Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Mitos Mengenai Olahraga

Sumber Gambar

Kita tunda dulu pembahasan mengenai hormon. Sekarang mari kita menelaah mengenai pilar nan gigantis mengenai teori CRAP, yaitu kalori masuk dikurangi kalori keluar—yakni, OLAHRAGA. Pemikiran umum berjalan seperti ini.

Obesitas adalah ketidakseimbangan kalori—kalori masuk vs kalori keluar.

Jika masalahnya bukan kalori masuk, maka pasti terletak di kalori keluar. Kalori keluar lebih tepat disebut Total Energy Expenditure (TEE) yang terdiri dari basal metabolic rate (BMR) plus voluntary spending (olahraga).

TEE = BMR + Olahraga

BMR tanggungjawabnya adalah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga metabolik seperti bernapas, menjaga suhu tubuh, menjaga jantung tetap memompa, menjaga organ vital dll. Masalahnya adalah TEE sangat sulit diukur. Oleh karena itu, mari kita asumsikan bahwa BMR selalu konstan. Maka, satu-satunya variabel yang kita khawatirkan adalah berolahraga. Tak lama kemudian, kita membuat asumsi bahwa TEE sama dengan olahraga. Satu masalah kecil adalah bahwa tingkat metabolisme basal tidak stabil. Saat kami menjelajahi seri Kalori, BMR bisa naik atau turun sebanyak 50%. Misalnya, sebagai respons terhadap upaya menurunkan kalori, kita bisa mengharapkan BMR menurun 40-50%.

Tetapi, setelah kembali ke teori CRaP, kita percaya bahwa jika kita cukup berolahraga, maka kita akan ‘membakar’ kalori yang kita konsumsi, dan oleh karena itu, berat badan pun turun. Masa sih?

Jika itu benar, maka kita bisa berharap bahwa saat kita meningkatkam durasi olaharaga, maka lemak pun melumer seiring berjalannya waktu. Sepertinya dugaan yang masuk akal. Iya kan?

Untuk sebagian besar sejarah manusia, gagasan untuk berolahraga sungguh menggelikan. Pastinya, ide bahwa mungkin ada manfaat kesehatan dari berlari atau aerobik tidak ada sampai tahun 1960an. Obesitas juga bukan masalah utama saat itu. Pada tahun 1966, Dinas Kesehatan Masyarakat AS mulai menganjurkan agar kita meningkatkan aktivitas fisik, yang merupakan salah satu cara terbaik untuk menurunkan berat badan.  

By: Dokter Jason Fung  (The Myth about Exercise – Exercise Part I)

Selama beberapa dekade berikutnya, kita menyaksikan ledakan pusat-pusat kebugaran. LA Fitness dan studio aerobik lainnya tumbuh seperti jamur setelah badai hujan. Buku-buku seperti The Complete Book of Running oleh Jim Fixx menjadi buku terlaris pada tahun 1977. Fakta bahwa dia meninggal pada usia 52 tahun karena serangan jantung masif  diabaikan. Buku Dr Kenneth Cooper “The New Aerobics” merupakan bacaan wajib pada tahun 1980 (saat SMA). Semakin banyak orang mulai memasukkan olahraga ke waktu senggang mereka. Jika olahraga benar-benar penting dalam memerangi obesitas, maka saat meningkatkan durasi, kita harus melihat adanya penurunan obesitas seperti yang mungkin kita harapkan dari teori CRaP.

You go girl!

Inilah masalahnya. Semakin banyak orang yang berolahraga, tetapi sama sekali tidak berpengaruh, obesitas masih saja merupakan epidemi. Oh, snap.  Dan, fakta pun menyembul keluar, semua merasa malu bagaikan nudis tertangkap basah mengenakan bajunya. Obesitas meningkat bahkan saat kita berkeringat dengan oldies. 

Seperti yang dapat Anda lihat pada grafik di atas, ada korelasi 82% antara olahraga dan obesitas. Artinya, saat kita meningkatkan olahraga, obesitas meningkat. Jangan salah paham. Maksud saya bukan berarti bahwa olahraga menyebabkan obesitas.

Kemungkinan besar, saat kita menjadi lebih gemuk, kita meningkatkan olahraga untuk mencoba menurunkan berat badan. Tapi itu tidak berhasil. Padahal, bukti utamanya benar-benar pengalaman pribadi. Siapa yang belum mencoba olahraga untuk menurunkan berat badan? Itu tidak berhasil.

Lihat makalah ini “Prevalensi aktivitas fisik dan obesitas di negara bagian AS 2001-2011″. Jika kita percaya bahwa aktivitas fisik yang rendah menyebabkan obesitas (CRaP), maka seharusnya, dengan pontang-panting olahraga kita pun melangsing. Kedengarannya legit … 

Menurut data NHANES, di Amerika, aktivitas fisik meningkat pada populasi orang dewasa di Amerika.

Daerah tertentu (berwarna hijau tua dan biru – Kentucky, Virginia, Florida dan Carolina Twins) olahraga meningkat dengan kecepatan tinggi. You go girl!

Sumber Gambar

Jadi kita mungkin mengharapkan penurunan prevalensi obesitas. Nah inilah kebenaran yang menyedihkan. Tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi tidak mengurangi obesitas. Apakah aktivitas fisik meningkat atau menurun, hampir tidak ada hubungan dengan prevalensi obesitas. Tidak ada penurunan obesitas yang terukur dari latihan yang meningkat. Olahraga hanyalah sia-sia. Tidak relevan.

Sama pentingnya dengan kesibukan yang dilakukan guru sekolah dasar untuk mencegah anak-anak tidak melakukan kenakalan.

Tunggu, bagaimana dengan anak-anak? Mungkin olahraga lebih penting untuk obesitas masa kecil? Mari kita lihat artikel “Asosiasi antara perilaku tak beraturan yang diukur secara obyektif dan indeks massa tubuh pada anak-anak prasekolah” yang diterbitkan pada tahun 2013.

Anak-anak usia 3-5 dijadikan volunteer, dan aktivitas mereka diukur dengan menggunakan akselerometer dan ini dibandingkan dengan beratnya. Inilah kesimpulan mereka “Terlepas dari cutpoints yang digunakan, perilaku menetap yang diturunkan dari akselerator tidak dikaitkan secara independen dengan skor z-BMI dalam dua sampel independen anak-anak prasekolah.”

Terjemahan ke bahasa Indonesia? Tidak ada hubungan antara aktivitas dan obesitas. Aw Dang. Kita mungkin juga memiliki ide yang telah berakar sebelumnya bahwa masyarakat primitif bergerak lebih banyak daripada kita. Inilah hipotesis “Mobil”.

Masyarakat primitif biasa berjalan kemana-mana. Sekarang kita menyetir. Oleh karena itu mereka makan banyak tapi mereka membakar semuanya dengan olahraga yang tidak disengaja. Seperti penipuan yang bagus, yang satu ini terdengar cukup masuk akal pada awalnya. There is a eensy weensy problem, though. Itu salah kaprah.

Peneliti Herman Pontzer menemukan satu komunitas pengumpul-pemburu modern seperti – Hadza di Tanzania. Banyak hari mereka akan menempuh jarak 15-20 mil untuk mengumpulkan makanan.

Dengan aktivitas seperti itu, orang mungkin berasumsi bahwa pengeluaran energi harian mereka jauh lebih tinggi daripada pekerja kantor modern. Dan New York Times “Membongkar olahraga Hunter-Gatherer” dia membahas hasil yang mengejutkan.Kami menemukan bahwa terlepas dari semua aktivitas fisik ini, jumlah kalori yang dikonsumsi Hadza setiap hari tidak dapat dibedakan dari orang dewasa biasa di Eropa dan Amerika Serikat. Sami mawon.

Sumber Gambar

Kami menjalankan sejumlah tes statistik, menghitung massa tubuh, massa tubuh tanpa lemak, usia, jenis kelamin dan massa lemak, dan tetap tidak menemukan perbedaan dalam pengeluaran energi harian antara Hadza dan rekan-rekan Barat mereka.

Apa lagi itu? Tidak ada perbedaan dalam kalori harian yang dibakar antara pengumpul Hadza yang selalu berjalan seharian dan pantat keledai saya yang malas. Beneran tuh?. Oui. Ja. Itu benar, pak. WTF – Bagaimana ini bisa terjadi? 

Alasannya adalah kompensasi. Suku Hadza, yang berjalan sepanjang hari, akan mengurangi aktivitas fisik mereka bila tidak perlu. Orang-orang Amerika Utara yang duduk seharian, di sisi lain, kemungkinan meningkatkan aktivitas mereka. Pikirkanlah seperti ini.  Jika Anda telah berjalan seharian mengumpulkan akar dan serangga untuk dimakan, hal terakhir yang ingin Anda lakukan di waktu luang Anda adalah dengan menempuh jarak 10 km.

Di sisi lain, jika Anda telah duduk dalam sebuah meeting sepanjang hari, maka lari 10 km setelah selesai bekerja terdengar aduhai. Inilah intinya.  Tidak ada asosiasi terukur antara obesitas dan aktivitas fisik. Saya tidak mengatakan olahraga tidak baik untuk Anda. Hanya saja bukan merupakan senjata super untuk meluruhkan lemak.

Kita percaya bahwa olahraga efektif untuk menurunkan berat badan karena telah dibor ke kepala kita sejak sekolah dasar. Korelasinya sama sekali tidak ada. Ada yang mengira itu terdengar brilian, tapi buktinya sama sekali tidak mendukung hubungan ini.

Ingin Ramping dan Kurus? Aku Bisa Membuatmu Kurus Dengan Cepat Lho

Sumber Gambar

Berdasarkan Hormonal Obesity Theory (HOT), kita telah menarik sebuah dalil  bahwa insulin dengan kadar tinggi dapat menyebabkan obesitas. Meski kita telah membatasi asupan kalori, makan super sedikit, namun jika kita menyuntikkan insulin atau meminum obat yang menstimulasi insulin (sulphonyureas), kita tetap akan menggemuk. Jika memang teori ini benar adanya, maka, jika kita mengurangi insulin, harusnya kita meramping dong. Dengan kata lain, walaupun kita menambah kalori, tetapi jika insulin ditekan, seharusnya kita sanggup membuang lemak. Faktanya, ternyata teori tadi benar 100%.

Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun pankreas. Apakah itu? Sel penghasil insulin di tubuh telah rusak. Oleh karena itu, level insulin terjun bebas ke tingkat yang sangat rendah. Gula darah meningkat dalam darah. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penurunan berat badan yang parah. Deskripsi klasik Aretaeus tentang diabetes tipe 1 “Diabetes adalah … mencairnya daging dan anggota badan menjadi air kencing”. Artinya, apa pun yang kamu makan, kamu tetap akan kurus kerontang. Sebelum ditemukan insulin, penyakit ini selalu berakibat fatal. Esensinya, insulin adalah sinyal bagi tubuh untuk menimbun lemak. Jika kita memberi insulin, tubuh akan bertambah gemuk. Jika kita menyedot insulin keluar, kita akan melangsing.

By: Dokter Jason Fung (I Can Make You Thin…Insulin – Hormonal Obesity V)

Dengan kalimat lain artinya adalah insulin merupakan salah satu pengendali utama bodi set weight (BSW). Jika jumlah insulin naik, tubuh kita diperintahkan untuk menambah berat badan. Inilah yang membuat nafsu makan kita menggila. Kita akan merasa sangat lapar dan terpaksa makan.

Jika kita tidak makan, kemudian tubuh akan menurunkan Total Energy Expenditure (TEE) atau Kalori keluar, sehingga meskipun kita makan sedikit semuanya berubah menjadi daging dan lemak. Nafsu makan menggelegak dan malas bergerak adalah akibat dan efek samping dari obesitas bukan penyebab kegemukan.

 The Great Gary Taubes telah mengatakan-

Kita tidak gemuk karena kita makan berlebihan

Kita makan berlebihan karena kita gemuk

Oleh karena itu, sekarang kita bisa membikin pertanyaan sempurna. Mengapa kita gemuk? Kita menjadi gendut karena kadar insulin kita terlalu tinggi. Dalam sebagian besar kasus, insulin adalah pemain utama dalam obesitas. Meskipun, bukan satu-satunya pelaku kejahatan—kortisol juga memainkan peran. Kortisol adalah hormon stres.

Nah, sekarang, jika kita berhipotesis bahwa kortisol yang meluber bisa mengakibatkan kegemukan, mudah saja solusinya, mari kita beri pasien asupan kortisol, lantas kita amati, apakah ia menggemuk atau tidak.

Kita bisa mengobservasi kasus dimana kortisol terlalu banyak diproduksi di tubuh. Ini disebut penyakit Cushing atau Cushing’s Syndrome. Ciri penyakit ini? Menggemuk.

Sumber Gambar

Di pasaran terdapat obat sintetis kortisol—sangat lumrah digunakan sebagai obat yang disebut prednisone, yaitu kortikosteroid. Ini adalah anti-inflamasi yang setrong dan sering digunakan dalam pengobatan asma, lupus dan gangguan inflamasi lainnya. Jadi, kalau kita memberikan prednison kepada seseorang, apa yang terjadi? Sindrom cushinoid akan berkembangbiak.

Dengan kata lain, pasien ini terlihat seperti berpenyakit Cushing. Sebagian besar mereka menyadari fakta bahwa mereka bertambah gemuk. Ciri khasnya, distribusi lemak tidak merata, dimana dinamakan obesitas truncal, yang artinya lemak tertimbun di bagian tengah tubuh, bukan di tempat biasanya lemak bersemayam (lengan dan kaki).

Sumber Gambar

Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Jika kita percaya bahwa kortisol dapat menyebabkan obesitas, lalu bagaimana jika tingkat kortisol turun ke tingkat yang sangat rendah? Ya, ada juga penyakit Addisons. Ini juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal.

Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan jika kelenjar ini rusak, maka kadar kortisol serta hormon lainnya berada di level sangat minimal. Ciri penyakit Addison? Penurunan berat badan.

Jadi apakah kunci kegemukan? Hormon. Dan ini adalah hubungan kausal. Satu hal menyebabkan yang lain. Ini adalah hubungan yang jauh lebih bertenaga dibandingkan kebanyakan studi korelasi (lihat peraturan #2 – Studi korelasi kebanyakan omong kosong)

Jika kita meningkatkan insulin, kita bertambah gemuk. Jika kita menurunkan insulin, kita menurunkan berat badan. Bobot tubuh kita (dan juga segala sesuatu di tubuh) diatur oleh hormon.

Variabel fisiologis yang penting bukan pada asupan kalori namun regulasi hormon. Kamu menggemuk jika hormon insulin dan kortisolmu tumpah-tumpah. Ini sungguh masuk akal.

Pertimbangkan hal ini. Jika kita makan 2000 kalori/ hari, jumlahnya mencapai 730.000 kalori dalam setahun (2000 * 365 = 730.000). Hampir semua orang, menambah berat badan sekitar 1-2 pon per tahun. Tidak banyak, tapi  bayangkan jika lebih dari 25 tahun, timbunan lemak di tubuh kita bisa mencapai 50 pound, ekstra. Dalam istilah kalori, ini berarti kelebihan kalori dari 7.200 kalori selama 1 tahun dengan asumsi bahwa 1 pon lemak kira-kira 3.600 kalori.

Tingkat kesalahannya sangat rendah, bahkan tidak mencapai angka 1%. Jika kita mempunyai kemampuan untuk melacak berapa banyak kalori yang kita makan dan berapa banyak kalori yang kita bakar, apakah menurutmu kamu bisa menghitungnya dengan sangat akurat? Sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu berapa banyak kalori yang kita makan atau bakar pada waktu tertentu! Iya kan? Bagaimana ini bisa dikendalikan oleh otak rasional kita?

Seharusnya tubuh kita seperti ini. Idealnya. Tanpa insulin dan kortisol berlebihan.

Kita tidak mengendalikan berat badan kita, sama halnya kita nggak bisa mengontrol detak jantung kita. Keduanya berlangsung secara otomatis di bawah pengaruh hormon. Hormon memberitahu pada saat kita lapar. Hormon membisiki kita bahwa kita kenyang.  Hormon memberi tahu kita kapan harus meningkatkan pengeluaran energi. Hormon memberi tahu kita kapan harus memblokade energi mengalir.

Obesitas adalah disregulasi hormonal, yang mengakibatkan akumulasi lemak. Saat kita memforsir pengeluaran hormon, kita terkena penyakit seperti obesitas. Jika kita bisa mengerti bahwa obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, maka kita siap untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya—bagaimana kita mengatasi obesitas?

Jika kita percaya bahwa kelebihan kalori menyebabkan obesitas (Kalori Reduksi sebagai Primer) maka pengobatannya adalah mengurangi kalori. Dan ini adalah salah kaprah. Pemahaman gagal total. Jika kita paham bahwa obesitas disebabkan oleh insulin yang membludak, maka kita perlu menggeret insulin di kadar rendah.

Faktanya, jika kita melihat di data ini, bahwa pemahaman kita tentang obesitas keluar gelanggang dan tidak karu-karuan sejak zaman William Banting (pertengahan 1800an). Dari pertengahan 1800 sampai pertengahan 1900-an mereka percaya bahwa gula dan pati menyebabkan obesitas. Kegemukan diobati dengan memangkas gula dan pati. Dan hei, coba tebak, mereka telah sukses parah.

Dari tahun 1950 sampai 2000an, kita percaya bahwa kalori menyebabkan obesitas. Hal ini menyebabkan saran diet membatasi kalori—yang mana sudah pasti menuju gerbang neraka kegagalan. Dan hei, coba tebak, tingkat obesitas pun meledak.Kini, dengan membaca postingan ini kita 100% paham tentang dasar-dasar hormonal obesitas, kita sanggup melihat sebuah lingkaran utuh, dan kita sadar sebuah fakta bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab menjamurnya obesitas.

Kuncinya adalah me-restore insulin, dan menurunkan tingkat kortisol ke level sangat rendah. Sekali lagi, trik jitunya bukan menyeimbangkan kalori—namun menyelaraskan hormon.

Ingin Ramping dan kurus? Baca Tentang Insulin Menyebabkan Kamu Menggemuk

Sumber Gambar

Pada postingan sebelumnya, kita telah membedah hubungan antara insulin dengan obesitas. Kaitannya, bukan hanya bumbu pelengkap penyebab gemuk, namun sebagai pelaku utama. Selama beberapa dekade kita telah keliru, mengira yang menyebabkan kegemukan adalah kalori (teori CRAP). Hipotesis ini bagaikan jembatan yang belum kelar dibangun, namun dipaksa untuk dipakai. Studi demi studi menunjukkan bahwa mengurangi kalori TIDAK menyebabkan kurus. Pasien demi pasien telah mencoba menurunkan berat badan dengan membatasi kalori, namun tingkat gagalnya 100%, dan konsisten gagal maning gagal maning. Tapi, kita nggak bisa menyalahkan model kalori begitu aja dong, lantas apa sih yang menyebabkan kita batal melangsing? Salahkan saja pasiennya.

Karena pasien selalu gagal melangsing, atau berhasil menjadi ramping namun menggemuk lagi (diet yoyo), hanya ada 2 kemungkinan:

  1. Saran untuk mengurangi porsi makan, diet ketat, makan hidangan rendah lemak, tambah porsi olahraga adalah saran yang salah.
  2. Atau pasiennya bandel bin bader alias tidak mau mengikuti saran di atas tadi.

Dan sepertinya, orang-orang berasumsi para pasien tidak patuh, sehingga para dokter dan ahli gizi ini lantas memarahi, mengejek, meremehkan, menegur, mencaci dan menghujat. Kemudian kita berteriak-teriak lagi, kurangi porsi makan, bergerak lebih aktif. Seolah-olah kedua saran itu bisa menyembuhkan masalah mereka. Lagi pula, piramida makanan tidak mungkin salah, kan? Iya toh? Tapi, sialnya, meski pasien telah mengikuti anjuran tadi, si lemak membandel tak mau enyah juga. As a nagging tooth.

Para dokter, pastinya, tertarik dengan hipotesis Crap bagaikan semut tertarik pada gula. Obesitas bukan karena kita telah gagal paham mengenai akar masalahnya, namun sederhana saja, karena pasien pemalas dan rakus. Itu adalah permainan favorit mereka—menyalahkan pasien. Tapi, tentu saja, masalah utamanya  adalah hipotesis CraP. Itu salah total.

By: Dokter Jason Fung

Insulin Causes Weight Gain – Hormonal Obesity IV

Jika kamu menambah porsi makanmu alias menambah kalori, penambahan itu tidak akan menyebabkan kamu menggemuk, jadi, jika kamu mengurangi porsi makanmu, artinya, kamu juga tidak akan melangsing. Olahraga pontang-panting juga sia-sia, dan pembahasan lebih dalam akan kita beberkan di postingan selanjutnya. Jadi, jika begitu, apa dong yang sebenarnya merupakan etiologi obesitas? Insulin.

Apa yang terjadi bila kita memberi dosis tinggi insulin kepada pasien? Insulin membuat pasien bertambah gemuk. Semakin banyak insulin yang dia konsumsi, semakin banyak bobot yang ia dapatkan. Hampir tidak masalah berapa banyak kamu makan dan seberapa lama durasi olahragamu. Kamu akan terus membulat.

Kami telah mendemonstrasikan prinsip ini dengan melakukan percobaan yang aduhai dan intensif pada para pasien diabetes. Para peneliti telah menunjuk 14 pasien  diabetes dan menambah insulin sampai gula darahnya berangsur normal. Pada awalnya, mereka hanya minum pil. Selama 6 bulan, insulin ditingkatkan sampai dengan 100 unit per hari. Berat Badan meningkat sebesar 8,7 kg (19 lbs). Dan lucunya, asupan kalori harian mereka telah kita kurangi hingga 300 kalori/ hari. Dengan kata lain, meski makan lebih sedikit, berat badan pasien bertambah dan semakin menggila. Itu berarti bahwa bukan kalori yang mendorong kenaikan berat badan. Penyebab absolutnya adalah insulin!

Sumber Gambar

Coba pikir sekali lagi. Insulin adalah sinyal hormonal bagi tubuh untuk menimbun lemak—Body Set Weight (BSW). Jika insulin meningkat, kita meningkatkan BSW kita. Untuk mencapai bobot baru yang lebih tinggi ini, kita perlu makan lebih banyak atau mengurangi total pengeluaran energi (TEE). Jadi insulin membuat kita gemuk. Agar berubah menjadi gendut, si tubuh akan makan lebih banyak atau mengurangi TEE. Perilaku makan sebakul adalah sebagai respons terhadap sinyal hormonal untuk menggemuk. Dalam penelitian ini, dosis insulin meningkat secara masif alias besar-besaran. Di bawah sinyal hormonal ini, tubuh mencoba menambah berat badan (meningkatkan BSW). Seiring bertambahnya berat badan, pasien mencoba membatasi kalori. Karena mereka makan lebih sedikir, tubuh mereka terpaksa ‘dimatikan’ agar menghemat energi untuk menambah berat badan. TEE diturunkan. Kita merasa lelah, dingin, dan lapar.  Dan berat badan masih saja merangkak naik. Kedengarannya seperti diet rendah kalori model jadul a.k.a konvensional. Diet, olahraga, lemas lunglai lemah lesu dan masih saja belum bisa menurunkan berat badan. Faktanya, jika kita lebih teliti, ada korelasi langsung antara dosis total dan penambahan berat badan. Semakin banyak insulin yang diberikan, pasien semakin menggemuk. Semakin tinggi kadar insulin, semakin banyak bobot yang didapat. Insulin menyebabkan obesitas.

 Sebuah studi yang lebih baru (N Engl J Med 2007; 357: 1716-30 Holman RR) menunjukkan efek yang sama persis.

Dalam penelitian ini, 708 penderita diabetes diberikan insulin per oral atau diminum. Apa yang terjadi dengan berat badan mereka? Naik dong. Bukan surprise sih sebenarnya. Setiap ahli klinis sudah mengetahui bahwa insulin membuatmu menggemuk. Dan pasien yang diberi dosis tertinggi menggemuk paling drastis. Mereka yang mendapat sedikit, mendapatkan bobot paling sedikit. Insulin tidak hanya menyebabkan obesitas secara general, tapi juga bisa menyebabkan pertumbuhan lemak lokal. Mereka yang rutin menyuntikkan insulin terkadang mengalami lipohipertrofi.

Ini semakin memperkuat anggapan kita bahwa insulin adalah sinyal untuk menimbun lemak. Ada juga sih yang membantah bahwa obat diabeteslah yang bisa menyebabkan kita menimbun lemak. Saat kita mengurangi gula darah, gula diambil dari darah dan diubah menjadi lemak. Jika ini benar, pengobatan diabetes apa pun harus menyebabkan kenaikan berat badan yang sama. Kita bisa membandingkan pengobatan diabetes tipe 2 dengan obat yang berbeda. Beruntungnya, penelitian ini sudah selesai dilakukan. Ini adalah UKPDS gigantis (Pembelajaran Diabetes prospektif yang dilakukan oleh Inggris).

Begini penjelasannya. Ada beberapa pil untuk diabetes (oral hypoglycemics). Sulphonylureas (SU) adalah kelas pengobatan yang akan merangsang pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Jika insulin menyebabkan obesitas, seperti teori obesitas hormonal, maka kelas obat ini seharusnya membuat kita menggemuk.

Metformin adalah kelas pengobatan yang lain. This is an entirely different kettle of fish. Hal ini dianggap sebagai sensitizer insulin. Artinya, membantu insulin dalam tubuh bekerja lebih efisien. Obat ini tidak meningkatkan kadar insulin serum. Obat ini kece badai.

Sekarang kita bisa membandingkan efek berbeda dari 3 jenis obat—insulin, SU, dan metformin. Mereka semua memiliki efek mengurangi gula darah, namun efeknya pada kadar insulin dalam tubuh berbeda satu sama lain. Insulin akan menaikkan kadar darah paling banyak, SU akan menaikkan kadar tapi tidak sebanyak insulin, dan metformin tidak sama sekali. Apa efeknya terhadap berat badan? Seperti yang kita duga, kelompok insulin meningkatkan berat badan paling banyak. Klorpropamida dan gliburide (sulphonyureas) juga meningkatkan berat badan, tapi tidak sebanyak insulin. Kelompok metformin bersifat netral pada berat badan. Kelompok ini tidak menyebabkan pasien menggemuk. Jadi insulin, dan gliburide (yang mana meningkatkan kadar insulin) keduanya membuat pasien menjadi gemuk. Metformin, yang mengobati gula darah namun TIDAK menaikkan kadar insulin tidak menaikkan berat badan.

Sumber Gambar

Sejak dipublikasikannya UKPDS, ada obat baru yang diperkenalkan untuk mengobati diabetes.  Ini adalah kelas pengobatan DPP4. Mekanisme kerja obat ini adalah meningkatkan kadar insulin sebagai respon terhadap makanan. Obat ini tidak menyebabkan peningkatan tingkat insulin yang terus-menerus. Seperti yang kita harapkan, DPP4 bersifat netral pada berat badan. Dalam penelitian ini, glipizide (sulfonilurea yang meningkatkan kadar insulin), menyebabkan penambahan berat badan. Januvia, yang tidak menaikkan kadar insulin terus-menerus, tidak menyebabkan pasien menggemuk. Ini terlepas dari kenyataan bahwa gula diperlakukan ke tingkat yang sama. Hasilnya sangat konsisten. Obat yang meningkatkan kadar insulin menyebabkan kenaikan berat badan.

Menurunkan kadar insulin menyebabkan kita melangsing. Dengan hal ini, seharusnya membuat kita semakin menyadari pentingnya faktor hormonal pada obesitas.

Baru-baru ini, penelitian lain yang berjudul “Resistensi insulin dan peradangan memprediksi perubahan berat badan kinetik” menunjukkan bahwa prediktor kuat dari kembalinya di berat badan adalah resistensi insulin. Bukan willpower. Bukan asupan kalori. Bukan dukungan orang sekitar.

Insulin. Insulin. Insulin. Ini semua tentang insulin.

Di bawah pengaruh insulin, tubuh kita menerima instruksi untuk “menimbun lemak”. Sebagai responnya, kita makan lebih banyak dan/ atau mengurangi pengeluaran energi. Ini bukan tindakan sukarela.

Ingat ini: Pertanyaannya adalah BUKAN cara menyeimbangkan kalori, pertanyaannya adalah bagaimana menyeimbangkan hormon kita. Dalam kebanyakan kasus, pertanyaan krusial bukanlah bagaimana mengurangi kalori tapi bagaimana cara mengurangi insulin.

INGIN RAMPING DAN KURUS? SIMAK TENTANG INSULIN

Sumber Gambar

Jaman now  adalah masa dimana obesitas telah menjadi epidemi. Bukan hanya di Indonesia, namun di dunia. Kapankah titik baliknya? Wabah kegemukan dimulai pada tahun 1977. Dan, penyebabnya adalah? Apakah karena kemana-mana orang lebih memilih “naik” motor atau mengendarai mobil? Apakah karena gaya hidup zaman sekarang yang menyebabkan orang nggak sempat berolahraga? Untuk menjawab pertanyaan olahraga versus obesitas kita akan membahasnya nanti. Dengan pemeriksaan lebih lanjut dan seksama, hipotesis CARS seperti menyimpan air di keranjang jerami. Lihat penelitian terbaru mengenai kebiasaan menyetir. Dari tahun 1946 sampai dengan 2007 jumlah mil perkapita memang naik, namun tidak mengalami lonjakan tajam.  Jadi sudah sangat jelas, bahwa mobil bukan faktor krusial yang mengakibatkan obesitas.

Teori ini sama amburadulnya dengan pertunjukan sirkus tanpa badut. Cacat parah. Dan jika kita percaya kabar-kabur tentang menjamurnya restoran cepat saji merupakan penyebab mayor obesitas, itu juga sama fatalnya. Meskipun harus saya akui bahwa makanan cepat saji memang sangat menggemukkan—-diproses sangat panjang dan kaya akan karbohidrat yang membuat gendut teramat sangat—tetapi, tidak ada berita tentang membumbungnya restoran cepat saji pada tahun 1977. Peningkatannya hanya naik secara bertahap dan tidak signifikan selama beberapa dekade. Pertanyaan penting selanjutnya, memang naiknya kendaraan dan makanan cepat saji akan berkontribusi pada kenaikan obesitas, namun apakah penyebab kenaikan mendadak pada tahun 1977? Dugaan jitu saya adalah adanya pedoman diet—yang sialnya merugikan—untuk orang Amerika pada tahun 1977. Panduan diet itu sungguh ngawur, bagaikan mempekerjakan pedagang kaki lima untuk mengelola korporasi besar, kita tiba-tiba berpindahhaluan dari diet berdasarkan saran nenek moyang ke diet ala pemerintah Amerika (yang juga diadopsi oleh Indonesia). Saran ini tidak diputuskan melalui konsensus ilmiah. Tidak ada konsensus medis. Malah yang memutuskan adalah para politisi dan hanya melalui rapat beberapa hari saja. Apakah yang disarankan? Makan lebih banyak karbohidrat. Kurangi lemak dan lemak jenuh. Akibatnya? Epidemi obesitas. Sebenarnya kita juga yang salah. Ekspektasi kita terlalu tinggi. Ngapain ngarep dari para politisi?

By: Dokter Jason Fung

I Can Make You Fat…Insulin – Hormonal Obesity III

Sumber Gambar

Lalu apa yang menyebabkan obesitas? Apa itu etiologi? Menurut pandangan tradisional, misalnya menurut Charles Banting, penyebab obesitas adalah gula dan tepung. Sebelum teori tentang kalori mewabah, ada pandangan konvensional lainnya—terutama dari pemikir dari Jerman dan Eropa. Esensi dari perang dunia kedua adalah menghapus sebagian besar para pemikir Eropa dan menginterpretasikan kalori cacat menjadi ortodoksi gizi. Obesitas dihipotesiskan menjadi suatu penyimpangan hormonal dari massa lemak. Artinya, ada sinyal hormonal dari tubuh yang mengendalikan massa lemak. Misalnya, thyroid stimulating hormone (TSH) mengendalikan tiroid. Growth hormone (GH) mengendalikan pertumbuhan sel. Hormon seks (testosteron dan estrogen) mengendalikan pematangan seksual. Ini disebut kelenjar endokrin dan zat yang mengendalikannya adalah hormon. Inilah Teori Obesitas hormonal (HOT). Stimulus utamanya kemungkinan besar adalah insulin. Selain insulin, kortisol juga berperan (namun lebih rendah).

Hormon adalah sinyal bagi tubuh untuk menumpuk lemak. Oleh karena itu, dengan sinyal itu, tubuh bisa memutuskan :

  1. Apakah menimbun lemak?
  2. Apakah makan atau olahraga lebih banyak?
  3. Ataukah meningkatkan pengeluaran energi?

Ada beberapa kelebihan teori ini. Pertama, sel lemak, seperti semua sistem lain di tubuh berada di bawah kontrol hormon. Artinya, dorongan untuk makan bukan berada di bawah otak sadar kita, namun di bawah kontrol otomatis. Ini akan menentukan baik tingkat lapar atau level metabolisme basal.

Selain itu, makna lainnya adalah, kalori masuk dan kalori keluar sama sekali tidak penting. Mereka akan bekerja sama untuk meningkatkan atau menurunkan obesitas berdasarkan sinyal hormonal. Seperti yang telah kita lihat di seri Kalori sebelumnya, asupan kalori dan pengeluaran kalori disinkronkan dengan ketat.

Jika teori ini benar, maka hipotesis ini sangat mudah dibuktikan atau disangkal. Jika insulin menyebabkan obesitas (etiologinya), maka, simpel saja solusinya, beri insulin dan lihatlah mereka menjadi obesitas.

Insulin ditemukan pada tahun 1921 oleh Banting dan Best di University of Toronto. Diabetes tipe I adalah penyakit yang diakibatkan oleh penghancuran sel-sel penghasil insulin secara autoimun di pankreas. Hal ini menyebabkan tingkat insulin sangat rendah, dan untuk menyembuhkannya cukup dengan injeksi insulin saja. Tetapi, insulin memiliki manfaat lain. Pada tahun 1923, insulin telah digunakan sebagai obat gemuk untuk anak-anak yang mengalami kondisi kurus yang kronik.

Dan inilah jutaan pertanyaan yang muncul. Jika insulin menyebabkan obesitas, maka insulin bisa menyebabkan obesitas. Jika saya menyuntikkan insulin, apakah mereka akan menggemuk? Jawaban singkatnya adalah YA.

Sebenarnya, hampir semua dokter yang meresepkan insulin untuk pasien diabetes tipe I atau tipe II sudah tahu fakta ini. Pasien yang memakai insulin juga sudah sangat sadar tentang hal ini. Semakin banyak dosis yang disuntikkan, maka kamu akan semakin bulat. Ini hanyalah fakta hidup yang tak terbantahkan.

Mari kita lihat sebuah studi awal pada penderita diabetes tipe I. “Pengaruh pengobatan diabetes intensif terhadap berat badan orang dewasa dengan diabetes tipe 1 dalam Uji Kontrol dan Komplikasi Diabetes.”

Penderita diabetes tipe satu membutuhkan insulin untuk bertahan. Dalam percobaan ini, mereka mengacak 2 kelompok pasien. Satu kelompok akan mendapatkan jumlah minimal insulin. Kelompok kedua mendapatkan dosis yang lebih banyak untuk menjaga agar gula dibawah kontrol. Idenya, yang sudah terbukti, adalah mengontrol gula secara ketat membantu mengurangi komplikasi diabetes. Tetapi, apa yang terjadi dengan berat badan? Kamu bisa lihat bahwa grup dengan dosis insulin yang lebih besar lebih dari 9 tahun, berkembang secara signifikan akan menyebabkan masalah utama dibandingkan dengan grup rendah.

Sumber Gambar

Yowzers! Dengan mengikuti mereka selama 9 tahun, lebih dari 30% pasien menggemuk. Hefty hefty. Apakah pasien ini bandel dan tidak patuh? Apakah mereka lebih malas dari sebelumnya? Apakah mereka lebih rakus? No No and No. Mereka disuntik insulin. Itu membuat mereka gemuk. Sebenarnya, ada korelasi langsung antara kedua total dosis insulin dan rata-rata serum insulin dan penambahan berat badan. Ada hubungan dosis-respons.

Semakin tinggi dosis insulin, kamu akan semakin gemuk. Semakin tinggi kadar insulin dalam darah, berat badan kamu semakin bertambah. Bagaimana dengan penderita diabetes tipe 2? Terkadang pasien ini juga mengonsumsi insulin. Sebuah studi untuk menangani masalah yang tepat ini berjudul

Intensive blood-glucose control with sulphonylureas or insulin compared with conventional treament and risk of complications in patients with type 2 diabetes” Lancet 1998 Sep 12;352(9131):837-53

“Kontrol glukosa darah intensif dengan sulphonylureas atau insulin dibandingkan dengan treament konvensional dan risiko komplikasi pada pasien dengan diabetes tipe 2” Lancet 1998 Sep 12; 352 (9131): 837-53
Pada diabetes tipe 2 peningkatan dosis insulin menyebabkan obesitas. Pada awal penelitian, bobotnya sama pada kedua kelompok. Mereka diacak untuk pengobatan, satu dengan kandungan insulin lebih banyak, kelompok kedua dengan insulin lebih rendah. Dengan insulin lebih tinggi maka pasien tersebut lebih gemuk. Semua ini mengarah pada kesimpulan yang tak terhindarkan dari penelitian ini bahwa Insulin menyebabkan obesitas. Mereka yang mengkonsumsi lebih banyak insulin mendapat tambahan 10,5 pon rata-rata dibandingkan dengan insulin yang lebih rendah.

Dengan kata lain—saya bisa membuat kamu gemuk. Saya bisa membuat semua orang menjadi gemuk. Hanya dengan menyuntikkan insulin.