Ingin Ramping dan Melangsing? Baca tentang Obesitas

 

Sumber Gambar

              

Semua makanan terdiri dari kombinasi tiga komponen mayor, yang disebut nutrisi makro:

  1. Karbohidrat
  2. Protein
  3. Lemak

Masing-masing nutrisi makro terdiri dari unit fungsional yang lebih kecil. Karbohidrat adalah rangkaian glukosa dan gula lainnya. Protein adalah jalinan asam amino. Lemak (trigliserida) adalah ikatan asam lemak. Ada juga lebih mini, jumlah mikroskopik vitamin (A, B, C, D, E, K dll.) Dan mineral (besi, tembaga, selenium dll), yang dikenal sebagai mikronutrien.

By: Dokter Jason Fung (Understanding Obesity)

Pencernaan memecah nutrisi kapital untuk diserap oleh aliran darah. Lantas menyediakan energi (kalori) dan bahan baku yang dibutuhkan (protein, lemak) untuk membangun sel. Nutrisi krusial tertentu harus diperoleh dari makanan kita, karena tubuh kita tidak dapat membuatnya sendiri.

Ada yang disebut asam amino esensial (seperti arginin dan leusin) dan asam lemak esensial—seperti omega 3 dan omega 6 lemak—, tetapi tidak ada karbohidrat esensial. Tanpa nutrisi vital ini, kita akan jatuh sakit.

Masing-masing dari tiga makro nutrisi dimetabolisme secara berbeda. Karbohidrat, rantai gula—seperti glukosa dan fruktosa—dipecah menjadi gula individual untuk diabsorpsi. Karbohidrat olahan (misalnya tepung) diserap jauh lebih cepat ke dalam aliran darah daripada karbohidrat kasar/ masif yang mungkin masih mengandung sejumlah besar protein, lemak, dan serat.

Sumber Gambar

Protein makanan terdiri dari komponen yang disebut asam amino dan akan diurai selama proses pencernaan. Mereka lantas diedarkan ke hati, yang mana akan digunakan untuk memugar dan memasang kembali protein seluler. Kalo gitu, profesi fundamental dari asam amino ini bukan sebagai sarang si energi, dong. Asam amino digunakan untuk membangun protein seperti sel darah, tulang, otot, jaringan ikat, kulit dll.

Tetapi, jika Anda mengonsumsi protein yang berlebihan, tubuh tidak memiliki cara untuk menyimpan asam amino ekstra ini. Sebaliknya, mereka akan diubah menjadi glukosa oleh hati. Diperkirakan 50-70% protein yang tertelan diubah menjadi glukosa.

Lemak terdiri dari molekul yang disebut trigliserida. Pencernaan lemak membutuhkan empedu yang mencampur dan mengemulsi lemak makanan sehingga lebih mudah diserap ke dalam tubuh. Lemak diserap langsung ke dalam sistem limfatik yang kemudian bermuara ke aliran darah. Trigliserida diambil oleh sel-sel lemak (adiposit). Karena makanan berlemak tidak memerlukan hati untuk pemrosesan awal, tekniknya tidak memerlukan insulin sebagai hormon pemberi sinyal. Dus, lemak makanan hampir tidak berbuntut pada tingkat insulin. Lemak diserap langsung ke lemak tubuh tanpa banyak basa-basi.

Penyimpanan Energi Pangan

Tubuh memiliki dua metode penyimpanan energi yang saling melengkapi. Dapat dikemas dalam bentuk energi seperti:

  1. Glikogen di hati
  2. Lemak tubuh

Sumber Gambar

Ketika Anda makan karbohidrat atau protein (melebihi kebutuhan tubuh), insulin naik. Semua sel-sel tubuh (hati, ginjal, otak, jantung, otot, dll.) secara serentak berfoya-foya menikmati prasmanan glukosa all-you-can-eat yang anda kunyah.

Jika beberapa glukosa tersisa, mereka harus disimpan, dong. Molekul glukosa yang kini sudah dipecah menjadi nafsi-nafsi kemudian dirangkai menjadi rantai panjang yang disebut glikogen. Ini adalah proses yang relatif sederhana. Proses sebaliknya, memecah glikogen kembali menjadi komponen glukosa individu untuk memberikan energi saat kita tidak makan (puasa) juga cukup simpel.

Glikogen dibuat dan disimpan langsung di hati. Ketika insulin naik, tubuh menyimpan energi makanan sebagai glikogen. Ketika insulin jatuh (katakanlah saat sedang berpuasa) tubuh memecah glikogen kembali menjadi glukosa.

Liver glycogen berlangsung sekitar 24 jam tanpa makan. Glikogen hanya dapat digunakan untuk menyimpan energi makanan dari karbohidrat dan protein, bukan lemak diet, yang tidak diproses di hati, dan tidak terurai menjadi glukosa. Ketika gudang glikogen penuh, tubuh menggunakan bentuk penyimpanan energi kedua—lemak tubuh.

Lemak makanan dan lemak tubuh keduanya terdiri dari molekul yang disebut trigliserida. Ketika kita makan lemak diet, mereka diserap dan dikirim langsung ke dalam aliran darah untuk diambil oleh adiposit.

Kelebihan glukosa hati yang tidak dapat dimasukkan ke dalam penyimpanan glikogen penuh harus diubah menjadi trigliserida melalui proses yang disebut ‘de novo lipogenesis’. Hati menciptakan lemak baru dari kolam kelebihan glukosa ini, tetapi tidak dapat menimbunnya. Lemak harus disimpan dalam sel-sel lemak, bukan hati.

Sumber Gambar

Jadi, hati mengekspor lemak sebagai lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL), yang membawanya ke adiposit untuk persediaan jangka panjang. Hati, esensinya mengubah kelebihan glukosa menjadi lemak, dan memindahkannya ke adiposit untuk stok jangka panjang. Ini adalah proses yang jauh lebih melelahkan daripada membentuk kantong glikogen. Keuntungan menggunakan lemak tubuh sebagai penyimpanan energi makanan adalah bahwa tidak ada batasan berapa banyak yang dapat ditimbun. Dua sistem yang berbeda untuk menabung energi makanan ini saling melengkapi dengan perfek. Glikogen mudah dan nyaman, tetapi terbatas dalam ruang penyimpanan. Lemak tubuh lebih sulit dan tidak afiat, tetapi tidak ada limitasi.

Pikirkan glikogen seperti dompet. Uang tunai mudah tersedia, tetapi kapasitasnya minim. Pikirkan lemak tubuh seperti uang di bank. Jauh lebihsulit untuk memindahkan uang bolak-balik, tetapi si depo sungguh tak terhingga. Untuk kegiatan sehari-hari yang biasa, lebih mudah menggunakan dompet Anda. Ini adalah solusi jangka pendek yang lebih baik. Namun, dalam jangka panjang, kita menggunakan bank supaya kita sanggup bertahan hidup, iya nggak, sih?

Kondisi sedang Berpuasa

Dalam keadaan berpuasa, ketika Anda tidak makan, kadar insulin turun karena makanan adalah stimulus utama bagi insulin. Meskipun kata puasa mungkin terdengar menakutkan, itu hanya mengacu pada kapan pun Anda nggak memamah-biak. Ibarat celana dalam, ini hanyalah sisi lain yang dibalik.

Ketika Anda tidur, misalnya, Anda sedang berpuasa. Kata sarapan mengacu pada makanan yang membuka puasa kita, menunjukkan bahwa puasa sesungguhnya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Tubuh kita hanya ada di salah satu dari dua keadaan—fase makan (insulin tinggi) atau periode berpuasa (insulin rendah).

Tubuh kita menyimpan energi makanan, atau sedang menggunakannya. Dalam keadaan berpuasa, kita bergantung pada stok energi makanan kita untuk bertahan hidup. Insulin tinggi memberitahu tubuh kita untuk menumpuk energi di gudang. Insulin rendah memberi sinyal tubuh kita untuk menyedot energi makanan yang disimpan, karena tidak ada hidangan yang masuk.

Pertama, kita memecah glikogen menjadi glukosa untuk energi. Ini berlangsung sekitar 24 jam. Jika beraktivitas lama tanpa makanan, kita perlu menggunakan gudang energi makanan yang lebih sulit diakses di dalam lemak tubuh. Jika Anda menghambur-hamburkan uang tunai di dompet Anda, Anda harus mendapatkan uang tambahan di rekening bank yang lebih sulit diakses. Tubuh yang sehat ada dalam keseimbangan antara mengunyah dan berpuasa. Kadang-kadang kita menyimpan energi makanan (sedang makan) dan kadang-kadang kita membakarnya (lagi berpuasa).

Sulit untuk membakar lemak tubuh, karena secara alami kita kewalahan untuk mendapatkan kanalnya. Ketika insulin menjulang, tubuh Anda ingin menyimpan energi makanan, bukan untuk membakarnya. Insulin memblokir pembakaran lemak. Insulin kekuatan banter memberi tahu kita untuk menjelalkan lemak ke tubuh kita. Ketika si insulin sekarat, ia memberitahu kita untuk menyedot lemak dari badan kita. Jika Anda ingin menurunkan berat badan, Anda perlu melakukan dua hal.

  1. Ketika membuat deposito, buatlah simpanan yang lebih kecil (makan makanan insulin yang lebih rendah). Ini adalah pertanyaan tentang ‘apa yang harus dimakan’. Karbohidrat olahan dan gula cenderung menyebabkan tingkat insulin tertinggi. Karena itu, babat habis (kalo bisa) konsumsi makanan tersebut, atau setidaknya dikurangi.
  2. Anda ingin menarik lemak dari tubuh semaksimal mungkin. Ini adalah pertanyaan tentang ‘kapan harus makan’. Jika Anda menghabiskan lebih banyak waktu dalam keadaan berpuasa, maka Anda akan membakar lebih banyak energi makanan yang disimpan.

Semua penurunan berat badan mencakup dua hal ini:

  1. Apa yang harus dimakan, dan
  2. Kapan harus makan.

Padahal, selama ini kita terobsesi dengan pertanyaan pertama, dan nyaris saja cuek-bebek dengan pertanyaan kedua.

Sumber Gambar

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah lebih baik makan 6 kali sehari, atau satu kali sehari? Jika Anda makan 6 kali sehari, Anda mengatakan kepada tubuh Anda untuk menimbun lemak 6 kali sehari. Itu sepertinya resep untuk patah hati. Kombinasi ajaib dari makan hidangan dengan insulin rendah—hampir semua makanan alami yang tidak diolah—, dan puasa intermiten (ingat bahwa puasa adalah bagian dari kehidupan sehari-hari) adalah metode terbaik, cara paling sederhana dari meramping jangka panjang.

Insulin adalah salah satu pengatur hormon utama dari berat badan. Obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, bukan kalori yang tidak proporsional. Secara sederhana, insulin menyebabkan obesitas, jadi memangkas insulin adalah batu loncatan utama untuk menebas lemak tubuh. Fokus yang berbahaya pada kalori, tidak membidik pada sasarannya, yaitu si hormon yang nggak harmonis. Oleh karena itu, kita memang kudu membuat hormon kembali selaras.