Cara Menemukan Soulmate dan Cinta Apa Adanya

Sumber Gambar

Menemukan teman/ pasangan yang biasa kita sebut soulmate, yang mana mencintai kita dengan tulus itu gampang nggak sih? Kenapa ya, PERASAAN gue udah melakukan hal baik, tapi mereka nanggepinnya lain? Gue nggak layak dapet cinta apa ya?

Ahik. Pertanyaan yang ngegemesin, bukan?

Gue akan menjawab pertanyaan nomor wahid. Menemukan pasangan atau teman yang mencintaimu dengan tulus bisa jadi perkara naudzubilah susah—kayak ngebongkar kode bom Bunker Buster–, atau bisa jadi malah segampil menjentikkan jari.

Namun, percayalah, menggantungkan harapan kepada orang lain jauh lebih sulit dibandingkan jika jij berharap pada diri sendiri. Oke, menggantungkannya sih gampang lah ya, tapi, pada saat dia  tidak melakukan hal sesuai yang kita inginkan, hmm. Ini yang menjadi persoalan.

Yang bakal terjadi adalah kamu akan menyalahkan orang lain, uring-uringan kepada keadaan, dan menyalahkan dirimu sendiri pada saat realita tidak sesuai dengan cita-cita. Efek sampingnya adalah kecewa. Memang sih, gue sepakat kecewa temporer itu normal. Kecewa itu bagian dari perasaan manusia. Wajar, Baby. Namun yang jadi persoalan adalah kamu menumpuk rasa kecewa itu dan nggak bisa move on dari rasa kecewa tadi. Nggak bisa nerima, dan nggak sanggup ngiklasin. Jadi terus aja diinget-inget dan diungkit-ungkit.

Itu akan mendepakmu dari rasa bahagia. Dan bagi gue, masalah paling vital dan paling esensi adalah SAAT KAMU MERASA TIDAK BAHAGIA dan pada akhirnya tersentuh depresi. Jadi, sebaiknya bagaimana, ya? Gue akan membahasnya nanti.

Pertanyaan kedua tentang berharap agar dicintai. Semua orang berharap dicintai, disayangi, dikagumi, diperlakukan dengan respek. Tapi, apakah semua orang mau melakukan itu kepadamu?

Gue yakin, nggak. Ada kalanya, kamu niatnya apa, dia menanggapinya apa. Dan akhirnya malah jadi situasi yang nyebelin. Atau dia sudah punya persepsi lain terhadapmu, sehingga apapun yang kamu lakukan adalah salah di matanya. Atau mungkin kamu pernah melakukan kesalahan di masa lalu, jadi dia selalu mengaitkannya dengan jejak langkahmu, jadi, meskipun kamu sudah berubah, tetep aja kamu salah di matanya. Atau kamu mungkin berbeda dalam hal ideologis dengannya, sehingga yang ada adalah selalu memakai sepatu masing-masing, jadi tidak akan menemukan titik temu. Banyak kemungkinan. Dan itu manusiawi sekali.

Tapi, dan ini adalah tapi yang besar, orang lain akan bersikap baik atau “jahat” itu BUKAN URUSANMU. Yang terpenting adalah kamu sudah memberikan cinta, dan bagaimana caramu untuk menghadapi situasi itu?

Misal, kamu merasa telah bersikap baik kepadanya. Kamu  telah berniat untuk membuat situasi menjadi harmonis. Dan kamu telah membuka dirimu agar orang lain dapat berbagi hal baik atau buruk. Namun ternyata, orang lain menanggapinya berbeda. Orang lain malah menganggap kamu reseh, aneh, freak, biang kerok kerusuhan, dan hal-hal beraura negatif yang lain—monggo kasih label. Terus gimana? Nangis seharian? Berbulan-bulan? Think twice deh. Jangan nyakitin diri sendiri ataupun orang lain.

Sumber Gambar

Contoh lainnya, kamu telah memberikan cinta, dan orang itu tidak membalasnya. Apakah ini sebuah masalah? Sebenarnya, menurut pendapat gue: THIS IS NO BIG DEAL AT ALL. Kamu dapat meninggalkannya kok. Sederhana saja, artinya kalian tidak mempunyai gelombang yang sama. Jadi nggak perlu memperkeruh keadaan, bukan? Dan jangan terlalu lebay alias menjadikan ini jadi perkara gigantis gitu. Merasa dirimu korban dan apalah. Berhenti dong, Baby!

Ini berlaku bukan hanya untuk hubungan kekasih, namun juga bisa dengan teman, keluarga dan lain-lain.

Solusinya bagaimana? Seperti yang sudah gue sentil tadi, menjauhlah. Nggak perlu bersikap buruk, atau berlebihan, namun lebih baik menjaga jarak.

Dan untuk orang yang sudah kepalang sentimen, ya udahlah ya, lebih baik nggak usah berkomunikasi. Bukan berarti benci. Karena kebencian akan menggerogoti rasa bahagiamu. Nggak berbicara satu sama lain itu dengan tujuan kamu nggak jadi sumber kemarahannya/ ke-muak-annya. Stop lah ngasih stok hal berbau negatif atau pasokan gosip untuk orang lain. Kasian dirimu dan orang lain juga.

Dan jangan lupa, ngebagi cinta pada orang lain bukan berarti kamu melupakan untuk mencintai diri sendiri. Jika kamu melihat gejala ketidakrespekkan, oh, please, jangan sakiti dirimu. Lebih baik mengambil jarak antara Semarang ke Merauke, Dear.

Dan sekali lagi, ini bukan perkara kamu adalah orang yang durjana sampah dunia, dan dia adalah orang baik—ini berlaku sebaliknya—ini hanyalah masalah kecocokkan aja kok.

Pertanyaan yang bagi gue cukup menohok, apa yang kita cari di dunia ini jika bukan rasa damai dan bahagia?

Jadi, berilah waktu kepada dirimu dan orang tersebut, agar semuanya menjadi harmonis kembali. Bukan berarti kamu mengabaikan masalah, dan lari dari masalah. Kamu hadapi itu, selesaikan itu, buang energi negatifmu, dan silakan memberikan waktu baik untukmu maupun dia.

Cintai dirimu dan orang lain, hasilnya seperti apa, que sera-sera aja.

Ingin Ramping Dan Kurus? Baca Tentang Piramida Makanan Yang Sesat

Sumber Gambar

Beginilah cara kita memahami obesitas di tahun 1950an. Makanan tertentu membuat kita gemuk. Mereka adalah gula dan grup hidangan bertepung. Permen, camilan, dan makanan penutup membuat kita gendut. Begitu pula dengan roti, sereal, dan pasta. Lalu ada juga makanan lain yang tidak menyebabkan obesitas sama sekali. Makan brokoli dan apel tidak membuat kita gemuk, tidak peduli berapa banyak kalori yang kita makan.

Klik di sini untuk bagian Obesitas Hormonal I.

Segalanya mulai berubah di tahun 60an dan 70an. Lemak mulai difitnah sebagai penjahat dan dalang utama penyakit jantung. Perdebatan sengit terjadi antara sisi anti-lemak dan anti-karbohidrat. Masalah majornya adalah jika kita mengurangi porsi lemak, artinya kita harus menambah karbohidrat bahkan jika bisa berpiring-piring nan mumbul. Itu artinya karbohidrat mempunyai dua mata pisau yang tajam yaitu tidak baik untuk kesehatan secara general dan menggemukkan, terjadinya pun dalam waktu yang bersamaan.

Sumber Gambar

Satu-satunya jalan disonansi kognitif ini adalah mengatakan bahwa karbohidrat tidak lagi menggemukkan. Sebaliknya, kalorilah yang membikin kita menjadi gendut.

Tentu saja tidak ada bukti bahwa ini merupakan fakta. Itu hanya berupa asumsi. Ini, tentu saja, cenderung membuat ASS keluar dari U dan ME. Not just an ass, as it turns out, but an obese ass.

The Odious Dietary Guidelines 1977 – Hormonal Obesity II

Perdebatan ini diselesaikan oleh Senator George McGovern pada tahun 1977, bukan oleh para ilmuwan, namun oleh para politisi. Dia memutuskan, setelah beberapa hari bertemu dengan para jurnalis dan ilmuwan, lemak adalah kriminal, dan karbohidrat olahan sama polosnya seperti biarawati di sebuah biara. Dosa yang dikandung gula dibebaskan. Damai sejahtera menyertai kalian, sirup jagung fruktosa tinggi. Jadi, inilah hasilnya dari the odious Dietary Goals. Saran nutrisi dari seorang politisi. Pertanyaan lanjutannya, kita bukan keledai yang tidak sanggup berpikir kan?

By: Dokter Jason Fung

Kenali juga, bahwa ini adalah terobosan penting dari tradisi. Sebelum tahun 1977, tidak ada instansi pemerintah yang memberi tahu kita apa yang harus disantap. Ibu kita memberi tahu kita apa yang harus dimakan dan apa yang terlarang. Jika kita mengalami obesitas, mereka menyuruh kita untuk jangan mengunyah permen dan makanan bertepung (roti, pasta, kentang). Dan hei, coba tebak—biasanya dengan cara itu saja sudah cukup untuk mengendalikan masalah berat badan.

Sekarang Big Brother memiliki rekomendasi spesifik tentang apa yang harus dimakan dan tidak boleh ditelan. Ini diajarkan di semua sekolah negeri. Pamflet diproduksi jor-joran. Ibu kita bahkan tidak sempat memprotes. Rendah lemak. Rendah Lemak Jenuh. Dengan sadar kita telah menambah asupan karbohidrat agar bisa menciutkan persentase lemak. Makanan yang tadinya berefek membuat buncit sekarang dijadikan makanan sehat. Kita tidak boleh mengurangi asupan roti jika ingin melangsing. Kita harus makan lebih banyak roti. Gula? Itu baik-baik saja selama kamu menyantap makanan rendah lemak.

Dengan minimnya bukti ilmiah dan semangat maniak yang kebablasan, karbohidrat yang menggemukkan telah mengubah gandum sehat menjadi tepung tidak sehat.

Transformasi yang sungguh menakjubkan. Apakah ada bukti? Oh, itu tidak penting, Gan. Jaman now  adalah masanya ortodoksi gizi. Segala sesuatu yang berbeda adalah kafir. Jika kamu tidak mengikuti barisan, kamu diejek. Hasilnya adalah piramida-makanan yang termasyur menjadi salah satu pelajaran yang diselipkan di sekolah. Inilah kejayaan kontrafakta. Dasar piramida—makanan yang harus kita makan setiap hari—roti, pasta, nasi dan kentang.

Pesan utamanya adalah semuanya oke-oke saja asalkan rendah lemak. Lemak adalah masalah utama, begitu yang diajarkan kepada kita. Puncak keekstreman kekacauan itu terjadi pada tahun 1995, yaitu dengan adanya proklamasi pamflet “Rencana Makan untuk Orang Amerika: Diet Asosiasi Jantung Amerika.”

“Untuk mengendalikan jumlah dan jenis lemak, asam lemak jenuh dan kolesterol diet yang Anda makan, pilihlah makanan ringan dari kelompok makanan lain seperti … kue rendah lemak, kerupuk rendah lemak … pretzel yang tidak enak, permen keras, permen karet, gula pasir, sirup, madu, selai, jelly, selai jeruk.”

Dengan kata lain—permen, yang rendah lemak adalah makanan ringan yang sehat untuk kita semua. Hore!  Biarkan mereka makan kue! (asalkan rendah lemak – kamu bisa mengonsumsi gula dan tepung sesuai keinginan hatimu). Lalu apa yang terjadi dengan konsumsi makanan kita? Item makanan berlemak tinggi seperti mentega, telur dan daging merah menurun, sementara konsumsi dan biji-bijian dan gula menanjak. Sukses!

Sumber Gambar

Inilah yang diinginkan pemerintah. Diet Amerika berkurang dari konsumsi lemak rata-rata 45% menjadi 35%. Masyarakat menanggapi pedoman diet baru dengan sangat patuh.

 Jika kita melihat konsumsi gula, kita melihat ada peningkatan dari tahun 1820 sampai 1920an. Ini adalah hasil dari melonjaknya ketersediaan gula seiring dengan perkebunan gula yang tersebar di seluruh Amerika Selatan dan Karibia. Hal-hal yang diratakan dari tahun 1920 sampai 1977 atau lebih. Saat itulah persediaan gula kita melimpah ruah.

Tapi ibu kita masih memberitahu jangan memakan terlalu banyak makanan manis atau kita akan menjadi seperti pesumo. Jika dosa gula diusir, konsuminya akan terus meroket sampai dengan tahun 2000.

Cerita tentang gandum juga sangat mirip. Konsumsi gandum telah menurun sampai dengan tahun 1977. Lantas, kita melihat lonjakan tajam dalam konsumsi gandum sampai dengan tahun 2000.

Sekitar waktu yang sama, dokter menasihati pasien untuk berhenti merokok—tingkat merokok turun dari 33% menjadi 25%. Para dokter meminta para pasien untuk memperhatikan tekanan darah mereka. Hipertensi (tekanan darah tinggi) turun 40% dari tahun 1976-1996. Lantas, kami menyuruh orang-orang untuk menonton kolesterol darah mereka. Hiperkolesterolemia (kolesterol darah tinggi) turun 28% pada rentang yang sama.

Beberapa orang mengabaikan peringatan kesehatan masyarakat, tetapi, kami mendengarkan dan mematuhi. Berapa imbalan untuk rasa hormat yang besar terhadap ortodoksi nutrisi saat ini?

 Well, let me show you.

Postingan sebelumnya Hormon Obesitas Bagian 1.

Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Sejarah Hormon Obesitas

Sumber Gambar

Apakah yang menyebabkan kegemukan? Dari postingan sebelumnya, kita sudah menggagalkan teori bahwa kelebihan kalori bukan akar masalahnya. Sekarang, coba kita lebih fokus pada pertanyaan berikutnya, JADI APA SEBENARNYA PENYEBAB OBESITAS atau etiologi gemuk? Kita sudah terobsesi dengan kalori selama 50 tahun dan selalu saja menemui jalan buntu. Agar lingkaran setan ini bisa diputus, kita harus menemukan akar masalah yang paling mendasar. Jadi, apa sih penyebab adipositas itu? Mari kita kembali ke masa silam, dan melihat apa yang dipikirkan tentang obesitas oleh manusia jadul?

Historic Perspective on Obesity – Hormonal Obesity I

William Banting 1796-1878 dianggap telah menulis buku diet pertama. Saat remaja dan awal usia 20-an, berat badanya normal. Tetapi, saat menginjak usia 30-an, 40-an dan 50-an, bobot badannya merayap naik. Tidak banyak, hanya beberapa kilogram per tahun. Tak lama kemudian, ketika berusia 62 dan beratnya 202 pound. Tidak buruk menurut standar modern, tapi menjadi si monyet-chunky untuk standar waktu itu. Jadi, atas saran dokternya, ia mencoba mengurangi porsi makan. Tapi kemudian, dia merasa lelah, lapar dan berat badannya tidak melorot, bergeming di angka yang sama. Lalu, dia mencoba berolahraga lebih banyak. Dia mendayung di atas sungai Thames dan menjadi sangat sehat secara fisik. Namun, dia masih belum bisa menurunkan berat badannya.

Akhirnya, atas saran seorang ahli bedah Prancis, dia memulai diet baru. Dia tidak membatasi kalori, tapi pantang gula dan tepung—yang sekarang kita sebut karbohidrat olahan. Dia menghindari semua roti, susu, bir, permen dan kentang. Poor fellow ini mencintai karbohidrat, sesungguhnya, namun harus bagaimana lagi.

By: Dokter Jason Fung

Singkat cerita, dia pun melangsing dan merasa lebih sehat sehingga ia memutuskan untuk menerbitkan temuannya di “Letter on Corpulence Addressed to the Public”. Pamflet ini dianggap sebagai buku diet modern pertama. Berdasarkan pengalaman pribadi, Banting merasa bahwa kalori TIDAK menyebabkan kenaikan berat badan, tapi karbohidrat olahanlah si biang keroknya.

Sampai dengan 100 tahun berikutnya, gagasan mengenai bahwa gula dan tepung menyebabkan obesitas masih juga terkenal. Sir William Osler—dokter Kanada yang terkenal, disegani, dan cukup berpengaruh, yang juga menulis “Prinsip dan Praktik Pengobatan”— menggambarkan bahwa sebagian besar dokter pada awal tahun 1900-an menganggap bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab utama obesitas. Dalam buku teks terkenalnya, dia menggambarkan pengobatan obesitas dengan makanan yang didominasi daging dan telur dan rendah karbohidrat olahannya. Dalam monograf 1882-nya “Obesitas dan Pengobatannya” Dr. Osler merasa bahwa makanan berlemak sangat penting untuk mengurangi obesitas karena mereka meningkatkan kenyang (perasaan kenyang).

Hal ini kontras dengan demonisasi lemak diet yang modern. Namun, toh kenyataannya, mengurangi lemak dan meningkatkan karbohidrat telah menyuburkan dengan epidemi obesitas. Mungkin Dr. Osler benar. Saran itu cukup standar untuk tahun 1950. Jika kamu meminta nasihat pada zaman itu, bagaimana supaya bisa kurus, mereka tidak akan membicarakan kalori. Kalori sebagai satuan energi sebagian besar tidak diketahui pada saat itu. Mereka akan mengatakan sebaliknya, bahwa makanan manis dan tepung bisa menyebabkan obesitas. Dr. Spock’s pemilik Baby and Child Care atau perawatan bayi, balita, dan batita—sebuah kitab suci cara membesarkan anak tahun 1950-an—menggambarkan bahwa anak kecil bisa menggemuk atau melangsing penyebab mayoritasnya adalah tergantung jumlah makanan penutup dan tepung yang dikonsumsi.

Sumber Gambar

Dr. Passmore dalam British Journal of Nutrition pada tahun 1963 menulis “Setiap wanita tahu bahwa karbohidrat menggemukkan”. Every. Woman. Knows. This was no secret. Everybody knew it.

Gagasan ini telah bertahan berpuluh-puluh tahun silam. Akal sehat dan pengamatan empiris bertugas untuk mengkonfirmasi kebenaran dari masalah ini. Gagasan ini adalah “Anti-Fragile” seperti yang telah dikatakan oleh Nassim Taleb. Dan obesitas bukanlah masalah besar saat itu.

Inilah yang mereka pikirkan: Namun, semuanya mulai berubah di tahun 1950an. Penyakit jantung meningkat. Apakah ini merupakan fakta atau sekedar asumsi, masih diperdebatkan. Gary Taubes berpendapat bahwa ini keliru dalam buku terobosannya “Why We Get Fat”. Namun demikian, orang-orang mulai mencari alasan di balik ‘epidemi hebat’ penyakit jantung ini.

Pelototan mereka segera jatuh pada makanan berlemak. The “Diet-Heart Hipotesis” semenjak mendapatkan daya tarik di tahun 1960-an. Ancel Keys, seorang ‘pakar’ gila yang sangat berpengaruh memainkan peran penting dalam mempopulerkan gagasan ini. Dengan antusiasme yang besar dan sains yang goyah, gerakan demonisasi lemak (makanan yang dikunyah manusia sejak, yah, kita menjadi manusia) ditancapkan. Masalah yang superior, meski saat itu kita tidak melihatnya.

Protein cenderung tetap konstan dalam makanan manusia. Hal ini sebenarnya cukup sulit untuk meningkatkan konsumsi protein menjadi lebih dari 20-30% kalori tanpa menggunakan protein bar/ shake dll. Jadi, jika seseorang membatasi karbohidrat, maka seseorang harus meningkatkan lemak makanan dan sebaliknya.  

Inilah hasilnya: Lemak Rendah = Karbohidrat Tinggi dan Karbohidrat Rendah = Lemak Tinggi. Karena lemak makanan sekarang menjadi penjahat kelas kakap, diet yang direkomendasikan oleh Heart Healthy adalah makanan apa pun asalkan kandungan karbohidratnya tinggi. Karena karbohidrat di belahan bumi barat cenderung disaring dan dihaluskan, kita makan lebih banyak lagi dan lagi, kita mengunyah roti dan pasta rendah lemak dengan gila-gilaan. Lagi pula, kita tidak sudi menukar hamburger dengan kembang kol dan kangkung, tapi, kita dengan senang hati mensubtitusi lemak dengan roti dan sepiring pasta ukuran jumbo.

Melalui debat ilmiah tahun 1950-an dan 1960 (terkadang sangat sengit) mereka mengamuk, sesekali maju lantas mundur. Beberapa pakar percaya bahwa lemak adalah kriminal, sementara ahli yang lain, seperti John Yudkin yakin bahwa karbohidrat olahan adalah biang keroknya.

Bukunya, “Murni, Putih dan Mematikan – Bagaimana Gula Membunuh Kita” adalah hal yang menakutkan, dan pastinya memenangkan penghargaan untuk Judul Buku Terbaik. Vitriol terkadang mencapai tingkat ekstrim. Jean Mayer, PhD dari Harvard pernah menyamakan  mengurangi karbohidrat  dalam diet “artinya setara dengan pembunuhan massal”. Hanya sedikit ekstrem … .

The American Heart Association merasa bahwa diet ini juga mode berbahaya. Umm … Bung … yang bener? Gagasan yang berusia 200 tahun? Ide yang telah bertahan dalam ujian waktu?

Lemak yang dikonsumsi manusia selama bertahun-tahun yang lalu? Itulah yang membunuh kita?

Tidakkah ini hal yang sangat genius, jika lemak diet akan membunuh kita, itu pasti sudah terjadi sebelumnya, katakanlah, 1 juta tahun yang lalu? Diet rendah lemak, tentu saja, sampai titik sekarang, sesungguhnya belum teruji pada manusia. Tak seorang pun dalam sejarah yang pernah memutuskan untuk menurunkan kandungan lemak dari makanan mereka karena alasan kesehatan. Kami tidak tahu apa efeknya. Tentu saja, ini saat dimana kita juga percaya bahwa kita bisa membuat zat yang lebih bergizi untuk bayi daripada ASI. Bahwa kita lebih cerdas dari 20 juta tahun evolusi. Jadi, daripada mengonsumsi lemak alami seperti krim, mentega, dan minyak zaitun, kita beralih ke minyak artifisial murni seperti margarin. Tentu saja, ini ternyata membunuh kita dengan lemak trans tapi itu adalah cerita untuk lain waktu.

Kita pindah dari lemak dan menuju karbohidrat olahan. Jadi siapa yang menang? Kamu sudah tahu jawabannya, dan kita semua semakin buruk karena telah memilih itu.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Cara Menghancurkan Lemak Tubuh

Sumber Gambar

Kamu tahu, model teori obesitas yang jadul dan terbelakang? Di bawah ini gambarnya.

Kesimpulannya, makan banyak disebabkan karena adanya hormon mediasi, dan bukan karena orang itu rakus. Dan fakta lain yang lebih mencengangkan, makan banyak tidak menyebabkan kita menggemuk, dan makan sedikit tidak menyebabkan kita menjadi ramping. Mungkin bisa saja kamu melangsing, tapi dengan mengurangi porsi, kamu akan mengalami diet yoyo, alias bisa sih jadi ramping, tapi tidak permanen. Untuk bukti yang lebih WOW mari kita menilik kasus Sam Feltham.

Smash the Fat – Calories Part XI

Ini didasari karena adanya ambigu antara eksperimen overeating (makan banyak) versi purbakala dan jaman now alias kekinian, Sam Feltham memutuskan untuk melakukan penelitian fantastis dengan objek dirinya sendiri. Dia makan sebanyak 5 ribu kalori/ hari, dengan komposisi rendah karbohidrat, tinggi lemak (LCHF) dengan menu alami (bukan makanan palsu a.k.a olahan) selama 21 hari. Dasar penelitiannya adalah sebuah premis bahwa yang menyebabkan badan kita membulat bukan karena kalori yang berlebihan namun karena konsumsi karbohidrat olahan. Jika premis itu benar, maka ia tidak akan menggemuk meski jumlah kalorinya sangat tinggi (ingat, tingkat karbohidrat berada di level seminimal mungkin, tingginya kalori berasal dari lemak alami). Wunderbar!

By: Dokter Jason Fung

Contoh dietnya bisa dilihat di sini. Total kalori 5.794 per hari dengan makronutrisi terdiri dari karbohidrat 10%, lemak 53%, dan protein 37%. Jika mengikuti kalkulasi perhitungan kalori standar, seharusnya berat badannya menjadi 7,3 kg. Aktualnya, berat badannya hanya naik sebanyak 1,3 kg.

Yang lebih membuat kita terpelanting lagi adalah, ukuran pinggangnya malah mengecil sekitar 3 cm, yang artinya, memang benar berat badannya naik, namun berupa masa otot. Jika kamu perhatikan lebih seksama, kelebihan kalori tidak membuat kita menimbun lemak. Skala simpel kalori-masuk versus kalori-keluar sungguh tidak relevan.

Lantas, ada beberapa orang yang beradu pendapat bahwa Sam memiliki metabolisme yang cepat, tidak peduli apa yang dia makan, dia tidak akan menggemuk. Benarkah seperti itu? Apa yang akan terjadi jika Sam menendang diet LCHF (rendah karbohidrat tinggi lemak)? Apa yang akan terjadi jika Sam mengonsumsi 5.000 kalori tetapi mengikuti standar American Diabetes Association yang mana tinggi akan asupan karbohidrat?

Hasilnya sungguh brilian. Selama 21 hari dengan diet tinggi karbohidrat sebanyak 5.000 kalori. Lebih dari 21 hari, ia makan 5.793 kalori/ hari dengan makanan palsu yang terdiri dari tepung dan gula.

Makronutrisinya terdiri dari:

  1. Karbohidrat sebanyak 64%.
  2. Lemak sebesar 22%.
  3. Protein porsinya 14%.

Menariknya, ini serupa benar dengan apa yang direkomendasikan oleh para ahli gizi kepada kita. Lantas, bagaimana hasilnya? Apakah dengan kalori yang sama ia menggemuk atau meramping? Kamu bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri, berat badannya naik, dan sesuai dengan prediksi formula kalori—naik sebanyak 7.1 kg. Ukuran pinggang melar menjadi 9,25 cm.

Lihatlah gambarnya! Lipatan dagu yang aduhai, Batman. Hanya dalam jangka waktu 21 hari, cowok ganteng ini juga mempunyai love handles alias lipatan pinggang. Inilah yang akan terjadi jika kamu menuruti apa kata badan otoritas obesitas.

Sekarang kamu sudah mendapat gambaran yang sangat jelas, kan? Ada sesuatu yang lebih rumit daripada mengurangi kalori. Dengan jumlah kalori yang sama, satu diet—rendah karbohidrat, tinggi lemak, makanan natural, membuat kita meramping (ukuran pinggang pun mengecil). Di sisi lain, gaya diet standar yang disarankan oleh American Heart Association malah menaikkan berat badan kita sebanyak 15 pound. Jadi, penyebabnya bukan kelebihan kalori dong. Sepakat? Jika kita bersikap cuek pada model CRAP dan kalori, kemudian kita bisa fokus pada pertanyaan yang relevan.

Apa yang menyebabkan badan menggemuk? Apa etiologi obesitas? Pastinya bukan menghitung kalori.

Kita telah mendapatkan realita bahwa tubuh mempunyai setelan tertentu untuk berat badan. Jika kamu mencoba menaikkannya, tubuh akan mengupayakan agar dia kembali melangsing. Jika kamu berusaha menurunkannya, tubuh malah melonjakkan timbangan. Jadi, pertanyaan super pentingnya, apa yang mengontrol pengaturan berat badan?

Satu-satunya cara untuk mengurangi berat badan dengan sukses adalah dengan menurunkan BSW. Tetapi, kita bisa melakukan hal itu jika kita mengerti apa yang mengatur termostat berat badan?

Analoginya begini. Katakanlah kamu mengatur termostrat di rumahmu menjadi 30 celcius, yang mana sangat panas dan bikin uring-uringan. Supaya menjadi sejuk, kamu membeli AC. Memang sih, AC telah mendinginkan ruangan, namun termostatmu menyalakan heater sehingga AC dan heater saling beradu dan berkelahi satu sama lain.

Nah, begitu pula dengan berat badan. Kita mengurangi kalori, namun mengabaikan BSW. Kamu mencoba melangsing, namun tubuhmu mengembalikan lagi berat yang hilang. Kita lapar. Metabolisme mulai dimatikan.

Bukankah jauh lebih mudah jika kita mengatur termostat menjadi 21 celsius—temperatur yang nyaman, dibandingkan melawan tubuh kita sendiri? Alasan mengapa diet sangat sulit karena kita berantem dengan tubuh kita sendiri. Dan inilah tantangan selanjutnya, kita harus mencari tahu, apa yang sebenarnya mengendalikan BSW?