Ingin Ramping? Baca Tentang Puasa dengan Lemak

Sumber Gambar

Halo, Gaes. Kali ini saya akan menyuguhkan artikel praktikal  terfavorit. Kita akan membaca penuturan Megan Ramos mengenai puasa berbasis lemak. Dengan diet ini, hasilnya  membikin saya membelalakkan bola mata, plus prosesnya juga nggak menyiksa, pokoknya enak dan syedap. Saya telah mengujinya, jadi sudah ada bukti empiris mengenai hal ini. Cekidot.

By: Megan Ramos (What is fat fasting and when should you do it?)

Apa, sih, puasa lemak itu? Dan kapan Anda kudu menggarapnya? Adalah metode  yang spektakuler untuk start dengan puasa rutin, dan untuk mengendalikan kembali nafsu melahap setelah mempunyai kebiasaan makan karbohidrat yang melembak a.k.a luar biasa banyaknya, dan tak terbendung kuantitasnya.

Kami mulai menerapkan puasa-lemak di Program IDM beberapa tahun yang lalu, ketika saya melihat seorang pasien yang bergulat kala merintis puasa.

Sumber Gambar

Dia adalah seorang pasien pria paruh baya, yang melakukan kerja shift malam di sebuah pabrik yang pepak dengan donat dan keripik kentang. Kami telah menyarankan untuk berpuasa selama tujuh hari karena dia mulai menjereng banyak komplikasi yang bergandengan dengan diabetes tipe 2. Dia juga menyuntikkan lebih dari 200 unit insulin per hari dan gula darahnya di luar kendali.

Setelah beberapa kali gagal total menggagas puasa tujuh hari, pasien masuk ke kantor saya dan menangis. Penglihatannya nyaris lenyap. Dia berceloteh merasa sangat lapar sepanjang waktu sehingga dia tidak bisa berpuasa selama lebih dari dua jam saat dia terjaga. Dia merasa bahwa program kami adalah harapan ragilnya dan, wajar saja jika ia putus asa, karena titik terang satu-satunya mungkin akan kandas.

Saya belum pernah bertarung dengan pasien yang berjuang sangat forte dengan diet-puasa-rendah-karbohidrat, pola makan yang hanya mengandalkan lemak-sehat. Jelas bagi saya bahwa dia tidak bisa melakukan keduanya dan akan lebih mudah baginya untuk tidak makan daripada bersantap dengan cara yang divergen, plus, dia adalah ‘maniak’ karbohidrat yang parah. Jika saya ingin mengusir diabetesnya, saya mesti membuatnya sanggup berpuasa, SEGERA! Tapi bagaimana saya akan mengemban ini?

Sumber Gambar

Saya mengkhayalkan bacon. Bacon dan telur. Kombinasi yang didambakan dan selalu serasi dan tak lekang oleh waktu. Tanpa berpikir dobel atau tripel, saya bertanya apakah dia mau mengubah metode makannya hanya dengan mengonsumsi bacon dan telur selama dua minggu ke depan?

Dia mengerling ke arah saya, seolah-olah saya berasal dari Mars karena saya menginstruksikan mengudap semua kolesterol gila itu, makanan yang selama ini selalu disuruh untuk dijauhi, dan menendangnya sejauh mungkin.

Sumber Gambar

Dia bertanya apakah dia harus memakan sesuatu yang lain supaya semuanya menjadi seimbang, dan saya mengatakan kepadanya, “Alpukat dan minyak zaitun juga bisa, kok.”

Secepat cahaya, roman wajahnya jungkir balik dari menangis bertukar menjadi tertawa terbahak-bahak. Saran yang disodorkan di klinik ini, dia disuruh melahap bacon, telur, zaitun, dan alpukat sepuasnya, sesuka hati. Nasihat diet macam apa ini? Karena dia menyukai jamuan itu, dan saya hanya mengharapnya untuk menggarapnya selama dua minggu, dia setuju.

Apa yang terjadi ketika saya melongok dua minggu kemudian? Dia telah berpuasa selama empat hari, dan suasana hatinya terasa ultra hepi, serta insulinnya telah menjadi cetek lebih dari 50%. Dia menjelma menjadi pria anyar dan penuh intensi untuk pertama kalinya, setelah sekian lamanya dia merasa hidup di kerak-kerak sengsara.

  1. Sumber Gambar

    Ia memerinci bahwa dia makan cukup melimpah di setiap jam, di hari pertama ketika dia memulai puasa, tetapi pada hari ketiga dia hampir tidak mengecap lapar sama sekali. Dia secara alami mulai makan semakin sedikit sampai pada titik di mana dia tidak ingin mencaplok sama sekali, dan kemudian dia mulai saum. Itu adalah penetapan tonggak di mana lemak puasa lahir!

Kapan menerapkan puasa lemak?
Puasa Lemak dapat menjadi alat yang berguna untuk menggebrak kondisi statis karena kecanduan makan, awal yang ajib untuk memulai puasa, atau ketika Anda ingin kembali ke jalur semula. Idenya adalah untuk makan banyak santapan berlemak hingga kenyang selama beberapa hari di minggu wahid Anda berpuasa.

Dengan membiasakannya akan menumpu tubuh Anda menyabet mode pembakaran lemak lebih cepat dan tanpa banyak efek samping negatif, seperti sakit kepala dan rasa lapar. Jika Anda ingin berhenti dari periode mengunyah diet tinggi karbohidrat, pakailah metode ini. Kalo nafsu memamah Anda super ekstrem atau karbohidrat adiksi. Ketika Anda mengalami periode stres ketika puasa tampaknya mustahil.

Sumber Gambar

Cara Puasa Lemak:

1. Makan saat lapar hingga kenyang sesering yang dinginkan.

2. Tidak ada susu atau kacang selama puasa lemak.

3. Anda dapat memasukkan 3 sendok makan krim untuk teh atau kopi Anda.

 Makanan:

  • Telur
  • Daging asap
  • Ikan salmon
  • Sarden
  • Minyak zaitun, minyak kelapa, minyak MCT, minyak alpukat, minyak kacang macadamia.
  • Mentega
  • Ghee
  • Mayo (basis minyak sehat)
  • Alpukat
  • Minyak Zaitun
  • Bumbu segar
  • Sayuran hijau yang dimasak atau dilapisi lemak

Anda juga dapat mengonsumsi cairan ini kapan saja selama puasa lemak:

  • Kaldu tulang
  • Teh/ kopi

Mengapa ini berhasil?

Ada dua alasan mengapa lemak cepat bermanuver dengan tokcer:

  1. Ini adalah versi ekstrem dari diet ketogenik dan monoton dari sajian terbatas menekan selera melahap.
  2. Sebagian besar pangan yang tercantum di atas terlampau berlemak, dan lemak betul-betul mengenyangkan.
  3. Kita memamah kuantitas lebih sedikit saat kita menciduk makanan berlemak.

Pernahkah Anda jatuh cinta dengan sebuah lagu tetapi terlalu sering mendengarnya sehingga Anda tidak lagi ingin mengikutinya? Inilah yang terjadi ketika Anda makan masakan yang sama berulang kali dan direpetisi. Bahkan dalam aktivitas masa lalu saya sebagai penggemar karbohidrat level maha dewa, saya mengunyah pizza segambreng selama dua minggu sehingga saya tidak ingin menyikatnya selama berbulan-bulan sesudahnya.

Ini adalah alasan lain mengapa kami ingin Anda membentengi jumlah hidangan yang terbatas. Anda mungkin memergoki bahwa Anda menelan tanpa henti selama beberapa hari pertama, nggak apa-apa. No problem.

Tangkap suara tubuh Anda dan mengaryakan lemak untuk melawan keinginan Anda untuk makan dan mengidam karbohidrat. Dari waktu ke waktu Anda akan menjaring bahwa Karbohidrat yang selama ini didambakan berkurang jumlahnya, dan Anda akan mulai berpuasa secara natural.

Happy Fat Fasting Everyone!

Epidemi Obesitas (Penyebab Akar Masalahnya)

Sumber Gambar

Kali ini saya akan mengutip ucapan dokter Fung mengapa dia yang seorang ahli ginjal pada akhirnya tertarik mendalami tentang obesitas dan cara untuk meramping. Inilah penjelasannya.

By: Dokter Jason Fung (The Obesity Epidemic – Root Causes)

Saya dibesarkan di Toronto, Kanada pada prelude tahun 1970-an. Diri saya yang lebih yuvenil akan benar-benar terkejut bahwa hari ini, obesitas telah menjadi fenomena global yang mengambung dan tak terhentikan. Pada saat itu, kami bergidik serius pada isu Malthus bahwa populasi dunia akan segera menerobos produksi makanan dunia dan kita nggak akan sanggup lagi menangkis kelaparan massal. Atensi utama lingkungan adalah pendinginan global karena pantulan sinar matahari dari partikel debu di udara yang menyulut fajar Zaman Es baru.

Sumber Gambar

Saya ingin tahu apakah Majalah Time menyangka salah satu dari 51 hal yang harus kita aksikan adalah menjadi penguin. Sebaliknya, sekitar 50 tahun kemudian, kita menjaring diri kita menghadapi masalah yang persis egaliter. Pendinginan global telah lama surut menjadi perhatian serius, tetapi pemanasan global dan mencairnya lapisan es kutub merajai berita. Alih-alih makanan yang nadir secara global dan kelaparan universal, kita menumbuhkan epidemi obesitas, belum pernah terjadi lebih beberapa ratus tahun silam dalam sejarah manusia.

Ada banyak aspek yang lebih galau dari epidemi obesitas ini.

Pertama, apa pangkal penyebabnya? Fakta bahwa epidemi ini bersifat menyebar luas dan relatif baru membangkang cacat genetik yang menjadi geladak pada awalnya? Olahraga sebagai kegiatan rekreasi, adalah hal secuil besar yang bukan merupakan trend pada tahun 1970-an. Orang-orang tidak berkeringat dengan orang tua dalam dekade itu. Menjamurnya pusat kebugaran, klub lari, studio latihan dan segenusnya adalah produk tahun 1980-an.

 

Sumber Gambar

Saya bersabung dan membolak-balik pertanyaan ini selama bertahun-tahun. Orang-orang makan roti putih, es krim, dan kue Oreo pada tahun 1970-an. Pasta dan roti gandum utuh nggak ada tuh, mereka nggak dianggap wajar sebagai jamuan yang layak dimakan oleh orang-orang nyata. Mereka menggarap cara makan dengan metode yang ‘salah’ tetapi jarang ada yang ndut, ingin bukti? Gampang aja, coba lihat, saat Anda menilik foto-foto lama dari tahun 1970-an, nggak ada yang gemuk kan?

Kedua, mengapa kita tidak berdaya untuk menyabot epidemi ini? Tidak ada yang ingin menjelma fertil. Semua ilmuwan, dokter, dan ahli diet terbaik di zaman itu menganjurkan nasihat diet, semuanya tetap bersandar pada ajaran yang ngawur. Selama lebih dari tiga puluh tahun, para dokter telah merekomendasikan diet rendah lemak, yang diperkaya tinggi karbohidrat sebagai terapi asoy untuk kegemukan.

Sumber Gambar

Namun epidemi obesitas telah diakselerasi. Dari 1985 hingga 2011, prevalensi obesitas di Kanada merayap tiga kali lipat, dari 6 persen menjadi 18 persen. Semua bukti yang tersedia mengekspos bahwa orang-orang mencoba memotong kalori mereka, mencangkul-i lemak mereka dan berolahraga lebih bar-bar. Tapi mereka tidak sanggup melebur berat badan. Satu-satunya jawaban yang logis adalah kita tidak menginterpretasi masalahnya.

Makan terlalu banyak lemak dan terlalu membludak kalori bukanlah dilema, jadi menyabit lemak dan kalori bukanlah solusinya. Jadi, semuanya kembali ke interogasi-perdana-yang-esensial itu.

Apa yang membenihkan penambahan berat badan?

Pada 1990-an, saya lulus dari University of Toronto dan University of California, Los Angeles sebagai dokter dan spesialis ginjal. Dan saya harus berkata jujur bahwa saya tidak mengantongi minat sedikit pun untuk menyembuhkan obesitas. Tidak selama sekolah kedokteran, residensi, penataran khusus atau bahkan selama praktik. Tapi bukan saya doang kok. Ini faktual untuk setiap dokter yang praktik di Amerika Utara.

Sekolah kedokteran menginstruksikan kita belajar hal lain, hampir nggak ada nyinggung tentang gizi, dan bahkan kurang tentang tata cara menyembuhkan obesitas. Ada jam dan mata kuliah yang didedikasikan untuk obat-obatan yang tepat dan operasi untuk preskripsi.

Sumber Gambar

Saya mahir dalam aplikasi ratusan obat-obatan. Saya piawai dalam penggunaan dialisis. Saya tahu semua tentang preservasi dan indikasi pembedahan. Pengetahuan saya nol raksasa tentang nutrisi dan bahkan cetek tentang cara menyusutkan berat badan. Hal ini terlepas dari fakta bahwa epidemi obesitas sudah definit, dan epidemi diabetes tipe 2 yang berdiri latah tepat di belakangnya, dengan semua implikasi merusak organ tubuh yang lainnya.
Dokter tidak peduli dengan diet. Berat badan bukan perkara supaya tampak sekseh dalam bikini untuk musim renang di musim panas. Bukan cuma itu, lho.

Melubernya lemak di dalam tubuh bertanggung jawab penuh dalam ekspansi diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik, secara dramatis menumbuhkan risiko serangan jantung, stroke, kanker, penyakit ginjal, kebutaan, amputasi, dan kerusakan saraf, dan komplikasi lainnya.

Ini bukanlah merupakan topik kedokteran perifer yang digandrungi. Obesitas merupakan jantung dari seluruh penyakit, dan saya minim ilmu tentang itu. Saya mulai praktek sebagai spesialis ginjal pada awal tahun 2000, dan saya menemukan bahwa penyulut paling tipikal dari gagal ginjal, sejauh ini, adalah diabetes tipe 2.

Saya mengibaratkan pasien-pasien itu mengasah saya, satu-satunya cara yang membuat saya paham caranya. Awalnya, saya bersandar penuh pada obat-obatan seperti insulin dan prosedur seperti dialisis. Dari pengalaman, saya tahu bahwa insulin akan mengundang kenaikan berat badan.

Sebenarnya, semua orang tahu insulin menyebabkan ekskalasi bobot tubuh. Pasien akan curhat dengan nada prihatin. “Dokter,” kata mereka, “Anda selalu mengujarkan kepada saya untuk itu berat badan harus segera didaratkan. Tapi insulin yang kau berikan padaku membuat berat badanku membengkak, banyak pula. Bagaimana ini bisa membantu?”

Sumber Gambar

Untuk waktu yang lama, saya ngeblank, saya beneran tidak memiliki jawaban yang apik untuk mereka, karena fakta itu tidak berkontributif. Masalahnya adalah pasien saya tidak semakin afiat. Satu-satunya yang bisa saya kerjakan adalah saya hanya memegang tangan mereka saat mereka merosot dan kondisinya menjadi lebih buruk lagi dan lagi.

Saya menggarap semua yang dididik kepada saya, tetapi itu tidak ada gunanya. Sia-sia aja.
Secara bertahap, saya sadar apa biang keroknya. Akar bibit seluruh masalah adalah si obesitas itu sendiri. Obesitas melantarkan sindrom metabolik dan diabetes tipe 2, yang menyebabkan semua problem lainnya. Namun semua yang diajarkan kepada saya, hampir seantero sistem pengobatan modern, dengan farmakope-nya, dengan nanoteknologinya, dengan semua sihir genetika senter secara miopik tidak menembak pada masalah ultra inti.

Tidak ada ada satu ahli pun yang menjampi akar penyebabnya. Jika Anda mengobati penyakit ginjal, pasien masih tersisa dengan obesitas, diabetes tipe 2 dan semua komplikasi lainnya. Ini adalah cara saya, dan nyaris setiap dokter lain dibiasakan untuk praktik kedokteran. Tapi itu tidak berjaya.

Kita perlu menjampi dan membongkar obesitas. Kita mencoba untuk mengobati masalah yang disebabkan oleh obesitas daripada obesitas itu sendiri. Ketika orang-orang pupus berat badan-nya, diabetes tipe 2 mereka juga akan memental arahnya. Mengobati akar penyulut adalah satu-satunya solusi logis.

Jika mobil Anda bocor, resolusinya adalah tidak membeli lebih banyak minyak dan alat pel untuk mengeringkan tumpahan. Solusi yang logis adalah menemukan kebocoran dan menambalnya.

Sumber Gambar

Sebagai profesi medis, kami bersalah karena meneledorkan kebocoran itu. Jika Anda bisa memulihkan obesitas di awal, maka diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik tidak bisa membiak. Anda TIDAK dapat menyuburkan  penyakit ginjal jika Anda tidak menderita diabetes. Anda tidak bisa mengelaborasi kerusakan saraf jika Anda tidak pernah mengidap diabetes.
Terbersit  jelas dalam retrospeksi. Ihwalnya adalah saya tidak tahu cara menerbangkan kegemukan. Meskipun telah bekerja lebih dari dua puluh tahun di bidang kedokteran, saya menjaring bahwa rekognisi gizi saya sendiri belum sempurna.

Hal ini memicu pengembaraan selama satu dekade dan akhirnya menyetir saya untuk memformat program Intensif Dietary Management (IDM) dan Klinik Toronto Metabolik. Ketika berpikir serius tentang remedi obesitas, ada satu teka-teki yang sangat krusuial untuk dipahami. Apa yang menyebabkan interpolasi berat badan? Apa gara-gara prinsipilnya?

Alasan kita tidak pernah mereflesikan pertanyaan penting ini adalah kita sudah berpikir kita tahu jawabannya. Kita berpikir bahwa makan terlalu banyak kalori membuahkan obesitas.
Jika ini benar, maka solusi untuk melingsirkan berat badan itu sederhana. Makan lebih sedikit kalori. Tapi kita sudah menghandel kegembrotan dengan cara itu, tapi hasilnya nihil. Ad nauseam. Sampai pegel dan bosan sendiri.

Selama 50 tahun terakhir, satu-satunya degradasi berat badan yang pernah diberikan adalah memotong kalori dan berolahraga lebih banyak. Ini adalah strategi yang maha tidak efektif yang disebut ‘Eat Less, Move More’. Kita telah menyematkan jumlah kalori ke label makanan. Kita memiliki buku penilai kalori. Kita memiliki aplikasi penghitung kalori. Kita memiliki pembilang kalori pada mesin olahraga kita. Kita telah menggarap segala kemungkinan secara manusiawi untuk mereken kalori sehingga kita dapat memenggalnya.

Sumber Gambar

Apa strategi itu sukses? Apakah pon itu meleleh seperti manusia salju pada bulan Juli? Tidak. Terbetik kemungkinan memang seharusnya itu berhasil. Tetapi bukti empiris, polos seperti tahi lalat di ujung hidung Anda, bahwa itu nggak beraksi sama sekali.

Dari sudut fisiologi manusia, seluruh cerita kalori runtuh seperti rumah kartu. Tubuh nggak mengukur kalori karena tidak menyandang sensor kalori. Tubuh tidak mengindahkan ‘kalori’. Tidak ada reseptor kalori pada tekstur sel. Ia tidak memiliki kualifikasi untuk mengetahui berapa banyak kalori yang Anda telan atau tidak makan.

Jika tubuh Anda tidak mengukur kalori, mengapa Anda harus? Kalori murni adalah satuan energi yang disanggam dari fisika. Bidang penyembuhan obesitas, putus asa untuk menemukan ukuran sederhana energi makanan, mengalpakan fisiologi manusia 100% dan beralih ke fisika. Jadi, kami mendapat pepatah ‘kalori adalah kalori’.

Sumber Gambar

Tetapi itu bukan tanda tanya yang saya ingat, dan tak seorang pun pernah bertanya. Sebaliknya, pertanyaannya adalah ‘Apakah semua kalori dari energi makanan sama-sama membelendung si tubuh?’ Jawabannya tidak gamblang. Seratus kalori salad kangkung tidak sama dengan seratus kalori permen, yang satu membuat badan menjadi gempal, yang lainnya enggak sama sekali. Seratus kalori kacang tidak sama dengan seratus kalori roti putih dan selai, efek menggemukkannya tidak sama dong. Tapi selama 50 tahun terakhir, kita berpura-pura mereka sama-sama membuat  tembam.

Jadi saya mulai dari prolog. Menguraikan permadani busuk model Kalori untuk menjawab persoalan yang sangat  elementer dari penyebab super penting dari kenaikan berat badan adalah alasan saya menulis The Obesity Code.

Sumber Gambar

Sejak itu, dalam program Intensive Dietary Management (www.IDMprogram.com) saya telah merawat ribuan pasien selama 5 tahun terakhir. Saya kadang-kadang bertanya-tanya tentang mengapa konsep sederhana tentang menggunakan diet gratis seperti puasa untuk mengobati penyakit diet berlayar menjadi sebuah hambatan? Ini adalah skema medis tradisional.

Beginilah cara tarif sistem medis modern jika orang bisa menelan diet untuk menyopiri kesehatan dan takdir mereka sendiri. Membalikkan diabetes tipe 2, seperti yang saya teliti dalam The Diabetes Code, benar-benar sangat simpel, dan tidak melibatkan pemanfaatan obat-obatan atau operasi yang mahal. Ah, sekarang saya mengerti mengapa diet tidak berhasil menangkap traksi atau problematika sesungguhnya.

Ketakutan akan Garam

Sumber Gambar

Pada tahun 1982, garam disebut ‘A New Villain’ atau bajingan pendatang baru di sampul majalah TIME. The 1988 publication of the INTERSALT study seemed to seal the deal. Publikasi studi INTERSALT 1988 tampaknya menyegel traktat anyar.

Studi besar-besaran ini melibatkan 52 pusat di 32 negara dan dengan susah payah mengukur asupan garam dan menoloknya dengan tekanan darah. Di seantero populasi, semakin adiluhung konsumsi garam, semakin tinggi tekanan darah. Tampak seperti slam dunk, meski efeknya lumayan kecil.

Penurunan 59% dalam asupan natrium akan diprediksi menerjunkan tekanan darah hanya sekitar 2 mmHG. Jika tensi darah sistolik Anda 140, kemudian Anda sangat membatasi garam, Anda memang bisa menyusutkannya menjadi 138. Namun, tidak ada data yang available, selanjutnya, apakah ini akan diterjemahkan secara internal merupakan serangan jantung dan stroke yang pada akhirnya menjadi minus? Masih tanda tanya besar.

By: Dokter Jason Fung (Salt Scare)

Tetapi berdasarkan penelitian yang bergigi ini, pada tahun 1994, Label-Fakta-Gizi-Wajib menyatakan bahwa orang Amerika seyogianya hanya makan 2.400 mg per hari (sekitar satu sendok teh garam). Namun fakta keras mengatakan bahwa setiap populasi yang sehat di dunia makan garam yang kalibernya jauh di atas rekomendasi itu. Orang sehat makan garam dengan volume besar. Nah, lho. Bertolak belakang bingit, kan?

Eskalasi dramatis dalam kebugaran dan jangka hidup dari 50 tahun terakhir telah terjadi selama periode dimana nyaris semua orang dianggap makan garam dengan takaran terlalu munjung. Kredo kita pada manfaat konsumsi garam yang rendah sebagian besar difondasikan pada informasi yang salah dan masukan mitos.

Sumber Gambar

Asumsi yang mendasari saran penyunatan garam adalah seperti ini, “makan terlalu banter garam merupakan fenomena baru yang disebabkan oleh pengintensifan konsumsi makanan olahan.”

Dahl, misalnya, menyatakan dalam tulisannya bahwa aplikasi garam meluas sebagai bumbu terjadi hingga zaman modern. Data dari arsip militer yang kembali ke perang tahun 1812 menunjukkan bahwa tentara dan mungkin sisa masyarakat Barat makan antara 16 hingga 20 gram garam per hari. Selama perang tahun 1812, tentara mempertahankan konsumsi harian 18 g/ hari meskipun biaya menggemuk.

Tawanan perang Amerika mengeluh pahit, bahwa garam 9 g/ hari membuat makanan menjadi nggak layak dikunyah alias ‘scanty and meager’. Hanya setelah Perang Dunia II, ketika proses membekukan makanan merajalela dan mengoper pengasinan sebagai sarana vital untuk mengawetkan makanan alias udah nggak dipake lagi, orang Amerika menurunkan asupan garam rata-rata mereka menjadi 9 g/ hari dimana ia ajek dan harus tersedia.

Selama periode pra-Perang Dunia II, tidak ada kekhawatiran akan kematian berlebih akibat penyakit jantung, stroke atau penyakit ginjal—hal-hal yang dijejalkan untuk menakut-nakuti kita agar mendepak asupan garam kita.

Sumber Gambar

Sejak awal berdirinya, ada masalah dengan hipotesis bahwa mendongkel garam bisa menyelamatkan nyawa. Kita menendang garam maka kita sehat. Ini salah kaprah. Dahl gagal melihat semua berbagai budaya makan tinggi garam yang tidak menyandang konsekuensi kesehatan yang merugikan.

Para pejuang Samburu, mengkonsumsi hampir dua sendok teh garam per hari bahkan menjilat garam dengan frontal padahal itu ditujukan untuk ternak mereka. Meskipun mengonsumsi garam dengan kadar aduhai, tekanan darah rata-rata hanya 106/72 mmHg dan tidak meningkat seiring menanjaknya usia.

Sumber Gambar

Sebagai perbandingan, sekitar sepertiga dari populasi orang dewasa di Amerika adalah hipertensi dengan represi darah setidaknya 140/90 mmHg atau lebih tinggi. Dan referensi lainnya, di Amerika Serikat, tekanan darah normal kurang dari 120/80 mmHg dan umumnya meningkat seiring dengan usia.

Para penduduk desa Kotyang, Nepal, makan dua sendok teh garam per hari, dan suku Indian Kuna memakan satu setengah sendok teh garam per hari, tanpa hipertensi, jelas bertentangan dengan hipotesis Dahl bahwa diet tinggi garam mencetuskan hipertensi.

Survei terbaru tentang asupan garam global mengekspos bahwa tidak ada wilayah di dunia yang sesuai dengan AHA atau rekomendasi WHO untuk restriksi garam.

Wilayah Asia tengah mengantongi asupan garam tertinggi, diikuti oleh daerah Asia Pasifik yang berpenghasilan tinggi termasuk Jepang dan Singapura. Pola makan orang Jepang terkenal tinggi sodium dengan konsumsi kecap, miso dan sayuran acar yang berlebihan.

Orang Jepang sendiri tampaknya tidak menyandang efek buruk karena mereka memiliki harapan hidup terpanjang di dunia di 83,7 tahun. Singapura adalah yang ketiga dalam intensi hidup di 83,1 tahun. Jika makan garam benar-benar sangat buruk untuk kesehatan, bagaimana mungkin orang-orang yang hidup terpanjang di dunia juga memakan salah satu jamuan paling saltiest di dunia?

 

Kekhawatiran diet rendah garam dimulai pada tahun 1973, ketika analisis menjaring enam penderita di mana tekanan darah rata-rata rendah meskipun diet tinggi garam. Sebagai contoh, Okayuma, mengkonsumsi lebih banyak garam daripada mayoritas warga negara Amerika saat ini (mereka menelan garam hingga 3 1/3 sendok teh per hari), namun rata-rata tekanan darah mereka terendah di dunia

Sumber Gambar

Dalam separo kasus, tekanan darah menurun karena asupan garam membumbung. Sebagai contoh, orang India Utara mengkonsumsi asupan garam rata-rata 2 ½ sendok teh per hari (14 gram) tetapi tekanan darah mereka sih normal-normal aja tuh, yaitu 133/81 mmHg.

Di India Selatan, asupan garam sekitar setengah lebih sedikit dibandingkan India Utara, tetapi tekanan darah secara signifikan lebih tinggi pada 141/88 mmHg. Tetapi masih ada teka-teki tentang studi INTERSALT masif. Analisis lebih lanjut dari data mulai melukiskan refleksi garam yang berbeda secara krusial.
Empat populasi primitif (Yanomamo, Xingu, Papua New Guinean, dan Kenya) telah dimasukkan dalam analisis awal, yang secara vital merangkum asupan sodium lebih rendah daripada bagian dunia lainnya. Mereka menjalani gaya hidup primitif yang berbeda banget dari yang lain, dan yang satu mempertuan asupan natrium 99% lebih rendah daripada yang lain.

Pengisolasian ini memegang generalisasi terbatas ke seluruh dunia dan karena mereka seperti pencilan, memiliki buntut besar terhadap rata-rata. Keempat gugusan primitif ini punya tingkat yang beda syekali dari life-style-modern, lebih dalem dari sekedar diet.

Sumber Gambar

Sebagai contoh, suku Indian Yanomamo di Brasil masih hidup secara tradisional, berburu dan berkongsi seperti yang telah mereka buat berabad-abad yang lalu. Mereka mengamalkan aksi endocannibalism, dimana abu orang yang dicintai dikonsumsi karena mereka percaya itu bisa mentakhlikkan mereka tetap hidup enak dan sejahtera. Tidak ada santapan olahan. Nggak ada obat modern.

Membandingkan suku ini yang tinggal di belantara Amazon versus ‘rakyat’ Amerika modern di hutan New York sungguh tidak adil. Mengisolasi satu elemen dari diet mereka, yaitu natrium, lantas memproklamirkannya sebagai satu-satunya yang bertanggung jawab atas voltase darah tinggi adalah puncak penelitian yang buruk. Itu tidak berbeda dengan menyimpulkan, bahwa, memakai cawat membikin tekanan darah Anda melandai.
Ada dilema lain juga.

Dua populasi (Yanomamo dan Xingu Indians), ketika dipelajari lebih lanjut, menyimpan tidak adanya gen spesifik D/D dari enzim pengubah angiotensin, yang menempatkan populasi ini pada risiko yang sangat rendah dari penyakit jantung dan hipertensi. Dengan demikian, asupan natrium rendah mungkin BUKAN penyumbang kardinal atau bahkan kecil untuk tekanan darah rendah pada kelompok-kelompok ini.

Dalam hal ini, informasi lebih lanjut didapat dengan menghilangkan pencilan ini dari populasi eksperimen  dan melihat apakah hipotesis garam masih berlaku. Ketika empat populasi primitif itu dihilangkan dan empat puluh delapan populasi-masyarakat-barat-modern yang tersisa dalam riset, hasilnya benar-benar berlawanan via temuan asli. Tekanan darah benar-benar menurun saat asupan garam memuncak. Makan lebih sedikit garam nggak sehat, itu genting.

Bukti dari Amerika Serikat juga tidak menyejukkan.

Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) adalah survei skala besar kebiasaan diet Amerika yang diabsahkan secara berkala. Survei pertama mendeteksi bahwa mereka yang makan sedikit garam mati pada tingkat 18% lebih tinggi daripada mereka yang makan paling pol garamnya. Ini adalah hasil yang sangat substansial, dan mengacau.

Sumber Gambar

Survei NHANES kedua menegaskan bahwa diet marhaen garam dikaitkan dengan melambungnya risiko kematian sejumlah15,4% yang mengejutkan. Percobaan lain menjaring risiko serangan jantung merayap hanya karena makan diet rendah garam pada pasien hipertensi yang diobati. Justru para dokter itu telah merekomendasikan diet pandak garam alias garamnya dikit, aje!

Pada tahun 2003, lantaran khawatir, Pusat Pengendalian Penyakit, bagian dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS meminta Institute of Medicine (IOM) untuk membesuk bukti segar yang tersedia yang tidak berfokus pada tekanan darah, tetapi kematian dan penyakit jantung.

Setelah pencarian pleno literatur medis, IOM membuat beberapa kesimpulan superior:
1. Meskipun diet rendah garam dapat melengserkan tekanan darah, “Bukti yang ada, bagaimanapun, tidak memanggul efek positif atau negatif dari menurunkan asupan natrium hingga <2300 mg/ d dalam hal risiko atau kematian kardiovaskular pada populasi tipikal.”
2. Artinya, memapas asupan garam tidak mengurangi risiko serangan jantung atau kematian.

3. Namun, dalam suak jantung atau penyakit serangan jantung, “Komite menyimpulkan bahwa ada bukti yang cukup untuk mengimplikasikan efek negatif dari asupan natrium rendah”.

Astaga!!!
Pasien yang kita rekomendasikan BANGET untuk merampingkan asupan garam mereka dirugikan bukan alang kepalang.

Tapi dogma sulit diubah.

Pedoman Diet 2015 terus menyarankan mengurangi asupan natrium kurang dari 2.300 mg natrium (sekitar satu sendok teh garam) per hari dengan referensi tidak lebih dari 1.500 mg natrium (sekitar dua pertiga satu sendok teh garam) per hari pada hipertensi, kulit hitam, dan orang dewasa separuh baya dan para kaum super sepuh.

Mengapa pembatasan garam riskan?

Garam sangat penting untuk mengayomi volume darah dan tekanan darah, sehingga cukup untuk memastikan bahwa jaringan kita menyerap oksigen, sanggup melanting darah dan menenggak nutrisi.

Garam terdiri dari bagian natrium dan klorida yang kembar.

Sumber Gambar

Ketika kita mengukur elektrolit dalam darah, garam (natrium dan klorida) berada renggang dan jauh dari ion yang paling universal. Sebagai contoh, darah normal akan mengandung natrium pada konsentrasi sekitar 140 mmol/ L, dan klorida pada 100 mmol/ L, dianalogikan dengan potasium pada 4 mmol/ L dan kalsium pada 2,2 mmol/ L.

Tidak heran garam itu maha diinginkan oleh tubuh kita.

Ada spekulasi tentang alasan evolusi mengapa darah kita bertumbuh menjadi seserpih besar garam. Beberapa percaya bahwa kakek-nenek kita berasal dari organisme bersel tunggal di lautan purba Bumi. Ketika kita mengembangkan multiseluleritas dan pindah ke darat, kita perlu menggelandang sebagian lautan bersama kita sebagai ‘air asin’ di dalam pembuluh darah kita, oleh karenanya garam terdiri dari sepenggal besar elektrolit darah.

Garam sangat esensial, bukan penjahat.