Ingin Kurus dan Ramping? Baca tentang Kapan Berhenti Puasa Intermitten atau Stop Keto

Apakah memikirkan tentang rendang, gulai, ayam pop yang super duper lezat itu membikin Anda merasa lumpuh? Si otak ini nggak bisa berhenti mikirin itu lagi dan lagi.

Nggak peduli apa yang Anda lakukan, Anda nggak sanggup menghentikan bayangan betapa enaknya saat Anda menenggelamkan gigi Anda ke dalam steak yang juicy dan super endes, sialnya, makanan yang seksi dan penuh pesona ini selalu eksis di khayalan Anda dan, yang lebih super brutalnya lagi adalah, imajinasi tentang melahap makanan ini tidak pernah bisa ditendang?

By: Megan Ramos (Fasting Basics: When to Stop Your Fast)

Steak ini termasuk hidangan rendah karbohidrat dan bahkan termasuk menu di diet keto, kan? Haruskah Anda menyerah dan berbuka puasa karena ini adalah pilihan makanan yang cukup ‘aman’?

NO NO NO! ANDA TETAP HARUS SELESAIKAN PUASA ANDA!

Bagi kebanyakan dari kita, masalah terkrusial kita dalam puasa, is mind over matter. Atau masalah pikiran aja, Sob. Terkadang otak kita merasa bahwa rintangan puasa sulit banget untuk ditaklukkan, bahkan lebih ruwet dibandingkan mendaki Gunung Everest.

Tetapi dengan upaya yang konsisten, kita bisa kok mengubah proses berpikir kita, dan cihuynya, ini bisa disilih hanya dalam hitungan minggu aja, lho. (lebih lanjut tentang tantangan perilaku berpuasa di posting saya berikutnya).

Tetapi, saat puasa, kapan Anda seharusnya berhenti dan ya udahlah mending makan aja? Dalam posting terakhir kami di Cara Mengatasi Efek Samping Puasa, kami berbicara tentang beberapa risiko nggak asik dari puasa, seperti sakit kepala dan gejala seperti flu.

Biasanya sih nggak masalah tuh untuk menghandle efek samping dari puasa selama Anda berkonsultasi dengan dokter Anda, dan memastikan nggak ada hal serius yang akan terjadi. Namun, ada satu gejala yang harus ditanggapi dengan sangat serius: mual. Jika Anda merasa sedikit mual saat berpuasa, Anda harus segera mengakhiri puasa dan makanlah secepatnya. Mual biasanya terjadi karena Anda menjadi terlalu dehidrasi.

Baik elektrolit Anda menjadi menipis banget atau konsentrasi badan keton (sumber bahan bakar yang dihasilkan oleh pembakaran lemak) dalam darah Anda menjadi terlalu semampai. Apakah ini berarti bahwa Anda harus menenggak air lebih banyak? No, not necessarily. Nggak, belum tentu begitu.

Anda harus minum hanya jika merasa haus. Tapi tetap aja, tidak ada jumlah ideal berapa ons liter air yang harus Anda konsumsi setiap hari. Jika Anda merasa haus, minumlah. Jika enggak, maka jangan minum. Overhydration/ overhidrasi sama seramnya dengan dehidrasi.

Jadi, gimana dong supaya kita bisa tetap terhidrasi jika itu tidak berarti kita minum air setiap detik setiap hari?

Ikuti tips di bawah ini untuk memastikan satu-satunya masalah saat Anda berpuasa  adalah bayangan tentang makanan super duper lezat yang tak bisa hilang dari kepala Anda.

Suplemen dengan Elektrolit


Masalah dengan ketidakseimbangan elektrolit sering dialami jika seseorang menderita kadar insulin tinggi atau sindrom metabolik (hiperinsulinemia atau resistensi insulin).

Ketika kita mulai berpuasa, level insulin kita akan terjun bebas secara spektakuler. Menukiknya insulin ini nyebabin pengiriman sinyal ke ginjal agar segera mengeluarkan air berlebih. Tetapi seringkali, kita kehilangan elektrolit ekstra, khususnya sodium juga.

Apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah hal ini menjadi problematika lebih njelimet:

  1. Minum secangkir kaldu tulang buatan sendiri atau kaldu sayuran rendah karbohidrat.
  2. Sajikan pickle juice jus acar langsung atau dicairkan dalam air secukupnya.
  3. Tambahkan 1-2 TBSP sole ke dalam secangkir air.
  4. Ambil beberapa fasting drops sepanjang hari.
  5. Comot sejumput garam dan letakkan di lidah Anda.

Jika Anda seseorang yang nggak memiliki masalah terkait dengan kadar insulin yang tinggi, dan Anda tidak berasal dari kalangan yang mengonsumsi karbohidrat garis keras, maka Anda cenderung jarang mengalami masalah ini, kok.

Kiat expert: penting banget untuk rajin minum elektrolit selama 72 jam puasa panjang karena pada saat itulah Anda akan melihat insulin ngedrop dengan level super meruah. Jika Anda merasa lapar, cobalah minum air terlebih dahulu. Kita sering salah mengira haus adalah lapar karena kita sering nggak nge-tune atau sangat tidak selaras dengan tubuh kita.

Sumber Gambar: quickanddirtytips.com

Dan ketika kita sedang berpuasa, kita berekspektasi mengalami kelaparan yang intens, jadi kita mengabaikan rasa haus. Inilah mengapa haus sering nggak dianggap. Akibatnya, konsentrasi dalam darah kita bisa menjadi terlalu jangkung, yang dapat nyebabin problem seperti mual.

Hal yang sama berlaku jika kita minum air ‘seember’, maka, konsentrasinya menjadi terlalu encer. Ketika kita membakar lemak tubuh, kita menghasilkan sumber bahan bakar alternatif untuk glukosa yang disebut badan keton.

Biasanya kehadiran tubuh keton dalam darah kita adalah hal yang aman dan disambut dengan gembira, terutama jika kita berusaha untuk memangkas lemak tubuh. Tapi sama seperti yang lainnya, terlalu banyak hal baik bisa menjadi hal yang ultra buruk juga, Sob. Jika di dalam darah kita konsentrasi tubuh keton terlalu tinggi, maka kita mungkin mulai merasa mual.

Ikuti saran ini, untuk memastikan Anda nggak gagal paham—mengira haus, tapi berasumsi sedang lapar:

  1. Jika Anda merasa lapar, minum 1 gelas air dan tunggu 30 menit.
  2. Lakukan sesuatu alih-alih duduk dan menatap jam.
  3. Tanyakan pada diri sendiri: apakah saya masih merasa lapar? Biasanya, jawabannya adalah tidak.

Kiat ahli: Jika Anda sedang berada di jendela makan, Anda bisa juga ngerjain hal di atas, di antara jam makan ketika Anda tergoda untuk mengemil kacang dan keju.

Remember, ini bukan hanya apa yang Anda makan tetapi juga kapan Anda makan. Keduanya menentukan apakah:

  1. Anda sehat dan.
  2. Akan mempertahankan berat badan Anda.

Ingatlah selalu, bahwa Anda dapat berbuka puasa jika merasa nggak enak badan dengan alasan apa pun, bukan hanya mual. Anda selalu bisa memulai puasa saat Anda merasa sehat kembali. 

Dengarkan tubuh Anda, dan hubungi bantuan medis secepatnya.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca tentang Solusi Mengatasi Efek Samping Puasa Intermittent dan Diet Keto

Apakah benefit dari puasa?

  1. Meramping, Anda dijamin akan jadi langsing singset.
  2. Anda bisa mereduksi obat-obatan diabetes tipe 2 dan hipertensi (tekanan darah tinggi).
  3. Tetapi memang, di sisi lain, nggak bisa dipungkiri, puasa menyulut beberapa efek samping dalam jangka pendek.

Konsekuensi puasa yang nggak diinginkan ini gara-garanya karena ada transisi tubuh dari  habit ‘memanggang’ gula ke mode membakar lemak. Saya selalu mengedukasi pasien bahwa tubuh manusia memiliki dua pabrik berbeda:

  1. Pabrik dengan bahan bakar gula dan.
  2. Pabrik dengan bahan bakar lemak.

Mayoritas manusia hanya manfaatin pabrik-berbahan-bakar-gula untuk membikin tubuh kita ‘menggelinding’ selama bertahun-tahun dan bahkan mungkin beberapa dekade. Sementara itu, ‘kilang’ dengan ‘gasolin’ lemak ditutup aja dong. Dibiarkan sampai berkarat dan berkerak. Tetapi, sekarang tiba-tiba Anda berbelot, mau nggak mau itu memaksa tubuh Anda mengisi bahan bakar dari gudang lemak.

By: Megan Ramos (Fasting Basics: Common Side Effects of Fasting)

Supaya tubuh Anda bisa berfungsi dengan tampan plus mulus, si tubuh beralih dari dari bahan bakar gula ke ‘gasolin’ lemak. Ini berarti Anda harus ngebangunin pabrik berbahan bakar lemak dan memelankan pabrik ‘berbensin’ gula.

Sekarang bayangkan, berapa banyak kerja keras yang diperluin untuk memperlambat penggunaan pabrik yang telah Anda pake selama bertahun-tahun, dan memulai mengoperasikan pabrik lemak yang telah duduk di sana ngumpulin debu. Ini nggak akan menjadi transisi yang rancak banget. Akan ada beberapa penghalang yang tak terhindarkan, sehingga Anda bisa mendapatkan pabrik semau-mau Anda, juga, si doski sanggup berjalan secara efisien.

Bagi sebagian orang transformasi ini flawless, dan mereka nggak akan mengecap efek samping. Others aren’t as lucky.  Sayangnya, kebanyakan orang tidak seberuntung itu. Tetapi jika Anda termasuk dalam kategori yang ngalamin salah satu efek samping yang tidak dipengenin di bawah ini, don’t worry, Sob!

Hasil dari Puasa Inttermittent. Sumber Gambar: bodyandsoul.com.au

Sebagian besar hal nggak ‘asyik’ ini akan hilang 100% dalam waktu dua hingga empat minggu, karena ngerjain rutinitas yang sama, lagi dan lagi. Efek samping cenderung bertahan hanya jika pasien ogah mengarungi masa-masa kusut. Tapi jika pasien tetap keukeuh pada protokol puasa mereka secara konsisten, si efek nggak-oke itu, pastinya bisa dihempas lho.

Emang sih, ini mungkin nggak  fun, dan bahkan mungkin tampak sulit atau hampir imposibel pada awalnya, tetapi, jika Anda semakin persisten dengan rejimen Anda, maka proses adaptasi Anda akan makin ekspres, plus, side effectnya pun akan pupus. Orang-orang yang enggak stick to it atau tidak taat berpuasa secara konsisten, akan struggle dengan dampak amikal puasa dalam jangka panjang. Jadi semakin Anda malas-malasan, efek sampingnya akan kian menempel.

Anda mungkin akan melakoni konsekuensi dari puasa jika:

  1. Jika Anda baru aja berkenalan dengan puasa (yang mana agak kurang common terjadi pada orang yang diet keto atau rendah karbo).
  2. Setelah mengkonsumsi karbohidrat dan makanan olahan dalam jumlah segunung ketika bepergian atau liburan.

Anda bertendensi nggak ngalamin efek ‘menyengsarakan’ dari puasa jika:

  1. Anda sudah terbiasa diet keto atau makan hidangan rendah karbohidrat (si bodi udah terbiasa memanfaatkan lemak untuk bahan bakar).
  2. Anda nggak menyimpang dari diet Anda, misalnya makan junk food segambreng saat wiken.
  3. Anda tetap berpuasa dengan konsisten.

Headache, Dizziness, Mental Fog and Lethargy atau Sakit kepala, Pening, Mental Berkabut, Linglung or Kesadaran Menurun, dan Lesu

Grup efek samping ini biasanya karena kadar sodium yang rendah. Tingkat insulin kita mulai drop secara signifikan ketika kita mulai berpuasa. Insulin yang melandai ini mengirimkan sinyal ke ginjal kita untuk melepaskan kelebihan air karena insulin menyebabkan retensi air.
Mayoritas orang buang air kecil lagi dan lagi, seolah tiada henti, saat mereka baru puasa, tipikalnya karena alasan ini. Saat tubuh kita membersihkan diri dari surplus air, kita juga kehabisan elektrolit melalui urin kita.

Kita juga nggak makan banyak, oleh karena itu konsumsi  elektrolit decline secara dramatis. Tubuh kita ngatur kadar elektrolit kita secara ketat, sehingga perubahan mendadak ini dapat mengubah homeostasis tubuh kita.

Solusinya:

  1. Tambahkan sejumput garam alami di bawah lidah Anda (garam Himalaya atau Celtic adalah yang terfavorit) atau dalam segelas air beberapa kali sepanjang hari.
  2. Minumlah kaldu tulang atau kaldu sayuran non-starchy.
  3. Minum jus acar (tanpa gula).

Kiat pakar: Jika kadar sodium Anda rendah banget, Anda mungkin harus mengakhiri puasa as soon as possible, meskipun Anda berencana untuk menyeruput kaldu tulang nanti saat berbuka. Kami sering menjulukinya the point of no return. Untuk menghindari hal ini, ambil sejumput garam kaldu atau jus acar setiap tiga jam, bahkan jika Anda merasa baik-baik aja. Ini akan mencegah Anda merasa nggak fit in the first place. 

Diare

Impak nehatif yang tidak mengenakkan ini bisa bermasalah cukup ekstrim dan merupakan salah satu efek samping paling galib bagi newbie, terutama jika mereka berpuasa setelah sebelumnya terbiasa makan karbohidrat dalam jumlah gadang. Kenapa bisa begini? Level insulin yang menukik cukup spektakuler ngasih sinyal ke ginjal untuk mengeluarkan air berlebih, oleh sebab itu, buang air besar pasien menjadi encer.

Sumber Gambar: eurohealthnet-magazine.eu

Solusinya:

  1. Ambil 1 sendok makan psyllium husk dan aduk ke dalam 1 gelas air, diamkan selama 5-10 menit sebelum meminumnya, lakukan sesaat setelah bangun pagi.
  2. Ulangi dengan sendok makan kedua jika perlu di siang, sore atau malam hari.

Kiat Pakar: Tubuh kita bisa kehilangan elektrolit melalui buang air besar seperti yang kita lakukan saat buang air kecil. Orang yang ngalamin diare sering merasakan gejala kadar sodium marhaen. Dia sudah bisa dipastikan kekurangan sodium. Pastikan Anda minum secangkir ekstra kaldu atau jus acar, pokoknya kadar sodium jangan sampai kurang dong. Atau bubuhkan sejumput garam pada air minum Anda.

Constipation atau Sembelit

Jika Anda tidak makan, apakah Anda berekspektasi banget akan buang air besar? Indeed, ¾ dari kita terbiasa buang air besar satu atau lebih dalam sehari, oleh karena itu, kadang-kadang rasanya weird, aneh atau merasa ada something wrong jika nggak melakukan ritual ini.

Jika Anda tidak merasa tidak nyaman, then don’t worry, jangan khawatir, Sob. Tetapi, jika Anda merasa nggak comfortable, maka Anda harus mencoba troubleshoot si sembelit ini. Beberapa orang memiliki saluran pencernaan yang bergerak jauh lebih lambat daripada yang lain dan makan terus-menerus membantu ‘hal-hal’ itu bergerak dengan konstan.

Saat kita mulai berpuasa, kita nggak mengkonsumsi apa pun untuk membantu mendorong hidangan sebelumnya melalui sistem Anda. Setelah beberapa hari, Anda mungkin mulai merasa discomfort atau nggak enak.

Solusinya:

  1. Minumlah air jika Anda haus.
  2. Teguk magnesium sitrat untuk ngebantu menghidrasi usus besar Anda dan membuat semuanya meluncur.
  3. Tingkatkan durasi berolahraga.

Kiat Pakar: Jika semuanya gagal, tambahkan minyak kelapa atau minyak MCT ke teh atau kopi Anda di pagi hari. Ini bukan puasa yang sempurna tapi itu akan membuat si anu bergerak dan groovingatauberalurlagi.

Insomnia dan Merasa Cemas

Efek-efek sampingan ini dikausakan oleh produksi dari hormon regulator adrenalin yang digelontorkan si bodi ini ketika berpuasa. Usually, it’s a good thing. Biasanya, itu hal yang ciamik. Ini menumbuhkan tingkat metabolisme kita dan ngebantu kita merasa berenergi.

Problematikanya adalah itu bisa membikin kita merasa energik pada waktu-waktu tertentu di hari ketika kita lebih suka tidur. Masa udah malem masih melek aja, Sob. Itu juga bisa membuat kita merasa jittery, sulit untuk rileks, dan merasa rusuh atau nggak kalem aja gituh.

Kebanyakan orang yang tidak suffering atau menderita kecemasan melaporkan bahwa mereka emang terlalu banyak minum kopi ketika pertama kali nyobain puasa. Orang-orang yang menderita kecemasan mulai khawatir bahwa puasa memperburuknya —it doesn’t, Sob. Nggak kayak gitu kok, santai aja.

Sumber Gambar: goodmorningamerica.com

Itu hanya reaksi tubuh Anda yang memunculkan adrenalin berkali-kali lipat yang memicu si cemas lebih hamsyong dari biasanya. Manusia adalah spesies yang sangat mudah mencomot habit baru. Itulah salah satu dari banyak alasan mengapa kita sukses banget. Dan tubuh kita akan beradaptasi untuk mengadopsi adrenalin berkaliber lebih elok saat kita terus berpuasa secara konsisten.

Solusinya:

  1. Practice ritual yang proper sebelum tidur dengan mematikan alat elektronik 90 menit sebelum tidur dan kenakan kacamata cahaya biru di malam hari.
  2. Mandi garam Epsom untuk membantu tubuh Anda rileks.
  3. Lapisi diri Anda dengan minyak magnesium atau gel di malam hari.
  4. 4-6 jam sebelum tidur, minumlah magnesium bis-glisinat atau malat.
  5. Kurangi puasa, misalnya, jika Anda melakukan puasa 36 jam, maka mungkin lakukan puasa 24 jam dan tingkatkan hingga puasa 36 jam setelah beberapa minggu berpuasa jika percobaan pertama sakses.

Kiat Pakar: Bahkan orang-orang yang tergolong suhu untuk urusan puasa, atau para pro pun, dapat ngalamin efek samping ini jika mereka mencoba me-mix a.k.a mencampur puasa-jangka-waktu-panjang ke dalam rejimen mereka. Jika durasi puasa Anda di-double atau triple-kan secara dramatis, pilih waktu yang lebih lambat (misalnya sedang sibuk dengan karier, keluarga, fungsi sosial, dll.) Di mana Anda merasa sedang sibuk banget.

 Acid Reflux atau Asam Lambung

Kami nggak yakin mengapa orang ngalamin refluks asam atau keluhan asam lambung ketika mereka trial puasa.

Dari pengalaman klinis saya selama bertahun-tahun, efek samping ini hanya cenderung terjadi pada orang yang memiliki a long-standing history of reflux atau udah dari zaman kuda gigit besi, jadi doski memang punya kadar lambung yang tingginya aduhai. Jarang seseorang mengalami refluks untuk pertama kalinya ketika mereka baru berpuasa. There is some good news! Dan ada beberapa kabar baik, Sob!

Jika Anda menderita refluks, refluks Anda kemungkinan akan meningkat secara fantastis atau bahkan hilang begitu tubuh Anda beradaptasi dengan puasa, terutama jika Anda mengikuti diet rendah karbohidrat dikonjungsi atau digabung dengan puasa.

Sama seperti banyak hal dalam hidup, dari buruk menjadi super-buruk-banget lalu menjadi lebih apik! Orang yang memiliki riwayat refluks harus mengambil beberapa tindakan pencegahan untuk menghindari terjadinya refluks atau bahkan menjadi lebih buruk.

Solusinya:

  1. Tambahkan 1-3 sendok makan  jus lemon ke dalam air Anda sepanjang hari.
  2. Juga, Anda bisa menambahkan 1-3 sendok makan unfiltered apple cider vinegar  atau cuka apel mentah tanpa filter ke dalam air Anda.
  3. Hindari kaldu dan jus acar.
Sumber Gambar: primal40.com

Kiat Pakar: Hindari spearmint dari teh peppermint karena dapat memperburuk gejala Anda. Lebih baik Anda memilih teh licorice, yang dapat membantu mencegah refluks.

Gout atau Encok

Seperti refluks asam, kami tidak yakin mengapa orang mengalami asam urat saat puasa. Juga, orang jarang mengalami asam urat akibat puasa jika mereka tidak memiliki riwayat serangan encok. Kurang dari tiga kasus dalam hampir satu dekade di mana seorang individu yang tidak memiliki riwayat asam urat berkembang karena ngerjain puasa, terutama puasa intermiten.

Solusinya:

  1. Tetap berpuasa intermiten, ketika Anda baru aja start, misalnya 24, 36 atau 42 jam, tiga kali seminggu.
  2. Tambahkan 1-3 sendok makan air jeruk nipis ke dalam air minum Anda.
  3. Ambil ekstrak akar ceri—ini tidak akan mengganggu puasa Anda

Kiat Pakar: Yang terbaik bagi orang dengan riwayat asam urat untuk memulai secara perlahan dengan puasa. Mulai dari makan tiga kali sehari menjadi makan dua kali menjadi satu selama satu hingga dua bulan. Jika Anda mulai mengalami sakit asam urat, kurangi lagi durasi puasa Anda. Obat-obatan yang tercantum di atas paling baik digunakan bersama-sama.

Bad Breath Bau mulut

Semua hal brilian dalam hidup sering kali diembel-embeli dengan konsekuensi nggak molek. Take motherhood for example.  Katakanlah, motherhood atau masa ketika seorang ibu membesarkan bayi. Memiliki bayi adalah hal yang indah.Tidak tidur selama 12 bulan itu menyebalkan dan berisiko pada sistem tubuh manusia, terlepas dari seberapa besar Anda suka menjadi ibu baru.

Hal yang sama berlaku untuk kasus meramping. Salah satu imbas dari penurunan berat badan adalah bau mulut. Kami sering menyebutnya napas keto. Ketika kita mengalami napas keto, lidah kita menjadi putih dan ada rasa aseton di mulut kita, karena aseton adalah bioproduk dari metabolisme asam lemak.

Banyak orang langsung panik tentang lidah putih mereka dan menganggap mereka memiliki semacam kekurangan nutrisi yang mengerikan. Yang lain memiliki pasangan yang menolak untuk mencium mereka di pagi hari dan bahkan mereka tidur di guest room karena napas pagi mereka begitu unbearable, mambune tak tertahankan, Rek.

Don’t worry! Jangan khawatir!

Anda hanya membakar lemak, dan itu hal yang apik. Saat kehilangan lemak slow down atau mulai melambat, napas Anda akan membaik. Lidah Anda akan kembali menjadi pink alias merah muda dan Anda akan disambut kembali di kamar Anda.

Solusinya:

  1. Bersihkan lidah Anda dengan minyak kelapa dua hingga tiga kali seminggu.
  2. Sikat gigi Anda lebih sering sepanjang hari
  3. Gunakan scraper lidah.
  4. Minum lebih banyak air.

Kiat Pakar: Anda mungkin sebaiknya mengurangi asupan protein selama bulan pertama puasa.Jika Anda ingin menurunkan berat badan dan mempertahankan massa otot, maka Anda harus mengonsumsi 0,6 g protein per kilogram total berat badan. Posting kami berikutnya dalam seri ini akan berbicara tentang beberapa efek samping puasa yang kurang umum yang sering membuat orang resah.

Stop Galau ala Dale Carnegie (How to Stop Worrying and Start Living bagian 1)

Fakta Fundamental Yang Harus Anda Ketahui Tentang Khawatir

Pada musim semi 1871, seorang pria muda membaca dua-puluh-satu-kata yang punya efek menghujam cukup dalam untuk masa depannya. Seorang-mahasiswa-kedokteran-di-Rumah-Sakit-Umum-Montreal, dia cemas apakah dia bisa lulus ujian akhir, khawatir tentang apa yang harus dilakukan, ke mana harus pergi, gimana sih cara membangun sebuah praktik dokter, bagaimana mencari nafkah. Dua puluh satu kata yang dibaca mahasiswa kedokteran muda ini, pada 1871, mendongkraknya menjadi dokter paling femes di generasinya.

Dia dianugerahi gelar bangsawan oleh Raja Inggris. Ketika dia meninggal, dua besar volume berisi 1.466 halaman dimohon untuk mendongengkan kisah hidupnya. Namanya adalah Sir William Osier. Berikut adalah dua-puluh-satu-kata yang ia baca pada musim semi 1871—dua puluh satu kata dari Thomas Carlyle yang membantunya menjalani kehidupan yang bebas dari rasa bimbang: “Bisnis utama kami bukan untuk melihat apa yang terletak jauh di kejauhan, tetapi untuk lakukan apa yang ada dengan jelas dan sebaik-baiknya.”

Living in Day-Tight-Compartments atau Hidup hanya untuk 24 Jam by Sir William Osier

Empat puluh dua tahun kemudian, pada malam musim semi yang lembut, ketika tulip bermekaran di kampus, lelaki ini, Sir William Osier, berbicara kepada mahasiswa Universitas Yale. Dia mengatakan kepada para siswa Yale bahwa seorang pria seperti dirinya yang telah menjadi profesor di empat universitas dan telah menulis buku populer, seharusnya memiliki “otak yang berkualitas istimewa”.

Dia mendeklarasikan bahwa itu nggak benar. Dia mengungkapkan bahwa teman-teman intimnya tahu bahwa otaknya adalah “otak dari karakter yang paling medioker atau biasa-biasa saja”.

Lalu, apa rahasia kesuksesannya? Dia menyatakan bahwa itu karena apa yang disebutnya hidup di “daytight compartments” atau hidup hanya untuk satu hari.

What did he mean by that? Apa yang dia maksud?

Beberapa bulan sebelum dia berbicara di Yale, Sir William Osier telah menyeberangi samudra Atlantik. Di atas sebuah kapal besar, di mana kapten berdiri di jembatan, sang kapten dapat menekan tombol dan voila! Ada dentang mesin dari berbagai bagian kapal. Mesin itu dimatikan jika yang lain sedang dihidupkan—di-shut-up ke kompartemen kedap air.

“Sekarang kalian,” Dr. Osier berkata kepada siswa-siswa Yale itu, “adalah organisasi yang jauh lebih luar biasa daripada kapal besar, dan terikat pada voyage perjalanan yang lebih panjang. Yang saya super tekankan kepada Anda sekalian adalah, kalian harus belajar mengendalikan alat berat, caranya? Dengan hidup ala ‘kompartemen yang ketat setiap hari’. Ini adalah metode terabsolut untuk memastikan keamanan dalam voyage atau perjalanan super panjang.”

“Pergilah ke jembatan, dan pastikan bahwa setidaknya bulkhead atau penyekat besar di antaranya berfungsi dengan prima. Sentuh sebuah tombol dan dengarkan, di setiap tingkat kehidupan Anda, pintu besi menutup masa lalu—yang terjadi kemarin telah mati. Sentuh yang lain dan matikan, dengan tirai logam, masa depan—hari esok yang belum lahir.”

“Anda akan aman-aman saja untuk hari ini! Matikan masa lalu! Biarkan masa lalu dikuburkan. Matikan hari-hari kemarin yang telah membodohi jalan menuju kematian yang berdebu… Beban hari esok, ditambah dengan yang kemarin, terbawa hari ini, membuat hal terkuat pun bisa goyah. Matikan masa depan yang membuat sesak napas, sama seperti masa lalu… Masa depan adalah hari ini… Tidak ada hari esok. Hari keselamatan manusia adalah sekarang juga.”

“Buang-buang energi, tekanan mental, kecemasan anjing, langkah-langkah seorang pria yang gelisah tentang masa depan… Tutuplah, kemudian buatlah garis depan dan belakang dengan sekat yang besar, dan bersiaplah untuk menumbuhkan kebiasaan baru, yaitu hidup pada ‘kompartemen yang ketat untuk sehari saja.”

Apakah Dr. Osier bermaksud mengatakan bahwa kita seharusnya nggak usah berikhtiar atau tak perlu lagi prepare untuk hari esok? No. Not at all. Bukan begitu maksudnya.

Tetapi dia melanjutkan dalam pidato itu, bahwa cara terbrilian untuk berancang-ancang menyongsong hari esok adalah dengan berkonsentrasi penuh, mengerahkan seluruh intelligence Anda, semua antusiasme Anda, untuk ngelakuin pekerjaan hari ini dengan fantastis. Itulah satu-satunya formula yang mungkin Anda lakukan untuk prepare menyambut masa depan.

Sir William Osier mendesak para siswa di Yale untuk memulai hari dengan doa: Give us this day our daily bread.” atau”Beri kami hari ini roti harian kami.”

Ingatlah bahwa doa itu hanya meminta roti hari ini. Nggak mengeluh tentang roti basi yang kita makan kemarin; dan jangan mengatakan: “Ya Tuhan, ladang gandum kami kering, dan kami mungkin akan ngalamin kekeringan lagi—lantas  bagaimana saya akan mendapatkan roti untuk dimakan musim gugur mendatang—atau seandainya saya kehilangan pekerjaan saya—oh ya Tuhan, gimana saya bisa dapet roti kalo saya nggak kerja?”

Tidak, doa ini mengajarkan kita untuk meminta roti hari ini saja. Roti hari ini adalah satu-satunya jenis roti yang bisa Anda makan.

Take No Thought for the Morrow

Bertahun-tahun yang lalu, seorang filsuf tanpa uang berkeliaran di negara berbatu di mana orang-orang mengalami kesulitan mencari nafkah. Suatu hari kerumunan orang berkumpul di sekelilingnya di atas bukit, dan dia memberikan pidato yang mungkin paling banyak dikutip di mana saja, kapan saja, bahkan sampai dengan saat ini.

Pidato ini berisi dua puluh enam kata yang telah berdering selama berabad-abad: “Karena itu janganlah memikirkan hari esok, karena besok akan memikirkan hal-hal dari dirinya sendiri.

Banyak orang mengharamkan kata-kata Nabi Isa atau Yesus itu, “Jangan pikirkan hari esok.” Mereka menolak kata-kata itu sebagai nasihat yang sempurna, sebagai sedikit mistisisme Timur.

  1. “Aku harus memikirkan besok,” kata mereka.
  2. “Saya harus mengambil asuransi untuk melindungi keluarga saya.”
  3. “Saya harus menyisihkan uang untuk usia tua saya.”
  4. “Saya harus merencanakan dan bersiap untuk maju.”

Right! Tentu saja kamu harus.

Yang benar adalah bahwa kata-kata Nabi Isa atau Yesus itu diterjemahkan lebih dari tiga ratus tahun lalu, pada masa pemerintahan Raja James. Pada zaman itu pikiran sering kali berarti galau atau cemas.

Versi modern mengutip dengan lebih akurat dengan mengatakan: “Jangan waswas untuk hari esok.” Dengan segala cara berkontemplasi untuk hari esok. Tetap pikirkan dengan cermat dan rencanakan serta lakukan persiapan. Tapi jangan khawatir!

“Jangan Galau tentang Hari Esok, Fokus di Hari ini!” By Laksamana Ernest J. King

Selama perang, para pemimpin militer merencanakan esok hari, tetapi mereka tidak galau.

 “Saya telah menyediakan peralatan terbaik yang kami miliki kepada orang-orang terbaik,” kata Laksamana Ernest J. King, yang memimpin Angkatan Laut Amerika Serikat, “dan telah memberi mereka apa yang tampaknya menjadi misi paling bijaksana. Hanya itu yang bisa saya lakukan.”

“Jika sebuah kapal telah tenggelam,” Laksamana King melanjutkan, “Aku tidak bisa membawanya. Jika akan hangus, aku tidak bisa menghentikannya. Aku dapat menggunakan waktuku untuk mengerjakan apa yang harus dihadapi esok hari, itu jauh lebih baik daripada menangisi masalah kemarin. Selain itu, jika aku membiarkan hal nggak penting itu mempengaruhiku, aku tidak akan bertahan lama.”

Apakah dalam perang atau damai, perbedaan elementer antara spekulasi yang baik dan pemikiran yang buruk adalah ini:

  1. Pikiran yang apik berkaitan dengan sebab dan akibat, dan mengarah pada rancangan logis dan konstruktif.
  2. Pemikiran bobrok sering menyebabkan ketegangan dan gangguan saraf.

Satu Langkah Cukup bagi Saya By Arthur Hays Sulzberger (Pendiri New York Times)

Baru-baru ini saya dapet hak istimewa untuk mewawancarai Arthur Hays Sulzberger, penerbit salah satu surat kabar paling terkenal di dunia, The New York Times.

Pak Sulzberger mengatakan kepada saya bahwa ketika Perang Dunia Kedua berkobar di seluruh Eropa, dia sangat terkejut, begitu harap-harap-cemas tentang masa depan, sehingga dia merasa hampir mustahil untuk tidur. Dia sering bangun dari tempat tidur di tengah malam, mengambil beberapa kanvas dan tabung cat, melihat di cermin, dan mencoba melukis potret dirinya.

Dia tidak tahu apa-apa tentang melukis, tetapi dia tetap melukis, untuk mengalihkan pikiran dari kekhawatirannya. Pak Sulzberger mengatakan kepada saya bahwa ia tidak pernah bisa menghilangkan kekhawatirannya dan menemukan kedamaian sampai ia mengadopsi moto lima kata dari himne:

Satu langkah cukup bagi saya. Lead, Cahaya… Jaga kakiku: Aku tidak meminta untuk melihat Adegan yang jauh: Satu langkah cukup bagi saya.

Beraktinglah Seperti Butiran di Jam Pasir yang Melewati Leher Sempit Satu Persatu. Satu Tindakan dalam Satu Waktu by Ted Bengermino

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang pemuda berseragam—di suatu tempat di Eropa—sedang menyelami pelajaran yang sama. Namanya Ted Bengermino, dari 5716 Newholme Road, Baltimore, Maryland—dan khawatir banget, sampai menimbulkan kasus kelelahan kelas satu.

“Pada bulan April 1945,” tulis Ted Bengermino, “Saya galau sekali sampai saya menderita apa yang oleh dokter disebut ‘kolon transversal spasmodik’—suatu kondisi yang menghasilkan rasa sakit yang hebat.

Jika perang belum berakhir ketika itu terjadi, saya yakin saya akan mengalami gangguan fisik total.

“Saya sangat lelah. Saya adalah Pendaftar Kuburan, Petugas Tidak Berkomisi untuk Divisi Infanteri ke-94. Pekerjaan saya adalah membantu mengatur dan memelihara catatan semua orang yang terbunuh dalam aksi, hilang dalam aksi, dan dirawat di rumah sakit.”

“Selama pertempuran, saya juga harus ngebantuin menguburkan tubuh, baik tentara Sekutu maupun musuh yang telah terbunuh dan buru-buru ditimbun dan dimakamkan di tanah yang digali cukup dangkal.”

“Saya kudu ngumpulin barang-barang privat dari orang-orang ini, dan melihat bahwa ‘harta’ itu dikirim kembali kepada orang tua atau saudara terdekat, yang akan menghargai banget  benda-benda pribadi ini.”

Saya terus-menerus galau karena :

  1. Takut kami mungkin melakukan kesalahan yang memalukan dan serius.
  2. Saya cemas apakah saya akan berhasil melewati semua ini atau tidak.
  3. Saya gelisah apakah saya akan hidup untuk menggendong satu-satunya anak saya di tangan saya—seorang putra enam belas bulan, yang belum pernah saya lihat.
  4. Saya ultra worry dan lelah sehingga saya kehilangan tiga puluh empat pound.
  5. Saya sangat panik, I was almost out of my mind. I looked at my hands. Saya melihat tangan saya. Nggak lebih dari kulit dan tulang. I was terrified at the thought of going home a physical wreck.
  6. Saya takut membayangkan pulang ke rumah dengan luka fisik.
  7. Saya menangis dan terisak-isak seperti anak kecil.
  8. Saya sangat terguncang sehingga air mata mengalir setiap kali saya sendirian.
  9. Ada satu periode segera setelah Pertempuran Bulge dimulai, saya menangis begitu sering sehingga saya hampir putus asa untuk menjadi manusia normal lagi.

Saya pun berakhir di apotik Angkatan Darat. Seorang dokter Angkatan Darat memberi saya beberapa saran yang mengubah hidup saya 360 derajat. Pasca memeriksa fisik menyeluruh, dia memberi tahu saya bahwa problematika saya adalah mental.

‘Ted’, dia berkata, ‘Saya ingin Anda menganggap hidup Anda sebagai jam pasir. Anda tahu ada ribuan butir pasir di bagian atas jam pasir; dan mereka semua melewati secara perlahan dan merata melalui leher sempit di tengah.”

Nggak ada seorang pun yang sanggup melewati leher sempit ini tanpa merusak jam pasir, kecuali meluncur satu persatu. Anda dan saya dan seluruh manusia di seantero dunia seperti jam pasir ini.

Ketika kita mulai di pagi hari, ada ratusan tugas yang rasanya harus kita selesaikan hari itu, tetapi jika kita tidak mengambilnya satu per satu dan membiarkannya melewati hari dengan perlahan dan merata, seperti halnya butiran pasir melewati leher sempit jam pasir, maka kita terikat untuk menghancurkan struktur fisik atau mental kita sendiri.’

“Saya telah mempraktikkan filosofi itu sejak-hari-yang-tak-terlupakan, yang diberikan seorang dokter Angkatan Darat kepada saya. Satu waktu untuk satu butir pasir… Satu waktu untuk satu tugas.”

Bersambung

Bagaimana Cara Menghentikan Gelisah by Dale Carniege (How to Stop Worrying and Start Living)

Halo, apa kabar kalian? Semoga sedang tidak gelisah, juga, semoga tidak sedang worry. Jika harapan saya meleset, semoga dengan membaca tulisan beberapa paragraf setelah ini, cemas kalian pun akan menghilang.

Dua tahun yang lalu, saat saya bingung harus menjalani hidup seperti apa, tiba-tiba saya menemukan buku kusam, lepek, kumal, berwarna cokelat, dengan ejaan kuno, masih kental dipengaruhi oleh tulisan Belanda, pertanda buku itu telah dibuat dari zaman kuda. Itu adalah buku bapak saya yang berjudul How to Win Friends and Influence People by Dale Carnegie.

Buku itu asik, dan masih relevan dijadikan sebagai buku self-help di zaman now ini. Pasca itu, saya sedikit terobsesi membaca buku lain yang ditulis by DC. Oleh karena itu, kali ini, saya menuliskan kembali bagaimana cara menghilangkan khawatir berdasarkan buku Dale Carnegie.

Cekidot. Inilah penuturannya.

Tiga puluh lima tahun yang lalu, saya adalah salah satu pemuda yang paling tidak bahagia di New York. Saya menjual truk untuk mencari nafkah. Sialnya, meski demikian, saya nggak tahu sama sekali tentang truk dan tetek-bengeknya, padahal semestinya saya ngerti dong, wong itu barang jualan saya. Sesimpel, saya nggak tau apa yang membuat motor truk berfungsi. Bukan itu aja: saya MEMANG tidak ingin tahu. Saya membenci pekerjaan saya.

Saya juga benci tinggal di kamar murah di West Fifty-sixth Street—ruangan penuh kecoak. Saya masih ingat bahwa saya memiliki seikat dasi yang tergantung di dinding; dan di pagi hari ketika saya menggapainya untuk mengubek-ubek dasi baru, kecoak tersebar ke segala arah.

Saya benci banget harus makan di restoran murah, kotor yang juga mungkin terinfeksi dan full dengan kecoak.

Sumber Gambar: AndersonDesignGroup

Saya pulang ke kamar sepi saya setiap malam dengan dibebani dan dibesarkan oleh sakit kepala plus disuapi oleh kekecewaan, kekhawatiran, kepahitan, dan pemberontakan. Saya memberontak karena mimpi-mimpi yang telah saya pupuk di masa kuliah telah berubah menjadi mimpi buruk.

Was this life? Apakah ini hidup? Apakah ini petualangan vital yang sangat saya nantikan dan saya idam-idamkan? Apakah semua kehidupan ini akan berarti bagi saya—terjun di pekerjaan yang saya benci, hidup dengan kecoak, makan makanan bedebah—dan tanpa harapan untuk masa depan?

Saya merindukan waktu luang untuk membaca, dan menulis buku yang saya impikan untuk ditulis kembali di masa kuliah saya. Saya tahu saya memiliki segalanya untuk diraih dan tidak ada ruginya dengan meninggalkan pekerjaan yang saya benci. I wasn’t interested in making a lot of money, but I was interested in making a lot of living. Saya tidak tertarik menghasilkan banyak uang, tetapi saya tertarik membuat hidup saya berarti banyak.

Singkatnya, saya telah sampai pada Rubicon—pada saat keputusan yang dihadapi kebanyakan anak muda ketika mereka memulai hidup. Jadi saya membuat  ketetapan—dan pertimbangan itu mengubah masa depan saya sekomplet-kompletnya.

Keputusan saya itu sangat jitu, karena setelah itu adalah tiga puluh lima tahun terakhir yang  ultra menyenangkan dan bermanfaat, melebihi aspirasi utopis saya.

Keputusan saya adalah ini: saya akan meninggalkan pekerjaan yang saya benci; dan, karena saya telah menghabiskan empat tahun belajar di Warrensburg College, Missouri, fakultas guru, saya sebenarnya telah siap untuk mengajar. Oleh karena itu, saya akan mengajar aja lah di kelas dewasa di sekolah malam.

Kemudian saya akan punya hari-hari yang bebas untuk membaca buku, menyiapkan kuliah, menulis novel, dan menulis cerita pendek. Saya ingin “hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup”. Tetapi, mata kuliah apa yang harus saya ajarkan kepada orang dewasa di malam hari?

Ketika saya flashback dan mengevaluasi training di perguruan tinggi saya sendiri, saya sadar bahwa pelatihan dan pengalaman yang saya miliki—public speaking—sangat berfaedah dalam bisnis dan dalam kehidupan sehari-hari—daripada semua hal lain, walaupun seandainya semua mata kuliah diblender menjadi satu.

Mengapa? Karena itu telah menghilangkan ketakutan saya dan menendang kurang percaya diri saya, juga memberi saya keberanian dan kenyamanan ketika berurusan dengan orang-orang. Itu juga menjelaskan bahwa leardership biasanya condong pada orang yang bisa bangkit, berdiri, dan mengatakan apa yang dia pikirkan.

Saya melamar posisi mengajar public speaking di kursus ekstensi malam di Universitas Columbia dan Universitas New York, tetapi universitas-universitas ini memutuskan bahwa mereka bisa berjuang—entah bagaimana—tanpa bantuan saya.

Saya kecewa saat itu, tetapi saya sekarang bersyukur bahwa mereka menolak saya, karena pada akhirnya saya mulai mengajar di Y.M.C.A. sekolah malam, tempat saya harus menunjukkan hasil konkret dan membuktikannya dengan cepat.

Sumber Gambar: teepublic.com

What a challenge that was! Benar-benar sebuah tantangan! Orang dewasa ini tidak datang ke kelas saya karena mereka ingin kredit kuliah atau prestise sosial. Mereka datang hanya karena satu alasan: mereka ingin menyelesaikan masalah mereka. Mereka ingin dapat berdiri di atas kaki mereka sendiri dan mengucapkan beberapa patah kata dalam pertemuan bisnis tanpa pingsan karena ketakutan. Salesman ingin bisa menelepon pelanggan yang susah ditaklukkan, tanpa harus berjalan tiga kali memutari blok untuk bisa mendapatkan keberanian. Mereka ingin mengembangkan sikap tenang dan percaya diri. Mereka mau maju dalam bisnis. Mereka berhasrat memiliki lebih banyak uang untuk keluarga mereka.

Dan karena mereka membayar uang kuliah berdasarkan angsuran—juga, mereka akan berhenti membayar jika mereka tidak mendapatkan hasil—plus, karena saya juga dibayar, bukan digaji, tetapi sharing dari keuntungan, saya harus praktis jika saya ingin makan.

Saya merasa pada waktu itu, ketika saya mengajar, saya juga dibayang-bayangi setumpuk kesulitan, tetapi, sekarang saya menyadari bahwa pengalaman pada saat itu sangat berharga. Saya harus memotivasi murid-murid saya. Saya harus membantu mereka memecahkan masalah mereka. Saya harus membuat setiap sesi menginspirasi banget sehingga mereka ingin terus datang. It was exciting work. Itu pekerjaan yang menyenangkan. I loved it. Saya menyukainya.

Saya kagum dengan betapa cepatnya para pengusaha ini mengembangkan kepercayaan diri dan seberapa ekspresnya mereka mendapatkan promosi dan kenaikan gaji. Kelas itu sukses dengan gemilang, jauh melampaui harapan saya, meski mimpi paling optimis sekalipun.

Dalam tiga musim, Y.M.C.A.s, yang tadinya telah menolak untuk membayar saya lima dolar per malam, akhirnya malah  membayar saya tiga puluh dolar semalam berdasarkan basis persentase.

Pada awalnya, saya hanya mengajar public speaking, tetapi, seiring berjalannya waktu, saya melihat bahwa orang dewasa ini juga membutuhkan kemampuan untuk memenangkan teman dan mempengaruhi orang.

Karena saya tidak dapat menemukan buku teks yang memadai untuk hubungan manusia, saya pun menulis sendiri. It was written-no, itu tidak ditulis dengan cara biasa. Itu tumbuh dan berevolusi dari pengalaman orang dewasa di kelas-kelas ini. Saya menyebutnya How to Win Friends and Influence People.

To be honest, buku itu ditulis semata-mata sebagai buku teks untuk kelas dewasa saya sendiri, dan karena saya telah menulis empat buku lain yang belum pernah didengar oleh siapa pun, saya nggak pernah bermimpi bahwa buku itu akan ngehits: saya mungkin salah satu penulis yang paling tercengang. Buku itu sanggup menghidupi saya.  

Seiring berlalunya waktu, saya menyadari bahwa salah satu masalah tersuperior orang dewasa ini adalah khawatir. Sebagian besar murid saya adalah—bisnis eksekutif, salesman, insinyur, akuntan, bagian lintas perdagangan—dan mayoritas dari mereka memiliki problem yang sama!

Ada juga para wanita di kelas—business women dan ibu rumah tangga. They, too, had problems! Mereka juga punya masalah! Jelas, yang saya butuhkan adalah buku teks tentang cara menaklukkan rasa khawatir, jadi sekali lagi saya mencoba menemukannya.

Astounding, isn’t it? Mengherankan, bukan? Karena kekhawatiran adalah salah satu problematika paling kolosal yang dihadapi umat manusia, Anda akan berpikir, wouldn’t you, bahwa setiap sekolah menengah dan perguruan tinggi di negeri ini seharusnya punya kursus “Cara Berhenti Khawatir”, kan? Namun, sayangnya nggak ada tuh. Juga, saya belum pernah mendengar satu mata kuliah pun yang membahas tentang khawatir di seluruh penjuru negara ini.

Nggak heran David Seabury mengatakan dalam bukunya How to Worry Successfully: “We come to maturity with as little preparation for the pressures of experience as a bookworm asked to do a ballet.” Atau, “Kita menjadi dewasa dengan pengalaman  menghadapi tekanan dengan sedikit persiapan seperti seorang kutu buku yang diminta untuk melakukan balet.”

Hasilnya? Lebih dari setengah tempat tidur rumah sakit ditempati oleh orang-orang dengan masalah nervous atau saraf dan masalah emosional.

Saya melihat-lihat ke dua puluh dua buku tentang khawatir yang tergolek di rak-rak di Perpustakaan Umum New York. Selain itu, saya membeli semua buku dengan tema khawatir yang bisa saya temukan; namun saya tidak dapat menemukan satu pun yang bisa saya gunakan sebagai teks dalam kursus saya untuk orang dewasa.

Sumber Gambar: allkpop.com

Jadi saya memutuskan untuk menulis sendiri. Saya mulai mempersiapkan diri untuk menulis buku ini tujuh tahun yang lalu. Bagaimana caranya? Dengan membaca apa yang para filsuf dari segala usia telah bahas tentang khawatir. Saya juga membaca ratusan biografi, mulai dari Konfusius hingga Churchill.

Plus, mewawancarai sejumlah orang terkemuka di berbagai bidang kehidupan, seperti Jack Dempsey, Jenderal Omar Bradley, Jenderal Mark Clark, Henry Ford, Eleanor Roosevelt, dan Dorothy Dix.

Tapi itu baru permulaan.

Saya juga ngerjain hal lain dong, yang mana jauh lebih krusial dibandingkan wawancara dan membaca. Saya bekerja selama lima tahun di sebuah laboratorium untuk membunuh rasa khawatir—sebuah laboratorium yang diadakan di kelas kami sendiri. Sejauh yang saya tahu, ini adalah laboratorium pertama dan satu-satunya di dunia.

Inilah yang kami lakukan.

Kami memberi siswa seperangkat aturan tentang cara berhenti khawatir dan meminta mereka untuk menerapkan aturan ini dalam kehidupan mereka sendiri dan kemudian berbicara di kelas tentang result yang telah mereka peroleh. Lainnya melaporkan teknik yang mereka gunakan di masa lalu.

Sebagai hasil dari pengalaman ini, saya kira saya telah mendengarkan lebih banyak ceramah tentang “Bagaimana Menaklukkan Khawatir” daripada individu mana pun. Selain itu, saya membaca ratusan ceramah lain tentang, “Bagaimana Saya Menaklukkan Khawatir”, pidato yang telah menangin trofi, yang diadakan di lebih dari seratus tujuh puluh kota di seluruh Amerika Serikat dan Kanada.  

Jadi buku ini tidak keluar dari menara gading. Juga bukan merupakan khotbah akademis tentang cara menendang gelisah. Sebagai gantinya, saya telah mencoba menulis laporan yang bergerak cepat, singkat, dan terdokumentasi tentang bagaimana khawatir telah dihempas oleh ribuan orang dewasa.      

Satu hal yang pasti: buku ini praktis. Anda dapat mengatur ‘gigi’ Anda di dalamnya.    

Saya senang mengatakan bahwa Anda nggak akan menemukan cerita di buku ini tentang tokoh imajiner “Mr. B–” atau “Mary and John yang disamarkan”. Which is tak seorang pun bisa mengidentifikasikannya. Kecuali dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, buku ini akan selalu mencantumkan nama dan memberikan alamat jalan. Ini asli. Didokumentasikan. Dijamin. Dan bersertifikat.  

“Sains,” kata filsuf Prancis Valery, “adalah kumpulan resep sukses.” Itulah buku ini, kumpulan resep yang sakses dan teruji waktu untuk ngilangin kekhawatiran kita.    

Namun, izinkan saya memperingatkan Anda: Anda nggak akan nemuin sesuatu yang baru di dalamnya, tetapi Anda akan menemukan banyak hal yang tidak berlaku secara umum.  

Dan ketika sampai pada hal itu, Anda dan saya tidak perlu diberi tahu hal baru. Sebenarnya, kita udah cukup tahu untuk menjalani kehidupan yang sempurna. Masalah kita bukanlah ketidaktahuan, tetapi tidak bertindak.      

Tujuan tulisan ini adalah untuk menegaskan kembali, mengilustrasikan, merampingkan, mengondisikan udara, dan memuliakan banyak kebenaran kuno dan fundamental, lantas menendang Anda di tulang kering sehingga men-trigger Anda agar mau ngelakuin sesuatu supaya Anda segera menerapkannya. Anda nggak boleh membaca doang. Anda harus mengeksekusinya dengan tindakan.

All right, let’s go. Baiklah ayo.

Jika Anda tidak dapet kekuatan baru dan inspirasi anyar untuk menghentikan kekhawatiran dan menikmati hidup—maka lemparkan buku ini ke tempat sampah. It is no good for you.      

DALE CARNEGIE