BAGAIMANA CARA MENGHENTIKAN GELISAH BY DALE CARNIEGE (HOW TO STOP WORRYING AND START LIVING BAB 2)

Untuk membaca bagian sebelumnya klik di sini dan di sini.

Nasihat itu menyelamatkan saya secara fisik dan mental selama perang; dan sekarang berkontributif pada posisi saya dalam bisnis. Saya seorang a Stock Control Clerk atau Pegawai Kontrol Saham untuk Perusahaan Kredit Komersial di Baltimore.

Saya menemukan problem yang sama muncul lagi dalam bisnis, yang mana menjedul juga selama perang: sebundel tugas harus dilakukan sekaligus—dan sialnya, hanya ada sedikit waktu untuk menamatkannya.

  1. Stok kami rendah.
  2. Ada segepok formulir baru yang harus ditangani.
  3. Pengaturan suplai baru.
  4. Perubahan alamat.
  5. Pembukaan dan penutupan kantor, dan sebagainya.

Alih-alih menjadi tegang dan gugup, saya ingat apa yang dokter katakan kepada saya.

“One grain of sand at a time. One task at a time.”

 “Satu butir pasir pada satu waktu.” Hanya mengerjakan satu tugas dalam satu waktu. Multitasking? Haram!

Dengan mengulangi kalimat itu kepada diri saya berulang kali, saya menyelesaikan tugas saya dengan cara yang lebih efisien dan saya ngerjain pekerjaan saya tanpa perasaan bingung dan campur aduk yang mana hampir melumatkan saya di medan perang.”

Salah satu komentar yang mengerikan banget adalah bahwa pola hidup kita saat ini udah sangat berantakan. Buktinya, setengah dari seluruh tempat tidur di rumah sakit disediakan untuk pasien dengan masalah saraf dan mental—pasien yang telah kolaps di bawah beban berat dari akumulasi kemarin dan hari esok yang super seram.

Namun, sebagian besar dari orang-orang itu akan beredar di jalanan hari ini dengan tralala-trilili, jika mereka sudi mengindahkan kata-kata Nabi Isa atau Yesus, “jangan khawatir tentang besok,” atau kata-kata Sir William Osier. “Hidup hanya untuk hari ini saja.”

You and I are standing this very second at the meeting-place of two eternities: the vast past that has endured for ever, and the future that is plunging on to the last syllable of recorded time.

Anda dan saya berdiri di detik ini, di tempat pertemuan dua keabadian: masa lalu yang luas yang telah bertahan selama-lamanya, dan masa depan yang mengarah pada suku kata terakhir dari waktu yang tercatat.

Kita nggak mungkin hidup dalam kedua kekekalan itu—tidak, bahkan untuk sepersekian detik pun kita nggak akan pernah sanggup. Tetapi, dengan nyoba ngelakuin itu, kita malah meremukkan tubuh dan pikiran kita sendiri. Jadi mari menikmati satu-satunya yang bisa kita nikmati: dari detik ini sampai tidur.

“Siapa pun dapat memikul bebannya, betapapun kerasnya, sampai malam tiba,” tulis Robert Louis Stevenson.

“Siapa aja pasti sanggup ngerjain pekerjaannya, sekeras apa pun, untuk satu hari. Siapa pun dapat hidup dengan super sweet, sabar, penuh kasih, pure, sampai matahari terbenam. Dan inilah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh kehidupan.”

Ya, hanya itulah yang dituntut kehidupan dari kita; tetapi Ny. E. K. Shields, 815, Court Street, Saginaw, Michigan, terdorong keputusasaan—bahkan ke ambang bunuh diri—-sebelum dia belajar untuk hidup hanya sampai sebelum tidur aja.

“Pada tahun 1937, saya kehilangan suami saya,” kata Mrs. Shields ketika dia menceritakan kisahnya kepada saya, “Saya sangat tertekan—dan nyaris nggak punya uang sepeser pun. Saya menulis kepada mantan majikan saya, Mr. Leon Roach, dari Roach-Fowler Company of Kansas City, dan mendapatkan kembali pekerjaan lama saya. Sebelumnya saya mencari nafkah dengan menjual buku ke dewan sekolah desa dan kota.

Sesungguhnya, saya udah terlanjur menjual mobil saya dua tahun sebelumnya, ketika suami saya sakit; tetapi saya berhasil menabung uang muka untuk membeli mobil bekas dan mulai menjual buku lagi.

Sumber Gambar: Tenthousandvilages.com

“Saya telah berpikir bahwa kembali ke jalan akan membantu meringankan depresi saya; tetapi mengemudi sendirian dan makan sendirian ternyata malah membikin saya makin tertekan. Beberapa wilayah itu nggak produktif, dan saya merasa sulit untuk membayar mobil itu, walaupun cicilannya kecil.

“Pada musim semi 1938, saya bekerja dari Versailles, Missouri. Sekolahnya buruk, jalanannya jelek; Saya sangat kesepian dan pesimis, sehingga pada suatu waktu saya bahkan mempertimbangkan bunuh diri aja lah. Sukses? Apa itu sukses? Sukses tampak jauh dan mustahil banget. Hanya delusi.

I had nothing to live for. Saya tidak punya apa-apa untuk hidup. Saya takut bangun setiap pagi dan menghadapi kehidupan.

  1. Saya takut segalanya.
  2. Takut saya tidak bisa memenuhi pembayaran mobil.
  3. Takut saya tidak bisa membayar sewa kamar saya.
  4. Takut tidak akan punya cukup makanan.
  5. Saya takut kesehatan saya menurun dan saya tidak punya uang untuk membayar dokter.

Yang ngebikin saya nggak bunuh diri adalah pikiran bahwa saudara perempuan saya akan sangat berduka, plus saya juga nggak punya cukup punya uang untuk membayar biaya pemakaman saya.

“Lalu suatu hari saya membaca sebuah artikel yang mengangkat saya dari depresi dan itu membuat saya berani untuk terus hidup. Saya nggak akan pernah berhenti bersyukur atas satu kalimat yang menginspirasi dalam artikel itu.

Yang ialah, “setiap hari adalah kehidupan baru bagi orang bijak.”

Saya mengetik kalimat itu dan menempelkannya di kaca depan mobil saya, di mana saya melihatnya setiap menit ketika saya mengemudi. Saya pikir nggak begitu sulit untuk hidup hanya  untuk satu hari.

Saya belajar untuk melupakan hari kemarin dan nggak mikirin hari esok. Setiap pagi saya berkata pada diri saya sendiri, “hari ini adalah kehidupan baru.”

“Saya telah berhasil mengatasi ketakutan saya akan kesepian, hysteria karena ingin ini itu. Saya bahagia, sukses, antusias, dan cinta hidup. Saya tahu sekarang bahwa saya nggak akan pernah takut lagi, terlepas dari apa yang hidup berikan kepada saya. Saya tahu sekarang bahwa saya nggak perlu takut akan masa depan.

Toh saya dapat hidup satu hari dalam satu waktu—dan bahwa, “setiap hari adalah nyawa baru bagi orang bijak.”

Menurut Anda, siapa yang menulis ayat ini: “bahagianya pria itu, bahagia dia sendiri, Dia, yang bisa memanggil hari-nya sendiri: Dia yang, merasa aman di bathn, dapat mengatakan: “Besok, lakukan yang terburuk, karena aku sudah hidup hari ini.”

Kata-kata itu terdengar modern, bukan? Namun itu ditulis tiga puluh tahun sebelum Nabi Isa dilahirkan, oleh penyair Romawi Horace.

Salah satu hal paling tragis yang saya ketahui tentang sifat manusia adalah kita semua bertendensi menunda hidup. Kita semua memimpikan taman mawar ajaib di cakrawala—bukannya menikmati mawar yang bermekaran di luar jendela kita hari ini.

Kenapa kita ini bodoh—orang bahlul, eh ditambah tragis pula? “

“Betapa anehnya, prosesi kecil kehidupan kita,” tulis Stephen Leacock.

  • Anak itu berkata, “ketika aku sudah besar.”
  • Tapi setelah itu apa? Bocah lelaki itu menjawab, “Saat aku dewasa.”
  • Dan kemudian, setelah dewasa, dia berujar, “Ketika saya menikah.”
  • Tetapi setelah menikah, lalu apa? Pikiran berubah menjadi, “ketika saya bisa pensiun.”
  • Dan kemudian, ketika pensiun datang, dia melihat kembali pemandangan yang dilaluinya; angin dingin sepertinya menyapu; entah bagaimana dia telah melewatkan semuanya, dan itu hilang.
  • Hidup, kita udah terlambat, ada dalam kehidupan, dalam jaringan setiap hari dan jam.”

Almarhum Edward S. Evans dari Detroit hampir bunuh diri karena khawatir, sebelum dia tau bahwa hidup, “ada dalam kehidupan, dalam jaringan setiap hari dan jam.”

Dibesarkan dalam kemiskinan, Edward Evans menghasilkan uang pertamanya dengan menjual koran, kemudian bekerja sebagai pegawai toko bahan makanan.

Pada akhirnya, dengan tujuh orang bergantung padanya untuk membeli roti dan mentega, ia mendapat pekerjaan sebagai asisten pustakawan. Meski upahnya kecil banget, ia takut untuk berhenti. Delapan tahun berlalu sebelum dia bisa mengumpulkan keberanian untuk memulai sendiri. Tetapi begitu dia mulai, dia membangun investasi awal senilai lima puluh lima dolar uang pinjaman untuk berbisnis, dan ia melipat-ganda-kannya menjadi dua puluh ribu dolar setahun.

Then came a frost, a killing frost.

Lalu datanglah salju yang beku, es yang membunuh. Sayangnya, ia terlanjur mendukung a big note untuk seorang teman-dan si teman itu bangkrut. Segera setelah bencana itu, datanglah bencana lain: bank tempat ia menyimpan semua uangnya bangkrut.

Dia tidak hanya kehilangan setiap sen yang dimilikinya, tetapi juga jatuh ke dalam hutang sebesar enam belas ribu dolar. Sarafnya tidak bisa menahan cobaan super berat ini. “Aku tidak bisa tidur atau makan,” katanya.

“Anehnya, aku menjadi sakit. Khawatir dan tidak ada yang lain selain khawatir,” katanya, “menyebabkan lahirnya penyakit ini. Suatu hari ketika aku sedang berjalan di jalan, aku pingsan dan jatuh di trotoar. Aku tidak lagi bisa berjalan.”

Aku terbaring di tempat tidur dengan tubuh penuh dengan bisul, borok dan nanah. Bisul-bisul ini berputar ke dalam sampai aku hanya sanggup berbaring di tempat tidur, saat itu adalah agony atau momen-penuh-penderitaan-super-duper-menderita-yang-tak-tertahankan. Setiap hari, aku semakin lemah.

Sumber Gambar: tartecosmetics.com

Akhirnya, dokter saya memberi tahu saya bahwa saya hanya punya waktu dua minggu saja untuk hidup. I was shocked. Saya terkejut. Saya menyusun wasiat, dan kemudian berbaring di tempat tidur untuk menunggu ajal. Sekarang, nggak ada gunanya untuk berjuang atau khawatir. Saya menyerah, rileks, dan pergi tidur. Saya belum tidur selama dua jam berturut-turut selama berminggu-minggu; tetapi sekarang karena masalah duniawi saya berakhir, saya tidur seperti bayi. Kelelahan saya yang melelahkan banget itu pun mulai menghilang. Nafsu makan saya kembali.

Berat badan saya bertambah. “Beberapa minggu kemudian, saya bisa berjalan dengan kruk. Enam minggu kemudian, saya bisa kembali bekerja. Saya telah menghasilkan dua puluh ribu dolar setahun; tetapi anehnya, sekarang saya senang mendapatkan pekerjaan dengan upah tiga puluh dolar seminggu. Saya mendapat pekerjaan menjual balok untuk diletakkan di belakang roda mobil ketika dikirim dengan kargo.

Sekarang, saya telah belajar sebuah teladan. Saya nggak pernah lagi merasa waswas—tidak ada lagi penyesalan tentang apa yang telah terjadi di masa lalu—tidak ada lagi ketakutan akan masa depan. Saya memusatkan seluruh waktu, energi, dan antusiasme saya untuk menjual balok-balok itu.”

Edward S. Evans melesat cepat sekarang. Dalam beberapa tahun, ia menjadi presiden perusahaan.

Perusahaannya—the Evans Product Company—telah terdaftar di New York Stock Exchange selama bertahun-tahun.

Ketika Edward S. Evans meninggal pada tahun 1945, ia adalah salah satu pebisnis paling progresif di Amerika Serikat. Jika Anda pernah terbang di atas Greenland, Anda bisa mendarat di Evans Field—sebuah lapangan terbang yang dinamai untuk menghormatinya.

Inilah inti ceritanya: Edward S. Evans tidak akan pernah sukses dalam bisnis dan kehidupan ini, jika dia tidak menyadari bahwa khawatir adalah tindakan yang menyesatkan dan bodoh—jika dia tidak belajar untuk hidup untuk  hari ini saja.


Lima ratus tahun sebelum nabi Isa dilahirkan, filsuf Yunani Heraclitus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa “semuanya berubah kecuali hukum perubahan”. Dia berkata: “Anda tidak dapat melangkah di sungai yang sama dua kali.”

Sungai berubah setiap detik; dan begitu pula orang yang melangkah di dalamnya. Hidup adalah fluktuasi tanpa henti. Satu-satunya kepastian adalah hari ini. Mengapa merusak keindahan hidup hari ini dengan mencoba memecahkan masalah masa depan yang diselimuti oleh perubahan dan ketidakpastian yang tak henti-hentinya—masa depan yang tak seorang pun bisa meramalkannya?

Orang-orang Romawi kuno memiliki kata untuk itu. Faktanya, mereka punya dua kata untuk itu.

Carpe diem. “Nikmati hari.”
Atau, “Rebut hari ini.”
Ya, raih hari itu, dan manfaatkan sebaik-baiknya.
Itulah filosofi Lowell Thomas.

Saya baru-baru ini menghabiskan akhir minggu di ladangnya; dan saya perhatikan bahwa dia memiliki kata-kata dari Mazmur CXVIII yang dibingkai dan digantung di dinding studio siarannya di mana dia akan sering melihatnya: Ini adalah hari yang Tuhan buat; kami akan bersukacita dan senang karenanya.

John Ruskin di atas mejanya memajang sepotong batu sederhana yang diukir satu kata: TODAY atau  HARI INI.

Dan sementara saya tidak memiliki sepotong batu di meja saya, saya memiliki sebuah puisi yang ditempelkan di cermin saya di mana saya bisa melihatnya ketika saya mencukur setiap pagi—sebuah puisi yang selalu disimpan Sir William Osier di atas mejanya—sebuah puisi yang ditulis oleh pemain drama India yang terkenal, Kalidasa: Salutation To The Dawn.



Look to this day!

Lihatlah hari ini!

For it is life, the very life of life.

Karena itu adalah hidup, kehidupan yang sesungguhnya.

In its brief course Lie all the verities and realities of your existence:

Dalam perjalanan singkatnya, semua kebenaran dan realitas keberadaan Anda tampak bohong.
The bliss of growth.

Kebahagiaan bertumbuh

The glory of action.

Kemuliaan beraksi

The splendour of achievement.

Kemegahan prestasi.

For yesterday is but a dream.

Kemarin hanyalah mimpi

And tomorrow is only a vision.

Dan besok hanyalah sebuah visi

But today well lived makes yesterday a dream of happiness.

Tapi hari ini hidup dengan baik dari kemarin mewujudkan mimpi menjadi hepi

And every tomorrow a vision of hope.

Dan setiap hari esok adalah visi yang penuh harapan.

Look well, therefore, to this day!

Karena itu, perhatikan baik-baik, sampai hari ini!
Such is the salutation to the dawn.

Itulah salam bagi fajar.

Jadi, hal pertama yang harus Anda ketahui tentang cemas adalah ini: jika Anda ingin menjauhkannya dari hidup Anda, lakukan apa yang Sir William Osier lakukan.

Tutup pintu besi di masa lalu dan masa depan.

Hidup hanya untuk 24 jam saja. Mengapa tidak bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ini, dan menuliskan jawabannya?

  • Apakah saya cenderung menunda hidup di masa sekarang untuk mengkhawatirkan masa depan, atau merindukan “kebun mawar ajaib di cakrawala”?
  • Apakah saya terkadang merasa pahit saat ini dengan menyesali hal-hal yang terjadi di masa lalu-yang sudah berlalu dan selesai?
  • Apakah saya bangun di pagi hari bertekad untuk “Seize the day” atau”Rebut hari ini”—untuk mendapatkan hasil maksimal dari dua puluh empat jam ini?
  • Bisakah saya mendapatkan lebih banyak dari kehidupan dengan hanya dengan memanfaatkan 24 jam sebaik-baiknya?
  • Kapan saya mulai melakukan ini? Minggu depan?… Besok?… Hari ini?

Stop Galau ala Dale Carnegie (How to Stop Worrying and Start Living bagian 1)

Fakta Fundamental Yang Harus Anda Ketahui Tentang Khawatir

Pada musim semi 1871, seorang pria muda membaca dua-puluh-satu-kata yang punya efek menghujam cukup dalam untuk masa depannya. Seorang-mahasiswa-kedokteran-di-Rumah-Sakit-Umum-Montreal, dia cemas apakah dia bisa lulus ujian akhir, khawatir tentang apa yang harus dilakukan, ke mana harus pergi, gimana sih cara membangun sebuah praktik dokter, bagaimana mencari nafkah. Dua puluh satu kata yang dibaca mahasiswa kedokteran muda ini, pada 1871, mendongkraknya menjadi dokter paling femes di generasinya.

Dia dianugerahi gelar bangsawan oleh Raja Inggris. Ketika dia meninggal, dua besar volume berisi 1.466 halaman dimohon untuk mendongengkan kisah hidupnya. Namanya adalah Sir William Osier. Berikut adalah dua-puluh-satu-kata yang ia baca pada musim semi 1871—dua puluh satu kata dari Thomas Carlyle yang membantunya menjalani kehidupan yang bebas dari rasa bimbang: “Bisnis utama kami bukan untuk melihat apa yang terletak jauh di kejauhan, tetapi untuk lakukan apa yang ada dengan jelas dan sebaik-baiknya.”

Living in Day-Tight-Compartments atau Hidup hanya untuk 24 Jam by Sir William Osier

Empat puluh dua tahun kemudian, pada malam musim semi yang lembut, ketika tulip bermekaran di kampus, lelaki ini, Sir William Osier, berbicara kepada mahasiswa Universitas Yale. Dia mengatakan kepada para siswa Yale bahwa seorang pria seperti dirinya yang telah menjadi profesor di empat universitas dan telah menulis buku populer, seharusnya memiliki “otak yang berkualitas istimewa”.

Dia mendeklarasikan bahwa itu nggak benar. Dia mengungkapkan bahwa teman-teman intimnya tahu bahwa otaknya adalah “otak dari karakter yang paling medioker atau biasa-biasa saja”.

Lalu, apa rahasia kesuksesannya? Dia menyatakan bahwa itu karena apa yang disebutnya hidup di “daytight compartments” atau hidup hanya untuk satu hari.

What did he mean by that? Apa yang dia maksud?

Beberapa bulan sebelum dia berbicara di Yale, Sir William Osier telah menyeberangi samudra Atlantik. Di atas sebuah kapal besar, di mana kapten berdiri di jembatan, sang kapten dapat menekan tombol dan voila! Ada dentang mesin dari berbagai bagian kapal. Mesin itu dimatikan jika yang lain sedang dihidupkan—di-shut-up ke kompartemen kedap air.

“Sekarang kalian,” Dr. Osier berkata kepada siswa-siswa Yale itu, “adalah organisasi yang jauh lebih luar biasa daripada kapal besar, dan terikat pada voyage perjalanan yang lebih panjang. Yang saya super tekankan kepada Anda sekalian adalah, kalian harus belajar mengendalikan alat berat, caranya? Dengan hidup ala ‘kompartemen yang ketat setiap hari’. Ini adalah metode terabsolut untuk memastikan keamanan dalam voyage atau perjalanan super panjang.”

“Pergilah ke jembatan, dan pastikan bahwa setidaknya bulkhead atau penyekat besar di antaranya berfungsi dengan prima. Sentuh sebuah tombol dan dengarkan, di setiap tingkat kehidupan Anda, pintu besi menutup masa lalu—yang terjadi kemarin telah mati. Sentuh yang lain dan matikan, dengan tirai logam, masa depan—hari esok yang belum lahir.”

“Anda akan aman-aman saja untuk hari ini! Matikan masa lalu! Biarkan masa lalu dikuburkan. Matikan hari-hari kemarin yang telah membodohi jalan menuju kematian yang berdebu… Beban hari esok, ditambah dengan yang kemarin, terbawa hari ini, membuat hal terkuat pun bisa goyah. Matikan masa depan yang membuat sesak napas, sama seperti masa lalu… Masa depan adalah hari ini… Tidak ada hari esok. Hari keselamatan manusia adalah sekarang juga.”

“Buang-buang energi, tekanan mental, kecemasan anjing, langkah-langkah seorang pria yang gelisah tentang masa depan… Tutuplah, kemudian buatlah garis depan dan belakang dengan sekat yang besar, dan bersiaplah untuk menumbuhkan kebiasaan baru, yaitu hidup pada ‘kompartemen yang ketat untuk sehari saja.”

Apakah Dr. Osier bermaksud mengatakan bahwa kita seharusnya nggak usah berikhtiar atau tak perlu lagi prepare untuk hari esok? No. Not at all. Bukan begitu maksudnya.

Tetapi dia melanjutkan dalam pidato itu, bahwa cara terbrilian untuk berancang-ancang menyongsong hari esok adalah dengan berkonsentrasi penuh, mengerahkan seluruh intelligence Anda, semua antusiasme Anda, untuk ngelakuin pekerjaan hari ini dengan fantastis. Itulah satu-satunya formula yang mungkin Anda lakukan untuk prepare menyambut masa depan.

Sir William Osier mendesak para siswa di Yale untuk memulai hari dengan doa: Give us this day our daily bread.” atau”Beri kami hari ini roti harian kami.”

Ingatlah bahwa doa itu hanya meminta roti hari ini. Nggak mengeluh tentang roti basi yang kita makan kemarin; dan jangan mengatakan: “Ya Tuhan, ladang gandum kami kering, dan kami mungkin akan ngalamin kekeringan lagi—lantas  bagaimana saya akan mendapatkan roti untuk dimakan musim gugur mendatang—atau seandainya saya kehilangan pekerjaan saya—oh ya Tuhan, gimana saya bisa dapet roti kalo saya nggak kerja?”

Tidak, doa ini mengajarkan kita untuk meminta roti hari ini saja. Roti hari ini adalah satu-satunya jenis roti yang bisa Anda makan.

Take No Thought for the Morrow

Bertahun-tahun yang lalu, seorang filsuf tanpa uang berkeliaran di negara berbatu di mana orang-orang mengalami kesulitan mencari nafkah. Suatu hari kerumunan orang berkumpul di sekelilingnya di atas bukit, dan dia memberikan pidato yang mungkin paling banyak dikutip di mana saja, kapan saja, bahkan sampai dengan saat ini.

Pidato ini berisi dua puluh enam kata yang telah berdering selama berabad-abad: “Karena itu janganlah memikirkan hari esok, karena besok akan memikirkan hal-hal dari dirinya sendiri.

Banyak orang mengharamkan kata-kata Nabi Isa atau Yesus itu, “Jangan pikirkan hari esok.” Mereka menolak kata-kata itu sebagai nasihat yang sempurna, sebagai sedikit mistisisme Timur.

  1. “Aku harus memikirkan besok,” kata mereka.
  2. “Saya harus mengambil asuransi untuk melindungi keluarga saya.”
  3. “Saya harus menyisihkan uang untuk usia tua saya.”
  4. “Saya harus merencanakan dan bersiap untuk maju.”

Right! Tentu saja kamu harus.

Yang benar adalah bahwa kata-kata Nabi Isa atau Yesus itu diterjemahkan lebih dari tiga ratus tahun lalu, pada masa pemerintahan Raja James. Pada zaman itu pikiran sering kali berarti galau atau cemas.

Versi modern mengutip dengan lebih akurat dengan mengatakan: “Jangan waswas untuk hari esok.” Dengan segala cara berkontemplasi untuk hari esok. Tetap pikirkan dengan cermat dan rencanakan serta lakukan persiapan. Tapi jangan khawatir!

“Jangan Galau tentang Hari Esok, Fokus di Hari ini!” By Laksamana Ernest J. King

Selama perang, para pemimpin militer merencanakan esok hari, tetapi mereka tidak galau.

 “Saya telah menyediakan peralatan terbaik yang kami miliki kepada orang-orang terbaik,” kata Laksamana Ernest J. King, yang memimpin Angkatan Laut Amerika Serikat, “dan telah memberi mereka apa yang tampaknya menjadi misi paling bijaksana. Hanya itu yang bisa saya lakukan.”

“Jika sebuah kapal telah tenggelam,” Laksamana King melanjutkan, “Aku tidak bisa membawanya. Jika akan hangus, aku tidak bisa menghentikannya. Aku dapat menggunakan waktuku untuk mengerjakan apa yang harus dihadapi esok hari, itu jauh lebih baik daripada menangisi masalah kemarin. Selain itu, jika aku membiarkan hal nggak penting itu mempengaruhiku, aku tidak akan bertahan lama.”

Apakah dalam perang atau damai, perbedaan elementer antara spekulasi yang baik dan pemikiran yang buruk adalah ini:

  1. Pikiran yang apik berkaitan dengan sebab dan akibat, dan mengarah pada rancangan logis dan konstruktif.
  2. Pemikiran bobrok sering menyebabkan ketegangan dan gangguan saraf.

Satu Langkah Cukup bagi Saya By Arthur Hays Sulzberger (Pendiri New York Times)

Baru-baru ini saya dapet hak istimewa untuk mewawancarai Arthur Hays Sulzberger, penerbit salah satu surat kabar paling terkenal di dunia, The New York Times.

Pak Sulzberger mengatakan kepada saya bahwa ketika Perang Dunia Kedua berkobar di seluruh Eropa, dia sangat terkejut, begitu harap-harap-cemas tentang masa depan, sehingga dia merasa hampir mustahil untuk tidur. Dia sering bangun dari tempat tidur di tengah malam, mengambil beberapa kanvas dan tabung cat, melihat di cermin, dan mencoba melukis potret dirinya.

Dia tidak tahu apa-apa tentang melukis, tetapi dia tetap melukis, untuk mengalihkan pikiran dari kekhawatirannya. Pak Sulzberger mengatakan kepada saya bahwa ia tidak pernah bisa menghilangkan kekhawatirannya dan menemukan kedamaian sampai ia mengadopsi moto lima kata dari himne:

Satu langkah cukup bagi saya. Lead, Cahaya… Jaga kakiku: Aku tidak meminta untuk melihat Adegan yang jauh: Satu langkah cukup bagi saya.

Beraktinglah Seperti Butiran di Jam Pasir yang Melewati Leher Sempit Satu Persatu. Satu Tindakan dalam Satu Waktu by Ted Bengermino

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang pemuda berseragam—di suatu tempat di Eropa—sedang menyelami pelajaran yang sama. Namanya Ted Bengermino, dari 5716 Newholme Road, Baltimore, Maryland—dan khawatir banget, sampai menimbulkan kasus kelelahan kelas satu.

“Pada bulan April 1945,” tulis Ted Bengermino, “Saya galau sekali sampai saya menderita apa yang oleh dokter disebut ‘kolon transversal spasmodik’—suatu kondisi yang menghasilkan rasa sakit yang hebat.

Jika perang belum berakhir ketika itu terjadi, saya yakin saya akan mengalami gangguan fisik total.

“Saya sangat lelah. Saya adalah Pendaftar Kuburan, Petugas Tidak Berkomisi untuk Divisi Infanteri ke-94. Pekerjaan saya adalah membantu mengatur dan memelihara catatan semua orang yang terbunuh dalam aksi, hilang dalam aksi, dan dirawat di rumah sakit.”

“Selama pertempuran, saya juga harus ngebantuin menguburkan tubuh, baik tentara Sekutu maupun musuh yang telah terbunuh dan buru-buru ditimbun dan dimakamkan di tanah yang digali cukup dangkal.”

“Saya kudu ngumpulin barang-barang privat dari orang-orang ini, dan melihat bahwa ‘harta’ itu dikirim kembali kepada orang tua atau saudara terdekat, yang akan menghargai banget  benda-benda pribadi ini.”

Saya terus-menerus galau karena :

  1. Takut kami mungkin melakukan kesalahan yang memalukan dan serius.
  2. Saya cemas apakah saya akan berhasil melewati semua ini atau tidak.
  3. Saya gelisah apakah saya akan hidup untuk menggendong satu-satunya anak saya di tangan saya—seorang putra enam belas bulan, yang belum pernah saya lihat.
  4. Saya ultra worry dan lelah sehingga saya kehilangan tiga puluh empat pound.
  5. Saya sangat panik, I was almost out of my mind. I looked at my hands. Saya melihat tangan saya. Nggak lebih dari kulit dan tulang. I was terrified at the thought of going home a physical wreck.
  6. Saya takut membayangkan pulang ke rumah dengan luka fisik.
  7. Saya menangis dan terisak-isak seperti anak kecil.
  8. Saya sangat terguncang sehingga air mata mengalir setiap kali saya sendirian.
  9. Ada satu periode segera setelah Pertempuran Bulge dimulai, saya menangis begitu sering sehingga saya hampir putus asa untuk menjadi manusia normal lagi.

Saya pun berakhir di apotik Angkatan Darat. Seorang dokter Angkatan Darat memberi saya beberapa saran yang mengubah hidup saya 360 derajat. Pasca memeriksa fisik menyeluruh, dia memberi tahu saya bahwa problematika saya adalah mental.

‘Ted’, dia berkata, ‘Saya ingin Anda menganggap hidup Anda sebagai jam pasir. Anda tahu ada ribuan butir pasir di bagian atas jam pasir; dan mereka semua melewati secara perlahan dan merata melalui leher sempit di tengah.”

Nggak ada seorang pun yang sanggup melewati leher sempit ini tanpa merusak jam pasir, kecuali meluncur satu persatu. Anda dan saya dan seluruh manusia di seantero dunia seperti jam pasir ini.

Ketika kita mulai di pagi hari, ada ratusan tugas yang rasanya harus kita selesaikan hari itu, tetapi jika kita tidak mengambilnya satu per satu dan membiarkannya melewati hari dengan perlahan dan merata, seperti halnya butiran pasir melewati leher sempit jam pasir, maka kita terikat untuk menghancurkan struktur fisik atau mental kita sendiri.’

“Saya telah mempraktikkan filosofi itu sejak-hari-yang-tak-terlupakan, yang diberikan seorang dokter Angkatan Darat kepada saya. Satu waktu untuk satu butir pasir… Satu waktu untuk satu tugas.”

Bersambung

Apa yang Harus Kita Lakukan Saat Kita Nggak Tahu Harus Berbuat Apa (Eckhart Tolle & Oprah)

Sumber Gambar

Ini contoh skenarionya: perusahaan tempat Anda bekerja nyaris pailit. Semua anggaran dipangkas. Ada kemungkinan Anda didepak. Tapi bisa jadi enggak juga sih. Masih tentatif. Dampaknya, Anda galau dan bingung, apakah Anda harus ngambil kerjaan yang bayarannya kecil di perusahaan lain atau, ya udahlah bertahan aja di perusahaan ini, siapa tau Anda nggak di-cut.

By: Eckhart Tolle (What to do when you don’t know what to do)

Kasus lain: Anda baru aja punya bayi, Anda harus pindah dong, tapi Anda nggak bisa mutusin antara mencari lingkungan yang dekat dengan sekolah yang notabene ‘cakep’ atau berburu rumah yang sesuai anggaran aja.

Sumber Gambar

Problematika lainnya: Pasca 7 tahun hidup bersama, pernikahan bersulih menjadi serangkaian argumen pahit yang nggak berhenti-henti, tetapi Anda ndak yakin  apakah Anda harus berdamai aja dengan keadaan atau mengakhiri hubungan.

Kita semuanya punya pengalaman kayak gini—saat-saat which is kita tidak tau mesti ngapain dan nggak tau harus mutusin apa.

  1. Step pertama biasanya memunguti informasi. Anda kudu mengestimasi fakta dan situasi: Untuk apa dan perkara apa yang bertentangan.
  2. Tetapi meskipun begitu, Anda mungkin belum bisa menyimpulkan.

Misalnya, jika Anda menyaring antara dua pilihan, rumah dengan tiga kamar tidur, dengan harga yang sama, dan berada di lingkungan yang sama, Anda mungkin pening harus mutusin yang mana.

Pro dan kontra adalah satu fase lanjutan dalam memungut keputusan tetapi bukan yang super vital. Ketika kita tidak sanggup making up the mind atau netapin sesuatu, itu karena pikiran kita berisik banget, atau apa yang saya sebut disebabkan oleh “suara di kepala Anda.”

Mayoritas orang bahkan nggak tau mereka punya suara ini. Sialnya, si suara berisik itu udah ngambil porsi yang bombastis, menelurkan monolog batin yang nggak pernah ngerem ocehannya, ngegas terus, Sob.

Sumber Gambar

Kadangkala suara itu terbelit dalam dialog, karena terbagi menjadi dua, dan mulai mengobrol dengan diri sendiri. Perbincangan yang gencar dan seru banget itu seperti bunyi-dengungan-terus-menerus dari kulkas atau AC di kamar, dan setelah beberapa saat, Anda ndak denger lagi.

Selama pilihan dilematis dan ruwet, suara ini nggak punya kontribusi sama sekali. Malah nambah mumet. Seringkali si pikiran ini mengkritik, dan terus aja berkomentar tentang Anda dan segepok kesalahan yang pernah Anda lakukan. Dia juga mengecam dan mengkritik orang lain.

Ini kayak hidup dengan seseorang yang nggak tahan menghadapi Anda dan sudah muak maksimal. Anda nggak akan mau hidup dengan orang seperti itu. Anda akan cabut dari hubungan kayak gitu.

Namun, karena Anda tidak bisa bebas dari pikiran Anda, Anda terjebak. Hasilnya? Anda berkecil hati. Pesimis parah. Anda tidak dapat menilik sisi positif dari segala sisi.

Voice di balik batok kepala Anda juga melahirkan sebongkah besar masalah yang bukan sepenuhnya masalah. Itu hanya hal-hal yang belum berlangsung, situasi yang bisa terjadi besok atau minggu depan.

Mendengarkan masalah yang nggak nyata menyandang nama lain: khawatir. Itulah yang dibuat ucapan di otak Anda.

What if. Itu resah. Itu menyakitkan dan ‘bengis’. Oleh karena itu, Anda nggak bisa lagi merasakan keriaan hidup. Jika kehabisan ide lain, ocehan di kepala Anda lantas berubah menjadi komplen.

Di kasus ini, saya nggak berbicara tentang Anda menegur seseorang dan berkata, “Ini salah, dan itu harus diluruskan.” Misalnya, ketika Anda berada di hotel dan Anda mendapati nggak ada air panas di situ. Tentu aja, Anda harus menelepon resepsionis dan ngomong, “Saya mau mandi. Bisa bantuin saya, nggak? “Dalam kasus ini, Anda bisa mengubah sesuatu.

Tetapi ketika Anda berada dalam situasi di mana Anda masih di tahap mengambil keputusan, dan Anda nggak tahu ke mana harus pergi, suara berisik di kepala Anda mulai mengeluh tentang segala sesuatu yang lain, bahkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan situasi:

  1. Mengeluh perkara cuaca.
  2. Kesal dengan ekonomi.
  3. Mencaci diri sendiri, gimana hidup Anda seharusnya berubah.
  4. Mengapa semua orang bisa berhasil tetapi Anda tampaknya selalu gagal lagi dan lagi.
  5. Dan Anda kebelet harus segera mencari tau sekarang juga.

Mengeluh tidak berfaedah apa pun, kecuali beban. Ini kayak Anda membopong sekarung besar batu untuk dibawa-bawa di punggung. Saat Anda mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan, itu malah mencegah Anda, dalam banyak kasus, menjadi nggak berbuat apa pun.

Sekarang bayangkan suara di dalam kepala Anda tiba-tiba berhenti. Anda sadar, wow, sangat sunyi senyap, Indah banget. Inilah yang Anda butuhkan untuk membuat keputusan yang efektif. You need to be present. Anda harus menjadi pengamat yang apik. Anda harus bebas dari apa pun. Anda hanya harus fokus dengan apa yang terjadi sekarang. Di detik ini. Konsentrasi pada momen ini aja.

Tentu saja, Anda nggak bisa hanya menjentikkan jari, dan tiba-tiba semua keinginan Anda terkabul. Tiba-tiba kemumetan Anda kelar. Nggak gitu pastinya.

Sebagian orang pertama kali mencecapnya selama olahraga ekstrem. Mendaki gunung, misalnya, kala meraba pijakan dan pegangan, mereka sebetulnya tidak berpikir sama sekali. Mereka present 100%, karena jika mereka tergelincir ke dalam pikiran, mereka akan terjerembab dari gunung.

Yang lain pergi ke alam. Mereka menatap keelokan di sekitar mereka, mereka mendengarkan burung-burung dan gemerisik dedaunan, dan sekonyong-konyong mereka menginsafi bahwa inilah si being.

Tetapi, Anda nggak harus menunggu kok untuk terlibat dalam aktivitas berbahaya atau pergi ke hutan belantara. Anda dapat mutusin untuk present di mana saja, dalam situasi apa pun, dengan menggeser fokus perhatian Anda menjauh dari pikiran dan mengalihkannya ke dalam aliveness di setiap jengkal tubuh Anda. Ketika Anda present, persepsi indra Anda—pendengaran Anda, penglihatan Anda—refleks merayap naik.

Anda akan merasai keheningan, sesuatu yang nggak harus Anda ‘rakit’. Sudah mendekam di sana, sekian lama, tertimbun di bawah berisiknya ocehan tentang, “gue harus ngapain?”

Anda sekarang sanggup membedakan antara: Inilah situasinya dan beginilah yang pikiran saya katakan tentang situasinya, atau, dengan kata lain.

Antara: “Saya mungkin kehilangan pekerjaan”, dan “konsekuensinya saya akan kehilangan rumah saya, dan harus membawa putri saya keluar dari sekolahnya, dan tinggal bersama orang tua saya, jadi saya harus mendapatkan pekerjaan lain pada akhir minggu, bahkan jika nggak ada pekerjaan dan saya tidak terampil untuk pekerjaan itu.” Maksudnya, Anda tetap peduli dengan masa depan, dan itu nggak berarti bahwa Anda nggak sanggup berpikir tentang apa yang akan Anda lakukan besok. Itu maksudnya, bahwa fokus atensi Anda adalah CUMA pada saat ini. Anda perlu merencanakan hal-hal spesifik tetapi segera kembali ke keaktifan apa yang sebenarnya terjadi di momen ini.

How do we do this? Gimana sih cara mengerjakan hal ginian? Salah satu triknya adalah mulai mengenali voice di balik tempurung kepala. Secara otomatis ketika Anda mendengar apa yang Anda pikirkan, Anda mungkin bisa stop berpikir.

Taktik lain adalah bertanya pada diri sendiri, “Masalah apa yang saya miliki saat ini?” Seringkali, ini membikin Anda terbangun. Anda harus mengakui: “Hmm, sebenernya, saat ini saya nggak punya masalah.

Misalnya, sebenernya sih di saat ini, Anda masih punya kerja. Anda mungkin kehilangannya nanti, tetapi pada detik ini Anda masih punya gawean.

Ya, Anda mungkin masih harus ngadepin situasi yang menantang, yang esok lusa ngebutuhin respons. Tapi itu bukan problem, kan? Itu sebuah event.

Lebih jauh, jika masalah mencuat, saat ini juga, maka Anda akan ngelakuin sesuatu untuk itu. Begitu Anda menyelami apa situasi Anda yang faktual—yang sesungguhnya bukan suara yang ada di kepala Anda—maka, tentu saja, Anda bisa berhenti struggling.

Situasinya ada. Jadi Anda nggak perlu gelisah tentang hal itu atau mabuk-mabukkan, atau menangis atau berdebat atau meminta nasihat orang lain.

Anda bisa menampiknya karena apa yang menyebabkan Anda sakit adalah gagasan Anda sendiri tentang hal itu—bukan karena event itu sendiri.

Faktanya, Anda bisa melanjutkan aktivitas normal—dan di situlah intuisi menyusup. Karena ketika Anda tersambung dengan keheningan, Anda juga konek dengan kecerdasan kreatif yang lebih banter dari pemikiran analitis.

Sangat sering, simpulan yang akurat kemudian muncul secara serta merta. Itu mungkin nggak terjadi segera.

Ini mungkin ‘menjinjing’ Anda kembali ke kesibukan rutin Anda, tetapi periode waktu ini ngasih intuisi Anda ruang dan keheningan yang dibutuhkan untuk nongol ke permukaan. In the end of the day, saya percaya, apakah Anda meninting satu cara atau yang lain no problemo.

Jika Anda present ketika Anda ‘merakit’ keputusan, maka Anda akan present dalam situasi berikutnya—dan siap untuk membangun alternatif saat dibutuhkan.

Tentu saja, Anda selalu bisa ngelakuin berbagai perkara secara divergen. Namun yang paling esensial bukanlah apa yang Anda lakukan, melainkan bagaimana Anda mengerjakannya—keadaan sadar yang dibawa ke proses, yang diharapkan akan membuat Anda merasakan aliveness dari semua pengalaman Anda.