Ingin Ramping dan Mengusir Diabetes? Baca tentang apakah Resistensi Insulin Itu Hal Buruk?

Sumber Gambar

Semua orang mengatakan bahwa resistensi insulin itu sesuatu yang bobrok. Situasi yang sangat jelek. Pertanda bahwa tubuh kita sudah aus. Ini adalah akar penyebab diabetes tipe 2 (T2D), dan sindrom metabolik, ya kan? Jadi, jika begitu rombeng, mengapa tubuh kita selalu membikin dia eksis? Ditambah ini adalah reaksi pertama yang dikerjakan oleh si badan. Jangan-jangan, resistensi insulin itu tidak seburuk yang kita pikirkan.

Apa penyebabnya?

Dr. Gary Fettke dari Tasmania menulis sebuah buku—yang bersifat iluminasi—berjudul Inversion dimana dia menggambarkan bagaimana Anda dapat belajar banyak dari melihat sesuatu dari kacamata lain.
Tengkurapkan (lihat terbalik) perspektif Anda, dan lihat bagaimana cakrawala Anda diperluas secara bernas.

Jadi mari kita lihat mengapa kita mengembangkan resistensi insulin. Mengapa itu baik?

Analisis Akar masalah                 

Apa kausa alasan terjadinya resistensi insulin? Beberapa orang mengatakan bahwa peradangan atau stres oksidatif atau radikal bebas menyebabkan resistensi insulin. Itu adalah jawaban cop-out total. Peradangan adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap cedera. Tapi hal pertama apa yang menyebabkan luka? Itulah masalah sebenarnya. Peradangan hanya respon tubuh lantaran luka, apa pun jenis cederanya.

Think about it this way.

Sumber Gambar

Misalkan kita adalah ahli bedah medan perang. Setelah berpuluh-puluh tahun bekerja, kita memutuskan bahwa darah itu buruk. Bagaimanapun, setiap kali kita melihat darah, hal-hal fatal sedang berlangsung. Bila kita tidak melihat darah, hal inferior tidak terjadi. Pasti darah itu berbahaya. Jadi, kita memutuskan bahwa darah adalah apa yang membunuh orang, kita menemukan sebuah mesin untuk menyedot semua darah manusia. Genius! Masalahnya, tentu saja, adalah apa yang menyebabkan pendarahan, bukan darah itu sendiri.

By: Dokter Jason Fung (Insulin Resistance is Good? – T2D 7)

Carilah akar penyebabnya. Pendarahan hanya responnya, bukan penyulutnya. Pendarahan adalah penanda penyakit. Begitu juga radang. Sesuatu menyebabkan perdarahan, respon tubuh yang tidak partikular. Sesuatu mengakibatkan radang, respon si badan yang tidak istimewa. Ditembak menyebabkan pendarahan, luka pisau membikin pendarahan, dan pecahan peluru membuat pendarahan. Itu adalah akar penyebab. You got shot.  You bleed. Tapi masalahnya adalah tembakan, bukan pendarahan. Hal yang sama berlaku untuk peradangan. Apapun yang menyebabkan luka (penyebab utamanya) juga merangsang peradangan (respon nonspesifik terhadap cedera).

Peradangan hanyalah indikator penyakit. Jadi orang mengatakan bahwa penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan neurodegenerative, obesitas dan kanker semua melibatkan peradangan kronis. Tapi peradangannya tidak menyebabkan penyakit, itu hanya penanda saja. Jika peradangan sebenarnya merupakan akar penyebab penyakit jantung, misalnya, maka obat antiinflamasi (prednisone, ibuprofen, NSAID) akan efektif dalam mengurangi penyakit jantung, atau obesitas, atau kanker. But they are not. Kapan pun orang berbicara tentang peradangan sebagai penyebab penyakit, they just bandying around the latest buzzword.

Sumber Gambar

Maksudnya bukan bahwa peradangan (atau perdarahan) tidak berguna sebagai gejala penyakit. Jika darah berhenti, maka perawatan (tourniquet) sangat mungkin efektif. Tapi itu tidak cespleng karena pendarahan mandek. Itu manjur, lantas perdarahan pun mereda (ini adalah penanda untuk efektivitas). Demikian pula dalam peradangan dan diabetes tipe 2, seperti yang saya catat sebelumnya, terapi insulin tidak mengurangi peradangan. Jadi, pemberian insulin adalah salah kaprah. Diabetes yang semakin meraja lela ini merupakan sinyal bahwa pengobatan—dengan terapi insulin—adalah kacau.

Hal yang sama berlaku untuk stres oksidatif (atau radikal bebas). Tell me what is causing the oxidative stress, apa yang menyebabkan stres oksidatif? Itulah sebabnya mengapa terapi antioksidan sangat tidak efektif. Jadi, vitamin C, atau E atau N-acetylcysteine atau terapi antioksidan lainnya tidak pernah bekerja kapan pun mereka diuji dengan ketat. Karena stres oksidatif hanya respon (seperti radang) terhadap apapun proses penyakit yang mendasarinya. Jika seseorang terus-menerus mengatakan bahwa stres oksidatif (atau radikal bebas atau pembengkakan, atau mikrobiom usus buruk) sebagai penyebab penyakit XXX, larilah, jangan berjalan ke arahnya. “Resistensi insulin disebabkan oleh peradangan” seperti “luka tembak yang disebabkan oleh pendarahan”.

Resistensi insulin

Jadi, kembali ke resistensi insulin. Mengapa tubuh mengembungkannya begitu intens (sampai 50% dari populasi Amerika)? Ini tidak bisa mal adaptif. Tubuh kita tidak dirancang untuk gagal, karena kita bertahan selama beberapa milenium sebelum epidemi diabetes modern. Jangan-jangan, sebenarnya resistensi insulin sebenarnya berfungsi sebagai pelindung. Mungkin resistensi insulin ini sebenarnya protektif.

Sumber Gambar

Regulasi sensitivitas insulin adalah bagian dari respon fisiologis normal—ia dapat naik atau turun tergantung pada banyak hal, termasuk hormon lain (misalnya kehamilan) atau ketersediaan nutrisi.

Jadi bagaimana resistensi insulin bisa protektif?

Pertimbangkan ini. Glukosa yang jumlahnya bombastis di dalam darah itu tragedi bagi kita (gula darah menjulang). Jika kadar glukosa adiluhung ini beracun dalam darah, maka ia juga menjadi toksin di tubuh, dong. Bukankah seharusnya kita menyingkirkan kadar sengat glukosa? Kok ini malah hanya mendorongnya dari darah ke jaringan tubuh? Bagaimanapun, insulin sebenarnya tidak sanggup menyingkirkan glukosa. Ini menendang kelebihan glukosa dari darah dan memaksanya masuk ke dalam tubuh. Di suatu tempat di manapun. Mata. Ginjal. Saraf. Jantung.

Bayangkan Anda memiliki terlalu banyak sampah di rumah Anda. Tapi Anda ingin menjaga kursi Anda tetap molek dan rapi, caranya? Anda hanya memindahkan segala barang ke tempat lain. Alih-alih membuang sampah dari rumah, Anda hanya menggesernya. Bukan ide bagus. Untuk glukosa, bukannya menggunting jumlah total glukosa seluruh tubuh, kita hanya mengungsikannya dari darah ke dalam organ tubuh.

Jadi, jika glukosa tinggi ini beracun, maka respons alami jaringan (tubuh) adalah melindungi dirinya sendiri dari beban glukosa yang berlimpah ini.

Sumber Gambar

Misalkan Anda tinggal di jalanan DiabetesVille (setiap rumah adalah sel tubuh). Semua orang ramah dan biasanya membiarkan pintu mereka terbuka (sama seperti sel terbuka terhadap glukosa dalam keadaan sensitif insulin).

Sebuah truk penuh limbah beracun (glukosa) datang ke jalanan. Dan bapak tukang sampah (Insulin) ingin menyapu lendir ini. Jadi, setiap kali melihat pintu terbuka, ia menyekopkan beberapa limbah beracun (glukosa).

Setelah beberapa hari ini, apa yang akan Anda lakukan?

You’d bar your f***ing door, is what you’d do! You’d say,”I don’t want this toxic slime!” Itu resistensi insulin, dear! Anda membangun benteng pertahanan, sehingga, limbah beracun tidak menjebol pintu Anda. Ini bukan hal yang nista, itu hal yang manis. Resistensi insulin mencoba memagari sel dari tingkat toksik glukosa yang dicoba dijejalkan oleh si insulin ke dalam organ. Jadi, resistensi insulin adalah reaksi melawan insulin yang eksesif. Dia adalah sang pelindung.

Sebelum dan Sesudah Puasa Intermittent. Sumber Gambar

Dengan kata lain, seperti yang telah kita tulis sebelumnya, Insulin mengakibatkan resistensi insulin. Tapi penyebab utamanya di sini adalah Insulin, bukan resistensi insulin.

Jaringan (jantung, saraf, ginjal, mata) semua sibuk meningkatkan ketahanan mereka untuk melindungi diri dari Insulin yang mencoba memasukkan beberapa gelas racun ke dalam rumah mereka.

Jadi kita panggil dokter spesialis endokrin. Dr. Endo memutuskan bahwa lendir itu memang beracun, dan harus segera keluar dari jalanan. Ada beberapa pilihan:

  1. Mengurangi produksi glukosa toksik (diet rendah karbohidat) atau
  2. Membakar glukosa toksik (puasa).

Tapi sebaliknya, dia memutuskan bahwa dia akan mempekerjakan lebih banyak abang tukang sampah (insulin) untuk mendorong glukosa toksik ini ke dalam rumah. Paling tidak, Dr. Endo tidak akan bisa melihatnya lagi. Sekarang Dr. Endo bisa berpura-pura melakukan pekerjaan yang brilian.

Look! Jalan-jalannya elok dan bersih. Tapi semua racun glukosa masuk ke rumah (jaringan).

Dan apa yang terjadi seiring berjalannya waktu? Nah, semua jaringan tubuh mulai membusuk. Kami secara tidak sengaja ‘mengatasi’ resistensi insulin pelindung jaringan berkembang. Alih-alih menargetkan insulin, dan mengurangi jumlah total glukosa yang harus kita hadapi, kita semakin meningkatkan cara menyingkirkannya. Jadi, dengan meresepkan banyak insulin untuk pasien, kita tidak membuat hal-hal yang lebih baik, kita membuat mereka lebih buruk.

Warning – Technical talk ahead – feel free to skip ahead.

Biasanya, ada hubungan terbalik antara glukosa darah dan asam lemak bebas (FFA). Dalam keadaan puasa, glukosa rendah dan FFA tinggi. Tubuh membakar lemak untuk energi. Saat Anda makan, insulin naik, glukosa naik dan lipolisis dihambat dan kadar FFA turun. Tapi untuk penderita diabetes tipe 2, kadar insulin tinggi. Glukosa mengangkasa. Tapi karena insulin resisten meluber, FFA juga memuncak.

Jadi, jaringan tubuh sekarang berisiko menerima glukosa dan lemak double bahkan triple, dan lantas, sekarang menyebabkan stres oksidatif dan respons inflamasi. Tapi faktor penghasut di sini, adalah glukosa dan insulin yang berlebihan.

Kelebihan glukosa ke mitokondria membebani rantai transpor elektron dan menghasilkan produksi ATP yang lebay banget, serta Reactive Oxygen Species—semuanya menyebabkan stres oksidatif. Glukosa dimetabolisme melalui jalur anaplerosis yang menghasilkan AcCoA dan MalCoA yang menjadi substrat untuk sintesis asam lemak dan kolesterol. MalCoA menghambat FACoA menghasilkan steatosis, atau produksi dan pengendapan abnormal dari lemak ini.

Baiklah, bicara teknis sudah selesai. Selamat datang kembali. Jadi, di hati, insulin berlebih menghasilkan fatty liver. Kita dapat dengan mudah menunjukkan hal ini pada manusia. Dalam penelitian ini, 16 subjek uji overfed tambahan 1000 kalori camilan manis per hari.

Ini terdiri dari 1 kaleng Pepsi, 30 ml jus buah dan sekantong permen. Lebih dari 3 minggu, hanya ada peningkatan 2% dalam berat total tubuh. Namun, ada peningkatan lemak hati yang tidak proporsional sebesar 27% karena DeNovo Lipogenesis.

Dengan kata lain, insulin mendorong banyak kelebihan glukosa ini ke dalam hati dan berubah menjadi lemak. Beberapa lemak ini dapat diekspor keluar dari hati ke jaringan lain seperti otot dan pankreas yang membuat Anda mempunyai ‘pankreas berlemak’.

Di sel otot, kita mendapatkan timbunan lemak di antara untaian otot. Anda bisa menyebut ‘otot berlemak’ ini. Secara teknis, ini disebut akumulasi lipid intramyocyte.

Banyak yang berpikir hal ini menyebabkan resistensi insulin, namun ini lebih mungkin akibat glukosa dan insulin yang berlebihan. Akumulasi lemak di antara serabut otot (dimana seharusnya tidak ada), pada sapi, disebut lezat. Peternak, tentu saja, tahu persis bagaimana cara mengembangkan marbling pada sapi. Faktor penentu yang paling penting adalah jenis pakan.

Sapi adalah ruminansia, yang berarti bahwa mereka biasanya makan rumput. Tetapi, dengan memberi makan energi tinggi, diet gandum berat, peternak dapat meningkatkan tingkat pertumbuhan sapi sekaligus meningkatkan marbling.

Lihat apakah Anda bisa melihat perbedaan antara daging sapi marbled dan lean beef yang baik. Jika sapi diberi makan rumput, si daging tidak menghasilkan marmer, yang membuat steak harus dibumbui banyak-banyak supaya enak.

Untuk alasan ini, banyak sapi dicekoki jagung supaya mereka bisa mengembangkan marbling yang gemuk. Insulin dan glukosa. No secret. Ia bekerja pada manusia juga. Anda bisa melihat tumpukan lemak yang sama di sel otot jantung dan ini bisa menyebabkan gagal jantung

Sebuah Paradigma Baru

Jadi buku ini memaksa kita untuk melihat diabetes tipe 2 dari perspektif baru. Agen beracun di sini adalah glukosa yang berlebihan, dan konspirator co-nya, insulin.

Memindahkan glukosa toksin dari darah dan memaksanya masuk ke dalam tubuh tidak memiliki manfaat menyembuhkan, seperti yang telah banyak didemonstrasikan oleh beberapa penelitian acak jangka panjang—ACCORD, ADVANCE, VADT, dan ORIGIN. Sebaliknya, resistensi insulin merajalela dengan tepat karena ini melindungi jaringan melawan darah yang mencoba memasukkan semua muatan toksiknya ke dalam sel. Inilah sebabnya mengapa perkembangan resistensi insulin bersifat universal.

Itu hal yang baik, bukan hal yang buruk. Pemberian insulin eksogen untuk mengatasi insulin resisten ini sebenarnya merugikan. Jadi masalahnya sama sekali bukan insulin resisten. Sebagai gantinya, cari akar penyebabnya—kelebihan glukosa dan insulin yang meruah.

Camkan itu, dan diabetes tipe 2 pun hilang. Jadi ada perawatan yang busuk untuk diabetes tipe 2, dan ada yang ciamik. Yang  menurut kita buruk mengatasi resistensi insulin jaringan, justru untuk berperan sebagai benteng untuk jaringan. Ini adalah insulin dan sulfonilurea. Treatment yang tepat menyingkirkan glukosa dari tubuh. Anda dapat melakukan ini dengan mencegahnya masuk ke dalam tubuh terlebih dahulu (makanan rendah karbohidrat tinggi lemak, Acarbose), atau membakarnya (puasa) atau buang air kecil (Inhibitor SGLT-2).

Ini menjelaskan kekuatan kelas pengobatan baru ini dalam hal perlindungan jantung.

Resistensi insulin buruk? Tidak, tidak sama sekali. Ini baik. Resistensi insulin bukanlah akar penyebabnya. Ini adalah reaksi protektif alami terhadap akar penyebab—kadar insulin tinggi. It’s the insulin, stupid!

Apa implikasi praktisnya? Think about it this way.  Jika rumah Anda penuh dengan sampah, Anda bisa melakukan 2 hal. Berhenti memasukkan sampah ke dalam (Diet Tinggi Lemak Rendah Karbohidrat). Atau Anda bisa mulai membuang sampah keluar (puasa). Akan lebih cepat, yaitu stop memakan sampah, dan bakar sampai habis (LCHF + IF) atau diet rendah karbo dan puasa.

Ingin Kurus Dan Menghilangkan Diabetes Tipe 2? Baca Tentang Fenomena Fajar

Sumber Gambar

Melonjaknya gula darah setelah periode puasa seringkali membingungkan untuk orang yang tidak familiar dengan fenomena Fajar.  Mengapa gula darah terangkat jika Anda belum makan semalaman? Efek ini juga terlihat saat puasa, bahkan pada saat puasa durasi panjang. Ada dua efek utama—Efek Somogyi dan Fenomena Fajar.

Efek Somogyi

Efek Somogyi juga disebut hiperglikemia reaktif dan terjadi pada pasien diabetes tipe 2. Gula darah terkadang turun sebagai reaksi terhadap dosis obat malam hari. Gula darah rendah ini berbahaya, dan sebagai gantinya, tubuh mencoba menaikkannya. Karena pasien tertidur, ia tidak merasakan gejala hipoglikemik dari kegoyahan atau getaran atau kebingungan. Pada saat pasien terbangun, gula disungkit tanpa penjelasan yang bagus. Gula darah tinggi terjadi sebagai reaksi terhadap rendah  sebelumnya. Hal ini dapat didiagnosis dengan memeriksa gula darah pada pukul 2 pagi atau 3 pagi. Jika sangat rendah, maka ini adalah diagnostik Efek Somogy.

The Dawn Effect, terkadang juga disebut Fenomena Fajar (Dawn Phenomenon (DP) pertama kali dideskripsikan sekitar 30 tahun yang lalu. Diperkirakan terjadi pada hingga 75% pasien diabetes tipe 2, meskipun tingkat keparahannya sangat bervariasi.

Ini terjadi baik pada mereka yang diobati dengan insulin dan yang tidak. Ritme sirkadian menciptakan Fenomena Fajar ini. Tepat sebelum bangun (sekitar jam 4 pagi), tubuh mengeluarkan kadar hormon pertumbuhan, kortisol, glukagon dan adrenalin yang lebih tinggi. Semuanya  dinamakan  hormon kontra-regulasi. Artinya, mereka melawan gula darah yang menurunkan efek insulin, yang berarti bahwa mereka meningkatkan gula darah. Lonjakan hormon pertumbuhan nokturnal dianggap sebagai penyebab utama Fenomena Fajar.

 Peningkatan hormon sirkadian normal ini mempersiapkan tubuh kita untuk beraktivitas sepanjang hari. Artinya, glukagon memberitahu hati untuk mulai mendorong beberapa glukosa. Adrenalin memberi energi pada tubuh kita. Hormon pertumbuhan terlibat dalam perbaikan dan sintesis protein baru. Kortisol, hormon stres meningkat sebagai penggerak umum.

Lagi pula, kita tidak pernah begitu rileks seperti tidur nyenyak. Jadi hormon ini dengan gently membuat kita siap bangun.

A good ol’ fashioned hormonal kick in the ass, so to speak.

Hormon disekresikan secara pulsatile memuncak pada pagi hari kemudian turun ke tingkat rendah di siang hari. Karena semua hormon ini cenderung meningkatkan gula darah, mungkin kita mengira gula kita akan melewati atap di pagi hari. Untungnya ini nggak kejadian, dong.

Mengapa?
Sekresi insulin juga meningkat di pagi hari untuk melawan counter regulator hormon. Dengan kata lain, insulin ada untuk memastikan gula darah tidak terlalu tinggi. Namun, jika Anda melihat secara dekat pembacaan gula darah, ada sedikit peningkatan pada pagi hari. Jadi, dalam keadaan normal, non-diabetes, gula darah tidak stabil selama 24 jam.

By: Dokter Jason Fung  (The Dawn Phenomenon – T2D 8)

Efek Fajar terjadi pada orang normal.
Hal ini mudah terlewatkan karena besarnya kenaikan sangat kecil—dari 89 sampai 92 mg/ dl. Namun, efek ini ditemukan pada setiap pasien yang diteliti. Jadi, jika Anda tidak mencari Fenomena Fajar, Anda mungkin tidak akan menemukannya.

Think about it this way.
Tubuh Anda memiliki kemampuan untuk menyimpan energi makanan sebagai gula (glikogen) dan lemak. Saat Anda makan, Anda menyimpan energi makanan. Saat Anda tidur (puasa), tubuh Anda perlu melepaskan energi tersimpan ini. Sekitar pukul 4 pagi atau lebih, mengetahui bahwa Anda akan segera terbangun, tubuh Anda mempersiapkan Anda untuk hari yang akan datang.

Hal ini dilakukan dengan meningkatkan hormon counter-regulatory untuk melepaskan gula ke dalam darah. Anda dapat melihat bahwa produksi glukosa turun dalam semalam dan mulai meningkat sekitar jam 4 pagi.Untuk mencegah gula meningkat terlalu banyak, insulin meningkat untuk bertindak sebagai ‘rem’ pada sistem.

Diabetes tipe 2

 Nah, apa yang terjadi dalam situasi dimana Anda memiliki Diabetes tipe 2, atau resistensi insulin yang tinggi? Pertama, penjelasan teknisnya. Sekitar jam 4 pagi, hormon counter resistance dan insulin juga dilepas untuk melawan hal ini. Namun, di Diabetes tipe 2, tubuh memiliki resistensi insulin tinggi, yang berarti bahwa insulin memiliki efek minimal pada penurunan gula darah.

Karena hormon penghitung regulasi (kebanyakan hormon pertumbuhan) masih bekerja, gula darah meningkat tanpa hambatan, dan karena itu jauh lebih tinggi daripada situasi non diabetes normal. Pada keadaan non diabetes (normal), hati seperti balon. Anda makan, insulin naik dan energi makanan disimpan sebagai glikogen di hati. Karena balonnya kempis, gula masuk dengan mudah.

Saat Anda berpuasa, insulin turun dan glikogen diubah kembali menjadi energi untuk menyalakan tubuh. Sekarang, perhatikan situasi Diabetes tipe 2. Selama bertahun-tahun konsumsi berlebihan, hati kita dipenuhi lemak dan gula.

Puasa Intermittent adalah obat mujarab untuk awet muda.  Sumber Gambar

Saat kita makan, insulin naik dan mencoba memasukkan lebih banyak lemak ke dalam hati berlemak. Ini sangat sulit. Ini seperti mencoba membengkakan balon yang sudah sangat gembung. Gula dan lemak tidak akan masuk lagi. Itu resistensi insulin.

Tapi apa yang terjadi saat insulin mulai turun?
Anda memiliki hati berlemak yang sangat besar yang sangat ingin mengempis sendiri (lihat posting terakhir). Begitu insulin turun, gula mengalir keluar dari hati dan masuk ke dalam darah. Hal ini menyebabkan diagnosis klinis Diabetes tipe 2, ketika dokter mampu melihat gula darah tinggi.

Diabetes tipe 2 bisa disembuhkan dengan puasa. Sumber gambar.

Jadi, apa yang mereka lakukan? Mereka meresepkan lebih banyak insulin. Dosis besar yang disuntikkan insulin suntikan ini membuat gula terkunci di dalam hati. Artinya dokter bisa mengucapkan selamat pada pekerjaannya dengan baik. Tapi tidak ada yang benar-benar terlaksana.

Penyebab utama resistensi insulin adalah kenyataan bahwa hati dipenuhi dengan lemak dan gula, seperti 10 pon daging sosis dalam kulit seberat 5 pon. Tidak ada yang dilakukan untuk meringankan situasi ini. Jadi, pasien harus menyuntik diri dari hari ke har. Seiring waktu, mereka membutuhkan dosis yang lebih tinggi dan lebih tinggi. Setahun kemudian, hati itu seperti 15 pon daging sosis yang dimasukkan ke dalam kulit seberat 5 pon.

Dalam the Dawn Phenomenon, tubuh diperintahkan melepaskan beberapa gula yang tersimpan ke dalam aliran darah. Seperti balon yang terlalu banyak, hati mengeluarkan sejumlah gula yang luar biasa untuk menghilangkan beban gula beracun ini. Ini seperti mencoba menahan kentut di dalam. Begitu kita sampai ke kamar mandi, itu adalah ‘Api di Lubang!’.

Ketika hati kita mendapat sinyal ‘go’ untuk melepaskan gula, hal itu terjadi dalam jumlah besar, sangat membutuhkan usaha insulin yang menyedihkan untuk menyimpannya di dalam botol. Itulah the Dawn Phenomenon. Hal yang sama terlihat saat puasa.

Ingat, ada perubahan hormon selama puasa yang meliputi peningkatan hormon pertumbuhan, adrenalin, glukagon dan kortisol. Ini adalah hormon kontra-regulasi yang sama persis seperti yang terlihat di DP. Ini adalah perubahan normal. Saat Anda berpuasa, insulin Anda drop.

Tubuh Anda kemudian mencoba untuk meningkatkan glukosa dalam darah dengan mendorong hati untuk melepaskan beberapa gula dan lemak yang tersimpan. This is natural.

Tetapi bila Anda memiliki Diabetes tipe 2, ada terlalu banyak gula yang dilepaskan dari hati yang muncul dalam darah seperti tamu tak diundang.

Is this a bad thing? No, not at all.

Kita hanya memindahkan gula dari hati ke dalam darah. Banyak dokter menganggapnya buruk, karena mereka hanya memperhatikan gula yang mereka lihat (dalam darah). Mereka tidak peduli dengan gula yang disembunyikan.

Sumber Gambar

Lagi pula, pikirkanlah seperti ini. Jika Anda tidak makan, dari mana gula itu datang? Itu harus datang dari dalam tubuh Anda sendiri. Tidak ada alternatif lain. Anda hanya memindahkan gula dari penyimpanan, keluar ke dalam darah dimana Anda bisa melihatnya. Itu tidak baik atau buruk. Insulin memindahkan gula dari darah ke tempat mereka melihatnya, dan masuk ke jaringan (hati) di mana mereka tidak dapat melakukannya.

Hal ini tidak kalah buruknya, tapi mereka bisa menepuk punggungnya untuk pekerjaan ‘well done’. Hal ini tidak berbeda dengan memindahkan sampah dari dapur di bawah tempat tidur Anda. Baunya sama, tapi Anda tidak bisa melihatnya. Saya menamakan obat-obatan seperti dracebos (insulin, sulfonlyureas)—dokter plasebo untuk dokter.

Mereka adalah obat yang sebenarnya tidak membantu pasien dengan cara apa pun, namun membuat dokter merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri. Anda masih akan mati karena komplikasi diabetes, tapi hei, paling tidak dokter telah menyelamatkan egonya sendiri yang berpura-pura melakukan sesuatu terhadapnya. Sejarah kedokteran adalah sejarah efek plasebo (dan dracebo).

Sumber Gambar

Dalam program IDM, kami biasanya menggunakan obat untuk menjaga gula darah dalam rentang yang masuk akal, namun tidak rendah selama puasa. Insulin menyimpan semua gula di dalam tubuh. Jika kita menghentikan insulin, ada risiko keluar terlalu cepat (seperti balon overinflated yang terlepas sekaligus).

Jadi, kami ingin menggunakan lebih sedikit insulin, tapi cukup untuk memapas gula yang tersimpan dengan kecepatan yang masuk akal. Seorang dokter perlu menyesuaikan obat untuk mengontrol aliran gula dari hati dengan benar.

The Dawn Phenomenon, atau gula darah yang lebih tinggi saat berpuasa tidak berarti Anda melakukan sesuatu yang salah. Ini adalah kejadian normal. Itu berarti Anda memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Beberapa orang memiliki gula darah normal kecuali the Dawn Phenomenon.

Ini masih mengekspos bahwa ada terlalu banyak gula yang dimasukkan ke dalam hati mereka. Mereka perlu terus membakar gula itu. Ini berarti masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum dibersihkan dari diabetes mereka. Pikirkanlah seperti ini. The Dawn Phenomenon hanya memindahkan gula dari gudang tubuh (hati) ke dalam darah. That’s it.

Jika gudang tubuh Anda terisi penuh, Anda akan mengeluarkan sebanyak mungkin gula itu. Dengan sendirinya itu tidak baik atau buruk. Ini hanyalah sebuah penanda bahwa tubuh Anda memiliki terlalu banyak gula. Solution? Sederhana. Entah tidak memasukkan gula ke dalam tubuh (Tinggi Lemak Rendah Karbohidrat)/ LCHF) atau membakarnya (Puasa). Tapi, ada yang super cespleng? LCHF + Puasa Intermittent.

Menghilangkan Satu Gram Lemak Bisa Mengusir Diabetes

Sumber Gambar

Beneran nih, dengan hanya membuang satu gram lemak dari pankreas bisa menjungkirbalikkan diabetes tipe 2? Ya, betul sekali, itu juga yang dibilang Dr. Taylor dari Inggris baru-baru ini. Beliau mendalilkan dalam makalah terbarunya, lho.

Ah, Imposible itu. Kok, bisa?

  1. Sedikit latar belakang. T2D ditandai oleh dua cacat utama. Terjadi resistensi insulin tingkat dewa, terutama di hati. Maksudnya gimana, sih? Bahasa sederhananya begini. Tugas insulin adalah mengolah energi makanan (gula) ke dalam hati untuk disimpan (glikogen). Setelah glikogen penuh, hati mengubah kelebihan karbohidrat menjadi lemak dengan proses DeNovo Lipogenesis (DNL). Jika tempat penyimpanan (hati) kosong, energi makanan masuk dengan mudah. Namun, bila liver Anda lemaknya segraok dan tong penyimpanan dijejali sampai meledak, si insulin akan merasa SANGAT KESULITAN ketika mendorong gula dan lemak ke dalam liver. Esensinya, ini adalah resistensi insulin.

Sumber Gambar

Sepertinya kerja si insulin nggak becus. Tapi sebenarnya, problem krusial dari semua ini adalah hati mereject gula (lihat postingan terakhir) karena sudah penuh. Perlahan-lahan resistensi insulin merayap menyebabkan gula darah menanjak secara bertahap.

Dalam studi Whitehall, sekelompok pasien sehat difollow selama bertahun-tahun. Beberapa dari pasien ini akhirnya didiagnosis menderita diabetes tipe 2. Para periset kemudian kembali dan mengeluarkan sampel darah yang diarsipkan dari pasien ini untuk melihat seperti apa gula darah mereka sebelum diagnosis. Pada awalnya, gula darah hanya melonjak secara gradual, yang mencerminkan resistensi insulin yang meningkat level demi level. Menanggapi gula darah yang semampai ini, tubuh mengeluarkan kadar insulin yang lebih tinggi. Apakah tujuannya? Untuk membawa gula darah turun ke dasar seperti sedia kala.

2. Resistensi insulin sedang ‘diatasi’ dengan kadar insulin yang lebih tinggi. Pada akhirnya, ini adalah proposisi yang merugikan diri sendiri. Karena insulin mendorong lebih banyak gula di hati yang empuk nan berlemak, ini hanya menciptakan lebih banyak resistensi insulin. Insulin menyebabkan resistensi insulin. Tapi, pada gilirannya, resistensi insulin menyebabkan kadar insulin lebih menjulang.

Siklus self-reinforcing klasik a.k.a lingkaran setan. Tapi sesuatu terjadi sekitar 2 tahun sebelum diagnosis diabetes tipe 2. Jumlah insulin turun dari tingkat yang sangat banter. Sementara kadar keseluruhannya masih adiluhung, tidak cukup tinggi untuk membasmi resistensi insulin dan glukosa darah mulai meningkat.

Sumber Gambar

Quickly. Tak lama kemudian, gula darah levelnya sudah di atas batas normal, hal yang sudah cukup untuk membuat diagnosis klinis diabetes tipe 2. Ini kadang disebut ‘kegagalan sel beta’. Sel beta di pankreas biasanya memproduksi insulin. Coba Anda bayangkan, bahwa mereka ‘terbakar’ karena harus mensekresikan begitu banyak insulin dalam durasi cukup lama untuk mengatasi resistensi insulin. Dengan demikian, mereka mengatakan bahwa diabetes tipe 2 adalah penyakit kronis dan progresif dengan sel beta yang secara berangsur-angsur terbakar sehingga menyebabkan penyakit memburuk dari waktu ke waktu.

By: Dokter Jason Fung  (Losing a single gram of fat can reverse diabetes? – T2D 9)

Tapi ada kemungkinan lain.
Dr. R. Taylor dari Newcastle, mengemukakan, dalam hipotesis siklus kembarnya, bahwa sel beta tidak benar-benar terbakar habis. Sebaliknya, mereka hanya tersumbat dengan lemak. Pankreas berlemak so to speak.

Resistensi insulin yang terlihat pada fase pertama adalah karena hati berlemak. Lemak di hati dapat diekspor ke organ lain dan beberapa di antaranya ‘ditiupkan’ ke pankreas. Pankreas berlemak ini menyebabkan disfungsi sel beta, bukan gagal.

Hal ini didukung oleh studi COUNTERPOINT yang menggunakan diet kalori sangat rendah (600 kalori/ hari) selama 8 minggu. Sel beta pulih perlahan seiring dengan penurunan lemak pankreas.

Sumber Gambar

Ini membuktikan bahwa sel-sel tidak terbakar habis seperti yang selalu disugestikan. Sebagai gantinya, mereka hanya tersumbat, dan perlu dibersihkan dengan baik.

This was a great start.

Tetapi asosiasi belaka tidak cukup untuk membuktikan sebab-akibat. Apakah degradasi lemak pankreas itu simpelnya hanya karena berat badan yang merosot secara keseluruhan? Jadi Dr. Taylor melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui peran lemak pankreas. Ia memilih pasien yang menjalani operasi bariatric karena pasien meramping dengan konsisten. Dia membagi mereka menjadi dua kelompok – satu dengan diabetes tipe 2 dan satu tanpa (NGT atau toleransi glukosa normal). Kedua kelompok diimbangi dengan usia (49) dan berat badan (120kg). Penurunan berat badan pasca operasi juga serupa pada kedua kelompok (13kg penurunan berat badan setelah 8 minggu). Glukosa darah puasa pada kelompok diabetes tipe 2 turun dari 9,4 mmol/ L menjadi 6,4 dan A1C turun dari 7,6% menjadi 6,2%. Terlepas dari kenyataan bahwa pasien ini masih di atas 100 kg, mereka telah menunggingkan diabetes tipe 2 mereka.

Berhasil Mengusir Fatty Liver

Karena kelompok NGT tidak menderita diabetes, gula darah puasa menurun sedikit saja. Insulin puasa melandai pada kedua kelompok, meskipun, mencerminkan peningkatan resistensi insulin. Ini semua seperti yang diharapkan. Sekarang, ini menjadi lebih menarik ketika Dr. Taylor mengukur lemak intra-organ dengan menggunakan teknologi MRI yang canggih.

Apa perbedaan 2 orang dengan usia dan berat badan yang sama, tapi satu memiliki diabetes tipe 2 sementara yang lainnya tidak. Mengapa hal itu terjadi?

Hal ini jelas bukan hanya karena si berat badan. Perbedaan vitalnya adalah jumlah lemak di hati dan pankreas. Pasien diabetes tipe 2 memiliki kadar lemak pankreas yang jauh lebih tinggi.

Keadaan ini unik karena diabetes tipe 2 tidak ditemukan pada penderita obesitas non diabetes. Sebelum operasi, respon insulin fase pertama juga jauh lebih rendah. Artinya, pankreas tersumbat dengan lemak dan karena itu, tidak mampu mengeluarkan cukup insulin.
8 minggu setelah operasi bariatrik, lemak pankreas pada pasien diabetes tipe 2 sama dengan NGT. Respon insulin juga telah dinormalisasi. Dengan kata lain, sel beta tidak gagal sama sekali.

Itu adalah kondisi reversibel. Secara klinis, diabetes tipe 2 ditendang.

Kelompok non diabetes memiliki kadar lemak normal di pankreas sebelum dan sesudah operasi. Fitur pembeda major antara kedua kelompok pasien yang sama beratnya adalah ada tidaknya pankreas berlemak.

Ini mungkin menjawab pertanyaan mengapa seseorang mendapat diabetes tipe 2 dan yang lainnya tidak. Pankreas gendut penuh lemak. Apa yang terjadi dengan lemak hati?

Kelompok diabetes tipe 2 pada awalnya memiliki tingkat lemak hati yang jauh lebih tinggi. Setelah 8 minggu pasca operasi, telah menurun ke tingkat kelompok pra-operasi NGT. Resistensi insulin dinormalkan dan secara klinis, diabetes tipe 2 juga mengalami remisi. Jadi apa perbedaan antara 2 orang yang sama gemuk, tapi yang satu punya diabetes tipe 2 dan yang lainnya tidak?

Ini semua tentang hati berlemak yang menyebabkan resistensi insulin, dan pankreas berlemak yang menyebabkan disfungsi sel beta. Ini bukan hanya tentang berat total. Ada 2 masalah dalam diabetes tipe 2—resistensi insulin dan disfungsi sel beta.

Dalam pemahaman standar diabetes tipe 2, keduanya adalah dua proses patofisiologis yang berbeda, yaitu:
1. Pertama, Anda mengalami resistensi insulin. Hal ini menyebabkan sekresi insulin sehingga menyebabkan kelelahan sel beta. Secara lebih simpleks, kondisi ini, sebenarnya, memiliki dua sebab yang terpisah dan berbeda.
2. Dan ini semua bisa terjadi dalam beberapa tahun.

Lelaki ini, mengenyahkan Diabetes dan Fatty Liver Dengan Puasa

Pertanyaan pentingnya, sejak kapan sekresi hormon menyebabkan kelelahan organ?

a. Apakah hiper sekresi hormon tiroid menyebabkan kelelahan tiroid? Tidak.

b. Apakah sekresi kortisol yang lebay menyebabkan kelelahan adrenal? Nggak.

c. Apakah terlalu banyak olahraga menyebabkan kelelahan otot? Nope.

d. Apakah over thinking menyebabkan kelelahan otak? Ya ENGGAKLAH.

Faktanya, over stimulasi lebih sering menyebabkan hipertrofi, bukan atrofi. Artinya, olahraga yang meningkat menyebabkan pertumbuhan organ tubuh, bukan fibrosis. Bahkan jika ada “kelelahan”, proses ini seringkali membutuhkan beberapa dekade.

Hipotesis siklus kembar lebih masuk akal. Ini berarti bahwa tidak ada dua proses terpisah yang menghasilkan diabetes tipe 2. Hanya ada 1 masalah—akumulasi lemak intra-organ berlebihan (karena hiperinsulinemia).

Seperti yang ditunjukkan Dr. Taylor, begitu Anda menyingkirkan lemak intra-organ, resistensi insulin dan kegagalan sel beta hilang. Dalam hal ini, pengangkatan satu gram lemak dari pankreas dapat membalikkan diabetes tipe 2!

Melihat diabetes tipe 2 dari sudut pandang ini juga membersihkan paradoks lain. Insulin adalah hormon penyimpan energi. Jadi dua efeknya adalah mengurangi produksi glukosa hati (HGP) dan untuk meningkatkan penyimpanan lemak melalui DeNovo Lipogenesis (DNL). Jadi beberapa peneliti telah menyebut paradoks di diabetes tipe 2 bahwa hati adalah resistan terhadap insulin karena tidak mematikan HGP, pada saat bersamaan insulin sensitif karena ada banyak lemak di hati via DNL.

Tentu saja tidak ada paradoks nyata, hanya sebuah kesalahan pemahaman yang krusial tentang insulin dalam pandangan konvensional. Ingat bahwa hati itu seperti balon yang terlalu menggelembung.

Kerja insulin menjadi maha sulit, sehingga mendorong lebih banyak lemak dan gula ke a fatty overstuffed liver. Jadi, ia mencoba untuk meringankan dirinya dengan mencangkul keluar glukosa (HGP).

Itulah bagaimana Anda memiliki efek co-existent. Perhatikan bagaimana operasi bariatrik mengurangi produksi hati berlemak dan glukosa hepar?

Sumber Gambar

The clinical implications are simply mind-boggling.

Pertama, ini menunjukkan bahwa diabetes tipe 2 bukanlah penyakit progresif kronis. Dua masalah (hepar hepatik dan disfungsi sel beta) adalah kondisi reversibel sepenuhnya dan disebabkan oleh akumulasi lemak intra-organ yang sama. Itu adalah berita yang menakjubkan, lho.

Ini berarti ada harapan bagi jutaan pasien diabetes tipe 2 yang putus asa bahwa mereka telah menjalani hukuman seumur hidup. Kedua, itu berarti kita perlu lebih fokus pada apa yang menyebabkan hati berlemak dan pankreas bergajih. Kita bisa menyembuhkan diabetes dengan mengeluarkan satu gram lemak.

Tapi bagaimana kita mengusir satu gram lemak dari pankreas?

Nah, kita tahu bahwa operasi bariatric adalah solusi. Tetapi, ada banyak komplikasi dan risiko. Kita harus mencari alternatif yang lebih aman dan sederhana. Apakah jawabannya? Sesungguhnya, jawabannya sungguh enteng, pankreas berlemak bisa dibersihkan hanya dengan melakukan medical bariatrics alias puasa. Puasa itu gratis, simpel, dan efektif.

Mau Kurus Dan Ramping? Baca Testimonial Pasien Bernama Shannon

Sumber Gambar

Saya ingin sharing email yang saya terima dari Shannon, seorang pembaca. Dia menulis: Seperti yang biasa dikatakan oleh Hans dan Franz, “Hear me now and believe me later.”

Never let yourself get out of shape.  Saya menyertakan sebuah gambar dari bulan November lalu di sebuah penanda buku ICON 39—seperti yang Anda lihat, saya hampir tidak muat di kursi. Pada saat itu, timbangan saya menunjukkan angka 390 pound—pada bulan Januari, jika saya tidak mengubah kebiasaan, maka saya akan berada di kisaran 395 pound.

Jadi, tidak lama setelah gambar itu diambil, Januari 2015, saya memutuskan bahwa saya perlu melakukan transformasi dalam hidup saya.

Umur saya 40 tahun, berat badan luar biasa fatal, dan saya mengidap diabetes. Masalahnya, saya tidak tahu bagaimana metode yang efektif dan nggak menyiksa.

Tadinya duduk di kursi aja nggak muat.

Sedikit sejarah: Saya menjalani diet pertama saya saat berusia 12 tahun. Ibu saya tahu bahwa saya tampak seperti buntelan, dan pada saat makan saya terlalu hanyut dan merem melek  saking  saya sangat menikmati makanan. Beliau mencoba membuat saya makan lebih sedikit, membikin saya ketagihan diet soda, dan bahkan menyuruh saya mencoba diet rendah karbohidrat dalam jangka waktu temporer.

Di masa remaja saya, saya sedikit langsing, dong. Saya sibuk bertani dan ngelakuin marching Drum serta Bugle Corps. Saat kuliah,   kondisi saya nggak busuk-busuk amat lah, hanya sedikit heavyset, tapi saya menjaga berat badan saya supaya tidak melonjak, meski saat  berada di level senior timbangan menunjukkan angka 280. Tetapi, saya berhasil melepas beberapa pon tahun itu dan lulus dengan di angka 250.

Setelah Melakukan Puasa Intermittent

Sialnya, selama dua dekade berikutnya, si bobot perlahan naik.

Saya menjajal diet sana-sini, dan saya gagal. Saya berhasil memenggal beberapa pon, namun, setelah liburan, saya malah semakin bulat. Setiap tahun, bukannya berhasil menggunting si angka, eh justru menanjak perlahan dan pasti.

Pada tahun 2013, dengan berat badan saya duduk manis di angka 380, saya didiagnosis menderita diabetes. Saya pikir gula darah puasa saya sekitar 250 saat mereka melakukan tes panel metabolik. Sebelum dideteksi, saya belum banyak belajar tentang diabetes. Saya tahu bahwa saya memiliki sepupu yang kehilangan kaki karena diabetes, dan ibu saya telah mendapatkan predikat sebagai penderita diabetik beberapa tahun sebelumnya, namun ia mengendalikannya dengan diet rendah karbohidrat.

Sumber Gambar

Selama tahun 2014, saya mencoba produk Soylent—pengganti makanan—yang rasanya hambar sebagai cara untuk mencoba mencopot habit sebagai pecandu makanan.

Saya pikir, selayaknya orang-orang yang keranjingan dengan suatu hal, saya akan berhenti dengan adiksi ini dengan mencoba metode cold turkey. Tetapi, faktanya, saya tidak bisa bertahan lebih daripada seminggu. Dan berita lebih horornya adalah, gula darah saya melonjak nggak karuan.

Pada bulan januari 2015, tercatatlah sejarah dalam dunia timbang-menimbang, pada pagi hari, berat badan saya adalah 395, yang artinya, di penghujung hari si berat akan berada di angka 400 pound. Itu adalah hal super pelik. Saya juga sangat menderita. Ketika saya muda, saya selalu berkata,  “I’m big, but I’m in good shape,” namun, saat ini saya tahu saya dalam kondisi mengenaskan. Naik tangga menjadi hal yang sungguh bengis. Gula darah saya awut-awutan, tanpa obat hidup saya bagai di neraka.

By: Dokter Jason Fung  (Shannon – Patient Profile)

Saya putus asa. Lantas, saya membaca semua ilmu nutrisi, tetapi, setiap kali berdiet ketat, saya kangen banget dengan makanan favorit—sang sahabat lama yang selalu di hati.

Saya telah menghabiskan 90% hidup saya untuk mengekang nafsu makan dan menendang hidangan ini itu, yang membuat saya nggak karu-karuan. Saya telah berjuang dan berhasil memangkas beberapa kilo, tetapi, ketika saya berhenti, saya menggemuk kembali.

Sejak menderita diabetes, saya ingin belajar sebanyak mungkin mengenai penyakit ini. Saya mengikuti kelas tentang diabetes. Saya menonton kuliah medis dan Ted Talks. Saya membaca forum dan blog. Saya menemukan banyak informasi yang kontradiktif, tapi satu hal yang pasti. Tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang menyebabkan sindrom metabolik (beragam penyakit yang menyebabkan obesitas dan diabetes) sehingga tidak ada yang memiliki pandangan jelas tentang solusinya.

Saya sedang membaca komentar di sebuah posting internet di sebuah forum diabetes saat seseorang merekomendasikan video ini: The Two Big Lies of Type 2 Diabetes oleh Dr. Jason Fung.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa seseorang benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi dengan tubuh ini. Karena klinik Dr. Fung ada di Kanada, saya memutuskan untuk mengambil gagasan dari ceramahnya (saya memperhatikan semua yang dia lakukan secara online) dan memperlakukan diri saya sebagai subjek tes. Saya merancang rejimen untuk diri saya sendiri—sebuah siklus puasa 4 1/2 hari, lantas makan di  akhir pekan.

Sejibun Manfaat Puasa Intermittent

Saya bahkan  memberitahu dokter saya bahwa saya menghentikan Glucotrol, karena ia menambah kadar insulin, efek samping esensial dari Glucotrol. Ketika saya memberi tahu dokter saya, saya melakukan ini, dia nggak hepi, tapi dia mengatakan selama saya berhati-hati, memonitor gula darah saya, dan kembali kepadanya jika gagal, he wasn’t going to try to talk me out of it.

Minggu pertama puasa, ck ck ck, sangat menyeramkan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Pada hari perdana, saya tidak merasa terlalu ruwet, tapi di hari kedua, saya mulai merasa lapar, spektakuler rasa laparnya. Saya melakukan trik yang  bervariasi untuk mengabaikannya, dan tidur lebih awal—sesuatu yang kudu saya lakukan pada hari kedua puasa.

Hari ketiga adalah yang paling mengkhawatirkan. Saya harus menyetir selama 2 jam kemudian mengikuti beberapa meeting krusial. Karena saya telah mendengar begitu banyak hal mengerikan tentang puasa, saya khawatir saya akan pingsan—kombinasi dari tekanan puasa dan rapat kerja—terutama saat saya mengemudi sendiri di jalan raya. Syukurlah, saya bisa menyopir dan melakukan meeting tanpa masalah.

Pada hari kelima, satu-satunya hal yang membuat saya ingin kembali mengunyah adalah kebutuhan psikologis. Yihaa, gol! Saya berhasil. Saya berpuasa seminggu. Itu tidak sesulit diet yang lain, dan saya kehilangan berat badan, dong. Kabar lebih baiknya, gula darah saya turun ke kisaran normal. Setelah itu, saya hanya mengulanginya lagi dan lagi.

Selama berbulan-bulan, saya nggak selalu berpuasa selama 4 setengah hari, kok. Terkadang saya sarapan atau makan siang bersama rekan kerja pada hari jumat jika hari itu adalah hari ulang tahun seseorang. Terkadang, saya akan makan malam di luar bersama keluarga. Tapi sepanjang waktu, saya memantau berat badan saya. Saya dapat melihat dengan jelas benefit dari puasa, dan setiap Jumat pagi, ketika saya kehilangan beberapa kilogram lagi, saya tahu, bahwa saya sudah berada di trek yang benar.

Sumber Gambar

Pasca menjalani puasa selama empat bulan, saya melakukan tes Hemoglobin A1C pertama saya. Rentang normal untuk tes ini adalah antara 4 dan 5.6. Apa pun di atas ini dianggap paling tidak pra-diabetes. Skor saya sebelumnya—yang diambil sekitar waktu yang sama seperti foto di atas—adalah 8.3, dan saya sangat senang mengetahui si nomor baru: 5.3! Komentar dokter saya adalah, “Itu lebih baik dari saya, padahal saya bukan penderita diabetes, lho.”

Ketika saya mulai berpuasa dan melihat bobot badan saya melorot drastis, saya membuat sebuah target untuk menurunkannya sebanyak 100 pound pada tahun 2015. Saya bisa mencapainya pada bulan September, tapi Oktober adalah bulan yang sulit—inilah saatnya konvensi Fiksi Ilmiah setempat,  berkumpul dengan penulis, sehingga makanan dan minuman melimpah ruah. Kemudian, pada akhir bulan adalah Halloween, yang membuat permen bertebaran di mana-mana. Dengan menambahkan beberapa cheat days, dan sejumlah makanan enak untuk menyenangkan diri sendiri, saya tidak berpuasa lebih dari 3 hari dalam sebulan penuh.

This is the confession paragraph: Bahkan ketika saya berpuasa, saya melakukan beberapa hal yang dikontraindikasikan oleh Dr. Fung, soda diet, pemanis artifisial di kopi saya, dan jeli bebas gula, pada dasarnya hal-hal yang membuat saya merasa kenyang dan memuaskan sweet tooth saya. Saya juga memakan camilan di malam hari. Tetapi, saya tetap berpegang pada rencana saya, hampir setiap hari mencoba bertahan sekitar 100-200 kalori, tapi terkadang saya pesta di akhir pekan. Kelemahan saya adalah pizza, permen, dan red wine. Sebelum saya mulai berpuasa, makan seperti ini akan mendorong kadar gula darah saya lebih dari 300. Sejujurnya, Oktober sangat amburadul, saya berhenti memeriksa gula saya di akhir pekan, soalnya nggak pengen tahu hasilnya apa. Dan saya takut saya tidak akan pernah menulis testimoni ini karena saya akan sangat mengacaukan A1C saya dengan sangat keji.

Saya pikir penting untuk menambahkan dua paragraf terakhir untuk menggambarkan bahwa ini bukanlah proses yang gampil. Setiap diet memperlakukan setiap orang secara berbeda—saya tahu, saya sudah mencoba semuanya.

Bagi saya, berpuasa adalah pilihan yang lebih simpel, tapi tetap saja sulit. Sudah sering saya mempertimbangkan untuk menyerah aja.

Ada kalanya kewajiban keluarga dan sosial membuat tidak mungkin mengikuti rencana tersebut. Seringkali saya juga harus berhenti makan di restoran favorit saya. Tapi sejak awal, saya memutuskan untuk tidak memperlakukan ini sebagai upaya singkat menurunkan berat badan, tapi melihatnya sebagai perubahan gaya hidup. Saya telah memilih untuk melihat kemunduran sebagai pengalaman belajar daripada kekalahan.

Jadi, Rabu yang lalu, ketika darah saya diambil untuk kedua kalinya sejak saya mulai berpuasa, saya sedikit gugup. Saya berbisik pada diri saya sendiri bahwa jika A1C saya di bawah angka 6 itu adalah sebuah victory, sumpah, saya benar-benar khawatir.

Saya harus menunggu 2 hari untuk mendapatkan hasilnya, tapi akhirnya mereka keluar. Saya, sekali lagi, berada di posisi 5.3! Horeee, gula darah saya berada dalam kisaran normal.

Efek fenomenal lainnya adalah kesehatan hati saya. Let’s just say numbers that were way outside normal levels are now well within the normal range.

Jadi, begitulah: cerita saya tentang bagaimana, dengan beberapa advis jempolan, saya membawa diri saya kembali dari ambang self-destruction.

Saya masih punya banyak rencana selanjutnya untuk membanting berat badan saya—I don’t want to keep flirting with weighing 300 pounds—tapi saya lebih sehat dari tahun-tahun sebelumnya, dan saya berharap dapat melanjutkan perjalanan saya dan si sukses terus kontinyu.

-Shannon

Sumber Gambar

Jason Fung:  Pekerjaan hebat, Shannon.
Jika menambahkan soda diet kompatibel untuk Anda, maka dengan segala cara, silakan. Yang paling penting adalah mengikuti rencana dan dapatkan hasilnya. Jika Anda menggunakan pemanis, tapi mendapatkan konsekuensi bagus, lalu lanjutkan. Namun, jika Anda tidak melihat impak yang Anda inginkan, maka pertimbangkan untuk berubah. Di klinik kami, kami sering membiarkan sedikit krim di kopi, yang secara teknis juga bukan puasa.

Namun, bedanya tidak signifikan sehingga kebanyakan orang melakukannya dengan apik. Beberapa akan mentolerir diet soda dengan baik, tapi banyak yang tidak. Hal lain yang saya tekankan adalah bahwa puasa tidak selalu enteng. Tapi dijamin bisa membuat Anda lebih sehat. Klinik saya adalah Program Manajemen Diet Intensif, bukan program Manajemen Diet Mudah. Hari ke 2 biasanya merupakan hari puasa yang paling sulit bagi kebanyakan orang. Saat itulah tubuh mulai beralih ke pembakaran lemak. Begitu Anda tahu itu, Anda bisa mempersiapkan diri. Congratulations sekali lagi, Shannon.