Ingin Ramping dan Kurus? Baca tentang Delusi Diet Coke atau Soda Diet

Mengganti minuman-bergula-regular yang biasa Anda seruput dengan diet soda sepertinya cara yang brilian untuk meramping. Minuman diet kalorinya nol ditambah tanpa gula. Kolaborasi yang sempurna, kan? Sudah jelas, asupan gula dipastikan pasti akan terpangkas. Pokoknya, ide bagus lah ini.

By: Dokter Jason Fung (The Diet Soda Delusion – The Epiphenomenon of Obesity V)

Both the American Diabetes Association and the American Heart Association in 2012 endorsed the use of diet drinks as a way of losing weight and improving health.

Baik, American Diabetes Association (ADA) dan American Heart Association (AHA) pada tahun 2012, telah menyokong minuman diet sebagai cara:

  1. Menyusutkan berat badan dan.
  2. Meningkatkan kesehatan.

Benefitnya punya bukti kok, Sob. Meskipun surprisingly, langka banget.

Jika minuman diet secara substansial mengurangi angka obesitas dan diabetes, maka adalah hal yang wajar jika kita berharap bahwa seiring meng-angkasa-nya penggunaan minuman diet, obesitas dan diabetes akan menurun atau ya seengaknya stabil lah. Tidak akan ada lagi wabah gemuk.

Fakta, dari tahun 1960-2000 peminum minuman diet telah melambung sekitar 400%. Bagaimana pun juga, di seantero planet bumi, minuman paling ‘hype’ di urutan kedua adalah Diet Coke. Peringkat pertama tentunya adalah Coca Cola.

Namun, sialnya, epidemi obesitas dan diabetes terus berlanjut, hal ini nggak perlu diperdebatkan lagi. Satu-satunya kesimpulan logis adalah bahwa minuman diet sama sekali nggak ngebantu. Sama sekali nggak ada faedahnya, Sob.

Bahkan, sebenarnya, ada bukti esensial bahwa minuman diet mungkin berbahaya sekali.

Dr. Fowler dalam “Fueling the Obesity Epidemic?” telah ngelakuin studi pada 5.158 orang dewasa di San Antonio Heart Study atau mengenai jantung. Risiko menjadi obesitas dalam jangka waktu 7-8 tahun masa follow up merayap sebesar 47% pada saat ‘menenggak’ minuman yang dimaniskan secara artifisial.

Seperti yang ditulis oleh Dr. Fowler. Temuan-temuan ini menimbulkan pertanyaan, apakah penggunaan pemanis buatan mungkin merupakan faktor pemicu—bukannya melawan—, oleh sebab itu obesitas menjadi merajalela?

Implikasinya adalah bahwa pemanis non-kalori tidak baik, mereka ultra buruk. Studi lain memiliki beberapa hasil serupa. In “Diet soda drink consumption is associated with an increased risk of vascular events“, Dr. Gardner found a 43% increase in risk of vascular events (strokes and heart attacks) in people drinking diet sodas.

Dalam “Konsumsi minuman soda diet dikaitkan dengan menjulangnya risiko kejadian vaskular”, Dr Gardner menemukan risiko kejadian vaskular melonjak sekitar 43% (stroke dan serangan jantung) pada orang yang minum soda diet.

Sumber Gambar: coca-colacompany.com

Alih-alih sanggup memangkas risiko penyakit kardiovaskular, soda diet justru aktualnya malah membuat risiko membumbung. But why?  Reducing sugar intake should be a laudable goal. Tapi kenapa? Mengurangi asupan gula kan harusnya menjadi tujuan yang terpuji dong, ya nggak?

Sekali lagi—sengaja kalimatnya saya ulang-ulang—karena pemanis nggak mengandung kalori atau gula, harusnya bermanfaat dong. Juga, pemanis tampaknya sih nggak mungkin meningkatkan kadar insulin.

Let me put it this way.  

Memotong gula tentu baik. But it doesn’t mean that replacing sugar with completely artificial, manmade chemicals of dubious safety is a good idea. Tetapi, mengganti gula dengan bahan-kimia-yang-dibuat-buat-secara-buatan dengan keamanan yang meragukan bukan berarti ide yang jempolan dong.

Maksud saya, pestisida dan herbisida juga dianggap aman untuk dikonsumsi manusia. Itu nggak berarti kita harus makan kedua benda itu lebih banyak. (Makanan anti-organik? Pestisida ekstra untuk apel bebas cacing!)

Simpelnya, pencernaan kita bisa runyam jika menelan bahan kimia dalam porsi jumbo seperti aspartam, sucralose, atau acesulfam-K. Ini bukan makanan, Sob. Nggak ada makanan yang mirip kayak itu. Mereka disintesis di dalam a chemical vat atau diracik pada sebuah tong kimia dan dijual kepada Anda, karena, yah, kebetulan aja rasanya manis dan tidak membunuh Anda—jika disuapkan ke dalam mulut kita dengan jumlah tertentu dan dibatasi.

Glue won’t kill you either. Lem nggak akan membunuh Anda. Itu tidak berarti kita harus memakannya.

Bayangkan jika mereka bikin iklan macam gini, “Lem, rasanya enak dan tidak akan membunuhmu, jadi kamu harus makan lebih banyak!” (Saya yakin satu anak di setiap ruang kelas kayaknya akan sangat suka menempelkan the glue stick).

Bayangkan jika mereka mengiklankan “Aspartame, rasanya enak dan itu tidak akan membunuhmu, jadi kamu harus makan lebih banyak!”

The bottom line is bahwa bahan kimia ini tidak berkontributif pada penurunan berat badan.

They may actually cause weight gain. Bahkan, mereka sesungguhnya dapat nyebanin Anda menggemuk.

Bahan kimia artifisial ini dapat memicu ngidam yang dapat menyulut Anda makan hidangan manis dengan bombastis. Melahap makanan manis dengan konsisten, bahkan jika hidangan itu tidak berkalori, dapat membikin kita kepengen makanan manis lain yang mungkin saja bergelimang gula atau pati.

Bukti tervalid dari kegagalan pemanis artifisial berasal dari 2 percobaan acak yang baru saja komplet. In “A Randomized Trial of Sugar-Sweetened Beverages and Adolescent Body Weight” 224 overweight adolescents were divided by random into two groups.

Dalam “Percobaan Acak Minuman Manis dan Berat Badan Remaja” 224 remaja gemuk dibagi secara random menjadi dua kelompok. Satu grup diberi minum air dan minuman diet selama setahun. Pada akhir 2 tahun, jelas bahwa kelompok diet soda (percobaan) mengonsumsi lebih sedikit gula daripada kelompok regular (kontrol).

Itu tampak keren. Namun, jika Anda melihat kenaikan berat badan, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok.

Dalam perkara super identik, edisi yang sama dari New England Journal of Medicine, ada uji coba lain yang dilaporkan “Percobaan Minuman Tanpa Gula versus Pemanis Gula pada Berat Badan Anak”.

Sekelompok anak-anak sebanyak 641 orang, dengan berat badan normal, secara acak ditugaskan untuk terus minum seperti sebelumnya, atau beralih ke soda diet. Dalam kasus ini, ada gap yang krusial secara statistik antara 2 kelompok. Namun sialnya, perbedaan kenaikan berat badan tidak sedramatis seperti yang diharapkan banyak orang.

Grup diet soda menghasilkan berat sekitar 1 kg (2,2 lbs), lebih sedikit pada akhir 18 bulan. Jadi, memang benar bahwa minum diet soda akan melandaikan asupan gula. Tetapi tidak, itu tidak banyak membantu mengurangi berat badan Anda.

Ini, pastinya, Anda udah tau.

Pertimbangkan orang-orang di sekitar Anda yang hobi minum diet soda. Apakah ada di antara mereka yang melangsing berkat minum diet soda? Tidak diragukan lagi, asupan gula mereka emang berkurang banyak. Tetapi berat badan mereka nggak tuh. Ini berlaku untuk seluruh manusia yang menghuni planet bumi.



This is common sense, akal sehat ini, sepertinya tampak nggak wajar dalam kedokteran akademik atau nutrisi. Selain berat badan, minum soda diet, bisa jadi terkait dengan segepok problematika seputar kesehatan.

Pada pertemuan American College of Cardiology Maret 2014, data telah dipresentasikan, yang mana menunjukkan hubungan antara minum soda diet dan penyakit jantung drinking diet soda and heart disease.

Pada riset ini, para peneliti telah ‘membuntuti’ 59.614 wanita selama 8,7 tahun dalam Women’s Health Initiative Observational Study, ada 30% lonjakan risiko serangan kardiovaskular (jantung dan stroke) pada mereka yang minum 2 atau lebih minuman diet setiap hari.

Ini tentu nggak membuktikan bahwa minuman diet melahirkan penyakit jantung. Ini adalah penelitian observasional dan tidak dapat dipake untuk menunjukkan sebab akibat. Dan ini bukan berarti saya meyakinkan Anda bahwa soda diet fatal untuk Anda. Namun, itu adalah bukti yang sangat cakap terhadap presumption atau anggapan bahwa minuman diet baik untuk Anda.

Jadi, mengapa ADA dan AHA meng-endorse sesuatu yang pastinya nggak oke untuk Anda? Saya punya asumsi ini dimulai dengan huruf M dan diikuti dengan honey.

M-O-N-E-Y.

DUIT, Sob. Duit.

Juga dikenal sebagai filthy lucre atau uang suap kotor. Masalah akbar dengan mayoritas penelitian nutrisi adalah sering ada laporan yang saling bertentangan. Satu studi akan mengekspos manfaat dan studi lain akan mensinyalir kebalikannya. Kenapa ini bisa terjadi, yah? Generally, faktor penentu adalah siapa yang membayar untuk penelitian.

Pertimbangkan kasus minuman yang dimaniskan dengan gula (SSB). Dalam studi ini, para peneliti mengamati 17 ulasan berbeda tentang SSB dan penambahan berat badan.

83,3% dari studi yang disponsori oleh para perusahaan makanan nggak menunjukkan hubungan antara SSB dan melambungnya berat badan. But in studies that were independent, 83.3% of studies showed the exact opposite—a strong relationship between SSBs and weight gain. Tetapi dalam studi yang independen, 83,3% studi menunjukkan ultra sebaliknya—asosiasi yang setrong antara SSB dan eskalasi berat badan.

Karena riset dapat digunakan untuk menyokong sudut pandang apa pun, jadi krusial banget untuk melihat lebih teliti, siapa sih sebenarnya si funding atau sumber pendana untuk studi ini. The final arbiter, though, is common sense. Namun, wasit terakhir adalah akal sehat.

Minuman diet tidak membikin Anda ramping. Itu adalah akal sehat. Percaya itu.

Apakah saya mengatakan bahwa mengkonsumsi bahan kimia yang 100% buatan dan bersifat toksik, yang mana nggak jelas juntrungannya hanya karena mereka manis adalah ide yang sangat, sangat biadab?

Pertanyaan semacam ini bisa Anda jawab sendiri…