Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Cara Menghancurkan Lemak Tubuh

Sumber Gambar

Kamu tahu, model teori obesitas yang jadul dan terbelakang? Di bawah ini gambarnya.

Kesimpulannya, makan banyak disebabkan karena adanya hormon mediasi, dan bukan karena orang itu rakus. Dan fakta lain yang lebih mencengangkan, makan banyak tidak menyebabkan kita menggemuk, dan makan sedikit tidak menyebabkan kita menjadi ramping. Mungkin bisa saja kamu melangsing, tapi dengan mengurangi porsi, kamu akan mengalami diet yoyo, alias bisa sih jadi ramping, tapi tidak permanen. Untuk bukti yang lebih WOW mari kita menilik kasus Sam Feltham.

Smash the Fat – Calories Part XI

Ini didasari karena adanya ambigu antara eksperimen overeating (makan banyak) versi purbakala dan jaman now alias kekinian, Sam Feltham memutuskan untuk melakukan penelitian fantastis dengan objek dirinya sendiri. Dia makan sebanyak 5 ribu kalori/ hari, dengan komposisi rendah karbohidrat, tinggi lemak (LCHF) dengan menu alami (bukan makanan palsu a.k.a olahan) selama 21 hari. Dasar penelitiannya adalah sebuah premis bahwa yang menyebabkan badan kita membulat bukan karena kalori yang berlebihan namun karena konsumsi karbohidrat olahan. Jika premis itu benar, maka ia tidak akan menggemuk meski jumlah kalorinya sangat tinggi (ingat, tingkat karbohidrat berada di level seminimal mungkin, tingginya kalori berasal dari lemak alami). Wunderbar!

By: Dokter Jason Fung

Contoh dietnya bisa dilihat di sini. Total kalori 5.794 per hari dengan makronutrisi terdiri dari karbohidrat 10%, lemak 53%, dan protein 37%. Jika mengikuti kalkulasi perhitungan kalori standar, seharusnya berat badannya menjadi 7,3 kg. Aktualnya, berat badannya hanya naik sebanyak 1,3 kg.

Yang lebih membuat kita terpelanting lagi adalah, ukuran pinggangnya malah mengecil sekitar 3 cm, yang artinya, memang benar berat badannya naik, namun berupa masa otot. Jika kamu perhatikan lebih seksama, kelebihan kalori tidak membuat kita menimbun lemak. Skala simpel kalori-masuk versus kalori-keluar sungguh tidak relevan.

Lantas, ada beberapa orang yang beradu pendapat bahwa Sam memiliki metabolisme yang cepat, tidak peduli apa yang dia makan, dia tidak akan menggemuk. Benarkah seperti itu? Apa yang akan terjadi jika Sam menendang diet LCHF (rendah karbohidrat tinggi lemak)? Apa yang akan terjadi jika Sam mengonsumsi 5.000 kalori tetapi mengikuti standar American Diabetes Association yang mana tinggi akan asupan karbohidrat?

Hasilnya sungguh brilian. Selama 21 hari dengan diet tinggi karbohidrat sebanyak 5.000 kalori. Lebih dari 21 hari, ia makan 5.793 kalori/ hari dengan makanan palsu yang terdiri dari tepung dan gula.

Makronutrisinya terdiri dari:

  1. Karbohidrat sebanyak 64%.
  2. Lemak sebesar 22%.
  3. Protein porsinya 14%.

Menariknya, ini serupa benar dengan apa yang direkomendasikan oleh para ahli gizi kepada kita. Lantas, bagaimana hasilnya? Apakah dengan kalori yang sama ia menggemuk atau meramping? Kamu bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri, berat badannya naik, dan sesuai dengan prediksi formula kalori—naik sebanyak 7.1 kg. Ukuran pinggang melar menjadi 9,25 cm.

Lihatlah gambarnya! Lipatan dagu yang aduhai, Batman. Hanya dalam jangka waktu 21 hari, cowok ganteng ini juga mempunyai love handles alias lipatan pinggang. Inilah yang akan terjadi jika kamu menuruti apa kata badan otoritas obesitas.

Sekarang kamu sudah mendapat gambaran yang sangat jelas, kan? Ada sesuatu yang lebih rumit daripada mengurangi kalori. Dengan jumlah kalori yang sama, satu diet—rendah karbohidrat, tinggi lemak, makanan natural, membuat kita meramping (ukuran pinggang pun mengecil). Di sisi lain, gaya diet standar yang disarankan oleh American Heart Association malah menaikkan berat badan kita sebanyak 15 pound. Jadi, penyebabnya bukan kelebihan kalori dong. Sepakat? Jika kita bersikap cuek pada model CRAP dan kalori, kemudian kita bisa fokus pada pertanyaan yang relevan.

Apa yang menyebabkan badan menggemuk? Apa etiologi obesitas? Pastinya bukan menghitung kalori.

Kita telah mendapatkan realita bahwa tubuh mempunyai setelan tertentu untuk berat badan. Jika kamu mencoba menaikkannya, tubuh akan mengupayakan agar dia kembali melangsing. Jika kamu berusaha menurunkannya, tubuh malah melonjakkan timbangan. Jadi, pertanyaan super pentingnya, apa yang mengontrol pengaturan berat badan?

Satu-satunya cara untuk mengurangi berat badan dengan sukses adalah dengan menurunkan BSW. Tetapi, kita bisa melakukan hal itu jika kita mengerti apa yang mengatur termostat berat badan?

Analoginya begini. Katakanlah kamu mengatur termostrat di rumahmu menjadi 30 celcius, yang mana sangat panas dan bikin uring-uringan. Supaya menjadi sejuk, kamu membeli AC. Memang sih, AC telah mendinginkan ruangan, namun termostatmu menyalakan heater sehingga AC dan heater saling beradu dan berkelahi satu sama lain.

Nah, begitu pula dengan berat badan. Kita mengurangi kalori, namun mengabaikan BSW. Kamu mencoba melangsing, namun tubuhmu mengembalikan lagi berat yang hilang. Kita lapar. Metabolisme mulai dimatikan.

Bukankah jauh lebih mudah jika kita mengatur termostat menjadi 21 celsius—temperatur yang nyaman, dibandingkan melawan tubuh kita sendiri? Alasan mengapa diet sangat sulit karena kita berantem dengan tubuh kita sendiri. Dan inilah tantangan selanjutnya, kita harus mencari tahu, apa yang sebenarnya mengendalikan BSW?

Ingin Langsing dan Ramping? Baca Tentang Epidemi Obesitas dan Diabetes di China

Sumber Gambar

Populasi dalam Transisi – Hormon obesitas 

Penduduk di China dan Timur Jauh secara perlahan telah mengembangkan epidemi diabetes dan obesitas yang populasinya nyaris meyusul Amerika Serikat. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, ada korelasi yang kuat antara obesitas dengan kenaikan asupan gandum dan gula. Dengan kedua komponen itu, kegemukan akan menggila dan merajalela.

Pada tahun 1990-an, studi INTERMAP menunjukkan bahwa makanan Cina sangat tinggi karbohidrat (beras putih) namun sangat rendah gula. Sehingga obesitas dan diabetes tingkatnya sangat rendah. Selama bertahun-tahun, hipotesis ini, menyebabkan si karbohidrat terbebas dari tuduhan sebagai penjahat utama penyebab kegemukan. Mereka beralasan, jika memang karbohidrat merupakan pelaku utama yang menyebabkan badan melar, seharusnya, di negara China kegemukan menjadi wabah.

By: Dokter Jason Fung

Namun, semua karbohidrat tidak setara. Gula, seperti telah kita beberkan sebelumnya, akan menggemukkan sebanyak dua kali lipat.

Gula mengandung glukosa dan fruktosa. Glukosa bisa meningkatkan insulin. Fruktosa jauh lebih berbahaya karena menyebabkan resistensi insulin.

Gandum, terutama dalam iterasi modern mungkin sangat menggemukkan karena berbagai alasan. Tingginya amilopektin berarti bahwa sebagian besar pati yang terkandung dalam tepung diubah secara efisien menjadi glukosa. Kombinasi mematikan gandum dan gula ini telah diperkenalkan ke dalam makanan Cina. Hasilnya adalah malapetaka diabetes di Cina. Prevalensi diabetes di China kini telah melampaui Amerika Serikat.

Inilah jawaban dari paradoks teka-teki kenapa Asia pemakan nasi tidak menggemuk. Mengapa orang Cina tidak memiliki epidemi diabetes pada tahun 1990 padahal mereka memakan nasi putih? Nah, karena mereka tidak makan gula (fruktosa), mereka tidak mengalami resistensi insulin. Karena mereka tidak ngemil sepanjang waktu, membuat periode tingkat insulin rendah selama beberapa jam, sehingga membantu mencegah mengguritanya resistensi insulin. Jadi, asupan nasi itu sendiri tidak membuat obesitas ataupun diabetes.

Begitu makanan mereka menjadi lebih kebarat-baratan, itu adalah bencana yang menunggu bom waktu. Dengan semakin tingginya asupan gula dan makan sepanjang waktu, resistensi insulin di hati mulai berkembang. Ditambah lagi dikombinasikan dengan asupan karbohidrat tinggi menyebabkan diabetes menjamur meski dengan tingkat obesitas jauh lebih rendah dari Amerika Serikat.

Grafik di bawah ini juga berguna untuk melihat Studi Migran Pulau Tokelau sebagai mikrokosmos dari apa yang terjadi sekarang di China. Kepulauan Tokelau adalah kelompok dari 3 atol karang kecil di Pasifik Selatan. Bagian dari Kerajaan Inggris sejak 1877, kedaulatan dipindahkan ke Selandia Baru pada tahun 1948. Makanan mereka didominasi oleh kelapa, ikan dan sukun. Jumlah lemak jenuh sangat tinggi karena mengonsumsi kelapa.

Pada tahun 1966, karena terancam kelebihan populasi, separuh penduduk asli dipindahkan ke Selandia Baru dimana makanan tradisional mereka mengalami perubahan cepat menjadi makanan Barat. Konsumsi makanan olahan modern seperti gula dan tepung meningkat lebih dari 6 kali lipat. Asupan gula meningkat dari 2% kalori menjadi 14% dalam 15 tahun.

Pada populasi tersebut ada peningkatan berat badan yang stabil. Rata-rata, pada tahun 1983 penduduk migran Tokelau naik berat badannya sekitar 11 pounds dibandingkan dengan non-migran, lanats lebih dari 20 pound lebih banyak pada tahun 1968.

Bagaimana dengan diabetes? Prevalensi diabetes hampir dua kali lipat. Dengan kata lain—sebuah malapetaka diabetes. Sama seperti China.

Karena diabetes hanyalah resistensi insulin tinggi, Anda dapat melihat bagaimana penambahan gula dan gandum secara signifikan meningkatkan resistensi insulin. Tingkat pengolahan yang tinggi juga akan cenderung menurunkan salah satu faktor pelindung utama—serat.

Lemak juga merupakan faktor pelindung alami yang telah diusir dari makanan tradisional. Dalam kasus Amerika Utara, hal itu memang sengaja dikurangi.

 Hal yang benar-benar menakutkan tentang semua ini, tentu saja, adalah bahwa jika kita tidak mengetahui penyebab epidemi diabetes, keadaan akan menjadi lebih buruk. Resistensi insulin menyebabkan peningkatan kadar insulin yang memberi umpan balik dan menyebabkan resistensi insulin lebih tinggi pada lingkaran setan yang klasik. Mbulet, alias tidak ada jalan keluar. Sangat mengerikan.

 

Sumber Gambar

Ingin Langsing dan Kurus baca tentang Lemak Jenuh

Sumber Gambar

Lemak Jenuh Sebagai Efek Pelindung Untuk Penyakit Kardiovaskular—Hormon Obesitas

Lemak jenuh yang dipercaya sebagai racun ternyata malah menjadi sosok pahlawan pasca lemak transnya dilucuti. Dengan kata lain, lemak jenuh tidak berbahaya, tidak seperti yang telah digembar-gemborkan selama ini. Dan telah banyak penelitian menunjukkan fakta bahwa ada kemungkinan  lemak jenuh merupakan faktor protektif terhadap penyakit jantung. Studi “Dietary fats, carbohydrate, and progression of coronary atherosclerosis in postmenopausal women” memeriksa perkembangan angiografi penyakit koroner dan hubungannya dengan diet.

By: Dokter Jason Fung

Angiogram adalah tes jantung standar dimana pewarna dimasukkan ke urat arteri di sekitar jantung untuk menentukan apakah ada penyumbatan. Melihat 235 wanita dengan penyakit jantung menahun, mereka mengukur angiogram awal dan mengulanginya rata-rata 3,1 tahun. Mereka kemudian melihat diet para wanita ini untuk melihat apakah ada pola.

Mereka membagi wanita-wanita ini ke dalam kelompok sesuai dengan asupan lemak mereka, tampaknya tidak ada hubungan sama sekali. Wanita yang paling banyak mengkonsumsi lemak memiliki sedikit penyumbatan dibandingkan mereka yang memakan lemak paling sedikit. Diet rendah lemak malah yang paling banyak tersumbat.

Satu Makro nutrien yang menonjol dan terlihat sangat menyeramkan adalah karbohidrat. Asupan karbohidrat tertinggi dikaitkan dengan tingkat penyumbatan jantung tertinggi.

Tidak terlihat terlalu bagus untuk hipotesis Diet-Jantung. Orang-orang yang sedang mengikuti diet ala American Heart Association menyetujui diet rendah lemak membuat mereka berpenyakit jantung. Orang-orang yang mengonsumsi makanan berlemak tinggi malah tidak mengalami masalah.

Jenis lemak makanan selanjutnya dibagi untuk melihat apakah semua lemak jenuh alami memang berbahaya bagi kesehatan manusia. Kelompok yang mengonsumsi lemak paling jenuh memiliki regresi penyumbatannya. Penyakit jantung mereka mencair! Di sisi lain, kelompok yang mengonsumsi lemak jenuh paling sedikit penyakitnya malah semakin menjadi-jadi.

Mengamati industri minyak nabati, tampak bahwa mengonsumsi lebih banyak minyak ini cenderung diasosiasikan dengan progres yang semakin buruk. Tunggu sebentar. Bukankah minyak nabati ini seharusnya ‘sehat bagi jantung’? Bukankah lemak jenuh seharusnya menyumbat arteri? Sepertinya efeknya adalah kebalikan dari apa yang telah diajarkan. Ini juga bukan sekadar studi rinky dink. Buku itu ditulis oleh Dr. Mozaffarian dari sebuah sekolah kecil yang dikenal sebagai Harvard.

Lemak jenuh tidak buruk, mereka baik untuk kesehatan.

Studi besar lainnya Dietary fat intake and early mortality patterns – data from The Malmo Diet and Cancer Study diikuti lebih dari 29.000 subjek di atas 6,6 tahun. Di antara wanita, peningkatan asupan lemak jenuh dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung secara signifikan lebih rendah. Sekali lagi, tidak terlihat terlalu baik untuk Diet-Heart Hipotesis. Mengonsumsi lemak jenuh justru sangat aman.

Hasil yang sama terlihat dalam penelitian Dietary intake of saturated fatty acids and mortality from cardiovascular disease in Japanese. Diikuti kohort 58.543 pria dan wanita Jepang lebih dari 14,1 tahun, para peneliti melihat hubungan antara penyakit jantung, stroke dan asupan lemak jenuh. Tidak mengherankan, ada hubungan terbalik. Itu berarti bahwa mengonsumsi lemak jenuh justru malah melindungi kita dari penyakit jantung dan stroke. Pada tahun 2014, Japan Collaborative Cohort Study found virtually identical results.       Dari kesimpulan mereka, “total kematian berbanding terbalik dengan asupan asam lemak jenuh (SFA)”. Ya, lemak jenuh tidak buruk bagi Anda, itu bagus untuk Anda.

 Beberapa meta-analisis skala besar tentang percobaan mengenai lemak jenuh telah dipublikasikan. Pada tahun 2009, Dr Krause menerbitkan, Meta-analysis of prospective cohort studies evaluating the association of saturated fat with cardiovascular disease“. Setelah meneliti 21 studi yang mencakup 347.747 pasien, dia menyimpulkan: Tidak ada bukti signifikan untuk menyimpulkan bahwa lemak jenuh makanan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Bahkan, ada efek perlindungan kecil namun signifikan terhadap stroke.

Dr. Chowdhury dalam makalahnya Association of Dietary, Circulating, and Supplement Fatty Acids With Coronary Risk: A Systematic Review and Meta-analysissampai pada kesimpulan yang sama. Sementara lemak trans meningkatkan risiko penyakit koroner, lemak jenuh tidak. Tidak ada kekhawatiran bahwa lemak jenuh ganda menyebabkan penyakit. 

Lemak tak jenuh ganda mengandung omega 3 dan omega 6s. Sementara keduanya ditemukan di alam, makanan kita saat ini mungkin sangat berat dan tidak sehat, serta condong ke omega 6s. Ramsden memutuskan untuk menganalisis semua penelitian mengenai lemak tak jenuh ganda, namun membagi lemak tersebut dan menerbitkan makalah tersebut, Use of dietary linoleic acid for secondary prevention of coronary heart disease and death“. 

Gambaran keseluruhan menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian dengan lemak tak jenuh ganda. Namun, setelah diperiksa lebih dekat, Anda dapat melihat bahwa percobaan yang meningkatkan konsumsi omega 3 menunjukkan perlindungan terhadap penyakit jantung. Studi yang meningkatkan konsumsi omega 6 meningkatkan penyakit jantung. Omega 6, jika Anda ingat adalah minyak nabati yang kita konsumsi jauh melebihi omega 3 dengan faktor 15 sampai 30.

Awwww. Snap. Nutritionism menyerang lagi. Semua polyunsaturates tidak sama. Kita terlambat menyadari fakta bahwa minyak nabati highly inflammatory, yang diolah tingkat tinggi mungkin bukan untuk ‘jantung sehat’. Kemungkinan besar mereka berbahaya untuk hati jantung. Dan margarin baru saja berubah dari lemak trans menjadi minyak nabati … .. Saran untuk mengganti lemak jenuh menjadi minyak sayur mungkin belum bagus.

Sumber Gambar

Satu-satunya uji coba acak jangka panjang Test of Effect of Lipid Lowering by Diet on Cardiovascular Risk oleh Dr. Frantz, melihat efek perpindahan telah ditunjukkan pada dekade ini sebelumnya. The Minnesota Coronary Survey mengacak 9.057 narapidana di fasilitas psikiatri untuk mengikuti diet standar dengan lemak 39% (18% jenuh, 5% polyunsaturated, 16% monounsaturated, 446 mg cholesterol) hingga 38% diet lemak jauh lebih rendah pada lemak jenuh (9 % Jenuh, 15% tak jenuh ganda, 14% monounsaturated, 166 mg kolesterol). Hal ini dicapai dengan mengubah ke pengganti telur, margarin dan daging sapi rendah lemak—-semua makanan lezat dan artifisial. Selama masa tindak lanjut 4,5 tahun, mereka tidak dapat menunjukkan manfaat apapun dalam hal penyakit jantung.

Namun, mereka mampu menunjukkan perbedaan dalam angka kematian total. Bukan itu yang mereka cari. Kelompok yang sedang ditreatment meninggal lebih cepat daripada kelompok yang mengonsumsi semua lemak jenuh.

Apa? Mengkonsumsi makanan artifisial, buatan manusia, hasil proses industri tidak baik untuk Anda?

How can that possibly be?

 

Ingin Langsing dan Kurus Permanen? Baca Mengapa Diet Atkins Gagal


Sumber Gambar

By: Dokter Jason Fung

The Atkins Decline
Revolusi Atkin telah berlangsung dengan baik dan benar-benar mulus pada pertengahan 2000-an. Jutaan orang di seluruh dunia mengikuti gaya hidup rendah karbohidrat. Burger King memperkenalkan daging dibungkus dengan selada (burger selada) untuk mengurangi kandungan karbohidrat. Semua orang tampaknya mengetahui siapa yang sedang melakukan diet, dan sebagian besar dari mereka telah berhasil melangsing. Harapan ramping permanen dan menghilangkan komplikasi penyakit yang berkenaan dengan kegemukan tampaknya telah dalam genggaman.

Tapi sayangnya, itu tidak terjadi. Studi jangka panjang dari diet Atkins gagal untuk mengkonfirmasi langsing ini bisa berlaku selamanya. Studi terkontrol secara acak yang dilakukan oleh Dr. Foster kepada 307 pasien telah gagal menemukan bagaimana menaikkan kesempatan untuk mensukseskan penurunan berat badan pada kelompok rendah karbohidrat. Pengalaman kelompok ini didokumentasikan dalam buku yang sangat ekselen “Rethinking Thin”, oleh penulis New York Times Gina Kolata. Baik grup diet-low-fat maupun kelompok Atkins memang sanggup mengenyahkan lemak tubuh, tetapi sial sekali, kedua kelompok tersebut kembali menggemuk.

Sebuah tinjauan sistematis pada semua percobaan diet menunjukkan bahwa melangsing dengan metode rendah karbohidrat akan bertahan hanya dalam jangka waktu satu tahun, dan selanjutnya akan memudar. Pada studi DIRECT tingkat lanjut, ditemukan bahwa, dalam jangka waktu 12 bulan, semua pasien menggemuk kembali, termasuk kelompok rendah karbohidrat.

Sumber Gambar

Penyebabnya adalahnya tingkat kepatuhan yang terus berkurang, baik pada kelompok rendah kalori maupun grup rendah karbohidrat. Awalnya, karena kalori tidak dibatasi, banyak yang berasumsi bahwa diet Atkins akan lebih mudah diikuti karena pasti pasien lebih patuh. Namun, kenyataannya, tidak semudah itu. Kedua grup (lebih dari 40%) tersebut lantas meninggalkan diet setelah satu tahun, kelompok Atkins pun tak jauh beda. Mereka lelah harus patuh dengan aturan yang tidak masuk akal untuk jangka panjang.

Esensinya, semua ini telah bisa diprediksi. Banyak makanan yang indulgent in nature atau memanjakan dari sononya, yang mana pada diet ini telah dihilangkan sama sekali. Kue tart, kue kering, es krim, dan makanan penutup lainnya harus dimusnahkan. Semua orang tahu bahwa makanan ini tidak sehat bagi kita, dan merupakan musuh utama untuk melangsing. Namun kita masih saja mengunyah mereka, hanya karena mereka memanjakan dan memberi kenikmatan tersendiri. Makanan adalah perayaan. Setiap perayaan dalam sejarah manusia disertai dengan pesta. Hal ini berlaku sejak zaman purba baik 2017 Sebelum Masehi ataupun 2017 Setelah Masehi. Ulang tahun, pernikahan, perayaan kelulusan—apa yang kita makan? Kue. Es krim. Bukan tempe goreng. Mengapa? Karena kita ingin memanjakan diri. Diet Atkins tidak memungkinkan untuk fakta sederhana ini, which doomed it to failure alias pasti akan gagal total.

Ini menegaskan pengamatan klinis bahwa diet Atkins tidak akan abadi. Jutaan orang meninggalkan diet Atkins. Perusahaan Atkins Nutritionals, yang didirikan pada tahun 1989 oleh Dr Atkins telah bangkrut karena para pasiennya melarikan diri.
Apa yang sesungguhnya telah terjadi?


Sumber Gambar

Salah satu prinsip dasar diet rendah karbohidrat adalah bahwa insulin adalah pendorong utama obesitas. Fakta ini nampaknya kokoh didasarkan pada sains seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Karbohidrat adalah nutrisi makro utama (dari lemak, protein dan karbohidrat) yang menyebabkan gula darah naik. Saat gula darah naik, insulin diasumsikan juga mengikuti. Karenanya, karbohidrat diasumsikan memainkan peran utama dalam merangsang pelepasan insulin. Ini benar. Namun, kita belum mempertimbangkan kemungkinan bahwa makanan dapat meningkatkan kadar insulin tanpa menaikkan gula darah.

Terobosan itu ditemukan pada tahun 1997, dengan penerbitan indeks insulin. Mengukur respon insulin dari 1000kJ porsi makanan, memang tidak mengherankan bahwa makanan yang merangsang insulin yang paling banyak adalah makanan yang kaya akan karbohidrat seperti produk roti, makanan ringan dan penganan. Tetapi, yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa makanan yang kaya protein juga secara signifikan meningkatkan kadar insulin.

Dimana kebanyakan orang berasumsi bahwa ada korelasi yang erat antara kadar glukosa dan insulin, ternyata glukosa menyebabkan sekresi insulin hanya 23% dari variabilitas. Dengan kata lain, hanya 23% dari respon insulin ditentukan oleh seberapa tinggi gula darah. Sebagian besar respon insulin (77%) tidak berhubungan sama sekali. Setelah ditemukan fakta bahwa yang menyebabkan kegemukan adalah insulin bukan glukosa, ini mengubah segalanya. Inilah poin dimana indeks diet glisemik gagal. Mereka menargetkan respon glukosa dengan asumsi bahwa respon insulin dicerminkan oleh glukosa, dengan kata lain, jika kita makan banyak glukosa maka insulin pun meluber. Tetapi, ini tidak terjadi. Banyak faktor yang menyebabkan insulin naik. Pada akhirnya, respon insulinlah yang terpenting. BUKAN GLUKOSA.

Penemuan terbaru dari efek incretin menjelaskan banyak hal. Penemuan terbaru yang sangat berharga adalah bahwa saluran pencernaan, khususnya lambung dan usus kecil aktif mengeluarkan hormon. Ada begitu banyak neuron dalam sistem pencernaan yang kadang-kadang disebut ‘otak kedua’.

Hormon incretin, Glukagon seperti Peptide (GLP-1) dan glukosa tergantung insulinotropic polipeptida (GIP) disekresikan oleh fundus lambung dalam merespon makanan. GLP-1 meningkatkan pelepasan insulin oleh pankreas. Peran utama dari GIP, ditemukan di duodenum dan jejunum (usus kecil) juga untuk merangsang pelepasan insulin. Lemak, asam amino dan glukosa semua merangsang pelepasan GLP-1 dan dengan demikian, peningkatan insulin. Asam amino glutamin dapat menjadi stimulus, yang sungguh mengejutkan, ternyata sangat ampuh.

Bahkan permanis artifisial, yang tidak memiliki kalori sama sekali, dapat merangsang respon insulin. Sucralose, when studied in obese human volunteers, meningkatkan insulin 22% lebih tinggi dari air. Saluran pencernaan dan pankreas dapat mendeteksi gula melalui reseptor rasa di mulut. Hal ini, mungkin, dapat mengaktifkan sekresi GLP-1 dan insulin.


Sumber Gambar

Selain itu, ada efek terkenal disebut ‘fase cephalic’ yang bisa mensekresi insulin. Hal ini mengacu pada fakta bahwa tubuh mulai mengantisipasi makanan sesaat setelah Anda memasukkannya ke dalam mulut Anda, dan jauh sebelum nutrisi memukul perut. Penelitian telah menunjukkan insulin akan dilepaskan untuk merespon sukrosa dan sakarin bahkan jika Anda meludahkannya segera setelah dicecap lidah.

Penyebab insulin dilepas bukan karena oleh gula saja, tetapi efek incretin menunjukkan bahwa asam lemak dan asam amino juga berperan dalam stimulasi insulin. Hold on. Ini mengubah segalanya. Implikasi sederhananya adalah jika karbohidrat bukan penyebab tunggal pelepasan insulin, lantas membatasi karbohidrat saja tidak akan menyelesaikan masalah dong? Jadi kita harus tidak makan sama sekali? Apakah benar begitu?