Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Resistensi Insulin

Sumber Gambar

Insulin adalah pendorong utama obesitas. Tapi apa yang mendorong insulin? Dalam beberapa kasus, makanan tertentu mendorong peningkatan insulin. Tetapi, di sini jelas ada beberapa faktor penentu tentang obesitas yang belum kita ketahui. What am I talking about? Pertimbangkan ini. Ada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas sepanjang hidup mereka. Bagi mereka, sangat sulit menurunkan berat badan secara permanen. Di sisi lain, ada juga orang yang baru mengalami kegemukan. Bagi mereka, menurunkan berat badan jauh lebih mudah. Mengapa begitu?

Beberapa teori obesitas yang sudah jadul, tidak memahami efek ini. Evaluasi teori Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRAP), juga dikenal sebagai kalori masuk dikurangi kalori keluar. Menurut teori cacat ini, seharusnya tidak ada perbedaan antara mereka yang telah mengalami obesitas selama 1 bulan dibandingkan mereka yang telah memilikinya selama 1 dekade. Tidak ada perbedaan obesitas baru ataupun obesitas pemain lama.

By: Dokter Jason Fung (Insulin Resistance – Hormonal Obesity VIII)

Tetapi, siapa pun yang pernah berusaha melangsing tahu benar sebuah fakta bahwa semakin lama obesitas maka untuk merampingnya pun semakin sulit. Jadi durasi sangat dominan. Pertimbangkan juga hipotesis karbohidrat-insulin. Menurut teori ini, termin waktu tidak penting. It should make no difference. Selama kamu mengurangi karbohidrat, kamu bisa menjadi ramping. Namun, semua orang yang telah berjuang dengan berat badan mereka mengetahui bahwa durasi berpengaruh banyak. Obesitas yang telah terjadi selama berbulan-bulan akan lebih mudah diturunkan dibandingkan obesitas yang sudah bertahun-tahun. Obesitas masa kecil menunjukkan masalah yang sama. Anak kecil yang mengalami obesitas, akan mengalami kegemukan juga di masa dewasa. Mengapa? Mengapa jauh lebih sulit bagi mereka untuk menurunkan berat badan?

Bahkan anak kecil yang berusia 6 bulan (hanya meminum susu asi, dan tidak sanggup berjalan kaki) juga mengalami epidemi obesitas. Mengapa? Jadi jelas bahwa waktu juga sangat berpengaruh.

Jika kita memang menerima konsep bahwa yang menyebabkan kegemukan adalah insulin, mengapa insulin yang telah berada di level tinggi dalam jangka waktu panjang sulit untuk diturunkan. Ada sesuatu yang jelas hilang di sini. Apakah itu? Resistensi insulin.

Apakah resistensi insulin itu? Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh tubuh. Agar memiliki efek yang diinginkan, ia harus mengikat reseptor di tubuh yang memberi sinyal apa langkah selanjutnya. Dalam contoh ini, insulin bekerja pada reseptor insulin untuk membawa glukosa ke dalam sel. Ini sangat mirip anak kunci dan gembokya. Insulin adalah kuncinya. Ini harus pas ke dalam gembok (reseptor). Pada saat kunci dan gembok disatukan, pintu akan terbuka, dan akan memasukkan glukosa ke dalam sel.

Semua hormon bekerja dengan cara yang sama. Tidak ada yang spesial mengenai insulin dan insulin reseptor. Dalam kasus resistensi insulin, kunci (insulin) tidak lagi pas dengan baik ke pintu (reseptor insulin). Karena kunci dan gembok tidak lagi sebagus semula, oleh karena itu pintu tidak dapat terbuka seluruhnya, sehingga glukosa tidak dapat masuk maksimal. Yang terjadi adalah sel sekarang merasakan bahwa glukosa di sel jumlahnya terlalu sedikit. Sehingga tubuh kita mengidam glukosa. Sel membutuhkan lebih banyak glukosa. Untuk mendapatkan lebih banyak glukosa, tubuh menghasilkan lebih banyak insulin (kunci ekstra). Kunci dan gembok masih kurang pas, tapi karena masih banyak kunci, sel bisa mendapatkan cukup glukosa. Inilah situasi yang disebut resistensi insulin.

Sumber Gambar

Mengapa kita peduli? Karena resistensi insulin menyebabkan tingkat insulin sangat tinggi. Kita harus peduli dengan kadar insulin yang tinggi karena insulin adalah pendorong utama obesitas. Saat kita mengalami obesitas, kita didorong oleh faktor hormonal untuk makan lebih banyak untuk mencapai target berat badan kita. Tidak hanya asupan karbohidrat tinggi yang menyebabkan kadar insulin tinggi, resistensi insulin tinggi juga menyebabkan kadar insulin tinggi. Seperti yang akan segera kita lihat, resistensi insulin inilah yang menyebabkan efek obesitas bergantung pada waktu.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang belum terjawab. Apakah penyebab utama yang menyebabkan resistensi insulin? Apakah masalah dengan kunci (insulin) atau gembok (reseptor insulin). Sangat mudah mengukur insulin dan menjadi sangat jelas apakah insulin merupakan hormon yang sama (baik berasal dari orang obesitas ataupun non obese). Tidak ada perbedaan urutan asam amino atau kualitas terukur lainnya. Karena itu, kita harus menyimpulkan bahwa masalahnya bukan dengan kuncinya (insulin). Masalahnya terletak pada gemboknya (reseptor).

Sumber Gambar

Reseptor insulin tidak merespon dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Ini adalah resistensi insulin. Apa yang menyebabkan resistensi insulin? Untuk mulai mengerjakannya, kita bisa melihat sistem biologis lainnya. Kita dapat menemukan contoh resistensi biologis di banyak tempat dan ini bisa memberi kita petunjuk tentang apa yang menyebabkan resistensi insulin. Meskipun tidak semua contoh mungkin berlaku khusus untuk masalah insulin/ reseptor insulin, namun mungkin akan menjelaskan beberapa masalah dan menunjukkan di mana harus memulai.

Misalnya, di dunia ini ada masalah besar mengenai resistensi antibiotik. Saat kita menggunakan lebih banyak antibiotik, maka akan bertendensi seleksi alami untuk antibiotik menyebabkan si bakteri/ organisme itu cenderung menjadi tahan banting, dan tetap bisa bertahan dan bereproduksi. Oleh karena itu, dengan terus menggunakan antibiotik, cenderung terjadi resistensi antibiotik. Dengan memahami konsep ini, kita bisa melihat bahwa senjata kunci untuk mencegah berkembangnya resistensi antibiotik adalah dengan mengurangi penggunaan antibiotik.

Artinya, penggunaan antibiotik menyebabkan resistensi antibiotik. Di bagian dunia di mana pemakaian antibiotik sangat terbatas, biasanya jarang terjadi resistensi antibiotik. Di belahan dunia di mana antibiotik digunakan secara bebas, ada banyak resistensi antibiotik.  

Sumber Gambar

 Bagaimana dengan virus? Apa yang menyebabkan kita tahan terhadap virus seperti diptheria dan polio misalnya? Sebelum vaksin tersedia secara luas, diketahui adanya virus menyebabkan kamu menjadi resisten terhadap infeksi lanjutan. Sebenarnya, adanya vaksin berawal dari premis ini. Dengan menyuntikan virus yang lemah atau mati, kita bisa membangun kekebalan tubuh tanpa benar-benar menyebabkan penyakit. Artinya, virus menyebabkan resistensi virus. Dan antibiotik menyebabkan resistensi antibiotik. Contoh-contoh ini, tentu saja, tidak berlaku secara langsung terhadap resistensi insulin. Namun, itu mulai memberi kita petunjuk bahwa resistensi sebenarnya dapat dibawa oleh agen itu sendiri. Pertanyaan selanjutnya, bisakah insulin menyebabkan resistensi insulin?

Ingin Kurus dan Ramping? Pahami Bagaimana Insulin Bekerja

Sumber Gambar

Kita telah mereview bagaimana hormon insulin dan kortisol membuat kita menjadi gemuk. Tetapi, apa yang sebenarnya menaikkan hormon insulin? Di manakah letak kegagalan hipotesis-karbohidrat-insulin? Untuk itu, saya rasa akan sangat membantu jika kita meneliti aksi insulin, dan syukurlah, kita telah membicarakannya berulangkali. Hormon insulin dirilis untuk merespons makanan. Makanan tertentu, terutama karbohidrat olahan cenderung meningkatkan kadar insulin lebih tinggi dibandingkan makanan lain. Tetapi, protein juga memicu sekresi insulin. Diet lemak, di sisi lain, bertendensi akan menaikkan gula darah dan kadar insulin.

Saat kita memakan sesuatu, gula darah naik dan melepaskan insulin. Saat kita makan, tubuh akan mengolahnya menjadi tenaga, dan proses pencernaan ini membutuhkan sangat banyak energi. Insulin mengatakan kepada tubuh kita untuk membanjiri glukosa ke aliran darah dan lantas menyimpan sisanya di gudang penyimpanan untuk pemakaian di kemudian hari. Salah satu cara tubuh kita bisa menyimpan gula adalah dengan mengubahnya menjadi glikogen di hati. Tubuh kita mengkonversi glukosa menjadi glikogen dan mengubahnya menjadi glukosa kembali dengan sangat mudah.

Tapi kapasitas hati hanya sedikit. Setelah itu, kelebihan karbohidrat akan diubah menjadi lemak. Lemak lebih sulit diakses tapi suplainya tak terbatas. Akibatnya, insulin adalah salah satu hormon sangat krusial apakah tubuh akan menimbun lemak atau membuangnya.

Tubuh akan mengakumulasi lemak di beberapa area, yaitu:

  1. Subkutan (di bawah kulit)
  2. Lemak visceral (melumuri organ tubuh)

Dan lemak viscerallah yang menjadi biang kerok. Glikogen itu seperti dompetmu. Kamu bisa menyimpan uang dan mengeluarkannya setiap saat. Mudah diakses tapi jumlahnya terbatas. Lemak seperti akun bankmu. Sulit mengaksesnya, tetapi kamu dapat menyimpannya dalam jumlah tak terbatas. Dengan adanya penjelasan seperti ini, pastinya, kita bisa mengetahui mengapa lemak sulit dihilangkan, terutama jika akumulasinya telah terjadi selama bertahun-tahun. Karena aksesnya sulit, kita juga menjadi lebih sulit untuk membakar lemak. Untuk mendapatkan uang di Bank, kamu harus menguras dompet terlebih dulu.

By: Dokter Jason Fung (How Insulin Works – Hormonal Obesity VII)

Kamu hanya bisa mengakses lemak pada saat glikogen habis. Namun, kamu tidak akan menyukai ide dompet kosong bahkan jika simpanan uang di bank banyak. Kamu juga pasti tidak suka jika tangki glikogenmu kosong, meskipun lemak di bank kamu masih mumbul. Proses penyimpanan lemak ini normal sekali. Kita makan. Insulin naik. Insulin menyimpan gula sebagai glikogen di hati. Insulin juga mengaktifkan produksi lemak di hati. Istilah teknisnya adalah lipogenesis hepatic de novo (DNL).

Sumber Gambar

Lemak yang baru disintesis ini memiliki 3 kemungkinan proses, yaitu:

  1. Bisa teroksidasi untuk energi. Karena insulin memberi isyarat bahwa kita sudah memiliki banyak energi, ini tidak akan terjadi.
  2. Hati bisa mengekspor lemak ini ke tempat lain di tubuh. Lemak ini dapat dikirim ke organ lain (pankreas), disimpan sebagai lemak viseral (di sekitar organ) atau subkutan (di bawah kulit).
  3. Lemak bisa disimpan di hati.

Insulin juga bertanggung jawab untuk mematikan konversi glikogen menjadi gula. Secara teknis, insulin menekan glukoneogenesis (produksi glukosa baru di hati). Karena insulin memberitahu tubuh untuk menyimpan gula, kamu ingin mematikan proses pembakaran gula. Masuk akal.

Setelah kamu selesai mencerna makananmu, maka gula darah menurun, begitu pula dengan insulin akan menukik tajam. Ini akan berlaku jika kamu absen dari makan atau puasa. Ini merupakan sinyal bagi tubuhmu untuk melepaskan gula yang disimpan (glikogen di hati) ke dalam aliran darah untuk digunakan oleh otot, otak, dan organ tubuh lainnya. Ini disebut glikogenolisis (pembakaran glikogen) dan terjadi hampir setiap malam (dengan asumsi kamu tidak makan di malam hari). Proses penyimpanan lemak ini sekarang terjadi secara terbalik. Itu normal, karena kita belum makan dan insulin hanya dilepaskan saat makan. Gula yang tersimpan diambil dari hati dan dikirim ke tubuh untuk digunakan sebagai energi. Lemak dibakar untuk melepaskan energi dan dikirim ke tubuh jika gula yang disimpan tidak cukup gula. Jadi inilah yang terjadi setiap hari. Biasanya, ini adalah sistem yang dirancang dengan brilian, yang menjaga prosesnya tetap terkendali.

Makan— menyimpan gula dan lemak.

Tidak makan—membakar gula dan lemak.

Misalkan kita makan 3 kali sehari dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam lantas puasa dari jam 7 sampai jam 7 pagi, kamu dapat melihat bahwa kita telah seimbang 12 jam puasa dengan 12 jam makan. Mesin yang diminyaki dengan baik. Kamu juga dapat dengan mudah melihat, bagaimanapun, bahwa dalam kondisi kelebihan insulin yang terus-menerus, kamu akan cenderung gemuk. Jika kadar insulin selalu tinggi, tubuh kita berperilaku seperti kita selalu makan. Dia akan menyimpan gula dan lemak. Menanggapi tingkat insulin yang tinggi, kita menghidupkan mesin untuk meningkatkan simpanan glikogen. Setelah ini terisi, maka kita mulai memindahkan beberapa kelebihan energi ini ke gudang lemak. Jika terjadi ketidakseimbangan antara periode makan dan puasa, ini akan menyebabkan peningkatan berat badan, peningkatan lemak dan voila—obesitas.

Tapi masalahnya adalah makan tidak menyebabkan tingkat insulin tinggi yang tinggi. Anggap saja kita makan 3 kali sehari tanpa camilan. Misalkan kita makan pagi jam 7 pagi dan makan malam jam 7 malam.  Itu berarti kita sudah seimbang 12 jam makan dengan 12 jam puasa. Periode menjadi seimbang, antara insulin tinggi dan insulin rendah. Meskipun jika insulin memuncak karena banyak memakan karbohidrat olahan, namun tetap saja, fase puasa dan fase makan harus setara. Pada tahun 1950 dan 60an misalnya, orang banyak makan pasta dan roti putih. Kue Oreo dan cokelat Kit Kat juga tetap sama. Asupan gula masih tinggi dan orang tidak minum Diet Coke (minuman 0 kalori).

Jadi orang Amerika banyak makan karbohidrat tetapi tidak mengalami obesitas. Tapi kita selalu lupa bahwa pilihan makanan yang tepat melibatkan dua pertanyaan utama:

  1. Pertanyaan pertama yang kita pikirkan terus—Apa yang Harus Dimakan? Apakah sebaiknya kita makan karbohidrat tinggi, rendah karbohidrat, tinggi lemak, rendah lemak, protein tinggi, protein rendah. Haruskah kita makan gandum, lebih banyak serat, dll.
  2. Pertanyaan yang selalu kita lupakan adalah when to eat Kapan atau kapan kita makan.

Waktu makan juga merupakan faktor yang sangat krusial. Dalam contoh di atas, kita makan 3 kali sehari tanpa camilan. Tapi gaya makan seperti itu sudah semakin jarang. Sekarang, orang lebih memilih makan sering dengan porsi sedikit, misalnya 6 kali sehari. Dalam situasi ini, kita terus-menerus merangsang insulin.

Sumber Gambar

Insulin adalah hormon makan, jadi penyimpanan gula dan mesin penyimpanan lemak kita terangkat. Meskipun makanan yang kita makan tidak memicu insulin terlalu tinggi, tetapi jika insulin telah mengalami resisten, maka insulin akan sangat mudah dirangsang. Tubuh kita akan mengalami ketidakseimbangan, insulin mendominasi, sehingga meskipun hanya makan sedikit, tetapi mudah diubah menjadi lemak. Saya telah memberikan contoh bagaimana membuat fase makan dan fase puasa menjadi harmonis. Satu hal yang harus digarisbawahi bahwa ngemil akan merusak makan malammu. Inilah yang sering dikatakan ibumu. Makan 3 kali sehari, tanpa ngemil.

Tingkat obesitas rendah pada tahun 1950-an dan 1960 sesuai saran pada masa itu, dimana kita disarankan untuk tidak ngemil. Sungguh  bertolak belakang dengan sekarang, yang mana kita bisa makan kapan saja dan di mana saja sesuka hati. Makan di mobil? Tidak masalah. Makan di bioskop? Tidak masalah. Makan di mejamu? Tidak masalah.

Yang kita miliki sekarang adalah 16-18 jam fase makan dan puasa hanya 6-8 jam. Kita disuruh makan sepanjang waktu. Makan 3 kali sehari dengan 3 makanan ringan di antaranya. Lihatlah jadwal khas di sekolah. Makan sarapan. Camilan pertengahan pagi (untuk waktu yang lama antara sarapan dan makan malam). Makan siang. Camilan sehabis sekolah. Makan malam. Snack di antara periode sepak bola. Ngemil pada waktu tidur. Itu adalah kekalahan 7 kali sehari setiap hari. Dengan saran seperti ini, pola diet ini berasosiasi dengan level obesitas yang semakin meningkat.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Testimonial Pasien Diabetes Bernama “S”

Sumber Gambar

Saya menerima surat yang sangat bagus dari Mr. S tentang kesuksesannya dalam menaklukkan diabetes tipe 2. Saya telah mengeditnya sedikit dan menuliskannya kembali di sini dengan seizinnya. Ini dia ceritanya.

Saya bekerja sebagai professional di industri mapan dan dengan tingkat kesejahteraan yang cukup tinggi  sampai dengan akhir 30-an. Saya tinggal di Inggris. Oleh karena itu saya biasanya memeriksakan kesehatan saya (general check up) secara berkala. Gaya hidup saya termasuk jarang bergerak dan tentu saja tidak sempat berolahraga. Saya memanjakan diri saya dengan  sering meminum gula-tidak-natural dalam bentuk minuman bersoda, suplemen, makanan cepat saji, dan berbotol-botol alkohol.

By: Dokter Jason Fung  (Diabetes Success Story I – Mr “S”)

Saya telah sangat terbiasa dengan gaya hidup seperti ini sedari muda. Meskipun hasil medical tidak terlalu mengecewakan, namun berat badan saya selalu menjadi masalah, saya selalu berada di zona kegemukan, dan ini sudah berlangsung selama 7 tahun. Saya sungguh merasa semuanya baik-baik saja, meskipun saya tahu, suatu ketika nanti saya tidak akan sesehat ini lagi. Pada tahun 2013, hasil medical keluar cukup mengejutkan, di dalam sampel urin saya ditemukan glukosa.

Angka glukosa dalam urine menunjukkan jumlah di atas 10mmol/ L (sementara nilai normal adalah 6). Setelah saya melakukan tes darah lebih lanjut, hasilnya adalah 10mmol/ L meskipun HbA1c saya 10,5%  (normal di atas 6%, diabetes lebih dari 6,5%). Tidak ada riwayat diabetes di keluarga saya, dan ini membuat saya sedikit syok. Saya tidak bisa bekerja sampai saya berhasil mengendalikan situasi. Apa yang menyebabkan gula darah saya melonjak? Apa yang mempengaruhi kondisi kesehatan saya?

Sumber Gambar

Saya tahu sekarang dan saya bisa mengendalikan gula saya secara alami tanpa perlu khawatir. Kuncinya adalah memiliki will power, keyakinan mental dan pengetahuan supaya semuanya dapat terkontrol.

Dokter saya meresepkan Metformin tapi saya menolak untuk menggunakannya. Saya tidak mau mengandalkan pada obat dan menjadi ‘korban’ lainnya.

Saya tahu bahwa saya bisa mengalahkan diabetes alami tipe 2. Diabetes tipe 2 terkait dengan pilihan dan gaya hidup. Jika kamu mengerti tentang diabetes, kamu bisa mengenyahkannya. Kurang dari 3 bulan setelah perawatan medis tahunan saya, gula darah puasa saya adalah 4.5mmol / L dan HbA1c saya adalah 6,1% (non-diabetes). Dokter saya sangat terkejut dengan hasilnya, dan mengatakan bahwa tidak mungkin untuk menghilangkan diabetes tanpa obat dalam jangka waktu sesingkat itu.

Tapi buktinya, saya telah berhasil. Mereka mencari alasan lain (apakah ada kemungkinan lain selain diabetes mengapa gula darah saya melonjak). Namun, gula tinggi merupakan tanda ketidakseimbangan metabolik dan ada sesuatu yang perlu diubah.

Orang-orang masih salah paham mengenai diabetes sampai dengan hari ini. Glukosa darah tinggi adalah simptom, bukan penyakit. Menurut Dr Fung, masalahnya adalah terlalu banyak insulin. Sekarang saya menyadari bahwa kadar insulin saya tidak normal karena asupan gula saya sangat tinggi. Jika saya berolahraga dan mempertahankan berat badan yang sehat, saya tidak akan pernah terkena diabetes secepat ini.

Gejala glukosa tinggi merupakan peringatan bahwa insulin saya berlebihan dan pasti akan banyak konsekuensi kesehatan lainnya. Saya mulai memahami bahwa kadar insulin yang tinggi dapat menyebabkan masalah jantung, kanker, dan penyakit lain. Begitu saya mengetahui diagnosisnya, saya langsung menghadapinya.

Saya berolahraga setiap hari setidaknya 30 menit. Saya lebih menekankan olahraga di bagian kaki, karena sebagian besar darah diproduksi di kaki. Saya ingin mendorong sel darah merah segar yang diproduksi setiap 2-3 bulan sekali. Olahraga juga membuat respons sel darah merah yang lebih baik terhadap insulin.

Perubahan yang paling penting adalah diet saya. Saya mulai jarang makan. Kudapan saya juga hanya apel dan plum. Kadang saya kelaparan tapi saya banyak minum air. Saya makan berbagai jenis kacang, dengan kuantitas yang cukup banyak juga. Saya telah menukar kebiasaan sarapan buruk saya. Tadinya saya selalu sarapan bubur oatmeal jumbo dengan bubuk kayu manis, sekarang saya makan blueberry segar.

Untuk makan siang, saya makan tuna, buah zaitun, dan daun salad, tanpa roti. Saya makan ikan salmon/ putih yang dipanggang dengan minyak zaitun extra virgin dan ramuan dan bumbu yang berbeda disertai sayuran segar setiap malam. Saya tidak makan nasi, kentang, pasta, atau roti. Permen telah menjadi musuh saya, dan jika saya mengidam makanan manis saya mensubtitusi dengan buah-buahan dan air. Saya tidak menyentuh alkohol, jus buah, minuman bersoda, minuman energi/ suplemen, dan hanya meminum air putih dan teh herbal.

Saya melakukan ini terus menerus selama 2-3 bulan. Saya memiliki sesuatu untuk dibuktikan kepada dokter yang selalu meragukan dan mengatakan mustahil saya akan sukses. I’ve had the last laugh.

Menghapus gula buatan dari diet adalah hal yang sulit tapi tidak absurd. Indera pengecap saya menjadi lebih sensitif  pasca mengonsumsi makanan alami selama beberapa minggu. Buah mulai terasa lebih manis dari yang pernah saya ingat sehingga hasrat-mengidam-makanan-manis saya lebih terpuaskan. Kacang-kacangan, meski gurih, sudah mulai terasa manis juga bagi saya.

Sebenarnya, rasa yang berbeda mulai muncul dari apapun yang saya makan. Gula pengganti, pengawet, penyedap rasa, dan garam yang disunting secara artifisial menyembunyikan rasa alami yang sangat halus ini sehingga kita telah melupakannya. Itu tidak mudah dan menantang secara mental. Saya kecanduan gula dan sangat sulit menghentikannya. Ini seringkali membuat saya cemas, dan saya mengalami withdrawal symptoms, sehingga saya merasa bad mood, frustasi, dan marah yang mana orang yang saya cintai sering menjadi korban.

Setelah beberapa minggu pertama ini semua mulai mereda, tapi saya harus benar-benar menerapkan ‘cold turkey‘ agar bisa berhasil dan akhirnya hasilnya  sepadan. Syukurlah, keluarga saya mendukung karena hal itu tidak mudah bagi mereka, tapi mereka sangat berperan sehingga saya bia berhasil.

Dua bulan memasuki babak baru untuk saya. Saya menemukan situs, blog, dan video dokter Fung. Saya langsung menghubungi dia dan langsung mendapat balasan. Dia sangat membantu dengan menjawab semua pertanyaan saya, mendukung semua tindakan saya, dan memberikan saran lebih lanjut. Berkat dokter Funglah saya mengerti mengenai insulin dan efek sampingnya.

Sumber Gambar

Ini memuaskan dahaga saya tentang hausnya saya akan ilmu pengetahuan, dan saya telah selesai melakukan banyak riset dan menarik kesimpulan yang akan saya bahas dan diskusikan nanti. Tujuan awal saya adalah makan dengan sehat, memperbaiki organ tubuh saya yang rusak, dan menjaga gula darah pada saat bersamaan.

Saya sekarang penuh energi, kehidupan keluarga kembali menyenangkan dan saya sehat. Sekarang, saya tidak menganggap diri saya sebagai penderita diabetes. Saya dihadapkan pada godaan setiap hari, tapi saya bisa mengatasinya. Ada cara untuk mempertahankan gaya hidup sehat tanpa mengorbankan kesenangan dalam hidup. Tapi hal yang menjijikkan tetap saja terjadi, dokter masih melabeli saya sebagai penderita diabetes, karena saya memiliki episode glukosa darah tinggi yang telah tercatat secara resmi meskipun gula darah saya sekarang normal dan saya menganggap diri saya sehat.

Label ‘Diabetes Tipe Dua yang disembuhkan’ akan lebih sesuai dan merupakan bukti kerja keras dan kepercayaan untuk membuatnya begitu. 100 tahun kemudian mereka akan melihat ke belakang dan melihat betapa salahnya kita karena pekerjaan dan dedikasi profesional seperti Dr Fung dan beberapa orang yang telah mengumpulkan hasil dan cerita yang serupa dengan ini untuk membuktikannya sebaliknya. Sekarang saya bisa menikmati makanan saya, tapi ‘moderasi’.

Saya dulu mengalami obesitas dan kecanduan ‘produksi insulin yang berlebihan’. Sebaliknya, orang lain mungkin lebih cenderung memiliki respons pankreas yang terlalu sensitif. Ini juga menghasilkan kelebihan insulin dan dikombinasikan dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat, dan terciptalah resistensi insulin. Seperti yang telah dikatakan oleh Dr Fung, bahwa respon diet pada diabetes tipe dua maka kita harus sanggup mengontrol/ mengurangi asupan makanan, mengendalikan/ mengurangi respons insulin Anda, mengendalikan/ mengurangi dan menyembuhkan diabetes Anda.

Dari sudut pandang yang sia-sia, saya mendapatkan kembali six pack saya, jadi saya tidak ingin kehilangannya karena saya juga terlihat good looking! Namun, dan PALING PENTING, saya ingin tetap sehat demi keluarga kecil saya. Saya ingin melihat anak-anak saya tumbuh, dan mudah-mudahan melihat anak-anak mereka tumbuh juga.

Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang kasus saya, Anda dipersilahkan untuk bertanya dan saya akan menanggapi karena ini adalah tugas saya untuk berbagi dan tidak menyembunyikan hal ini.

MAU KURUS DAN RAMPING? BACA TENTANG EROR YANG FATAL PADA TEORI EAT LESS MOVE MORE

Sumber Gambar

Jika kamu mendatangi dokter dan meminta resep ampuh untuk meramping, dokter biasanya menyarankan untuk melakukan move-more-eat-less. Betul? Kegagalan yang epic adalah frase yang tiba-tiba tuing-tuing di otak, saking nggak manjurnya resep ini.

Dan tahu tidak apa yang paling menarik? Meskipun tingkat gagalnya sangat mencolok mata—gagal total sekujur tubuhnya—tetapi semua para pemangku jabatan di dunia medis masih saja merekomendasikan this great big bag of suck alias sampah ini. Kita telah mendiskusikan mengenai ini di seri kalori. Sekarang mari kita memeriksa pilar lain dari kegagalan konvensional yaitu OLAHRAGA.

Logika pertama adalah jika memang olahraga merupakan senjata krusial dalam memerangi obesitas, seharusnya, negara-negara yang paling getol berolahraga mempunyai angka langsing dengan skor bagus. Ah, mungkin salah. Untungnya studi tentang ini sudah selesai dilakukan. Kamu pasti nggak bisa nebak negara mana yang ngelakuin olahraga paling banyak. Benar sekali. Negara paling keren sedunia: USA.

Berapakah rata-rata global dalam setahun? Orang Amerika 112 hari pertahun. Mereka mengabdikan diri di gym-centre rata-rata 135 hari, sementara, Belanda yang kejam hanya 93 hari/ tahun. Motivasi utamanya? Menjadi ramping, dong. Lantas bagaimana dengan tingkat obesitas? Senang Anda bertanya. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Andreas Eenfeldt dari www.dietdoctor.com, “Obesitas bukan disebabkan oleh Kurangnya Olahraga”.

Jangan ngimpi punya badan sekece ini kalo cuma ngandelin olahraga tanpa diet

Ratusan juta dolar telah dihabiskan untuk mempelajari teori Eat-Less-Move-More. Sebuah publikasi baru-baru ini dinamakan the HEALTHY study.

Ini diterbitkan dalam New England Journal of Medicine bergengsi di tahun 2010 dan berjudul “Intervensi Berbasis Sekolah untuk Mengurangi Resiko Diabetes”. Mari kita lihat lebih dekat. Penelitian ini melibatkan 42 sekolah dan 4603 siswa kelas 6-8. Setengah dari total siswa menerima intervensi multikomponen. Setengahnya lagi tidak ada yang istimewa. Intervensi itu mencakup apa yang harus dimakan (nutrisi) dan jenis olahraga apa saja yang harus dilakukan.

By: Dokter Jason Fung  (Eat Less, Move More – Exercise Part IV)

Pedoman nutrisi melibatkan jenis intervensi diet yang biasa—makanan rendah kalori dan rendah lemak.

Beberapa tujuan termasuk:

  1. Turunkan kadar lemak makanan rata-rata.
  2. Sajikan minimal 2 porsi buah dan sayuran.
  3. Setidaknya 2 porsi makanan dan biji-bijian berbasis padi—dengan kata lain—menurunkan kalori, menurunkan lemak, dan menambah asupan gandum dan sayuran/ buah.

Sedangkan untuk olahraga meningkatkan durasinya dari mulai moderat sampai dengan sangat lama. Kedengarannya seperti teman dingleberry lama kita – Eat Less, Move More. Tidak terlalu terang-terangan, tapi sama akrabnya dengan selimut tua. 

Sumber Gambar

Karena ratusan juta dolar dihabiskan untuk Inisiatif Kesehatan Wanita dan kita tidak mendapatkan hasil yang kita harapkan, mungkin kita berpikir bahwa menghabiskan ratusan juta dolar lebih banyak untuk strategi gagal yang sama adalah ide bagus. Kebohongan murni dan tidak dipalsukan nampaknya relatif umum di kalangan nutrisi akademis.

Hasil utama dari penelitian SEHAT adalah kombinasi prevalensi siswa dengan kelebihan berat badan dan obesitas pada akhir penelitian. Studi itu sendiri sangat ketat dan dilaksanakan dengan baik. Hal yang terpuji dari studi ini, para peneliti mengamati dan menindaklanjuti sampai 3 tahun. Pada awal penelitian, kedua kelompok memiliki sekitar 50% siswa yang dianggap kelebihan berat badan atau obesitas (persentil BMI> 85).

Lantas apa yang terjadi? Pada akhir tiga tahun, kedua kelompok telah mengurangi persentase tersebut menjadi sekitar 45%. Dengan kata lain—tidak ada manfaat terukur untuk kelompok diet dan latihan ini dibandingkan dengan tidak melakukan sesuatu yang istimewa. Ini hampir tidak berguna. Ingatlah bahwa ini bukan studi pertama yang menunjukkan betapa tidak bergunanya pendekatan ini sebenarnya. Semua penelitian besar menunjukkan pola yang sama. Inilah pertanyaan yang lebih baik. Siapa yang belum mencoba pendekatan Eat Less and Move More dan hasilnya adalah gagal? Fakta bahwa olahraga tidak membantu kamu menjadi ramping tidak berarti olahraga tidak baik untukmu, atau itu tidak boleh dilakukan. Don’t wig out on me.  I am not saying you shouldn’t exercise. Namun, faktanya, olahraga bukan senjata mandraguna untuk melangsing. Ini seperti menyikat gigi. Haruskah kita menyikat gigi? Harus. Tapi, jangan berharap kita akan lebih ramping dengan menggosok gigi. Sama halnya dengan olahraga.

Sumber Gambar

Ini bukan sekadar renungan belaka. Implikasi kesehatannya sangat besar. Pertimbangkan sejumlah besar uang yang dikeluarkan untuk mempromosikan Pendidikan Jasmani di kelas, memperbaiki akses ke fasilitas olahraga, dan memperbaiki taman bermain untuk anak-anak di lingkungan di dalam kota. Sementara masing-masing hal ini bagus, kita seharusnya tidak mengharapkan adanya peningkatan obesitas. Mereka semua didasarkan pada gagasan yang keliru bahwa olahraga itu penting dalam memerangi obesitas.

Apa yang terjadi adalah kita ‘mengalihkan pandangan kita dari bola’. Jika tujuan kita adalah mengurangi obesitas, kita perlu fokus pada apa yang membuat kita gemuk. Ini bukan kurangnya olahraga. Ini adalah diet. Ini adalah Apa yang Kamu Makan, dan seperti yang akan kita lihat di seri berikutnya – ini adalah When You Eat atau kapan kamu makan. Tetapi jika kita menghabiskan semua uang, penelitian, waktu dan energi mental kita, berfokus pada meningkatkan olahraga, kita tidak akan memiliki sumber daya yang tersisa untuk benar-benar melawan obesitas.

Sumber Gambar

Ingat contoh permainan bisbol dan melempar bola. Sementara melempar bola penting, kita seharusnya tidak menghabiskan 50% waktu latihan kita untuk melempar bola karena itu sama sekali tidak penting.

Jika kamu menghabiskan seluruh waktumu untuk berlatih melempar, tidak ada waktu lagi untuk berlatih memukul, menangkis, dan pitching yang jauh lebih jauh, jauh lebih banyak dalam permainan bola bisbol. Misalkan kita sedang menulis ujian akhir yang disebut Obesitas 101. 95% ujian akan didasarkan pada porsi “Diet” dan 5% dari ujian akan menjadi bagian “olahraga”.

Namun, kita malah menghabiskan 50%, 60%, 70% waktu dan energi untuk mempelajari bagian “olahraga”. Isn’t that crazy stupid?

Tidak mengherankan jika kita gagal dalam ujian akhir ini. Kita berpikir bahwa kita dapat belajar lebih banyak lagi, memasukkan lebih banyak sumber ke dalam belajar dan kita akan baik-baik saja. Tapi ternyata kita telah mempelajari bagian yang salah yang disebut “Exercise”. Kami telah gagal untuk memahami bagian paling dasar dari obesitas – Apa yang MENYEBABKAN obesitas (etiologi). Kita perlu memahami The Aetiology of Obesity sebelum kita dapat mengharapkannya untuk menyembuhkannya.

Kita akan meninggalkan topik olahraga dan sekarang fokus lagi pada penyebab obesitas.