka, “total kematian berbanding terbalik dengan asupan asam lemak jenuh (SFA)”. Ya, lemak jenuh tidak buruk bagi Anda, itu bagus untuk Anda.

 Beberapa meta-analisis skala besar tentang percobaan mengenai lemak jenuh telah dipublikasikan. Pada tahun 2009, Dr Krause menerbitkan, Meta-analysis of prospective cohort studies evaluating the association of saturated fat with cardiovascular disease“. Setelah meneliti 21 studi yang mencakup 347.747 pasien, dia menyimpulkan: Tidak ada bukti signifikan untuk menyimpulkan bahwa lemak jenuh makanan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Bahkan, ada efek perlindungan kecil namun signifikan terhadap stroke.

Dr. Chowdhury dalam makalahnya Association of Dietary, Circulating, and Supplement Fatty Acids With Coronary Risk: A Systematic Review and Meta-analysissampai pada kesimpulan yang sama. Sementara lemak trans meningkatkan risiko penyakit koroner, lemak jenuh tidak. Tidak ada kekhawatiran bahwa lemak jenuh ganda menyebabkan penyakit. 

Lemak tak jenuh ganda mengandung omega 3 dan omega 6s. Sementara keduanya ditemukan di alam, makanan kita saat ini mungkin sangat berat dan tidak sehat, serta condong ke omega 6s. Ramsden memutuskan untuk menganalisis semua penelitian mengenai lemak tak jenuh ganda, namun membagi lemak tersebut dan menerbitkan makalah tersebut, Use of dietary linoleic acid for secondary prevention of coronary heart disease and death“. 

Gambaran keseluruhan menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian dengan lemak tak jenuh ganda. Namun, setelah diperiksa lebih dekat, Anda dapat melihat bahwa percobaan yang meningkatkan konsumsi omega 3 menunjukkan perlindungan terhadap penyakit jantung. Studi yang meningkatkan konsumsi omega 6 meningkatkan penyakit jantung. Omega 6, jika Anda ingat adalah minyak nabati yang kita konsumsi jauh melebihi omega 3 dengan faktor 15 sampai 30.

Awwww. Snap. Nutritionism menyerang lagi. Semua polyunsaturates tidak sama. Kita terlambat menyadari fakta bahwa minyak nabati highly inflammatory, yang diolah tingkat tinggi mungkin bukan untuk ‘jantung sehat’. Kemungkinan besar mereka berbahaya untuk hati jantung. Dan margarin baru saja berubah dari lemak trans menjadi minyak nabati … .. Saran untuk mengganti lemak jenuh menjadi minyak sayur mungkin belum bagus.

Sumber Gambar

Satu-satunya uji coba acak jangka panjang Test of Effect of Lipid Lowering by Diet on Cardiovascular Risk oleh Dr. Frantz, melihat efek perpindahan telah ditunjukkan pada dekade ini sebelumnya. The Minnesota Coronary Survey mengacak 9.057 narapidana di fasilitas psikiatri untuk mengikuti diet standar dengan lemak 39% (18% jenuh, 5% polyunsaturated, 16% monounsaturated, 446 mg cholesterol) hingga 38% diet lemak jauh lebih rendah pada lemak jenuh (9 % Jenuh, 15% tak jenuh ganda, 14% monounsaturated, 166 mg kolesterol). Hal ini dicapai dengan mengubah ke pengganti telur, margarin dan daging sapi rendah lemak—-semua makanan lezat dan artifisial. Selama masa tindak lanjut 4,5 tahun, mereka tidak dapat menunjukkan manfaat apapun dalam hal penyakit jantung.

Namun, mereka mampu menunjukkan perbedaan dalam angka kematian total. Bukan itu yang mereka cari. Kelompok yang sedang ditreatment meninggal lebih cepat daripada kelompok yang mengonsumsi semua lemak jenuh.

Apa? Mengkonsumsi makanan artifisial, buatan manusia, hasil proses industri tidak baik untuk Anda?

How can that possibly be?

 

Ingin Kurus dan Langsing? Simak Tentang Revolusi Atkins

Sumber Gambar

Revolusi Atkins – Hormon Obesitas

Penelitian jangka pendek diet-rendah-karbohidrat-ala-Atkins sangat menggembirakan. Tidak hanya pasien sanggup lebih langsing, namun profil metabolik para pasien menjadi lebih baik dibandingkan dengan diet-rendah-lemak, beberapa tahun yang lalu. Jutaan orang mengadopsi gaya hidup rendah karbohidrat, dan sepertinya menikmati manfaatnya. Menjelang pertengahan 2000-an, impian dokter Atkins mengenai Revolusi Diet telah berjalan dengan baik, mulus dan tepat sasaran. Ditambah lagi, penelitian lain, yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine nan bergengsi sepertinya menunjukkan bahwa diet Atkins mungkin bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan ideal.

By: Dokter Jason Fung

Dengan judul “Diets with High or Low Protein Content and Glycemic Index for Weight-Loss Maintenance”, penelitian ini dipublikasikan pada 25 November 2010. Sebanyak 773 pasien yang dipilih secara random setelah kehilangan berat 10% pada 4 kelompok protein tinggi dan rendah yang berbeda. Atau indeks glikemik rendah. Tiga dari 4 kelompok mulai menggemuk kembali. Satu-satunya kelompok yang berhasil mempertahankan penurunan berat badan adalah kelompok protein tinggi-kelompok indeks glikemik rendah. Ini terlihat sangat bagus bagi pengikut Atkins garis keras.

Pada tahun 2005, dalam Annals of Internal Medicine, artikel “Effect of a Low-Carbohydrate Diet on Appetite, Blood Glucose Levels, and Insulin Resistance in Obese Patients with Type 2 Diabetes” menunjukkan bahwa 2 minggu diet karbohidrat sangat rendah tanpa batasan  kalori ternyata sanggup mengurangi nafsu makan dan menurunkan berat badan. Dr. Boden menulis, “ketika kami menghilangkan karbohidrat, pasien secara spontan mengurangi konsumsi energi sehari-hari mereka sebesar 1.000 kalori per hari.” Tingkat insulin turun dan sensitivitas insulin dipulihkan. Great!

Dr. David Ludwig menyiramkan bensin ke api pada tahun 2012 saat menerbitkan artikelnya “Effects of Dietary Composition on Energy Expenditure During Weight-Loss Maintenance” pada tahun 2012 dalam Journal of American Medical Association. Dia mempelajari perbedaan Total Pengeluaran Energi (kalori yang terbakar) setelah penurunan berat badan, dia menemukan bahwa penurunan terbesar TEE adalah diet rendah lemak. Diet terbaik? Diet karbohidrat sangat rendah. Implikasinya di sini adalah diet karbohidrat yang sangat rendah akan menjaga metabolisme tetap tinggi dan mendorong penurunan berat badan. Hidup revolusi!

 Hal pertama yang terjentik di otak adalah bahwa karbohidrat olahan sering menyebabkan ‘kecanduan makanan’. Sementara protein dan lemak selalu menyalakan sinyal kenyang. Hormon seperti CCK dan peptide YY merespons protein dan lemak yang tertelan untuk memberi sinyal pada tubuh bahwa kita kenyang. Pikirkan terakhir kali Anda makan prasmanan, ketika Anda merasa sangat kekenyangan dan tidak sanggup mengunyah apa pun lagi. Sekarang, pikirkan makan 2 potong bistik daging. Ugh. Mungkin Anda tidak sanggup menelannya. Itulah hormon kenyang yang bekerja.

Tapi bagaimana jika Anda ditawari satu sendok kecil es krim dan pai apel? Sepertinya tidak terlalu sulit untuk melahapnya, bukan? Beberapa orang di keluarga saya biasa menyebut fenomena ‘perut kedua’. Artinya, setelah perut pertama kenyang, kami membayangkan ada perut kedua untuk makanan pencuci mulut.

Pikirkan makanan yang konon mempunyai efek ‘kecanduan’. Pasta, roti, biskuit, coklat, keripik. Sadar tentang sesuatu? Semua makanan yang mempunyai efek adiksi ini adalah karbohidrat yang sangat halus. Apakah ada yang pernah mengatakan bahwa mereka ‘kecanduan’ ikan? Apel? Daging sapi? Bayam? Not likely.

Pertimbangkan beberapa makanan yang mempunyai ciri khas memberikan rasa nyaman. Mac dan keju. Pasta. Es krim. Pai apel. Kentang tumbuk. Pancake. Notice anything?  Semua ini adalah karbohidrat yang sangat halus atau tepung. Karbohidrat olahan mudah menjadi ‘kecanduan’ dan membuat kita makan berlebihan justru karena tidak ada hormon kenyang alami. Pasalnya, tentu saja, karbohidrat olahan bukanlah makanan alami, tapi makanan hasil proses tingkat tinggi. Toksisitasnya terletak pada pengolahan.

There were objectors, of course. Salah satu konsentrasi utama pada diet Atkins adalah mengenyahkan water weight atau membuang air. Hal ini tentu saja benar. Salah satu tujuan nomor wahid pada diet adalah menurunkan kadar insulin dengan mengendalikan asupan karbohidrat.

Salah satu efek insulin yang diketahui adalah merangsang retensi garam dan air. Secara khusus, insulin bekerja pada tubulus proksimal di ginjal untuk merangsang reabsorpsi natrium. Jadi diet yang mengurangi kadar insulin dengan sangat membatasi karbohidrat mengakibatkan kita kehilangan garam dan air. Karena kita menumpuk banyak air di tubuh kita cukup banyak, dengan melakukan diet Atkins, awalnya, sebenarnya kita bukan kehilangan lemak, tapi kita melenyapkan air.

Sumber Gambar

Mengapa ini hal yang buruk?

Maksudku, siapa yang menginginkan pergelangan kaki oakematik membengkak sangat besar? Cankles (betis + pergelangan kaki) menggelembung—saya sih tidak mau. Hiiiy.

Kelebihan garam dan retensi air juga akan menyebabkan tekanan darah tinggi, sehingga kehilangan berat air merupakan hal yang sangat baik untuk saya. Jadi mengapa para kritikus selalu memalu dan mempermasalahkan hal ini?

Ada pendapat lain yang sering terdengar bahwa diet rendah karbohidrat membuat gizi tidak seimbang. Ini juga tidak masuk akal. Yang tubuh kita butuhkan pada dasarnya adalah asam lemak atau Fatty Acid, dan asam lemak ini tidak diproduksi oleh tubuh, jadi harus diimpor dari luar. Oleh karena itu, untuk bisa bertahan hidup kita menggantunglan diri pada asam lemak ini. Omega 3 dan Omega 6 adalah contoh asam lemak tadi.

Ada juga asam amino esensial. Ini adalah blok bangunan protein yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia. Oleh karenanya, kita bergantung pada makanan kita untuk menyediakan asam amino esensial ini agar bisa bertahan hidup. Phenyalanine, valin, dan treonin adalah contoh asam amino esensial.

Sumber Gambar

Tidak ada karbohidrat yang penting. Mereka tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Karbohidrat pada dasarnya adalah rantai gula. Gula secara inheren tidak bergizi. Banyak makanan nabati yang mengandung karbohidrat (kangkung, brokoli) mengandung vitamin, mineral dan zat bermanfaat lainnya. Tapi karbohidrat itu sendiri tidak penting dan juga tidak sehat. Jika kita menghilangkan tepung, kita bisa menambahkan makanan bergizi lainnya dalam hidangan kita. Jadi, mengapa di dunia ini ada orang waras yang merekomendasikan memakan makanan yang kandungan gizinya 25% bangkrut, atau mengapa kita harus menambahkan karbohidrat yang adiktif?

Isu lain yang sering terdengar adalah bahwa diet tinggi protein buruk bagi ginjal. Pertama, dengan diet rendah karbohidrat menyebabkan kita mengonsumi makanan tinggi protein atau lemak, dan ini perlu kita kaji kembali. Dokter tertentu, seperti Dr Eenfeldt dengan sangat ciamik menulis blog hebat www.dietdoctor.com, merekomendasikan diet Low Carbohydrate High Fat (LCHF). Diet ini tampaknya telah mengakar di negara asalnya—Swedia—dan dengan cepat menyebar.

Diet tinggi protein mungkin tidak direkomendasikan untuk orang dengan masalah ginjal. Sebagai nephrologist, saya mengkhususkan diri pada penyakit ginjal. Dalam Penyakit Ginjal Kronis, kemampuan untuk mengatasi produk pemecahan protein terganggu dan diet protein tinggi tidak disarankan. Namun, untuk mereka dengan fungsi ginjal normal, tidak ada kekhawatiran. Beberapa penelitian terbaru menyorot masalah serupa. Dalam makalah “Comparative Effects of Low-Carbohydrate High-Protein Versus Low-Fat Diets on the Kidney—Friedman et al, Klinik J Am SocNephrol 7: 1103-1111; 2012 “Subjek obesitas sehat diperiksa secara khusus untuk efek yang merugikan pada ginjal. Intinya tidak ada masalah seperti itu. Mereka menulis bahwa diet protein tinggi “was not associated with noticeably harmful effects on GFR, albuminuria, or fluid and electrolyte balance”