Cara Menemukan Soulmate dan Cinta Apa Adanya

Sumber Gambar

Menemukan teman/ pasangan yang biasa kita sebut soulmate, yang mana mencintai kita dengan tulus itu gampang nggak sih? Kenapa ya, PERASAAN gue udah melakukan hal baik, tapi mereka nanggepinnya lain? Gue nggak layak dapet cinta apa ya?

Ahik. Pertanyaan yang ngegemesin, bukan?

Gue akan menjawab pertanyaan nomor wahid. Menemukan pasangan atau teman yang mencintaimu dengan tulus bisa jadi perkara naudzubilah susah—kayak ngebongkar kode bom Bunker Buster–, atau bisa jadi malah segampil menjentikkan jari.

Namun, percayalah, menggantungkan harapan kepada orang lain jauh lebih sulit dibandingkan jika jij berharap pada diri sendiri. Oke, menggantungkannya sih gampang lah ya, tapi, pada saat dia  tidak melakukan hal sesuai yang kita inginkan, hmm. Ini yang menjadi persoalan.

Yang bakal terjadi adalah kamu akan menyalahkan orang lain, uring-uringan kepada keadaan, dan menyalahkan dirimu sendiri pada saat realita tidak sesuai dengan cita-cita. Efek sampingnya adalah kecewa. Memang sih, gue sepakat kecewa temporer itu normal. Kecewa itu bagian dari perasaan manusia. Wajar, Baby. Namun yang jadi persoalan adalah kamu menumpuk rasa kecewa itu dan nggak bisa move on dari rasa kecewa tadi. Nggak bisa nerima, dan nggak sanggup ngiklasin. Jadi terus aja diinget-inget dan diungkit-ungkit.

Itu akan mendepakmu dari rasa bahagia. Dan bagi gue, masalah paling vital dan paling esensi adalah SAAT KAMU MERASA TIDAK BAHAGIA dan pada akhirnya tersentuh depresi. Jadi, sebaiknya bagaimana, ya? Gue akan membahasnya nanti.

Pertanyaan kedua tentang berharap agar dicintai. Semua orang berharap dicintai, disayangi, dikagumi, diperlakukan dengan respek. Tapi, apakah semua orang mau melakukan itu kepadamu?

Gue yakin, nggak. Ada kalanya, kamu niatnya apa, dia menanggapinya apa. Dan akhirnya malah jadi situasi yang nyebelin. Atau dia sudah punya persepsi lain terhadapmu, sehingga apapun yang kamu lakukan adalah salah di matanya. Atau mungkin kamu pernah melakukan kesalahan di masa lalu, jadi dia selalu mengaitkannya dengan jejak langkahmu, jadi, meskipun kamu sudah berubah, tetep aja kamu salah di matanya. Atau kamu mungkin berbeda dalam hal ideologis dengannya, sehingga yang ada adalah selalu memakai sepatu masing-masing, jadi tidak akan menemukan titik temu. Banyak kemungkinan. Dan itu manusiawi sekali.

Tapi, dan ini adalah tapi yang besar, orang lain akan bersikap baik atau “jahat” itu BUKAN URUSANMU. Yang terpenting adalah kamu sudah memberikan cinta, dan bagaimana caramu untuk menghadapi situasi itu?

Misal, kamu merasa telah bersikap baik kepadanya. Kamu  telah berniat untuk membuat situasi menjadi harmonis. Dan kamu telah membuka dirimu agar orang lain dapat berbagi hal baik atau buruk. Namun ternyata, orang lain menanggapinya berbeda. Orang lain malah menganggap kamu reseh, aneh, freak, biang kerok kerusuhan, dan hal-hal beraura negatif yang lain—monggo kasih label. Terus gimana? Nangis seharian? Berbulan-bulan? Think twice deh. Jangan nyakitin diri sendiri ataupun orang lain.

Sumber Gambar

Contoh lainnya, kamu telah memberikan cinta, dan orang itu tidak membalasnya. Apakah ini sebuah masalah? Sebenarnya, menurut pendapat gue: THIS IS NO BIG DEAL AT ALL. Kamu dapat meninggalkannya kok. Sederhana saja, artinya kalian tidak mempunyai gelombang yang sama. Jadi nggak perlu memperkeruh keadaan, bukan? Dan jangan terlalu lebay alias menjadikan ini jadi perkara gigantis gitu. Merasa dirimu korban dan apalah. Berhenti dong, Baby!

Ini berlaku bukan hanya untuk hubungan kekasih, namun juga bisa dengan teman, keluarga dan lain-lain.

Solusinya bagaimana? Seperti yang sudah gue sentil tadi, menjauhlah. Nggak perlu bersikap buruk, atau berlebihan, namun lebih baik menjaga jarak.

Dan untuk orang yang sudah kepalang sentimen, ya udahlah ya, lebih baik nggak usah berkomunikasi. Bukan berarti benci. Karena kebencian akan menggerogoti rasa bahagiamu. Nggak berbicara satu sama lain itu dengan tujuan kamu nggak jadi sumber kemarahannya/ ke-muak-annya. Stop lah ngasih stok hal berbau negatif atau pasokan gosip untuk orang lain. Kasian dirimu dan orang lain juga.

Dan jangan lupa, ngebagi cinta pada orang lain bukan berarti kamu melupakan untuk mencintai diri sendiri. Jika kamu melihat gejala ketidakrespekkan, oh, please, jangan sakiti dirimu. Lebih baik mengambil jarak antara Semarang ke Merauke, Dear.

Dan sekali lagi, ini bukan perkara kamu adalah orang yang durjana sampah dunia, dan dia adalah orang baik—ini berlaku sebaliknya—ini hanyalah masalah kecocokkan aja kok.

Pertanyaan yang bagi gue cukup menohok, apa yang kita cari di dunia ini jika bukan rasa damai dan bahagia?

Jadi, berilah waktu kepada dirimu dan orang tersebut, agar semuanya menjadi harmonis kembali. Bukan berarti kamu mengabaikan masalah, dan lari dari masalah. Kamu hadapi itu, selesaikan itu, buang energi negatifmu, dan silakan memberikan waktu baik untukmu maupun dia.

Cintai dirimu dan orang lain, hasilnya seperti apa, que sera-sera aja.

Taktik Move On dari Mantan (Cara Menghilangkan Mantan dari Pikiran)

Sumber Gambar

Hai, saya Sarah. Btw, melupakan mantan apalagi jika kamu masih suka dan sangat terikat padanya adalah sesuatu yang berat dan nyaris mustahil, ya kan? Saya juga merasakannya. Tapi, bagaimana pun, ini adalah hidup. Kita harus melepaskan sesuatu yang sebaiknya wajib dilepaskan, lantas hidup di dunia realita, bukan lagi di dalam alam khayal, sepakat?

Setelah mencari beberapa artikel yang cocok dengan kondisi ini, saya menemukan sebuah blog yang punya tembakan jitu (menurut saya sih) untuk menyelesaikan perkara per-move-on-an. Oleh karena itu, kali ini saya akan menerjemahkan tulisan Noah Elkrief, yang mana, sebenarnya, kamu sangat boleh membaca versi aslinya, namun jika kamu lebih nyaman membaca format bahasa, silakan dilanjutkan.

Baiklah, mari kita mulai.

By: Noah Elkrief

Kamu penasaran bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang? Apakah kamu ingin tahu metode efektif apa yang digunakan untuk mengiklaskan orang yang harus dilepaskan? Tenang, saya akan menjawab kedua pertanyaan ini.

Umumnya, ketika kita ingin melupakan mantan, kita mencoba:

  1. Menyingkirkan pikiran, lantas menghentikannya.
  2. Menyangkal bahwa kita memilikinya.
  3. Atau mengalihkan perhatian kita dari pemikiran ini.

Seperti yang mungkin telah kamu alami sendiri, taktik ini umumnya tidak membawa hasil yang kita inginkan dan malah membuat kita semakin memikirkannya. Oleh sebab itu, saya akan mengenalkan kamu pada taktik baru yang mungkin jauh lebih efektif. Tapi, sebelum saya berbicara lebih mendalam, saya hanya ingin menjelaskan secara singkat apa yang membuatmu merasa KEHILANGAN dan HAMPA TANPANYA.

Apa yang tampaknya menjadi penyebab kangen mantan dan merasa kehilangan?

Jika seseorang telah terbiasa berada di hidupmu, namun kini mereka tidak lagi berada di sisimu, rasanya kangen padanya adalah efek langsung. SEPERTINYA merindukannya  adalah reaksi otomatis, normal, dan MUSTAHIL kamu lari dari rasa kangen itu.  Seolah-olah, ketika dia meninggalkanmu, saat ini juga kamu harus berlari menghampirinya, dan kamu ingin kembali bersamanya. Pokoknya kamu maunya mengulang kembali masa lalu, dan kamu berasumsi memang begitulah cara kerjanya. Tidak ada pilihan lain dalam masalah ini. Sekali lagi, kita MENGIRA KANGEN adalah NORMAL.

Tapi sekarang saatnya untuk memeriksa asumsi ini.

Penyebab yang sesungguhnya

Izinkan saya mengajukan pertanyaan, apakah yang membuatmu hepi dan merasa nyaman? Luangkan waktu sejenak untuk memikirkan beberapa hal yang paling kamu sukai. Misalnya, mungkin menonton film, mungkin saat memakan es krim, mungkin ketika memainkan games, mungkin olahraga, atau mungkin saat kamu bercanda dengan teman atau anak-anak.

Jika kamu kehilangan seseorang, dan kemudian kamu terlibat dalam beberapa aktivitas yang benar-benar kamu sukai dan nikmati, apakah kamu dapat bersenang-senang atau enjoy? Dengan kata lain, apakah kamu dapat bersenang-senang dan bahagia saat terlibat dalam aktivitas ini meskipun orang yang kamu cintai tidak ada di sini? Ya, kamu pasti akan tetap bisa bersenang-senang saat melakukan sesuatu yang kamu cintai.

Bila kamu terlibat dalam kegiatan yang kamu sukai, kamu dapat menikmatinya karena kamu mengalihkan perhatianmu dari pikiran yang membuatmu tidak bahagia. Jadi, jika orang yang kamu cintai tidak lagi ada di sini, namun kamu mampu bahagia hanya dengan mengalihkan perhatianmu dari pikiran, maka dengan jelas perasaan kehilanganmu tidak diciptakan oleh keadaan faktual. Jika memang rasa kehilangan mantan diciptakan oleh si mantan, maka rasa hilang itu terasa permanen, melakukan kegiatan yang kamu suka tidak akan bisa mengubah apa-apa. Kamu tetap hampa. Padahal faktanya, saat kamu tidak teringat padanya, kamu baik-baik saja.

Dapatkah kamu melihat dengan sangat jelas bahwa perasaan kehilangan bukan disebabkan karena dia tidak ada di sini tapi sebenarnya diciptakan langsung oleh PIKIRAN? Bila kamu MEMIKIRKAN seseorang yang kamu cintai tidak berada di sini, kamu MERINDUKANNYA. Tapi, saat kamu TIDAK MEMIKIRKANNYA, kamu TIDAK MERINDUKANNYA.

Untuk berhenti memikirkannya, kamu perlu paham mengapa kamu memikirkannya

Pertama, izinkan saya mengatakan hal ini: tidak ada masalah dengan memikirkan seseorang. Bukan berarti kamu tidak boleh mikirin mantan, dan mikirin mantan bukan dosa. Tapi, jika kamu ingin tahu bagaimana CARA BERHENTI MEMIKIRKAN mantan, maka pertama-tama kamu harus mengerti MENGAPA KAMU MEMIKIRKANNYA. Jika kamu TIDAK MENGERTI MENGAPA kamu memikirkan mantan, maka SANGAT SULIT untuk BERHENTI memikirkannya. Kamu akan berakhir HANYA MENCOBA MENGALIHKAN pikiranmu, bukan langsung menembak inti permasalahannya.

Alasan mengapa kita memikirkannya adalah karena kita berpikir bahwa kita akan lebih bahagia jika mantan berada di sini.

 

Sumber Gambar

Sekali lagi…

 ALASAN MENGAPA kamu terus teringat padanya, atau mengapa kamu kehilangannya, KARENA KAMU BERPIKIR KITA AKAN LEBIH BAHAGIA JIKA DIA ADA DI HIDUP KITA.

Apakah kamu memikirkan seseorang karena kamu pikir kamu akan lebih bahagia jika ia berada di sini?

Untuk menguji ini, pikirkan saat kamu menikmati kegiatan dengan diri sendiri ketika orang yang kamu rindukan tidak ada di sini. Pada saat kamu bersenang-senang, bahagia, dan enjoy dengan diri sendiri, apakah kamu memikirkan mantan? Tidak, hampir pasti tidak. Ini karena saat kamu sudah bahagia, tidak ada alasan untuk memikirkan orang yang dulu mungkin kamu kangenin.

Tapi saat kamu duduk di sana, tidak terlalu bahagia, atau sedang tidak melakukan apa-apa, pikiranmu terus menggiringmu pada asumsi bahwa kamu akan lebih bahagia jika ia berada di sini dan hal itu menyebabkanmu terus memikirkannya.

Jika kamu berpikir bahwa kamu tidak akan senang jika ia berada di sini, maukah kamu terus memikirkannya? Tidak, hampir pasti tidak. Sepakat dengan saya?

Mari kita periksa apakah kamu benar-benar akan lebih bahagia jika orang yang kamu pikirkan ada di sini

Ketika kita memikirkan seseorang, apa yang kita lakukan adalah kita mengingat saat-saat bahagia, dan kemudian kita berpikir (seringkali tanpa sadar) “Saya akan lebih bahagia jika mereka ada di sini”. Tapi sekarang mari kita periksa asumsi ini.

Taktik #1: Apakah kamu selalu bahagia dan fulfilled saat bersama dengan mereka?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Apakah kamu selalu senang bila orang yang kamu rindukan itu ada di sini? Apakah seluruh waktumu ketika bersamanya menyenangkan? Apakah ada saat-saat ketika kamu bersamanya dan kamu mengkhawatirkan apa yang mereka pikirkan?

Apakah ada saat-saat dimana kamu benar-benar kesal dengannya, saat kamu menghakiminya, ketika dia menghakimimu, ketika beradu argumen, saat kamu khawatir apakah dia menyukai orang lain, ketika kamu khawatir apakah pacarmu saat itu masih mencintaimu? Ketika kamu membencinya karena ia tidak cukup menghargaimu, ketika kamu merasa tidak nyaman karena kamu selalu mencoba untuk mengalah?

Bila kamu memikirkan bahwa kamu akan lebih bahagia jika ia berada di sini, kamu jangan hanya memikirkan momen yang manis-manis saja. Kamu harus menerima satu paket utuh. Kamu akan mengembalikan semuanya kembali. Kamu akan menerima rasa khawatir juga, dendam juga, kekecewaan juga, perdebatan juga, melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai juga, dan semua hal itu satu kemasan dengan masa bahagia. Iya kan?

Jadi, izinkan saya bertanya lagi kepadamu: Apakah kamu tahu dengan pasti bahwa kamu akan lebih bahagia jika orang yang kamu pikirkan ada di sini? Mungkinkah akan ada lebih banyak ketidakbahagiaan jika ia kembali ke hidupmu? Tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan ini, sehingga bisa membantumu menemukan “Saya sebenarnya tidak tahu apakah saya akan lebih bahagia jika ia ada di sini lagi”.

Taktik #2: Mungkinkah hal baru bisa membuatmu lebih bahagia?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Mungkin pengalamanmu dengan orang yang kamu pikirkan hampir selalu indah dan penuh dengan kebahagiaan. Tapi, pengalaman itu sudah berakhir sekarang. Sekarang, kamu memiliki pengalaman baru dalam hidupmu. Dengan kata lain, pengalaman hidupmu sekarang berbeda karena kamu tidak lagi memiliki orang itu dalam hidupmu. Dan kemudian kamu memutuskan “Saya akan lebih bahagia jika ia ada di sini”. Tapi, tahukah kamu apa efeknya kehilangan orang yang kamu sukai?

Apakah kamu tahu pasti justru saat kamu menjomblo kamu malah menjadi lebih bahagia? Mungkinkah kehilangan orang tersebut akan memungkinkan kamu meluangkan lebih banyak waktu bersama teman, mempunyai teman baru, atau semakin mendalami dan menikmati hobimu? Mungkinkah kamu akan menemukan orang lain yang mana akan memberikan saat-saat yang lebih membahagiakan dibandingkan bersama dengan mantan? Dapatkah kamu benar-benar yakin bahwa hal-hal ini tidak mungkin dilakukan? Mungkinkah ini bisa berakhir membuatmu lebih bahagia ketika kamu hidup tanpanya? Masuk akalkah sesuatu yang indah akan terjadi padamu sekarang karena mereka tidak lagi berada dalam kehidupanmu? Bisakah kamu memikirkan beberapa efek bagus pada saat kamu tidak lagi dengannya?

 Jika MUNGKIN KAMU BISA LEBIH BAHAGIA tanpa mantanmu, maka kamu TIDAK PERLU TERUS MEMIKIRKANNYA seandainya dia ada di sini. Karena sebenarnya KAMU TIDAK TAHU apakah kamu akan lebih bahagia JIKA IA BERADA DI SISIMU.

Sumber Gambar

Taktik #3: Mungkinkah ketidakbahagiaanmu memotivasimu untuk mengenali dirimu sendiri, yang bisa membuatmu lebih bahagia?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Kehilangan mantan tampaknya telah menciptakan ketidakbahagiaan untukmu. Tapi, itu hanya satu, dan efeknya pun sangat jangka pendek. Mungkinkah ketidakbahagiaan yang kamu alami akan memancingmu untuk mulai memeriksa ketidakbahagiaanmu, untuk mulai mempertanyakan apa yang membuatmu tidak bahagia, untuk menemukan bahwa pikiran menyebabkan emosi yang tidak kamu inginkan, dan untuk menemukan bagaimana mengatasi pemikiran ini, yang pada akhirnya akan membuatmu lebih bahagia?

Dengan kata lain, mayoritas dari kita menjalani hidup dengan asumsi bahwa kondisi dan kejadian eksternal membuat kita bahagia dan tidak bahagia. Tapi, sebenarnya PIKIRAN kita tentang situasi dan peristiwa eksternal menyebabkan semua EMOSI kita. Dan, jika kamu belajar mengatasi, atau menghilangkan pikiran yang biasanya membuatmu tidak bahagia, maka kamu akan semakin bahagia. Ada kemungkinan ketidakbahagiaan yang kamu alami karena kehilangan seseorang akan menyebabkanmu melihat pemikiran yang tidak kamu ketahui, dan entah bagaimana membawamu ke situs web seperti ini yang dapat menunjukkan kepadamu bagaimana menangani pemikiran yang membuatmu tidak bahagia. Dan itu bisa membuat hidupmu lebih bahagia.

Taktik #4: Mungkinkah akan terjadi hal-hal “buruk” jika kita masih bersamanya?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Mungkinkah jika orang yang kamu pikirkan masih ada di sini, malah terjadi sesuatu yang buruk? Mungkinkah ia berselingkuh? Mungkinkah hubungan itu akan menjadi garing dan membosankan? Mungkinkah kamu akan terlibat dalam argumen besar yang benar-benar menyakiti kalian berdua? Mungkinkah kamu akan semakin cemburu atau lebih khawatir apakah mereka masih mencintaimu? Mungkinkah jika mereka ada di sini, mereka akan mencegahmu melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan dan penting bagimu, dan kamu akan kehilangan kesempatan itu? Mungkinkah kamu akan jauh lebih tidak bahagia jika ia berada di sini?

Mungkin kamu tidak tahu apakah ini akan terjadi atau tidak. Jadi saat kamu berasumsi bahwa jika ia berada di sisimu saat ini membuatmu lebih bahagia, ini adalah asumsi yang tidak diinvestigasi. Jadi, mengapa harus mempercayai asumsi?

Taktik #5: Bisakah salah satu dari kalian telah berubah, membuat hubungan itu tidak kompatibel?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Jika orang yang kamu pikirkan masih ada di sini, mungkinkah mereka telah berubah di suatu sisi yang tidak kamu sukai? Mungkinkah kamu akan berubah dalam beberapa cara dimana kamu tidak lagi suka bersama mereka? Mungkinkah sesuatu akan terjadi sehingga membuat kalian berdua tidak cocok satu sama lain lagi? Mungkinkah saat-saat menyenangkan yang kalian alami bersama akan segera berakhir?

 

 

 

Cara untuk Move-on Ketika Kita Masih Mencintai Mantan

Kuncinya adalah MELEPASKAN FANTASI.

Bayangkan. Kamu telah mempunyai tempat se-cozy ini. Kamu membangunnya berdua dengan pasangan yang sangat kamu cintai, namun tiba-tiba kamu harus melepaskannya. Apa yang harus kamu lakukan?

Saya mengerti betapa sakitnya itu. Tapi yang perlu kita renungkan adalah brokenheart dan luka berlama-lama akan menahanmu memeluk masa depan yang lebih indah. Kita semua pernah mengalaminya. Mencintai orang yang salah, atau tiba di momen yang tidak tepat. Saat merasakan cinta yang tiba-tiba harus dicabut dan pergi, itu SANGAT MENYAKITKAN. Tidak peduli, siapa yang bikin onar, apa pun situasinya, tapi intinya hati telah PATAH. Rasanya sangat nyeri dan menahan kita untuk moving forward atau bergerak maju. Memang benar, waktu adalah penyembuh terbaik. Tetapi, di bawah ini ada 5 langkah nyata yang memfasilitasi proses move on lebih cepat dan tidak terlalu bertele-tele:

1. Cut off contact.
Berhenti berkomunikasi
Untuk sementara waktu, berhentilah terkoneksi dengan mantan. Mengubah mantan menjadi teman adalah hal mustahil jika dilakukan sesaat setelah putus. Menjaga dia tetap berada di radarmu bukan pertanda kamu adalah orang yang dewasa. Justru dengan take care of yourself dan mementingkan kewarasan dan kesehatan mentalmu merupakan tanda kamu telah mature. Lantas, mengapa banyak orang beranggapan bahwa “menghilang” dari mantan itu bukan ide baik, karena melepas dan mengiklaskan sebuah relasi adalah perubahan drastis, dan kita seringkali resisten pada perubahan. Kamu butuh waktu untuk menyembuhkan diri dari luka, dan membiasakan diri tanpanya. Saya mengerti, menjadi sahabat terbaik bagi dirimu sendiri adalah bagian TERSULIT, karena kamu sudah terbiasa dengan kehadiran mantan. Namun ini yang TERPENTING. Saat ini kamu sedang sakit dan rapuh. Kamu perlu melindungi diri sendiri dengan tidak kontak dengan segala gesekan yang membuat lukamu lama keringnya, atau kembali teriritasi. Dengan sopan, bilang kepadanya untuk jangan menghubungimu, dan kamu membutuhkan ruang untuk sendiri. (Jangan juga menghilang seperti hantu, karena itu akan menyakitkan untuk keduanya/ Dont ghost them)

Jika kamu harus tetap berkomunikasi karena adanya anak-anak atau kewajiban bersama lainnya, kamu harus bisa MEMBEDAKAN antara menjadi ramah dan menjadi teman. Persahabatan sejati berarti dua orang peduli satu sama lain, saling mementingkan kesejahteraan pihak lain, dan saling menyisakan ruang spesial di hati. Pada saat hubungan telah berakhir, seringkali dipertanyakan apakah kedua pihak bisa dengan tulus dan jujur saling peduli dan memberikan support tanpa adanya pamrih? Kamu akan tetap menyakiti hatimu karena mempunyai ekspektasi bahwa mantanmu akan memperlakukanmu dan memprioritaskanmu sebagaimana dulu. Bersikap ramah berarti tetap berkomunikasi dengan respek dan sopan, namun tidak lebih dari itu. Anggap saja dia kolega bisnismu. Tetap berkomunikasi, tapi tidak melibatkan hati.

2. Let go of the fantasy.
Lepaskan fantasi.
Mayoritas, kita tidak menyadari bahwa sebagian besar rasa sakit yang kita alami selama break-up tidak ada kaitannya dengan relationship yang telah hancur. Relationship pada akhirnya selalu akan TAMAT dengan berbagai alasan. Sebenarnya, jika kita memahami proses kinerja alam semesta, ini tidak terlalu mengejutkan, karena segala sesuatu akan berjalan baik untuk sementara saja. Tidak ada yang abadi. Ada daftar panjang yang menyebabkan kita bertengkar dan saling menyakiti. Sesungguhnya, sebagian besar dari kita tidak ada yang ingin kembali dengan mantan. Hanya saja, kita sering berkhayal bahwa semuanya bisa diubah asalkan ada sesuatu yang harus diluruskan. Dan sesaat setelah putus, kita sedang berada di tahap meratap. Jadi keinginan untuk memperbaiki yang telah rusak begitu mendominasi. Kenyataannya adalah, relationship dengan mantan sudah usai. Saat ini, hubungan ini telah menjadi fiktif. Hanya ada di imajinasi. Melepaskan khayalan tentu menyakitkan. Di awal hubungan kita mempunyai harapan bahwa semua akan berjalan sesuai standar kita. Namun sialnya, itu hanya sesaat di awal saja. SEMUA KISAH KASIH ASMARA selalu seru dan cihuy pada awalnya—kalau tidak, ngapain jadian?—Tetapi, setiap awalan tentu ada akhiran.

Karena si otak sedang mencoba untuk menyembuhkan hati kita, kenangan yang menyakitkan sering bergeser ke area paling belakang, dan akhirnya kita terjebak pada masa lalu yang baik-baik saja, yang sialnya, si memori manis ini pasti maju paling depan di jejeran barikade. Kita melupakan siapa mantan kita yang sesungguhnya dan menganggap dia yang paling ideal. Sebuah strategi yang jitu untuk menangkap masa lalu adalah dengan hanya menuliskan setiap hal yang menyakitkan. Anda dapat mengingat detail ketika hubungan berlangsung dan membacanya untuk diri sendiri sehingga fakta akan lebih tampak, dan hal yang menyakitkan pun mereda. Intinya adalah bukan untuk membangkitkan amarah dan menimbun dendam, tapi mengingat fakta. Akhirnya, mengiklaskan peristiwa yang telah lewat, menjadi elemen TERPENTING pada proses pengampunan dan penyembuhan, tetapi untuk melepaskan sesuatu, yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah mengakui, kemudian accepted alias menerima dan pasrah.

3. Make peace with the past.
Berdamai dengan masa lalu.
Ketika seseorang memperlakukan kita dengan buruk atau melakukan sesuatu yang menyakitkan, respon alami dan sehat adalah MARAH. Kemarahan membantu kita menyadari situasi yang tidak seharusnya kita terima, sehingga si marah dapat memfasilitasi proses kita memisahkan diri dari hubungan yang tidak sehat. Tetapi ketika kita berpegang pada kemarahan dan kebencian dari luka masa lalu, kita membopong mereka ke masa depan. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ketika seseorang yang kita cintai melakukan sesuatu yang menyebabkan kita malah terluka. Ketika seseorang mengkhianati kepercayaan yang kita berikan, NYERI BETUL RASANYA. Tapi membiarkan luka yang dilakukan orang lain membatasi kita untuk bergerak maju berarti mereka masih melakukan kontrol atas hidup kita. Forgiveness/ pengampunan bukan tentang cuek bebek terhadap orang lain bersikap semena-mena terhadap kita, tapi ini tentang our emotional freedom alias kebebasan emosional kita.

Belajar untuk memaafkan dan berdamai dengan hal-hal yang terjadi di masa lalu akan menjadi lebih mudah ketika tidak hanya melihat dari sudut pandang kita saja. Sesungguhnya, kita tidak akan melakukan sesuatu dengan niat langsung menyakiti orang lain; umumnya, mereka membuat pilihan dengan tujuan untuk membuat diri mereka merasa lebih baik. Kita terpaksa melakukan hal A misalnya, karena itu lebih menguntungkan. Mencoba memahami dari kacamata orang lain membuat situasi membaik dan tidak melukai secara personal. Coba lihat dia sebagai manusia utuh. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Ingat sifat baik ketika pertama kali bertemu, dan kita memang harus mengakui semua tidak ada yang sempurna, semua bisa membuat kesalahan.

4. Know it is OK to still love them.
Masih mencintai mantan? No problemo.
Cinta tidak pernah salah. Ketika seseorang datang ke dalam hidup kita, lantas kita berkesempatan merasakan cinta yang manis, itu adalah anugrah dan hadiah. Tanda bahwa kita telah dewasa salah satunya adalah mengakui bahwa cinta saja tidak cukup. Banyak faktor lain yang menyebabkan sebuah hubungan menjadi kandas, seperti waktu yang tidak tepat, sudut pandang yang berbeda, nilai-nilai yang tidak kompatibel, konsekuensi dari pilihan yang kita buat, dll. Move on bukan berarti kita harus membunuh cinta. Kadang kala, melepaskannya, dan bahagia melihat dia bahagia meski tidak bersama kita, membuat kita merasa lebih baik.
Ada banyak bentuk cinta, dan sesungguhnya kita mempunyai kapasitas untuk menggesernya, menumbuhkannya, membuat si cinta berkembang, atau mengubahnya dari waktu ke waktu. Biarkan cinta romantis kita menyublim menjadi berbagai jenis cinta yang mencakup peduli dan kasih sayang antar teman. Hal ini akan membantu memfasilitasi proses penyembuhan. Kita menerima fakta bahwa cinta tidak harus memiliki, dan melepaskannya adalah jalan terbaik. Konseptualisasi transisi bahwa ini bukan sebuah kerugian dapat mengurangi rasa sakit. Faktanya adalah, memori akan selalu membekas. Kita menjadi diri kita yang sekarang berkat mereka. Dan mereka memberikan pelajaran super penting. Jadi, bersyukurlah.

5. Love yourself more.
Lebih mencintai dirimu sendiri.
Pada akhirnya, move on tidak akan berhasil tanpa mencintai diri sendiri. Untuk beberapa orang, INI ADALAH BAGIAN YANG TERSULIT. Percaya bahwa Anda layak untuk berada dalam hubungan cinta dengan seseorang yang sepadan dan memperlakukan kita dengan baik membuat kita menjadi optimis dan lebih positif. Jika hanya memikirkan ini lantas terasa sangat menakutkan karena saat kita berdialog dengan diri sendiri dipenuhi dengan self-doubt/ meragukan diri sendiri, terus saja mengkritisi ini dan itu, atau membenci diri sendiri, Anda mungkin perlu meminta bantuan seorang profesional. Anda tidak bisa mengharapkan orang lain memperlakukan Anda lebih baik jika Anda tidak memperlakukan diri Anda dengan respek.

Self-forgiveness atau memaafkan diri sendiri adalah KUNCI TERPENTING dari self-love. Di bawah alam sadar, Anda mungkin merasa bahwa Anda seharusnya tidak seperti ini, tetapi tidak mungkin kita mengetahui apa yang terbaik jika kita tidak mengalaminya secara langsung. Menyalahkan diri Anda dengan cara menghina diri Anda sama saja dengan membuang energi percuma, yang ada hanya membawa emosi negatif dan memperlambat proses penyembuhan. Sebaliknya, lebih baik kita memilih untuk mengubah rasa sakit dan menganggap semua ini sebagai sebuah batu loncatan untuk mencapai prestasi. Setiap hubungan, jika kita memahaminya, bisa mengajarkan kita sesuatu tentang diri kita sendiri dan memberi kita kejelasan tentang apa yang kita butuhkan untuk menjadi bahagia. Mengakui peran Anda tentang apa yang salah dengan hubungan dapat menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Ketika dua orang berada dalam suatu hubungan mereka menciptakan dinamika dan wacana baru, dan apa pun yang terjadi, pasti saling memberikan kontribusi. Bila Anda memiliki wawasan untuk memahami peran Anda, Anda akan berada dalam posisi untuk melakukan sesuatu yang berbeda di lain waktu. Jalan terbaik adalah kita percaya bahwa itu mungkin bisa membantu untuk membuat perubahan tertentu dalam perilaku Anda sendiri, seperti belajar untuk mengatur batas-batas yang lebih baik atau meningkatkan keterampilan komunikasi kita.

Pelajaran maha penting ini bisa membuat kita mencapai hubungan yang lebih menakjubkan di masa depan. Kita perlu hubungan dengan orang lain untuk melihat diri kita lebih jelas. Setiap hubungan adalah cerminan bagaimana kita memandang dunia. Sebaiknya kita menyadari hubungan yang gagal bukan berarti petaka, karena membuat kita tumbuh lebih mengenali diri sendiri, dan membuat kita lebih bahagia pada akhirnya.