Bagaimana cara mengobati diabetes? Baca testimonial pasien bernama Sunny dan Cherie

Sumber Gambar

Sunny, berusia 51 tahun, telah didiagnosa menderita diabetes tipe 2 sejak pertengahan 1990-an, ketika ia berusia 30-an. Saat pertama kali berobat, resep yang diberikan adalah Metformin. Bertahun-tahun kemudian, obat yang dibutuhkan untuk mengendalikan gula darahnya menjadi berlipat ganda. Pada tahun 2011 ia mulai ‘memasok’ insulin. Pada saat saya bertemu dengannya, dia menggunakan Metformin dosis maksimal, dan juga menyuntikkan 70 unit insulin setiap hari. Meskipun obat dosis besar ini, gulanya masih sulit dijinakkan, dengan hemoglobin A1C sebesar 7,2%. Tes darah ini mencerminkan gambaran gula darah per tiga bulan. Kontrol optimal didefinisikan kurang dari 7,0%, walaupun banyak dokter merekomendasikan untuk mendapatkan A1C kurang dari 6,5%.

Sunny berpartisipasi dalam program IDM kami per tanggal 2 Oktober 2015. Dia mengubah diet  dengan makanan rendah karbohidrat olahan dan lemak alami tinggi. Selain itu, kami memintanya untuk berpuasa tiga hari dalam seminggu masing-masing 36-42 jam. Jika dia selesai makan malam di hari 1, dia tidak akan makan lagi sampai makan siang di hari ke 3. Dan, gula darahnya segera membaik.

Sumber Gambar

Dalam waktu yang sangat singkat yaitu hanya dua minggu, insulinnya dihentikan. Satu bulan setelah itu, kami menghentikan semua pengobatan diabetesnya sepenuhnya. Sejak itu, dia mempertahankan gula darah normal tanpa obat dan hanya mengandalkan diet. Selama masa liburan Natal, seperti banyak pasien dalam program kami, pastinya mengalami kenaikan berat badan dan gula darahnya sedikit melonjak.

Namun, ketika dia memulai kembali dietnya plus puasa intermiten, berat dan gula darahnya berkurang dan dia tidak memerlukan obat-obatan. Pada bulan Maret 2016, berat badannya telah stabil dan indeks massa tubuhnya hanya 18,5. Dia tidak harus melangsing lagi, jadi rejimen puasanya dikurangi menjadi 24 jam puasa tiga kali seminggu, itu juga sebagai perawatan saja. Tentu saja, jika dia makan segambreng alias loss control atau jika gula darah atau bobotnya mulai naik, dia menambah durasi puasanya lagi sesuai kebutuhan. Tapi hal yang paling penting adalah, ukuran pinggangnya turun drastis. Skala pinggang merupakan cerminan bagus dari lemak di organ perut. Lebih akuratnya ini mencerminkan keadaan metabolik tubuh.

By: Dokter Jason Fung (Sunny and Cherie)

Lingkar pinggang atau rasio pinggang dianggap merupakan prediktor kesehatan yang terbaik dibanding berat badan sederhana. Dan yang lebih luar biasa lagi adalah, fungsi ginjalnya mulai apik.

Pertama kali dia mengikuti diet di klinik IDM, terdapat sedikit protein ke dalam urinnya. Rasio mikroalbumin/ kreatininnya adalah 13,8, jauh di atas batas normal 2,0. Protein ini dalam urin adalah tanda pertama kerusakan diabetes pada ginjal dan sering dianggap hal permanen, sama seperti diabetes tipe 2 sendiri disangka tidak dapat diubah.

Sumber Gambar

Pada bulan November, ekskresi protein dalam urinnya turun menjadi 0,4, berada dalam kisaran normal. Sunny merasa sangat membaik. Dia tidak mengalami kesulitan untuk mempertahankan diet rendah karbohidrat atau protokol puasa intermiten.

Dulu, dia menyuntik dirinya dua kali sehari selama lima tahun dan minum obat diabetes selama lebih dari dua puluh tahun. Sekarang dia terbebas dari penyakit yang ditakuti ini dalam beberapa bulan diet singkat yang tepat dan puasa intermiten ekstra. Gula darahnya sekarang membuat dia diklasifikasikan sebagai pra-diabetes, bukan diabetes lanjut. Penyakitnya telah dijungkirbalikkan. Tapi itu bukan akhir dari cerita.

Cherie

Pada bulan Januari 2016, Cherie, kakak Sunny tercengang melihat betapa adik laki-lakinya berhasil menendang diabetesnya. Dia meramping. Ukuran pinggangnya turun. Semua obat diabetesnya telah distop. Bahkan perubahan gaya hidup ini sungguh simpel. Diabetes yang telah diderita selama 20 tahun telah dibalik hanya dalam jangka waktu semalam. Cherie ingin join juga, dong, jadinya.

Sumber Gambar

Cherie berusia 55 tahun, pada usia 48 tahun— tujuh tahun sebelumnya—telah didiagnosis menderita diabetes tipe 2. Sekali lagi, ceritanya mirip dengan kakaknya. Dia memulai dengan dosis kecil untuk diabetes. Tetapi, selama bertahun-tahun, tumpukan obatnya perlahan tumbuh. Dia sekarang meminum tiga obat yaitu:

  1. Untuk diabetes,
  2. Obat kolesterol,
  3. Obat tekanan darah, dan
  4. Sesuatu untuk heartburn

Kami mendiskusikan situasinya dan bersama-sama memutuskan rencana diet untuknya. Dia akan mengonsumsi makanan rendah karbohidrat olahan dan lemak alami yang tinggi. Dia, sih, nggak yakin bagaimana perasaannya saat berpuasa, jadi kami memutuskan untuk melakukan puasa 24 jam tiga kali seminggu.

Kencing manisnya tidak separah kakaknya, dan dia selalu bisa menambah durasi puasa jika perlu, tapi untuk awalan, dia hanya akan melakukan 24 jam sekaligus. Dia memulai program kami pada bulan Februari 2016. Gula darahnya segera bereaksi.

Dalam dua minggu, dia menghentikan ketiga obat diabetesnya. Gula darahnya sekarang secara konsisten diukur dalam kisaran normal. Bobotnya mulai menurun, begitu pula ukuran pinggangnya. Mulasnya juga hilang.

Tekanan darahnya menjadi normal, jadi dia menghentikan obat tekanan darahnya. Jumlah kolesterolnya meningkat sehingga dia menghentikan pengobatan kolesterolnya. Dalam satu bulan, dia menghentikan semua enam obatnya, namun kerja darahnya menjadi perfek. Hemoglobin A1C-nya 6,2% lebih kordial daripada saat dia mengonsumsi ketiga obat diabetes tersebut.

Sumber Gambar

Dia tidak lagi dianggap diabetes, hanya pra-diabetes. Ini berarti penyakitnya terjungkir. Selanjutnya, dia merasa sangat segar. Dia tidak memiliki masalah dengan protokol puasa. Meskipun periode puasanya lebih singkat, dia masih mendapatkan hasil yang sangat cemerlang sehingga nggak perlu mengubahnya.

Dia telah minum enam obat di awal. Sekarang dia sama sekali nggak mengonsumi obat, dan merasa seratus kali lebih baik. Ini menggambarkan sebuah poin penting. Diabetes tipe 2 adalah penyakit diet.

Sumber Gambar

Dengan demikian, satu-satunya treatment logis adalah memermak pola makan dan gaya hidup. Jika masalahnya asupan karbohidrat berlebih, maka memangkas karbohidrat adalah jawabannya. Jika masalahnya kegemukan, maka puasa adalah jawabannya.

Begitu kita memperbaiki masalah fundamental, penyakit ini bisa dibalikkan. Namun sayangnya, selama ini kita telah dicuci otak untuk percaya bahwa diabetes tipe 2 dan semua komplikasinya tidak dapat disembuhkan. Kita telah tertipu untuk percaya bahwa kita dapat berhasil mengobati penyakit diet dengan meningkatkan dosis obat-obatan. Bila obat gagal mengendalikan diabetes, kita diberitahu bahwa penyakitnya kronis dan progresif.

Sunny memiliki diabetes tipe 2 lebih dari 20 tahun, namun berhasil berhasil membuang penyakitnya dalam hitungan bulan. Cherie telah menderita diabetes selama tujuh tahun, dan juga sukses membalikkan penyakitnya dalam beberapa bulan. Tapi mereka bukan anomali. Hampir setiap hari saya bertemu orang-orang dari segala usia yang telah menggulingkan atau mengusir diabetes tipe 2 mereka di klinik IDM.

Mau Kurus Dan Ramping? Baca Testimonial Pasien Bernama Shannon

Sumber Gambar

Saya ingin sharing email yang saya terima dari Shannon, seorang pembaca. Dia menulis: Seperti yang biasa dikatakan oleh Hans dan Franz, “Hear me now and believe me later.”

Never let yourself get out of shape.  Saya menyertakan sebuah gambar dari bulan November lalu di sebuah penanda buku ICON 39—seperti yang Anda lihat, saya hampir tidak muat di kursi. Pada saat itu, timbangan saya menunjukkan angka 390 pound—pada bulan Januari, jika saya tidak mengubah kebiasaan, maka saya akan berada di kisaran 395 pound.

Jadi, tidak lama setelah gambar itu diambil, Januari 2015, saya memutuskan bahwa saya perlu melakukan transformasi dalam hidup saya.

Umur saya 40 tahun, berat badan luar biasa fatal, dan saya mengidap diabetes. Masalahnya, saya tidak tahu bagaimana metode yang efektif dan nggak menyiksa.

Tadinya duduk di kursi aja nggak muat.

Sedikit sejarah: Saya menjalani diet pertama saya saat berusia 12 tahun. Ibu saya tahu bahwa saya tampak seperti buntelan, dan pada saat makan saya terlalu hanyut dan merem melek  saking  saya sangat menikmati makanan. Beliau mencoba membuat saya makan lebih sedikit, membikin saya ketagihan diet soda, dan bahkan menyuruh saya mencoba diet rendah karbohidrat dalam jangka waktu temporer.

Di masa remaja saya, saya sedikit langsing, dong. Saya sibuk bertani dan ngelakuin marching Drum serta Bugle Corps. Saat kuliah,   kondisi saya nggak busuk-busuk amat lah, hanya sedikit heavyset, tapi saya menjaga berat badan saya supaya tidak melonjak, meski saat  berada di level senior timbangan menunjukkan angka 280. Tetapi, saya berhasil melepas beberapa pon tahun itu dan lulus dengan di angka 250.

Setelah Melakukan Puasa Intermittent

Sialnya, selama dua dekade berikutnya, si bobot perlahan naik.

Saya menjajal diet sana-sini, dan saya gagal. Saya berhasil memenggal beberapa pon, namun, setelah liburan, saya malah semakin bulat. Setiap tahun, bukannya berhasil menggunting si angka, eh justru menanjak perlahan dan pasti.

Pada tahun 2013, dengan berat badan saya duduk manis di angka 380, saya didiagnosis menderita diabetes. Saya pikir gula darah puasa saya sekitar 250 saat mereka melakukan tes panel metabolik. Sebelum dideteksi, saya belum banyak belajar tentang diabetes. Saya tahu bahwa saya memiliki sepupu yang kehilangan kaki karena diabetes, dan ibu saya telah mendapatkan predikat sebagai penderita diabetik beberapa tahun sebelumnya, namun ia mengendalikannya dengan diet rendah karbohidrat.

Sumber Gambar

Selama tahun 2014, saya mencoba produk Soylent—pengganti makanan—yang rasanya hambar sebagai cara untuk mencoba mencopot habit sebagai pecandu makanan.

Saya pikir, selayaknya orang-orang yang keranjingan dengan suatu hal, saya akan berhenti dengan adiksi ini dengan mencoba metode cold turkey. Tetapi, faktanya, saya tidak bisa bertahan lebih daripada seminggu. Dan berita lebih horornya adalah, gula darah saya melonjak nggak karuan.

Pada bulan januari 2015, tercatatlah sejarah dalam dunia timbang-menimbang, pada pagi hari, berat badan saya adalah 395, yang artinya, di penghujung hari si berat akan berada di angka 400 pound. Itu adalah hal super pelik. Saya juga sangat menderita. Ketika saya muda, saya selalu berkata,  “I’m big, but I’m in good shape,” namun, saat ini saya tahu saya dalam kondisi mengenaskan. Naik tangga menjadi hal yang sungguh bengis. Gula darah saya awut-awutan, tanpa obat hidup saya bagai di neraka.

By: Dokter Jason Fung  (Shannon – Patient Profile)

Saya putus asa. Lantas, saya membaca semua ilmu nutrisi, tetapi, setiap kali berdiet ketat, saya kangen banget dengan makanan favorit—sang sahabat lama yang selalu di hati.

Saya telah menghabiskan 90% hidup saya untuk mengekang nafsu makan dan menendang hidangan ini itu, yang membuat saya nggak karu-karuan. Saya telah berjuang dan berhasil memangkas beberapa kilo, tetapi, ketika saya berhenti, saya menggemuk kembali.

Sejak menderita diabetes, saya ingin belajar sebanyak mungkin mengenai penyakit ini. Saya mengikuti kelas tentang diabetes. Saya menonton kuliah medis dan Ted Talks. Saya membaca forum dan blog. Saya menemukan banyak informasi yang kontradiktif, tapi satu hal yang pasti. Tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang menyebabkan sindrom metabolik (beragam penyakit yang menyebabkan obesitas dan diabetes) sehingga tidak ada yang memiliki pandangan jelas tentang solusinya.

Saya sedang membaca komentar di sebuah posting internet di sebuah forum diabetes saat seseorang merekomendasikan video ini: The Two Big Lies of Type 2 Diabetes oleh Dr. Jason Fung.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa seseorang benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi dengan tubuh ini. Karena klinik Dr. Fung ada di Kanada, saya memutuskan untuk mengambil gagasan dari ceramahnya (saya memperhatikan semua yang dia lakukan secara online) dan memperlakukan diri saya sebagai subjek tes. Saya merancang rejimen untuk diri saya sendiri—sebuah siklus puasa 4 1/2 hari, lantas makan di  akhir pekan.

Sejibun Manfaat Puasa Intermittent

Saya bahkan  memberitahu dokter saya bahwa saya menghentikan Glucotrol, karena ia menambah kadar insulin, efek samping esensial dari Glucotrol. Ketika saya memberi tahu dokter saya, saya melakukan ini, dia nggak hepi, tapi dia mengatakan selama saya berhati-hati, memonitor gula darah saya, dan kembali kepadanya jika gagal, he wasn’t going to try to talk me out of it.

Minggu pertama puasa, ck ck ck, sangat menyeramkan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Pada hari perdana, saya tidak merasa terlalu ruwet, tapi di hari kedua, saya mulai merasa lapar, spektakuler rasa laparnya. Saya melakukan trik yang  bervariasi untuk mengabaikannya, dan tidur lebih awal—sesuatu yang kudu saya lakukan pada hari kedua puasa.

Hari ketiga adalah yang paling mengkhawatirkan. Saya harus menyetir selama 2 jam kemudian mengikuti beberapa meeting krusial. Karena saya telah mendengar begitu banyak hal mengerikan tentang puasa, saya khawatir saya akan pingsan—kombinasi dari tekanan puasa dan rapat kerja—terutama saat saya mengemudi sendiri di jalan raya. Syukurlah, saya bisa menyopir dan melakukan meeting tanpa masalah.

Pada hari kelima, satu-satunya hal yang membuat saya ingin kembali mengunyah adalah kebutuhan psikologis. Yihaa, gol! Saya berhasil. Saya berpuasa seminggu. Itu tidak sesulit diet yang lain, dan saya kehilangan berat badan, dong. Kabar lebih baiknya, gula darah saya turun ke kisaran normal. Setelah itu, saya hanya mengulanginya lagi dan lagi.

Selama berbulan-bulan, saya nggak selalu berpuasa selama 4 setengah hari, kok. Terkadang saya sarapan atau makan siang bersama rekan kerja pada hari jumat jika hari itu adalah hari ulang tahun seseorang. Terkadang, saya akan makan malam di luar bersama keluarga. Tapi sepanjang waktu, saya memantau berat badan saya. Saya dapat melihat dengan jelas benefit dari puasa, dan setiap Jumat pagi, ketika saya kehilangan beberapa kilogram lagi, saya tahu, bahwa saya sudah berada di trek yang benar.

Sumber Gambar

Pasca menjalani puasa selama empat bulan, saya melakukan tes Hemoglobin A1C pertama saya. Rentang normal untuk tes ini adalah antara 4 dan 5.6. Apa pun di atas ini dianggap paling tidak pra-diabetes. Skor saya sebelumnya—yang diambil sekitar waktu yang sama seperti foto di atas—adalah 8.3, dan saya sangat senang mengetahui si nomor baru: 5.3! Komentar dokter saya adalah, “Itu lebih baik dari saya, padahal saya bukan penderita diabetes, lho.”

Ketika saya mulai berpuasa dan melihat bobot badan saya melorot drastis, saya membuat sebuah target untuk menurunkannya sebanyak 100 pound pada tahun 2015. Saya bisa mencapainya pada bulan September, tapi Oktober adalah bulan yang sulit—inilah saatnya konvensi Fiksi Ilmiah setempat,  berkumpul dengan penulis, sehingga makanan dan minuman melimpah ruah. Kemudian, pada akhir bulan adalah Halloween, yang membuat permen bertebaran di mana-mana. Dengan menambahkan beberapa cheat days, dan sejumlah makanan enak untuk menyenangkan diri sendiri, saya tidak berpuasa lebih dari 3 hari dalam sebulan penuh.

This is the confession paragraph: Bahkan ketika saya berpuasa, saya melakukan beberapa hal yang dikontraindikasikan oleh Dr. Fung, soda diet, pemanis artifisial di kopi saya, dan jeli bebas gula, pada dasarnya hal-hal yang membuat saya merasa kenyang dan memuaskan sweet tooth saya. Saya juga memakan camilan di malam hari. Tetapi, saya tetap berpegang pada rencana saya, hampir setiap hari mencoba bertahan sekitar 100-200 kalori, tapi terkadang saya pesta di akhir pekan. Kelemahan saya adalah pizza, permen, dan red wine. Sebelum saya mulai berpuasa, makan seperti ini akan mendorong kadar gula darah saya lebih dari 300. Sejujurnya, Oktober sangat amburadul, saya berhenti memeriksa gula saya di akhir pekan, soalnya nggak pengen tahu hasilnya apa. Dan saya takut saya tidak akan pernah menulis testimoni ini karena saya akan sangat mengacaukan A1C saya dengan sangat keji.

Saya pikir penting untuk menambahkan dua paragraf terakhir untuk menggambarkan bahwa ini bukanlah proses yang gampil. Setiap diet memperlakukan setiap orang secara berbeda—saya tahu, saya sudah mencoba semuanya.

Bagi saya, berpuasa adalah pilihan yang lebih simpel, tapi tetap saja sulit. Sudah sering saya mempertimbangkan untuk menyerah aja.

Ada kalanya kewajiban keluarga dan sosial membuat tidak mungkin mengikuti rencana tersebut. Seringkali saya juga harus berhenti makan di restoran favorit saya. Tapi sejak awal, saya memutuskan untuk tidak memperlakukan ini sebagai upaya singkat menurunkan berat badan, tapi melihatnya sebagai perubahan gaya hidup. Saya telah memilih untuk melihat kemunduran sebagai pengalaman belajar daripada kekalahan.

Jadi, Rabu yang lalu, ketika darah saya diambil untuk kedua kalinya sejak saya mulai berpuasa, saya sedikit gugup. Saya berbisik pada diri saya sendiri bahwa jika A1C saya di bawah angka 6 itu adalah sebuah victory, sumpah, saya benar-benar khawatir.

Saya harus menunggu 2 hari untuk mendapatkan hasilnya, tapi akhirnya mereka keluar. Saya, sekali lagi, berada di posisi 5.3! Horeee, gula darah saya berada dalam kisaran normal.

Efek fenomenal lainnya adalah kesehatan hati saya. Let’s just say numbers that were way outside normal levels are now well within the normal range.

Jadi, begitulah: cerita saya tentang bagaimana, dengan beberapa advis jempolan, saya membawa diri saya kembali dari ambang self-destruction.

Saya masih punya banyak rencana selanjutnya untuk membanting berat badan saya—I don’t want to keep flirting with weighing 300 pounds—tapi saya lebih sehat dari tahun-tahun sebelumnya, dan saya berharap dapat melanjutkan perjalanan saya dan si sukses terus kontinyu.

-Shannon

Sumber Gambar

Jason Fung:  Pekerjaan hebat, Shannon.
Jika menambahkan soda diet kompatibel untuk Anda, maka dengan segala cara, silakan. Yang paling penting adalah mengikuti rencana dan dapatkan hasilnya. Jika Anda menggunakan pemanis, tapi mendapatkan konsekuensi bagus, lalu lanjutkan. Namun, jika Anda tidak melihat impak yang Anda inginkan, maka pertimbangkan untuk berubah. Di klinik kami, kami sering membiarkan sedikit krim di kopi, yang secara teknis juga bukan puasa.

Namun, bedanya tidak signifikan sehingga kebanyakan orang melakukannya dengan apik. Beberapa akan mentolerir diet soda dengan baik, tapi banyak yang tidak. Hal lain yang saya tekankan adalah bahwa puasa tidak selalu enteng. Tapi dijamin bisa membuat Anda lebih sehat. Klinik saya adalah Program Manajemen Diet Intensif, bukan program Manajemen Diet Mudah. Hari ke 2 biasanya merupakan hari puasa yang paling sulit bagi kebanyakan orang. Saat itulah tubuh mulai beralih ke pembakaran lemak. Begitu Anda tahu itu, Anda bisa mempersiapkan diri. Congratulations sekali lagi, Shannon.

Testimonial Pasien Yang Berhasil Mengusir Diabetes Tipe 2 Dan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Sumber Gambar

Inilah sebuah cerita dari seorang pembaca dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Samantha menulis: pada tahun 1999, saya didiagnosis dengan PCOS, suatu kondisi yang disebabkan oleh resistensi insulin, yang mencakup gejala super duper mengerikan seperti: menggemuk, hirsutisme dan acanthosis nigricans, serta diabetes yang ‘beranak-pinak’. Saya mencoba banyak hal untuk memperbaiki PCOS. Yaitu dengan ramuan alami, terapi progesteron, dll.

Hasilnya nihil.

Ketika saya didiagnosis menderita diabetes tipe 2, saya telah menggunakan progesteron selama 6 bulan sebelumnya, sehingga saya bisa menstruasi. Sebelum waktu itu, saya tidak mendapatkan haid selama 1,5 tahun—situasi perfek membikin si kanker endometrium merajalela.

Sumber Gambar

Saya bisa menumpas diabetes tipe 2, dan saya juga telah memecahkan PCOS. Faktanya adalah, saya belum sehat sesehat ini—BELUM PERNAH! Bahkan saat berusia 20 tahun, dan saya mengikuti wajib militer dengan lemak tubuh 21%, berlari 3 sampai 5 mil per hari 5 hari per minggu, saya tidak sebugar ini.

By: Dokter Jason Fung  (Samantha – Polycystic Ovary Patient Profile)

Saya mungkin masih gemuk, tapi anehnya, kesehatan saya lebih baik! Malah dipadankan ketika saya kurus dan bahkan ketika saat masih remaja, siklus saya setidaknya berumur 45 hari akibat dominasi estrogen dan resistensi insulin. Pada bulan Mei 2015, gula darah puasa saya adalah 195, kolesterol saya tinggi dan saya gembrot banget.

Tes A1C sebesar 9,0% telah dikonfirmasi saya didiagnosis T2D. Saya baru berusia 37 tahun. Tapi saya seperti perempuan berusia 100 tahun.

Nenek saya menderita selama bertahun-tahun dengan bekuan darah masif, kehilangan fungsi tangan dan matanya, dan akhirnya dia meninggal karena komplikasinya. Ibu suami saya meninggal karena diabetes terkait serangan jantung pada usia 62 tahun. Dua tetangga lanjut usia telah kehilangan kaki mereka karena diabetes. Mantan suami nenek suami saya menjadi buta.

Saya tahu diabetes menjadi jahat dan unmerciful. Diabetes tipe 2 mencuri dari Anda setiap hari, membuat hidup Anda sengsara, tidak dapat disembuhkan dan kemudian membunuh Anda. Pada usia 37 tahun, saya pikir saya akan meninggal pada usia 60, mungkin jika saya beruntung. Dokter saya juga tidak memberi saya harapan.

Dia berkata, “Diabetes adalah penyakit progresif. Obat yang akan saya resepkan akan membantu menunda konsekuensi diabetes selama sekitar 10 tahun, tapi setelah itu, Anda akan mengembangkan beberapa atau semua gejala ini: kehilangan penglihatan Anda, kehilangan penggunaan atau kehilangan sebenarnya dari kaki dan/ atau kaki Anda, kehilangan sensasi di tangan Anda, tekanan darah tinggi yang bisa mengakibatkan stroke atau serangan jantung, rasa sakit di berbagai area tubuh Anda…”
Saya reflek menutup kuping saat itu. Berita yang membikin saya syok to the max, dan rasanya nggak sanggup denger penjelasan lebih lanjut. Saya mengumpulkan logika saya yang porak poranda, dan saya lantas bertanya apakah saya bisa menyelesaikannya dengan diet dan olahraga. Pada titik itu, saya 256 lbs. Berpakaian dengan ukuran wanita 20W. Dia mengulangi kalimatnya, “Diabetes adalah penyakit progresif.” Yada yada yada.
Saya hanya mencari harapan, Meski secuil akan saya jimpit. Tetapi, alih-alih, dia malah memberi saya 4 resep untuk:

  1. a) Metformin 1000mg;
  2. b) Atorvastatin Calcium (a.k.a. Lipitor) 40mg;
  3. c) Glipizide (ini adalah sulfonilurea) 5mg; dan
  4. d) Lisinopril (penghambat ACE) 10mg.

Saya tidak sudi menelan obat apapun.

Sumber Gambar

Sejujurnya, saya belum pernah mendengar cara alami menyembuhkan diabetes, tapi saya tahu satu hal yang pasti … setiap orang yang saya kenal dan mengonsumsi obat diabetes malah meninggal dan hidup dengan menyedihkan sebelum ajal menjemput.

Otak saya mengembara dan tiba di sebuah keputusan, saya akan melawan ini, bagaimana pun caranya. Saya bertanya lagi padanya, tapi dengan cara yang berbeda, tentang diet saya. Saya penasaran makanan apa yang harus saya makan dan hidangan apa yang dipantang.

Dia menyuruh saya untuk menghindari kentang, nasi, roti, pasta, tepung, tepung, gula, makanan pencuci mulut, dan lain-lain, dan mengatakan kepada saya bahwa saya dapat menemui ahli gizi yang ditugaskan ke rumah sakit.

Saya menghabiskan beberapa jam, setiap malam di YouTube untuk menonton video apa pun yang terlihat agak sahih dan terkait dengan pembalikan atau penyembuhan diabetes.

Dr. Jason Fung adalah satu-satunya orang, apalagi dokter, yang saya temukan, dimana:

1) tidak hanya mencoba menjual bukunya saja dengan memberikan sedikit informasi tapi bukan gambaran lengkap;
2) menggunakan penelitian, charts, grafik dan studi nyata untuk mendukung metodenya;
3) benar-benar berurusan dengan orang sungguhan/ aktual dan memiliki bukti untuk membantu orang sungguhan;
4) menganjurkan bukan hanya perubahan diet tapi juga berpuasa sebagai kunci;

5) mengatakan kebenaran bahwa resistensi insulin adalah masalah sebenarnya dan segala sesuatu hanyalah gejala atau efek;
6) mengatakan bahwa diabetes dapat disembuhkan (ini dengan sendirinya adalah klaim yang berani); dan

7) membuat dirinya available bagi siapa pun melalui email, dan lain-lain.

Sumber Gambar

Meskipun Dr. Fung menganjurkan menyantap makanan utuh dan membatasi makanan olahan (ini mungkin penyederhanaan yang berlebihan), dia sama sekali tidak mendikte diet mana yang terbaik.

Saya memilih untuk melakukan diet rendah karbohidrat. Saya juga menghabiskan beberapa minggu berikutnya untuk menonton semua video di channelnya—beberapa di antaranya dua kali!

BAGAIMANA MAKANAN SAYA SEHARI-HARI

Saya makan daging asap, telur, mentega, daging 80/20, salmon liar dan makarel, minyak kelapa, sayuran hijau, kembang kol, tomat, kacang, tomat, ceri, limau, garam merah muda Himalaya, xylitol, keju keras dan stroberi setiap saat.
Kadang-kadang (artinya setiap 2 minggu sekali atau lebih) saya makan kacang, jeruk, plum, popcorn (ya, saya makan popcorn yang dibuat dengan minyak kelapa dan mentega yang dimasak di atas kompor).

Sangat jarang (mungkin 1 dari 30 makanan), saya makan makanan restoran, dan bahkan saat itu, saya menghindari soda dan menggantinya dengan teh manis yang memakai gula sungguhan, dan saya batasi hanya 2 bungkus.

Saya menjaring sebuah pengetahuan bahwa jika saya makan karbohidrat, si karbo harus memiliki setengah dari seratnya agar tidak memberi efek negatif pada gula darah 2 jam setelah makan.

Setelah 2 bulan mengikuti diet, saya menambahkan gandum bulgur retak (versi dari Haiti) yang memiliki karbohidrat 24g dan 13g serat per sajian.
Baru-baru ini saya menggunakan tepung fufu untuk roti dan menggoreng (dalam lemak babi atau kelapa sawit) ayam dan ikan. Tepung fufu terbuat dari pisang raja dan juga memiliki rasio 2 to 1 karbohidrat untuk serat (4g karbohidrat dan serat 2g).

It crisps perfectly with a great taste.

Kadang saya menggunakan tepung kelapa untuk membuat resep seperti bakso atau jamur kepiting yang membutuhkan pati untuk mengikat minyak dan dagingnya.Tepung kelapa memiliki rasio 9g karbohidrat hingga 6g serat. Saya menggunakan biji rami dikuliti yang memiliki karbohidrat 3g dan 3 g serat dan meletakkannya pada apapun karena rasanya enak dan harganya murah.

Sebelumnya jika saya makan harus dengan nasi atau pasta. Sekarang, meski hanya memakan daging dan sayuran saja, tetapi, saya baik-baik saja.

Saya memakan makanan saya dengan gandum bulgur, daging cincang halus dan tumis kembang kol, spagheti squash atau sayuran yang hanya ditambahkan mentega dan dibumbui. Saya mencoba mencampur keju dan kacang-kacangan ke dalam setiap makanan karena mereka membuat saya kenyang.

Saya bahkan belajar bagaimana membuat sweet and spicy hot wings dengan menggunakan saus panas Cholula, cuka balsamic, xylitol dan minyak dari rendering dari pembuatan sayap atau hanya dengan menggunakan sayap goreng (tanpa roti).

BAGAIMANA SAYA BEROLAHRAGA

 

Saya hanya pergi ke taman setempat dan berjalan secepat mungkin, 6 hari seminggu. Setelah 2 bulan, saya memiliki member gym dan mulai melakukan elips selama 30 menit antara 325 dan 350 kalori 2-3 hari seminggu. Saya juga fokus pada mengangkat beban yang berguna untuk bagian atas tubuh. Namun, saya terus melanjutkan rutinitas berjalan karena menjadi kebiasaan, dan saya cukup banyak mengenal setiap orang dan anjing mereka di taman.

Bagaimana Puasa Saya?

I’m just going to give you the days I fasted straight out. Saya melakukan puasa hanya air saja.
Saya memulai diet dan olahraga saya pada tanggal 27 Mei 2015, dan saya berpuasa sebagai berikut:
1. 22-24 Juni 2015 (tepat 72 jam)

2. Pada tanggal 8-11 Juli 2015 (dimulai malam tanggal 7 Juli dan berakhir saat sarapan 11 Juli)

3. Bulan Juli 2015 (sekitar 20 jam kemudian makan makan malam dengan teman)

4. Tanggal 21 – 23 Juli 2015 (dimulai pada malam tanggal 20 Juli dan berakhir pada pukul 2 siang tanggal 23 Juli.

5. Tanggal29 Juli 2015 (tepatnya 24 jam—saya melakukan ini dengan cepat karena saya makan fast food dengan klien)

6. Tanggal 3-5 Agustus 2015 (sekitar 2,5 hari)

7. Tanggal 7 Agustus 2015 (makan siang sekitar hari berikutnya jadi 1,5 hari)

8. 16 Agustus 2015 (sekitar 20 jam)

9. Tanggal 20 Agustus 2015 (makan siang sekitar hari berikutnya jadi 1,5 hari)

10. Pada tanggal 7-11 September 2015 (makan jam 2 siang 11 September)

Ini adalah pertama kalinya saya membaca gula darah di level 70an. Ini juga menimpa suatu hari setelah saya mengakhiri puasa ini. Pembacaan ini sangat menyentak, sehingga saya harus kembali dan melihat apakah ini benar-benar nyata?

BAGAIMANA SAYA MELANGSING

Saya kehilangan 12 lbs. Bulan pertama dan kemudian 6 lbs per bulan setelahnya dengan total 30 lbs. Dari 256 menjadi 226 dalam 4 bulan. Saya memiliki tujuan 48 lbs, dan selalu gagal total. Saya telah melakukan puasa selama  3-5 hari karena saya menginginkan hasil cepat yang tidak bisa saya urus jika saya salah makan.

Saya tidak fokus pada program meramping, tetapi sangat ingin memukul diabetes. Jadi meski puasa intermittent tidak memperlambat metabolisme Anda, puasa beberapa hari sepertinya memperlambatnya sedikit. Namun, manfaat yang Anda dapatkan dari sensitivitas insulin sangat berharga jika Anda melakukan puasa panjang.

PENGARUH PERUBAHAN GAYA HIDUP SAYA

Dulu sering kesemutan, mati rasa, bengkak dan rasa terbakar di kaki kiri saya. Dan kini, nggak lagi, dong. Mereka ndak betah, dan pergi dengan segera. Di masa lalu, sebuah luka bakar di paha kiri atas di dekat pinggul butuh waktu lebih lama untuk hilang. jujur saja, saya harus berdoa, dan saya percaya doa itu lebih efektif daripada apapun, tetapi karena rasa terbakar, saya tidak bisa tertidur. Sulit bobok saat luka saya terasa seperti dipanggang. Sekarang, sakitnya kabur, dong.

Namun, butuh waktu hampir 4 bulan penuh untuk berada di fase complete relief, dan bahkan saat saya duduk di sini, ada sedikit kesemutan tapi tidak ada yang menyakitkan atau tidak nyaman. Dulu jari-jari saya akan tertidur, dan sekarang hal itu jarang terjadi dan hanya terbatas pada jari kelingking kiri saya. Saya menderita ragi kronis dan infeksi bakteri yang sekarang hilang sama sekali. Rambut di wajah saya dari hirsutisme terkait PCOS menghilang dan yang tersisa lebih halus dan lembut. Si rambut lebih lemas dan bersinar secara alami bukan kering dan rontok. Saya memiliki lingkar pinggang yang lebih kecil dan pinggul yang lebih bagus—begitulah kata suami saya! Mens saya telah kembali tepat waktu setiap bulan dimulai pada awal bulan Juli.

Suami saya dan saya  memiliki harapan untuk hamil lebih cepat; Sebelum ini, kami hanya memiliki iman dan doa tanpa bukti fisik bahwa segala sesuatunya berjalan ke arah yang tedas.

BAGAIMANA TEKANAN DARAH SAYA BERUBAH

  1. 27 Mei 2015 itu adalah 142/92.
  2. 29 Juni 2015 adalah 128/83
  3. 28 Sep 2015 itu 101/75

APAKAH SAYA MENGGUNAKAN OBAT ATAU SUPLEMEN?

Saya tidak menggunakan obat kecuali yang diresepkan untuk infeksi ragi dan vaginosis bakteri. Resep dari dokter masih ada di dalam amplop. Saya mengkonsumsi multi vitamin, magnesium, B-kompleks dan vitamin D setiap hari untuk bulan pertama. Sambil berpuasa selama dua bulan pertama, saya hanya menggunakan magnesium, B-complex, potassium dan Himalayan pink salt. Ini membantu mengurangi kedinginan di kaki dan tangan saya karena beberapa alasan.
Saya mulai meminum suplemen 500 sampai 1000 mcg kromium per hari mulai bulan 3 (Agustus).

Ini membantu saya menurunkan gula darah, si gula melandai dalam waktu 2 jam setelah makan, bukan menunggu 4 jam agar mereka jatuh ke tingkat pra-makan (pra-prandial). Saya membubuhkan kayu manis ke beberapa makanan.

 

Sumber Gambar

BAGAIMANA CARA MENGUKUR GULA SAYA

Saya seorang kutu buku. Saya suka charts dan grafik dan percaya pada pembuatan keputusan berbasis fakta. Saya juga seorang programmer, jadi saya suka data.TRANSLATE MORE Saya memasukkan semua gula darah saya membaca di Microsoft Excel dan memeriksa tren dan pola. Saya mengambil sekitar 5 sampai 8 bacaan per hari, dan hampir tidak pernah melewatkan jam pagi. Pembacaan pagi saya selalu lebih dari 100 (fenomena fajar?) Tapi bisa diturunkan berdasarkan jumlah dan waktu yang saya konsumsi karbohidrat pada hari sebelumnya.
Jadi saya mencoba untuk makan lebih sedikit karbohidrat di sore hari sebagai aturan praktis. Hal esensial yang saya perhatikan adalah bahwa setelah 3 hari dengan puasa, rata-rata akan turun sekitar 10 poin selama minimal 2 minggu.

Saya rasa itu mewakili kepekaan insulin yang meningkat. Bicara tentang gula darah Anda, seringnya adalah Anda bisa merasakan apa yang Anda lakukan apakah sudah benar atau salah. Hal itu bisa membuat Anda cemas terutama saat keadaan tampak melenceng, dan Anda tidak tahu mengapa.

Namun, paling sering, jika saya melihat kembali makanan saya, waktu antara waktu makan, olahraga, istirahat dan faktor lainnya, saya dapat mengetahui apa yang sedang terjadi. Contohnya, saya memperhatikan bahwa ngegym hard-core selama 1 jam akan menurunkan gula darah saya, tapi medium akan menaikkannya. Namun, jika saya tidak berolahraga sama sekali, semua level insulin saya hari itu dan pagi berikutnya lebih tinggi.

APA YANG AKAN SAYA LAKUKAN SEKARANG?

Lanjutkan melakukan diet rendah karbohidrat. Periksa A1C saya sekali per bulan dengan tes over-the-counter yang bisa Anda beli di Walmart seharga $ 23 untuk 2 tes. Fokus pada penurunan berat badan dengan menambahkan latihan beban.
Saya juga bisa kembali ke cardio-kickboxing juga. Saya keluar dari kelas sebelum didiagnosis karena saya sering pusing dan mual. Itu pasti diabetes yang tidak terdiagnosis! Saya yakin bisa mengatakan bahwa saya mengalahkan diabetes dan prediabetes dalam 4 bulan.

Profil Pasien Hansraj, Bagaimana Ia Mengusir Diabetes Tanpa Obat

Sumber Gambar

Bulan ini, saya ingin menampilkan betapa kuatnya pengaruh internet dan kolaborasi cerdas antar profesional. Hansraj adalah seorang pria berusia 38 tahun. Ia mempresentasikan kepada Dr Prakash Chhajed di Indore, India pada bulan Maret 2015 tentang berbagai penyakit yang dimilikinya. Masalah kesehatannya bejubel, meski dia sudah menggunakan beberapa obat. Ini sungguh ironis, apalagi usianya masih muda. Dia menderita Diabetes Tipe 2 (T2D) selama 10 tahun dan menggunakan kombinasi voglibose, metformin dan gliperide.

Kolesterolnya jenjang dan trigliserida berada di level banter. Beliau sudah meminum rosuvastatin dan fenofibrate untuk tekanan darah tinggi, menelan olmesartan dan amlodipine mengatasi kondisi ini. Dia juga sebelumnya pernah melakukan mastektomi untuk alasan kosmetik dan psoriasis pada metotreksat.

Dengan tinggi 180cm dan berat 104 kg, dia termasuk golongan obesitas. BMInya 32,1. Pengujian ultrasound lebih lanjut juga mengungkapkan adanya fatty liver serta peningkatan enzim hati, yang mengindikasikan bahwa ada kerusakan kronis karena lemak berlebih yang tersimpan di sana. Ini juga dikenal sebagai Non-Alcoholic Steatohepatitis (NASH). Meski kedengarannya cukup jinak, tapi tetap saja ini merupakan gejala yang mendorong pada kondisi bahaya—just in case Anda penasaran dan bertanya, “emang kenapa, sih, kalo hati kita berlemak?” Sayangnya selama ini beredar kesalahpahaman yang berisiko. NASH akan segera menjadi penyebab utama sirosis hati di Amerika Utara. Meskipun jumlah kerusakan yang dilakukan sangat sedikit, namun tetap saja, akan ‘beranak-pinak’ dalam beberapa dekade.

By: Dokter Jason Fung  (Patient Profile – Hansraj)

Jadi sedikit kerusakan yang dilakukan dalam waktu yang sangat lama, tetap saja masih sanggup menyebabkan sirosis, pada akhirnya.Tes darah juga menunjukkan tingkat homosistein yang tinggi. Apakah biang kerok semua ini? Si asam amino.

Alasan kita khawatir tentang hal ini adalah karena kadar homosistein yang tinggi terkait dengan serangan jantung, stroke dan pembekuan darah. Mereka tidak menyebabkan masalah ini (kecuali dalam kasus genetik langka), namun tingkat tinggi merupakan penanda adanya kondisi emergensi. Homosistein yang jumlahnya multipel mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular. Diagnosis di sini cukup klasik—sindrom metabolik, kadang disebut sindrom X.

Ini adalah kumpulan penyakit yang cenderung terjadi bersamaan—termasuk, dalam kasus:

  1. Obesitas
  2. Hati berlemak
  3. Diabetes Tipe 2
  4.  Kolesterol tinggi
  5. Tekanan Darah Tinggi
  6. Tingkat Homocysteine tinggi

 Ada jutaan jenis pasien yang terlihat setiap hari di klinik medis di seluruh dunia. Dan saya berani bertaruh bahwa 99% pasien tersebut akan diberi konseling untuk melanjutkan atau meningkatkan pengobatan mereka. Dugaan saya adalah 99% pasien sindrom metabolik ini tidak pernah diberi rekomendasi mengenai penyebab penyakitnya dan bagaimana perawatan diet yang tepat.

Dan pasien ini akan terus memburuk seiring berjalannya waktu. Dia sudah minum 7 obat dan baru berusia 38 tahun. Jeez. Luar biasa, lho. HgbA1C-nya adalah 8% meski tanpa obat. Dia berada di jalur ekspres ke Dunia Diabetes, dimana kebutaan, amputasi, gagal ginjal, penyakit jantung dan stroke. Bukan tempat yang paling membahagiakan di Bumi.

Tapi Hansraj adalah orang yang beruntung. Dia berteman dengan Dr. Chhajed, yang langsung mengetahui bahwa sindrom metabolik sebenarnya adalah kumpulan penyakit yang semuanya disebabkan oleh hiperinsulinemia. Pengobatannya, tentu saja bukan dengan obat, dong. Untuk memulihkan gejala BP membludak, gula meluber, hati berlemak dll, kita perlu menembak si akar penyebab penyakit, yaitu, bunuh si hiperinsulinemia.

Jadi, dia menghubungi saya melalui situs web saya untuk mendapatkan beberapa advice mengenai pasien ini. Kami merancang sebuah program yang mencakup diet rendah karbohidrat, lemak tinggi, bebas gandum, puasa intermiten, dan high intensity interval training.

 What happened?

  1. Berat Badan—Dia turun 20 kg selama 5 bulan dan sekarang beratnya hanya 84kg. Ini memberinya BMI 25,9—within spitting distance of being normal!
  2. Fatty Liver – Ultrasound berulang menunjukkan resolusi perubahan lemak. Darah menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan lebih lanjut pada livernya. NASH sembuh!
  3. Diabetes tipe 2-nya hampir terbalik total. Dia telah membuang semua obatnya dan sekarang memiliki HgbA1C sebesar 6,1%. Puasa gula darah adalah 92 mg/ dl.
  4. Tekanan Darah Tinggi—Dia telah menghentikan kedua obat untuk tekanan darah dan tekanan darah terakhir adalah normal.
  5. Tingkat homosistein turun hampir setengahnya dari 14,34 menjadi 7,5.

Sumber Gambar

Ada juga manfaat sampingan lain. Tingkat energinya, yang sebelumnya sangat rendah, telah meningkat pesat. Dan berita super pentingnya, kami membuat semua perubahan ini tanpa memerlukan obat atau operasi. Hanya penerapan pengetahuan yang dibutuhkan disini. Dr. Chhajed benar-benar bisa menyelamatkan nyawa pria ini dengan wawasannya. Dan keberanian untuk menantang ‘kebijaksanaan’ konvensional.

Jadi Hansraj telah mengusir 7 obat untuk berbagai manifestasi sindrom metabolik sampai nol hanya dalam jangka waktu 3 bulan!

Hebat banget lho itu. Dapatkah seseorang mengingatkan saya mengapa kita tetap meresepkan obat untuk penyakit diet? Yang sangat saya sukai dari kasus ini adalah fakta bahwa Dr. Chhajed mampu menjangkau lebih dari setengah dunia untuk mencari sebuah opini, mengingat fakta bahwa ia tinggal di India dan saya di Kanada. Bahkan jika dia tidak memiliki pengetahuan sendiri untuk bagian perawatannya, dia bisa memperoleh pengetahuan ini, hampir secara real time, melalui email dari dokter yang belum pernah dia temui. Kami bertukar email, dan mendiskusikan kasusnya dan merumuskan rencana yang telah ditetapkan dengan baik sehingga dia dapat menerapkannya untuk pasien ini.

Dr. Chhajed menghabiskan beberapa waktu dengan saya baru-baru ini di Toronto, dalam program Manajemen Diet Intensif, dan harapan saya adalah bahwa dia mampu menyebarkan pengetahuan ini ke belahan dunia lain.

Suatu hari nanti, mungkin, kita akan bisa menyembuhkan semua pasien ini dengan hanya membalikkan telapak tangan.