Mau Kurus? Cermati Vitamin dan Suplemen Kalsium


Sumber Gambar

Aloha, jumpa lagi dengan Sarah. Apa kabar kalian? Jujur, saya sedang pusing. Saya puyeng menjelaskan kepada orang tua saya bahwa susu rendah lemak tinggi kalsium dan suplemen vitamin itu tidak perlu. Jika ingin lebih sehat minumlah susu tinggi lemak, lebih baik lagi yang dibeli langsung di peternakan. Lantas mengenai vitamin, makan saja sayuran dan buah-buahan dengan porsi sewajarnya.

Mereka adalah orang-orang yang termakan iklan dan tergiur dengan kemasan glosi warna-warni di supermarket. Membumi hanguskan televisi agar mereka tidak terbius iklan bukan hal yang masuk akal. Jadi? Ya, pelan-pelan diberi pengertian.

Ya sudahlah ya, sebaiknya saya kemas kepuyengan saya ke dalam peti kemudian saya jejalkan saja si doi ke inti bumi paling dalam, sambil berharap, seiring berjalannya waktu semua bisa diselesaikan. Btw, di bawah ini dokter Jason akan menjelaskan mengenai bahaya suplemen vitamin dan kalsium.

Cekidot.

By: Dokter Jason Fung

Salah satu pertanyaan yang sangat umum adalah, “apakah saya menyarankan suatu suplemen?” Saya merekomendasikan nyaris tidak ada. Oke, untuk puasa sangat panjang, saya merekomendasikan multivitamin umum, walaupun, manfaat dari multivitamin belum ada buktinya. Faktanya, hampir semua suplemen vitamin telah terbukti tidak berguna. Dalam beberapa kasus, seperti vitamin B, selain tak ada manfaatnya juga cukup ‘berbahaya’. Semua vitamin mengalami masa-masa populer dan masa anyep. Ini lebih buruk dari pada masa SMA. Satu menit yang lalu, Anda adalah anak yang paling populer di kelas, tetapi semenit kemudian Anda adalah bahan tertawaan.

Pada tahun 1960-an, rajanya vitamin adalah vitamin C. Linus Pauling adalah satu-satunya orang yang telah memenangkan dua hadiah Nobel yang tak terbendung—nobel yang pertama adalah untuk kimia dan yang kedua untuk perdamaian. Dia memiliki keyakinan teguh bahwa banyak masalah nutrisi modern dapat disembuhkan oleh vitamin C dengan dosis mega. Dia menyarankan agar kita mengonsumsi vitamin C, karena dengan dosis tinggi, si doi dapat mencegah atau mengobati demam, flu dan bahkan kanker. Dia bahkan mensugestikan bahwa “75% dari semua kanker dapat dicegah dan disembuhkan HANYA oleh vitamin C.” Itu, tentu saja merupakan optimis tingkat langit ke tujuh. Banyak penelitian yang telah dilakukan selama beberapa dekade berikutnya, yang sialnya, secara jelas membuktikan bahwa sebagian besar klaim vitamin C ini hanya harapan palsu. Ternyata satu-satunya penyakit yang dapat disembuhkan oleh vitamin C hanyalah penyakit kudis. Since I don’t treat many 15th century pirates, ini tidak terlalu berguna bagi saya.

Begitu suplementasi vitamin C terbukti tidak berguna untuk mencegah penyakit, harapan besar berikutnya dilabuhkan kepada vitamin E. Klaim mulia yang utama adalah sebagai ‘antioksidan’. Seharusnya, vitamin E akan menetralkan semua radikal bebas nyebelin yang menyebabkan kerusakan pada sistem vaskular kita. Fantasi mereka, bahwa dengan menelan vitamin E akan mencegah penyakit jantung. Kecuali, tentu saja, itu hanya sekedar khayalan. Uji coba HOPE, adalah percobaan yang paling diingat sampai dengan saat ini sebagai salah satu uji coba untuk menetapkan penggunaan kelas pengobatan ACEI dalam perlindungan kardiovaskular. Tetapi, uji coba terkontrol secara acak ini juga menguji apakah vitamin E dapat mencegah penyakit. Sayangnya, jawabannya adalah tidak. Suplemen vitamin E tidak mencegah penyakit jantung atau stroke. Memang, lebih banyak pasien dalam kelompok vitamin ini telah meninggal, mengalami serangan jantung dan stroke meski hal ini tidak signifikan secara statistik. Vitamin C adalah a bust, begitu juga vitamin E. Tapi daftar-rasa-malu tidak akan berhenti di situ.

Harapan besar berikutnya ditenggerkan kepada vitamin B. Pada awal tahun 2000an, orang berlomba-lomba melakukan tes darah yang disebut homosistein. Jika tingkat homosistein Anda tinggi, korelasinya dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Vitamin B bisa menurunkan kadar homosistein, tapi apakah ini bisa diterjemahkan ke dalam hasil kesehatan yang lebih baik? Jawabannya masih merupakan misteri hingga kini. Beberapa percobaan berskala besar diluncurkan untuk memenuhi harapan ini. Salah satunya adalah uji coba NORVIT, yang diterbitkan pada tahun 2006 di New England Journal of Medicine, dan ini adalah jurnal yang bergengsi lho.

Berita itu menakjubkan. Menakjubkan busuknya. Dibandingkan dengan mengkonsumsi plasebo (pil gula), suplementasi dengan folat, vitamin B6 dan B12 membuat orang lebih banyak terkena serangan jantung dan stroke. Beneran lho ini, bukan dagelan. Kelompok yang mengonsumsi vitamin bukannya mendapatkan hasil yang lebih baik, namun malah semakin buruk. Tapi kabar super buruknya akan datang sekejap lagi, if you can believe it. Pada tahun 2009, para periset mempelajari dua uji-coba terkontrol secara acak terhadap suplementasi vitamin B dan menemukan bahwa selain meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, risiko kanker meningkat sebesar 21%! Aw snap! Risiko kematian akibat kanker meningkat sebesar 38%. Memakan vitamin bedebah-tak-ada-guna adalah satu masalah kecil, Anda tidak dirugikan apa-apa, namun, mengonsumsi vitamin yang bisa membunuh Anda adalah ratunya masalah.

Penggunaan suplemen vitamin B untuk penyakit ginjal juga sangat suram. Penelitian DIVINe mempelajari dua kelompok pasien acak dengan penyakit ginjal kronis (CKD) terhadap suplemen plasebo atau vitamin B dengan harapan dapat memperlambat perkembangan penyakit ginjal. Tingkat homosistein tinggi pada CKD dan vitaminnya mampu menurunkan kadar ini. Tapi apakah mereka membuat perbedaan nyata? Tentu saja. Penggunaan vitamin B memperburuk keadaan. Jauh lebih parah lagi. Ini melipatgandakan keadaan yang sudah busuk menjadi super duper menyedihkan. Another nail in the coffin of the homocysteine story and vitamin B supplements. 10 tahun penelitian telah terbuang sia-sia.

Bagian ironis dari pengetahuan yang cacat ini adalah bahwa kita masih membayar harganya. Enriched wheat flour/ tepung terigu yang diperkaya, misalnya, adalah gandum dengan segala kebaikan alaminya yang telah diekstraksi dan kemudian, mereka telah mengganti beberapa vitamin tertentu. Jadi hampir semua vitamin dibuang, dan diganti dengan zat besi dan vitamin B dosis tinggi. Jadi, apa yang kita dapatkan adalah kelebihan vitamin yang gigantis. Ini mungkin cukup berbahaya. Memang, mayoritas orang khawatir kekurangan nutrisi seperti menderita penyakit beri beri, anemia (defisiensi besi), dan lain-lain. Masalahnya, tentu saja, sekarang kita memiliki data yang menunjukkan bahwa memberi dosis besar vitamin B dapat meningkatkan tingkat kanker dan penyakit kardiovaskular lainnya.

Tapi mengapa suplemen vitamin B bisa berakibat buruk? Bagaimanapun, suplemen folat telah mengurangi kejadian cacat saraf pada kehamilan secara signifikan. Seperti segala sesuatu yang lain dalam dunia kedokteran, ini adalah masalah konteks. Vitamin B dibutuhkan untuk progres sel. Selama masa pertumbuhan, seperti kehamilan dan masa kanak-kanak, ini adalah hal yang baik.
Masalahnya bertolak belakang dengan masa dewasa. Pertumbuhan yang berlebihan TIDAK baik. Sel yang paling cepat berkembang adalah sel kanker, jadi mereka cinta, cinta, cinta sekali vitamin B ekstra. Ini tidak begitu baik untuk kita. Bahkan untuk sel biasa, pertumbuhan yang di ambang batas tidak baik, karena mengarah ke jaringan parut dan fibrosis. Ini menjelaskan mengapa saat ini serangan jantung, stroke dan penyakit ginjal menjamur di mana-mana. Penyakit kardiovaskular disebabkan oleh aterosklerosis, pengerasan arteri dan fibrosis berlebihan mungkin membuatnya lebih buruk.

Suplemen kalsium, tentu saja sudah direkomendasikan oleh dokter selama puluhan tahun sebagai strategi pencegahan osteoporosis. Saya menjelaskan semuanya dalam kuliah saya dari beberapa tahun yang lalu “The Calcium Story“. Hampir setiap dokter telah merekomendasikan suplemen kalsium untuk mencegah osteoporosis.

Mengapa? Alasan yang menurut mereka rasional adalah bahwa tulang mengandung banyak kalsium sehingga makan kalsium seharusnya bisa membuat tulang manusia lebih kuat. Ini tentu saja, alasan yang mungkin digunakan siswa kelas tiga SD, tapi lupakan tentang logika anjlok ini. Perhatikan kalimat berikut ini, mengonsumsi otak membuat kita lebih cerdas. Makan ginjal memperbaiki fungsi ginjal. Betul? Tapi peduli setan siapa yang telah menyebarkan kebodohan masal ini, masalahnya, dan ini masalah yang super besar, penalaran ngawur ini telah berlangsung sekitar 50 tahun.

Kita berpura-pura bahwa dunia kedokteran berbasis bukti. Sama seperti yang telah kita diskusikan mengenai kalori, nampaknya bukti itu tidak diperlukan untuk status quo, tapi hanya untuk ‘sudut pandang alternatif’. Mereka akhirnya melakukan percobaan acak-terkontrol-yang-lebih-tepat mengenai suplemen kalsium dan menerbitkannya di tahun 2006. The Women’s Health mengelompokkan lebih dari 36.000 wanita pada kelompok-kalsium dan grup-vitamin-D (plasebo). Kemudian mengikuti mereka selama lebih dari 7 tahun dan memantau mereka, menyorot masalah utama tentang patah tulang pinggul. Apakah dengan mengkonsumsi kalsium setiap hari selama 7 tahun membuat wanita mempunyai tulang super kuat yang tidak pernah retak?

Hardly. Tidak ada perbedaan total fraktur, patah tulang pinggul, vertebra atau patah pergelangan tangan. Dengan kata lain, suplemen kalsium sama sekali tidak berguna. Sebenarnya, itu tidak benar. Ada perbedaan yang signifikan. Orang-orang yang mengonsumsi kalsium memiliki batu ginjal lebih banyak. Jadi, mereka justru dirugikan dengan mengonsumsi pil ini. Bagus. Apakah wanita-wanita ini setia meminum pil setiap hari selama 7 tahun terakhir?


Mau Kurus? Kurangi ngemil macem gini, Seus.

Mengapa suplemen ini tidak berguna dan sangat berbahaya? Ini sangat sederhana. Anda harus memahami akar penyebab (etiologi) penyakit untuk meresepkan pengobatan yang rasional. Penyakit yang kita hadapi saat ini—obesitas, diabetes tipe 2, osteoporosis, kanker, penyakit jantung dll. BUKAN PENYAKIT KARENA DEFISIENSI VITAMIN. Jika ini bukan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin, mengapa kita mengharapkan suplementasi untuk membuat perbedaan? Mari kita lihat lebih seksama dan dengan sejelas-jelasnya. Jika Anda terkena penyakit kekurangan vitamin (yaitu kekurangan vitamin B12) maka ya, Anda harus minum vitamin. Jika Anda mengalami obesitas atau memiliki penyakit jantung (yaitu BUKAN PENYAKIT KEKURANGAN VITAMIN) maka vitamin-vitamin itu tidak bermanfaat untuk Anda.

Analoginya begini. Misalkan mobil kita mogok karena mesinnya meledak. Kemudian seseorang berkata “Oh, hei, dulu, mobil gue modar karena kehabisan bensin. Coba ente isi bensin dulu dah, siapa tau nyala.” Tapi, ternyata itu tidak berhasil. Mengapa? Karena Anda harus mencari akar masalahnya terlebih dahulu, baru dicari jalan keluarnya. Problematikanya tadi adalah mesinnya meledak. Jadi apakah dengan mengisi bensin bisa menyelesaikan masalah?


Jualan Terus, Bung. Sah-sah aja sih sebenernya, cuma kocak aja.

Jadi, jika kita mengobati penyakit kekurangan vitamin (scurvy, beri beri, osteomalacia) maka meminum vitamin sangat logis dan efektif. Jika kita mengobati obesitas, maka mengunyah vitamin sama sekali tidak ada gunanya. Saya tidak khawatir dengan gizi hidangan Anda, karena saya tidak mengobati penyakit kekurangan gizi. Namun, orang-orang di luar sana mencoba menjual suplemen untuk melangsing yang laris manis tanjung kimpul (green coffee, raspberry ketones, PGX, fibre, Sensa, dll)

Jika Anda mengajukan pertanyaan “Apa yang bisa saya makan/ borong/ hajar bleh supaya saya bisa melangsing?” Maka Anda telah mengajukan pertanyaan yang kurang tepat dan bisa jadi salah alamat. Pertanyaan yang perlu Anda tanyakan adalah “Apa yang TIDAK BOLEH SAYA makan/ borong / hajar bleh untuk membantu saya menurunkan berat badan?” Uang yang harus dikeluarkan untuk menjawab pertanyaan terakhir adalah jumlah yang sungguh imut untuk menjawab pertanyaan Anda. Melangsing itu murah, nyaris tanpa biaya.

Mau Kurus? Pahami Karbohidrat dan Glycemic Indeks yang bisa Jadi Keliru


Sumber Gambar

Bagi saya, sebetulnya masalah makanan, gaya hidup, filosopi hidup, semuanya saling berkaitan erat. Maksud saya begini, pada saat kita mengerti apa yang menjadi dasar semuanya, segala hal menjadi lebih mudah diselesaikan. Katakanlah, kamu sangat ingin mengunyah “makanan sampah”, kamu tidak bisa menahan diri atas desakan keinginan yang meletup-letup di otakmu itu, lantas kamu merasa bersalah setelahnya, kemudian kamu menyiksa diri. Di lain waktu kamu akan mengulangi lagi lingkaran setan itu.

Lantas, gimana dong, Sarah?

Bagi saya, semua makanan boleh saja dimakan, namun sebelum memasukkan ke dalam mulut, kita paham betul dengan konsekuensinya dan sanggup menanggung risikonya. Btw, kenapa ada yang dikategorikan sebagai ‘makanan sampah?’ atau ‘makanan mulia’? Semuanya jelas dasarnya. Di bawah ini, asisten dokter Jason Fung akan menjelaskan, mengapa ada beberapa makanan yang dikategorikan sebagai makanan sumber ‘dosa’, atau sumber ‘pahala’.

Kembali lagi ke opini pribadi, saya sebetulnya tidak sepakat bahwa kita harus menghapus bersih makanan yang memicu melonjaknya insulin selama-lamanya, karena mungkin akan membuat kita malah menjadi lebay menanggapinya.

Namun, jika kita telah mengerti mengapa jenis makanan tertentu harus disapu bersih, mengapa boleh-boleh aja dikonsumsi asal tidak melebihi ambang batas, maka semuanya menjadi lebih bisa dipertanggungjawabkan dan nggak nyisain rasa bersalah.

Di bawah ini, akan ada penjelasan mengapa ada beberapa klinik diabetes yang telah salah menerapkan metode karena tidak mengerti benar tentang Glycemic Indeks.

by: Megan Ramos

Orang-orang Kanada mengkonsumsi sekitar 43 pon gula tambahan per orang per tahun. Itu adalah 43 pon gula yang ditambahkan ke makanan kita melalui proses memasak. Ini tidak termasuk gula alami yang ditelan dari buah, sayuran dan susu. Itu adalah keseluruhan gula dan menghasilkan 11% asupan kalori harian kita.

Gula adalah struktur kimia yang sangat sederhana dengan nama kimia diakhiri dengan “-ose”. Beberapa gula yang umum adalah glukosa, fruktosa dan laktosa. Gula meja di dapur Anda disebut sukrosa. Sukrosa terdiri dari bagian yang sama dari molekul glukosa dan fruktosa. Ketika dokter Anda membahas kadar gula darah dengan Anda, dia merujuk pada kadar glukosa darah Anda.


Sumber Gambar

TINGKAT PENCERNAAN KARBOHIDRAT SEDERHANA VS KARBOHIDRAT KOMPLEKS
Ada dua kelas utama karbohidrat yang akan kita fokuskan: karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Karbohidrat sederhana, seperti gula pasir atau tepung gandum yang sangat halus, terdiri dari satu dari dua molekul gula sederhana yang terikat satu sama lain. Gula yang kompleks, seperti buah dan sayuran, terdiri dari rantai panjang dari puluhan ribu molekul gula sederhana. Selama proses pencernaan, rantai gula panjang ini dipecah menjadi komponen gula sederhana mereka, namun dibutuhkan beberapa saat untuk melakukannya. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencerna karbohidrat, semakin lambat penyerapan komponen gula sederhana mereka ke dalam aliran darah.

INDEKS GLYCEMIC
Indeks glikemik (indeks GI) pada dasarnya mengukur tingkat di mana karbohidrat berbeda dicerna dan diubah menjadi kadar glukosa darah. Periset mengukur tingkat pencernaan larutan glukosa saja, dan memberinya nilai numerik 100. Oleh karena itu, indeks GI adalah perbandingan tingkat pencernaan berbagai karbohidrat dengan respon dari larutan glukosa saja. Indeks GI mungkin memiliki pengaruh paling signifikan terhadap pengelolaan klinis diabetes. Pasien diminta makan lebih banyak makanan dengan indeks GI rendah (kurang dari 55), makan makanan dalam jumlah sedang dengan indeks GI medium (56-59) dan kurangi makanan dengan indeks GI tinggi (70+).


Sumber Gambar

EFEK BERBAHAYA DARI INDEKS GLYCEMIC
1. Mengabaikan Efek Sirup Jagung Mengandung Fruktosa dan Fruktosa Tinggi.
Indeks GI mengabaikan efek sirup jagung fruktosa dan fruktosa tinggi (HFCS). Sebelumnya kita membahas bagaimana sukrosa (gula pasir) terdiri dari setengah fruktosa dan setengah molekul glukosa. Fruktosa hanya bisa dimetabolisme di hati. Akibatnya, fruktosa diangkut langsung ke hati melalui usus kecil, dan memiliki sedikit efek pada kadar glukosa darah. Oleh karena itu, hanya bagian glukosa dari molekul sukrosa yang tercermin dalam indeks GI. Inilah sebabnya indeks glikemik semangka 71 dan bar Snickers hanya 51.

2. Selalu Berdasarkan Patokan 50 Gram
Indeks GI selalu didasarkan pada konsumsi 50 gram. Akibatnya, jumlahnya menjadi tidak masuk akal. Maksud saya begini. Untuk mendapatkan efek wortel setara dengan yang ditemukan di indeks GI, Anda harus makan sekitar selusin wortel berukuran besar dan dimakan sekaligus, sekali makan. Jumlah wortelnya akan banyak sekali! Siapa yang makan banyak wortel sekaligus? Selain itu, indeks GI gagal mempertimbangkan jumlah serat, air, vitamin dan mineral dalam wortel. Sebenarnya ada sedikit gula dalam sebuah wortel, dan bahkan kurang jika Anda memasaknya.

3. Kombinasi Makanan yang Anda Makan
Makanan yang berbeda dapat sangat mempengaruhi respons glikemik makanan lain jika dikonsumsi bersamaan. Serat, yang merupakan karbohidrat yang tidak dapat dicerna, dapat memperlambat laju pencernaan makanan lain yang telah Anda konsumsi bersamaan dengan seratnya. A grain seperti quinoa bisa menyebabkan lonjakan besar kadar gula darah, namun saat dikonsumsi dengan sayuran seperti brokoli, wortel, paprika merah, serat dalam sayuran ini berperan sebagai penyangga dan memperlambat pencernaan makanan. Akibatnya, karbohidrat dari quinoa tidak akan menyebabkan kenaikan kadar gula darah secara dramatis jika dibandingkan hanya memakan quinoa saja.


Sumber Gambar

4. Tidak Mempertimbangkan Makanan yang Memiliki Efek Glikemik Tertunda
Indeks GI hanya berdasarkan jangka waktu 3 jam. Namun, makanan tertentu, seperti gula alkohol, memiliki efek glikemik yang tertunda. Mereka mempengaruhi kadar glukosa darah lebih lama setelah dikonsumsi.

Index Makanan Diet di Klinik Kami
Makanan yang Harus Dihindari Seumur Hidup (hampir 0% dari asupan makanan harian Anda)
Makanan olahan, dimurnikan dan dimodifikasi secara genetik

• Makanan olahan yang mengandung gandum atau tepung terigu, termasuk: roti, bagel, sereal sarapan, pasta, biskuit, dan bir
• Gula dan pemanis buatan
• Gula atau minuman manis, termasuk: soda, soda diet, dan jus buah
• Nasi putih
• Jagung dan produk yang mengandung kedelai
• Keju (keju olahan saja)
• Lunch meats
• Margarin
• Minyak olahan, termasuk: minyak sayur dan jagung

Makanan yang boleh dimakan namun jangan terlalu sering (<10% asupan makanan harian Anda)
Umbi-umbian: kentang, talas, buah bit
Biji-bijian yang tidak diproses: biji gandum, barley, soba, spelt, rye, nasi hitam.


Sumber Gambar

Makanan yang boleh dimakan setiap hari (> 90% asupan makanan Anda)
1. Sayuran (tumbuh di atas tanah)—tinggi seratnya!
2. Kacang polong dan kacang tanah—tinggi seratnya!
3. Buah—serat tinggi apabila dimakan dengan kulit! Yaitu: berries, ceri, apel, buah pir, alpukat—tinggi lemak alami!
4. Kacang-kacangan, Nut Butters and Seeds—tinggi lemak alami! Almond, kenari, kacang pinus, dan kacang Brazil termasuk yang paling sehat. Kacang tanah sesungguhnya adalah legumes bukan kacang, tapi mereka merupakan sumber lemak alami dan protein. Nut butters harus organik.
5. Daging, unggas dan ikan—tinggi lemak alami!
6. Telur—tinggi lemak alami!
7. Mentega—tinggi lemak alami!
8. Minyak yang tidak diolah, termasuk: minyak kelapa, minyak zaitun dan minyak alpukat – tinggi lemak alami!

Ingin Kurus? Baca tentang Kemiskinan dan Kegemukan


Sumber Gambar

Saya sering melihat mamah-papah-muda-masa-kini tampak bangga menggendong batita-balita mereka yang obesitas. Pipi gembil, perut bulat, kulit terang, sepertinya merupakan simbol kesuksesan. Tidak sedikit yang menjadikan bocah-bocah itu sebagai model instagram. Gemuk vs Tajir Melintir sepertinya sudah menjadi kekeliruan yang kebablasan. Jangan salah, saya pun melawan permasalahan yang sama, ibu tiri saya beranggapan bahwa gemuk, montok itu penanda hidup senang. Sungguh luar biasa sulit untuk meluruskan hal yang sudah terlanjur bengkok menahun ini. Dia menyayangkan saya yang sengaja membuat perut saya lebih datar dari sebelumnya. Untungnya saya tinggal sendiri, sehingga cerewetnya ibu saya bisa saya hindari (kecuali lebaran). Ha ha ha.

Padahal untuk melangsing itu butuh perjuangan yang sangat berat. Sebaliknya, sangat mudah untuk menggemuk dan menjadikan makanan sebagai pelampiasan alias food therapy kita. Dan merupakan jalan berliku dan terjal serta menukik tajam untuk memberi pengertian pada si tubuh saat dia mengidam sesuatu yang tidak sehat terlalu sering (sesekali nggak papa) seperti makanan olahan bergula tinggi atau tepung-tepungan.

Tapi ya sudahlah ya, ibu tiri saya sudah terlalu sepuh untuk diedukasi, jadi mari kita mengedukasi diri kita sendiri dengan membaca penjelasan dokter dari Kanada ini. Sebetulnya, ini merupakan pengamatan tentang Amerika, bukan di Indonesia, tetapi benang merahnya tetap sama kok.

By: Dokter Jason Fung.

Kemiskinan berkorelasi sangat erat dengan obesitas seperti yang dapat kita lihat dalam peta obesitas di Amerika Serikat. Peningkatan prevalensi obesitas di seluruh Amerika Serikat juga segera terlihat. Meskipun ada banyak kontribusi genetika terhadap obesitas, perubahan ini telah terjadi dalam satu generasi tunggal. Oleh karena itu, kenaikan obesitas pada tingkat populasi harusnya bukan karena faktor genetika saja. Hal ini juga cukup penting bahwa obesitas saat ini di Amerika jauh lebih banyak dibandingkan tahun 1990.

Berikut adalah peta pendapatan rata-rata di Amerika Serikat. Meskipun korelasinya tidak sempurna, negara bagian dengan pendapatan median terendah cenderung memiliki obesitas paling banyak.

Dengan pendapatan rata-rata tahun 2012 sebesar $ 36,850, Mississippi adalah negara termiskin di Amerika Serikat. Mereka juga memiliki tingkat obesitas tertinggi sebesar 34,4%.

Pengurangan Kalori sebagai teori Primer mengatakan bahwa obesitas adalah masalah makan lebih banyak dan bergerak lebih sedikit. Sebuah spin-off ini adalah teori Food Reward. Teori ini mendalilkan bahwa kualitas makanan yang memuaskan yang membuat kita makan berlebihan.

Tapi orang kaya mampu membeli lebih banyak makanan dan bisa lebih memuaskan. Orang miskin hanya mampu memberi makanan yang murah. Orang kaya bisa mendapatkan makanan yang jauh lebih enak, tidak peduli harganya lebih murah atau mahal. Jika orang menemukan bahwa steak adalah makanan yang bermanfaat, orang kaya bisa membelinya dan makanya mereka membelinya. Oleh sebab itu, obesitas harusnya lebih menjamur di kalangan orang kaya. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Orang miskin cenderung menderita lebih banyak obesitas.

Terkadang, orang yang benar-benar putus asa akan menanggapi dengan sebuah teori bahwa orang kaya bisa membayar biaya gym dan karena itu lebih aktif secara fisik. Hal ini menyebabkan obesitas lebih rendah. Mungkin olahraga kurang terorganisir di lingkungan yang kurang makmur. Karena sebagian besar olahraga itu gratis (berjalan, push-up, dll.), Saya tidak tahu bahwa teori ini masuk akal. Olahraga, seperti yang telah dibahas sebelumnya, adalah pemain minor dalam obesitas.

Selanjutnya, ada teori lain yang mengatakan bahwa mereka yang bekerja di kantor lebih tidak aktif dibandingkan pekerja fisik. Namun para pekerja yang mengandalkan fisik (pekerja konstruksi, petani, dll) cenderung berada di sisi bawah skala gaji.


Mungkin untuk yang hidup di bawah garis kemiskinan sulit mendapatkan makanan ini, terutama di US.

Bandingkan dengan gaya hidup pengacara yang terikat di kantor atau kucing gemuk Wall Street. Mereka mungkin menghabiskan waktu hingga 12 jam sehari bertengger di depan komputer mereka. Pengerahan tenaga fisik terbatas pada perjalanan dari meja mereka ke lift. Namun obesitas lebih tinggi pada kelompok yang lebih miskin dan lebih aktif secara fisik.

Sebuah teori terkait yang mendapat popularitas di tahun 1970-an adalah Thrifty Gene Hypothesis. Gagasan ini adalah bahwa kita secara genetik cenderung untuk mendapatkan berat badan sebagai mekanisme bertahan hidup. Di zaman modern dengan persediaan makanan yang berlebihan, kita terpaksa melawan mekanisme tubuh kita sendiri.

Kelemahan yang paling jelas, tentu saja, adalah bahwa obesitas modern dimulai pada tahun 1977. Kelaparan yang meluas belum menjadi bagian dari lanskap Amerika sejak pergantian abad yang lalu. Seperti yang dapat Anda lihat dalam grafik, sebagian besar peningkatan obesitas terjadi dalam satu generasi.

Selanjutnya, rasio lemak tubuh 10% (cukup ramping) sudah cukup bagi seseorang untuk bertahan hidup tanpa makanan selama lebih dari sebulan. Menghindari kelebihan lemak tubuh sama pentingnya untuk bertahan hidup sama seperti terlalu sedikit lemak tubuh. Seekor hewan gemuk yang besar adalah makanan yang enak untuk singa daripada yang kurus. Hewan gemuk cenderung lebih mudah ditangkap juga. Akan ada seleksi genetik untuk menghindari kurus berlebihan dan obesitas berlebihan. Teori ini juga memprediksi kenaikan obesitas dengan kemakmuran ketimbang sebaliknya.

Sebenarnya, ada hewan yang dirancang untuk menggemuk secara teratur. Misalnya, beruang secara rutin menambah berat badan sebelum hibernasi. Mereka bisa melakukannya tanpa penyakit. Manusia, bagaimanapun, bukanlah salah satu dari jenis hewan ini. Ada perbedaan antara menjadi gemuk dan obesitas. Obesitas adalah keadaan menjadi gemuk sampai pada titik yang memiliki konsekuensi kesehatan yang merugikan.

Apa yang mendorong obesitas pada orang miskin? Hal yang sama yang mendorong obesitas pada orang kaya. Karbohidrat yang menggemukkan.
Jika karbohidrat olahan secara signifikan lebih murah dibandingkan dengan sumber makanan lain, maka orang-orang miskin akan cenderung makan berlebihan. Sepotong roti seharga $ 1,99. Seluruh paket pasta mungkin berharga $ 0,99. Bandingkan dengan keju atau steak, harganya mungkin $ 10 atau $ 20.

Jadi mengapa karbohidrat yang menggemukan ini begitu murah?
Produksi gandum dan jagung mendapat subsidi dari pemerintah. Kita bisa melihat laporan PIRG AS 2011 “Dari Apel sampai Twinkies”.
Jagung, gandum, dan beras menerima subsidi dari departemen Pertanian Amerika. Ini akan diproses menjadi karbohidrat olahan tinggi untuk dikonsumsi.

Jika kita membandingkan subsidi untuk apel dan bahan makanan yang membuat ketagihan (terigu, jagung), kita melihat bahwa makanan yang bersifat aditif menerima hampir 70X subsidi lebih banyak jika dibandingkan dengan apel segar.

Ada 4 jenis makanan aditif yang disubsidi—sirup jagung, sirup jagung tinggi fruktosa, pati jagung, dan minyak kedelai.

Yang paling menyedihkan—apel menerima bantuan paling banyak dari federal di antara semua buah-buahan dan sayur-sayuran. Semua buah dan sayuran lainnya menerima dukungan yang tidak signifikan.

Akibatnya, pemerintah mendukung, dengan uang pajak kita mereka telah membuat kita gemuk. Kemudian, kami menggunakan lebih banyak pajak untuk mendukung program anti-obesitas dan bahkan lebih untuk perawatan medis terkait masalah obesitas. Sepertinya agak menyebalkan.


Makan pizza memang bikin kecanduan, setuju?

Saya tidak percaya ada persekongkolan raksasa untuk membuat kita tetap sakit. Alasan subsidi yang besar hanyalah hasil program untuk membuat makanan terjangkau. Upaya ini dimulai dengan sungguh-sungguh di tahun 1970an. Saat itu, dasar Piramida Makanan adalah roti, pasta, kentang dan nasi. Ini adalah makanan yang kita rasa harus dimakan setiap hari. Tentu, uang mengalir ke subsidi untuk makanan tersebut. Tepung segera menjadi terjangkau bagi semua. Dan kemudian, kita menjadi gemuk dan bertanya-tanya di manakah letak kesalahannya?

Ingin Kurus? Baca tentang Insulin bisa juga menjadi “Racun”


Sumber Gambar

Apa pun yang berlebihan bersifat bahaya. Kita makan terus menerus, insulin dipompa lagi dan lagi tanpa jeda, gula darah kita melonjak dan sulit dijinakkan di level dasar lagi, akibatnya, selain tentu saja kita terkena diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular lainnya pun (jantung, hipertensi, gagal ginjal, fatty liver, dll…) mengikuti. Baca penuturan dokter ini untuk lebih jelasnya.

By: Dokter Jason Fung

Bencana rosiglitazone dan peningkatan risiko kematian yang mengejutkan sebanyak 22% telah ditemukan dalam studi ACCORD membuat peneliti terfokus pada efek yang berpotensi berbahaya dari beberapa obat penurun glukosa darah. Insulin adalah yang tertua dan terkuat telah dipertimbangkan sebagai paradigma toksisitas.

Membuat diagnosis hiperinsulinemia selalu bermasalah karena beberapa alasan. Tingkat insulin sangat bervariasi sepanjang hari, dan merupakan respons terhadap makanan, makanan yang berbeda akan ditanggapi dengan berlainan pula. Pelepasan insulin, seperti semua hormon, bersifat pulsatile/ naik turun, yang berarti bahwa, hasil ukur bisa sangat berbeda meski dilakukan dalam hitungan menit satu sama lain. Tingkat insulin puasa menyelesaikan beberapa masalah ini, namun sangat bervariasi antarmanusia dan cenderung mencerminkan resistensi insulin yang mendasarinya. Jika si A mengalami insulin resisten dan si B tidak mengalami insulin resisten, maka hasilnya akan berlainan.

Hiperinsulinemia telah dianggap sebagai masalah yang signifikan sejak tahun 1924. Karena tes insulin mulai tersedia pada tahun 1960-an, jelas bahwa resistensi insulin dan hiperinsulinemia terkait erat. Sudah lama diasumsikan bahwa resistensi insulin memprovokasi hiperinsulinemia, namun sebaliknya juga bisa juga terjadi— hiperinsulinemia dapat menyebabkan resistensi insulin.

Baru-baru ini, lebih banyak data tersedia untuk mendukung perkara ini. Begitu peneliti mulai melihat, bukti bahwa hiperinsulinemia memang menjadi masalah dimana-mana. Ini sangat terkait dengan kanker, penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, sindrom metabolik, fatty liver non-alkohol, obesitas dan demensia Alzheimer.

Resistensi Insulin

Lemak ektopik, akumulasi lemak di tempat selain sel lemak, memainkan peran penting dalam pengembangan resistensi insulin. Hati berlemak berkontribusi pada resistensi insulin hati, dan otot berlemak berkontribusi terhadap resistensi insulin pada otot. Bahkan dengan adanya beberapa obesitas, resistensi insulin tidak berkembang tanpa adanya akumulasi lemak ektopik. Ini menjelaskan bagaimana sekitar 20% orang obesitas mungkin tidak memiliki resistensi insulin dan profil metabolik termasuk normal.

Hipotesis yang pertama kali diajukan pada tahun 1950 oleh Jean Vague, visceral, atau central obesity (kegemukan di bagian perut) lebih merusak secara metabolik. Sejak itu, banyak penelitian telah mengkonfirmasi hipotesis ini. Jadi, obesitas perut dibandingkan indeks massa tubuh merupakan bagian dari kriteria sindrom metabolik. Dengan demikian, subjek berat badan normal dapat mengembangkan diabetes tipe 2 jika lemak disimpan di organ bukan di sel lemak, misalnya, secara kasatmana terlihat perut orang tersebut buncit.


Sumber Gambar

Dengan tidak adanya insulin, lemak ektopik ini akan meluruh, dan karenanya resistensi insulin tidak dapat berkembang. Memang, akumulasi timbunan lemak meleleh di bawah kondisi tingkat insulin rendah yang bertahan lama. Insulin diperlukan untuk mengubah kelebihan kalori menjadi lemak dan juga menyimpannya sebagai lemak.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, hiperinsulinemia mendasari semua sindrom metabolik dan konsekuensinya, sebagian besar akan menyebabkan toksisitas insulin.

Aterosklerosis
Atherosclerosis, kadang-kadang disebut ‘pengerasan arteri’ adalah pendahulu serangan jantung, stroke, dan penyakit pembuluh darah perifer. Sejak hari pertama pengobatan insulin, telah dicatat bahwa hal itu telah dikaitkan dengan perkembangan aterosklerosis. Penelitian pada hewan menunjukkan pada awal tahun 1949 bahwa pemberian insulin menyebabkan aterosklerosis dini, namun dapat dengan segera diubah dengan mengurangi insulin, dan mencegah sekresi insulin yang berlebihan.

Aterosklerosis adalah proses inflamasi yang berkembang melalui beberapa tahap—inisiasi, pembengkakan, pembentukan sel busa, pembentukan plak fibrosa dan kemudian lesi tingkat tinggi. Insulin memfasilitasi aterosklerosis sepanjang prosesnya. Selanjutnya, reseptor insulin ditemukan di dalam plak manusia, insulin merangsang pertumbuhan plak, berkontribusi terhadap perkembangan aterosklerosis.

Penyakit Kardiovaskular
Kekhawatiran tentang toksisitas insulin bukanlah hal baru. Pada tahun 1970, UGDP mengemukakan perkara bahwa obat sulphonylurea, yang merangsang produksi insulin, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Hal ini menyebabkan Federal Drug Administration mengeluarkan peringatan tentang potensi peningkatan kematian kardiovaskular ini. Namun, karena pilihan terapi terbatas pada saat itu, SU menjadi banyak diresepkan untuk perawatan meskipun ada efek samping yang telah diperingatkan sebelumnya.

Studi Kardiovaskular Quebec menetapkan hiperinsulinemia akan memicu penyakit jantung sejak awal 1996, meskipun dari awal telah mencerminkan resistensi insulin yang mendasarinya dan sebagian besar diabaikan. Tetapi, bukti bahwa toksisitas insulin adalah faktor yang terus menumpuk, terutama dalam pengobatan diabetes tipe 2, dimana dosis pengobatan terkadang tinggi.


Sumber Gambar

Mengkaji lebih dari 12.000 pasien diabetes yang baru didiagnosis di Saskatchewan dari tahun 1991 sampai 1996, periset telah menemukan adanya ‘hubungan yang signifikan dan bergradasi antara risiko kematian dan tingkat pemaparan insulin), bahkan setelah disesuaikan dengan faktor lainnya. Sederhananya, semakin tinggi dosis insulin, semakin tinggi pula risiko sekarat. Itu juga bukan efek sepele. Kelompok insulin tinggi memiliki risiko kematian sebesar 279% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan insulin.

Peneliti Inggris segera menemukan hasil serupa. Database Praktek Umum Inggris dari tahun 2000-2010, yang berisi catatan medis lebih dari 10 juta orang, mengidentifikasi lebih dari 84.000 penderita diabetes yang baru didiagnosis. Dibandingkan dengan pengobatan metformin, penggunaan SU telah dikaitkan dengan 75% risiko kematian lebih tinggi. Insulin lebih parah lagi, risikonya lebih dari dua kali lipat. Hal yang sama juga berlaku untuk serangan jantung, stroke, kanker dan penyakit ginjal.

Pengidap diabetes yang baru didiagnosis di kelompok The Health Information Network (THIN) melipatgandakan risiko penyakit kardiovaskular dengan penggunaan insulin dan risiko meningkat sebesar 55% dengan SUs. Dengan meningkatnya durasi pengobatan, risiko meningkat dan hanya satu-satunya biang kerok—insulin.

Pada pasien yang tidak minum obat, A1C lebih minimal jelas terkait dengan risiko serangan jantung dan kematian yang lebih rendah. Insulin adalah obat penurun gula darah yang kuat. Kegunaannya diasumsikan sanggup melindungi organ tubuh, tapi tidak benar adanya.
Catatan dunia yang telah dengan nyata (the United Kingdom General Practice Research Database) menunjukkan dari tahun 1986 sampai 2008, mengidentifikasi lebih dari 20.000 pasien yang telah menambahkan insulin pada pengobatan diabetes mereka. Pasien dengan A1C terendah mengharapkan kelangsungan hidup terbaik, namun kebalikkannya yang benar!

Pasien dengan insulin terbanyak memiliki hasil terburuk. Pasien yang mencapai A1C sebesar 6,0%, dianggap sebagai kontrol yang ‘ekselen’, bernasib sama buruknya dengan pasien dengan A1C 10,5%, yang dianggap sebagai diabetes ‘tidak terkontrol’. Paradigma glucotoxicity sama sekali gagal menjelaskan fenomena ini. Jika sebagian besar kerusakan akibat diabetes disebabkan oleh glukosa darah tinggi, maka yang dengan A1C paling rendah harus memiliki hasil terbaik. Tapi ternyata tidak.

Ini bukan temuan yang terisolasi karena studi demi studi menunjukkan hasil yang sama. Sebuah penelitian di tahun 2011 mengkonfirmasi bahwa baik glukosa darah rendah maupun tinggi yang membawa risiko kematian dan penggunaan insulin berlebihan dikaitkan dengan risiko kematian 265% yang mengejutkan.

Sebuah studi di Cardiff University meninjau data dari hampir 10% populasi Inggris dari tahun 2004-2015 dan menemukan bahwa A1C yang lebih rendah dikaitkan dengan risiko kematian yang meningkat, terutama didorong oleh 53% peningkatan risiko penggunaan insulin. Padahal, dalam penelitian ini, tidak ada obat lain yang meningkatkan risiko kematian.

Metformin adalah obat lini pertama standar untuk diabetes tipe 2. Menambahkan insulin, dibandingkan dengan SUs meningkatkan risiko penyakit jantung atau kematian sebesar 30%. Dalam database Belanda, dosis insulin harian tinggi dikaitkan dengan tiga kali risiko kardiovaskular tinggi. Pada pasien gagal jantung, penggunaan insulin dikaitkan dengan risiko kematian empat kali lipat lebih tinggi.

Metformin versus SU
Baik metformin dan SUs secara efektif mengendalikan glukosa darah, namun keduanya berbeda dalam satu hal penting. SUs meningkatkan sekresi insulin tubuh, di mana metformin tidak. Apakah ini penting?

Database Veteran Affairs di Amerika Serikat mengandung lebih dari 250.000 penderita diabetes tipe 2 yang baru didiagnosis. Memulai pengobatan dengan SU memiliki risiko penyakit kardiovaskular 21% lebih tinggi dibandingkan dengan metformin. UKPDS juga telah menunjukkan bahwa metformin sangat bermanfaat pada pasien diabetes tipe 2 yang obesitas dibandingkan dengan insulin atau SU. Studi lain memperkirakan penggunaan SUs meningkatkan risiko serangan jantung atau kematian sebesar 40-60%.

Pengalaman di Inggris tidak berbeda, di mana penggunaan SUs meningkatkan risiko serangan jantung atau kematian oleh 40% yang membingungkan. Selanjutnya, risiko ini meningkat tergantung dosis. Simpelnya, semakin tinggi dosis SU, semakin besar risikonya.
Hasil ini akhirnya dikonfirmasi dalam uji coba terkontrol acak tahun 2012, standar emas obat berbasis bukti. Terapi awal dengan SU meningkatkan risiko penyakit vaskular sebesar 40% meski memiliki kontrol glukosa darah yang sama. Ini disepakati dengan sempurna dengan perkiraan sebelumnya. Penyakit kardiovaskular adalah penyebab utama kematian pada diabetes tipe 2, jadi pentingnya penelitian ini tidak dapat diremehkan. Dua obat, mengendalikan glukosa darah sama-sama bisa memiliki efek berbeda pada efek kardiovaskular. Perbedaan utamanya? Satu merangsang insulin dan menyebabkan kenaikan berat badan, di mana yang lainnya tidak.

Insulin yang berlebihan beracun, terutama untuk penderita diabetes tipe 2, dimana insulin awal sudah sangat tinggi. Dengan meninjau ke belakang, masalah ini menjadi sangat jelas. Glukosa darah tinggi hanya merupakan gejala penyakit diabetes tipe 2, yang ditandai dengan hiperinsulinemia dan resistensi insulin. Pemberian insulin lebih banyak akan menurunkan glukosa darah, tetapi memperburuk hiperinsulinemia merupakan cikal bakal terjadinya penyakit diabetes tipe 2.

Pemberian insulin lebih banyak berhasil menutupi hiperglikemia, namun memperburuk hiperinsulinemia. Kita hanya mengobati gejala tapi bukan penyakit yang sebenarnya. Kita berpura-pura bahwa gejala merupakan penyakit yang sebenarnya.

Situasinya sama dengan alkoholisme. Pasien dengan ketergantungan alkohol sering mengalami gejala penarikan yang parah saat pantang. Sindrom ini, yang disebut delirium tremens termasuk tremor dan bahkan kebingungan umum.

Situasinya sama dengan alkoholisme. Pasien dengan ketergantungan alkohol sering mengalami gejala withdrawal yang parah saat pantang. Sindrom ini, yang disebut delirium tremens termasuk tremor dan bahkan linglung.

Memberikan kembali alkohol dapat secara efektif mengurangi gejala. Tetapi, penyakit alkoholisme yang mendasarinya tidak membaik, namun justru memperburuk keadaan. Anda tidak bisa mengobati alkoholisme dengan alkohol dan mengharapkan hasil positif. Dengan cara yang sama, Anda tidak dapat mengobati hiperinsulinemia dengan insulin.

Kanker
Hubungan antara diabetes dan risiko kanker sudah tak terbantahkan. Penderita diabetes berisiko tinggi terhadap berbagai jenis kanker, termasuk semua kanker yang paling umum seperti kanker payudara, usus besar, endometrium, ginjal dan kandung kemih. Obesitas, diabetes pra-diabetes dan tipe 2 semuanya terkait dengan peningkatan risiko kanker yang menunjukkan bahwa faktor selain peningkatan glukosa darah memainkan peran utama dalam merajalelanya kanker.


Kanker

Ketiga kondisi tersebut terkait dengan adanya hiperinsulinemia dan resistensi insulin. Insulin adalah well-known growth factor yang menginduksi sel untuk menjalani pembelahan, yang mendorong pertumbuhan tumor. Misalnya, wanita dengan kadar insulin tertinggi membawa risiko 2,4 kali lipat lebih tinggi terkena kanker payudara. Obesitas itu sendiri mungkin berperan, namun hiperinsulinemia dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, berapapun berat badannya. Wanita langsing dan wanita gemuk, bila disesuaikan dengan tingkat insulin, menunjukkan risiko kanker payudara yang sama

Mutasi gen tunggal yang merupakan efek insulin secara signifikan meningkatkan risiko kanker. Pioglitazone, obat yang meningkatkan efek insulin dikaitkan dengan peningkatan kejadian kanker kandung kemih.

Pilihan pengobatan diabetes secara signifikan mempengaruhi risiko kanker, menegaskan kembali peran besar hiperinsulinemia. Penggunaan insulin meningkatkan risiko kanker usus sekitar 20% per tahun. Sebuah tinjauan terhadap database General Practice Inggris menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan metformin, insulin meningkatkan risiko kanker sebesar 42%, dan SUs sebesar 36%. Sebuah tinjauan terhadap 10.309 penderita diabetes yang baru didiagnosis pada populasi Saskatchewan mengungkapkan bahwa penggunaan insulin meningkatkan risiko kanker hingga 90% dan SUs sebesar 30%.


Mengurangi makan tinggi karbohidrat adalah salah satu pencegahan kanker

Begitu kanker telah terbentuk, glukosa darah tinggi dapat memungkinkan pertumbuhan lebih cepat. Sel kanker dikenal sebagai avid glukosa, dengan fleksibilitas metabolik terbatas dalam menggunakan bahan bakar lain seperti asam lemak bebas bila persediaan glukosa rendah. Sel kanker sangat aktif secara metabolik, membutuhkan persediaan glukosa yang besar untuk berkembang biak.

Kesimpulan
Menurut Pusat Pengendalian Penyakit, pada tahun 2013, tiga penyebab utama kematian di Amerika Serikat adalah:
1. Penyakit Jantung 23,7%
2. Kanker 22,8%
3. Penyakit paru kronis 5.7%

Penyakit jantung dan kanker jauh melampaui semua penyebab kematian lainnya dengan selisih lebar. Mereka terhubung dalam satu cara yang signifikan. Hiperinsulinemia dan toksisitas insulin.