Apakah Perempuan Menopause bisa Meramping? Dengan Puasa Intermittent, Bisa Dong

Mayoritas wanita menopause berasumsi bahwa mustahil untuk bisa meramping, bahkan lebih parah daripada itu, bisa jadi, melangsing di fase usia itu adalah biang kerok malapetaka dan agony.

Untungnya, saya memiliki privilege atau hak istimewa untuk bekerja dengan ribuan wanita yang berpuasa, dan dengan lantang saya akan blak-blakan bahwa menurunkan-berat-badan di fase menopause emang nggak mudah ya. But it isn’t impossible either. Tapi pasti bisa, dong.

By: Megan Ramos (Women and Fasting: Top Tips for Women Going Through Menopause Part 1)

Faktanya, para perempuan ini bisa mencapai hasil yang amazing kok, tetapi mereka harus sedikit lebih rajin daripada orang lain, dan harus lebih taat dengan beberapa prinsip basic puasa. Para pasien perempuan di klinik kami belum ada yang gagal satu pun, tetapi memang perlu banyak trial and error uji coba untuk dapet protokol yang benar-benar berfungsi.

Dalam seri posting ini, saya akan berbagi strategi paling oke, yang telah berhasil ngebantu banget para wanita dalam kelompok usia ini sukses meramping.

Fast Consistently and Be Patience

 Berpuasa Secara Konsisten dan Sabar

Melangsing jauh lebih rumit bagi wanita karena kita super kompleks secara hormonal daripada rekan-rekan pria kita. Tapi bukan berarti nggak bisa dapet prestasi yang sama, dong.

Sumber Gambar: jeffreydachmd.com

Faktanya, kita sanggup menjolok buah yang serupa, atau melangsing itu bisa digapai kok, terlepas gender apa pun. Sesungguhnya, pria dan perempuan, ya, sama aja. Hanya aja, spesial untuk para lady ini jalurnya memang lebih menukik dan berkelok-kelok.

Dalam posting saya sebelumnya tentang Wanita dan Berpuasa, kita membahas dua jalur berbeda yang dialami pria dan wanita ketika puasa dan memapas berat badan. Pada awalnya, pria cenderung kehilangan berlipat-lipat kiloan, tetapi kemudian mulai slow down.

Seorang pria bisa aja kehilangan 10 pound selama Minggu pertama, tetapi kemudian hanya memusnahkan 1 atau 2 pound pada Minggu 12, dan selama beberapa minggu ia mungkin nggak sanggup menendang berat badan sedikit pun, karena tubuh doski mencoba untuk membuang lemak yang lebih bandel.

Apa yang kita lihat pada wanita adalah kebalikannya. Indeed, si kecepatan keong banget pada awalnya, bahkan berat-badan-bergeming-dan-bertapa-tak-tergoyahkan di tempat yang sama selama beberapa minggu, tak mau bergeser sedikit pun, Sob. Tetapi dengan kesabaran dan konsisten, berat badan yang sanggup ditendang mulai melonjak!

Horeee!

Seorang wanita mungkin nggak melenyapkan berat badan pada Minggu ke-1, namun dia bisa jadi menghempas beberapa kilogram selama Minggu ke-12. Saya telah menyaksikan banyak wanita throw in the towel atau menyerah pasca beberapa minggu mencoba, karena mereka pikir ini hanyalah mode diet yang nggak ada faedahnya, sama seperti yang udah-udah.

Sebagai mantan wanita gemuk dan seseorang yang telah mencoba hampir setiap diet di planet ini, saya ngerti kok. Super ngerti banget sekali malah.

But nothing worthwhile comes easily. Tapi tidak ada satu pun hal berharga di jagat raya ini yang datang dengan mudah. Life is also a nonstop rollercoaster of happiness and sorrow. Hidup juga merupakan rollercoaster tanpa henti dari hepi dan sedih.

Satu hari semuanya tampak sempurna dan baik-baik aja, dan hari berikutnya shit hits the fan. Anda merasa dunia Anda runtuh. And what have we been taught to do when that happens? Dan apa yang telah diajarkan kepada kita ketika itu terjadi? Comfort ourselves with food. Menghibur diri dengan makanan.

Jika Anda ingin menurunkan berat badan berapa pun usia Anda, you need nip it in the bud right now, alias Anda harus bisa menghandlenya, Sob.

Life is never constantly stable. Hidup tidak pernah stabil, tidak pernah konstan. There are bumps and hurdles we face almost every day. Kadang jalan kehidupan bentuknya benjol-benjol, di kali yang lain rintangan meliuk-liuk, dan ini terjadi hampir setiap hari.

Anda harus stick dengan rejimen puasa Anda, terlepas hari itu sedang datang air bah atau neraka rembes, jika tidak begitu, Anda pasti akan gagal.

Saya telah menyaksikan pasien dan orang-orang terkasih mengalami diet yo-yo sepanjang hidup mereka. Juga, saya menghabiskan 27 tahun ngalamin yo-yoing atau berat badan naik-turun tiada henti. Dan karena itulah, I had to be real with myself atau harus tegas pada diri sendiri.

Saya baru berusia 27 tahun dan didiagnosis dengan salah satu penyakit paling mematikan di bumi ini—diabetes tipe 2.

Saya punya dua pilihan:

Pertama, saya bisa men-tackle diabetes dengan pendekatan yo-yo yang udah sangat terang-terangan selalu aja gagal. Hasilnya saya akan tetap diet selama satu dekade, juga ditambah dengan, saya kudu diet terus menerus, meski:

  1. Pekerjaan sedang membikin saya stres.
  2. Marah pada suami saya, atau.
  3. Ultra sedih ketika nenek saya meninggal.

Dan saya hanya harus hidup legawa dengan kerusakan yang dilakukan diabetes pada tubuh saya dalam kurun waktu itu.

Pilihan kedua, saya sepenuhnya berkomitmen pada protokol puasa selama 6 bulan saja.

It could only be 90% of the time. Mungkin hanya 90% aja dari total waktu kok. Memang sih ini mungkin seperti bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tetapi penekanannya adalah apa pun akan saya lakukan asalkan saya nggak ngalamin yo-yo. Anything more wasn’t human. Saya harus mengizinkan diri saya menjadi manusia lagi dan tidak membiarkan makanan buruk meski hanya sebutir mengisi hari saya.

Sumber Gambar: popsugar.com

Dan goalnya adalah untuk nge-kick kegemukan saya, diabetes tipe 2, sindrom ovarium polikistik (PCOS), dan hati berlemak/ fatty liver (NAFLD) dalam 6 bulan sehingga saya bisa move on dengan hidup saya.

Dengan cara ini saya bisa menghindari kerusakan akibat diabetes, plus saya bisa menjalani hidup on my own terms atau aturan hidup ala saya sendiri, dong.

By buckling down, dengan tekad sangat baja ini, berarti saya tidak selalu menyandang status ‘narapidana’ atau merasa terpenjara pada rejimen puasa di masa depan.

Jadinya, di masa depan, saya bisa berpuasa saat saya mau, asalkan saya sedang fit atau cucok dengan agenda kegiatan saya.

Hasilnya adalah:

  • Dalam 6 bulan, A1c saya turun menjadi 4,6%.
  • Nggak ada lagi NAFLD.
  • PCOS hilang.
  • Obesitas lenyap.

And it was slow as hell to start, but nothing that truly works comes easily. Prosesnya lambat banget dan macam di tempat jagal ketika awal memulai, tetapi, nggak ada satu pun hal di dunia ini yang didapet dengan gampil. Semua butuh perjuangan, bukan begitu?

Kiat ahli: Rencanakan kegiatan di hari puasa



Dengan cara ini Anda selalu memiliki rencana before you get into a funk, atau merasa seperti di kawah Candradimuka atau tersiksa rasa super lapar ketika berpuasa.
Contoh:

  • Jika Anda selalu lapar pada pukul 6 sore, pergilah ke gym atau fitness class pada jam itu.
  • Jika Anda merasa stres di tempat kerja, go for a walk, berjalan-jalanlah.
  • Mandi garam Epsom jika Anda merasa lelah dan frustrasi di rumah.
  • Baca buku di teras belakang Anda.
  • Berkebun.
  • Atur lemari Anda.
  • Rencanakan tripketika Anda mencapai target Anda.
  • Meet up dengan teman baik untuk minum teh atau kopi.
     

Dalam artikel selanjutnya, kita akan berbicara tentang pentingnya clean fasting a.k.a puasa ‘bersih’ untuk wanita.

Epidemi Obesitas (Penyebab Akar Masalahnya)

Sumber Gambar

Kali ini saya akan mengutip ucapan dokter Fung mengapa dia yang seorang ahli ginjal pada akhirnya tertarik mendalami tentang obesitas dan cara untuk meramping. Inilah penjelasannya.

By: Dokter Jason Fung (The Obesity Epidemic – Root Causes)

Saya dibesarkan di Toronto, Kanada pada prelude tahun 1970-an. Diri saya yang lebih yuvenil akan benar-benar terkejut bahwa hari ini, obesitas telah menjadi fenomena global yang mengambung dan tak terhentikan. Pada saat itu, kami bergidik serius pada isu Malthus bahwa populasi dunia akan segera menerobos produksi makanan dunia dan kita nggak akan sanggup lagi menangkis kelaparan massal. Atensi utama lingkungan adalah pendinginan global karena pantulan sinar matahari dari partikel debu di udara yang menyulut fajar Zaman Es baru.

Sumber Gambar

Saya ingin tahu apakah Majalah Time menyangka salah satu dari 51 hal yang harus kita aksikan adalah menjadi penguin. Sebaliknya, sekitar 50 tahun kemudian, kita menjaring diri kita menghadapi masalah yang persis egaliter. Pendinginan global telah lama surut menjadi perhatian serius, tetapi pemanasan global dan mencairnya lapisan es kutub merajai berita. Alih-alih makanan yang nadir secara global dan kelaparan universal, kita menumbuhkan epidemi obesitas, belum pernah terjadi lebih beberapa ratus tahun silam dalam sejarah manusia.

Ada banyak aspek yang lebih galau dari epidemi obesitas ini.

Pertama, apa pangkal penyebabnya? Fakta bahwa epidemi ini bersifat menyebar luas dan relatif baru membangkang cacat genetik yang menjadi geladak pada awalnya? Olahraga sebagai kegiatan rekreasi, adalah hal secuil besar yang bukan merupakan trend pada tahun 1970-an. Orang-orang tidak berkeringat dengan orang tua dalam dekade itu. Menjamurnya pusat kebugaran, klub lari, studio latihan dan segenusnya adalah produk tahun 1980-an.

 

Sumber Gambar

Saya bersabung dan membolak-balik pertanyaan ini selama bertahun-tahun. Orang-orang makan roti putih, es krim, dan kue Oreo pada tahun 1970-an. Pasta dan roti gandum utuh nggak ada tuh, mereka nggak dianggap wajar sebagai jamuan yang layak dimakan oleh orang-orang nyata. Mereka menggarap cara makan dengan metode yang ‘salah’ tetapi jarang ada yang ndut, ingin bukti? Gampang aja, coba lihat, saat Anda menilik foto-foto lama dari tahun 1970-an, nggak ada yang gemuk kan?

Kedua, mengapa kita tidak berdaya untuk menyabot epidemi ini? Tidak ada yang ingin menjelma fertil. Semua ilmuwan, dokter, dan ahli diet terbaik di zaman itu menganjurkan nasihat diet, semuanya tetap bersandar pada ajaran yang ngawur. Selama lebih dari tiga puluh tahun, para dokter telah merekomendasikan diet rendah lemak, yang diperkaya tinggi karbohidrat sebagai terapi asoy untuk kegemukan.

Sumber Gambar

Namun epidemi obesitas telah diakselerasi. Dari 1985 hingga 2011, prevalensi obesitas di Kanada merayap tiga kali lipat, dari 6 persen menjadi 18 persen. Semua bukti yang tersedia mengekspos bahwa orang-orang mencoba memotong kalori mereka, mencangkul-i lemak mereka dan berolahraga lebih bar-bar. Tapi mereka tidak sanggup melebur berat badan. Satu-satunya jawaban yang logis adalah kita tidak menginterpretasi masalahnya.

Makan terlalu banyak lemak dan terlalu membludak kalori bukanlah dilema, jadi menyabit lemak dan kalori bukanlah solusinya. Jadi, semuanya kembali ke interogasi-perdana-yang-esensial itu.

Apa yang membenihkan penambahan berat badan?

Pada 1990-an, saya lulus dari University of Toronto dan University of California, Los Angeles sebagai dokter dan spesialis ginjal. Dan saya harus berkata jujur bahwa saya tidak mengantongi minat sedikit pun untuk menyembuhkan obesitas. Tidak selama sekolah kedokteran, residensi, penataran khusus atau bahkan selama praktik. Tapi bukan saya doang kok. Ini faktual untuk setiap dokter yang praktik di Amerika Utara.

Sekolah kedokteran menginstruksikan kita belajar hal lain, hampir nggak ada nyinggung tentang gizi, dan bahkan kurang tentang tata cara menyembuhkan obesitas. Ada jam dan mata kuliah yang didedikasikan untuk obat-obatan yang tepat dan operasi untuk preskripsi.

Sumber Gambar

Saya mahir dalam aplikasi ratusan obat-obatan. Saya piawai dalam penggunaan dialisis. Saya tahu semua tentang preservasi dan indikasi pembedahan. Pengetahuan saya nol raksasa tentang nutrisi dan bahkan cetek tentang cara menyusutkan berat badan. Hal ini terlepas dari fakta bahwa epidemi obesitas sudah definit, dan epidemi diabetes tipe 2 yang berdiri latah tepat di belakangnya, dengan semua implikasi merusak organ tubuh yang lainnya.
Dokter tidak peduli dengan diet. Berat badan bukan perkara supaya tampak sekseh dalam bikini untuk musim renang di musim panas. Bukan cuma itu, lho.

Melubernya lemak di dalam tubuh bertanggung jawab penuh dalam ekspansi diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik, secara dramatis menumbuhkan risiko serangan jantung, stroke, kanker, penyakit ginjal, kebutaan, amputasi, dan kerusakan saraf, dan komplikasi lainnya.

Ini bukanlah merupakan topik kedokteran perifer yang digandrungi. Obesitas merupakan jantung dari seluruh penyakit, dan saya minim ilmu tentang itu. Saya mulai praktek sebagai spesialis ginjal pada awal tahun 2000, dan saya menemukan bahwa penyulut paling tipikal dari gagal ginjal, sejauh ini, adalah diabetes tipe 2.

Saya mengibaratkan pasien-pasien itu mengasah saya, satu-satunya cara yang membuat saya paham caranya. Awalnya, saya bersandar penuh pada obat-obatan seperti insulin dan prosedur seperti dialisis. Dari pengalaman, saya tahu bahwa insulin akan mengundang kenaikan berat badan.

Sebenarnya, semua orang tahu insulin menyebabkan ekskalasi bobot tubuh. Pasien akan curhat dengan nada prihatin. “Dokter,” kata mereka, “Anda selalu mengujarkan kepada saya untuk itu berat badan harus segera didaratkan. Tapi insulin yang kau berikan padaku membuat berat badanku membengkak, banyak pula. Bagaimana ini bisa membantu?”

Sumber Gambar

Untuk waktu yang lama, saya ngeblank, saya beneran tidak memiliki jawaban yang apik untuk mereka, karena fakta itu tidak berkontributif. Masalahnya adalah pasien saya tidak semakin afiat. Satu-satunya yang bisa saya kerjakan adalah saya hanya memegang tangan mereka saat mereka merosot dan kondisinya menjadi lebih buruk lagi dan lagi.

Saya menggarap semua yang dididik kepada saya, tetapi itu tidak ada gunanya. Sia-sia aja.
Secara bertahap, saya sadar apa biang keroknya. Akar bibit seluruh masalah adalah si obesitas itu sendiri. Obesitas melantarkan sindrom metabolik dan diabetes tipe 2, yang menyebabkan semua problem lainnya. Namun semua yang diajarkan kepada saya, hampir seantero sistem pengobatan modern, dengan farmakope-nya, dengan nanoteknologinya, dengan semua sihir genetika senter secara miopik tidak menembak pada masalah ultra inti.

Tidak ada ada satu ahli pun yang menjampi akar penyebabnya. Jika Anda mengobati penyakit ginjal, pasien masih tersisa dengan obesitas, diabetes tipe 2 dan semua komplikasi lainnya. Ini adalah cara saya, dan nyaris setiap dokter lain dibiasakan untuk praktik kedokteran. Tapi itu tidak berjaya.

Kita perlu menjampi dan membongkar obesitas. Kita mencoba untuk mengobati masalah yang disebabkan oleh obesitas daripada obesitas itu sendiri. Ketika orang-orang pupus berat badan-nya, diabetes tipe 2 mereka juga akan memental arahnya. Mengobati akar penyulut adalah satu-satunya solusi logis.

Jika mobil Anda bocor, resolusinya adalah tidak membeli lebih banyak minyak dan alat pel untuk mengeringkan tumpahan. Solusi yang logis adalah menemukan kebocoran dan menambalnya.

Sumber Gambar

Sebagai profesi medis, kami bersalah karena meneledorkan kebocoran itu. Jika Anda bisa memulihkan obesitas di awal, maka diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik tidak bisa membiak. Anda TIDAK dapat menyuburkan  penyakit ginjal jika Anda tidak menderita diabetes. Anda tidak bisa mengelaborasi kerusakan saraf jika Anda tidak pernah mengidap diabetes.
Terbersit  jelas dalam retrospeksi. Ihwalnya adalah saya tidak tahu cara menerbangkan kegemukan. Meskipun telah bekerja lebih dari dua puluh tahun di bidang kedokteran, saya menjaring bahwa rekognisi gizi saya sendiri belum sempurna.

Hal ini memicu pengembaraan selama satu dekade dan akhirnya menyetir saya untuk memformat program Intensif Dietary Management (IDM) dan Klinik Toronto Metabolik. Ketika berpikir serius tentang remedi obesitas, ada satu teka-teki yang sangat krusuial untuk dipahami. Apa yang menyebabkan interpolasi berat badan? Apa gara-gara prinsipilnya?

Alasan kita tidak pernah mereflesikan pertanyaan penting ini adalah kita sudah berpikir kita tahu jawabannya. Kita berpikir bahwa makan terlalu banyak kalori membuahkan obesitas.
Jika ini benar, maka solusi untuk melingsirkan berat badan itu sederhana. Makan lebih sedikit kalori. Tapi kita sudah menghandel kegembrotan dengan cara itu, tapi hasilnya nihil. Ad nauseam. Sampai pegel dan bosan sendiri.

Selama 50 tahun terakhir, satu-satunya degradasi berat badan yang pernah diberikan adalah memotong kalori dan berolahraga lebih banyak. Ini adalah strategi yang maha tidak efektif yang disebut ‘Eat Less, Move More’. Kita telah menyematkan jumlah kalori ke label makanan. Kita memiliki buku penilai kalori. Kita memiliki aplikasi penghitung kalori. Kita memiliki pembilang kalori pada mesin olahraga kita. Kita telah menggarap segala kemungkinan secara manusiawi untuk mereken kalori sehingga kita dapat memenggalnya.

Sumber Gambar

Apa strategi itu sukses? Apakah pon itu meleleh seperti manusia salju pada bulan Juli? Tidak. Terbetik kemungkinan memang seharusnya itu berhasil. Tetapi bukti empiris, polos seperti tahi lalat di ujung hidung Anda, bahwa itu nggak beraksi sama sekali.

Dari sudut fisiologi manusia, seluruh cerita kalori runtuh seperti rumah kartu. Tubuh nggak mengukur kalori karena tidak menyandang sensor kalori. Tubuh tidak mengindahkan ‘kalori’. Tidak ada reseptor kalori pada tekstur sel. Ia tidak memiliki kualifikasi untuk mengetahui berapa banyak kalori yang Anda telan atau tidak makan.

Jika tubuh Anda tidak mengukur kalori, mengapa Anda harus? Kalori murni adalah satuan energi yang disanggam dari fisika. Bidang penyembuhan obesitas, putus asa untuk menemukan ukuran sederhana energi makanan, mengalpakan fisiologi manusia 100% dan beralih ke fisika. Jadi, kami mendapat pepatah ‘kalori adalah kalori’.

Sumber Gambar

Tetapi itu bukan tanda tanya yang saya ingat, dan tak seorang pun pernah bertanya. Sebaliknya, pertanyaannya adalah ‘Apakah semua kalori dari energi makanan sama-sama membelendung si tubuh?’ Jawabannya tidak gamblang. Seratus kalori salad kangkung tidak sama dengan seratus kalori permen, yang satu membuat badan menjadi gempal, yang lainnya enggak sama sekali. Seratus kalori kacang tidak sama dengan seratus kalori roti putih dan selai, efek menggemukkannya tidak sama dong. Tapi selama 50 tahun terakhir, kita berpura-pura mereka sama-sama membuat  tembam.

Jadi saya mulai dari prolog. Menguraikan permadani busuk model Kalori untuk menjawab persoalan yang sangat  elementer dari penyebab super penting dari kenaikan berat badan adalah alasan saya menulis The Obesity Code.

Sumber Gambar

Sejak itu, dalam program Intensive Dietary Management (www.IDMprogram.com) saya telah merawat ribuan pasien selama 5 tahun terakhir. Saya kadang-kadang bertanya-tanya tentang mengapa konsep sederhana tentang menggunakan diet gratis seperti puasa untuk mengobati penyakit diet berlayar menjadi sebuah hambatan? Ini adalah skema medis tradisional.

Beginilah cara tarif sistem medis modern jika orang bisa menelan diet untuk menyopiri kesehatan dan takdir mereka sendiri. Membalikkan diabetes tipe 2, seperti yang saya teliti dalam The Diabetes Code, benar-benar sangat simpel, dan tidak melibatkan pemanfaatan obat-obatan atau operasi yang mahal. Ah, sekarang saya mengerti mengapa diet tidak berhasil menangkap traksi atau problematika sesungguhnya.

Ingin Ramping dan Melangsing? Baca tentang Obesitas

 

Sumber Gambar

              

Semua makanan terdiri dari kombinasi tiga komponen mayor, yang disebut nutrisi makro:

  1. Karbohidrat
  2. Protein
  3. Lemak

Masing-masing nutrisi makro terdiri dari unit fungsional yang lebih kecil. Karbohidrat adalah rangkaian glukosa dan gula lainnya. Protein adalah jalinan asam amino. Lemak (trigliserida) adalah ikatan asam lemak. Ada juga lebih mini, jumlah mikroskopik vitamin (A, B, C, D, E, K dll.) Dan mineral (besi, tembaga, selenium dll), yang dikenal sebagai mikronutrien.

By: Dokter Jason Fung (Understanding Obesity)

Pencernaan memecah nutrisi kapital untuk diserap oleh aliran darah. Lantas menyediakan energi (kalori) dan bahan baku yang dibutuhkan (protein, lemak) untuk membangun sel. Nutrisi krusial tertentu harus diperoleh dari makanan kita, karena tubuh kita tidak dapat membuatnya sendiri.

Ada yang disebut asam amino esensial (seperti arginin dan leusin) dan asam lemak esensial—seperti omega 3 dan omega 6 lemak—, tetapi tidak ada karbohidrat esensial. Tanpa nutrisi vital ini, kita akan jatuh sakit.

Masing-masing dari tiga makro nutrisi dimetabolisme secara berbeda. Karbohidrat, rantai gula—seperti glukosa dan fruktosa—dipecah menjadi gula individual untuk diabsorpsi. Karbohidrat olahan (misalnya tepung) diserap jauh lebih cepat ke dalam aliran darah daripada karbohidrat kasar/ masif yang mungkin masih mengandung sejumlah besar protein, lemak, dan serat.

Sumber Gambar

Protein makanan terdiri dari komponen yang disebut asam amino dan akan diurai selama proses pencernaan. Mereka lantas diedarkan ke hati, yang mana akan digunakan untuk memugar dan memasang kembali protein seluler. Kalo gitu, profesi fundamental dari asam amino ini bukan sebagai sarang si energi, dong. Asam amino digunakan untuk membangun protein seperti sel darah, tulang, otot, jaringan ikat, kulit dll.

Tetapi, jika Anda mengonsumsi protein yang berlebihan, tubuh tidak memiliki cara untuk menyimpan asam amino ekstra ini. Sebaliknya, mereka akan diubah menjadi glukosa oleh hati. Diperkirakan 50-70% protein yang tertelan diubah menjadi glukosa.

Lemak terdiri dari molekul yang disebut trigliserida. Pencernaan lemak membutuhkan empedu yang mencampur dan mengemulsi lemak makanan sehingga lebih mudah diserap ke dalam tubuh. Lemak diserap langsung ke dalam sistem limfatik yang kemudian bermuara ke aliran darah. Trigliserida diambil oleh sel-sel lemak (adiposit). Karena makanan berlemak tidak memerlukan hati untuk pemrosesan awal, tekniknya tidak memerlukan insulin sebagai hormon pemberi sinyal. Dus, lemak makanan hampir tidak berbuntut pada tingkat insulin. Lemak diserap langsung ke lemak tubuh tanpa banyak basa-basi.

Penyimpanan Energi Pangan

Tubuh memiliki dua metode penyimpanan energi yang saling melengkapi. Dapat dikemas dalam bentuk energi seperti:

  1. Glikogen di hati
  2. Lemak tubuh

Sumber Gambar

Ketika Anda makan karbohidrat atau protein (melebihi kebutuhan tubuh), insulin naik. Semua sel-sel tubuh (hati, ginjal, otak, jantung, otot, dll.) secara serentak berfoya-foya menikmati prasmanan glukosa all-you-can-eat yang anda kunyah.

Jika beberapa glukosa tersisa, mereka harus disimpan, dong. Molekul glukosa yang kini sudah dipecah menjadi nafsi-nafsi kemudian dirangkai menjadi rantai panjang yang disebut glikogen. Ini adalah proses yang relatif sederhana. Proses sebaliknya, memecah glikogen kembali menjadi komponen glukosa individu untuk memberikan energi saat kita tidak makan (puasa) juga cukup simpel.

Glikogen dibuat dan disimpan langsung di hati. Ketika insulin naik, tubuh menyimpan energi makanan sebagai glikogen. Ketika insulin jatuh (katakanlah saat sedang berpuasa) tubuh memecah glikogen kembali menjadi glukosa.

Liver glycogen berlangsung sekitar 24 jam tanpa makan. Glikogen hanya dapat digunakan untuk menyimpan energi makanan dari karbohidrat dan protein, bukan lemak diet, yang tidak diproses di hati, dan tidak terurai menjadi glukosa. Ketika gudang glikogen penuh, tubuh menggunakan bentuk penyimpanan energi kedua—lemak tubuh.

Lemak makanan dan lemak tubuh keduanya terdiri dari molekul yang disebut trigliserida. Ketika kita makan lemak diet, mereka diserap dan dikirim langsung ke dalam aliran darah untuk diambil oleh adiposit.

Kelebihan glukosa hati yang tidak dapat dimasukkan ke dalam penyimpanan glikogen penuh harus diubah menjadi trigliserida melalui proses yang disebut ‘de novo lipogenesis’. Hati menciptakan lemak baru dari kolam kelebihan glukosa ini, tetapi tidak dapat menimbunnya. Lemak harus disimpan dalam sel-sel lemak, bukan hati.

Sumber Gambar

Jadi, hati mengekspor lemak sebagai lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL), yang membawanya ke adiposit untuk persediaan jangka panjang. Hati, esensinya mengubah kelebihan glukosa menjadi lemak, dan memindahkannya ke adiposit untuk stok jangka panjang. Ini adalah proses yang jauh lebih melelahkan daripada membentuk kantong glikogen. Keuntungan menggunakan lemak tubuh sebagai penyimpanan energi makanan adalah bahwa tidak ada batasan berapa banyak yang dapat ditimbun. Dua sistem yang berbeda untuk menabung energi makanan ini saling melengkapi dengan perfek. Glikogen mudah dan nyaman, tetapi terbatas dalam ruang penyimpanan. Lemak tubuh lebih sulit dan tidak afiat, tetapi tidak ada limitasi.

Pikirkan glikogen seperti dompet. Uang tunai mudah tersedia, tetapi kapasitasnya minim. Pikirkan lemak tubuh seperti uang di bank. Jauh lebihsulit untuk memindahkan uang bolak-balik, tetapi si depo sungguh tak terhingga. Untuk kegiatan sehari-hari yang biasa, lebih mudah menggunakan dompet Anda. Ini adalah solusi jangka pendek yang lebih baik. Namun, dalam jangka panjang, kita menggunakan bank supaya kita sanggup bertahan hidup, iya nggak, sih?

Kondisi sedang Berpuasa

Dalam keadaan berpuasa, ketika Anda tidak makan, kadar insulin turun karena makanan adalah stimulus utama bagi insulin. Meskipun kata puasa mungkin terdengar menakutkan, itu hanya mengacu pada kapan pun Anda nggak memamah-biak. Ibarat celana dalam, ini hanyalah sisi lain yang dibalik.

Ketika Anda tidur, misalnya, Anda sedang berpuasa. Kata sarapan mengacu pada makanan yang membuka puasa kita, menunjukkan bahwa puasa sesungguhnya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Tubuh kita hanya ada di salah satu dari dua keadaan—fase makan (insulin tinggi) atau periode berpuasa (insulin rendah).

Tubuh kita menyimpan energi makanan, atau sedang menggunakannya. Dalam keadaan berpuasa, kita bergantung pada stok energi makanan kita untuk bertahan hidup. Insulin tinggi memberitahu tubuh kita untuk menumpuk energi di gudang. Insulin rendah memberi sinyal tubuh kita untuk menyedot energi makanan yang disimpan, karena tidak ada hidangan yang masuk.

Pertama, kita memecah glikogen menjadi glukosa untuk energi. Ini berlangsung sekitar 24 jam. Jika beraktivitas lama tanpa makanan, kita perlu menggunakan gudang energi makanan yang lebih sulit diakses di dalam lemak tubuh. Jika Anda menghambur-hamburkan uang tunai di dompet Anda, Anda harus mendapatkan uang tambahan di rekening bank yang lebih sulit diakses. Tubuh yang sehat ada dalam keseimbangan antara mengunyah dan berpuasa. Kadang-kadang kita menyimpan energi makanan (sedang makan) dan kadang-kadang kita membakarnya (lagi berpuasa).

Sulit untuk membakar lemak tubuh, karena secara alami kita kewalahan untuk mendapatkan kanalnya. Ketika insulin menjulang, tubuh Anda ingin menyimpan energi makanan, bukan untuk membakarnya. Insulin memblokir pembakaran lemak. Insulin kekuatan banter memberi tahu kita untuk menjelalkan lemak ke tubuh kita. Ketika si insulin sekarat, ia memberitahu kita untuk menyedot lemak dari badan kita. Jika Anda ingin menurunkan berat badan, Anda perlu melakukan dua hal.

  1. Ketika membuat deposito, buatlah simpanan yang lebih kecil (makan makanan insulin yang lebih rendah). Ini adalah pertanyaan tentang ‘apa yang harus dimakan’. Karbohidrat olahan dan gula cenderung menyebabkan tingkat insulin tertinggi. Karena itu, babat habis (kalo bisa) konsumsi makanan tersebut, atau setidaknya dikurangi.
  2. Anda ingin menarik lemak dari tubuh semaksimal mungkin. Ini adalah pertanyaan tentang ‘kapan harus makan’. Jika Anda menghabiskan lebih banyak waktu dalam keadaan berpuasa, maka Anda akan membakar lebih banyak energi makanan yang disimpan.

Semua penurunan berat badan mencakup dua hal ini:

  1. Apa yang harus dimakan, dan
  2. Kapan harus makan.

Padahal, selama ini kita terobsesi dengan pertanyaan pertama, dan nyaris saja cuek-bebek dengan pertanyaan kedua.

Sumber Gambar

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah lebih baik makan 6 kali sehari, atau satu kali sehari? Jika Anda makan 6 kali sehari, Anda mengatakan kepada tubuh Anda untuk menimbun lemak 6 kali sehari. Itu sepertinya resep untuk patah hati. Kombinasi ajaib dari makan hidangan dengan insulin rendah—hampir semua makanan alami yang tidak diolah—, dan puasa intermiten (ingat bahwa puasa adalah bagian dari kehidupan sehari-hari) adalah metode terbaik, cara paling sederhana dari meramping jangka panjang.

Insulin adalah salah satu pengatur hormon utama dari berat badan. Obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, bukan kalori yang tidak proporsional. Secara sederhana, insulin menyebabkan obesitas, jadi memangkas insulin adalah batu loncatan utama untuk menebas lemak tubuh. Fokus yang berbahaya pada kalori, tidak membidik pada sasarannya, yaitu si hormon yang nggak harmonis. Oleh karena itu, kita memang kudu membuat hormon kembali selaras.