Siapa Sebenarnya Yang Menyebarkan Epidemik Obesitas dan Diabetes Tipe 2

Sumber Gambar

Saya telah membaca postingan Dr Eenfeldt di website ini, tentang klip kece dari Dr. Aseem Malhotra. Ia menunjukkannya pada saat pertemuan LCHF summit in Cape Town, dan mengingatkan betapa kerennya waktu itu.

Kamu tidak akan dikhianati oleh orang-orang yang kamu tidak percayai.

Dan ini adalah sesuatu yang paradox. Kita sering menyalahkan Big Food dengan adanya epidemik obesitas, namun sesungguhnya kita tidak pernah dikhianati oleh orang yang tidak kita percaya.  Pertanyaan selanjutnya adalah, jadi selama ini kita telah dikhianti oleh siapa? Dan faktanya akan membuat kamu lebih menganga. Big Food memang ingin mengeruk lebih banyak uang. Bukan sebuah rahasia. Mereka menciptakan kategori makanan yang sama sekali baru, yang disebut “makanan ringan”, dan mempromosikannya tanpa henti. Mereka diiklankan di TV, cetak, radio dan internet.

Tapi ada bentuk iklan yang bahkan lebih berbahaya yang disebut sponsor dan penelitian. Big Food mensponsori organisasi besar seperti Academy of Nutrition and Dietetics. Coca Cola General Mills, Kellogg Company dan Pepsi ditemukan di antara sponsor “Premier”-nya. Pada pertemuan tahunannya, seorang sponsor bisa mengadakan “simposium gizi”. Pada tahun 2014, misalnya, Coca Cola Company akan mengajarkan ahli gizi tentang Melatih Klien Anda Menuju Berat Badan yang Abadi. The Gold $ 50.000 Sponsorship memungkinkan perusahaan untuk menyebarkan pesan bahwa gula tidak berbahaya bagi anak-anak. Terima kasih, Coca Cola.

By: Dokter Jason Fung  (Of Traitors and Truths – The Epiphenomenon of Obesity VI)

Michele Simon, dalam laporannya yang pedas “And Now a Word from our Sponsors” mengungkapkan bagaimana raksasa perusahaan  (Coca Cola dan McDonalds) mengedukasi para profesional kesehatan. Dan jangan lupa asosiasi medis.

Pada tahun 1988, American Heart Association memutuskan bahwa menerima sejumlah uang, dan menempatkan simbol Heart Check, dan konsekuensinya, mereka tidak peduli kualitas gizi produk tersebut (udah disogok, Bok!)

Ciri-ciri Diabetes

Perusahaan makanan membayar $ 7.500 untuk satu sampai sembilan produk, namun ada diskon volume untuk dua puluh lima produk atau lebih! Penawaran eksklusif tentu saja lebih mahal. Hal yang lucu sering terjadi, contohnya pada tahun 2009, produk yang tidak memenuhi syarat gizi, misalnya Cocoa Puffs and Frosted Mini-Wheats masih berada di daftar aman Heart Check. The 2013 Dallas Heart Walk yang diselenggarakan oleh AHA menampilkan Frito-Lay sebagai sponsor utama.

Yayasan Jantung dan Stroke di Kanada tidak lebih baik. The health check masih disponsori (dengan bangganya) oleh sebotol jus anggur yang berisi sepuluh sendok teh gula. Fakta bahwa minuman ini adalah gula murni sepertinya tidak mengganggu siapa pun. Siapa lagi yang akan dibidik oleh Big Food karena akan mempengaruhi pola pikir masyarakat? Para peneliti dan dokter akademis. Mereka adalah pemimpin  utama (opininya memegang kunci) di komunitas medis.

Pada tahun 2013, Dr. Allison menulis sebuah artikel krusial di the prestigious New England Journal of Medicine berjudul “Myths, Presumptions and Facts about Obesity”.

Di antara daftar ‘fakta’ obesitas, dia menulis, “Diet (yaitu, pengurangan asupan energi) sangat efektif menurunkan berat badan, tapi mencoba untuk melakukan diet atau merekomendasikan agar seseorang menjalani diet umumnya tidak bekerja dengan baik dalam jangka panjang.”

Lucu.

Bagaimana diet bisa efektif, tapi umumnya tidak efektif?

Ditambah, Dr. Allison menyatakan dengan jelas bahwa dokter seharusnya tidak merekomendasikan diet. Lupakan tentang makan  hidangan alami/ unrefined natural foods diet. Lupakan tentang mengurangi gula tambahan dan pati halus seperti roti putih. Sebaliknya, perawatan yang dianjurkan untuk obesitas adalah makanan pengganti berupa bar/ shake, obat-obatan dan operasi.

Ini sangat aneh. Obesitas adalah penyakit diet dan obatnya adalah dengan diet. Sebagai gantinya, dia malah menyarankan pengganti makanan? Ini adalah hal terakhir yang saya akan katakan kepada pasien saya. Pertimbangkan komposisi dari meal replacement shake yang popular “Ensure Plus”. Inilah jenis ‘makanan’ yang menurut Dr. Allison sangat bermanfaat bagimu. Penjualan Ensure Plus menggila dan keuntungannya melimpah. Lima bahan utamanya adalah air, jagung Maltodekstrin, Gula, Konsentrat Susu Protein, Minyak Canola. Campuran menjijikkan ini terdiri dari air, gula dan minyak canola benar-benar tidak memenuhi definisi makanan sehat. Mengapa Dr. Allison dengan giat merekomendasikan sampah ini? Hal menjadi sedikit lebih jelas saat kamu membaca the financial disclosures alias ketika pendapatannya dari ‘iklan’ ini dibeberkan.

Apa Penyebab Mengidam Makanan Asin Dan Manis

Dr. Allison melaporkan menerima pembayaran untuk:

  1. Keanggotaan dewan dari Kraft Foods;
  2. Menerima biaya konsultasi dari Vivus, Ulmer dan Berne, Paul, Weiss, Rifkind, Wharton, Garrison, Chandler Chicco, Arena Pharmaceuticals, Pfizer, Asosiasi Pejabat Nasional, Mead Johnson Nutrition, Frontiers Foundation, Orexigen Therapeutics, dan Jason Pharmaceuticals;
  3. Menerima biaya kuliah dari Porter Novelli dan Dewan Almond California;
  4. Menerima pembayaran persiapan manuskrip dari Vivus;
  5. Menerima penggantian perjalanan dari International Life Sciences Institute of North America;
  6. Menerima dukungan lain dari United Soybean Board dan Northarvest Bean Growers Association;
  7. Menerima bantuan hibah melalui lembaganya dari Wrigley, Kraft Foods, Coca-Cola, Vivus, Jason Pharmaceuticals, Aetna Foundation, dan McNeil Nutritionals;
  8. Menerima dana lain melalui institutnya dari Coca-Cola Foundation, Coca-Cola, PepsiCo, Red Bull, Organisasi Riset Gula Sedunia, Archer Daniels Midland, Mars, Eli Lilly and Company, dan Merck.

Dia jelas tidak akan menggigit tangan yang memberinya makan. Tetapi, yang harus dia berikan untuk si pemberi makan merupakan tindakan kriminal. Dia harus menulis jurnal yang sangat berpengaruh. Sayangnya, ini jauh dari kasus terisolasi. Dr. Sievenpiper, dalam sebuah makalah Annals of Internal Medicine tahun 2012 menulis sebuah jurnal yang sangat mengebu-gebu dan membela fruktosa. Dia dengan penuh semangat berpendapat bahwa tidak ada yang salah dengan fruktosa. Dia mengatakan bahwa nama baik fruktosa secara tidak adil telah difitnah. Meninjau kembali semua literatur yang ada, dia mengakui bahwa sebagian besar data yang ada adalah busuk.

Namun, ini tidak menghentikannya untuk dengan berani menyimpulkan bahwa, “Fruktosa tampaknya tidak menyebabkan kenaikan berat badan bila diganti dengan karbohidrat lain dalam makanan yang menghasilkan kalori serupa.”

Ini aneh.

Dalam ilmu gizi, satu-satunya fakta yang disepakati secara universal adalah bahwa asupan fruktosa yang berlebihan sangat buruk. Tetapi, di sinilah dokter ini berdebat dengan berkata sebaliknya. Dan jawabannya menjadi sangat jelas setelah kita membaca the financial disclosures atau keuangannya dibuka secara terang-terangan.

Dr. Sievenpiper telah menerima:

  1. Hibah (uang ke institusi):
  2. Lembaga Riset Kesehatan Kanada,
  3. Dewan Pengawasan Kalori;
  4. Dukungan untuk melakukan perjalanan ke pertemuan untuk studi atau keperluan lainnya: Perusahaan Coca-Cola;
  5. Konsultasi: Abbott Laboratories, Institut Ilmu Pengetahuan Internasional (ILSI) Amerika Utara, Archer Daniels Midland;
  6. Hibah / hibah yang tertunda (uang ke institusi): Perusahaan Coca-Cola; Biaya perjalanan/ akomodasi / rapat yang tidak terkait dengan aktivitas yang terdaftar (uang ke institusi): Coca-Cola Company, Pulse Canada, Asosiasi Diabetes Kanada; Lainnya: Direktur BDSK Consulting.

Gula Membuatmu Menggemuk

Dr. Sievenpiper menerima uang dari Coca Cola, Archer Daniels Midland (penanam jagung besar) dan Dewan Pengendalian Kalori—asosiasi industri makanan. Coca Cola Company menyalurkan uang tunai, tidak hanya ke dokter, tapi juga ke institusi tamaknya, Rumah Sakit St. Michaels di Toronto. Dokter, rumah sakit dan universitas itu ada dalam daftar. Memberikan saran diet yang tidak bias dan tidak membantu, jelas bukan prioritas utama mereka di sini. Menurut mereka pendekatan akal sehat untuk mengurangi gula tambahan untuk menurunkan berat badan perlu didiskreditkan. Dan Coca Cola Company mengetahui dengan jelas siapa saja dokter yang bisa dijadikan boneka seperti itu.

Sumber dana memiliki implikasi yang sangat besar pada hasil studi. Dalam sebuah studi yang secara khusus membahas minuman ringan, Dr. Ludwig menemukan bahwa menerima dana dari perusahaan meningkatkan kemungkinan hasil yang menguntungkan sekitar 700 persen!

Temuan ini bergema dalam karya Marion Nestle, profesor gizi di New York University. Pada tahun 2001, dia merasa  she had found it “difficult to find studies that did not come to conclusions favoring the sponsor’s commercial interest.”

Rubah itu sekarang sedang menjaga rumah ayam. A shill untuk Big Food diizinkan menyusupi lorong-lorong obat suci. Dokter yang berpengaruh telah secara ilmiah melacurkan diri ke penawar tertinggi.

Memasarkan fruktosa? Tidak masalah. Menjual obat obesitas? Tidak masalah. Mengiklankan shake makanan pengganti artifisial? Tidak masalah. Sementara dokter menikmati uang kotor mereka, pasien menderita obesitas dan diabetes. Sementara itu, dokter jujur ​​membaca jurnal yang beredar sangat luas dan dihormati ini. Mempercayai mereka yang dianggap “ahli” di bidangnya, lantas, mereka secara naif akan menyebarkan kebohongan ini kepada pasien mereka sendiri.

Cara Sehat Mengganti Makanan Sampah

Sementara dokter, rumah sakit dan lembaga penelitian menghitung uang mereka, pasien menjalani dialisis, menjadi buta dan kakinya dipotong akibat komplikasi diabetes. Tapi epidemi obesitas tidak bisa diabaikan, dan pelakunya harus ditemukan. “Kalori” adalah kambing hitam yang sempurna.  Makan lebih sedikit kalori, kata mereka. Tapi untuk makanan palsu, makanlah lebih banyak.

Tidak ada perusahaan yang menjual “kalori.” Tidak ada merek yang disebut “Kalori.” Tidak ada makanan yang disebut “Kalori.”

Tanpa nama dan tak berwajah, itu adalah antek-antel yang ideal. “Kalori” sekarang bisa jadi kambing hitam sepenuhnya. Mereka mengatakan bahwa 100 kalori cola sama seperti 100 kalori brokoli membuat kamu gemuk.

Kalori adalah kalori. Don’t you know? Tunjukkan kepada saya, satu orang sajaaaa, yang menggemuk karena telah mengonsumsi terlalu banyak brokoli kukus. I know it. You know it.

Saya tidak marah pada a Big Food. Tugas mereka adalah menjual makanan. Saya tidak marah pada makanan cepat saji. Tugas mereka adalah menjual makanan. Tidak, mereka tidak bisa mengkhianati kita karena kita tidak pernah mempercayainya. Kami tahu motif mereka dan membuat penyesuaian yang tepat. Siapa yang mengkhianati kita? Who sold us down the river? Tidak lain dari asosiasi medis kita sendiri, dokter kita sendiri. Kita telah melihat musuh, dan itu adalah diri kita sendiri. Kami mempercayai asosiasi medis ini sepenuh hati. They repaid us with the ultimate betrayal.  For shame.  For shame.

Dengan cara yang sama, Big Tobacco tidak akan pernah benar-benar mengkhianati kita tentang efek merokok karena kita tidak pernah mempercayainya. Tapi dokter yang mendukung Big Tobacco—mereka adalah pengkhianat utama profesi dokter. Kita melawan pertempuran ini lagi dengan para pembuat gula dan obat terlarang. Lihat ceramah “Big Pharma’s Lies”

Ingin Ramping dan Kurus? Aku Bisa Membuatmu Kurus Dengan Cepat Lho

Sumber Gambar

Berdasarkan Hormonal Obesity Theory (HOT), kita telah menarik sebuah dalil  bahwa insulin dengan kadar tinggi dapat menyebabkan obesitas. Meski kita telah membatasi asupan kalori, makan super sedikit, namun jika kita menyuntikkan insulin atau meminum obat yang menstimulasi insulin (sulphonyureas), kita tetap akan menggemuk. Jika memang teori ini benar adanya, maka, jika kita mengurangi insulin, harusnya kita meramping dong. Dengan kata lain, walaupun kita menambah kalori, tetapi jika insulin ditekan, seharusnya kita sanggup membuang lemak. Faktanya, ternyata teori tadi benar 100%.

Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun pankreas. Apakah itu? Sel penghasil insulin di tubuh telah rusak. Oleh karena itu, level insulin terjun bebas ke tingkat yang sangat rendah. Gula darah meningkat dalam darah. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penurunan berat badan yang parah. Deskripsi klasik Aretaeus tentang diabetes tipe 1 “Diabetes adalah … mencairnya daging dan anggota badan menjadi air kencing”. Artinya, apa pun yang kamu makan, kamu tetap akan kurus kerontang. Sebelum ditemukan insulin, penyakit ini selalu berakibat fatal. Esensinya, insulin adalah sinyal bagi tubuh untuk menimbun lemak. Jika kita memberi insulin, tubuh akan bertambah gemuk. Jika kita menyedot insulin keluar, kita akan melangsing.

By: Dokter Jason Fung (I Can Make You Thin…Insulin – Hormonal Obesity V)

Dengan kalimat lain artinya adalah insulin merupakan salah satu pengendali utama bodi set weight (BSW). Jika jumlah insulin naik, tubuh kita diperintahkan untuk menambah berat badan. Inilah yang membuat nafsu makan kita menggila. Kita akan merasa sangat lapar dan terpaksa makan.

Jika kita tidak makan, kemudian tubuh akan menurunkan Total Energy Expenditure (TEE) atau Kalori keluar, sehingga meskipun kita makan sedikit semuanya berubah menjadi daging dan lemak. Nafsu makan menggelegak dan malas bergerak adalah akibat dan efek samping dari obesitas bukan penyebab kegemukan.

 The Great Gary Taubes telah mengatakan-

Kita tidak gemuk karena kita makan berlebihan

Kita makan berlebihan karena kita gemuk

Oleh karena itu, sekarang kita bisa membikin pertanyaan sempurna. Mengapa kita gemuk? Kita menjadi gendut karena kadar insulin kita terlalu tinggi. Dalam sebagian besar kasus, insulin adalah pemain utama dalam obesitas. Meskipun, bukan satu-satunya pelaku kejahatan—kortisol juga memainkan peran. Kortisol adalah hormon stres.

Nah, sekarang, jika kita berhipotesis bahwa kortisol yang meluber bisa mengakibatkan kegemukan, mudah saja solusinya, mari kita beri pasien asupan kortisol, lantas kita amati, apakah ia menggemuk atau tidak.

Kita bisa mengobservasi kasus dimana kortisol terlalu banyak diproduksi di tubuh. Ini disebut penyakit Cushing atau Cushing’s Syndrome. Ciri penyakit ini? Menggemuk.

Sumber Gambar

Di pasaran terdapat obat sintetis kortisol—sangat lumrah digunakan sebagai obat yang disebut prednisone, yaitu kortikosteroid. Ini adalah anti-inflamasi yang setrong dan sering digunakan dalam pengobatan asma, lupus dan gangguan inflamasi lainnya. Jadi, kalau kita memberikan prednison kepada seseorang, apa yang terjadi? Sindrom cushinoid akan berkembangbiak.

Dengan kata lain, pasien ini terlihat seperti berpenyakit Cushing. Sebagian besar mereka menyadari fakta bahwa mereka bertambah gemuk. Ciri khasnya, distribusi lemak tidak merata, dimana dinamakan obesitas truncal, yang artinya lemak tertimbun di bagian tengah tubuh, bukan di tempat biasanya lemak bersemayam (lengan dan kaki).

Sumber Gambar

Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Jika kita percaya bahwa kortisol dapat menyebabkan obesitas, lalu bagaimana jika tingkat kortisol turun ke tingkat yang sangat rendah? Ya, ada juga penyakit Addisons. Ini juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal.

Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan jika kelenjar ini rusak, maka kadar kortisol serta hormon lainnya berada di level sangat minimal. Ciri penyakit Addison? Penurunan berat badan.

Jadi apakah kunci kegemukan? Hormon. Dan ini adalah hubungan kausal. Satu hal menyebabkan yang lain. Ini adalah hubungan yang jauh lebih bertenaga dibandingkan kebanyakan studi korelasi (lihat peraturan #2 – Studi korelasi kebanyakan omong kosong)

Jika kita meningkatkan insulin, kita bertambah gemuk. Jika kita menurunkan insulin, kita menurunkan berat badan. Bobot tubuh kita (dan juga segala sesuatu di tubuh) diatur oleh hormon.

Variabel fisiologis yang penting bukan pada asupan kalori namun regulasi hormon. Kamu menggemuk jika hormon insulin dan kortisolmu tumpah-tumpah. Ini sungguh masuk akal.

Pertimbangkan hal ini. Jika kita makan 2000 kalori/ hari, jumlahnya mencapai 730.000 kalori dalam setahun (2000 * 365 = 730.000). Hampir semua orang, menambah berat badan sekitar 1-2 pon per tahun. Tidak banyak, tapi  bayangkan jika lebih dari 25 tahun, timbunan lemak di tubuh kita bisa mencapai 50 pound, ekstra. Dalam istilah kalori, ini berarti kelebihan kalori dari 7.200 kalori selama 1 tahun dengan asumsi bahwa 1 pon lemak kira-kira 3.600 kalori.

Tingkat kesalahannya sangat rendah, bahkan tidak mencapai angka 1%. Jika kita mempunyai kemampuan untuk melacak berapa banyak kalori yang kita makan dan berapa banyak kalori yang kita bakar, apakah menurutmu kamu bisa menghitungnya dengan sangat akurat? Sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu berapa banyak kalori yang kita makan atau bakar pada waktu tertentu! Iya kan? Bagaimana ini bisa dikendalikan oleh otak rasional kita?

Seharusnya tubuh kita seperti ini. Idealnya. Tanpa insulin dan kortisol berlebihan.

Kita tidak mengendalikan berat badan kita, sama halnya kita nggak bisa mengontrol detak jantung kita. Keduanya berlangsung secara otomatis di bawah pengaruh hormon. Hormon memberitahu pada saat kita lapar. Hormon membisiki kita bahwa kita kenyang.  Hormon memberi tahu kita kapan harus meningkatkan pengeluaran energi. Hormon memberi tahu kita kapan harus memblokade energi mengalir.

Obesitas adalah disregulasi hormonal, yang mengakibatkan akumulasi lemak. Saat kita memforsir pengeluaran hormon, kita terkena penyakit seperti obesitas. Jika kita bisa mengerti bahwa obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, maka kita siap untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya—bagaimana kita mengatasi obesitas?

Jika kita percaya bahwa kelebihan kalori menyebabkan obesitas (Kalori Reduksi sebagai Primer) maka pengobatannya adalah mengurangi kalori. Dan ini adalah salah kaprah. Pemahaman gagal total. Jika kita paham bahwa obesitas disebabkan oleh insulin yang membludak, maka kita perlu menggeret insulin di kadar rendah.

Faktanya, jika kita melihat di data ini, bahwa pemahaman kita tentang obesitas keluar gelanggang dan tidak karu-karuan sejak zaman William Banting (pertengahan 1800an). Dari pertengahan 1800 sampai pertengahan 1900-an mereka percaya bahwa gula dan pati menyebabkan obesitas. Kegemukan diobati dengan memangkas gula dan pati. Dan hei, coba tebak, mereka telah sukses parah.

Dari tahun 1950 sampai 2000an, kita percaya bahwa kalori menyebabkan obesitas. Hal ini menyebabkan saran diet membatasi kalori—yang mana sudah pasti menuju gerbang neraka kegagalan. Dan hei, coba tebak, tingkat obesitas pun meledak.Kini, dengan membaca postingan ini kita 100% paham tentang dasar-dasar hormonal obesitas, kita sanggup melihat sebuah lingkaran utuh, dan kita sadar sebuah fakta bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab menjamurnya obesitas.

Kuncinya adalah me-restore insulin, dan menurunkan tingkat kortisol ke level sangat rendah. Sekali lagi, trik jitunya bukan menyeimbangkan kalori—namun menyelaraskan hormon.

INGIN RAMPING DAN KURUS? SIMAK TENTANG INSULIN

Sumber Gambar

Jaman now  adalah masa dimana obesitas telah menjadi epidemi. Bukan hanya di Indonesia, namun di dunia. Kapankah titik baliknya? Wabah kegemukan dimulai pada tahun 1977. Dan, penyebabnya adalah? Apakah karena kemana-mana orang lebih memilih “naik” motor atau mengendarai mobil? Apakah karena gaya hidup zaman sekarang yang menyebabkan orang nggak sempat berolahraga? Untuk menjawab pertanyaan olahraga versus obesitas kita akan membahasnya nanti. Dengan pemeriksaan lebih lanjut dan seksama, hipotesis CARS seperti menyimpan air di keranjang jerami. Lihat penelitian terbaru mengenai kebiasaan menyetir. Dari tahun 1946 sampai dengan 2007 jumlah mil perkapita memang naik, namun tidak mengalami lonjakan tajam.  Jadi sudah sangat jelas, bahwa mobil bukan faktor krusial yang mengakibatkan obesitas.

Teori ini sama amburadulnya dengan pertunjukan sirkus tanpa badut. Cacat parah. Dan jika kita percaya kabar-kabur tentang menjamurnya restoran cepat saji merupakan penyebab mayor obesitas, itu juga sama fatalnya. Meskipun harus saya akui bahwa makanan cepat saji memang sangat menggemukkan—-diproses sangat panjang dan kaya akan karbohidrat yang membuat gendut teramat sangat—tetapi, tidak ada berita tentang membumbungnya restoran cepat saji pada tahun 1977. Peningkatannya hanya naik secara bertahap dan tidak signifikan selama beberapa dekade. Pertanyaan penting selanjutnya, memang naiknya kendaraan dan makanan cepat saji akan berkontribusi pada kenaikan obesitas, namun apakah penyebab kenaikan mendadak pada tahun 1977? Dugaan jitu saya adalah adanya pedoman diet—yang sialnya merugikan—untuk orang Amerika pada tahun 1977. Panduan diet itu sungguh ngawur, bagaikan mempekerjakan pedagang kaki lima untuk mengelola korporasi besar, kita tiba-tiba berpindahhaluan dari diet berdasarkan saran nenek moyang ke diet ala pemerintah Amerika (yang juga diadopsi oleh Indonesia). Saran ini tidak diputuskan melalui konsensus ilmiah. Tidak ada konsensus medis. Malah yang memutuskan adalah para politisi dan hanya melalui rapat beberapa hari saja. Apakah yang disarankan? Makan lebih banyak karbohidrat. Kurangi lemak dan lemak jenuh. Akibatnya? Epidemi obesitas. Sebenarnya kita juga yang salah. Ekspektasi kita terlalu tinggi. Ngapain ngarep dari para politisi?

By: Dokter Jason Fung

I Can Make You Fat…Insulin – Hormonal Obesity III

Sumber Gambar

Lalu apa yang menyebabkan obesitas? Apa itu etiologi? Menurut pandangan tradisional, misalnya menurut Charles Banting, penyebab obesitas adalah gula dan tepung. Sebelum teori tentang kalori mewabah, ada pandangan konvensional lainnya—terutama dari pemikir dari Jerman dan Eropa. Esensi dari perang dunia kedua adalah menghapus sebagian besar para pemikir Eropa dan menginterpretasikan kalori cacat menjadi ortodoksi gizi. Obesitas dihipotesiskan menjadi suatu penyimpangan hormonal dari massa lemak. Artinya, ada sinyal hormonal dari tubuh yang mengendalikan massa lemak. Misalnya, thyroid stimulating hormone (TSH) mengendalikan tiroid. Growth hormone (GH) mengendalikan pertumbuhan sel. Hormon seks (testosteron dan estrogen) mengendalikan pematangan seksual. Ini disebut kelenjar endokrin dan zat yang mengendalikannya adalah hormon. Inilah Teori Obesitas hormonal (HOT). Stimulus utamanya kemungkinan besar adalah insulin. Selain insulin, kortisol juga berperan (namun lebih rendah).

Hormon adalah sinyal bagi tubuh untuk menumpuk lemak. Oleh karena itu, dengan sinyal itu, tubuh bisa memutuskan :

  1. Apakah menimbun lemak?
  2. Apakah makan atau olahraga lebih banyak?
  3. Ataukah meningkatkan pengeluaran energi?

Ada beberapa kelebihan teori ini. Pertama, sel lemak, seperti semua sistem lain di tubuh berada di bawah kontrol hormon. Artinya, dorongan untuk makan bukan berada di bawah otak sadar kita, namun di bawah kontrol otomatis. Ini akan menentukan baik tingkat lapar atau level metabolisme basal.

Selain itu, makna lainnya adalah, kalori masuk dan kalori keluar sama sekali tidak penting. Mereka akan bekerja sama untuk meningkatkan atau menurunkan obesitas berdasarkan sinyal hormonal. Seperti yang telah kita lihat di seri Kalori sebelumnya, asupan kalori dan pengeluaran kalori disinkronkan dengan ketat.

Jika teori ini benar, maka hipotesis ini sangat mudah dibuktikan atau disangkal. Jika insulin menyebabkan obesitas (etiologinya), maka, simpel saja solusinya, beri insulin dan lihatlah mereka menjadi obesitas.

Insulin ditemukan pada tahun 1921 oleh Banting dan Best di University of Toronto. Diabetes tipe I adalah penyakit yang diakibatkan oleh penghancuran sel-sel penghasil insulin secara autoimun di pankreas. Hal ini menyebabkan tingkat insulin sangat rendah, dan untuk menyembuhkannya cukup dengan injeksi insulin saja. Tetapi, insulin memiliki manfaat lain. Pada tahun 1923, insulin telah digunakan sebagai obat gemuk untuk anak-anak yang mengalami kondisi kurus yang kronik.

Dan inilah jutaan pertanyaan yang muncul. Jika insulin menyebabkan obesitas, maka insulin bisa menyebabkan obesitas. Jika saya menyuntikkan insulin, apakah mereka akan menggemuk? Jawaban singkatnya adalah YA.

Sebenarnya, hampir semua dokter yang meresepkan insulin untuk pasien diabetes tipe I atau tipe II sudah tahu fakta ini. Pasien yang memakai insulin juga sudah sangat sadar tentang hal ini. Semakin banyak dosis yang disuntikkan, maka kamu akan semakin bulat. Ini hanyalah fakta hidup yang tak terbantahkan.

Mari kita lihat sebuah studi awal pada penderita diabetes tipe I. “Pengaruh pengobatan diabetes intensif terhadap berat badan orang dewasa dengan diabetes tipe 1 dalam Uji Kontrol dan Komplikasi Diabetes.”

Penderita diabetes tipe satu membutuhkan insulin untuk bertahan. Dalam percobaan ini, mereka mengacak 2 kelompok pasien. Satu kelompok akan mendapatkan jumlah minimal insulin. Kelompok kedua mendapatkan dosis yang lebih banyak untuk menjaga agar gula dibawah kontrol. Idenya, yang sudah terbukti, adalah mengontrol gula secara ketat membantu mengurangi komplikasi diabetes. Tetapi, apa yang terjadi dengan berat badan? Kamu bisa lihat bahwa grup dengan dosis insulin yang lebih besar lebih dari 9 tahun, berkembang secara signifikan akan menyebabkan masalah utama dibandingkan dengan grup rendah.

Sumber Gambar

Yowzers! Dengan mengikuti mereka selama 9 tahun, lebih dari 30% pasien menggemuk. Hefty hefty. Apakah pasien ini bandel dan tidak patuh? Apakah mereka lebih malas dari sebelumnya? Apakah mereka lebih rakus? No No and No. Mereka disuntik insulin. Itu membuat mereka gemuk. Sebenarnya, ada korelasi langsung antara kedua total dosis insulin dan rata-rata serum insulin dan penambahan berat badan. Ada hubungan dosis-respons.

Semakin tinggi dosis insulin, kamu akan semakin gemuk. Semakin tinggi kadar insulin dalam darah, berat badan kamu semakin bertambah. Bagaimana dengan penderita diabetes tipe 2? Terkadang pasien ini juga mengonsumsi insulin. Sebuah studi untuk menangani masalah yang tepat ini berjudul

Intensive blood-glucose control with sulphonylureas or insulin compared with conventional treament and risk of complications in patients with type 2 diabetes” Lancet 1998 Sep 12;352(9131):837-53

“Kontrol glukosa darah intensif dengan sulphonylureas atau insulin dibandingkan dengan treament konvensional dan risiko komplikasi pada pasien dengan diabetes tipe 2” Lancet 1998 Sep 12; 352 (9131): 837-53
Pada diabetes tipe 2 peningkatan dosis insulin menyebabkan obesitas. Pada awal penelitian, bobotnya sama pada kedua kelompok. Mereka diacak untuk pengobatan, satu dengan kandungan insulin lebih banyak, kelompok kedua dengan insulin lebih rendah. Dengan insulin lebih tinggi maka pasien tersebut lebih gemuk. Semua ini mengarah pada kesimpulan yang tak terhindarkan dari penelitian ini bahwa Insulin menyebabkan obesitas. Mereka yang mengkonsumsi lebih banyak insulin mendapat tambahan 10,5 pon rata-rata dibandingkan dengan insulin yang lebih rendah.

Dengan kata lain—saya bisa membuat kamu gemuk. Saya bisa membuat semua orang menjadi gemuk. Hanya dengan menyuntikkan insulin.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Cara Menghancurkan Lemak Tubuh

Sumber Gambar

Kamu tahu, model teori obesitas yang jadul dan terbelakang? Di bawah ini gambarnya.

Kesimpulannya, makan banyak disebabkan karena adanya hormon mediasi, dan bukan karena orang itu rakus. Dan fakta lain yang lebih mencengangkan, makan banyak tidak menyebabkan kita menggemuk, dan makan sedikit tidak menyebabkan kita menjadi ramping. Mungkin bisa saja kamu melangsing, tapi dengan mengurangi porsi, kamu akan mengalami diet yoyo, alias bisa sih jadi ramping, tapi tidak permanen. Untuk bukti yang lebih WOW mari kita menilik kasus Sam Feltham.

Smash the Fat – Calories Part XI

Ini didasari karena adanya ambigu antara eksperimen overeating (makan banyak) versi purbakala dan jaman now alias kekinian, Sam Feltham memutuskan untuk melakukan penelitian fantastis dengan objek dirinya sendiri. Dia makan sebanyak 5 ribu kalori/ hari, dengan komposisi rendah karbohidrat, tinggi lemak (LCHF) dengan menu alami (bukan makanan palsu a.k.a olahan) selama 21 hari. Dasar penelitiannya adalah sebuah premis bahwa yang menyebabkan badan kita membulat bukan karena kalori yang berlebihan namun karena konsumsi karbohidrat olahan. Jika premis itu benar, maka ia tidak akan menggemuk meski jumlah kalorinya sangat tinggi (ingat, tingkat karbohidrat berada di level seminimal mungkin, tingginya kalori berasal dari lemak alami). Wunderbar!

By: Dokter Jason Fung

Contoh dietnya bisa dilihat di sini. Total kalori 5.794 per hari dengan makronutrisi terdiri dari karbohidrat 10%, lemak 53%, dan protein 37%. Jika mengikuti kalkulasi perhitungan kalori standar, seharusnya berat badannya menjadi 7,3 kg. Aktualnya, berat badannya hanya naik sebanyak 1,3 kg.

Yang lebih membuat kita terpelanting lagi adalah, ukuran pinggangnya malah mengecil sekitar 3 cm, yang artinya, memang benar berat badannya naik, namun berupa masa otot. Jika kamu perhatikan lebih seksama, kelebihan kalori tidak membuat kita menimbun lemak. Skala simpel kalori-masuk versus kalori-keluar sungguh tidak relevan.

Lantas, ada beberapa orang yang beradu pendapat bahwa Sam memiliki metabolisme yang cepat, tidak peduli apa yang dia makan, dia tidak akan menggemuk. Benarkah seperti itu? Apa yang akan terjadi jika Sam menendang diet LCHF (rendah karbohidrat tinggi lemak)? Apa yang akan terjadi jika Sam mengonsumsi 5.000 kalori tetapi mengikuti standar American Diabetes Association yang mana tinggi akan asupan karbohidrat?

Hasilnya sungguh brilian. Selama 21 hari dengan diet tinggi karbohidrat sebanyak 5.000 kalori. Lebih dari 21 hari, ia makan 5.793 kalori/ hari dengan makanan palsu yang terdiri dari tepung dan gula.

Makronutrisinya terdiri dari:

  1. Karbohidrat sebanyak 64%.
  2. Lemak sebesar 22%.
  3. Protein porsinya 14%.

Menariknya, ini serupa benar dengan apa yang direkomendasikan oleh para ahli gizi kepada kita. Lantas, bagaimana hasilnya? Apakah dengan kalori yang sama ia menggemuk atau meramping? Kamu bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri, berat badannya naik, dan sesuai dengan prediksi formula kalori—naik sebanyak 7.1 kg. Ukuran pinggang melar menjadi 9,25 cm.

Lihatlah gambarnya! Lipatan dagu yang aduhai, Batman. Hanya dalam jangka waktu 21 hari, cowok ganteng ini juga mempunyai love handles alias lipatan pinggang. Inilah yang akan terjadi jika kamu menuruti apa kata badan otoritas obesitas.

Sekarang kamu sudah mendapat gambaran yang sangat jelas, kan? Ada sesuatu yang lebih rumit daripada mengurangi kalori. Dengan jumlah kalori yang sama, satu diet—rendah karbohidrat, tinggi lemak, makanan natural, membuat kita meramping (ukuran pinggang pun mengecil). Di sisi lain, gaya diet standar yang disarankan oleh American Heart Association malah menaikkan berat badan kita sebanyak 15 pound. Jadi, penyebabnya bukan kelebihan kalori dong. Sepakat? Jika kita bersikap cuek pada model CRAP dan kalori, kemudian kita bisa fokus pada pertanyaan yang relevan.

Apa yang menyebabkan badan menggemuk? Apa etiologi obesitas? Pastinya bukan menghitung kalori.

Kita telah mendapatkan realita bahwa tubuh mempunyai setelan tertentu untuk berat badan. Jika kamu mencoba menaikkannya, tubuh akan mengupayakan agar dia kembali melangsing. Jika kamu berusaha menurunkannya, tubuh malah melonjakkan timbangan. Jadi, pertanyaan super pentingnya, apa yang mengontrol pengaturan berat badan?

Satu-satunya cara untuk mengurangi berat badan dengan sukses adalah dengan menurunkan BSW. Tetapi, kita bisa melakukan hal itu jika kita mengerti apa yang mengatur termostat berat badan?

Analoginya begini. Katakanlah kamu mengatur termostrat di rumahmu menjadi 30 celcius, yang mana sangat panas dan bikin uring-uringan. Supaya menjadi sejuk, kamu membeli AC. Memang sih, AC telah mendinginkan ruangan, namun termostatmu menyalakan heater sehingga AC dan heater saling beradu dan berkelahi satu sama lain.

Nah, begitu pula dengan berat badan. Kita mengurangi kalori, namun mengabaikan BSW. Kamu mencoba melangsing, namun tubuhmu mengembalikan lagi berat yang hilang. Kita lapar. Metabolisme mulai dimatikan.

Bukankah jauh lebih mudah jika kita mengatur termostat menjadi 21 celsius—temperatur yang nyaman, dibandingkan melawan tubuh kita sendiri? Alasan mengapa diet sangat sulit karena kita berantem dengan tubuh kita sendiri. Dan inilah tantangan selanjutnya, kita harus mencari tahu, apa yang sebenarnya mengendalikan BSW?