“Asian Paradox”: Orang Asia Makan Nasi Begitu banyak Tapi Tetap Ramping

Halo, apa kabar kalian? Saya Sarah Sastrodiryo pemilik blog ini. Sudah lama kita berasumsi bahwa makan nasi bikin gemuk. Apakah benar faktanya begitu? Saking takutnya pada nasi dan karbo lainnya, akhirnya kita menghapus nasi untuk selama-lamanya.

Tetapi, jika memang begitu, nggak akan pernah ada istilah Asian Paradoks dong? Oleh karena itu, kali ini saya akan menerjemahkan tulisan dari Mark Sisson tentang Paradoks itu tadi. Cekidot.

By: Mark Sisson.

Manusia suka segala sesuatu yang berbau conterintuitive atau paradoks. Dengan ditemuin beberapa manifestasi dengan jumlah segepok adalah the eargerly point atau pokok, yang membuat kita bergairah untuk meriset. Lantas, kita membongkar bukti demi bukti, spesialnya, yang menyuport bagaimana cara kita makan, hidup, dan bergerak atau konsep:

  1. Eating.
  2. Living.
  3. Moving.

Sebelumnya kita telah membahas bagaimana The French Paradox atau Paradoks Perancis telah menggegerkan para ahli.

Dean Ornish akan menarik helai demi helai rambut yang kusut dan makan bekatul karena serangan tak langsung dari all smug surrender monkeys alias dari semua monyet-monyet bloon yang hobinya makan Brie, butter/ mentega, Duck Confit atau daging bebek super lemak dan  Gauloises yang menurut Mr. Dean akan menyebabkan serangan jantung.

Ada juga yang dinamakan Paradoks Israel atau Israeli Paradox, yang mana penyakit jantung meroket, terlepas dari fakta bahwa mereka mengonsumsi asam lemak omega-6, yang mereka klaim adalah minyak sehat.

Walter Willet mungkin ditemukan menangis di atas se-mug besar minyak Safflower ketika bangun.

Ada juga The American Paradox atau Paradoks ala Amerika, yang paling banyak memakan minyak jenuh tapi paling sedikit mengalami jantung koroner—ini membuat para periset bingung.

Semua paradoks memang merupakan hal yang mengejutkan.

Banyaknya scot-free dan omega-6 dari minyak sayur yang dilepaskan oleh minyak jenuh disapukan di atas arang pada saat barbeque, yang mungkin saja sudah teroksidasi.

Ini semua seharusnya bisa dijadikan alasan untuk mengevaluasi kembali kepercayaan jadul tentang kesehatan dan diet, jika seandainya kita semua mau jujur tentang hal ini.

Lalu, bagaimana dengan The Asian Paradox atau Paradoks ala Asia? Jika memang karbohidrat membuat Anda gemuk? Kok bisa sih mereka makan karbo banyak banget? Bagaimana mungkin mereka selalu langsing padahal makan nasi putih dan mie dengan porsi melimpah?

Bagaimana mereka makan karbo Portugal—porsi tukang gali— dan tetap ramping? Jangan-jangan karbohidrat nggak bikin gemuk?

First of all, saya memang akan mengkonfirmasi bahwa Asia makan banyak nasi. Statistik cukup jelas tentang konsumsi beras di Asia, orang western berasumsi bahwa nasi mungkin side dish atau lauk tambahan aja, bukan hidangan utama, tapi faktanya di Asia nasi memang santapan wajib.

Oleh karena itu, pada kali ini, saya akan menjelaskan mengapa Asian Paradox (seperti semua paradoks), aktualnya adalah bukan paradoks, dan mengapa saya menimbang ini cukup penting dan akan berdampingan dengan damai dengan primal paradoks yang lain.

Ini bagus. Karena Paradoks Asia justru ngasih kita kesempatan untuk mengevaluasi keyakinan kita selama ini.

Mereka bergerak lebih sering dengan ritme lambat

Di mana pun saya berada di kota besar dengan populasi imigran yang besar, saya notice ada pendekatan yang berbeda ketika mereka berjalan.

Baru-baru ini, saya dan Carrie mendatangi Golden Gate Park di San Fransisko, misalnya. Kami berdua menyadari perbedaannya, saat itu kami menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan dan tersesat.

Sumber Gambar

Memang ada banyak orang berjalan, jogging, dan aktif, tapi hanya orang Asia golongan tua yang tampak berolahraga dengan intensitas tinggi.

Exercising on purpose

Berolahraga dengan tujuan

Tujuannya:

  1. Membakar kalori.
  2. Meningkatkan VO2 max.

Nenek cina tua yang lewat menggunakan keds dan sweater rajutan, dan ibu muda mendorong stroller, celana legging ketat, topi baseball, dan sepatu lari trendy termutakhir.

Dengan earphone Bluetooth yang menancap di kuping, berbincang tentang bisnis, politik, masa lalu, dengan Bahasa lain, dua orang pelari yang kelihatan identik (sama-sama memakai sepatu Vibrams) dan mengenakan setelan rapih dan sepatu loafer.

Seorang pria asia yang sudah sepuh menggunakan kemeja berkerah, celana panjang katun atau slacks cruised pants dengan kecepatan sepuluh aja, sungguh sangat simple, dan sekelompok pengendara sepeda yang bisa lulus untuk kategori pro dilengkapi dengan gear, iklan-iklan dan sepatu spesial untuk bersepeda.

Untuk orang-orang Asia yang sudah tua atau the older Asian folks, mereka mayoritas berjalan mengandalkan kaki sendiri atau bersepeda, ini adalah cara untuk berpindah tempat dari sini ke sana.

Itu bukan karena ada acara khusus. Itu adalah kejadian sehari-hari. Itu normal. Bagi semua orang, ini adalah olahraga. Itu bukan acara besar di mana Anda harus prepare dan menghabiskan uang untuk ngerjain gituan.

Berjalan kaki dengan tujuan agar menjadi lebih sehat itu bagus, dan olahraga juga hebat, saya melakukan nyaris setiap saat. Asia yang sudah migrasi ke Amerika, dan orang Asia yang masih berada di negara asalnya memiliki perbedaan kultur yang cukup besar, itu berdasarkan pengamatan saya.

Orang-orang yang belum bermigrasi lebih aktif bergerak. Bukan berarti di negara asal mereka pergi ke gym centre, melakukan weight lifting dan lari sprint, hanya saja aktivitas harian rata-rata mereka memang lebih tinggi. Tindakan sederhana yang dilakukan secara rutin pasti bermanfaat untuk kesehatan, seperti yang sudah kita ketahui bersama.

Daily walking atau berjalan setiap hari dengan konsiten berasosiasi dengan beberapa benefit kesehatan yaitu:

  1. Meningkatkan sensitivitas insulin (sehingga lebih baik menoleransi karbohidrat seperti beras putih).
  2. Mood yang lebih baik.
  3. Menurunkan tekanan darah dan trigliserida.
  4. Dan umur panjang/ longevity.

Sudah seratus tahun Amerika telah menjadi negara mobil. Sudah lebih dari 50 tahun kita tidak harus berjalan kaki. Heck, seringnya kita nggak bisa berjalan kaki meski kita ingin, karena kita tinggal di suburban sprawl yang membutuhkan mobil untuk membeli grocery atau mengantarkan anak-anak ke sekolah. Sehingga, orang Amerika berjalan lebih sedikit dibandingkan dengan negara lain.

Sumber Gambar

Pada saat orang Asia mulai membeli lebih banyak mobil, kemana-mana naik kendaraan, tidak melakukan pekerjaan padat karya, saya curiga akan terjadi yang namanya:

  1. Intolerasi karbohidrat.
  2. Kanaikan lemak tubuh.
  3. Kesehatan umum memburuk secara umum.

It’s already happening, as you’ll see. Kamu lihat kan, ini sudah mulai kejadian, lho. Penentu terbesar untuk toleransi terhadap karbohidrat adalah level aktivitas harian.

Tetapi, meski di Amerika, untuk kota-kota yang nyaman untuk berjalan kaki dibandingkan menyetir seperti New York, masyarakat biasanya lebih sehat, lebih ramping dan berumur lebih panjang.

Sulit dipungkiri, sekarang segalanya telah berubah. Pada tahun 1989 65% of Chinese performed heavy labor, masyarakat Cina nggak lagi melakukan pekerjaan buruh di rutinitas sehari-hari.

Tahun 2000, proporsi mereka telah anjlok menjadi 50%—masih tetap unggul dibandingkan negara-negara western, tapi tren yang menurun jelas sangat terlihat. Proporsi obesitas meningkat pada tahun 2000.

Diet Makanan Bergizi yang Tidak Diproses

Gizi sangat tinggi di makanan tradisional Asia sudah jadi pengetahuan umum, nyaris semua orang tau mengenai hal itu.

Datangi restoran mie ala Vietnam, signature dari mereka adalah PHO, yang berisi:

  1. Kaldu tulang sumsum sapi buatan sendiri.
  2. Babat.
  3. Tendon.
  4. Brisket.
  5. Mie beras.

Pergilah ke restoran Thai kualitas tinggi bukan yang abal-abal, beli sup kaldu tulang dengan isi:

  1. Beberapa kubus darah babi.
  2. Sayuran hijau.
  3. Mie beras.
  4. Telur bebek.
Sumber Gambar

Pergilah ke restoran Cina dan pesan tumisan (sayangnya, minyak kedelai telah diganti dengan minyak jagung), ginjal babi, brokoli cina, nasi di sebelahnya.

Sekarang, datangi restoran Jepang, dan beli telur-salmon-tangkapan-liar yang digulung dengan rumput laut dan nasi, makarel sashimi, beberapa sup miso dengan potongan rumput laut.

Datanglah ke restoran barbekyu tipikal Korea yang berciri khas:

  1. Berlusin-lusin kimchi.
  2. Iga bakar pendek.
  3. Hati sapi.
  4. Hati sapi yang dibungkus selada.
  5. Nasi di sampingnya.

Nyaris di semua kultur, nasi memang selalu ada, tetapi faedah dari kaldu tulang (kontennya adalah kolagen), daging segar, kol fermentasi, jeroan, dan sayuran.

Beras tidak dibatalkan, emang sih nggak ada nutrisinya. Dan selalu eksis hampir pada semua sajian.

Of course, itu adalah makanan restoran. Tapi, jika Anda sangat penasaran, bagaimana rekan-rekan asia memasak, pergi ke supermarket dan perhatikan apa yang dibeli. Bahan pangan mereka nggak mewah atau plavorful, namun, sama bergizinya.

Berdirilah di meja kasir dan Anda akan melihat dua puluh jenis ikan: tiram hidup, kerang, kepiting, siput, bulu babi; seluruh pencernaan babi, seember kaki ayam, se-tas penuh daun herbal, sayuran eksotis seperti pare, makanan yang difermentasi, acar, selusin jenis sayuran akar, dan pastinya, nasi, dong.

Saya mengagumi kaki sapi tampan yang mengeluarkan kolagen dan sumsum yang sehat, dan membayangkan semua hidangan indah yang bisa dihasilkannya (sementara, mental  saya membandingkan isi stroller di pasar Asia dan standar grocery di standar Amerika, tebak siapa yang menang.)

Sudah banyak terjadi perubahan di kultur Asia:

  1. Asupan gula yang meningkat.
  2. Lemak babi dan gajih sapi digantikan oleh minyak jagung dan minyak kedelai.

Sekarang, jika Anda ingin mengisolasi nasi dari list nutrisi berat dan mengatakan, “terus ini tentang apa sih sebenernya?”

Nasi adalah makanan dengan konteks absolut mempunyai kadar gula yang rendah, NO HFCS—atau tanpa fruktosa, kandungannya hanya 55/45—kita seringkali berasumsi bahwa glukosa adalah penjahat nomor wahid, faktanya, fruktosa jauh lebih berbahaya karena ditimbun di organ hati. Fruktosa atau glukosa yang dipecah untuk HFCS adalah kekeliruan besar.

Padahal dulu di Asia:

  1. Konsumsi minyak nabati rendah.
  2. Memakan jeroan juga masih bisa diterima.

Jadi gini lho, katakanlah, memang ada fruktosa di dalam blueberry, tapi bukan berarti Anda mengutuk keseluruhan buah itu, dan mengatakan bahwa tidak melihat adanya vitamin di sana. Kita tetap harus fair, dengan menimbang seluruh komponen makanan.

Sumber Gambar

Similarly, Anda nggak akan mereduksi makanan tersebut hanya karena ‘cacat’ yang nihil, dalam hal menilai sesuatu jangan memakai pepatah, “nila setitik rusak susu sebelanga.”

Anda harus melihat seluruh gambar, faktanya, diet Asia mayoritas memang bergizi.

More Rice, Less Wheat

Lebih banyak nasi, sedikit gandum

Berkat monsoon yang regular atau musim hujan yang biasa, 90% budidaya beras yang diproduksi di dunia berlokasi di Asia. Karena kawasan ini terpapar beras lebih dari 10.000 tahun jadi mereka cenderung makan lebih banyak. Mereka sungguh beruntung, mereka bisa makan nasi, terutama nasi putih (yang sebagian besar merupakan makanan wajib di Asia).

Salah seorang teman saya dari Thailand yang tumbuh besar di USA, datang ke Hollywood pada tahun 60-an pernah berkata, “dedak itu untuk para ayam.”

Oleh karena itu, nasi adalah sumber glukosa non-toksik atau tidak beracun. Jika spektrum biji-bijian, yang mana gandum dan biji-bijian gluten lainnya selalu merupakan produk akhir, nasi dengan rileks sangat berlawanan.

Tetapi, ini nggak baik atau buruk. It just is. It’s pretty much neutral. Cukup netral. Terlepas apakah kamu bisa handle glukosa dalam jumlah banyak, namun, saya bisa pastikan bahwa bebas dari iritasi usus, asam fitat, dan lektin yang merusak.

Di sisi lain, jika makan gandum, dan kebetulan kamu punya alergi gluten, bibit dari agglutin, dan jumlah antinutrien yang mana digunakan untuk bersaing.

Ned Kock, seorang master (yang sayangnya kurang mendapat penghargaan), telah menulis serangkaian posting statistik tentang data studi China, menunjukkan, asupan beras diasosiasikan dengan reduksi penyakit kardiovaskular, sementara, intake tepung terigu berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.

Level konsumsi nasi berkorelasi dengan naiknya CHD, yang mana, bukan faktor utama. Semua sederajat, orang-orang yang lebih sehat meski makan nasi seember besar dibandingkan dengan makanan cepat saji gandum sebaskom.

Apakah warga Asia tetap sesehat dulu?

Sayangnya, warga Asia tidak sesehat dan tidak lagi panjang umur. China dan India menghadapi epidemi diabetes. Di Taiwan, Korea, Vietnam, dan Thailand, angka diabetes juga melambung.

Cuaca yang sempurna—hidup nyaman tenteram loh jinawi, makanan junk food yang penuh dengan karbohidrat dan lemak berbahaya, dan kualitas tidur yang jelek—yang telah menghancurkan Amerika dan negara-negara industrial hampir seabad mendorong setumpuk penyakit yang menghinggapi nyaris seluruh Asia.

Lemak hewan tradisional telah digantikan oleh minyak goreng, dan asupan gula melonjak. Orang-orang lebih banyak makan gandum dan jarang jalan kaki lagi.

Negara-negara Asia mempunyai BMI rendah yang misleading/ menyesatkan. Pada BMI yang sama, Asia lebih berlemak dibanding ras lain. Jadi, secara rata-rata, orang Amerika atau Kepulauan Pasifik dengan BMI 25 memiliki lemak tubuh lebih sedikit daripada orang Cina dengan BMI 25.

Nggak jelas apakah tingginya lemak tubuh (tapi BMI-nya rendah) berkorespondensi dengan naiknya beberapa penyakit, tetapi, ini menunjukkan bahwa BMI sangat tidak bisa dipercaya sebagai barometer apakah diet di negara tertentu itu apik atau tidak. Anda bisa tergolong kategori skinny-fat dengan BMI rendah—dan ini biasa terlihat pada orang-orang Asia.

Jadi, seperti yang udah-udah, fenomena the Asian Paradox jatuh sudah; sesungguhnya nggak ada paradox, Sob. Asia tetap langsing pada pola makan nasi segabruk karena mereka banyak melakukan aktivitas aerobik yang mana bisa meningkatkan sensitivitas insulin, plus, lauk pauk pendamping nasi sangat tinggi nutrisi, karena nasi rasanya netral.

Any questions? Fire away!

Epidemi Obesitas (Penyebab Akar Masalahnya)

Sumber Gambar

Kali ini saya akan mengutip ucapan dokter Fung mengapa dia yang seorang ahli ginjal pada akhirnya tertarik mendalami tentang obesitas dan cara untuk meramping. Inilah penjelasannya.

By: Dokter Jason Fung (The Obesity Epidemic – Root Causes)

Saya dibesarkan di Toronto, Kanada pada prelude tahun 1970-an. Diri saya yang lebih yuvenil akan benar-benar terkejut bahwa hari ini, obesitas telah menjadi fenomena global yang mengambung dan tak terhentikan. Pada saat itu, kami bergidik serius pada isu Malthus bahwa populasi dunia akan segera menerobos produksi makanan dunia dan kita nggak akan sanggup lagi menangkis kelaparan massal. Atensi utama lingkungan adalah pendinginan global karena pantulan sinar matahari dari partikel debu di udara yang menyulut fajar Zaman Es baru.

Sumber Gambar

Saya ingin tahu apakah Majalah Time menyangka salah satu dari 51 hal yang harus kita aksikan adalah menjadi penguin. Sebaliknya, sekitar 50 tahun kemudian, kita menjaring diri kita menghadapi masalah yang persis egaliter. Pendinginan global telah lama surut menjadi perhatian serius, tetapi pemanasan global dan mencairnya lapisan es kutub merajai berita. Alih-alih makanan yang nadir secara global dan kelaparan universal, kita menumbuhkan epidemi obesitas, belum pernah terjadi lebih beberapa ratus tahun silam dalam sejarah manusia.

Ada banyak aspek yang lebih galau dari epidemi obesitas ini.

Pertama, apa pangkal penyebabnya? Fakta bahwa epidemi ini bersifat menyebar luas dan relatif baru membangkang cacat genetik yang menjadi geladak pada awalnya? Olahraga sebagai kegiatan rekreasi, adalah hal secuil besar yang bukan merupakan trend pada tahun 1970-an. Orang-orang tidak berkeringat dengan orang tua dalam dekade itu. Menjamurnya pusat kebugaran, klub lari, studio latihan dan segenusnya adalah produk tahun 1980-an.

 

Sumber Gambar

Saya bersabung dan membolak-balik pertanyaan ini selama bertahun-tahun. Orang-orang makan roti putih, es krim, dan kue Oreo pada tahun 1970-an. Pasta dan roti gandum utuh nggak ada tuh, mereka nggak dianggap wajar sebagai jamuan yang layak dimakan oleh orang-orang nyata. Mereka menggarap cara makan dengan metode yang ‘salah’ tetapi jarang ada yang ndut, ingin bukti? Gampang aja, coba lihat, saat Anda menilik foto-foto lama dari tahun 1970-an, nggak ada yang gemuk kan?

Kedua, mengapa kita tidak berdaya untuk menyabot epidemi ini? Tidak ada yang ingin menjelma fertil. Semua ilmuwan, dokter, dan ahli diet terbaik di zaman itu menganjurkan nasihat diet, semuanya tetap bersandar pada ajaran yang ngawur. Selama lebih dari tiga puluh tahun, para dokter telah merekomendasikan diet rendah lemak, yang diperkaya tinggi karbohidrat sebagai terapi asoy untuk kegemukan.

Sumber Gambar

Namun epidemi obesitas telah diakselerasi. Dari 1985 hingga 2011, prevalensi obesitas di Kanada merayap tiga kali lipat, dari 6 persen menjadi 18 persen. Semua bukti yang tersedia mengekspos bahwa orang-orang mencoba memotong kalori mereka, mencangkul-i lemak mereka dan berolahraga lebih bar-bar. Tapi mereka tidak sanggup melebur berat badan. Satu-satunya jawaban yang logis adalah kita tidak menginterpretasi masalahnya.

Makan terlalu banyak lemak dan terlalu membludak kalori bukanlah dilema, jadi menyabit lemak dan kalori bukanlah solusinya. Jadi, semuanya kembali ke interogasi-perdana-yang-esensial itu.

Apa yang membenihkan penambahan berat badan?

Pada 1990-an, saya lulus dari University of Toronto dan University of California, Los Angeles sebagai dokter dan spesialis ginjal. Dan saya harus berkata jujur bahwa saya tidak mengantongi minat sedikit pun untuk menyembuhkan obesitas. Tidak selama sekolah kedokteran, residensi, penataran khusus atau bahkan selama praktik. Tapi bukan saya doang kok. Ini faktual untuk setiap dokter yang praktik di Amerika Utara.

Sekolah kedokteran menginstruksikan kita belajar hal lain, hampir nggak ada nyinggung tentang gizi, dan bahkan kurang tentang tata cara menyembuhkan obesitas. Ada jam dan mata kuliah yang didedikasikan untuk obat-obatan yang tepat dan operasi untuk preskripsi.

Sumber Gambar

Saya mahir dalam aplikasi ratusan obat-obatan. Saya piawai dalam penggunaan dialisis. Saya tahu semua tentang preservasi dan indikasi pembedahan. Pengetahuan saya nol raksasa tentang nutrisi dan bahkan cetek tentang cara menyusutkan berat badan. Hal ini terlepas dari fakta bahwa epidemi obesitas sudah definit, dan epidemi diabetes tipe 2 yang berdiri latah tepat di belakangnya, dengan semua implikasi merusak organ tubuh yang lainnya.
Dokter tidak peduli dengan diet. Berat badan bukan perkara supaya tampak sekseh dalam bikini untuk musim renang di musim panas. Bukan cuma itu, lho.

Melubernya lemak di dalam tubuh bertanggung jawab penuh dalam ekspansi diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik, secara dramatis menumbuhkan risiko serangan jantung, stroke, kanker, penyakit ginjal, kebutaan, amputasi, dan kerusakan saraf, dan komplikasi lainnya.

Ini bukanlah merupakan topik kedokteran perifer yang digandrungi. Obesitas merupakan jantung dari seluruh penyakit, dan saya minim ilmu tentang itu. Saya mulai praktek sebagai spesialis ginjal pada awal tahun 2000, dan saya menemukan bahwa penyulut paling tipikal dari gagal ginjal, sejauh ini, adalah diabetes tipe 2.

Saya mengibaratkan pasien-pasien itu mengasah saya, satu-satunya cara yang membuat saya paham caranya. Awalnya, saya bersandar penuh pada obat-obatan seperti insulin dan prosedur seperti dialisis. Dari pengalaman, saya tahu bahwa insulin akan mengundang kenaikan berat badan.

Sebenarnya, semua orang tahu insulin menyebabkan ekskalasi bobot tubuh. Pasien akan curhat dengan nada prihatin. “Dokter,” kata mereka, “Anda selalu mengujarkan kepada saya untuk itu berat badan harus segera didaratkan. Tapi insulin yang kau berikan padaku membuat berat badanku membengkak, banyak pula. Bagaimana ini bisa membantu?”

Sumber Gambar

Untuk waktu yang lama, saya ngeblank, saya beneran tidak memiliki jawaban yang apik untuk mereka, karena fakta itu tidak berkontributif. Masalahnya adalah pasien saya tidak semakin afiat. Satu-satunya yang bisa saya kerjakan adalah saya hanya memegang tangan mereka saat mereka merosot dan kondisinya menjadi lebih buruk lagi dan lagi.

Saya menggarap semua yang dididik kepada saya, tetapi itu tidak ada gunanya. Sia-sia aja.
Secara bertahap, saya sadar apa biang keroknya. Akar bibit seluruh masalah adalah si obesitas itu sendiri. Obesitas melantarkan sindrom metabolik dan diabetes tipe 2, yang menyebabkan semua problem lainnya. Namun semua yang diajarkan kepada saya, hampir seantero sistem pengobatan modern, dengan farmakope-nya, dengan nanoteknologinya, dengan semua sihir genetika senter secara miopik tidak menembak pada masalah ultra inti.

Tidak ada ada satu ahli pun yang menjampi akar penyebabnya. Jika Anda mengobati penyakit ginjal, pasien masih tersisa dengan obesitas, diabetes tipe 2 dan semua komplikasi lainnya. Ini adalah cara saya, dan nyaris setiap dokter lain dibiasakan untuk praktik kedokteran. Tapi itu tidak berjaya.

Kita perlu menjampi dan membongkar obesitas. Kita mencoba untuk mengobati masalah yang disebabkan oleh obesitas daripada obesitas itu sendiri. Ketika orang-orang pupus berat badan-nya, diabetes tipe 2 mereka juga akan memental arahnya. Mengobati akar penyulut adalah satu-satunya solusi logis.

Jika mobil Anda bocor, resolusinya adalah tidak membeli lebih banyak minyak dan alat pel untuk mengeringkan tumpahan. Solusi yang logis adalah menemukan kebocoran dan menambalnya.

Sumber Gambar

Sebagai profesi medis, kami bersalah karena meneledorkan kebocoran itu. Jika Anda bisa memulihkan obesitas di awal, maka diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik tidak bisa membiak. Anda TIDAK dapat menyuburkan  penyakit ginjal jika Anda tidak menderita diabetes. Anda tidak bisa mengelaborasi kerusakan saraf jika Anda tidak pernah mengidap diabetes.
Terbersit  jelas dalam retrospeksi. Ihwalnya adalah saya tidak tahu cara menerbangkan kegemukan. Meskipun telah bekerja lebih dari dua puluh tahun di bidang kedokteran, saya menjaring bahwa rekognisi gizi saya sendiri belum sempurna.

Hal ini memicu pengembaraan selama satu dekade dan akhirnya menyetir saya untuk memformat program Intensif Dietary Management (IDM) dan Klinik Toronto Metabolik. Ketika berpikir serius tentang remedi obesitas, ada satu teka-teki yang sangat krusuial untuk dipahami. Apa yang menyebabkan interpolasi berat badan? Apa gara-gara prinsipilnya?

Alasan kita tidak pernah mereflesikan pertanyaan penting ini adalah kita sudah berpikir kita tahu jawabannya. Kita berpikir bahwa makan terlalu banyak kalori membuahkan obesitas.
Jika ini benar, maka solusi untuk melingsirkan berat badan itu sederhana. Makan lebih sedikit kalori. Tapi kita sudah menghandel kegembrotan dengan cara itu, tapi hasilnya nihil. Ad nauseam. Sampai pegel dan bosan sendiri.

Selama 50 tahun terakhir, satu-satunya degradasi berat badan yang pernah diberikan adalah memotong kalori dan berolahraga lebih banyak. Ini adalah strategi yang maha tidak efektif yang disebut ‘Eat Less, Move More’. Kita telah menyematkan jumlah kalori ke label makanan. Kita memiliki buku penilai kalori. Kita memiliki aplikasi penghitung kalori. Kita memiliki pembilang kalori pada mesin olahraga kita. Kita telah menggarap segala kemungkinan secara manusiawi untuk mereken kalori sehingga kita dapat memenggalnya.

Sumber Gambar

Apa strategi itu sukses? Apakah pon itu meleleh seperti manusia salju pada bulan Juli? Tidak. Terbetik kemungkinan memang seharusnya itu berhasil. Tetapi bukti empiris, polos seperti tahi lalat di ujung hidung Anda, bahwa itu nggak beraksi sama sekali.

Dari sudut fisiologi manusia, seluruh cerita kalori runtuh seperti rumah kartu. Tubuh nggak mengukur kalori karena tidak menyandang sensor kalori. Tubuh tidak mengindahkan ‘kalori’. Tidak ada reseptor kalori pada tekstur sel. Ia tidak memiliki kualifikasi untuk mengetahui berapa banyak kalori yang Anda telan atau tidak makan.

Jika tubuh Anda tidak mengukur kalori, mengapa Anda harus? Kalori murni adalah satuan energi yang disanggam dari fisika. Bidang penyembuhan obesitas, putus asa untuk menemukan ukuran sederhana energi makanan, mengalpakan fisiologi manusia 100% dan beralih ke fisika. Jadi, kami mendapat pepatah ‘kalori adalah kalori’.

Sumber Gambar

Tetapi itu bukan tanda tanya yang saya ingat, dan tak seorang pun pernah bertanya. Sebaliknya, pertanyaannya adalah ‘Apakah semua kalori dari energi makanan sama-sama membelendung si tubuh?’ Jawabannya tidak gamblang. Seratus kalori salad kangkung tidak sama dengan seratus kalori permen, yang satu membuat badan menjadi gempal, yang lainnya enggak sama sekali. Seratus kalori kacang tidak sama dengan seratus kalori roti putih dan selai, efek menggemukkannya tidak sama dong. Tapi selama 50 tahun terakhir, kita berpura-pura mereka sama-sama membuat  tembam.

Jadi saya mulai dari prolog. Menguraikan permadani busuk model Kalori untuk menjawab persoalan yang sangat  elementer dari penyebab super penting dari kenaikan berat badan adalah alasan saya menulis The Obesity Code.

Sumber Gambar

Sejak itu, dalam program Intensive Dietary Management (www.IDMprogram.com) saya telah merawat ribuan pasien selama 5 tahun terakhir. Saya kadang-kadang bertanya-tanya tentang mengapa konsep sederhana tentang menggunakan diet gratis seperti puasa untuk mengobati penyakit diet berlayar menjadi sebuah hambatan? Ini adalah skema medis tradisional.

Beginilah cara tarif sistem medis modern jika orang bisa menelan diet untuk menyopiri kesehatan dan takdir mereka sendiri. Membalikkan diabetes tipe 2, seperti yang saya teliti dalam The Diabetes Code, benar-benar sangat simpel, dan tidak melibatkan pemanfaatan obat-obatan atau operasi yang mahal. Ah, sekarang saya mengerti mengapa diet tidak berhasil menangkap traksi atau problematika sesungguhnya.

Mengapa Kita Menggemuk? Mari Kita Bedah si Bukti

Sumber Gambar

Pernahkah Anda mendengar ungkapan “The Proof is in the Pudding?” Atau kayak gini, “The proof of the pudding is in the eating.” Ini artinya apaan, sih? Ini maksudnya, tidak peduli apa yang Anda pikirkan, Anda perlu melihat hasilnya untuk benar-benar menilai sesuatu.

Misalkan Anda berpikir bahwa menambahkan kapur barus ke resep puding akan membuatnya lebih baik. Anda mungkin akan menemukan berbagai alasan mengapa—akan membuat warna lebih ringan, akan membikin teksturnya lebih ciamik, akan meningkatkan rasa. Tapi semua ini tidak penting pada akhirnya. Satu-satunya pertanyaan yang perlu Anda tanyakan adalah ini —“Bagaimana rasanya?”

By: Dokter Jason Fung (The Proof is in the Pudding – More Turds in the PunchBowl)

Buktinya terletak pada hasil—rasa puding yang sudah jadi. Faktanya ada di puding. Jadi mari kita menerapkannya pada obesitas.

Teori nutrisi yang dominan dari setengah abad terakhir adalah Kalori masuk, Kalori keluar. Kita telah keliru percaya bahwa kalori yang berlebihan inilah yang menyebabkan obesitas. (Anda dapat meninjau seri Kalori untuk mempelajari lebih lanjut mengapa hal ini salah).

Dalam paradigma ini, mengurangi ‘kalori masuk’ akan menyebabkan penurunan berat badan. Selanjutnya, olahraga yang meningkat akan melonjakkan ‘kalori keluar’ dan karena itu, juga menyebabkan penurunan berat badan. Lemak, yang sangat padat kalori (9 kalori/ gram dibandingkan dengan sekitar 4 untuk karbohidrat dan protein), harus disingkirkan.

Jadi di sini kita memiliki diet rendah lemak dan rendah kalori dikombinasikan dengan durasi olahraga yang menggila. Ini sangat rapi diringkas oleh Eat Less, Move More approach. Dan ini adalah resep diet standar selama setengah abad terakhir. Kita bisa menemukan semua jenis mekanisme (calori in, calori out) mengapa ini harus sukses, tapi apakah itu? Apa hasilnya? Semuanya tergantung impak.

The proof is in the pudding. Nah, inilah hasilnya. Epidemi obesitas global yang sangat merajalela. Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) di Atlanta baru-baru ini memperbarui peta obesitas untuk Amerika Serikat dan hasilnya sangat mengerikan. Tidak ada negara bagian yang memiliki tingkat obesitas di bawah 20%. Saya ulangi sekali lagi.

Sampai akhir 1995, tidak ada negara bagian yang memiliki tingkat obesitas lebih tinggi dari 20%.

Jadi mari kita jelajahi kedua fakta tak terbantahkan ini:
 1. Fakta #1— Saran penurunan berat badan secara konvensional adalah Kurangi Makan,  bergerak Lebih Banyak, atau Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRaP).

2. Fakta #2—Obesitas makin meledak di seluruh tempat sialan itu.

Mengingat dua fakta ini bersama, hanya ada 2 kemungkinan.

Gerakan Gemuk, yang melupakan fakta bahwa gemuk bisa mengundang masalah kesehatan

Salah satu probabilitasnya adalah sarannya bagus, tapi orang sama sekali tidak bisa mengikutinya. Ini akan menjadi imajinasi nyata. Tidak ada yang benar-benar ingin menjadi gemuk. Ketika dokter menyarankan orang untuk berhenti merokok, mereka berhenti merokok. Ketika dokter menyarankan untuk menonton tekanan darah dan kolesterol mereka, mereka mengawasi BP dan kolesterol mereka. Saat dokter menyarankan untuk meningkatkan olahraga, mereka menambah porsi olahraga. Jadi mereka tidak mengikuti saran dokter untuk bergerak lebih banyak dan makan lebih sedikit?

Keyakinan ini adalah jalannya si cowards di mana-mana dan juga dikenal sebagai ‘Blame the Victim’. Jauh lebih mudah menganggap saran yang kita berikan itu super, dan kesahannya terletak pada pasien. Siapa suruh nggak mau nurut. Ini mengubah kesalahan psikologis dari pemberi advis ke pengambil saran.

Just as ignorant people may have once believed “Those blacks brought the violence upon themselves by sitting in the white-only section”, ignorant people now believe that “Those fat people brought this on themselves”.

Sama seperti orang-orang ignorant mungkin pernah percaya “Orang-orang kulit hitam membawa kekerasan pada diri mereka sendiri, siapa suruh kulitnya nggak putih,” orang-orang ignorant sekarang percaya bahwa “Orang-orang gemuk ini membuat diri mereka semakin bulat karena ogah dengerin petuah dokter.”.

Selanjutnya, data tersebut tidak mendukung anggapan bahwa orang tidak mengikuti wejangan ini. Orang memang sebenarnya mengurangi asupan lemak secara signifikan, sama seperti yang direkomendasikan dokter. Lemak telah diganti dengan karbohidrat, seperti Pedoman Diet 1977. Yang paling membuat saya takut, adalah + 91% minyak nabati (bergidik). Jadi, bukan orang tidak mengikuti nasehatnya. Mereka udah ngerjain hal itu kok. Jadi kita tidak bisa menuduh bahwa alasan diet gagal karena orang tidak mendengarkan. Apakah orang Amerika memakan lebih banyak kalori? Tidak juga.

Korelasi antara obesitas dan peningkatan konsumsi kalori baru-baru ini dipecah. Data dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) di Amerika Serikat dari tahun 1990 sampai 2010, tidak menemukan hubungan antara peningkatan konsumsi kalori dan penambahan berat badan. Sementara obesitas meningkat pada tingkat 0,37 persen per tahun, asupan kalori tetap stabil. Wanita sedikit meningkatkan asupan kalori harian rata-rata dari 1.761 kalori menjadi 1.781, namun pria sedikit menurun dari 2.616 kalori menjadi 2.511. Jadi, apa satu-satunya kemungkinan yang tersisa? Saran untuk makan kurang dan Bergerak lebih banyak adalah cacat kolosal. Ini adalah respons yang teramat sahih. Kenyataannya, mengingat tingkat keparahan epidemi obesitas, kemungkinan besar, saran konvensional untuk bergerak lebih banyak, kurangi asupan adalah keliru.

Sumber Gambar

Mari kita lihat apa tingkat keberhasilan metodologi CRaP. Inilah paper menarik yang merinci kerusakan yang telah kami lakukan. Periset di Inggris melihat hampir 175.000 pria dan wanita gemuk kecuali mereka yang mendapat operasi bariatrik.

Sebagian besar, kita bisa berasumsi mendapat saran CRaP untuk mengurangi kalori. Selama 9 tahun follow up, berapa yang mampu mencapai berat badan normal? Tingkat keberhasilan rata-rata 1 dari 210 untuk pria, dan 1 di 124 untuk wanita. Untuk keduanya, katakanlah 1 dalam 167 atau 0,006. Itu, adalah peluang keberhasilan 0,6% dan kemungkinan kegagalan 99,4%. Tapi bagi mereka yang paling gemuk (BMI> 40), kemungkinan turun menjadi 1 pada 1290 untuk pria dan 1 di 677 pada wanita. Untuk keduanya, katakanlah 1 pada 983,5 atau 0,001. Itu adalah peluang sukses sebesar 0,1% atau kemungkinan kegagalan 99,98%. Tapi saya tidak benar-benar membutuhkan sebuah studi untuk meyakinkan Anda tentang kebenaran. Ini berbau fakta. Anda sudah mengetahuinya. Makan Kurang, Bergerak lebih banyak, tidak pernah, tidak pernah sanggup menyelesaikan masalah. Lagi pula, siapa yang belum mencoba metode CRaP? Hadapilah, kita semua sudah mencobanya. Dan kita semua gagal. Tingkat kegagalan 99,898%? Yeah, sounds about right to me.

Saran diet itu salah. Namun otoritas gizi seperti Kevin Hall Lembaga Kesehatan Nasional terus berkhotbah, dan berkoar-koar. Mari keluar dari menara gading dan masuk ke dunia nyata, karena di situlah kita semua tinggal, bukan laboratorium metabolisme Anda. Tapi inilah yang paling penting untuk dimengerti.

Entah itu yang pertama (saran bagus yang orang tidak ikuti) atau kemungkinan kedua (saran buruk yang diikuti orang), IT DOESN “T MATTER. Sarannya masih mentah atau bisa jadi busuk. Jika Anda memberi petuah, tapi nggak seorang pun bisa ngikutin, artinya si usul masih amburadul. Jadi, sekali lagi, dilihat secara logis, saran Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRaP) tengik karena kita memiliki obesitas dan epidemi diabetes yang mengamuk. Buktinya ada di puding. Apa yang harus dilakukan? Sekali lagi satu-satunya kesimpulan rasional adalah MENGUBAH SARAN itu.

Kita harus mengikuti nasihat George Costanza (dari Seinfeld). Ketika dia menyadari bahwa semua keputusannya aus, dia dengan sengaja melakukan kebalikan dari instingnya, dan hasilnya bagus. Ini hanya sitkom, tapi mungkin ada sesuatu di sini. Jika kita melakukan segalanya berlawanan dengan apa yang kita ketahui (diet Costanza), mungkin kita lebih baik dari kita yang sekarang. Yang sangat krusial untuk dipahami adalah ini.

Kita harus berhenti berbohong pada diri kita sendiri. Kita membual kepada diri sendiri bahwa kita memberikan nasihat yang apik.

Kita berdusta pada diri sendiri, bahwa orang akan baik-baik saja jika mereka mengikuti model-Eat-Less-Move-More. Itu sama sekali tidak benar. Ini adalah kibulan yang kita katakan pada diri kita sendiri sehingga kita tidak harus menghadapi kebenaran nyelekit bahwa kita kalah.

Sangat sulit untuk menghadapi fakta-menggigil yang mengatakan bahwa semua pelatihan medis, sumber daya dan uang telah menjadi limbah. Kita belum membantu siapa pun. Sebaliknya, kita telah memperburuknya. Setelah 50 tahun, kita membuat masalah semakin rombeng.

Jadi, sebaliknya, kita berbohong kepada diri sendiri bahwa ini adalah masalah yang sulit, dan kita melakukan yang terbaik yang kita bisa. Kita harus berhenti berpura-pura bahwa kita melakukan order dengan rancak. Kami adalah dokter yang inferior. Kami adalah ahli gizi yang runyam. Kami melakukan pekerjaan yang benar-benar mengerikan dalam mengelola obesitas. Buktinya, seperti yang mereka katakan, ada di puding.

Tapi sangat sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. Anda menjadi sepopuler kotoran dalam punchbowl. Sebagai contoh, Nina Teicholz baru-baru ini menulis sebuah artikel brilian dan berani yang berusaha membawa perubahan nyata dalam panduan diet USDA. Untuk ini dia terus menerus diserang oleh individu tertentu seperti Dr. David Katz.

Mari ikuti logika di sini. Kami telah memberi saran diet rendah lemak dan kalori dikurangi (fakta). Kami telah mengembangkan obesitas kritis dan epidemi diabetes (fakta). Jadi, secara logis, mengubah arah mungkin merupakan hal yang baik. Tentu saja, bukan begitu cara orang seperti Dr. David Katz melihatnya.

Sumber Gambar

Dia berulang-ulang mempertimbangkan ulasan kami saat ini. Why is he so stupid? The proof is in the pudding. Nasihat kami saat ini menggiring kita ke dalam kekacauan ini. Kami tidak akan keluar dari situ dengan mengikuti saran basi yang sama.

Tidak masalah bahkan sedikit pun dia nggak ngerasa. MENGAPA  Anda pikir saran saat ini bagus.? It failed. Face it. But I don’t really think he is that stupid.  Melainkan merupakan kasus disonansi kognitif.

Yang benar adalah bahwa orang-orang berpengaruh seperti Katz yang sombong telah mempertaruhkan reputasinya atas advis ini, dan lebih baik bagi mereka bahwa jutaan orang dihukum karena obesitas, diabetes, kebutaan, amputasi, cuci darah dll, daripada nama baik mereka dilingkari.

Dia lebih suka berbohong pada dirinya sendiri, daripada mengakui kebenaran yang ada di depan matanya. Jauh lebih mudah baginya untuk menyalahkan jutaan korban di sini. Misalnya, dia menulis “DGAC (Diet Diet Advisory Committee)”. Sangat baik kecuali untuk epidemi diabetes yang menjadi berlipat ganda.

Dia menulis di artikel lain “I have neither eggs, nor eggplants to sell you” memuji pedomannya. Itu hanya buku-buku Anda yang penuh dengan wejangan bodoh. Hanya dengan mengakui kebenaran, bisakah kita memulai katarsis. Kita bisa memulai penyembuhan, tapi hanya dengan menghadapi kebenaran yang dingin, keras, dan sulit. Kami gagal.

Untuk obesitas, seperti untuk diabetes tipe 2, kita mendapatkan ‘F’ untuk ‘Fat’. Waktunya mengubah nasehat the sooner, the better.