Stop Galau ala Dale Carnegie (How to Stop Worrying and Start Living bagian 1)

Fakta Fundamental Yang Harus Anda Ketahui Tentang Khawatir

Pada musim semi 1871, seorang pria muda membaca dua-puluh-satu-kata yang punya efek menghujam cukup dalam untuk masa depannya. Seorang-mahasiswa-kedokteran-di-Rumah-Sakit-Umum-Montreal, dia cemas apakah dia bisa lulus ujian akhir, khawatir tentang apa yang harus dilakukan, ke mana harus pergi, gimana sih cara membangun sebuah praktik dokter, bagaimana mencari nafkah. Dua puluh satu kata yang dibaca mahasiswa kedokteran muda ini, pada 1871, mendongkraknya menjadi dokter paling femes di generasinya.

Dia dianugerahi gelar bangsawan oleh Raja Inggris. Ketika dia meninggal, dua besar volume berisi 1.466 halaman dimohon untuk mendongengkan kisah hidupnya. Namanya adalah Sir William Osier. Berikut adalah dua-puluh-satu-kata yang ia baca pada musim semi 1871—dua puluh satu kata dari Thomas Carlyle yang membantunya menjalani kehidupan yang bebas dari rasa bimbang: “Bisnis utama kami bukan untuk melihat apa yang terletak jauh di kejauhan, tetapi untuk lakukan apa yang ada dengan jelas dan sebaik-baiknya.”

Living in Day-Tight-Compartments atau Hidup hanya untuk 24 Jam by Sir William Osier

Empat puluh dua tahun kemudian, pada malam musim semi yang lembut, ketika tulip bermekaran di kampus, lelaki ini, Sir William Osier, berbicara kepada mahasiswa Universitas Yale. Dia mengatakan kepada para siswa Yale bahwa seorang pria seperti dirinya yang telah menjadi profesor di empat universitas dan telah menulis buku populer, seharusnya memiliki “otak yang berkualitas istimewa”.

Dia mendeklarasikan bahwa itu nggak benar. Dia mengungkapkan bahwa teman-teman intimnya tahu bahwa otaknya adalah “otak dari karakter yang paling medioker atau biasa-biasa saja”.

Lalu, apa rahasia kesuksesannya? Dia menyatakan bahwa itu karena apa yang disebutnya hidup di “daytight compartments” atau hidup hanya untuk satu hari.

What did he mean by that? Apa yang dia maksud?

Beberapa bulan sebelum dia berbicara di Yale, Sir William Osier telah menyeberangi samudra Atlantik. Di atas sebuah kapal besar, di mana kapten berdiri di jembatan, sang kapten dapat menekan tombol dan voila! Ada dentang mesin dari berbagai bagian kapal. Mesin itu dimatikan jika yang lain sedang dihidupkan—di-shut-up ke kompartemen kedap air.

“Sekarang kalian,” Dr. Osier berkata kepada siswa-siswa Yale itu, “adalah organisasi yang jauh lebih luar biasa daripada kapal besar, dan terikat pada voyage perjalanan yang lebih panjang. Yang saya super tekankan kepada Anda sekalian adalah, kalian harus belajar mengendalikan alat berat, caranya? Dengan hidup ala ‘kompartemen yang ketat setiap hari’. Ini adalah metode terabsolut untuk memastikan keamanan dalam voyage atau perjalanan super panjang.”

“Pergilah ke jembatan, dan pastikan bahwa setidaknya bulkhead atau penyekat besar di antaranya berfungsi dengan prima. Sentuh sebuah tombol dan dengarkan, di setiap tingkat kehidupan Anda, pintu besi menutup masa lalu—yang terjadi kemarin telah mati. Sentuh yang lain dan matikan, dengan tirai logam, masa depan—hari esok yang belum lahir.”

“Anda akan aman-aman saja untuk hari ini! Matikan masa lalu! Biarkan masa lalu dikuburkan. Matikan hari-hari kemarin yang telah membodohi jalan menuju kematian yang berdebu… Beban hari esok, ditambah dengan yang kemarin, terbawa hari ini, membuat hal terkuat pun bisa goyah. Matikan masa depan yang membuat sesak napas, sama seperti masa lalu… Masa depan adalah hari ini… Tidak ada hari esok. Hari keselamatan manusia adalah sekarang juga.”

“Buang-buang energi, tekanan mental, kecemasan anjing, langkah-langkah seorang pria yang gelisah tentang masa depan… Tutuplah, kemudian buatlah garis depan dan belakang dengan sekat yang besar, dan bersiaplah untuk menumbuhkan kebiasaan baru, yaitu hidup pada ‘kompartemen yang ketat untuk sehari saja.”

Apakah Dr. Osier bermaksud mengatakan bahwa kita seharusnya nggak usah berikhtiar atau tak perlu lagi prepare untuk hari esok? No. Not at all. Bukan begitu maksudnya.

Tetapi dia melanjutkan dalam pidato itu, bahwa cara terbrilian untuk berancang-ancang menyongsong hari esok adalah dengan berkonsentrasi penuh, mengerahkan seluruh intelligence Anda, semua antusiasme Anda, untuk ngelakuin pekerjaan hari ini dengan fantastis. Itulah satu-satunya formula yang mungkin Anda lakukan untuk prepare menyambut masa depan.

Sir William Osier mendesak para siswa di Yale untuk memulai hari dengan doa: Give us this day our daily bread.” atau”Beri kami hari ini roti harian kami.”

Ingatlah bahwa doa itu hanya meminta roti hari ini. Nggak mengeluh tentang roti basi yang kita makan kemarin; dan jangan mengatakan: “Ya Tuhan, ladang gandum kami kering, dan kami mungkin akan ngalamin kekeringan lagi—lantas  bagaimana saya akan mendapatkan roti untuk dimakan musim gugur mendatang—atau seandainya saya kehilangan pekerjaan saya—oh ya Tuhan, gimana saya bisa dapet roti kalo saya nggak kerja?”

Tidak, doa ini mengajarkan kita untuk meminta roti hari ini saja. Roti hari ini adalah satu-satunya jenis roti yang bisa Anda makan.

Take No Thought for the Morrow

Bertahun-tahun yang lalu, seorang filsuf tanpa uang berkeliaran di negara berbatu di mana orang-orang mengalami kesulitan mencari nafkah. Suatu hari kerumunan orang berkumpul di sekelilingnya di atas bukit, dan dia memberikan pidato yang mungkin paling banyak dikutip di mana saja, kapan saja, bahkan sampai dengan saat ini.

Pidato ini berisi dua puluh enam kata yang telah berdering selama berabad-abad: “Karena itu janganlah memikirkan hari esok, karena besok akan memikirkan hal-hal dari dirinya sendiri.

Banyak orang mengharamkan kata-kata Nabi Isa atau Yesus itu, “Jangan pikirkan hari esok.” Mereka menolak kata-kata itu sebagai nasihat yang sempurna, sebagai sedikit mistisisme Timur.

  1. “Aku harus memikirkan besok,” kata mereka.
  2. “Saya harus mengambil asuransi untuk melindungi keluarga saya.”
  3. “Saya harus menyisihkan uang untuk usia tua saya.”
  4. “Saya harus merencanakan dan bersiap untuk maju.”

Right! Tentu saja kamu harus.

Yang benar adalah bahwa kata-kata Nabi Isa atau Yesus itu diterjemahkan lebih dari tiga ratus tahun lalu, pada masa pemerintahan Raja James. Pada zaman itu pikiran sering kali berarti galau atau cemas.

Versi modern mengutip dengan lebih akurat dengan mengatakan: “Jangan waswas untuk hari esok.” Dengan segala cara berkontemplasi untuk hari esok. Tetap pikirkan dengan cermat dan rencanakan serta lakukan persiapan. Tapi jangan khawatir!

“Jangan Galau tentang Hari Esok, Fokus di Hari ini!” By Laksamana Ernest J. King

Selama perang, para pemimpin militer merencanakan esok hari, tetapi mereka tidak galau.

 “Saya telah menyediakan peralatan terbaik yang kami miliki kepada orang-orang terbaik,” kata Laksamana Ernest J. King, yang memimpin Angkatan Laut Amerika Serikat, “dan telah memberi mereka apa yang tampaknya menjadi misi paling bijaksana. Hanya itu yang bisa saya lakukan.”

“Jika sebuah kapal telah tenggelam,” Laksamana King melanjutkan, “Aku tidak bisa membawanya. Jika akan hangus, aku tidak bisa menghentikannya. Aku dapat menggunakan waktuku untuk mengerjakan apa yang harus dihadapi esok hari, itu jauh lebih baik daripada menangisi masalah kemarin. Selain itu, jika aku membiarkan hal nggak penting itu mempengaruhiku, aku tidak akan bertahan lama.”

Apakah dalam perang atau damai, perbedaan elementer antara spekulasi yang baik dan pemikiran yang buruk adalah ini:

  1. Pikiran yang apik berkaitan dengan sebab dan akibat, dan mengarah pada rancangan logis dan konstruktif.
  2. Pemikiran bobrok sering menyebabkan ketegangan dan gangguan saraf.

Satu Langkah Cukup bagi Saya By Arthur Hays Sulzberger (Pendiri New York Times)

Baru-baru ini saya dapet hak istimewa untuk mewawancarai Arthur Hays Sulzberger, penerbit salah satu surat kabar paling terkenal di dunia, The New York Times.

Pak Sulzberger mengatakan kepada saya bahwa ketika Perang Dunia Kedua berkobar di seluruh Eropa, dia sangat terkejut, begitu harap-harap-cemas tentang masa depan, sehingga dia merasa hampir mustahil untuk tidur. Dia sering bangun dari tempat tidur di tengah malam, mengambil beberapa kanvas dan tabung cat, melihat di cermin, dan mencoba melukis potret dirinya.

Dia tidak tahu apa-apa tentang melukis, tetapi dia tetap melukis, untuk mengalihkan pikiran dari kekhawatirannya. Pak Sulzberger mengatakan kepada saya bahwa ia tidak pernah bisa menghilangkan kekhawatirannya dan menemukan kedamaian sampai ia mengadopsi moto lima kata dari himne:

Satu langkah cukup bagi saya. Lead, Cahaya… Jaga kakiku: Aku tidak meminta untuk melihat Adegan yang jauh: Satu langkah cukup bagi saya.

Beraktinglah Seperti Butiran di Jam Pasir yang Melewati Leher Sempit Satu Persatu. Satu Tindakan dalam Satu Waktu by Ted Bengermino

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang pemuda berseragam—di suatu tempat di Eropa—sedang menyelami pelajaran yang sama. Namanya Ted Bengermino, dari 5716 Newholme Road, Baltimore, Maryland—dan khawatir banget, sampai menimbulkan kasus kelelahan kelas satu.

“Pada bulan April 1945,” tulis Ted Bengermino, “Saya galau sekali sampai saya menderita apa yang oleh dokter disebut ‘kolon transversal spasmodik’—suatu kondisi yang menghasilkan rasa sakit yang hebat.

Jika perang belum berakhir ketika itu terjadi, saya yakin saya akan mengalami gangguan fisik total.

“Saya sangat lelah. Saya adalah Pendaftar Kuburan, Petugas Tidak Berkomisi untuk Divisi Infanteri ke-94. Pekerjaan saya adalah membantu mengatur dan memelihara catatan semua orang yang terbunuh dalam aksi, hilang dalam aksi, dan dirawat di rumah sakit.”

“Selama pertempuran, saya juga harus ngebantuin menguburkan tubuh, baik tentara Sekutu maupun musuh yang telah terbunuh dan buru-buru ditimbun dan dimakamkan di tanah yang digali cukup dangkal.”

“Saya kudu ngumpulin barang-barang privat dari orang-orang ini, dan melihat bahwa ‘harta’ itu dikirim kembali kepada orang tua atau saudara terdekat, yang akan menghargai banget  benda-benda pribadi ini.”

Saya terus-menerus galau karena :

  1. Takut kami mungkin melakukan kesalahan yang memalukan dan serius.
  2. Saya cemas apakah saya akan berhasil melewati semua ini atau tidak.
  3. Saya gelisah apakah saya akan hidup untuk menggendong satu-satunya anak saya di tangan saya—seorang putra enam belas bulan, yang belum pernah saya lihat.
  4. Saya ultra worry dan lelah sehingga saya kehilangan tiga puluh empat pound.
  5. Saya sangat panik, I was almost out of my mind. I looked at my hands. Saya melihat tangan saya. Nggak lebih dari kulit dan tulang. I was terrified at the thought of going home a physical wreck.
  6. Saya takut membayangkan pulang ke rumah dengan luka fisik.
  7. Saya menangis dan terisak-isak seperti anak kecil.
  8. Saya sangat terguncang sehingga air mata mengalir setiap kali saya sendirian.
  9. Ada satu periode segera setelah Pertempuran Bulge dimulai, saya menangis begitu sering sehingga saya hampir putus asa untuk menjadi manusia normal lagi.

Saya pun berakhir di apotik Angkatan Darat. Seorang dokter Angkatan Darat memberi saya beberapa saran yang mengubah hidup saya 360 derajat. Pasca memeriksa fisik menyeluruh, dia memberi tahu saya bahwa problematika saya adalah mental.

‘Ted’, dia berkata, ‘Saya ingin Anda menganggap hidup Anda sebagai jam pasir. Anda tahu ada ribuan butir pasir di bagian atas jam pasir; dan mereka semua melewati secara perlahan dan merata melalui leher sempit di tengah.”

Nggak ada seorang pun yang sanggup melewati leher sempit ini tanpa merusak jam pasir, kecuali meluncur satu persatu. Anda dan saya dan seluruh manusia di seantero dunia seperti jam pasir ini.

Ketika kita mulai di pagi hari, ada ratusan tugas yang rasanya harus kita selesaikan hari itu, tetapi jika kita tidak mengambilnya satu per satu dan membiarkannya melewati hari dengan perlahan dan merata, seperti halnya butiran pasir melewati leher sempit jam pasir, maka kita terikat untuk menghancurkan struktur fisik atau mental kita sendiri.’

“Saya telah mempraktikkan filosofi itu sejak-hari-yang-tak-terlupakan, yang diberikan seorang dokter Angkatan Darat kepada saya. Satu waktu untuk satu butir pasir… Satu waktu untuk satu tugas.”

Bersambung

Bagaimana Cara Menghentikan Gelisah by Dale Carniege (How to Stop Worrying and Start Living)

Halo, apa kabar kalian? Semoga sedang tidak gelisah, juga, semoga tidak sedang worry. Jika harapan saya meleset, semoga dengan membaca tulisan beberapa paragraf setelah ini, cemas kalian pun akan menghilang.

Dua tahun yang lalu, saat saya bingung harus menjalani hidup seperti apa, tiba-tiba saya menemukan buku kusam, lepek, kumal, berwarna cokelat, dengan ejaan kuno, masih kental dipengaruhi oleh tulisan Belanda, pertanda buku itu telah dibuat dari zaman kuda. Itu adalah buku bapak saya yang berjudul How to Win Friends and Influence People by Dale Carnegie.

Buku itu asik, dan masih relevan dijadikan sebagai buku self-help di zaman now ini. Pasca itu, saya sedikit terobsesi membaca buku lain yang ditulis by DC. Oleh karena itu, kali ini, saya menuliskan kembali bagaimana cara menghilangkan khawatir berdasarkan buku Dale Carnegie.

Cekidot. Inilah penuturannya.

Tiga puluh lima tahun yang lalu, saya adalah salah satu pemuda yang paling tidak bahagia di New York. Saya menjual truk untuk mencari nafkah. Sialnya, meski demikian, saya nggak tahu sama sekali tentang truk dan tetek-bengeknya, padahal semestinya saya ngerti dong, wong itu barang jualan saya. Sesimpel, saya nggak tau apa yang membuat motor truk berfungsi. Bukan itu aja: saya MEMANG tidak ingin tahu. Saya membenci pekerjaan saya.

Saya juga benci tinggal di kamar murah di West Fifty-sixth Street—ruangan penuh kecoak. Saya masih ingat bahwa saya memiliki seikat dasi yang tergantung di dinding; dan di pagi hari ketika saya menggapainya untuk mengubek-ubek dasi baru, kecoak tersebar ke segala arah.

Saya benci banget harus makan di restoran murah, kotor yang juga mungkin terinfeksi dan full dengan kecoak.

Sumber Gambar: AndersonDesignGroup

Saya pulang ke kamar sepi saya setiap malam dengan dibebani dan dibesarkan oleh sakit kepala plus disuapi oleh kekecewaan, kekhawatiran, kepahitan, dan pemberontakan. Saya memberontak karena mimpi-mimpi yang telah saya pupuk di masa kuliah telah berubah menjadi mimpi buruk.

Was this life? Apakah ini hidup? Apakah ini petualangan vital yang sangat saya nantikan dan saya idam-idamkan? Apakah semua kehidupan ini akan berarti bagi saya—terjun di pekerjaan yang saya benci, hidup dengan kecoak, makan makanan bedebah—dan tanpa harapan untuk masa depan?

Saya merindukan waktu luang untuk membaca, dan menulis buku yang saya impikan untuk ditulis kembali di masa kuliah saya. Saya tahu saya memiliki segalanya untuk diraih dan tidak ada ruginya dengan meninggalkan pekerjaan yang saya benci. I wasn’t interested in making a lot of money, but I was interested in making a lot of living. Saya tidak tertarik menghasilkan banyak uang, tetapi saya tertarik membuat hidup saya berarti banyak.

Singkatnya, saya telah sampai pada Rubicon—pada saat keputusan yang dihadapi kebanyakan anak muda ketika mereka memulai hidup. Jadi saya membuat  ketetapan—dan pertimbangan itu mengubah masa depan saya sekomplet-kompletnya.

Keputusan saya itu sangat jitu, karena setelah itu adalah tiga puluh lima tahun terakhir yang  ultra menyenangkan dan bermanfaat, melebihi aspirasi utopis saya.

Keputusan saya adalah ini: saya akan meninggalkan pekerjaan yang saya benci; dan, karena saya telah menghabiskan empat tahun belajar di Warrensburg College, Missouri, fakultas guru, saya sebenarnya telah siap untuk mengajar. Oleh karena itu, saya akan mengajar aja lah di kelas dewasa di sekolah malam.

Kemudian saya akan punya hari-hari yang bebas untuk membaca buku, menyiapkan kuliah, menulis novel, dan menulis cerita pendek. Saya ingin “hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup”. Tetapi, mata kuliah apa yang harus saya ajarkan kepada orang dewasa di malam hari?

Ketika saya flashback dan mengevaluasi training di perguruan tinggi saya sendiri, saya sadar bahwa pelatihan dan pengalaman yang saya miliki—public speaking—sangat berfaedah dalam bisnis dan dalam kehidupan sehari-hari—daripada semua hal lain, walaupun seandainya semua mata kuliah diblender menjadi satu.

Mengapa? Karena itu telah menghilangkan ketakutan saya dan menendang kurang percaya diri saya, juga memberi saya keberanian dan kenyamanan ketika berurusan dengan orang-orang. Itu juga menjelaskan bahwa leardership biasanya condong pada orang yang bisa bangkit, berdiri, dan mengatakan apa yang dia pikirkan.

Saya melamar posisi mengajar public speaking di kursus ekstensi malam di Universitas Columbia dan Universitas New York, tetapi universitas-universitas ini memutuskan bahwa mereka bisa berjuang—entah bagaimana—tanpa bantuan saya.

Saya kecewa saat itu, tetapi saya sekarang bersyukur bahwa mereka menolak saya, karena pada akhirnya saya mulai mengajar di Y.M.C.A. sekolah malam, tempat saya harus menunjukkan hasil konkret dan membuktikannya dengan cepat.

Sumber Gambar: teepublic.com

What a challenge that was! Benar-benar sebuah tantangan! Orang dewasa ini tidak datang ke kelas saya karena mereka ingin kredit kuliah atau prestise sosial. Mereka datang hanya karena satu alasan: mereka ingin menyelesaikan masalah mereka. Mereka ingin dapat berdiri di atas kaki mereka sendiri dan mengucapkan beberapa patah kata dalam pertemuan bisnis tanpa pingsan karena ketakutan. Salesman ingin bisa menelepon pelanggan yang susah ditaklukkan, tanpa harus berjalan tiga kali memutari blok untuk bisa mendapatkan keberanian. Mereka ingin mengembangkan sikap tenang dan percaya diri. Mereka mau maju dalam bisnis. Mereka berhasrat memiliki lebih banyak uang untuk keluarga mereka.

Dan karena mereka membayar uang kuliah berdasarkan angsuran—juga, mereka akan berhenti membayar jika mereka tidak mendapatkan hasil—plus, karena saya juga dibayar, bukan digaji, tetapi sharing dari keuntungan, saya harus praktis jika saya ingin makan.

Saya merasa pada waktu itu, ketika saya mengajar, saya juga dibayang-bayangi setumpuk kesulitan, tetapi, sekarang saya menyadari bahwa pengalaman pada saat itu sangat berharga. Saya harus memotivasi murid-murid saya. Saya harus membantu mereka memecahkan masalah mereka. Saya harus membuat setiap sesi menginspirasi banget sehingga mereka ingin terus datang. It was exciting work. Itu pekerjaan yang menyenangkan. I loved it. Saya menyukainya.

Saya kagum dengan betapa cepatnya para pengusaha ini mengembangkan kepercayaan diri dan seberapa ekspresnya mereka mendapatkan promosi dan kenaikan gaji. Kelas itu sukses dengan gemilang, jauh melampaui harapan saya, meski mimpi paling optimis sekalipun.

Dalam tiga musim, Y.M.C.A.s, yang tadinya telah menolak untuk membayar saya lima dolar per malam, akhirnya malah  membayar saya tiga puluh dolar semalam berdasarkan basis persentase.

Pada awalnya, saya hanya mengajar public speaking, tetapi, seiring berjalannya waktu, saya melihat bahwa orang dewasa ini juga membutuhkan kemampuan untuk memenangkan teman dan mempengaruhi orang.

Karena saya tidak dapat menemukan buku teks yang memadai untuk hubungan manusia, saya pun menulis sendiri. It was written-no, itu tidak ditulis dengan cara biasa. Itu tumbuh dan berevolusi dari pengalaman orang dewasa di kelas-kelas ini. Saya menyebutnya How to Win Friends and Influence People.

To be honest, buku itu ditulis semata-mata sebagai buku teks untuk kelas dewasa saya sendiri, dan karena saya telah menulis empat buku lain yang belum pernah didengar oleh siapa pun, saya nggak pernah bermimpi bahwa buku itu akan ngehits: saya mungkin salah satu penulis yang paling tercengang. Buku itu sanggup menghidupi saya.  

Seiring berlalunya waktu, saya menyadari bahwa salah satu masalah tersuperior orang dewasa ini adalah khawatir. Sebagian besar murid saya adalah—bisnis eksekutif, salesman, insinyur, akuntan, bagian lintas perdagangan—dan mayoritas dari mereka memiliki problem yang sama!

Ada juga para wanita di kelas—business women dan ibu rumah tangga. They, too, had problems! Mereka juga punya masalah! Jelas, yang saya butuhkan adalah buku teks tentang cara menaklukkan rasa khawatir, jadi sekali lagi saya mencoba menemukannya.

Astounding, isn’t it? Mengherankan, bukan? Karena kekhawatiran adalah salah satu problematika paling kolosal yang dihadapi umat manusia, Anda akan berpikir, wouldn’t you, bahwa setiap sekolah menengah dan perguruan tinggi di negeri ini seharusnya punya kursus “Cara Berhenti Khawatir”, kan? Namun, sayangnya nggak ada tuh. Juga, saya belum pernah mendengar satu mata kuliah pun yang membahas tentang khawatir di seluruh penjuru negara ini.

Nggak heran David Seabury mengatakan dalam bukunya How to Worry Successfully: “We come to maturity with as little preparation for the pressures of experience as a bookworm asked to do a ballet.” Atau, “Kita menjadi dewasa dengan pengalaman  menghadapi tekanan dengan sedikit persiapan seperti seorang kutu buku yang diminta untuk melakukan balet.”

Hasilnya? Lebih dari setengah tempat tidur rumah sakit ditempati oleh orang-orang dengan masalah nervous atau saraf dan masalah emosional.

Saya melihat-lihat ke dua puluh dua buku tentang khawatir yang tergolek di rak-rak di Perpustakaan Umum New York. Selain itu, saya membeli semua buku dengan tema khawatir yang bisa saya temukan; namun saya tidak dapat menemukan satu pun yang bisa saya gunakan sebagai teks dalam kursus saya untuk orang dewasa.

Sumber Gambar: allkpop.com

Jadi saya memutuskan untuk menulis sendiri. Saya mulai mempersiapkan diri untuk menulis buku ini tujuh tahun yang lalu. Bagaimana caranya? Dengan membaca apa yang para filsuf dari segala usia telah bahas tentang khawatir. Saya juga membaca ratusan biografi, mulai dari Konfusius hingga Churchill.

Plus, mewawancarai sejumlah orang terkemuka di berbagai bidang kehidupan, seperti Jack Dempsey, Jenderal Omar Bradley, Jenderal Mark Clark, Henry Ford, Eleanor Roosevelt, dan Dorothy Dix.

Tapi itu baru permulaan.

Saya juga ngerjain hal lain dong, yang mana jauh lebih krusial dibandingkan wawancara dan membaca. Saya bekerja selama lima tahun di sebuah laboratorium untuk membunuh rasa khawatir—sebuah laboratorium yang diadakan di kelas kami sendiri. Sejauh yang saya tahu, ini adalah laboratorium pertama dan satu-satunya di dunia.

Inilah yang kami lakukan.

Kami memberi siswa seperangkat aturan tentang cara berhenti khawatir dan meminta mereka untuk menerapkan aturan ini dalam kehidupan mereka sendiri dan kemudian berbicara di kelas tentang result yang telah mereka peroleh. Lainnya melaporkan teknik yang mereka gunakan di masa lalu.

Sebagai hasil dari pengalaman ini, saya kira saya telah mendengarkan lebih banyak ceramah tentang “Bagaimana Menaklukkan Khawatir” daripada individu mana pun. Selain itu, saya membaca ratusan ceramah lain tentang, “Bagaimana Saya Menaklukkan Khawatir”, pidato yang telah menangin trofi, yang diadakan di lebih dari seratus tujuh puluh kota di seluruh Amerika Serikat dan Kanada.  

Jadi buku ini tidak keluar dari menara gading. Juga bukan merupakan khotbah akademis tentang cara menendang gelisah. Sebagai gantinya, saya telah mencoba menulis laporan yang bergerak cepat, singkat, dan terdokumentasi tentang bagaimana khawatir telah dihempas oleh ribuan orang dewasa.      

Satu hal yang pasti: buku ini praktis. Anda dapat mengatur ‘gigi’ Anda di dalamnya.    

Saya senang mengatakan bahwa Anda nggak akan menemukan cerita di buku ini tentang tokoh imajiner “Mr. B–” atau “Mary and John yang disamarkan”. Which is tak seorang pun bisa mengidentifikasikannya. Kecuali dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, buku ini akan selalu mencantumkan nama dan memberikan alamat jalan. Ini asli. Didokumentasikan. Dijamin. Dan bersertifikat.  

“Sains,” kata filsuf Prancis Valery, “adalah kumpulan resep sukses.” Itulah buku ini, kumpulan resep yang sakses dan teruji waktu untuk ngilangin kekhawatiran kita.    

Namun, izinkan saya memperingatkan Anda: Anda nggak akan nemuin sesuatu yang baru di dalamnya, tetapi Anda akan menemukan banyak hal yang tidak berlaku secara umum.  

Dan ketika sampai pada hal itu, Anda dan saya tidak perlu diberi tahu hal baru. Sebenarnya, kita udah cukup tahu untuk menjalani kehidupan yang sempurna. Masalah kita bukanlah ketidaktahuan, tetapi tidak bertindak.      

Tujuan tulisan ini adalah untuk menegaskan kembali, mengilustrasikan, merampingkan, mengondisikan udara, dan memuliakan banyak kebenaran kuno dan fundamental, lantas menendang Anda di tulang kering sehingga men-trigger Anda agar mau ngelakuin sesuatu supaya Anda segera menerapkannya. Anda nggak boleh membaca doang. Anda harus mengeksekusinya dengan tindakan.

All right, let’s go. Baiklah ayo.

Jika Anda tidak dapet kekuatan baru dan inspirasi anyar untuk menghentikan kekhawatiran dan menikmati hidup—maka lemparkan buku ini ke tempat sampah. It is no good for you.      

DALE CARNEGIE

Ingin Ramping dan Kurus? Baca tentang Diet Keto versus Puasa Intermittent

Siapakah yang lebih kuat dan powerful, apakah puasa atau LowCarb High Fat (LCHF) alias keto? Terkadang ini seperti berdebat manakah yang lebih bertenaga, Batman atau Superman? (Superman, dong). Tapi keduanya adalah superhero, dan fokus kedua rejimen superhero ini adalah sama-sama menurunkan insulin. Mengapa keduanya dinamakan diet superhero? Karena berfondasikan pada penyebab diabetes tipe 2 dan obesitas.

Anda perlu memahami etiologi obesitas (penyebab krusialnya) jika Anda ingin mengusirnya.

Selama beberapa dekade, kita telah salah berasumsi bahwa pemicu obesitas adalah kalori yang bombastis. Namun, studi overfeeding atau riset tentang makan dengan porsi jumbo dan underfeeding a.k.a memamahbiak hidangan porsi imut, dengan SANGAT JELAS telah membuktikan bahwa hipotesis ini invalid.

Jika kalori menyebabkan obesitas, maka overfeeding atau makan-dengan-kalori-melimpah seharusnya nyebabin obesitas, dong. Emang sih, ini yang terjadi, tapi hanya dalam jangka pendek. Dalam waktu jangka panjang, berat badan kembali normal. Makan dengan kalori super banyak tidak akan membuat anda gemuk selamanya. Underfeeding kalori di sisi lain, seharusnya melahirkan langsing yang permanen. Tapi ternyata tidak. Jika Anda ingin melangsing lantas menggunakan strategi ngurangin kalori, dijamin kegagalannya 99%.

Sumber Gambar

Menggunakan model obesitas yang lebih rasional, misal sebagai kelainan hormonal (terutama insulin, tapi juga kortisol) menyebabkan hipotesis bahwa meningkatkan insulin harus mengarah pada penambahan berat badan yang langgeng.

By: Dokter Jason Fung (Power: Fasting vs Low Carb – Fasting 26)

Jika insulin dipapas, maka berat badan pun meluruh. And guess what? Itu beneran sukses lho. Jadi, jika kita paham bahwa insulin yang ‘tumpah-tumpah’ nyebabin manusia menggelembung, maka pengobatannya cukup-jelas-dan-benar-benar-sangat-jelas-ultra-jelas-dari-yang-terjelas, iya nggak?

Anda nggak perlu meminimalisir kalori, meski ada beberapa pendapat tumpang tindih. Anda perlu memangkas insulin sehingga mencetuskan penurunan berat badan, voila! Anda pun meramping. Ada 2 metode yang bisa menyabet tujuan ini, yaitu:

  1. Puasa.
  2. Makanan tinggi lemak, rendah karbohidrat atau diet Keto.

Karbohidrat olahan merupakan stimulus terbrutal untuk insulin, sehingga menendang karbohidrat, berefek pada mengurangi insulin.

Protein, terutama protein hewani juga membikin insulin mengangkasa, sehingga menjaga protein-tetap-rendah-dan-tinggi-lemak adalah strategi lain untuk menjaga kadar insulin tetap minor. Puasa, dengan membatasi segalanya, juga membuat insulin anjlok. ‘Puasa’ lemak yaitu nggak makan apa-apa kecuali lemak murni, mungkin juga berakibat yang sekufu, tapi penelitian masih jarang. Jadi puasa lemak dianggap belum shahih. Jadi ‘kopi bulletproof pasti bisa memetik destinasi yang selevel, yang mana sanggup melengserkan insulin tanpa menyusutkan kalori, namun datanya belum ada yang pasti.

Sumber Gambar

Pertanyaan selanjutnya adalah, diet mana yang lebih baik? LCHF/ keto atau Puasa?

Perbandingan kekuatan menunjukkan bahwa puasa selalu jadi pemenang nyaris setiap saat. Dalam studi diet-bebas-karbohidrat atau keto versus puasa pada penderita diabetes tipe 2, Anda dapat melihat bahwa keto bisa berhasil dengan sangat ciamik a.k.a sukses dengan baik banget

Namun, jika kita membandingkan respon glukosa pada diet keto versus Diet Standar, Anda dapat melihat bahwa gula darah turun. Tapi puasa berhasil dengan sukses yang lebih luks. Jika Anda mencoba menerjunkan glukosa darah, nggak ada yang sanggup mengalahkan puasa. Lagi pula, Anda nggak mungkin bisa lebih rendah dari nol. Bahkan di saat itu pun, diet bebas karbohidrat memang sangat oke—ngasih Anda 71% manfaat puasa, tanpa puasa yang beneran.

Diet standar adalah:

  1. 55% karbohidrat.
  2. Protein 15%, dan
  3. Lemak 30%.

Tidak jauh dari apa yang direkomendasikan oleh ahli diet. Dan, sebenarnya. Anda bisa melihat betapa buruknya kontrol glukosa darah jika memakai konsep itu.

Diet keto atau bebas karbohidrat adalah:

  1. <3% karbohidrat (yaitu ketogenic atau ultra-low carb).
  2. Protein 15% (moderat) dan.
  3. Lemak 82%.

LCHF cukup banyak mengatakan itu semua. Kalori yang diberikan adalah 25 kkal/ kg (1750 kalori untuk pria dengan berat 70 kg) dalam 3 kali makan—ini sama antara diet standar dan bebas karbohidrat. Jadi manfaat pembatasan karbohidrat sangat signifikan pada glukosa darah. Sekali ini, jadi bukan karena kalori yang dilimitasi.

This is useful knowledge, considering how many ill informed doctors and dieticians keep saying ‘It’s all about the calories’. Ini adalah pengetahuan yang berfaedah, mengingat betapa banyak dokter dan ahli diet yang nggak tahu informasi ini, lantas selalu mengatakan, “ini semua tentang kalori.” Sebenarnya, dalam riset ini, hubungan dengan kalori adalah nihil alias nggak ada sama sekali.

Siapa saja yang masih percaya bahwa ‘Ini semua tentang kalori’ padahal model Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRaP) udah gagal tak henti-henti selama  50 tahun, nggak memikirkan hal-hal yang sulit banget atau sama sekali tidak begitu cerdas.

Jika strategi seperti CRaP gagal selama 50 tahun, kita harus mengubah strategi kita. Tidak perlu Albert Einstein mengatakan bahwa CRAP adalah definisi gila.

Grafik ini cukup serius. Melihat Standar Diet (disarankan ADA), Anda dapat melihat seberapa tinggi puncak glukosa tersebut. Anda mungkin bertanya pada diri sendiri, apakah orang-orang-berbudi-pekerti-luhur yang ada di ADA ini tahu bahwa makanan mereka, adalah agen yang ngirim si gula darah melonjak, tetapi, mengapa mereka malah merekomendasikannya? Apakah mereka mencoba membunuh kita? Sayangnya, jawabannya adalah ya. Mereka mencoba membunuh Anda. Emang sih, nggak sengaja, tapi ini karena ketidaktahuan mereka.

Tapi apa bebas karbohidrat saja nggak adekuat? Beneran nggak cukup nih? Saya memiliki banyak pasien yang membatasi karbohidrat mereka namun tetap memiliki gula darah yang jangkung.

Nah, pertanyaannya sekarang, gimana caranya supaya Anda bisa dapet lebih banyak power?

Maaf, Batman, sudah waktunya menelpon Superman. (Jangan repot-repot dengan Wonder Twins—mereka selalu nggak berguna. Nanti malah akan berubah menjadi lumba-lumba atau sejenisnya.)

Singkat kata, kita ini butuh puasa, Sob. Hasil penelitian bahkan lebih mengesankan saat Anda melihat kadar insulin. Hal ini sangat krusial, karena ternyata, kadar glukosa darah bukan pendorong esensial  pada penyakit obesitas dan diabetes. Insulin adalah “penjahat” nomor wahid. The entire strategy of weight loss hinges upon lowering insulin.

Bulletproof Coffee atau Kopi Bulletproof

Melihat total area di bawah kurva, Anda dapat melihat bahwa diet bebas karbohidrat dapat mengurangi insulin sekitar 50%, tetapi Anda bisa menambah 50% lagi dengan berpuasa. Itu double power. This makes sense, of course.

Diet bebas karbohidrat masih mengandung beberapa protein yang akan melambungkan insulin. Satu-satunya cara untuk ngedapetin yang super rendah lagi adalah dengan mengonsumsi lemak 100%—yang mayoritas merupakan konstruksi artifisial. Artinya, kita umumnya nggak makan minyak zaitun murni sebagai makanan atau melahap lemak babi murni.

Bulletproof coffee atau Kopi Bulletproof tentu saja merupakan ‘hack’ yang keren banget, tapi tidak pernah diuji oleh ribuan tahun sejarah manusia dan jutaan orang. Puasa telah bertahan dalam ujian waktu. Jadi, bagaimana? Semakin kita sering makan sampah olahan dan ultra olahan dan berpura-pura itu adalah makanan, artinya kita makin perlu berpuasa.

Jika Anda makan makanan cepat saji dalam jumlah gigantis (makanan yang sangat diolah akan mengirim insulin di level tinggi banget), maka Anda sangat-butuh-perlu-sekali berpuasa (nantinya, insulin tersebut turun kembali). Ini hanyalah metode tercepat dan terefisien untuk memangkas insulin.

Untungnya, ini juga tidak sesulit yang diyakini kebanyakan orang.

Bagaimana dengan glukagon? Ingat bahwa glukagon adalah kebalikan dari insulin. Salah satu peran fisiologis insulin utama adalah menekan glukagon. Dr Roger Unger melakukan banyak hal untuk mengeksplorasi peran biologis glukagon dan sering menganggapnya sebagai hal yang paling vital. Namun, dalam penelitian ini, sama sekali tidak memiliki relevansi klinis. Dalam berurusan dengan pasien, glukagon juga memainkan peran sedikit atau nggak sama sekali.

Jadi gini, ini saya akan mencoba jelaskan. Insulin nyebabin kenaikan berat badan—sehingga pemberian insulin melahirkan penambahan berat badan. Apakah mengurangi glukagon memicu gemuk? Tidak juga. Apakah glukagon yang ditambah menyebabkan meramping? Nggak.

Sumber Gambar

Tentu, glukagon memainkan peran utama dalam hati tikus, tapi saya nggak terlalu peduli. Saya acuh dengan manusia. Intinya riset ini adalah untuk memperkuat apa yang udah kita ketahui sih.

Insulin adalah promotor obesitas yang fundamental banget (tapi bukan satu-satunya). Oleh karena itu, bagi kebanyakan orang, memotong insulin adalah metode perfecto untuk ngobatin kegemukan. Diet bebas karbohidrat adalah taktik ampuh untuk mengurangi insulin. Tapi jika itu tidak berhasil, maka puasa intermiten menawarkan strategi yang lebih setrong berkali-kali lipat.

Pada diabetes tipe 2, Anda bisa memotong gula darah sebesar 50-70% dengan diet keto. Dan Anda bisa meluak sekitar 30% sisanya dengan puasa. Jadi, jika kita udah tahu gimana menyurutkan gula darah pada diabetes tipe 2 dengan trik diet—lantas mengapa kita masih juga butuh obat?

Inilah jawabannya, tentu saja Anda nggak butuh obat lagi dong. Obat diabetes tipe 2 mulai saat ini bisa Anda singkirkan. Karena diabetes Tipe 2 adalah penyakit yang sepenuhnya bisa dijungkirbalikkan.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Juga Solusi untuk Panjang Umur, dong

Semangat pagi! Apa kabar? Saya Sarah Sastrodiryo, pemilik blog ini. Saya bercerita sedikit personal, karena saya yakin, mungkin ini bisa bermanfaat untuk kalian. Ceritanya begini, saat ibu saya meninggal karena Diabetes Tipe 2, saya cukup terpukul. Seharusnya saya bisa berbuat sesuatu, supaya penyakit ibu bisa diringankan. Berdasarkan kegeraman saya itu, saya menjadi terobsesi dengan penyakit ini, dan mencari sedetail-detailnya. Pada akhirnya, saya malah terdampar pada sebuah fakta, bahwa semua itu terkait dengan apa yang kita makan.

Impian semua orang ingin sehat dan tampak lebih tampan juga cantik. Berapa pun usianya, mereka ingin selalu terlihat awet muda. Kita boleh saja berusia 60 tahun, tetapi, performa tubuh kita inginnya tetap 20 tahun dong. Fungsi tubuh di dalamnya juga tetap prima seolah-olah masih berusia 17 tahun. Cihuynya, ini bukanlah utopia bukan pula habu—hayalan babu.

Kali ini saya akan menerjemahkan article ahli ginjal dari Kanada yang juga guru diet, master puasa, jago di bidang diabetes tipe 2, tentang longevity atau fisiologi dan organ tubuh tetap bisa bekerja dengan oke meski kita menua. Tua tetapi tidak sakit-sakitan. Tua tapi masih tetap energik dan bertenaga kuda. Silakan dinikmati.

Dokter Jason Fung (The Longevity Solution)

Diet telah diakui sebagai cornerstone atau landasan untuk kesehatan dan wellness, dan ini sudah sejak zaman Hippocrates. Mengurangi gula, menghindari ngemil camilan, makan makanan natural yang belum-diolah-terlalu-brutal, bisa membuat berat badan terkontrol dan juga membikin metabolisme tubuh lebih apik.

Tetapi, healthy aging atau usia yang sudah tua dan tetap sehat a.k.a nggak sakit-sakitan, tidak hanya dijamin oleh aspek pola makan.

Longevity atau panjang umur bukan hanya tentang menjalani umur panjang. Di dunia ini, nggak ada satu pun yang mau hidup dengan penyakit kronik dan bentar-bentar minum obat. Rentang kesehatan yang ditingkatkan, merupakan salah satu fokus utama untuk longevity.

Ini lebih tentang kualitas hidup, bukan panjang total usianya sampe angka berapa.

Itu adalah topik yang memikat, jadi saya telah bekerja sama dengan Dr. James DiNicolantonio mengenalkan Anda sebuah buku anyar, The Longevity Solution. Dalam buku ini, saya bukan hanya membahas peran puasa dan umur panjang, tetapi ada setumpuk hal menarik yang jauh lebih banyak tersedia dari buku ini.

Kami membahas teori-teori ilmiah di balik penuaan.

Sementara usia kronologis adalah sungai, bergerak hanya dalam satu arah, di sisi lain, menjadi sepuh secara fisiologis tidak berdasarkan tahun. Maksudnya begini, Anda berusia 30 tahun, tapi fisiologis Anda bisa aja baru 20 tahun. Beberapa orang menua lebih anggun daripada orang lain dan ‘praktik terbaik’ inilah yang menjadi fokus buku ini.

Kami membahas teori-teori penuaan, dan paradigma yang mendominasi buku ini adalah persaingan antara pertumbuhan versus penuaan.

Emang sih, tubuh kita punya ‘program’ pertumbuhan yang dominan banget selama tahun-tahun awal lahir hingga awal dewasa. Kemudian, tubuh kita berhenti tumbuh. Kita mencapai tingkat dewasa kita, dan nggak mungkin tumbuh lagi.

Faktor pertumbuhan memainkan peran superior dalam hal ini. Dan sensor nutrisi insulin, mTOR dan AMPK juga terkait secara intim dengan pertumbuhan. Tetapi setelah dewasa, secara fundamental, pertumbuhan bertentangan dengan umur panjang.

Sama seperti mesin mobil, jika Anda memutarnya berkali-kali, ia akan berjalan lebih banter, tetapi juga akan terbakar lebih cepat. Jadi dengan ‘program’ yang sama, yang mana selama masa muda sungguh optimal, nggak lagi kondusif jika Anda ingin menua dengan anggun.

Jika kita ingin memperlambat pertumbuhan, maka kita ingin mengurangi pensinyalan nutrisi juga. Insulin dan mTOR, adalah sensor nutrisi yang elementer, konsekuensinya pertumbuhan melonjak.

Dengan mengurangi karbohidrat, kita dapat menurunkan insulin dan umur panjang pun bisa ditambah. Namun, ada pertanyaan tricky tentang asupan protein optimal. Terlalu sedikit protein jelas buruk, karena tubuh kita bergantung banget padanya, supaya bisa mempertahankan fungsi. Tetapi pertanyaan yang paling kontroversial adalah, “apakah terlalu banyak protein itu jahat?”

Ini adalah pertanyaan yang sulit, dan membutuhkan pendekatan dengan banyak nuansa.

Sampai beberapa tahun terakhir, praktisnya, dianggap mustahil untuk makan terlalu banyak protein. Diet rendah karbohidrat seperti diet Atkins merekomendasikan asupan karbohidrat rendah, tetapi tidak membuat saran khusus tentang protein atau lemak.

Ketika dikombinasikan dengan rendah lemak mania, kami melihat beberapa orang mengonsumsi makanan karbohidrat dan lemak yang minimalis—yang mana hanya menyisakan protein dalam makanan.

Ini ternyata sangat sulit untuk diikuti. Itu sangat ketat, dan pada dasarnya hanya boleh makan putih telur, salad, dan kalkun sepanjang hari. Perbedaan besar dari diet rendah karbohidrat gaya lama dan diet ketogenik atau keto yang populer adalah bahwa diet keto memungkinkan jumlah lemak yang banyak, dan menyarankan protein makanan porsi moderat. Makan protein yang melimpah membuat seseorang tidak ketosis, ditambah jika Anda juga makan terus-menerus. Ingat, selama waktu ini, ada keyakinan kuat bahwa kita harus makan 6-10 kali per hari, dipromosikan oleh banyak dokter based on no evidence whatsoever, berdasarkan pada sesuatu yangnggak ada bukti sama sekali.

Makan dengan porsi melimpah, membuat ketosis lemak jauh lebih tinggi, dan bagi sebagian orang, itu sangat sukses.

Ada segepok nuansa lain dalam asupan protein juga. Ada gap akbar pada protein hewani versus nabati. Generally, karena kita adalah hewan, protein-protein itu lebih dekat dengan apa yang kita butuhkan, dan memiliki nilai biologis yang jauh lebih jangkung.

Protein hewani jauh lebih bergizi, dan alasan mengapa masyarakat tradisional menghabiskan begitu banyak upaya untuk berburu hewan, meskipun bagi sebagian besar sumber makanan sentral mereka adalah tanaman.

Nilai gizi yang lebih adiluhung ini kece jika orang tersebut ngalamin mal nutrisi atau kekurangan gizi. Sayangnya, pada zaman now, over gizi bertendensi menjadi problematika utama di dunia. Karena itu, nilai gizi yang rafi nggak selalu berfaedah.

Protein, khususnya asam amino adalah stimulan paling kuat bagi mTOR, sensor nutrisi yang dikenal sebagai target mekanis rapamycin. Sinyal pro-pertumbuhan ini telah dikaitkan dengan setumpuk penyakit penuaan dan protein eksesif. Jika Anda tertarik pada diskusi yang lebih mendalam tentang pertanyaan sulit tentang asupan protein optimal ini, beli buku The Longevity Solution.