BAGAIMANA CARA MENGHENTIKAN GELISAH BY DALE CARNIEGE (HOW TO STOP WORRYING AND START LIVING BAB 2)

Untuk membaca bagian sebelumnya klik di sini dan di sini.

Nasihat itu menyelamatkan saya secara fisik dan mental selama perang; dan sekarang berkontributif pada posisi saya dalam bisnis. Saya seorang a Stock Control Clerk atau Pegawai Kontrol Saham untuk Perusahaan Kredit Komersial di Baltimore.

Saya menemukan problem yang sama muncul lagi dalam bisnis, yang mana menjedul juga selama perang: sebundel tugas harus dilakukan sekaligus—dan sialnya, hanya ada sedikit waktu untuk menamatkannya.

  1. Stok kami rendah.
  2. Ada segepok formulir baru yang harus ditangani.
  3. Pengaturan suplai baru.
  4. Perubahan alamat.
  5. Pembukaan dan penutupan kantor, dan sebagainya.

Alih-alih menjadi tegang dan gugup, saya ingat apa yang dokter katakan kepada saya.

“One grain of sand at a time. One task at a time.”

 “Satu butir pasir pada satu waktu.” Hanya mengerjakan satu tugas dalam satu waktu. Multitasking? Haram!

Dengan mengulangi kalimat itu kepada diri saya berulang kali, saya menyelesaikan tugas saya dengan cara yang lebih efisien dan saya ngerjain pekerjaan saya tanpa perasaan bingung dan campur aduk yang mana hampir melumatkan saya di medan perang.”

Salah satu komentar yang mengerikan banget adalah bahwa pola hidup kita saat ini udah sangat berantakan. Buktinya, setengah dari seluruh tempat tidur di rumah sakit disediakan untuk pasien dengan masalah saraf dan mental—pasien yang telah kolaps di bawah beban berat dari akumulasi kemarin dan hari esok yang super seram.

Namun, sebagian besar dari orang-orang itu akan beredar di jalanan hari ini dengan tralala-trilili, jika mereka sudi mengindahkan kata-kata Nabi Isa atau Yesus, “jangan khawatir tentang besok,” atau kata-kata Sir William Osier. “Hidup hanya untuk hari ini saja.”

You and I are standing this very second at the meeting-place of two eternities: the vast past that has endured for ever, and the future that is plunging on to the last syllable of recorded time.

Anda dan saya berdiri di detik ini, di tempat pertemuan dua keabadian: masa lalu yang luas yang telah bertahan selama-lamanya, dan masa depan yang mengarah pada suku kata terakhir dari waktu yang tercatat.

Kita nggak mungkin hidup dalam kedua kekekalan itu—tidak, bahkan untuk sepersekian detik pun kita nggak akan pernah sanggup. Tetapi, dengan nyoba ngelakuin itu, kita malah meremukkan tubuh dan pikiran kita sendiri. Jadi mari menikmati satu-satunya yang bisa kita nikmati: dari detik ini sampai tidur.

“Siapa pun dapat memikul bebannya, betapapun kerasnya, sampai malam tiba,” tulis Robert Louis Stevenson.

“Siapa aja pasti sanggup ngerjain pekerjaannya, sekeras apa pun, untuk satu hari. Siapa pun dapat hidup dengan super sweet, sabar, penuh kasih, pure, sampai matahari terbenam. Dan inilah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh kehidupan.”

Ya, hanya itulah yang dituntut kehidupan dari kita; tetapi Ny. E. K. Shields, 815, Court Street, Saginaw, Michigan, terdorong keputusasaan—bahkan ke ambang bunuh diri—-sebelum dia belajar untuk hidup hanya sampai sebelum tidur aja.

“Pada tahun 1937, saya kehilangan suami saya,” kata Mrs. Shields ketika dia menceritakan kisahnya kepada saya, “Saya sangat tertekan—dan nyaris nggak punya uang sepeser pun. Saya menulis kepada mantan majikan saya, Mr. Leon Roach, dari Roach-Fowler Company of Kansas City, dan mendapatkan kembali pekerjaan lama saya. Sebelumnya saya mencari nafkah dengan menjual buku ke dewan sekolah desa dan kota.

Sesungguhnya, saya udah terlanjur menjual mobil saya dua tahun sebelumnya, ketika suami saya sakit; tetapi saya berhasil menabung uang muka untuk membeli mobil bekas dan mulai menjual buku lagi.

Sumber Gambar: Tenthousandvilages.com

“Saya telah berpikir bahwa kembali ke jalan akan membantu meringankan depresi saya; tetapi mengemudi sendirian dan makan sendirian ternyata malah membikin saya makin tertekan. Beberapa wilayah itu nggak produktif, dan saya merasa sulit untuk membayar mobil itu, walaupun cicilannya kecil.

“Pada musim semi 1938, saya bekerja dari Versailles, Missouri. Sekolahnya buruk, jalanannya jelek; Saya sangat kesepian dan pesimis, sehingga pada suatu waktu saya bahkan mempertimbangkan bunuh diri aja lah. Sukses? Apa itu sukses? Sukses tampak jauh dan mustahil banget. Hanya delusi.

I had nothing to live for. Saya tidak punya apa-apa untuk hidup. Saya takut bangun setiap pagi dan menghadapi kehidupan.

  1. Saya takut segalanya.
  2. Takut saya tidak bisa memenuhi pembayaran mobil.
  3. Takut saya tidak bisa membayar sewa kamar saya.
  4. Takut tidak akan punya cukup makanan.
  5. Saya takut kesehatan saya menurun dan saya tidak punya uang untuk membayar dokter.

Yang ngebikin saya nggak bunuh diri adalah pikiran bahwa saudara perempuan saya akan sangat berduka, plus saya juga nggak punya cukup punya uang untuk membayar biaya pemakaman saya.

“Lalu suatu hari saya membaca sebuah artikel yang mengangkat saya dari depresi dan itu membuat saya berani untuk terus hidup. Saya nggak akan pernah berhenti bersyukur atas satu kalimat yang menginspirasi dalam artikel itu.

Yang ialah, “setiap hari adalah kehidupan baru bagi orang bijak.”

Saya mengetik kalimat itu dan menempelkannya di kaca depan mobil saya, di mana saya melihatnya setiap menit ketika saya mengemudi. Saya pikir nggak begitu sulit untuk hidup hanya  untuk satu hari.

Saya belajar untuk melupakan hari kemarin dan nggak mikirin hari esok. Setiap pagi saya berkata pada diri saya sendiri, “hari ini adalah kehidupan baru.”

“Saya telah berhasil mengatasi ketakutan saya akan kesepian, hysteria karena ingin ini itu. Saya bahagia, sukses, antusias, dan cinta hidup. Saya tahu sekarang bahwa saya nggak akan pernah takut lagi, terlepas dari apa yang hidup berikan kepada saya. Saya tahu sekarang bahwa saya nggak perlu takut akan masa depan.

Toh saya dapat hidup satu hari dalam satu waktu—dan bahwa, “setiap hari adalah nyawa baru bagi orang bijak.”

Menurut Anda, siapa yang menulis ayat ini: “bahagianya pria itu, bahagia dia sendiri, Dia, yang bisa memanggil hari-nya sendiri: Dia yang, merasa aman di bathn, dapat mengatakan: “Besok, lakukan yang terburuk, karena aku sudah hidup hari ini.”

Kata-kata itu terdengar modern, bukan? Namun itu ditulis tiga puluh tahun sebelum Nabi Isa dilahirkan, oleh penyair Romawi Horace.

Salah satu hal paling tragis yang saya ketahui tentang sifat manusia adalah kita semua bertendensi menunda hidup. Kita semua memimpikan taman mawar ajaib di cakrawala—bukannya menikmati mawar yang bermekaran di luar jendela kita hari ini.

Kenapa kita ini bodoh—orang bahlul, eh ditambah tragis pula? “

“Betapa anehnya, prosesi kecil kehidupan kita,” tulis Stephen Leacock.

  • Anak itu berkata, “ketika aku sudah besar.”
  • Tapi setelah itu apa? Bocah lelaki itu menjawab, “Saat aku dewasa.”
  • Dan kemudian, setelah dewasa, dia berujar, “Ketika saya menikah.”
  • Tetapi setelah menikah, lalu apa? Pikiran berubah menjadi, “ketika saya bisa pensiun.”
  • Dan kemudian, ketika pensiun datang, dia melihat kembali pemandangan yang dilaluinya; angin dingin sepertinya menyapu; entah bagaimana dia telah melewatkan semuanya, dan itu hilang.
  • Hidup, kita udah terlambat, ada dalam kehidupan, dalam jaringan setiap hari dan jam.”

Almarhum Edward S. Evans dari Detroit hampir bunuh diri karena khawatir, sebelum dia tau bahwa hidup, “ada dalam kehidupan, dalam jaringan setiap hari dan jam.”

Dibesarkan dalam kemiskinan, Edward Evans menghasilkan uang pertamanya dengan menjual koran, kemudian bekerja sebagai pegawai toko bahan makanan.

Pada akhirnya, dengan tujuh orang bergantung padanya untuk membeli roti dan mentega, ia mendapat pekerjaan sebagai asisten pustakawan. Meski upahnya kecil banget, ia takut untuk berhenti. Delapan tahun berlalu sebelum dia bisa mengumpulkan keberanian untuk memulai sendiri. Tetapi begitu dia mulai, dia membangun investasi awal senilai lima puluh lima dolar uang pinjaman untuk berbisnis, dan ia melipat-ganda-kannya menjadi dua puluh ribu dolar setahun.

Then came a frost, a killing frost.

Lalu datanglah salju yang beku, es yang membunuh. Sayangnya, ia terlanjur mendukung a big note untuk seorang teman-dan si teman itu bangkrut. Segera setelah bencana itu, datanglah bencana lain: bank tempat ia menyimpan semua uangnya bangkrut.

Dia tidak hanya kehilangan setiap sen yang dimilikinya, tetapi juga jatuh ke dalam hutang sebesar enam belas ribu dolar. Sarafnya tidak bisa menahan cobaan super berat ini. “Aku tidak bisa tidur atau makan,” katanya.

“Anehnya, aku menjadi sakit. Khawatir dan tidak ada yang lain selain khawatir,” katanya, “menyebabkan lahirnya penyakit ini. Suatu hari ketika aku sedang berjalan di jalan, aku pingsan dan jatuh di trotoar. Aku tidak lagi bisa berjalan.”

Aku terbaring di tempat tidur dengan tubuh penuh dengan bisul, borok dan nanah. Bisul-bisul ini berputar ke dalam sampai aku hanya sanggup berbaring di tempat tidur, saat itu adalah agony atau momen-penuh-penderitaan-super-duper-menderita-yang-tak-tertahankan. Setiap hari, aku semakin lemah.

Sumber Gambar: tartecosmetics.com

Akhirnya, dokter saya memberi tahu saya bahwa saya hanya punya waktu dua minggu saja untuk hidup. I was shocked. Saya terkejut. Saya menyusun wasiat, dan kemudian berbaring di tempat tidur untuk menunggu ajal. Sekarang, nggak ada gunanya untuk berjuang atau khawatir. Saya menyerah, rileks, dan pergi tidur. Saya belum tidur selama dua jam berturut-turut selama berminggu-minggu; tetapi sekarang karena masalah duniawi saya berakhir, saya tidur seperti bayi. Kelelahan saya yang melelahkan banget itu pun mulai menghilang. Nafsu makan saya kembali.

Berat badan saya bertambah. “Beberapa minggu kemudian, saya bisa berjalan dengan kruk. Enam minggu kemudian, saya bisa kembali bekerja. Saya telah menghasilkan dua puluh ribu dolar setahun; tetapi anehnya, sekarang saya senang mendapatkan pekerjaan dengan upah tiga puluh dolar seminggu. Saya mendapat pekerjaan menjual balok untuk diletakkan di belakang roda mobil ketika dikirim dengan kargo.

Sekarang, saya telah belajar sebuah teladan. Saya nggak pernah lagi merasa waswas—tidak ada lagi penyesalan tentang apa yang telah terjadi di masa lalu—tidak ada lagi ketakutan akan masa depan. Saya memusatkan seluruh waktu, energi, dan antusiasme saya untuk menjual balok-balok itu.”

Edward S. Evans melesat cepat sekarang. Dalam beberapa tahun, ia menjadi presiden perusahaan.

Perusahaannya—the Evans Product Company—telah terdaftar di New York Stock Exchange selama bertahun-tahun.

Ketika Edward S. Evans meninggal pada tahun 1945, ia adalah salah satu pebisnis paling progresif di Amerika Serikat. Jika Anda pernah terbang di atas Greenland, Anda bisa mendarat di Evans Field—sebuah lapangan terbang yang dinamai untuk menghormatinya.

Inilah inti ceritanya: Edward S. Evans tidak akan pernah sukses dalam bisnis dan kehidupan ini, jika dia tidak menyadari bahwa khawatir adalah tindakan yang menyesatkan dan bodoh—jika dia tidak belajar untuk hidup untuk  hari ini saja.


Lima ratus tahun sebelum nabi Isa dilahirkan, filsuf Yunani Heraclitus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa “semuanya berubah kecuali hukum perubahan”. Dia berkata: “Anda tidak dapat melangkah di sungai yang sama dua kali.”

Sungai berubah setiap detik; dan begitu pula orang yang melangkah di dalamnya. Hidup adalah fluktuasi tanpa henti. Satu-satunya kepastian adalah hari ini. Mengapa merusak keindahan hidup hari ini dengan mencoba memecahkan masalah masa depan yang diselimuti oleh perubahan dan ketidakpastian yang tak henti-hentinya—masa depan yang tak seorang pun bisa meramalkannya?

Orang-orang Romawi kuno memiliki kata untuk itu. Faktanya, mereka punya dua kata untuk itu.

Carpe diem. “Nikmati hari.”
Atau, “Rebut hari ini.”
Ya, raih hari itu, dan manfaatkan sebaik-baiknya.
Itulah filosofi Lowell Thomas.

Saya baru-baru ini menghabiskan akhir minggu di ladangnya; dan saya perhatikan bahwa dia memiliki kata-kata dari Mazmur CXVIII yang dibingkai dan digantung di dinding studio siarannya di mana dia akan sering melihatnya: Ini adalah hari yang Tuhan buat; kami akan bersukacita dan senang karenanya.

John Ruskin di atas mejanya memajang sepotong batu sederhana yang diukir satu kata: TODAY atau  HARI INI.

Dan sementara saya tidak memiliki sepotong batu di meja saya, saya memiliki sebuah puisi yang ditempelkan di cermin saya di mana saya bisa melihatnya ketika saya mencukur setiap pagi—sebuah puisi yang selalu disimpan Sir William Osier di atas mejanya—sebuah puisi yang ditulis oleh pemain drama India yang terkenal, Kalidasa: Salutation To The Dawn.



Look to this day!

Lihatlah hari ini!

For it is life, the very life of life.

Karena itu adalah hidup, kehidupan yang sesungguhnya.

In its brief course Lie all the verities and realities of your existence:

Dalam perjalanan singkatnya, semua kebenaran dan realitas keberadaan Anda tampak bohong.
The bliss of growth.

Kebahagiaan bertumbuh

The glory of action.

Kemuliaan beraksi

The splendour of achievement.

Kemegahan prestasi.

For yesterday is but a dream.

Kemarin hanyalah mimpi

And tomorrow is only a vision.

Dan besok hanyalah sebuah visi

But today well lived makes yesterday a dream of happiness.

Tapi hari ini hidup dengan baik dari kemarin mewujudkan mimpi menjadi hepi

And every tomorrow a vision of hope.

Dan setiap hari esok adalah visi yang penuh harapan.

Look well, therefore, to this day!

Karena itu, perhatikan baik-baik, sampai hari ini!
Such is the salutation to the dawn.

Itulah salam bagi fajar.

Jadi, hal pertama yang harus Anda ketahui tentang cemas adalah ini: jika Anda ingin menjauhkannya dari hidup Anda, lakukan apa yang Sir William Osier lakukan.

Tutup pintu besi di masa lalu dan masa depan.

Hidup hanya untuk 24 jam saja. Mengapa tidak bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ini, dan menuliskan jawabannya?

  • Apakah saya cenderung menunda hidup di masa sekarang untuk mengkhawatirkan masa depan, atau merindukan “kebun mawar ajaib di cakrawala”?
  • Apakah saya terkadang merasa pahit saat ini dengan menyesali hal-hal yang terjadi di masa lalu-yang sudah berlalu dan selesai?
  • Apakah saya bangun di pagi hari bertekad untuk “Seize the day” atau”Rebut hari ini”—untuk mendapatkan hasil maksimal dari dua puluh empat jam ini?
  • Bisakah saya mendapatkan lebih banyak dari kehidupan dengan hanya dengan memanfaatkan 24 jam sebaik-baiknya?
  • Kapan saya mulai melakukan ini? Minggu depan?… Besok?… Hari ini?

Apakah Puasa Intermitten dan Keto Bisa Menyembuhkan Infeksi Bakteri?

Puasa telah diterka sebagai resep awet muda, terutama ketika ahli biologi dari Jepang—profesor Yoshinori Ohsumi—nemuin hasil bahwa, puasa bisa melahirkan terjadinya autophagy. Hipotesis ini dengan sah-dan-meyakinkan bisa dianggap sebagai seonggok fakta.

Berdasarkan penemuan itu, saya tetiba berpikir, jika begitu, manusia nggak perlu lagi dong meminum obat atau bahkan nenggak antibiotik, jika tubuh kita sanggup nendang penyakit secara auto pilot atau tanpa bantuan apa pun.

Semenjak saya melakoni puasa intermitten, saya ndak pernah ngalamin infeksi bakteri yang spektakuler, akibatnya, saya tidak punya empirical evidence—membuktikan dengan mempraktikkannya sendiri.

Lalu, bagaimana saya bisa tau bahwa bakteri bisa dipapas dengan puasa? Nah, oleh karena itu, saya mengambil contoh kasus dari Carl Franklin, sehingga kalian bisa membaca penuturannya langsung. Cekidot.

By: Carl Franklin

Disclaimer: Jika Anda menderita infeksi bakteri, sebaiknya, Anda segera mendatangi dokter. Jurnal ini bukanlah advis medis. Ini hanyalah berdasarkan pengalaman saya. Please be smart saat dealing dengan kehidupan biologi Anda. Ok? Great. Read on!

Sumber Gambar: naomiwhittel.com

Saya notice, sejak saya memulai journey keto, salah satunya termasuk puasa intermittent, sistem imun saya tampak sedikit nggak berkompromi. Saya lebih sering terserang pilek. Tahun 2016—pasca menjalani keto selama 4 bulan—ketika saya mendatangi Belgia dengan a-whopper-of-virus atau virus merembes ke tubuh, dan sialnya, ini berlangsung sepanjang musim panas lho.

Saya adalah vocalist utama untuk band saya, Franklin Brothers, karena saya sakit, jadinya saat itu saya nggak bisa nyanyi, dong. Saya pikir, jangan-jangan adakah koneksinya? Tetapi saya mengabaikannya.

Selain dari pada itu, untuk si bakteri, luka dan goresan yang seharusnya sudah sembuh kemudian terinfeksi dan butuh antibiotik untuk menyembuhkan. Dan, karena saya udah tau efek samping dari antibiotik— agak sangar, oleh karena itu saya jadi ingin meminimalisir pemakaian antibiotik, tentunya.

By: Carl Franklin (Can Fasting Heal a Bacterial Infection?)

Goresan terakhir berubah menjadi selulit, terasa cekot-cekot, kemudian gatal, kemudian kulit menjadi terinfeksi dan menyebar. It’s not good. Sekitar 10 hari bagian pergelangan tangan terbakar. Melepuh dan memerah. Meskipun saya telah menutupinya dengan krim antibiotik dan kasa, ia tetap terinfeksi dan terlihat tampak seperti selulit. Great. More antibiotics. Lebih banyak antibiotik, Sob.

Dapatkah Kita Menyembuhkan Infeksi Jamur Vagina di Rumah Tanpa Obat?

Sebagai catatan tambahan, saya dapet dokter baru tahun ini, Dr. Ken Berry. Dia adalah seorang dokter keluarga di pedesaan Tennessee. Dia menulis sebuah buku berjudul Lies My Doctor Told Me, yang mana pernah saya baca, dan itu benar.

Program yang dimilikinya adalah Anda bisa menemuinya langsung, cek darah, dan jika Anda nggak minum obat, Anda tetap akan dimonitor secara personal dan konstan, dan kita bisa request treatment jarak jauh juga.

Saya pernah punya pengalaman nggak enak dengan dokter lokal, oleh karena itu saya mutusin keluar dari zaman kegelapan, that was a no-brainer.

Anyway, hasil tes darah saya menunjukkan level testosteron yang minor. Jika tingkat testoteron kita rendah, infeksi kulit menelan waktu lebih lama untuk penyembuhan, itu berdasarkan info dari dokter Dr. Berry. Sedikit riset juga telah menegaskan hal ini. Jadi, saya segera mengoleskan testosterone gel untuk mengembalikan kadarnya ke standar normal.

Kembali ke infeksi. Karena feeling saya mengatakan bahwa sistem imun bisa juga dipengaruhi oleh puasa, maka saya pun melakukan beberapa riset, dan menemukan, on the face of that, dua studi yang hasilnya saling bertolak belakang.

Artikel ini mengutip sebuah penelitian tentang lalat buah ke jamur—memiliki gen nyaris sama dengan manusia—yang mana dipengaruhi oleh stres dan kekebalan tubuh. Memang, sih, itu bisa memperpanjang hidup mereka, tetapi di sisi lain, mereka menjadi lebih mudah terinfeksi. Tetapi, inget, riset ini dikerjakan pada lalat buah, Sob.

Mereka melompat ke beberapa kesimpulan:

  1. Puasa intermiten akan memiliki efek yang serupa pada jamur ini.
  2. Hasil pada lalat buah dan manusia akan ekuivalen. Jadi keduanya dianggap akan berefek sama.

Artikel kedua mengutip penelitian di Yale, yang mana tikus sengaja dipapar dengan virus dan infeksi bakteri, kemudian:

  1. Ada yang harus berpuasa, dan.
  2. Ada yang enggak puasa.

Ketika tikus diberi makan, satu bisa survive karena terinfeksi virus, tetapi yang terinfeksi bakteri malah tidak.

Sumber Gambar: mindbodygreen.com

Ketika berpuasa, hasilnya justru terbalik. Mereka yang terinfeksi virus nggak bisa bertahan, tetapi yang terkena infeksi bakteri anehnya bisa. Atlantik punya cerita tentang studi yang identik, dengan versi editorial.

Berikut kutipannya:
 “Pada prinsipnya, suatu hari seorang dokter bisa memberikan diagnosis bersama dengan rekomendasi diet khusus. Itu bisa mempercepat pemulihan dan membatasi krisis global penggunaan antibiotik berlebihan.”

Tahun lalu saya nemuin artikel ini, yang mengutip tentang puasa panjang untuk 3 hari, namun, ini bisa meregenerasi sistem kekebalan tubuh sepenuhnya, yang mana memiliki efek positif melawan infeksi bakteri. Seperti yang saya katakan: di permukaan, temuan dari studi pertama dan ketiga tampaknya kontradiktif.

Or do they?

Puasa intermiten berbeda dari puasa diperpanjang. Jika Anda puasa 23 jam, proses autophagy belum sempat selesai. Jadi sistem imun kita akan beregenerasi jika puasa selama tiga hari. Ini kedengeran kayak fenomena saat kamu nggak ngabisin antibiotik.

Bakteri mengembangkan resistensi terhadapnya. Mungkin ada sesuatu yang mirip, dan yang perlu kita garis bawahi adalah tentang RESISTENSI. This, however, is just a guess. Jika benar bahwa puasa intermiten akan membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi (yang tampaknya menjadi kasus saya) dan puasa diperpanjang dapat memiliki efek positif pada sistem kekebalan Anda yang akan membantu melawan infeksi bakteri, maka saya harus melakukan ekstensi puasa atau puasa dalam jangka waktu panjang, dan lihat apa yang terjadi pada selulit saya.

Now, before you say “that’s crazy, Carl. You could die!”  Sekarang, sebelum Anda mengatakan “itu gila, Carl. Kamu bisa mati!”

Saya berbagi ide tentang hal ini dengan dokter saya, dan dia setuju bahwa saya harus mencobanya—dengan catatan bahwa saya harus memonitornya setiap hari. Jika memburuk, kami akan menghentikan percobaan ini dan segera mengoleskan antibiotik.

Puasa beberapa hari, seharusnya nggak akan ada bedanya, dong. Namun, jika itu menjadi lebih tokcer, itu berarti puasa panjang adalah hal yang krusial. Jika begitu persoalannya, saya sanggup nyembuhin infeksi yang seharusnya membutuhkan antibiotik. Namun, ada confounder dalam eksperimen saya. Saya mulai mengoleskan testosteron pada hari kedua, yang mana mengakselerasi proses recovery.

Untuk menguji ini dengan total, saya harus memiliki kadar testoteron yang normal, dan kemudian berpuasa. Tapi kan, tujuan saya ngejalanin eksperimen ini adalah untuk mengusir infeksi tanpa antibiotik.

Jika itu jadi kenyataan, I’m happy for now, jika enggak, ya udahlah. Mungkin kita perlu melakukan lebih banyak percobaan lagi ke depannya.

On top of fasting, saya menemukan bahwa menyemprotkan air panas dari shower ke kulit yang terinfeksi, sepanas yang bisa saya tahan, menimbulkan perasaan aneh tetapi asik, seperti ketika menggaruk gatal.

Itu juga sepertinya menghilangkan rasa gatalnya. Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, tetapi saya melakukannya dua kali sehari untuk mengendalikan rasa gatal. Saya juga mengoleskan Cetaphil, pelembab kulit, setiap hari.

 Ok, let’s look at some pictures, shall we? Oke, mari kita lihat beberapa foto, ya?

Hari Pertama

Ini adalah foto pertama yang saya ambil pada 11 Mei 2018: Pada hari saya mulai berpuasa. Pada saat itu, lukanya telah sembuh tetapi masih sangat sakit. Saya benar-benar berhenti makan sehari sebelumnya, 10 Mei, tetapi saya minum kopi dengan krim kental dua kali sehari.

Saya biasanya melakukan ini untuk merasa at ease atau nggak uring-uringan. Jadi, secara teknis ini bukannya tanpa makanan, tapi ‘makanan’ yang biasa diganti dengan krim kental. Saya minum 2 jenis alkohol non-karbohidrat (wiski) di malam hari. Saya membaca sebuah studi yang mengindikasikan bahwa mengonsumsi alkohol moderat mengaktifkan autophagy. Hey, as long as it doesn’t stop it, I’m all in! Hei, selama itu nggak menghentikan si puasa, saya ikut cara itu lah!

Ini gambar dari hari kedua: 12 Mei

Day two I was all in.

Hari kedua.
No food. Tidak ada makanan. Hanya kopi hitam, air, garam, dan suplemen. Ini adalah hari pertama di mana saya memakai testosteron.

Ini gambar dari hari ketiga. Ini adalah ketika saya sadar banget ini mulai memudar. Dan di sini kita berada di Hari ke 4. Practically gone. Beneran ilang, Sob.

Ringkasan, saya memiliki testosteron rendah. Saya udah ngerjain diet ketogenik dengan Intermitent Fasting atau puasa intermiten. Saya lebih mudah terinfeksi daripada biasanya.

Di putaran ketiga saya memutuskan untuk mengintervensinya dengan terapi testosteron dan puasa diperpanjang. Saya nggak tau sejauh mana ‘campur tangan’ ini berfaedah, tetapi hasilnya kan memang nggak bisa disangkal, kita semua telah melihatnya, Sob. Bahwa saya bisa membersihkan infeksi bakteri yang biasanya harus ‘dipenggal’ oleh antibiotik, dan itu membuat saya hepi.

Dr. Jason Fung dari Program IDM berkomentar: “Itu sangat menarik, Carl. Memang, sih, tidak ada sains yang ngebackup ini, tetapi bagi saya itu masuk akal. Whenever we get sick (flu etc.) we stop eating. Setiap kali kita sakit (flu dll.) Kita berhenti makan.

Itu adalah reaksi alami, jadi itu kayaknya sih cara tubuh memproteksi dirinya. Puasa mengunci glukosa, dan memaksa kita untuk menggunakan fatty acids atauasam lemak untuk energi, yang cihuynya, si asam lemak ini nggak bisa digunakan oleh bakteri.

Anda pada basic-nya membikin si bakteri menjadi kelaparan. Saya masih belum yakin bahwa itu adalah puasa 100% dan bukan testosteron.

Pada Hari ke-4, saya ingin sedikit lebih fokus dalam eksperimen.

Saya membatalkan puasa jam 3 sore, dan makan cukup banyak hidangan berlemak. Saya juga mutusin bahwa keesokan harinya saya TIDAK akan mengoleskan gel testosteron, tetapi SAYA AKAN kembali berpuasa.

Pagi berikutnya tampaknya sedikit lebih merah, gatal, dan saya bisa merasakan sedikit rasa sakit, padahal sehari sebelumnya nggak ada tuh. Ini foto dari hari ke-5: Anda dapat melihat bahwa itu sedikit lebih merah.

Saya akan melakukan puasa lebih panjang (minimal 3 hari) tanpa terapi testosteron Androgel, dan saya akan memposting foto di sini setiap hari. Hari 6 – Tidak ada Androgel. Kembali ke berpuasa. Seperti yang Anda lihat itu terlihat sedikit lebih merah.

Hari ke-6, membaik tanpa antibiotik

Kemarin saya berpuasa sepanjang hari hanya dengan minum zero-carb drinksminuman-tanpa-karbohidrat di malam hari. Sekarang ini semakin menarik. Here we are at day, kita berada di hari ke 7, atau lebih tepatnya, setelah 2 hari puasa tanpa testosteron. Ini terlihat lebih baik daripada kemarin, dan tampak menjanjikan. Hari ke 8, atau 3 hari berpuasa penuh (ada istirahat di tengah-tengah) tanpa testosteron. Still continuing to heal. Proses penyembuhan masih terus berjalan.

Sekali lagi, jika Anda memiliki infeksi bakteri, Anda harus segera berbicara dengan dokter Anda.

Carl Franklin

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Juga Solusi untuk Panjang Umur, dong

Semangat pagi! Apa kabar? Saya Sarah Sastrodiryo, pemilik blog ini. Saya bercerita sedikit personal, karena saya yakin, mungkin ini bisa bermanfaat untuk kalian. Ceritanya begini, saat ibu saya meninggal karena Diabetes Tipe 2, saya cukup terpukul. Seharusnya saya bisa berbuat sesuatu, supaya penyakit ibu bisa diringankan. Berdasarkan kegeraman saya itu, saya menjadi terobsesi dengan penyakit ini, dan mencari sedetail-detailnya. Pada akhirnya, saya malah terdampar pada sebuah fakta, bahwa semua itu terkait dengan apa yang kita makan.

Impian semua orang ingin sehat dan tampak lebih tampan juga cantik. Berapa pun usianya, mereka ingin selalu terlihat awet muda. Kita boleh saja berusia 60 tahun, tetapi, performa tubuh kita inginnya tetap 20 tahun dong. Fungsi tubuh di dalamnya juga tetap prima seolah-olah masih berusia 17 tahun. Cihuynya, ini bukanlah utopia bukan pula habu—hayalan babu.

Kali ini saya akan menerjemahkan article ahli ginjal dari Kanada yang juga guru diet, master puasa, jago di bidang diabetes tipe 2, tentang longevity atau fisiologi dan organ tubuh tetap bisa bekerja dengan oke meski kita menua. Tua tetapi tidak sakit-sakitan. Tua tapi masih tetap energik dan bertenaga kuda. Silakan dinikmati.

Dokter Jason Fung (The Longevity Solution)

Diet telah diakui sebagai cornerstone atau landasan untuk kesehatan dan wellness, dan ini sudah sejak zaman Hippocrates. Mengurangi gula, menghindari ngemil camilan, makan makanan natural yang belum-diolah-terlalu-brutal, bisa membuat berat badan terkontrol dan juga membikin metabolisme tubuh lebih apik.

Tetapi, healthy aging atau usia yang sudah tua dan tetap sehat a.k.a nggak sakit-sakitan, tidak hanya dijamin oleh aspek pola makan.

Longevity atau panjang umur bukan hanya tentang menjalani umur panjang. Di dunia ini, nggak ada satu pun yang mau hidup dengan penyakit kronik dan bentar-bentar minum obat. Rentang kesehatan yang ditingkatkan, merupakan salah satu fokus utama untuk longevity.

Ini lebih tentang kualitas hidup, bukan panjang total usianya sampe angka berapa.

Itu adalah topik yang memikat, jadi saya telah bekerja sama dengan Dr. James DiNicolantonio mengenalkan Anda sebuah buku anyar, The Longevity Solution. Dalam buku ini, saya bukan hanya membahas peran puasa dan umur panjang, tetapi ada setumpuk hal menarik yang jauh lebih banyak tersedia dari buku ini.

Kami membahas teori-teori ilmiah di balik penuaan.

Sementara usia kronologis adalah sungai, bergerak hanya dalam satu arah, di sisi lain, menjadi sepuh secara fisiologis tidak berdasarkan tahun. Maksudnya begini, Anda berusia 30 tahun, tapi fisiologis Anda bisa aja baru 20 tahun. Beberapa orang menua lebih anggun daripada orang lain dan ‘praktik terbaik’ inilah yang menjadi fokus buku ini.

Kami membahas teori-teori penuaan, dan paradigma yang mendominasi buku ini adalah persaingan antara pertumbuhan versus penuaan.

Emang sih, tubuh kita punya ‘program’ pertumbuhan yang dominan banget selama tahun-tahun awal lahir hingga awal dewasa. Kemudian, tubuh kita berhenti tumbuh. Kita mencapai tingkat dewasa kita, dan nggak mungkin tumbuh lagi.

Faktor pertumbuhan memainkan peran superior dalam hal ini. Dan sensor nutrisi insulin, mTOR dan AMPK juga terkait secara intim dengan pertumbuhan. Tetapi setelah dewasa, secara fundamental, pertumbuhan bertentangan dengan umur panjang.

Sama seperti mesin mobil, jika Anda memutarnya berkali-kali, ia akan berjalan lebih banter, tetapi juga akan terbakar lebih cepat. Jadi dengan ‘program’ yang sama, yang mana selama masa muda sungguh optimal, nggak lagi kondusif jika Anda ingin menua dengan anggun.

Jika kita ingin memperlambat pertumbuhan, maka kita ingin mengurangi pensinyalan nutrisi juga. Insulin dan mTOR, adalah sensor nutrisi yang elementer, konsekuensinya pertumbuhan melonjak.

Dengan mengurangi karbohidrat, kita dapat menurunkan insulin dan umur panjang pun bisa ditambah. Namun, ada pertanyaan tricky tentang asupan protein optimal. Terlalu sedikit protein jelas buruk, karena tubuh kita bergantung banget padanya, supaya bisa mempertahankan fungsi. Tetapi pertanyaan yang paling kontroversial adalah, “apakah terlalu banyak protein itu jahat?”

Ini adalah pertanyaan yang sulit, dan membutuhkan pendekatan dengan banyak nuansa.

Sampai beberapa tahun terakhir, praktisnya, dianggap mustahil untuk makan terlalu banyak protein. Diet rendah karbohidrat seperti diet Atkins merekomendasikan asupan karbohidrat rendah, tetapi tidak membuat saran khusus tentang protein atau lemak.

Ketika dikombinasikan dengan rendah lemak mania, kami melihat beberapa orang mengonsumsi makanan karbohidrat dan lemak yang minimalis—yang mana hanya menyisakan protein dalam makanan.

Ini ternyata sangat sulit untuk diikuti. Itu sangat ketat, dan pada dasarnya hanya boleh makan putih telur, salad, dan kalkun sepanjang hari. Perbedaan besar dari diet rendah karbohidrat gaya lama dan diet ketogenik atau keto yang populer adalah bahwa diet keto memungkinkan jumlah lemak yang banyak, dan menyarankan protein makanan porsi moderat. Makan protein yang melimpah membuat seseorang tidak ketosis, ditambah jika Anda juga makan terus-menerus. Ingat, selama waktu ini, ada keyakinan kuat bahwa kita harus makan 6-10 kali per hari, dipromosikan oleh banyak dokter based on no evidence whatsoever, berdasarkan pada sesuatu yangnggak ada bukti sama sekali.

Makan dengan porsi melimpah, membuat ketosis lemak jauh lebih tinggi, dan bagi sebagian orang, itu sangat sukses.

Ada segepok nuansa lain dalam asupan protein juga. Ada gap akbar pada protein hewani versus nabati. Generally, karena kita adalah hewan, protein-protein itu lebih dekat dengan apa yang kita butuhkan, dan memiliki nilai biologis yang jauh lebih jangkung.

Protein hewani jauh lebih bergizi, dan alasan mengapa masyarakat tradisional menghabiskan begitu banyak upaya untuk berburu hewan, meskipun bagi sebagian besar sumber makanan sentral mereka adalah tanaman.

Nilai gizi yang lebih adiluhung ini kece jika orang tersebut ngalamin mal nutrisi atau kekurangan gizi. Sayangnya, pada zaman now, over gizi bertendensi menjadi problematika utama di dunia. Karena itu, nilai gizi yang rafi nggak selalu berfaedah.

Protein, khususnya asam amino adalah stimulan paling kuat bagi mTOR, sensor nutrisi yang dikenal sebagai target mekanis rapamycin. Sinyal pro-pertumbuhan ini telah dikaitkan dengan setumpuk penyakit penuaan dan protein eksesif. Jika Anda tertarik pada diskusi yang lebih mendalam tentang pertanyaan sulit tentang asupan protein optimal ini, beli buku The Longevity Solution.

“Asian Paradox”: Orang Asia Makan Nasi Begitu banyak Tapi Tetap Ramping

Halo, apa kabar kalian? Saya Sarah Sastrodiryo pemilik blog ini. Sudah lama kita berasumsi bahwa makan nasi bikin gemuk. Apakah benar faktanya begitu? Saking takutnya pada nasi dan karbo lainnya, akhirnya kita menghapus nasi untuk selama-lamanya.

Tetapi, jika memang begitu, nggak akan pernah ada istilah Asian Paradoks dong? Oleh karena itu, kali ini saya akan menerjemahkan tulisan dari Mark Sisson tentang Paradoks itu tadi. Cekidot.

By: Mark Sisson.

Manusia suka segala sesuatu yang berbau conterintuitive atau paradoks. Dengan ditemuin beberapa manifestasi dengan jumlah segepok adalah the eargerly point atau pokok, yang membuat kita bergairah untuk meriset. Lantas, kita membongkar bukti demi bukti, spesialnya, yang menyuport bagaimana cara kita makan, hidup, dan bergerak atau konsep:

  1. Eating.
  2. Living.
  3. Moving.

Sebelumnya kita telah membahas bagaimana The French Paradox atau Paradoks Perancis telah menggegerkan para ahli.

Dean Ornish akan menarik helai demi helai rambut yang kusut dan makan bekatul karena serangan tak langsung dari all smug surrender monkeys alias dari semua monyet-monyet bloon yang hobinya makan Brie, butter/ mentega, Duck Confit atau daging bebek super lemak dan  Gauloises yang menurut Mr. Dean akan menyebabkan serangan jantung.

Ada juga yang dinamakan Paradoks Israel atau Israeli Paradox, yang mana penyakit jantung meroket, terlepas dari fakta bahwa mereka mengonsumsi asam lemak omega-6, yang mereka klaim adalah minyak sehat.

Walter Willet mungkin ditemukan menangis di atas se-mug besar minyak Safflower ketika bangun.

Ada juga The American Paradox atau Paradoks ala Amerika, yang paling banyak memakan minyak jenuh tapi paling sedikit mengalami jantung koroner—ini membuat para periset bingung.

Semua paradoks memang merupakan hal yang mengejutkan.

Banyaknya scot-free dan omega-6 dari minyak sayur yang dilepaskan oleh minyak jenuh disapukan di atas arang pada saat barbeque, yang mungkin saja sudah teroksidasi.

Ini semua seharusnya bisa dijadikan alasan untuk mengevaluasi kembali kepercayaan jadul tentang kesehatan dan diet, jika seandainya kita semua mau jujur tentang hal ini.

Lalu, bagaimana dengan The Asian Paradox atau Paradoks ala Asia? Jika memang karbohidrat membuat Anda gemuk? Kok bisa sih mereka makan karbo banyak banget? Bagaimana mungkin mereka selalu langsing padahal makan nasi putih dan mie dengan porsi melimpah?

Bagaimana mereka makan karbo Portugal—porsi tukang gali— dan tetap ramping? Jangan-jangan karbohidrat nggak bikin gemuk?

First of all, saya memang akan mengkonfirmasi bahwa Asia makan banyak nasi. Statistik cukup jelas tentang konsumsi beras di Asia, orang western berasumsi bahwa nasi mungkin side dish atau lauk tambahan aja, bukan hidangan utama, tapi faktanya di Asia nasi memang santapan wajib.

Oleh karena itu, pada kali ini, saya akan menjelaskan mengapa Asian Paradox (seperti semua paradoks), aktualnya adalah bukan paradoks, dan mengapa saya menimbang ini cukup penting dan akan berdampingan dengan damai dengan primal paradoks yang lain.

Ini bagus. Karena Paradoks Asia justru ngasih kita kesempatan untuk mengevaluasi keyakinan kita selama ini.

Mereka bergerak lebih sering dengan ritme lambat

Di mana pun saya berada di kota besar dengan populasi imigran yang besar, saya notice ada pendekatan yang berbeda ketika mereka berjalan.

Baru-baru ini, saya dan Carrie mendatangi Golden Gate Park di San Fransisko, misalnya. Kami berdua menyadari perbedaannya, saat itu kami menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan dan tersesat.

Sumber Gambar

Memang ada banyak orang berjalan, jogging, dan aktif, tapi hanya orang Asia golongan tua yang tampak berolahraga dengan intensitas tinggi.

Exercising on purpose

Berolahraga dengan tujuan

Tujuannya:

  1. Membakar kalori.
  2. Meningkatkan VO2 max.

Nenek cina tua yang lewat menggunakan keds dan sweater rajutan, dan ibu muda mendorong stroller, celana legging ketat, topi baseball, dan sepatu lari trendy termutakhir.

Dengan earphone Bluetooth yang menancap di kuping, berbincang tentang bisnis, politik, masa lalu, dengan Bahasa lain, dua orang pelari yang kelihatan identik (sama-sama memakai sepatu Vibrams) dan mengenakan setelan rapih dan sepatu loafer.

Seorang pria asia yang sudah sepuh menggunakan kemeja berkerah, celana panjang katun atau slacks cruised pants dengan kecepatan sepuluh aja, sungguh sangat simple, dan sekelompok pengendara sepeda yang bisa lulus untuk kategori pro dilengkapi dengan gear, iklan-iklan dan sepatu spesial untuk bersepeda.

Untuk orang-orang Asia yang sudah tua atau the older Asian folks, mereka mayoritas berjalan mengandalkan kaki sendiri atau bersepeda, ini adalah cara untuk berpindah tempat dari sini ke sana.

Itu bukan karena ada acara khusus. Itu adalah kejadian sehari-hari. Itu normal. Bagi semua orang, ini adalah olahraga. Itu bukan acara besar di mana Anda harus prepare dan menghabiskan uang untuk ngerjain gituan.

Berjalan kaki dengan tujuan agar menjadi lebih sehat itu bagus, dan olahraga juga hebat, saya melakukan nyaris setiap saat. Asia yang sudah migrasi ke Amerika, dan orang Asia yang masih berada di negara asalnya memiliki perbedaan kultur yang cukup besar, itu berdasarkan pengamatan saya.

Orang-orang yang belum bermigrasi lebih aktif bergerak. Bukan berarti di negara asal mereka pergi ke gym centre, melakukan weight lifting dan lari sprint, hanya saja aktivitas harian rata-rata mereka memang lebih tinggi. Tindakan sederhana yang dilakukan secara rutin pasti bermanfaat untuk kesehatan, seperti yang sudah kita ketahui bersama.

Daily walking atau berjalan setiap hari dengan konsiten berasosiasi dengan beberapa benefit kesehatan yaitu:

  1. Meningkatkan sensitivitas insulin (sehingga lebih baik menoleransi karbohidrat seperti beras putih).
  2. Mood yang lebih baik.
  3. Menurunkan tekanan darah dan trigliserida.
  4. Dan umur panjang/ longevity.

Sudah seratus tahun Amerika telah menjadi negara mobil. Sudah lebih dari 50 tahun kita tidak harus berjalan kaki. Heck, seringnya kita nggak bisa berjalan kaki meski kita ingin, karena kita tinggal di suburban sprawl yang membutuhkan mobil untuk membeli grocery atau mengantarkan anak-anak ke sekolah. Sehingga, orang Amerika berjalan lebih sedikit dibandingkan dengan negara lain.

Sumber Gambar

Pada saat orang Asia mulai membeli lebih banyak mobil, kemana-mana naik kendaraan, tidak melakukan pekerjaan padat karya, saya curiga akan terjadi yang namanya:

  1. Intolerasi karbohidrat.
  2. Kanaikan lemak tubuh.
  3. Kesehatan umum memburuk secara umum.

It’s already happening, as you’ll see. Kamu lihat kan, ini sudah mulai kejadian, lho. Penentu terbesar untuk toleransi terhadap karbohidrat adalah level aktivitas harian.

Tetapi, meski di Amerika, untuk kota-kota yang nyaman untuk berjalan kaki dibandingkan menyetir seperti New York, masyarakat biasanya lebih sehat, lebih ramping dan berumur lebih panjang.

Sulit dipungkiri, sekarang segalanya telah berubah. Pada tahun 1989 65% of Chinese performed heavy labor, masyarakat Cina nggak lagi melakukan pekerjaan buruh di rutinitas sehari-hari.

Tahun 2000, proporsi mereka telah anjlok menjadi 50%—masih tetap unggul dibandingkan negara-negara western, tapi tren yang menurun jelas sangat terlihat. Proporsi obesitas meningkat pada tahun 2000.

Diet Makanan Bergizi yang Tidak Diproses

Gizi sangat tinggi di makanan tradisional Asia sudah jadi pengetahuan umum, nyaris semua orang tau mengenai hal itu.

Datangi restoran mie ala Vietnam, signature dari mereka adalah PHO, yang berisi:

  1. Kaldu tulang sumsum sapi buatan sendiri.
  2. Babat.
  3. Tendon.
  4. Brisket.
  5. Mie beras.

Pergilah ke restoran Thai kualitas tinggi bukan yang abal-abal, beli sup kaldu tulang dengan isi:

  1. Beberapa kubus darah babi.
  2. Sayuran hijau.
  3. Mie beras.
  4. Telur bebek.
Sumber Gambar

Pergilah ke restoran Cina dan pesan tumisan (sayangnya, minyak kedelai telah diganti dengan minyak jagung), ginjal babi, brokoli cina, nasi di sebelahnya.

Sekarang, datangi restoran Jepang, dan beli telur-salmon-tangkapan-liar yang digulung dengan rumput laut dan nasi, makarel sashimi, beberapa sup miso dengan potongan rumput laut.

Datanglah ke restoran barbekyu tipikal Korea yang berciri khas:

  1. Berlusin-lusin kimchi.
  2. Iga bakar pendek.
  3. Hati sapi.
  4. Hati sapi yang dibungkus selada.
  5. Nasi di sampingnya.

Nyaris di semua kultur, nasi memang selalu ada, tetapi faedah dari kaldu tulang (kontennya adalah kolagen), daging segar, kol fermentasi, jeroan, dan sayuran.

Beras tidak dibatalkan, emang sih nggak ada nutrisinya. Dan selalu eksis hampir pada semua sajian.

Of course, itu adalah makanan restoran. Tapi, jika Anda sangat penasaran, bagaimana rekan-rekan asia memasak, pergi ke supermarket dan perhatikan apa yang dibeli. Bahan pangan mereka nggak mewah atau plavorful, namun, sama bergizinya.

Berdirilah di meja kasir dan Anda akan melihat dua puluh jenis ikan: tiram hidup, kerang, kepiting, siput, bulu babi; seluruh pencernaan babi, seember kaki ayam, se-tas penuh daun herbal, sayuran eksotis seperti pare, makanan yang difermentasi, acar, selusin jenis sayuran akar, dan pastinya, nasi, dong.

Saya mengagumi kaki sapi tampan yang mengeluarkan kolagen dan sumsum yang sehat, dan membayangkan semua hidangan indah yang bisa dihasilkannya (sementara, mental  saya membandingkan isi stroller di pasar Asia dan standar grocery di standar Amerika, tebak siapa yang menang.)

Sudah banyak terjadi perubahan di kultur Asia:

  1. Asupan gula yang meningkat.
  2. Lemak babi dan gajih sapi digantikan oleh minyak jagung dan minyak kedelai.

Sekarang, jika Anda ingin mengisolasi nasi dari list nutrisi berat dan mengatakan, “terus ini tentang apa sih sebenernya?”

Nasi adalah makanan dengan konteks absolut mempunyai kadar gula yang rendah, NO HFCS—atau tanpa fruktosa, kandungannya hanya 55/45—kita seringkali berasumsi bahwa glukosa adalah penjahat nomor wahid, faktanya, fruktosa jauh lebih berbahaya karena ditimbun di organ hati. Fruktosa atau glukosa yang dipecah untuk HFCS adalah kekeliruan besar.

Padahal dulu di Asia:

  1. Konsumsi minyak nabati rendah.
  2. Memakan jeroan juga masih bisa diterima.

Jadi gini lho, katakanlah, memang ada fruktosa di dalam blueberry, tapi bukan berarti Anda mengutuk keseluruhan buah itu, dan mengatakan bahwa tidak melihat adanya vitamin di sana. Kita tetap harus fair, dengan menimbang seluruh komponen makanan.

Sumber Gambar

Similarly, Anda nggak akan mereduksi makanan tersebut hanya karena ‘cacat’ yang nihil, dalam hal menilai sesuatu jangan memakai pepatah, “nila setitik rusak susu sebelanga.”

Anda harus melihat seluruh gambar, faktanya, diet Asia mayoritas memang bergizi.

More Rice, Less Wheat

Lebih banyak nasi, sedikit gandum

Berkat monsoon yang regular atau musim hujan yang biasa, 90% budidaya beras yang diproduksi di dunia berlokasi di Asia. Karena kawasan ini terpapar beras lebih dari 10.000 tahun jadi mereka cenderung makan lebih banyak. Mereka sungguh beruntung, mereka bisa makan nasi, terutama nasi putih (yang sebagian besar merupakan makanan wajib di Asia).

Salah seorang teman saya dari Thailand yang tumbuh besar di USA, datang ke Hollywood pada tahun 60-an pernah berkata, “dedak itu untuk para ayam.”

Oleh karena itu, nasi adalah sumber glukosa non-toksik atau tidak beracun. Jika spektrum biji-bijian, yang mana gandum dan biji-bijian gluten lainnya selalu merupakan produk akhir, nasi dengan rileks sangat berlawanan.

Tetapi, ini nggak baik atau buruk. It just is. It’s pretty much neutral. Cukup netral. Terlepas apakah kamu bisa handle glukosa dalam jumlah banyak, namun, saya bisa pastikan bahwa bebas dari iritasi usus, asam fitat, dan lektin yang merusak.

Di sisi lain, jika makan gandum, dan kebetulan kamu punya alergi gluten, bibit dari agglutin, dan jumlah antinutrien yang mana digunakan untuk bersaing.

Ned Kock, seorang master (yang sayangnya kurang mendapat penghargaan), telah menulis serangkaian posting statistik tentang data studi China, menunjukkan, asupan beras diasosiasikan dengan reduksi penyakit kardiovaskular, sementara, intake tepung terigu berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.

Level konsumsi nasi berkorelasi dengan naiknya CHD, yang mana, bukan faktor utama. Semua sederajat, orang-orang yang lebih sehat meski makan nasi seember besar dibandingkan dengan makanan cepat saji gandum sebaskom.

Apakah warga Asia tetap sesehat dulu?

Sayangnya, warga Asia tidak sesehat dan tidak lagi panjang umur. China dan India menghadapi epidemi diabetes. Di Taiwan, Korea, Vietnam, dan Thailand, angka diabetes juga melambung.

Cuaca yang sempurna—hidup nyaman tenteram loh jinawi, makanan junk food yang penuh dengan karbohidrat dan lemak berbahaya, dan kualitas tidur yang jelek—yang telah menghancurkan Amerika dan negara-negara industrial hampir seabad mendorong setumpuk penyakit yang menghinggapi nyaris seluruh Asia.

Lemak hewan tradisional telah digantikan oleh minyak goreng, dan asupan gula melonjak. Orang-orang lebih banyak makan gandum dan jarang jalan kaki lagi.

Negara-negara Asia mempunyai BMI rendah yang misleading/ menyesatkan. Pada BMI yang sama, Asia lebih berlemak dibanding ras lain. Jadi, secara rata-rata, orang Amerika atau Kepulauan Pasifik dengan BMI 25 memiliki lemak tubuh lebih sedikit daripada orang Cina dengan BMI 25.

Nggak jelas apakah tingginya lemak tubuh (tapi BMI-nya rendah) berkorespondensi dengan naiknya beberapa penyakit, tetapi, ini menunjukkan bahwa BMI sangat tidak bisa dipercaya sebagai barometer apakah diet di negara tertentu itu apik atau tidak. Anda bisa tergolong kategori skinny-fat dengan BMI rendah—dan ini biasa terlihat pada orang-orang Asia.

Jadi, seperti yang udah-udah, fenomena the Asian Paradox jatuh sudah; sesungguhnya nggak ada paradox, Sob. Asia tetap langsing pada pola makan nasi segabruk karena mereka banyak melakukan aktivitas aerobik yang mana bisa meningkatkan sensitivitas insulin, plus, lauk pauk pendamping nasi sangat tinggi nutrisi, karena nasi rasanya netral.

Any questions? Fire away!