Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Ketergantungan Waktu Obesitas

Sumber Gambar

Proses menggemuk sudah sangat jelas tergantung pada lamanya waktu. Manusia bertendensi untuk membulat perlahan. Saat usia kamu bertambah, lemak tubuhmu pun menebal. Ini bisa terjadi selama bertahun-tahun, atau beberapa dekade.

Banyak remaja yang tadinya ceking (usia 20), tetapi, berangsur-angsur, berat badannya naik sekitar 1-2 pounds per tahun. Sebenarnya, ini tidak terlalu mencemaskan, namun setelah 40 tahun kemudian, berat badannya akan bertambah sebanyak 80 pounds (usia 60 tahun).

Turunnya berat badan juga tergantung lamanya waktu. Mereka yang berperang dengan kegemukan di usia dini, cenderung lebih perlu tenaga kuda untuk mengusir lemak.

Ini semua berhubungan dengan resistensi insulin.

Mereka yang berat badannya naik beberapa bulan yang lalu belum sempat membuat resistensi insulin bertumbuh, sehingga dengan sedikit diet, si lemak bisa dipangkas. Jadi akar masalahnya ada di mana? Kegemukan berelasi sangat erat dengan waktu. Mereka yang berperang dengan berat badannya selama beberapa dekade mungkin mengalami beberapa kondisi insulin resisten. Jika resistensi insulin mendorong melonjaknya level insulin, meski diet dilakukan sangat ketat, namun efeknya tampak nihil.

Resistensi itu sendiri tergantung pada:

  1. Tingginya kadar insulin.
  2. Dan persistensi level tersebut.

Oleh karena itu, kita bisa mencegah bertumbuhnya resistensi insulin dengan memfokuskan perhatian kita pada pertanyaan kapan kita makan.

By: Dokter Jason Fung  (Time Dependence of Obesity – Hormonal Obesity XIV)

Para remaja kurus memiliki sedikit kadar resisten insulin. Namun, beberapa dekade kemudian, insulin resisten secara perlahan naik, dan mereka pun mengalami resistensi insulin. Karena Diabetes tipe 2 adalah penyakit eskalasi resistensi insulin, mereka sekarang didiagnosis menderita diabetes tipe 2. Mereka sekarang menderita diabetes dan sindrom metabolik lainnya.

Ada dua perubahan pola makan signifikan sejak tahun 1970an. Perubahan pertama adalah komposisi makronutrient dari makanan kita (What to Eat). Kita mengubah tradisi makan makanan tinggi lemak (45%) menjadi makanan rendah lemak.

Dengan demikian, secara tidak sengaja kita meningkatkan komposisi karbohidrat. Meningkatkan karbohidrat belum tentu buruk, tapi bila karbohidrat itu seluruhnya adalah karbohidrat olahan, jelas kita mempunyai masalah. Mereka merangsang insulin dan membuat kita menggemuk. Kita telah mengeksplor bahasan ini di postingan sebelumnya. Perubahan diet krusial lainnya adalah saat makan (When to Eat).

Kita mengganti pola makan kita, dari hanya makan sehari 3 kali menjadi ngemil sepanjang waktu. Dahulu, saat kita makan sambil berdiri, norma sosial akan mengerutkan kening, namun sekarang kita diizinkan makan di mana saja. Pada tahun 1970-an kita akan makan pagi pada jam 7:00 pagi dan makan malam pukul 19.00. Itu artinya kita mempunyai fase seimbang, 12 jam periode makan (insulin mendominasi), dan 12 jam periode puasa (insulin berada di kadar rendah). Pada tahun 1990-an dan 2000-an, semuanya berubah, kita makan sepanjang waktu. Kita makan segera setelah kita bangun di pagi hari dan tetap mengunyah sesaat sebelum tidur. Oleh karena itu, alih-alih adanya fase seimbang antara periode makan dan puasa, kita menghabiskan waktu kita di fase insulin mendominasi.

Sumber Gambar

Resistensi sistem hormonal tergantung pada dua hal.

  1. Tingkatnya tinggi.
  2. Persistensi.

Perubahan diet yang telah kita buat sejak tahun 1970-an memberikan prasyarat yang tepat ini. Tingkat insulin yang tinggi sanggup mendorong kenaikan berat badan dan obesitas. Resistensi insulin adalah synonomous dengan diabetes tipe 2. Kita telah menciptakan epidemi obesitas dengan perubahan pola makan yang sesat. Bagian paling ironis dari keseluruhan bencana ini adalah bahwa perubahan diet ini diresepkan untuk mengurangi epidemi penyakit jantung. Sebagai gantinya, kita benar-benar memicunya. Kami memadamkan api dengan bensin.

Salah satu hambatan utama kesehatan adalah saran diet konvensional. Menjadi jelas bahwa kita harus mengembalikan keseimbangan antara makan dan puasa. Pada akhirnya, itu menyebabkan kita makan lebih sedikit.

Artinya, apakah kita makan makanan insulogenik seperti gula dan karbohidrat olahan (what to eat), atau makan lebih sedikit (when to eat), sesungguhnya itu bukan masalah besar. Pada akhirnya, kita harus makan lebih sedikit. Tetapi, saran kita untuk menghilangkan lemak adalah dengan makan lebih banyak. Entah itu untuk makan lebih banyak kali/ hari, lebih banyak makanan ringan, lebih banyak biji-bijian, lebih banyak serat dll, saran kita selalu makan lebih banyak untuk menurunkan berat badan.

Mengapa kita memberikan nasihat sebodoh itu? Nasihat yang jelas-salah-dan-benar-benar-salah kaprah? Karena tak seorang pun bisa mendapatkan uang saat kamu makan lebih sedikit. Jika kamu mengonsumsi lebih banyak suplemen, perusahaan suplemen akan mendapatkan uang. Jika kamu banyak minum lebih banyak susu, para peternak akan menuai banyak uang. Jika kamu lebih banyak makan produk sarapan, perusahaan penghasil makanan sarapan akan menganggok uang banyak. Dan ini terus berlanjut.

Sumber Gambar

Karena perusahaan makanan dan obat-obatan memberikan hibah besar kepada dokter dan ahli gizi, tidak ada yang mau mendengar nasehat untuk makan lebih sedikit. “Makan Kurang” adalah seperti paman aneh pada pernikahan dan tak seorang pun ingin membicarakannya.

Pesan tersebut telah dikorupsi dari “Bagaimana cara meramping?” menjadi “Bagaimana perusahaan ini mengeruk banyak uang dengan berpura-pura membantumu melangsing.” Coba kamu bayangkan tentang mengemil—yang mana dulu dianggap diet yang tabu.

Studi ini “Peningkatan frekuensi makan tidak mendorong penurunan berat badan yang lebih besar pada subyek yang diberi resep diet ketat energi berdimensi 8 minggu” menunjukkan bahwa peningkatan frekuensi makan benar-benar tidak membuat perbedaan dalam penurunan berat badan.

Mengemil diteliti dalam makalah ini “Karbohidrat, nafsu makan dan perilaku makan pada manusia” oleh Stubbs RJ dan dipublikasikan di Journal of Nutrition 2001. Dalam penelitian ini, subjek diberi camilan dan wajib untuk dimakan. Ada efek jelas bahwa ngemil mengurangi asupan kalori pada saat makan. Namun, penurunan kalori ini tidak menebus banyaknya kalori yang dimakan saat mengemil.

Mengudap tidak mengurangi asupan makanan, justru meningkatkannya. (Duh). Tetapi, sayangnya, nasehat tersebut masih terus berlanjut sampai dengan sekarang, dan isu yang dihembuskan adalah untuk mengurangi hasrat makan. Tidak ada bedanya apakah ini adalah makanan ringan berlemak atau bergula. Efeknya sama saja. Intinya, ngemil mendorong naiknya jumlah makanan yang dikunyah.

Lebih buruk lagi, ia cenderung meningkatkan jumlah kesempatan makan juga—jadi ada efek buruknya berlipat ganda. Karena makanan ringan cenderung sangat tinggi dalam makanan olahan, kualitas asupan makanan cenderung akan mengalami penurunan secara substansial juga. Karena makanan ringan merupakan makanan olahan tingkat super tinggi, sehingga kualitas asupan makanan juga menurun secara substansial. Tetapi, ini justru membuka area yang semakin luas untuk para perusahaan makanan untuk melipat gandakan keuntungannya melalui menjual camilan.

Sumber Gambar

Ada keuntungan yang melimpah ruah ketika menjual makanan olahan dibandingkan the real food. Antusias para perusahaan besar itu sama besarnya dengan para nyonya rumah yang memaksa tamu untuk membawa sisa makanan.  Di sini, sekali lagi, kita seharusnya mendengarkan nenek kita dan bukan pemerintah. Jangan makan makanan ringan, mereka sudah mengatakannya berkali-kali. Ini akan merusak makan malammu. Ini akan membuatmu gemuk. Dan mereka sangat benar.

Sarapan adalah area lain dimana ada banyak kebingungan. Apakah melewatkan sarapan membuat kita lapar dan makan berlebihan sepanjang hari? Itulah yang banyak orang percaya. Sarapan adalah makanan terpenting hari ini. Jawabannya, jauh lebih bernuansa. Kata sarapan secara harfiah berarti makanan berbuka puasa, periode dimana kita makan pertama kali setelah tidur panjang. Tidak ada yang mengatakan bahwa kita harus memperhatikan wajah kita sesaat setelah kita meloncat dari tempat tidur. Tidak ada alasan membuat makanan sarapan penuh dengan gula dan tepung. Jika kita makan pertama kali pada pukul 12:00 siang, kemudian jam makan siang itu digunakan sebagai break our fast, apakah ada yang salah dengan hal itu?

Masalah utama sarapan pagi, seperti yang dibahas di sini dalam makalah ini “Dampak sarapan pada asupan energi sehari-hari” dipublikasikan di Nutrition Journal 2011. Dalam tulisan ini, periset memecahkan satu kelompok sesuai dengan jumlah kalori yang dimakan saat sarapan. Menambah porsi makan saat sarapan sepertinya tidak mengurangi jumlah makanan yang dikunyah saat makan siang dan makan malam. Oleh karena itu, semakin banyak porsi makan saat sarapan, maka jumlah makanan yang dikonsumsi sepanjang hari juga semakin banyak. Lebih buruk lagi, ini meningkatkan jumlah kesempatan makan dan waktu kita merangsang sekresi insulin. Problematika sesungguhnya adalah kadang kita mengonsumsi sarapan dengan terburu-buru saat di pagi hari.

Oleh karena itu, kita cenderung mengonsumsi makanan yang sangat nyaman seperti sereal manis, dan makanan lain yang mudah disiapkan seperti roti, yogurt manis, kue danish, muffin, oatmeal instan dan sejenisnya. Perusahaan makanan, yang mencari kesempatan untuk menjual lebih banyak makanan yang menguntungkan, sarapan yang merupakan makanan olahan tingkat tinggi, seperi lalat yang merubung makanan busuk.

“Ayo sarapan!” Mereka bergemuruh.

“Ini adalah makanan terpenting sepanjang hari” Kamu bisa melangsing dengan makan sarapan. Dan kamu juga bisa meramping dengan lebih banyak mengemil.

No, my friend, you can’t.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Pencegahan Resistensi Insulin

Sumber Gambar

Apakah kunci teresensial yang menyebabkan insulin resisten? Resistensi insulin merupakan biang kerok penyebab level insulin tinggi. Tingginya kadar insulin mengakibatkan insulin menjadi jenjang dan terus saja begitu, sehingga mereka berputar-putar dalam lingkaran setan. Lantas, bagaimana cara kerja si tubuh sehingga dia bisa bertahan melawan gempuran sang insulin? Sebenarnya, penyebab resisten bukan karena kadar hormon insulin yang berada di atas rata-rata.

Coba kamu pikirkan tentang eksperimen di postingan sebelumnya tentang infus yang konstan pada tingkat fisiologis dan pengaruhnya terhadap insulin. 

Kamu mungkin bertanya pada diri sendiri. Jika level normal saja bisa nyebabin resistensi insulin, kenapa kita pada akhirnya nggak bisa mengalami resistensi insulin? Jawabannya adalah, level si  hormon sesungguhnya tidak menyebabkan resistensi.

Tapi, kita harus memahami bagaimana hormon disekresi di dalam tubuh. Cara tubuh mensekresikan hormon adalah secara berkala, berdenyut teratur. Semua hormon, baik itu kortisol, insulin, growth hormone, hormon paratiroid, atau hormon lainnya dalam tubuh, dilepaskan di denyut nadi. Ada irama sirkadian yang terdefinisi dengan baik. Terkadang, tingkat hormon tertentu dapat diperkirakan sangat tinggi, dan pada waktu lain, mereka hampir tidak terdeteksi. Sifat yang sangat pulsatil inilah yang mencegah berkembangnya toleransi (resisten).Setiap kali tubuh terkena stimulus konstan, ia akan terbiasa dengannya.

By: Dokter Jason Fung (Prevention of Resistance – Hormonal Obesity XII)

Pikirkan saat kamu berada di ruangan yang gelap. Tiba-tiba, kamu pergi ke luar dan matahari menusuk matamu. Matamu tiba-tiba gelap dan kamu merasa disorientasi. Namun, dalam beberapa menit ke depan, kamu menjadi terbiasa dengan cahaya terang. Sekarang semuanya terasa normal dan kamu bisa melihat dengan normal lagi. Jika kamu tiba-tiba masuk kembali ke ruangan gelap, matamu akan mendadak buta lagi seperti topi pesulap bagian dalamnya. Selama beberapa menit, kamu tidak bisa melihat apa pun. Meskipun, sebelumnya kamu berada di ruangan itu, dan sanggup melihat, namun kamu tidak bisa melakukan hal yang sama lagi.

Selama beberapa menit berikutnya, kamu menjadi terbiasa dengan kondisi gelap dan bisa mulai melihat lagi. Tubuh memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan stimulus konstan.

Ketika masuk ke ruangan terang (tadinya berada di kamar gelap), tubuh akan resisten terhadap cahaya. Begitu pula sebaliknya, saat kita berada di ruangan terang dan menuju tempat gelap, kita akan resisten terhadap gelap.

Contoh ini membuktikan, jika kita ingin mencegah resistensi berkembang biak, maka kita harus mempunyai stimulus yang berubah-ubah. Tingkat cahaya yang berbeda-beda akan mengubah itu. Jika kita berada di bawah sinar matahari dan tiba-tiba kita masuk ke dalam ruangan gelap gulita, kita akan kehilangan adaptasi terhadap cahaya. 

Hormon bekerja dengan cara yang persis sama. Kadar hormon akan selalu rendah hampir setiap saat. Sesekali, denyut nadi hormon (tiroid, paratiroid, pertumbuhan, insulin—apa pun) melonjak. Setelah lewat masanya, tingkatnya menjadi rendah kembali.

Dengan berubah-ubah dari rendah ke tinggi, tubuh tidak pernah mendapat kesempatan untuk beradaptasi. Si tubuh tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan resistensi insulin, karena denyut-nadi-hormon hilang sebelum bertumbuh.

Sumber Gambar

Apa yang tubuh kita lakukan, pada dasarnya adalah terus-menerus menjaga kita di ruangan yang gelap. Sesekali, kita terpapar cahaya terang sebentar, lalu kembali ke ruang gelap. Setiap kali ini terjadi, kita mengalami efek total dari cahaya.

Kita tidak pernah diberi kesempatan untuk terbiasa dengan kadar hormon yang lebih tinggi. Jadi kita bisa menjaga kepekaan yang sama terhadap cahaya.

Bagaimana hal ini berlaku untuk obesitas? Denyut insulin sirkadian mencegah perkembangan resistensi insulin. Namun, situasi berubah saat kita terus-menerus terpapar insulin.

Sebagai tanggapan terhadap infus insulin dengan level yang sama setiap saat, hal ini bisa menyebabkan remaja (seharusnya ini nggak kejadian pada remaja lho) mengalami resistensi insulin—ini merupakan tahap awal diabetes tipe 2. Apa perbedaan antara kondisi eksperimen dan kebiasaan normal? Pelepasan pulsatile. Dalam keadaan normal, insulin dilepaskan hanya sesekali, dan ini mencegah pengembangan resistensi. Dalam kondisi eksperimen, insulin terus diinfuskan selama 96 jam. Pemboman insulin yang terus-menerus menyebabkan tubuh mengembangkan resistensi insulin.

Akan ada regulasi yang menurun pada reseptor dan tubuh akan mengalami resistensi insulin. Seiring berjalannya waktu, resistensi insulin menyebabkan kadar insulin lebih tinggi untuk ‘mengatasi’ resistensi ini.

Tingkat tinggi saja tidak menimbulkan hambatan. Ada 2 persyaratan untuk berkembangnya resistensi—kadar hormon tinggi dan stimulus konstan. Benefit ini adalah efek yang kita gunakan  dalam terapi obat angina (nyeri dada).

Pasien yang diberi resep patch nitrogliserin diberi petunjuk untuk meletakkan patch di pagi hari dan melepasnya di malam hari.

Dengan periode yang berubah-ubah, kadang dosisnya tinggi, kadang rendah, tubuh tidak sempat mengembangkan resisten. Jika nitro-patch dipakai 24 jam/ hari setiap hari, maka efeknya menjadi sia-sia. Stimulus konstan dan kadar nitrogliserin tinggi menghasilkan resistensi.

Kembali ke kasus obesitas, jika kamu mengubah komposisi makananmu saja (yang berakibat menaikkan level insulin) itu tidak akan cukup untuk membuat kita menjadi resisten. Jika kita makan 3 kali sehari, ada kadar insulin yang lebih tinggi tetapi kita tidak memiliki stimulus insulin yang terus-menerus dan konstan, sehingga resistensi insulin tidak terbentuk.

Dengan kata lain, jika kita flashback ke tahun 1950an, saat dimana kita masih bisa memakan roti putih dan kue Oreo, tetapi angka obesitas di masa itu tetap rendah. Itu karena kita masih bisa menyeimbangkan  periode makan dan masa puasa. Kita makan (sebagai contoh) 3 kali sehari, jam 8 pagi (sarapan) sampai pukul 6 sore (makan malam). Di antara jam itu, kita tidak ngemil.  Dari jam 6 sampai jam 8 pagi, kita tidak makan (puasa). Itu berarti kita memiliki 10 jam periode makan dan 14 jam puasa setiap hari. Resistensi insulin (pendorong utama kadar insulin tinggi) tidak berkembang. Alih-alih makan 3 kali/ hari, apa yang akan terjadi jika kita makan 6 kali/ hari? Maka profil insulinmu akan terlihat seperti ini. 

Sekarang kita memiliki dua prasyarat resistensi insulin.

  1. Kita mempunyai kadar insulin yang tinggi.
  2. Atau kadar itu selalu persisten.

Dengan kondisi seperti ini, kita berekspektasi bahwa resistensi insulin akan berkembang. Jika kita disarankan agar makan 6 kali/ hari, kita harus snacking alias mengudap camilan setiap saat. Nenekmu tahu benar dan akan berceloteh bahwa mengemil setiap saat akan membuatmu menggemuk.

Sumber Gambar

Jadi saran diet  yang beredar selama ini adalah mengerikan dan menyeramkan. Muy estupido. Itulah gagasan yang telah disuntikkan selama 40 tahun! Dan kita penasaran mengapa terjadi epidemi obesitas.

 Sebuah pertanyaan tambahan kemudian muncul. Jika semua sel resisten terhadap efek insulin, maka tingkat insulin yang lebih tinggi seharusnya tidak berpengaruh secara keseluruhan. Jawabannya adalah insulin memiliki efek berbeda pada organ tubuh. Reaksinya akan berbeda pada otot, hati, dan otak.

Setiap bagian memiliki sensitivitas atau resistensi tertentu terhadap insulin, dan ini tidak mempengaruhi yang lain. 

Olahraga, misalnya akan meningkatkan sensitivitas otot terhadap insulin namun tidak berpengaruh pada sensitivitas insulin di hati atau otak.

Resistensi insulin hepatik (di hati) yang berkembang dari fatty liver tidak mempengaruhi resistensi insulin di otak atau otot. Saat kita menelan karbohidrat dengan berlebihan, kita mengembangkan resistensi insulin hati. Hal ini meningkatkan tingkat insulin secara keseluruhan. Namun, otak memiliki sensitivitas insulin normal. Di otak, kita telah meningkatkan kadar insulin yang bekerja pada reseptor yang sensitif secara normal sehingga menghasilkan efek insulin yang meningkat. Efeknya adalah meningkatkan the body set weight yang mana akan menyebabkan kamu membulat. Pada akhirnya, otaklah yang menghubungkan semua efek dari rasa lapar dan pengeluaran energi. Begitulah cara kita menumpuk lemak.

Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Toleransi Obat

Sumber Gambar

Kita telah membahas mengenai resistensi insulin, dan mengapa tingkat resisten semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Tanda penting dari sistem biologi lain menunjukkan bahwa zat itu sendiri atau “orang dalam”  bisa jadi merupakan hal yang memperburuk kondisi resisten. Bagaimana dengan obat-obatan terlarang, terutama obat adiktif seperti kokain? Resistensinya juga berkembang, meskipun namanya berbeda. Bila obat terlarang (katakanlah, kokain) biasanya dimulai dengan reaksi intens.

The ‘high’ atau giting jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, maka semakin lama, dosis awal yang bisa membuat giting menjadi tidak ampuh lagi, sehingga seiring berjalannya waktu, kita harus meningkatkan takarannya. Ini dikenal sebagai toleransi obat. Tetapi, sesungguhnya, ini hanya nama lain untuk resistensi.

Dalam pemakaian jangka panjang, tubuh menjadi resisten terhadap efek kokain. Dengan kata lain, obat menyebabkan resistensi obat. Efek ini terlihat pada obat-obatan lain, bukan hanya kokain. Narkotika, ganja, nikotin, kafein, alkohol, benzodiazepin, dan nitrogliserin semuanya memiliki efek toleransi obat yang sama.

Orang mungkin mulai menambah dosis untuk mendapatkan reaksi yang sama. Ini adalah perilaku adiktif. Ini juga merupakan respons alami. Respon otomatis resistensi insulin adalah meningkatkan dosis. Respon otomatis terhadap resistensi antibiotik adalah dengan menggunakan lebih banyak antibiotik. Respons otomatis terhadap resistansi obat adalah melipatgandakan pemakaian obat. Respon otomatis resistensi insulin adalah melonjaknya kadar insulin. Ini dinamakan efek lanjutan dari resistensi. Namun, menjadi jelas bahwa ini adalah proposisi yang merugikan diri sendiri. Jika kamu menambah dosis kokain, maka tubuh akan mengalami resistensi lebih tinggi lagi. Ini akan terus berlanjut sampai kamu tidak sanggup melewati ambang batas.

By: Dokter Jason Fung (Drug Tolerance – Hormonal Obesity IX )

Hal yang sama berlaku pada antibiotik. Saat kamu menggunakannya, dosisnya akan terus bertambah, sehingga kamu tidak bisa lagi menaikkan dosisnya. Ini menjadi siklus resistensi atau lingkaran setan.

 Paparan menyebabkan resistensi. Resistensi menyebabkan eksposur yang lebih tinggi. Dan siklus terus berputar, tidak ada putusnya. Pada akhirnya, menggunakan dosis tinggi memiliki efek paradoks. Artinya, efek penggunaan antibiotik dosis tinggi adalah membuat antibiotik kurang efektif. Begitu pula dengan kokain, pemakaian kokain dalam dosis tinggi membuat kokain kurang ampuh.

Untuk sistem hormonal, fenomena ini dijelaskan dengan apik dan nantinya akan terkait regulasi reseptor. Coba kamu pikirkan contoh kunci dan gembok. Dalam situasi normal misalkan kita memiliki 100 kunci (insulin) dan 100 gembok (reseptor insulin).

Setiap kunci membuka gembok dan kita memiliki 100 pintu terbuka di bagian akhir. Inilah yang kita inginkan. Dalam kondisi resisten, kunci tidak lagi bekerja dengan baik. Sekarang dibutuhkan 2 kunci untuk membuka 1 gembok. Dengan 100 kunci kita hanya sanggup buka 50 pintu saja. Karena kita ingin membuka gembok sebanyak 100 pintu, sekarang kita harus membutuhkan 200 kunci supaya pintu bisa dibuka.

Sumber Gambar

Resistensi insulin bekerja dengan cara yang sama. Ketika kita mengalami resistensi insulin, tubuh kita harus menambah pasokan insulin agar bisa bekerja dengan hasil yang sama—glukosa di dalam sel. Tetapi, harga yang kita bayar adalah kenaikan kadar insulin. Ini adalah efek hormon yang popular, dan kadang kita manfaatkan dalam pengobatan penyakit tertentu.

Salah satu contohnya adalah ADHD (Attention Deficit Hypractivity Disorder). Pada penyakit ini, anak-anak mengalami hiperaktif. Pengobatannya menggunakan Methyphenidate (Ritalin). Tapi Ritalin bukanlah obat penenang (obat yang menenangkan). Sebaliknya, Ritalin adalah stimulan.

Jika kamu tidak tahu aturan mainnya, kamu akan mencaci dengan WTF? Mengapa kita harus merawat anak hiperaktif dengan stimulan? Bukankah itu memperburuk keadaan? Jawabannya adalah tidak. Dan pengalaman klinis mendukung hal ini. Obat (stimulan) benar-benar menenangkan anak-anak ini.

Tingkat stimulan stimulasi yang tinggi pada akhirnya akan menyebabkan resistensi terhadap stimulan. Stimulan menyebabkan reaktivitas stimulan. Resistansi stimulan ini sekarang menyebabkan perilaku menenangkan.

Jadi mari kita rekap:

Virus menyebabkan resistensi virus. Dosis tinggi memperburuk keadaan. Antibiotik menyebabkan resistensi antibiotik. Dosis tinggi memperparah kondisi. Obat (kokain) menyebabkan resistensi obat (tolerance). Dosis tinggi menghancurkan keadaan. Stimulan menyebabkan resistensi stimulan. Dosis tinggi memperkeruh situasi.

Jadi sekarang, kita kembali ke topik semula dan mulai bertanya—apa yang menyebabkan resistensi insulin? Nah, hal tersignifikan yang akan saya lihat adalah tingkat insulin yang tinggi dan terus-menerus.

Impikasinya sangat gigantis. Jika ini benar, maka teori hormon obesitas akan tampak seperti ini:

Apakah insulin itu sendiri menyebabkan resistensi insulin?

Sumber Gambar

Kita akan melihat beberapa bukti pada beberapa postingan berikutnya. Tapi pikirkan konsekuensinya. Insulin menyebabkan resistensi insulin. Resistensi insulin menyebabkan level insulin lebih tinggi. Insulin dengan kadar tinggi menyebabkan resisten lebih kuat yang mana meningkatkan levelnya.

Tiba-tiba, sekarang, resisten insulinlah yang menjadi pendorong major tingginya level insulin, bukan diet. Kadar insulin yang tinggi, akan menjadi pemicu kenaikan berat badan yang terus-menerus. Karena lingkaran setan ini, seiring berjalannya waktu, maka problem ini akan semakin bobrok. Orang gemuk akan semakin membulat. Tetapi, alasannya bukan karena mereka makan lebih banyak atau kurang berolahraga dibandingkan orang langsing. Intinya adalah bahwa insulin mereka sebagian besar dipicu oleh resistensi dan bukan diet mereka. Mereka tidak malas. Mereka juga tidak serakah. Mereka memiliki ketidakseimbangan hormon yang perlu segera diperbaiki.

Apakah implikasinya? Orang yang mengalami kegemukan dalam jangka waktu panjang, akan lebih sulit untuk melangsing. Tetapi, mereka yang baru kemarin sore mengalami obesitas akan lebih mudah untuk melangsing karena belum mengalami resistensi insulin. Sementara itu, orang yang mengalami obesitas masa kecil akan lebih sulit meluruhkan lemak karena mereka telah gembrot sepanjang hidup mereka. Mereka yang lahir dari ibu obesitas akan terendam insulin sepanjang masa sampai akhir masa.

Sumber Gambar

Mereka akan menuai banyak masalah. Meski tanpa melalui penelitian, kamu pasti sudah tahu mengenai fakta di atas. Obesitas di kandungan ibu akan mendorong obesitas masa kanak-kanak. Kegemukan di masa kecil akan menyebabkan obesitas di saat dewasa. Obesitas jangka panjang membuat diet menjadi lebih pelik, akibatnya meramping menjadi sesuatu yang membuat frustasi. Semua itu adalah konsekuensi efek durasi obesitas.

Tapi penelitiannya cukup konsisten. Makalah ini “Memprediksi Obesitas pada Anak Muda dari Masa Kecil dan Obesitas Orang Tua” yang diterbitkan di NEJM 1997; 337: 869-873 menegaskan pengamatan akal sehat kita. Risiko terbesar yang dialami adipositas masa remaja adalah obesitas masa kecil. Berapakah probabilitas orang dewasa mengalami obesitas jika di saat kecilnya mengalami kegemukan? 17 kali. Semakin lama kamu berbadan tambun, maka si lemak akan semakin sulit untuk diusir. Beberapa kegemukan dihasilkan oleh genetika, untuk lebih jelasnya kita akan membahasnya nanti.

Tak perlu dijelaskan lebih lanjut, baik kalori masuk maupun kalori keluar atau hipotesis karbohidrat insulin tidak dapat dijabarkan lebih lanjut pada prediposisi genetik. Jika salah satu orangtuanya obesitas, kemungkinan si anak mengalami kegemukan menjadi dua kali lipat. Namun, jika kedua orangtuanya gempal, itu akan meningkatkan risiko pada anak sebanyak 5 kali lipat. Dan mereka sama sekali mengabaikan efek ketergantungan waktu.