Ingin Ramping dan Kurus? Aku Bisa Membuatmu Kurus Dengan Cepat Lho

Sumber Gambar

Berdasarkan Hormonal Obesity Theory (HOT), kita telah menarik sebuah dalil  bahwa insulin dengan kadar tinggi dapat menyebabkan obesitas. Meski kita telah membatasi asupan kalori, makan super sedikit, namun jika kita menyuntikkan insulin atau meminum obat yang menstimulasi insulin (sulphonyureas), kita tetap akan menggemuk. Jika memang teori ini benar adanya, maka, jika kita mengurangi insulin, harusnya kita meramping dong. Dengan kata lain, walaupun kita menambah kalori, tetapi jika insulin ditekan, seharusnya kita sanggup membuang lemak. Faktanya, ternyata teori tadi benar 100%.

Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun pankreas. Apakah itu? Sel penghasil insulin di tubuh telah rusak. Oleh karena itu, level insulin terjun bebas ke tingkat yang sangat rendah. Gula darah meningkat dalam darah. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penurunan berat badan yang parah. Deskripsi klasik Aretaeus tentang diabetes tipe 1 “Diabetes adalah … mencairnya daging dan anggota badan menjadi air kencing”. Artinya, apa pun yang kamu makan, kamu tetap akan kurus kerontang. Sebelum ditemukan insulin, penyakit ini selalu berakibat fatal. Esensinya, insulin adalah sinyal bagi tubuh untuk menimbun lemak. Jika kita memberi insulin, tubuh akan bertambah gemuk. Jika kita menyedot insulin keluar, kita akan melangsing.

By: Dokter Jason Fung (I Can Make You Thin…Insulin – Hormonal Obesity V)

Dengan kalimat lain artinya adalah insulin merupakan salah satu pengendali utama bodi set weight (BSW). Jika jumlah insulin naik, tubuh kita diperintahkan untuk menambah berat badan. Inilah yang membuat nafsu makan kita menggila. Kita akan merasa sangat lapar dan terpaksa makan.

Jika kita tidak makan, kemudian tubuh akan menurunkan Total Energy Expenditure (TEE) atau Kalori keluar, sehingga meskipun kita makan sedikit semuanya berubah menjadi daging dan lemak. Nafsu makan menggelegak dan malas bergerak adalah akibat dan efek samping dari obesitas bukan penyebab kegemukan.

 The Great Gary Taubes telah mengatakan-

Kita tidak gemuk karena kita makan berlebihan

Kita makan berlebihan karena kita gemuk

Oleh karena itu, sekarang kita bisa membikin pertanyaan sempurna. Mengapa kita gemuk? Kita menjadi gendut karena kadar insulin kita terlalu tinggi. Dalam sebagian besar kasus, insulin adalah pemain utama dalam obesitas. Meskipun, bukan satu-satunya pelaku kejahatan—kortisol juga memainkan peran. Kortisol adalah hormon stres.

Nah, sekarang, jika kita berhipotesis bahwa kortisol yang meluber bisa mengakibatkan kegemukan, mudah saja solusinya, mari kita beri pasien asupan kortisol, lantas kita amati, apakah ia menggemuk atau tidak.

Kita bisa mengobservasi kasus dimana kortisol terlalu banyak diproduksi di tubuh. Ini disebut penyakit Cushing atau Cushing’s Syndrome. Ciri penyakit ini? Menggemuk.

Sumber Gambar

Di pasaran terdapat obat sintetis kortisol—sangat lumrah digunakan sebagai obat yang disebut prednisone, yaitu kortikosteroid. Ini adalah anti-inflamasi yang setrong dan sering digunakan dalam pengobatan asma, lupus dan gangguan inflamasi lainnya. Jadi, kalau kita memberikan prednison kepada seseorang, apa yang terjadi? Sindrom cushinoid akan berkembangbiak.

Dengan kata lain, pasien ini terlihat seperti berpenyakit Cushing. Sebagian besar mereka menyadari fakta bahwa mereka bertambah gemuk. Ciri khasnya, distribusi lemak tidak merata, dimana dinamakan obesitas truncal, yang artinya lemak tertimbun di bagian tengah tubuh, bukan di tempat biasanya lemak bersemayam (lengan dan kaki).

Sumber Gambar

Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Jika kita percaya bahwa kortisol dapat menyebabkan obesitas, lalu bagaimana jika tingkat kortisol turun ke tingkat yang sangat rendah? Ya, ada juga penyakit Addisons. Ini juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal.

Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan jika kelenjar ini rusak, maka kadar kortisol serta hormon lainnya berada di level sangat minimal. Ciri penyakit Addison? Penurunan berat badan.

Jadi apakah kunci kegemukan? Hormon. Dan ini adalah hubungan kausal. Satu hal menyebabkan yang lain. Ini adalah hubungan yang jauh lebih bertenaga dibandingkan kebanyakan studi korelasi (lihat peraturan #2 – Studi korelasi kebanyakan omong kosong)

Jika kita meningkatkan insulin, kita bertambah gemuk. Jika kita menurunkan insulin, kita menurunkan berat badan. Bobot tubuh kita (dan juga segala sesuatu di tubuh) diatur oleh hormon.

Variabel fisiologis yang penting bukan pada asupan kalori namun regulasi hormon. Kamu menggemuk jika hormon insulin dan kortisolmu tumpah-tumpah. Ini sungguh masuk akal.

Pertimbangkan hal ini. Jika kita makan 2000 kalori/ hari, jumlahnya mencapai 730.000 kalori dalam setahun (2000 * 365 = 730.000). Hampir semua orang, menambah berat badan sekitar 1-2 pon per tahun. Tidak banyak, tapi  bayangkan jika lebih dari 25 tahun, timbunan lemak di tubuh kita bisa mencapai 50 pound, ekstra. Dalam istilah kalori, ini berarti kelebihan kalori dari 7.200 kalori selama 1 tahun dengan asumsi bahwa 1 pon lemak kira-kira 3.600 kalori.

Tingkat kesalahannya sangat rendah, bahkan tidak mencapai angka 1%. Jika kita mempunyai kemampuan untuk melacak berapa banyak kalori yang kita makan dan berapa banyak kalori yang kita bakar, apakah menurutmu kamu bisa menghitungnya dengan sangat akurat? Sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu berapa banyak kalori yang kita makan atau bakar pada waktu tertentu! Iya kan? Bagaimana ini bisa dikendalikan oleh otak rasional kita?

Seharusnya tubuh kita seperti ini. Idealnya. Tanpa insulin dan kortisol berlebihan.

Kita tidak mengendalikan berat badan kita, sama halnya kita nggak bisa mengontrol detak jantung kita. Keduanya berlangsung secara otomatis di bawah pengaruh hormon. Hormon memberitahu pada saat kita lapar. Hormon membisiki kita bahwa kita kenyang.  Hormon memberi tahu kita kapan harus meningkatkan pengeluaran energi. Hormon memberi tahu kita kapan harus memblokade energi mengalir.

Obesitas adalah disregulasi hormonal, yang mengakibatkan akumulasi lemak. Saat kita memforsir pengeluaran hormon, kita terkena penyakit seperti obesitas. Jika kita bisa mengerti bahwa obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, maka kita siap untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya—bagaimana kita mengatasi obesitas?

Jika kita percaya bahwa kelebihan kalori menyebabkan obesitas (Kalori Reduksi sebagai Primer) maka pengobatannya adalah mengurangi kalori. Dan ini adalah salah kaprah. Pemahaman gagal total. Jika kita paham bahwa obesitas disebabkan oleh insulin yang membludak, maka kita perlu menggeret insulin di kadar rendah.

Faktanya, jika kita melihat di data ini, bahwa pemahaman kita tentang obesitas keluar gelanggang dan tidak karu-karuan sejak zaman William Banting (pertengahan 1800an). Dari pertengahan 1800 sampai pertengahan 1900-an mereka percaya bahwa gula dan pati menyebabkan obesitas. Kegemukan diobati dengan memangkas gula dan pati. Dan hei, coba tebak, mereka telah sukses parah.

Dari tahun 1950 sampai 2000an, kita percaya bahwa kalori menyebabkan obesitas. Hal ini menyebabkan saran diet membatasi kalori—yang mana sudah pasti menuju gerbang neraka kegagalan. Dan hei, coba tebak, tingkat obesitas pun meledak.Kini, dengan membaca postingan ini kita 100% paham tentang dasar-dasar hormonal obesitas, kita sanggup melihat sebuah lingkaran utuh, dan kita sadar sebuah fakta bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab menjamurnya obesitas.

Kuncinya adalah me-restore insulin, dan menurunkan tingkat kortisol ke level sangat rendah. Sekali lagi, trik jitunya bukan menyeimbangkan kalori—namun menyelaraskan hormon.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Bagaimana Cara Menurunkan Nafsu Makan dan Mengidam

Sumber Gambar

 

MENGIDAM alias FOOD CRAVING

Food cravings atau mengidam, pernah denger? Jenis makanan apakah itu? Definisi yang cespleng adalah keinginan yang tidak bisa diganggugugat a.k.a harus dipenuhi saat itu juga, biasanya konteksnya adalah mengenai makanan. Ingat tidak kisah ibu hamil yang menginginkan makan telur kodok kobra, dan sang suami harus mencarinya sampai ke Zimbabwe, kalau tidak, si bayi akan dilahirkan dengan kondisi air liur berceceran. Itulah yang dinamakan MENGIDAM. Dan sialnya, mereka tidak eksis hanya di kalangan ibu hamil. Manusia, apa pun bentuknya, pasti pernah mengalami mengidam. Namun, ada yang kadar mengidamnya lebih intens, ada yang kelas bulu aja. Contohnya, beberapa orang tidak sanggup menahan godaan mencomot makanan manis. Tetapi, makanan asin, coklat, junk food (pizza) juga biasa dikelompokkan sebagai makanan yang bikin ketagihan. Gary Taubes menulis tentang kecanduan karbohidrat di New York Times minggu lalu.

By: Dokter Jason Fung

Kita paham, bahwa dari kacamata intelektual mengonsumsi hidangan ini akan membuat kita menjadi lebih bulat dan gembrot, namun, kita tidak berdaya untuk menolaknya. Sesungguhnya ini bukan hal yang njelimet. Coba kita bayangkan mengenai alkohol. Meskipun kita tahu bahwa kecanduan alkohol bisa memporakporandakan hidup peminumnya, namun para pecandu alkohol tidak sanggup menahan godaan khimar ini. Kita mengerti bahwa mereka hanyalah korban alkoholisme, lantas kita memberikan dukungan kepada mereka agar mereka sanggup mengusir alkohol. Misalnya, mungkin kita memberikan saran agar dia join dengan grup Alcoholics Anonymous tanpa stigma bahwa dia adalah seorang pengecut atau orang lemah yang tidak sanggup melawan nafsunya sendiri. Sayangnya, jika kamu adalah pecandu makanan manis, kamu tidak akan disupport untuk masuk grup free sweet tooth misalnya, karena memang komunitas itu tidak ada. Contohnya, jika kamu tidak sanggup untuk menolak godaan donat, maka, umumnya orang menganggap itu adalah kesalahanmu, tidak ada satu pun grup anti donat yang eksis di dunia ini.

Sumber Gambar

Karen Thompson  dan Bitten Jonsson di www.dietdoctor.com telah menulis tentang kecanduan gula, dan kini membantu banyak orang untuk mengalahkannya. Ada asosiasi antara obesitas dan kecanduan makanan, dan ini juga berlaku untuk diabetes tipe 2.

Penjahat nomor wahid yang militan dan secara konsisten menggoda kita adalah:

  1. Makanan Manis
  2. Makanan Berlemak
  3. Makanan Cepat saji

Pertanyaan besarnya adalah apakah hasrat mengunyah makanan yang tidak bisa dibendung menggiring kita pada obesitas atau, apakah karena ia gendut sehingga dia tidak bisa membendung godaan memakan, ataukah keduanya? Ini adalah pertanyaan yang sangat krusial, karena dengan memahami penyebab (etiologi) artinya kita telah menggenggam kunci. Jadi, apa sebenarnya yang menyebabkan nafsu makan?

Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa mengidam itu asal muasalnya adalah respon terhadap kekurangan nutrisi tertentu atau tubuh butuh kalori untuk bahan bakar, namun, karena kita tidak segera menambal kekurangan itu, maka bertumbuhlah ia menjadi si raksasa-nafsu-makan yang tidak bisa dikekang.

Tidak ada data ilmiah yang menunjang teori ini. Dalam kasus obesitas, jelas pasien tersebut pasti nutrisinya tercukupi, dan sudah bisa dijamin dia tidak kurang gizi.

Ada yang mengatakan bahwa kurang asupan menyebabkan badan melar. Oleh karena itu ada panggilan untuk memakan hidangan padat nutrisi.Tapi, jelas bukan itu biang keroknya. Nutrisi apa sih yang kita bicarakan?

Kecanduan makanan sampah, makanan manis, dan makanan bertepung sudah sangat kentara bahwa tidak ada nutrisi penting yang dikandung oleh mereka, sehingga mustahil tubuh mendambakan zat ini untuk kualitas sehat yang lebih ekselen. Coca cola tidak bergizi. Donat merupakan makanan comberan. Sama seperti vitamin, obesitas bukan sindrom defisiensi gizi. Ini bukan penyakit kudis. Bukan pula kwashiorkor. Kemungkinan yang tersisa adalah bahwa mengidam makanan merajalela karena makanan sering dikaitkan dengan konteks sosial. Misalnya begini, kita memakan kue bika ambon dalam rangka lebaran.

Ini artinya, mengidam makanan merupakan a conditioned response (contoh kasus anjing Pavlov).

Oleh karena itu seharusnya kita bisa menghancurkan fenomena ini. Artinya, jika kita berhenti memakanan makanan tertentu dalam jangka waktu lama, maka mengidam lama kelamaan memudar. Beneran nih? Bisa dibuktiin nggak tuh?

Sumber Gambar

In this study, peserta harus mengikuti diet sangat rendah kalori—1200 kalori per hari di kelompok kalori rendah (LCD), dan 800 kalori per hari dengan kalori sangat rendah (VLCD). Coba Anda perhatikan, pembatasan kalori yang parah lebih efektif dan ampuh mengurangi hasrat makan. Faktanya, diet 1200 kalori saja sudah dikategorikan ketat, apalagi 800 kalori. Sehingga kita dapat membuat suatu dugaaan bahwa jika pembatasan dilakukan lebih streng lagi, maka hasrat mengunyah bisa dibekukan. Efek yang sama terlihat pada diet jus, diet ini lebih powerful dibandingkan dengan membuat limit kalori. Kenyataan yang bertolak belakang dengan teori ini selalu terjadi di klinik IDM. Semakin Anda mengurangi porsi makan, nafsu makan Anda pun terjun bebas.

Efek ini terlihat pada semua jenis makanan apakah itu permen, tepung, makanan berlemak atau makanan cepat saji. Seiring bergulirnya waktu, jika Anda sudah terbiasa tidak memakan makanan di atas, mengidam makanan tersebut pun menghilang.

Konsep ini bisa diterapkan juga pada teori lapar. Sementara mengidam dan kelaparan adalah fenomena yang berbeda, keduanya berkorelasi secara jelas satu sama lain, sehingga hasrat makan yang menukik diharapkan bisa menurunkan rasa lapar. Namun perlu diingat bahwa efek ini hanya terlihat dengan pembatasan kalori yang sangat parah. Sebenarnya, comparison of a 500 calorie versus a 1200 calorie dieting efek yang lebih signifikan terlihat pada diet 500 kalori. Artinya, jika porsi makan Anda berkurang, nafsu makan Anda pun melemah. Kontraintuitif, tapi konsisten.

Sumber Gambar

Mengkaji ulang 8 studi dalam literatur, mereka menemukan bahwa intervensi yang berlangsung setidaknya 12 minggu dengan pembatasan kalori secara konsisten menunjukkan penurunan hasrat makan. Efeknya tidak besar, tapi konsisten sekali lagi untuk semua jenis makanan—makanan asin, manis, berlemak, atau sampah. Orang-orang yang telah memotong makanan tertentu juga memperhatikan hal ini. Orang yang mengurangi asupan gula mereka sangat mendekati nol, misalnya, mendapati bahwa sweet tooth mereka menghilang.

Jika Anda makan lebih banyak gula, Anda semakin mengidam. Sama halnya dengan gatal—menggaruknya tidak akan membuatnya lebih baik— ini akan memperburuk keadaan.

Aplikasi puasa sudah jelas manfaatnya. Dengan puasa sudah jelas kita membatasi makanan dengan sangat parah. Dan nafsu makan pun secara konsisten menyublim, hilang entah kemana. Ini selaras dengan pengalaman di klinik kami. Berlawanan dengan asumsi orang, puasa malah menurunkan rasa lapar. Para pasien selalu kembali ke klinik kami dan mengatakan “saya rasa perut saya menyusut. Saya hanya makan sepertiga dari porsi biasanya, namun saya merasa sangat kenyang.”

Itu berita bagus, karena sekarang badan Anda bekerja membantu Anda meluruhkan lemak, dengan kata lain kini badan Anda tidak berkhianat dengan melawan Anda. Salah satu mitos yang bertengger di luar sana  adalah “puasa akan membuat Anda sangat lapar sehingga Anda terpaksa memasukkan wajah Anda ke kotak donat Krispy Kreme’. Inilah sebabnya mengapa orang menyarankan agar Anda makan 6 atau 7 kali sepanjang hari, untuk mencegah nafsu makan yang menggelegak. Orang-orang ini jelas tidak memiliki pengalaman dengan puasa, dan tidak mengerti bahwa penelitian telah menunjukkan hal yang sebaliknya. Jika Anda makan terus-menerus, Anda cenderung memberi makan pada si ngidam itu. Jika Anda berpuasa, kecanduan itu akan mengerut. Bisa jadi. At least it’s worth a shot.

Ingin Kurus dan Langsing: Baca Tentang Dilema Daging Merah (1)

Sumber Gambar

Dilema Daging Merah – Hormon Obesitas

Apakah sebenarnya dilema daging dan protein hewani itu?

  1. Di satu sisi, protein hewani menaikkan insulin, sehingga bisa membuat kita gemuk,
  2. Di sisi lain, protein hewani mempunyai efek memperlambat pengosongan lambung, meningkatkan rasa kenyang sehingga sanggup membikin kita menjadi ramping.

Dalam satu ‘balutan’ kita dihadapkan pada dua efek. Lantas manakah efek yang lebih kuat?

By: Dokter Jason Fung

Salah satu studi asosiasi terbesar beberapa saat yang lalu berasal dari analisis data dengan menggabungkan tiga studi kohort yang sangat besar, yaitu:

  1. The Nurses Health Studies I.
  2. The Nurses Health Studies II.
  3. The Health Professional’s Follow Up study.

Melihat data gabungan ini, perbandingan dibuat antara makanan tertentu dan dan risiko obesitas. Meskipun ini bukan percobaan acak, namun data tersebut masih mengandung sejumlah data bermanfaat. Changes in Diet and Lifestyle and Long-Term Weight Gain in Women and Menditerbitkan di New England Journal of Medicine pada tahun 2011.

Salah satu hal terpenting yang dilakukan peneliti adalah melihat makanan tertentu. Beberapa dekade terakhir muncul aliran ‘nutrisisme’ dimana derajat makanan menjadi turun karena telah diklasifikasikan sebagai ‘karbohidrat’, protein dan lemak. Namun, dengan menggunakan metode itu, tetap tidak sanggup menangkap kompleksitas ilmu pangan. Sebuah alpukat, misalnya mengandung 88% lemak, 16% karbohidrat, dan protein 5% dengan serat 4,9 gram. Dengan kandungan nutrisi semacam itu, kemudian alpukat diklasifikasikan sebagai makanan dengan derajat rendah bahkan ‘buruk’ selama bertahun-tahun karena kandungan lemaknya yang tinggi, lantas sekarang direklasifikasi kembali sebagai makanan super. Sungguh perlakuan rasis pada makanan, dan mencla-mencle alias tidak konsisten. (Useful online tool for this sort of useless thing here). Ini adalah alat ukur yang sungguh tidak berguna. Perlu kita ketahui, dan ini merupakan wawasan yang sangat menarik, sesungguhnya ada ratusan nutrisi dan fitokimia dalam makanan yang mempengaruhi metabolisme kita yang tidak tertangkap oleh analisis sederhana semacam ini.

Sumber Gambar

Jadi sekali lagi, alat ini sungguh tidak bermanfaat, by the way, pada saat kita mengelompokkan makanan pada label makanan, sesungguhnya tidak menjelaskan mengapa mereka tidak membuat perbedaan yang signifikan. Saya membayangkan bahwa salah kaprah nutrisi membuat situasi menjadi amburadul alias acak-acakan dari masa ke masa. Coba Anda bayangkan saat dimana para pendukung aliran-rendah-lemak-garis-keras di tahun 1970an yang membagi makanan dalam tiga kelompok besar makro nutrisi. Awalnya, mereka berpikir semua lemak adalah makanan terkutuk. Setelah itu semua karbohidrat adalah buruk. Kemudian muncul lagi kelompok karbohidrat tercela dan karbohidrat baik. Lantas, muncul lagi lemak baik dan lemak jahat. Lalu, protein terpuji dan protein merugikan (hewani vs nabati misalnya). Faktanya, tidak semudah itu untuk membuat geng-geng makanan. Kita juga telah membuat klasifikasi artifisial pada tipe-tipe makanan—buah-buahan misalnya. Pisang adalah makanan yang harus diasingkan dan berry adalah buah-buahan yang diagung-agungkan. Basis pengelompokan ini berdasarkan gagasan indeks glisemik, jumlah lemak, atau jumlah gula.

Setelah memperhatikan sebanyak 120.877 laki-laki dan perempuan berusia di atas 12 sampai 20 tahun, para peneliti menghitung hubungan antara asupan makanan tertentu dan penambahan berat badan. Secara keseluruhan kenaikan berat badan rata-rata selama periode 4 tahun adalah 3,35 pound—mendekati 1 pon per tahun sesuai dengan perkiraan. Meskipun ini mungkin tidak terdengar banyak, lebih dari 40 tahun, katakanlah dari usia 20 sampai usia 60, akan membuat orang kelebihan berat badan sekitar 40 pounds, katakanlah berat badan rata-rata adalah 160 pound, 40 tahun kemudian akan menjadi 200 pound pada pasien pra-diabetes.

Penting untuk diingat bahwa studi asosiasi seperti ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat. Namun, salah satu kekuatan penelitian ini adalah untuk dapat melihat hasil jangka panjang—sesuatu yang tidak dapat dilakukan pada uji coba acak. Karena kenaikan berat badan akan berakumulasi selama beberapa dekade, percobaan jangka pendek beberapa tahun mungkin tidak memberi tahu apa yang harus kita ketahui.

Tetapi, masih menarik untuk melihat datanya di sini. Cukup mudah untuk mengerti mengapa keripik kentang dan kentang goreng bisa menggemukkan.

Keduanya mengandung karbohidrat olahan tinggi yang meningkatkan insulin dan glukosa secara signifikan. Untuk alasan yang sama, permen dan makanan pencuci mulut, dan tepung dan semua makanan olahan sangat terkait dengan obesitas. Memang, sulit menemukan siapa saja yang berpendapat bahwa keripik kentang, makanan pencuci mulut dan roti putih tidak menggemukkan.

Tapi ada juga asosiasi yang kuat antara daging olahan, daging yang belum diproses dan mentega dengan obesitas. Karena mereka bukan karbohidrat, orang mungkin berasumsi bahwa mereka tidak menggemukkan.

Tapi faktanya, mereka juga membuat kita menjadi gemuk. Begitu Anda menyadari bahwa protein juga merangsang insulin, itu mulai membuat beberapa pengertian bahwa makanan ini juga dapat menyebabkan obesitas.

Namun daging dan dairy products tidak menggiring kita menjadi obesitas, terlepas dari fakta bahwa protein dari dairy akan menstimulasi insulin dengan derajat lebih tinggi. Masalahnya di sini mungkin mengenai kuantitas dari daging versus dairy yang telah kita bahas di last post. Jadi, meski Anda mengonsumsi dairy, namun jumlahnya tidaklah banyak.

Ada juga makanan yang membuat Anda tetap langsing–misalnya kacang-kacangan dan sayuran.

Hubungannya di sini tampak straightforward alias langsung tepat sasaran. Keduanya rendah gula dan seratnya sangat tinggi. Kedua efek tersebut akan cenderung menurunkan insulin dan melindungi terhadap penambahan berat badan. Tapi gandum utuh dan buah juga protektif. Sebuah kejutan bagi penggemar Atkin, sepertinya kandungan serat yang tinggi dalam makanan ini mungkin bersifat protektif.

Di antara minuman, minuman manis dan jus buah dikaitkan dengan obesitas. Tidak mengherankan—keduanya sangat tinggi gula dan seratnya sangat rendah. Susu skim mungkin memiliki sedikit hubungan, tapi susu utuh tidak. Lemak susu yang lebih tinggi mungkin menjadi pelindung di sini. Diet soda sangat protektif, tapi saya ragu apakah ini adalah efek sebenarnya atau apakah itu hanya mencerminkan fakta bahwa orang yang meminum diet soda memang sedang melakukan diet sehingga memang menurunkan asupan makanan.

Untuk mempermudah Anda memahami grafik, coba lihat makanan yang membuat Anda menggemuk, benang merahnya sama, semua makanan itu cenderung meningkatkan insulin. Kelompok makanan yang tidak menaikkan berat badan cenderung mengandung faktor pelindung—serat, fermentasi (yogurt), dan lemak.

Ini mungkin merupakan petunjuk untuk mengungkap mengapa diet Atkin’s menjadi bubar jalan. Awalnya dibayangkan sebagai karbohidrat rendah, diet tinggi lemak, namun ia berevolusi menjadi Atkins versi 2.0 pada 1990-an. Meski masih rendah karbohidrat, kegilaan rendah lemak tersebut mengubah reboot Atkins sebagai karbohidrat rendah, rendah lemak namun tinggi protein. Penggemar Atkins berpaling dari makanan asli ke kreasi Frankenfood seperti milkshake protein yang dipermanis dengan fruktosa, makanan pengganti artifisial dan protein bar.

Perusahaan farmasi, seperti Matt Taibbi’s vampire squid yang tergila-gila dengan uang, memadamkan saluran darahnya menjadi sesuatu yang berbau DUIT, dibuat menjadi sangat hepi karena bisa menggaruk laba maksimal dengan menciptakan produk nutrisi baru dalam rangka memenuhi kegemaran baru ini. Boost.  Ensure.  Optifast.  Slimfast. Pernahkah Anda membaca ingredients of these meal replacements alias kandungan dari makanan pengganti ini? Ini akan membuat Anda ngeri. Susu protein, fruktosa, minyak canola, minyak kedelai dan multivitamin. Apakah ini terdengar baik untuk Anda? Atau periksa the ingredients of Atkins Nutritionals Bar, atau bar Atkins Nutritionals. Lapisan rasa coklat, lapisan rasa selai kacang, gliserin, campuran protein, selulosa, dll. Ada gliserol yang lebih menyeramkan daripada protein!

Sumber Gambar

Tidak menyadari sebuah fakta bahwa TIDAK semua karbohidrat secara inheren menggemukkan, mereka juga menghindari buah dan sayuran yang lezat dan bergizi. Hal ini membuat diet sulit ditoleransi dan sudah pasti, para pengikutnya tidak patuh. Ini bukan diet yang bisa Anda ikuti seumur hidup, meski banyak yang mengklaim telah mengikuti diet ini. Revolusi Diet Dr. Atkin telah selesai.

 

Ingin Langsing dan Kurus baca tentang Lemak Jenuh

Sumber Gambar

Lemak Jenuh Sebagai Efek Pelindung Untuk Penyakit Kardiovaskular—Hormon Obesitas

Lemak jenuh yang dipercaya sebagai racun ternyata malah menjadi sosok pahlawan pasca lemak transnya dilucuti. Dengan kata lain, lemak jenuh tidak berbahaya, tidak seperti yang telah digembar-gemborkan selama ini. Dan telah banyak penelitian menunjukkan fakta bahwa ada kemungkinan  lemak jenuh merupakan faktor protektif terhadap penyakit jantung. Studi “Dietary fats, carbohydrate, and progression of coronary atherosclerosis in postmenopausal women” memeriksa perkembangan angiografi penyakit koroner dan hubungannya dengan diet.

By: Dokter Jason Fung

Angiogram adalah tes jantung standar dimana pewarna dimasukkan ke urat arteri di sekitar jantung untuk menentukan apakah ada penyumbatan. Melihat 235 wanita dengan penyakit jantung menahun, mereka mengukur angiogram awal dan mengulanginya rata-rata 3,1 tahun. Mereka kemudian melihat diet para wanita ini untuk melihat apakah ada pola.

Mereka membagi wanita-wanita ini ke dalam kelompok sesuai dengan asupan lemak mereka, tampaknya tidak ada hubungan sama sekali. Wanita yang paling banyak mengkonsumsi lemak memiliki sedikit penyumbatan dibandingkan mereka yang memakan lemak paling sedikit. Diet rendah lemak malah yang paling banyak tersumbat.

Satu Makro nutrien yang menonjol dan terlihat sangat menyeramkan adalah karbohidrat. Asupan karbohidrat tertinggi dikaitkan dengan tingkat penyumbatan jantung tertinggi.

Tidak terlihat terlalu bagus untuk hipotesis Diet-Jantung. Orang-orang yang sedang mengikuti diet ala American Heart Association menyetujui diet rendah lemak membuat mereka berpenyakit jantung. Orang-orang yang mengonsumsi makanan berlemak tinggi malah tidak mengalami masalah.

Jenis lemak makanan selanjutnya dibagi untuk melihat apakah semua lemak jenuh alami memang berbahaya bagi kesehatan manusia. Kelompok yang mengonsumsi lemak paling jenuh memiliki regresi penyumbatannya. Penyakit jantung mereka mencair! Di sisi lain, kelompok yang mengonsumsi lemak jenuh paling sedikit penyakitnya malah semakin menjadi-jadi.

Mengamati industri minyak nabati, tampak bahwa mengonsumsi lebih banyak minyak ini cenderung diasosiasikan dengan progres yang semakin buruk. Tunggu sebentar. Bukankah minyak nabati ini seharusnya ‘sehat bagi jantung’? Bukankah lemak jenuh seharusnya menyumbat arteri? Sepertinya efeknya adalah kebalikan dari apa yang telah diajarkan. Ini juga bukan sekadar studi rinky dink. Buku itu ditulis oleh Dr. Mozaffarian dari sebuah sekolah kecil yang dikenal sebagai Harvard.

Lemak jenuh tidak buruk, mereka baik untuk kesehatan.

Studi besar lainnya Dietary fat intake and early mortality patterns – data from The Malmo Diet and Cancer Study diikuti lebih dari 29.000 subjek di atas 6,6 tahun. Di antara wanita, peningkatan asupan lemak jenuh dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung secara signifikan lebih rendah. Sekali lagi, tidak terlihat terlalu baik untuk Diet-Heart Hipotesis. Mengonsumsi lemak jenuh justru sangat aman.

Hasil yang sama terlihat dalam penelitian Dietary intake of saturated fatty acids and mortality from cardiovascular disease in Japanese. Diikuti kohort 58.543 pria dan wanita Jepang lebih dari 14,1 tahun, para peneliti melihat hubungan antara penyakit jantung, stroke dan asupan lemak jenuh. Tidak mengherankan, ada hubungan terbalik. Itu berarti bahwa mengonsumsi lemak jenuh justru malah melindungi kita dari penyakit jantung dan stroke. Pada tahun 2014, Japan Collaborative Cohort Study found virtually identical results.       Dari kesimpulan mereka, “total kematian berbanding terbalik dengan asupan asam lemak jenuh (SFA)”. Ya, lemak jenuh tidak buruk bagi Anda, itu bagus untuk Anda.

 Beberapa meta-analisis skala besar tentang percobaan mengenai lemak jenuh telah dipublikasikan. Pada tahun 2009, Dr Krause menerbitkan, Meta-analysis of prospective cohort studies evaluating the association of saturated fat with cardiovascular disease“. Setelah meneliti 21 studi yang mencakup 347.747 pasien, dia menyimpulkan: Tidak ada bukti signifikan untuk menyimpulkan bahwa lemak jenuh makanan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Bahkan, ada efek perlindungan kecil namun signifikan terhadap stroke.

Dr. Chowdhury dalam makalahnya Association of Dietary, Circulating, and Supplement Fatty Acids With Coronary Risk: A Systematic Review and Meta-analysissampai pada kesimpulan yang sama. Sementara lemak trans meningkatkan risiko penyakit koroner, lemak jenuh tidak. Tidak ada kekhawatiran bahwa lemak jenuh ganda menyebabkan penyakit. 

Lemak tak jenuh ganda mengandung omega 3 dan omega 6s. Sementara keduanya ditemukan di alam, makanan kita saat ini mungkin sangat berat dan tidak sehat, serta condong ke omega 6s. Ramsden memutuskan untuk menganalisis semua penelitian mengenai lemak tak jenuh ganda, namun membagi lemak tersebut dan menerbitkan makalah tersebut, Use of dietary linoleic acid for secondary prevention of coronary heart disease and death“. 

Gambaran keseluruhan menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian dengan lemak tak jenuh ganda. Namun, setelah diperiksa lebih dekat, Anda dapat melihat bahwa percobaan yang meningkatkan konsumsi omega 3 menunjukkan perlindungan terhadap penyakit jantung. Studi yang meningkatkan konsumsi omega 6 meningkatkan penyakit jantung. Omega 6, jika Anda ingat adalah minyak nabati yang kita konsumsi jauh melebihi omega 3 dengan faktor 15 sampai 30.

Awwww. Snap. Nutritionism menyerang lagi. Semua polyunsaturates tidak sama. Kita terlambat menyadari fakta bahwa minyak nabati highly inflammatory, yang diolah tingkat tinggi mungkin bukan untuk ‘jantung sehat’. Kemungkinan besar mereka berbahaya untuk hati jantung. Dan margarin baru saja berubah dari lemak trans menjadi minyak nabati … .. Saran untuk mengganti lemak jenuh menjadi minyak sayur mungkin belum bagus.

Sumber Gambar

Satu-satunya uji coba acak jangka panjang Test of Effect of Lipid Lowering by Diet on Cardiovascular Risk oleh Dr. Frantz, melihat efek perpindahan telah ditunjukkan pada dekade ini sebelumnya. The Minnesota Coronary Survey mengacak 9.057 narapidana di fasilitas psikiatri untuk mengikuti diet standar dengan lemak 39% (18% jenuh, 5% polyunsaturated, 16% monounsaturated, 446 mg cholesterol) hingga 38% diet lemak jauh lebih rendah pada lemak jenuh (9 % Jenuh, 15% tak jenuh ganda, 14% monounsaturated, 166 mg kolesterol). Hal ini dicapai dengan mengubah ke pengganti telur, margarin dan daging sapi rendah lemak—-semua makanan lezat dan artifisial. Selama masa tindak lanjut 4,5 tahun, mereka tidak dapat menunjukkan manfaat apapun dalam hal penyakit jantung.

Namun, mereka mampu menunjukkan perbedaan dalam angka kematian total. Bukan itu yang mereka cari. Kelompok yang sedang ditreatment meninggal lebih cepat daripada kelompok yang mengonsumsi semua lemak jenuh.

Apa? Mengkonsumsi makanan artifisial, buatan manusia, hasil proses industri tidak baik untuk Anda?

How can that possibly be?