Serat Mengurangi Insulin

Sumber Gambar

Mengapa kita makan? Apa yang kita pertimbangkan ketika mengunyah sesuatu? Kita menyantap makanan karena kita ingin mendapatkan vitamin, mineral dan nutrisi, ya kan? Kita berpikir bolak-balik tentang komponen mana yang akan menutrisi tubuh.  Tetapi, peran serat sangat bertolak belakang. Efek serat adalah sebagai anti gizi. Kemampuan serat adalah untuk mengurangi penyerapan dan pencernaan. Peran serat ialah meminimalisasi. Dalam kasus gula dan insulin, ini bagus. Serat larut mengurangi penyerapan karbohidrat, yang pada gilirannya mengurangi kadar glukosa darah dan insulin.

Dalam sebuah penelitian, penderita diabetes tipe 2 diberi makanan cair yang mengandung 55% karbohidrat dengan atau tanpa penambahan serat makanan. Serat mengurangi glukosa dan memperlambat lonjakan insulin, meski mengkonsumsi jumlah karbohidrat dengan jumlah yang persis sama. Serat bertindak sebagai anti zat pertumbuhan.

By: Dokter Jason Fung  (Fibre reduces Insulin – How To Lose Weight X)

Karena insulin adalah pendorong utama obesitas dan diabetes, pengurangan itu bermanfaat. Intinya, serat bertindak sebagai semacam ‘penangkal’ pada karbohidrat, yang, dalam analogi ini, adalah ‘racun’. Karbohidrat, bahkan gula, tidak secara harfiah beracun, namun perbandingannya berguna untuk memahami efek serat.

Bukan suatu kebetulan bahwa hampir semua makanan nabati, dalam keadaan alami dan tidak mentah mengandung serat. Mother Nature telah mempaketkan antidote atau ‘perisai’ dengan ‘racun’ tersebut. Dengan demikian, masyarakat tradisional dapat mengikuti diet tinggi karbohidrat tanpa mengalami obesitas atau Diabetes Tipe 2.

Sumber Gambar

Orang-orang Okinawa, misalnya, mayoritas makanan mereka adalah ubi jalar, dan kalori mereka 80% didapat dari karbohidrat. Serat tinggi membuat kita melangsing. Sampai saat ini, mereka adalah salah satu masyarakat berusia terpanjang di bumi.

Kitavans of New Guinea mengikuti diet mendekati 70% karbohidrat dan mereka sehat-sehat saja. Perbedaan yang relevan adalah bahwa karbohidrat mereka utuh, mereka tidak dibuat tepung, pati atau dimurnikan. Racunnya terdapat pada proses pengolahan.

Makanan Barat mempunyai ciri khas. Apakah yang membedakan makanan tradisional dengan makanan barat? Bukan jumlah lemak, garam, karbohidrat dan protein. Tetapi, makanan barat mayoritas diolah dalam level tinggi. Karakter utama Makanan Barat adalah kaya akan karbohidrat olahan

 Coba tengok pasar tradisional di Asia, selalu dipenuhi daging segar dan sayuran. Banyak budaya Asia membeli makanan segar setiap hari sehingga pemrosesan untuk memperpanjang umur simpan tidak perlu dan tidak disambut baik. Sebaliknya, supermarket Amerika Utara dipenuhi makanan kemasan dan olahan. Beberapa koridor di supermarket didedikasikan untuk makanan beku penuh pengawet.

Orang Amerika Utara jarang berbelanja. Sekali mereka ke Supermarket mereka akan membeli kebutuhan untuk stok selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Pengecer volume besar Costco, misalnya menggantungkan hidupnya pada hal ini. Serat dan lemak adalah bahan utama yang dibuang dalam proses pemurnian. Serat dilepas untuk mengubah tekstur, sehingga rasa makanan menjadi ‘lebih baik’.

Lemak alami dibuang untuk memperpanjang umur simpan karena lemak cenderung menjadi tengik seiring berjalannya waktu. Misalnya, tepung putih memiliki hampir semua serat alami dan lemak yang dibuang selama pemrosesan. Itu membuat kita terancam dengan karbohidrat telanjang, dan inilah yang menyebabkan kadar insulin tinggi. ‘Racun’ tertelan tanpa ‘obat penawar’. Serat dan lemak yang berfungsi sebagai efek protektif malah diusir.

Berbagai tips melangsing, klik di sini.

Karbohidrat yang belum diproses hampir selalu mengandung serat, protein makanan dan lemak. Tubuh kita telah berevolusi untuk mencerna makanan ini tanpa membutuhkan serat. ‘Penangkal’ itu tidak perlu tanpa racun. Di sini sekali lagi, Mother Nature telah membuktikan dirinya jauh lebih bijaksana daripada kita. Makanan alami memiliki keseimbangan gizi dan serat, dan tubuh kita telah beradaptasi selama ribuan tahun untuk memakan makanan utuh. Problematikanya bukan dengan masing-masing  partikel makanan yang spesifik, namun secara keseluruhan haruslah seimbang. Misalnya, misalkan kita memanggang kue dengan mentega, telur, tepung dan gula. Sekarang kita memutuskan tidak memakai tepung sama sekali, tetapi malah menambahkan telur sebanyak-banyaknya. Si rasa kue kini menjadi sangat aneh dan mengerikan. Telur sebenarnya tidak selalu buruk.Tepung belum tentu bagus, tapi tanpa tepung, rasa kue menjadi tidak sempurna.

Hal yang sama berlaku untuk karbohidrat. Seluruh paket karbohidrat yang tidak dimurnikan, dengan serat, lemak, protein dan karbohidrat belum tentu bobrok. Tapi menghapus semuanya kecuali karbohidrat bisa menghancurkan situasi proporsional dan membuatnya berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menghilangkan protein dan lemak dapat menyebabkan konsumsi berlebihan. Ada hormon kenyang alami (Peptide YY, cholecystokinin) yang merespon protein dan lemak. Makan karbohidrat murni tidak mengaktifkan sistem ini dan menyebabkan over dosis.

Contohnya, segelas jus jeruk membutuhkan 4-5 jeruk. Sulit untuk makan 4-5 jeruk, dengan semua pulpnya. Namun, dengan hanya meminum porsi karbohidrat, dan membuang sisanya, kamu mungkin terlalu banyak meminum karbohidrat tersebut. Masalah lain muncul karena hasil karbohidrat murni dapat meningkatkan kecepatan pencernaan.

Kenaikan glukosa darah yang kilat akan menghasilkan peningkatan insulin yang ekspres. Sekali lagi, toksisitasnya bukan pada makanan, tapi dalam proses pengolahannya.

Nutrisi, di mana makanan dianggap berdasarkan kandungan macronutrien mereka menyembunyikan bahaya penyulingan selama bertahun-tahun. Seluruh biji-bijian, sayuran dan gula semuanya dianggap serupa karena semuanya mengandung karbohidrat. Tapi sesungguhnya, karbohidrat olahan dan karbohidrat-tidak-dimurnikan sangatlah berbeda.

Serat dan Diabetes Tipe 2

Baik obesitas maupun Diabetes Tipe 2 adalah penyakit yang disebabkan oleh insulin yang berlebihan. Resistensi insulin berkembang seiring berjalannya waktu, dengan insulin yang terus-menerus tinggi. Jika serat dapat protektif terhadap insulin yang tinggi, maka harus melindungi terhadap Diabetes Tipe 2 juga, dong.

Itulah yang ditunjukkan oleh penelitian.

Studi Kesehatan Perawat 1 dan 2 memantau catatan diet ribuan wanita selama beberapa dekade. Secara keseluruhan, risiko Diabetes Tipe 2 meningkat saat indeks glikemik meningkat. Ini tidak mengherankan. Studi ini juga mampu mengkonfirmasi efek perlindungan asupan serat serealia. Wanita yang mengonsumsi makanan GI tinggi tetapi juga mengkonsumsi serat sereal dalam jumlah besar terlindungi dari Diabetes Tipe 2.

Esensinya, diet ini tinggi ‘racun’ tapi juga tinggi ‘penawar’ pada saat bersamaan. Keduanya saling membatalkan tanpa efek membuat sampah. Wanita yang mengonsumsi makanan rendah GI (rendah ‘racun’) tapi juga serat rendah (obat penawar rendah) juga terproteksi. Sekali lagi keduanya saling membatalkan.

Tapi kombinasi mematikan diet GI tinggi (‘racun’ tinggi) dan tingkat serat yang rendah (obat penawar rendah) meningkatkan risiko Diabetes Tipe 2 sebesar 75%, dan ini sangat mengerikan. Ini adalah risiko dari karbohidrat yang diolah—indeks glikemik meningkat dan merosotnya serat.

The massive Health Professionals Follow-up studied 42,759 men berusia di atas 6 tahun, pada dasarnya memiliki hasil yang sama. Diet GL dan serat yang tinggi tidak memberikan ekstra risiko pada diabetes tipe 2. Diet Rendah GL dan diet rendah serat juga tidak memiliki risiko tinggi. Namun diet tinggi kandungan glikemik (racun) dan rendah serat (antidote) meningkatkan risiko penyakit sebesar 217%. Yikes! The Insulin Resistance Atherosclerosis study menegaskan bahwa serat merupakan faktor pelindung penting melawan resistensi insulin.

The Black Women’s Health Study menunjukkan bahwa diet indeks glisemik tinggi dikaitkan dengan 23% peningkatan risiko Diabetes Tipe 2. Asupan serat sereal yang tinggi, sebaliknya dikaitkan dengan risiko diabetes 18% lebih rendah.

Cara Lain Untuk Melangsing

Salah satu langkah kunci dalam menurunkan berat badan adalah penambahan serat. Bahkan lebih baik lagi, jangan keluarkan serat dari makanan alami yang mengandungnya. Toksisitasnya terletak pada pengolahannya. Karbohidrat dalam bentuk alami, utuh, tidak diproses, kecuali madu, selalu mengandung serat.

Inilah mengapa junk food dan fast food sangat berbahaya. Dengan definisi yang sangat, ini adalah makanan olahan.Sesuai dengan definisinya, ini adalah makanan yang diproses tingkat tinggi. Tubuh kita tidak didesain untuk sanggup mengolah bahan kimia yang terkandung di dalam makanan sampah. Itulah mengapa mereka toksik.

Pertimbangkan, misalnya ramuan dalam paket kue Betty Crocker Super Moist, salah satu makanan olahan dengan penjualan menempati peringkat nomor 1 di Kanada. Di tahun-tahun yang lalu, ini adalah kue yang telah saya panggang dengan ceria untuk anak-anak saya sendiri untuk ulang tahun dan perayaan lainnya.

Tepung Terigu yang Diperkaya, Gula, Kakao, Sirup Jagung, Baking Soda, Tepung Jagung, Kedelai dan / atau minyak biji kapas diperpendek, Serbuk carob, Propylene Glycol Monoester Asam Lemak, Monogliserida, Monocalcium Fosfat, Garam, Sodium Aluminium Fosfat, Dissium Fosfat, Sodium Stearoyl -2-Lactylate, Xanthan Gum, Selulosa Gum, Flavor Buatan, Asam Sitrat

Apakah ada satu ramuan saja yang tidak diproses? Apakah ada satu ramuan tunggal yang bisa ditemukan di alam? Penulis makanan yang luar biasa Michael Pollan selalu menasehati kita untuk makan Makanan Nyata, bukan “bahan makanan yang enak dimakan”.

Kearifan menakjubkan seperti itu disampaikan dengan sangat singkat. Sesungguhnya, ada banyak makanan tradisional yang dapat membantu melindungi dari peningkatan insulin dan pengaruhnya.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Peran Serat Sebagai Antidot

Sumber Gambar

Peran utama serat adalah anti-nutrisi. Bagaimana si mekanisme serat sehingga penyerapan nutrisi bisa diperlambat di saluran pencernaan? Dengan mengunakan metode bulking dan viskositas. Saat kamu makan, insulin diproduksi. Dan, manfaat spesial dari serat adalah mengulur absorpsi glukosa yang mana bertendensi melonjakkan insulin.

Penelitian ini mengilustrasikan pengaruh serat. Tiga belas pasien diabetes tipe 2 diberi makanan cair karbohidrat 55%  yang identik. Satu-satunya perbedaan adalah penambahan serat dalam satu kelompok. Hasilnya? Lonjakan insulin dan glukosa menukik tajam. Karena insulin merupakan pendorong signifikan pada obesitas dan diabetes, apapun yang cenderung mengurangi insulin sangat bermanfaat. Esensinya, serat berperan sebagai semacam ‘antidote’ pada karbohidrat (racun). Ini berhasil hebat, karena hampir semua makanan nabati, dalam keadaan alami dan tidak diolah mengandung berbagai tingkat serat! Alam telah mengemas si racun dengan penawarnya. Diet protein dan lemak biasanya tidak mengandung serat karena kamu tidak memerlukan obat penawar jika kamu mengambil racunnya. Bahaya muncul saat kamu mengolah seluruh makanan tanaman dengan menghilangkan serat (seperti pada gula putih dan tepung putih). Sekarang kamu menelan racun tanpa penawar.

Diet kebarat-baratan, yang mana merupakan karbohidrat olahan tinggi mengekspos kita pada insulin dalam kadar tinggi karena kita telah melepaskan efek pelindungnya, yaitu kita telah memangkas karbohidrat dari si serat. Masyarakat tradisional lainnya juga mengonsumsi karbohidrat tingkat tinggi. Orang Okinawa misalnya makan ubi. Sekitar 80% dari makanan mereka adalah karbohidrat. Namun, mereka juga memakan banyak serat yang memberikan proteksi. Sampai saat ini, mereka adalah salah satu masyarakat berusia panjang di bumi—salah satu populasi Zona Biru.

Toksisitas tidak terletak pada makanan, si racun terletak pada prosesnya. Ini menjelaskan interaksi antara asupan serat dan diabetes tipe 2. Dr. Walter Willett dari Harvard meneliti the large Nurse’s Health Study 1 and 2. Dengan diet indeks glikemik tinggi, kamu dapat melihat bahwa risiko diabetes tipe 2 bergantung pada asupan serat.

Jika kamu melakukan diet indeks glisemik tinggi dan memiliki asupan serat sereal tinggi (kiri atas) maka risiko diabetes tipe 2 tidak melambung. Di sini rujukannya adalah 1.0 yang berarti bahwa segala sesuatu yang mendekati 1.0 mengindikasikan tidak ada peningkatan risiko.

Intinya, orang-orang ini mengambil tingkat ‘racun’ tingkat tinggi (indeks glikemik tinggi) namun juga mengkonsumsi ‘penawar’ tingkat tinggi (serat) pada saat bersamaan. Kelompok yang mengambil indeks glisemik rendah (tingkat racun rendah) namun tingkat serat yang rendah (tingkat penawar yang rendah) juga tidak memiliki peningkatan risiko diabetes.

Tapi lihat saja apa yang terjadi saat kamu mengonsumsi makanan dengan indeks glisemik tinggi (tingkat racun ‘tinggi’) dan tingkat serat rendah (tingkat antidote yang rendah). Rasio odds naik ke 1,75. Diterjemahkan ke dalam bahasa, ini berarti bahwa risiko pengembangan diabetes meningkat sebesar 75% dengan melakukan kombinasi mematikan ini.

By: Dokter Jason Fung (The Role of Fibre II – Hormonal Obesity XVII)

 

Sumber GambarInilah efek samping sebenarnya dari karbohidrat olahan. Pengolahan butiran sereal menghilangkan serat dan lemak. Ini juga memiliki efek menaikkan indeks glikemik. Biji-bijian (kebanyakan gandum) diproses lebih lanjut oleh penggiling tepung mekanis, bukan penggiling batu tradisional, yang mana menggiling gandum menjadi bubuk yang sangat halus.

Karena penggilingan ini, tubuh merasa sangat mudah menyerap dan oleh karena itu indeks glikemiknya menjadi dominan. Ini jauh dari temuan yang terisolasi.

Dalam studi Tindak Lanjut Profesi Kesehatan terhadap 42.759 pria dengan follow up 6 tahun, pada dasarnya hasil yang sama ditemukan oleh Dr. Willett. Diet dengan kadar glikemik tinggi (racun) dan juga serat tinggi (antidote) tidak memberi  risiko ekstra pada diabetes tipe 2. Low glycemic load (racun) dan serat rendah (antidot) juga tidak memiliki peningkatan risiko.

Tapi glycemic load tinggi (racun) dan serat rendah (antidote) meningkatkan risikonya hingga 217% dari level minimum. Yikes!

Dalam kohort prospektif terhadap 59.000 wanita kulit hitam, hasil yang sama dikonfirmasi. Wanita-wanita ini dibagi menjadi 5 kelompok.

Kelompok Q5 memiliki diet glycemic load teroptimal dan Q1 memiliki nilai terminimum. Dibandingkan dengan kelompok terendah, kelompok Q5 memiliki 23% peningkatan risiko diabetes. Mereka kembali dipecah menjadi 5 kelompok berdasarkan asupan serat sereal. Kelompok asupan tertinggi memiliki 18% risiko diabetes lebih rendah. Kita sekarang dapat memodifikasi Teori Obesitas Hormonal kita untuk mencakup efek perlindungan serat.

Karbohidrat dalam keadaan alami mereka, kecuali madu, selalu mengandung serat. Toksisitasnya terletak pada pengolahannya. Faktanya, toksisitas pengolahan tidak hanya berhenti pada karbohidrat tapi juga untuk semua makanan.

Lemak olahan misalnya, adalah beberapa agen aterogenik paling potensial di dunia makanan. Karena lemak alami jenuh seperti minyak kelapa dan lemak babi menjadi iblis, kita mulai beralih ke lemak tak jenuh ganda yang diolah seperti canola dan minyak jagung. Karena mereka tidak terlalu tahan banting karena kecenderungan menjadi lebih cepat tengik, produsen makanan mulai menghidrogenasi mereka.

Hasilnya? Lemak trans.

Salah satu dari sedikit hal yang menurut ahli gizi modern itu buruk bagi kita. Daging juga baru saja menjadi makanan olahan. Ini juga menjadi jelas bahwa daging olahan mungkin jauh lebih berbahaya bagi kita daripada yang tidak diproses. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan angka kematian. Studi lain mengaitkan daging olahan dengan kanker. Nitrat, misalnya, yang digunakan dalam banyak daging olahan mungkin merupakan zat berbahaya. Bagaimanapun, toksisitasnya terletak pada pemrosesannya. 

Di sinilah akar permasalahannya, mengapa junk food sangat berbahaya bagi kita. Dengan definisi yang sangat akurat, junk food adalah makanan olahan. Mungkin tinggi karbohidrat, tinggi lemak atau tinggi protein.

It almost does not matter.

Ini adalah makanan olahan yang dimasukkan ke dalam tubuh kita, tetapi sayangnya, tubuh kita tidak berevolusi untuk menangani yang bersifat racun. Penulis makanan yang luar biasa Michael Pollan selalu menasehati kita untuk makan makanan nyata, bukan hidangan ‘palsu’ yang seolah-olah layak dimakan.

What amazing wisdom delivered so succinctly!

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Peran Serat

Sumber Gambar

Apakah serat itu? Adalah bagian makanan yang tidak dapat dicerna, tidak akan hancur, dan tidak akan pernah diserap. Mereka hanya numpang lewat, bentuknya pun akan selalu sama.

Ada dua jenis serat:

  1. Larut dalam air.
  2. Tidak larut.

Makanan nabati sering mengandung sejumlah jenis serat. Serat memiliki beberapa manfaat kesehatan yang diakui—membentuk massa, viskositas, dan fermentasi. Massa yang meningkat mungkin bisa mengisi perut kita dan oleh karena itu membuat kita makan lebih sedikit. Bisa juga memperlambat waktu pengosongan lambung. Di usus besar, serat meningkatkan massal tinja dan dengan demikian menurunkan waktu transit.

Hipotesis yang tepat, hal ini akan menurunkan tingkat kanker usus besar dengan ‘membersihkan’ usus sehingga bisa dikatakan memperlicin makanan yang melintas melalui usus besar.

Serat larut seringkali dapat meningkatkan viskositas pada usus dan oleh karena itu mengubah penyerapan nutrisi lainnya. Beberapa serat yang mengandung makanan nabati dapat mengandung asam fitat yang dapat bertindak sebagai anti-nutrisi. Profit untuk kita adalah sanggup mengurangi penyerapan. Mengurangi penyerapan gula dan mengurangi respons gula adalah manfaat lainnya.

Meningkatkan viskositas memperlambat pergerakan makanan melalui perut dan usus halus. Ini juga dapat mengganggu pencampuran makanan dan enzim pencernaan, mengganggu formasi micelle, dan mengubah difusi dan interaksi nutrisi dengan permukaan mukosa.

Kombinasi dari kejadian ini mengakibatkan memperlambat penyerapan lemak dan absorbsi karbohidrat, yang mana membuat kita kenyang. Fermentasi serat bisa menghasilkan senyawa yang menguntungkan. Ada pendapat bahwa serat memberi makan ‘bakteri baik’ dalam usus kita dan oleh karena itu memberi manfaat. Asam lemak rantai pendek juga bisa diproduksi yang mungkin membawa khasiat.

By: Dokter Jason Fung  (The Role of Fibre I – Hormonal Obesity XVI)

Serat mendapat perhatian publik di tahun 1970an. Dari pekerjaan misionaris dan perbandingan dengan populasi asli, menjadi jelas bahwa apa yang disebut Penyakit Peradaban (penyakit jantung, obesitas, diabetes, stroke, kanker dll) cukup langka di antara penduduk asli yang mengikuti pola makan dan gaya hidup tradisional. Di daerah perkotaan, seiring gaya hidup penduduk asli menjadi kebarat-baratan, penyakit ini mulai bermunculan.

Sumber Gambar

Beberapa peneliti, Dr. Cleave yakin bahwa penyakit ini disebabkan oleh meningkatnya konsumsi karbohidrat olahan—terutama gula dan tepung putih. Ini bisa disimpan pada suhu ruang tanpa takut rusak—faedah besar. Hal ini memungkinkan si tepung untuk dibawa dalam jumlah besar dan jarak yang jauh.

Pada tahun 1960an dan awal 1970an, perdebatan tentang penjahat diet utama berkobar bolak-balik antara lemak makanan dan karbohidrat olahan. Pendulum akhirnya berayun untuk meminimalisir lemak, yang mengharuskan peningkatan asupan karbohidrat. Karena sebagian besar karbohidrat dalam makanan Barat disuling, tujuan mengurangi lemak tidak sesuai dengan penurunan karbohidrat olahan. Akibatnya, hipotesis karbohidrat cepat jatuh ke dalam kelompok si haters. Kemungkinan lain muncul dengan sendirinya.

Mungkin, bukan karbohidrat yang menjadi pelakunya tapi kekurangan serat itulah masalahnya. Hipotesis memiliki keuntungan besar karena kompatibel dengan hipotesis lemak makanan dan dengan cepat mendapatkan hasil. Makanan tidak dimurnikan tradisional yang termasuk karbohidrat cenderung sangat tinggi seratnya.

Denis Burkitt, seorang ahli bedah misionaris yang menghabiskan banyak waktu di Afrika, adalah salah satu pendukung hipotesis diet serat.

 Pada saat Pedoman Diet untuk Amerika dilepaskan pada tahun 1977, ada sebuah rekomendasi untuk “Mengkonsumsi makanan dengan pati dan serat yang memadai”. Ini diabadikan di jajaran Mitos Diet. Serat itu bagus untukmu. Tetapi, tetap ada masalah. Sulit untuk menunjukkan dengan tepat bagaimana hal itu baik untukmu.

Salah satu pemikiran Dr. Burkitt adalah, bahwa serat menurunkan risiko kanker usus besar dengan mempercepat perjalanan dari tinja melalui usus besar. Percobaan besar pun dilakukan, pasien diminta makan dengan serat. 88.757 wanita dalam Studi Kesehatan Perawat proseptif dipelajari untuk mengidentifikasi apakah asupan serat meningkat akan mengurangi risiko kanker kolorektal. Meskipun periode follow up 16 tahun, tidak ada penurunan yang signifikan dalam risiko kanker usus besar karena asupan serat meningkat. Sepertinya ada tanggapan datar. Menambah serat lagi dan lagi sepertinya tidak memberikan manfaat tambahan. 

Uji coba terkontrol secara acak mencoba untuk menunjukkan manfaat serat pada lesi prakanker yang disebut adenoma. Kanker kolorektal sering timbul dari adenoma namun biasanya membutuhkan waktu antara 5 dan 10 tahun untuk berkembang. 1303 pasien diacak untuk asupan serat tinggi atau asupan biasa. Dengan median 34 bulan menindaklanjuti, tidak mungkin untuk mendemonstrasikan keuntungan.

Sumber Gambar

Nah, suplementasi serat dengan sendirinya nampaknya sangat sedikit manfaatnya dalam mengurangi risiko kanker. Mungkin, kita lebih baik meneliti penyakit jantung. Jadi, percobaan Diet dan Reinfarction dilakukan dengan tujuan menjawab pertanyaan apakah diet rendah lemak atau serat tinggi akan bermanfaat untuk penyakit jantung. Dalam studi DART, 2033 pria diacak untuk berbagai diet setelah serangan jantung untuk melihat apakah ada diet tertentu yang mengurangi risiko serangan jantung kedua. Yang mengejutkan, diet rendah lemak The American Heart Association tampaknya tidak mengurangi risiko sama sekali. Diet Mediterania (diet tinggi lemak) sepertinya memberi manfaat. Inilah yang ditunjukkan Dr. Ancel Keys bertahun-tahun yang lalu.

Percobaan baru-baru ini juga tampaknya mengkonfirmasi bahwa memakan makanan tinggi lemak alami seperti kacang-kacangan dan minyak zaitun bermanfaat dalam pencegahan penyakit jantung. Jadi mengonsumsi lebih banyak lemak bisa bermanfaat. Bagaimana dengan serat?

Mereka yang mendapat suplemen serat sepertinya tidak mendapatkan keuntungan. Tidak hanya itu, tapi meningkatkan serat sebenarnya bisa meningkatkan risiko kematian!

Yowzers.  That came out of the blue.

Meskipun tergila-gila dengan roughage, sulit untuk menjawab pertanyaan “Apakah manfaat serat?” Penggunaan serat untuk menurunkan berat badan memiliki hasil yang beragam.

Meskipun ada antusiasme awal untuk pendekatan ini, namun sebagian besar meninggal karena kurang berhasil. Sebagian besar waktu kita memikirkan makanan, kita memikirkan kandungan nutrisi mereka. Vitamin dan mineral yang dikandungnya. Kunci untuk memahami serat adalah menyadari bahwa manfaat serat bukan sebagai nutrisi, tapi sebagai anti-nutrisi. Kita memikirkan makanan dan vitamin menambahkan hal-hal baik ke tubuh

Serat memiliki kemampuan untuk mengurangi penyerapan dan pencernaan. Dalam kasus gula dan insulin, ini adalah hal yang baik.