WANITA PEMBENCI TEH BERAROMA MELATI (CERPEN)

Sumber Gambar

Tak ada yang membenci teh beraroma melati melebihi wanita itu. Malam itu, seperti empat puluh delapan jam yang lalu, Kamila berdiri canggung di samping wastafel, membiarkan wajahnya dicium sinar lampu halogen, hingga bintik hitam di wajahnya menjadi sangat nyata, kantung hitam di bawah matanya juga terlihat menantang. Sepasang jantung di balik tulang rusuknya bertalu-talu, dan sakit hati mencantol di sana, membuat dia lebih membenci aroma teh itu. Ia sedang menunggu muntah. Jika rasa mual yang diharapkannya tak datang selama beberapa saat, ia akan menyalakan kompor, menjerang air panas, lantas membuat teh melati lagi. Ia akan melinting rasa sakit hatinya bersama kepulan asap teh, dan selama sepuluh menit ia akan terus mengisapnya hingga asam lambungnya naik. Rasa mual itu mengingatkan akan isi perut yang harus dimuntahkan, dan setelah penghuni lambungnya menjeluak, rasa pusingnya akan hilang. Saat air panas bergejolak di dalam panci, rasa kecewanya akan berselancar mengejar rasa lega yang terus memanjang. Sering, jika sudah terlalu banyak muntah, matanya akan memerah. Namun ia malah merasa mengantuk dan damai, rasa sakit hatinya pun terobati.

By: Sarah Sastrodiryo

Ya, dia butuh aroma teh melati yang semakin tajam, sebab ia sedang melupakan mantan pacarnya yang tak mungkin lagi dikejarnya. Jika ada yang bertanya, kenapa ia berdiri di tepi wastafel seperti itu, ia akan menjawab, “Aku sedang menunggu muntah, obat mujarabku.”

Kamila sudah bertahun-tahun menjadi pembenci aroma teh melati. Tapi, anehnya ia selalu ingin mencium aromanya. Ia sudah ke Garut, Pekalongan, Pematang Siantar,  Sukabumi. Semua itu dilakukannya demi mengumpulkan teh beraroma melati.

Ia ingat kapan pertama kali membenci teh melati. Ketika itu usianya 5 tahun. Suatu hari, ayahnya pulang siang-siang dari kantor untuk makan di rumah, dan meminum teh aroma melati. Kamila mengamati ayahnya itu dari celah pintu kamar dan ingin segera memeluknya. Hingga tiba-tiba ayahnya itu tergulung emosi saat menyaksikan ibunya bersama lelaki lain di kamar tidur utama,  dan setelah itu nyawa ibunya menghilang diiringi suara jeritan yang tertahan. Kamila sebenarnya sangat terguncang dengan pembunuhan ibu, penusukkan kekasih ibu, dan kematian ayahnya—bunuh diri beberapa saat kemudian. Tak lama, aroma teh melati membawa Kamila kepada rasa mual, tepat ketika mereka semua berpikir bahwa trauma Kamila telah musnah ditelan waktu dan terapi. Semua saudara, termasuk para ahli kejiwaan, berbondong-bondong mendekati Kamila. Sebagian yakin ia pasti sudah sembuh. Ketika akhirnya Kamila bergerak menjauh dari kota kelahirannya,  dan  Kamila tampak selalu ceria, padahal suara di kepala Kamila seringkali mengeluarkan serenade kemuraman, semua terkecoh. Setelah peristiwa itu Kamila tampak bangkit, dan bugar kembali, meski hatinya telah terbelah. Sebagian patahannya entah ke mana. Sebagian lagi masih terikat di sana. Bagi semua orang, ia adalah sosok wanita super kuat. Gadis yang tangguh, pikir psikiater. Tanggal 18 mei, tiga puluh hari setelah peristiwa berdarah itu, Kamila kembali bersekolah dengan normal. Jika kejadian kemarin terjadi pada orang lain, tentu ia takkan lagi mau beraktivitas, batin Psikiater. Tapi tidak demikian dengan Kamila, ia gadis yang mudah melupakan.

Sejak itu, jika  Kamila sedang  tinggal sendiri di rumahnya, Kamila memastikan akan menghidu aroma teh melati setiap hari. Percobaannya mengisap teh melati dimulai dengan menyeduhnya dengan air panas dari termos, lalu mulai dengan air mendidih. Hingga akhirnya ia mengoleksi berbagai merk teh beraroma melati.

Sumber Gambar

***

Kamila menjelma menjadi salah satu penulis naskah iklan terbaik dunia, ketika ia ditemukan oleh seorang copywriter senior, Rene, yang sedang ditugaskan di Indonesia. Bagi Rene, Kamila adalah penggali ide yang berbeda dari penggali ide yang lain. Para penulis lain setiap kali maju menuju benturan tenggat waktu terlihat seperti menantang maut. Tapi tidak begitu bagi Kamila, ia menghadapi tekanan seperti sedang menari.

“Itu karena aku adalah aksara,” ujar Kamila sekenanya.

Momen favoritnya saat mencari ide adalah ketika tengah malam, klien menghadiahinya tekanan yang luar biasa, dan ketika ia membuka hadiah itu, ditemukannya sebuah pipa ide yang mengarah ke kanan, tempat jarum jam berdetik. Itulah kedamaian yang absolut, yang cuma terjadi beberapa menit, yang akan segera hilang dirampas kembali oleh keriuhan. Semua waktu yang dipijak oleh para penulis, memang pinjaman belaka.

***

Rene sudah mengabarkan bahwa Kamila akan bertarung di Belanda dalam sebuah kompetisi. Kamila tiba di Groningen, Northern Netherlands. Di sinilah ia akan mengejar ide paling canggih dekade ini. Mei memang bulan yang parfait untuk merakit apapun, termasuk membikin iklan dan film pendek. Suasana hati serupa magenta dan bergulung seolah mengundang semua kreator untuk melaju di atas sel-sel neuronnya. Dari dulu hingga kini, pesan Rene cuma satu untuk Kamila, “Jangan menyerah.” Kamila mengangguk, lalu menambahkan kalau ia bisa saja menyerah bukan karena bosan menggali ide, tapi mati  karena ditebas begal di jalan. Rene tentu saja tak menyukai olok-olok itu. Dia lebih suka Kamila baik-baik saja dan tidak sekarat.

“You may not die by the robber, but, could have fed up and depressed,” Kau mungkin tak mati karena ditebas begal, tapi bisa saja kau menjadi mual dan depresi. Ya, muak dan depresi adalah  pemangsa kreator  yang memang sedang santer diwartakan. Deklarasi mengerikan para pelaku yang sudah mati bosan beredar luas di media. Rasa mual menyukai daging para kreator.

Hari itu cerah. Ratusan orang berkumpul di Groningen. Kebanyakan dari mereka memakai kemeja flanel, sepatu boot bermodel quirky, dan yang wanita berwajah pucat tanpa bedak. Kompetisi selancar ide dimulai. Kamila menari lentik menuju batas tenggat waktu. Mulai mendayung di depan laptop, memburu gagasan. Ketika ilhamyang dicarinya mendekat, Kamila segera berdiri meminta secangkir besar teh menguarkan aroma melati kepada asistennya, dan berusaha tetap fokus meski berulang-kali dia berlari menuju toilet, melontarkan  isi perutnya. Kini, ia hanya perlu mempertahankan idenya sambil mencari sudut pandang paling tidak biasa.

Tenggat waktu bergulung datang, Kamila kenal betul detik-detik yang bakal menjadi pembunuh bagi semua peserta. Ini dia! Pikirnya. Ia takkan menyia-nyiakannya, diincarnya waktu terakhir itu, dan dengan kelihaiannya, ia berhasil menyelesaikan hasil karya beserta gambar story boardnya. Sang waktu, seketika membentuk terowongan. Gemuruh riuh entah apa  didengarnya, seperti gema sekumpulan insekta kawin. Ia masuk ke dalam ceruk absurd, storyboard di depannya, seolah menyambutnya bersorak namun mendesis, “Ayolah kita menari lagi!” Kamila terus mempertahankan ketahanan kognisinyaia tak boleh semaput. Sejenak ia lupa ada dunia di luar sana, ia telah asyik ‘berslow waltz dance’.

Disentuhnya cahaya yang membentuk dinding lorong itu, tiba-tiba dari dalam cahaya itu, samar-samar tercium wewangian teh melati. Kamila mengernyitkan hidungnya, mencari-cari di manakah bau itu bermula. Aroma itu mendekat, serupa anak panah, tapi berwajah manusia. Rambutnya kekuningan, tapi mengilap. Matanya yang sayu memindai Kamila sejurus. Kamila curiga akan pantauan matanya. Jangan-jangan ia mengidap katarak dalam jangka waktu singkat. Ibu? Tangan Kamila berusaha meraba sosok  itu. Makhluk itu tersentak, dengan sekali lekukan, panah berwajah manusia beraroma teh melati berkelit. Gesit luar biasa, tak pernah Kamila saksikan pada makhluk mana pun, sosok itu berbalik dan sekejap kemudian menghilang ke dalam silaunya cahaya.

Hi, wait, just a moment, wait me!” teriak Kamila.

Keseimbangan Kamila goyah, ia lupa tengah berdiri di atas kursi yang bawahnya beroda lima. Pijakannya terlepas, dan ia terjengkang. Kursi berbalik dan seperti pukulan kampak, kursi itu menggetoknya, mendarat tepat di kepala bagian kiri. Ia kimbang karena kerasnya benturan. Hal terakhir yang dilihatnya adalah silau. Warna sinar sangat berkilau menusuk matanya.

Sumber Gambar

***

Hal pertama yang diingat Kamila setelah pulang-ingatan di kamar rumah sakit ialah sosok makhluk beraroma teh melati yang ditemuinya di lautan cahaya. Parasnya, matanya yang sayu. Rambutnya yang kekuningan, tapi mengilap. Kulitnya yang berwarna zaitun, tulang pipinya yang tinggi, juga baju hitamnya. Sosoknya berkilau karena seperti terbentuk dari butiran kristal, dan ekor panahnya yang ramping dan gemulai. Seolah tangannya melentik menirukan koreografi juwita ketika ia berbalik menghilang, ditelan putihnya cahaya.

Rene muncul dari balik pintu, sumringah ketika mendapati Kamila tersenyum.

“Are you okay, Girl?”

Kamila tertegun, ia minta minum. Tenggorokannya terasa kerontang sekali. Rene mengasongkan secangkir teh beraroma melati, yang tidak Kamila sadari, dan Rene memang telah salah paham, ia selalu mengira bahwa Kamila sangat menyukai teh jenis itu. Sambil menatap Kamila meneguk teh dengan lahap, Rene mengungkapkan luapan kegembiraannya.

“I’m so glad you were not give up, we thought you were comma.” Rene bahagia karena Kamila tak dimangsa tekanan yang sangat hebat itu.

“Comma?” Kamila bingung. Ia tak merasa mengalami koma atau hilang kesadaran.

Lalu, Rene membuka iphone-nya dan segera menemukan foto di sebuah situs social media yang menunjukkan Kamila sedang terkulai di atas lantai berkarpet. Ia menampakkan foto itu pada Kamila, dan status yang tertera di bawahnya, serta berbagai komentar berisikan doa dan ucapan lekas sembuh. Ia membaca status itu, lengkap dengan foto, foto dirinya dengan kepalan tangan setengah terbuka yang menggengam kemasan teh aroma melati.

Menurut Rene, agaknya Kamila terlalu memforsir dirinya, sehingga jatuh pingsan, bukan hanya pingsan, mereka menganggap Kamila koma. Tak apa-apa Kamila kalah dalam rivalitas, yang penting nyawanya selamat, dan kewarasannya utuh. Beruntung, tekanan tenggat waktu kemudian berenang menjauh.

“No, Rene… I was not in pass out, but just slept away and dreaming.” Bukan, yang kurasakan bukan pingsan, melainkan hanya jatuh tertidur dan bermimpi.

Rene tertegun dengan penjelasan Kamila, “You are pass out. See that?” Rene menunjuk bagian foto yang dilingkari, lalu memperbesar gambar di layar telepon pintarnya. Terlihatlah busa di sudut bibir, seperti terserang epilepsi. Kamila tak percaya apa yang dilihatnya di foto itu.

***

Foto tak bisa berbohong. Itu bukti yang tak terbantahkan, Kamila pun tutup mulut soal mimpinya. Tak lama kemudian, Kamila memutuskan untuk berhenti menyeduh aroma teh melati, karena aroma itu tak membuatnya muntah lagi. Dengan hadiah kompetisinya, ia bisa backpacking menjelajah penjuru tanah air dan kota-kota lainnya di dunia. Ia cuti dari pekerjaannya sebagai copywriter, karena menganggap pekerjaan itu tak lagi menantang.

Kini, ia lebih suka berdiam di stasiun, terminal, guest house sambil mengisap rokok hingga matanya merah dan menyipit, dan rasa mualnya jadi demikian tajam, lantas ia akan pandangi titik tak tampak di hadapannya. Jika ada yang bertanya, sedang apa ia di situ, “Aku sedang menunggu obatku, si rasa mual.” Jawabnya, kerap kali. (*)

Cetakan Jeli Isi Percaya (Cerpen)

 

Sumber Gambar

Saat gue menarik  dan mengulur bagian dari tubuh paragraf lengkap, sebenarnya gue sedang menyusun puzzle.   Semungil apapun kata yang terselip,  selemas apapun kalimat yang menjalar, fakta-fakta itu akan mengalir begitu deras di sel-sel kelabu dalam otak gue,  sehingga gue seringkali merasa mual.

By: Sarah Sastrodiryo

“Gue kadang nggak tahu cara memberi napas di sebuah relasi, gue seringkali, akhirnya merasa ilfil,” keluh gue pada sahabat gue.

“Mungkin sebaiknya elo jangan terlalu banyak berpikir, ya udah jalanin aja.” Sarannya suatu ketika, saat kami makan malam bersama.

“Sebusuk-busuknya lelaki adalah yang hanya mengincar seks doang, dan ini sering gue temuin akhir-akhir ini.” Omel gue.

“Terus?” Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.

“Terus gue ilfil. Abis itu males lah. The end!”

Gue menelan ludah. Gue tidak pernah ingin melakukan ini. Tidak pada sebuah hubungan sungguhan. Perlukah gue tidak usah melibatkan pola pikir matematika— spesializing-conjecturing-generalizing-convincing—-pada kisah cinta gue selanjutnya?  Mungkinkah gue bikin saja kepercayaan itu dari cetakan jeli gemuk.Tak perlu bersusah payah. Cukup dengan mengeluarkan sebongkah rasa percaya saat gue perlu, dan, voila, gue tidak akan kehilangan rasa lagi. Sungguh praktis dan efisien.

“Tapi sebenernya, gue pengen jatuh cinta lagiI would like to have the desire to love someone.” Gue mendorong secangkir kopi espresso  ke samping, dan mulai menggambar sebuah bagan di hadapan sahabat gue.

“Pertanyaan besarnya, Chika, apakah dengan elo punya mesin pencetak rasa percaya, lantas lo tinggal comot saat lu perlu itu sudah bisa menyelesaikan masalah?” cetusnya dengan kening berkerut.

“Tapi seenggaknya gue bisa mencoba cara itu.”

“Percaya sama gua. Itu bukan solusi yang solutif.”

“Bagaimana mungkin gue tau itu tidak solutif kalau gue belum mencoba? ”

Sahabat gue tidak menjawab, dia hanya memberikan tatapan menjewer di tengah hiruk pikuk pengunjung Mall Kota Kasablanka.

Sumber Gambar

Segala sesuatu tampaknya terjadi dalam gerak lambat selagi, seperti robot, gue memindahkan data yang harus gue analisa dengan pivot. Di tengah hectic-nya pekerjaan, gue sangat berharap gue dapat mengingat cara jatuh cinta dengan tepat. Sahabat gue masih “menjerit histeris” saat mengetahui gue melakukan perbuatan nekat—gue nekat membuat cetakan rasa percaya—Kalimat tanya jumbo berdiri di belakang gue, terisak-isak, semua logika ditinggalkan di sebelah selimut manipulasi. Nurani adalah satu-satunya organ tubuh yang tidak bersuara. Ia berlutut di sana, begitu pucat sehingga tampak seperti mayat.

Namun akhirnya ia tak tahan juga. Ia membentakku.

“Lo tahu apa yang lu kerjain?” Suara Nurani begitu sebal namun juga ketakutan sehingga gue nyaris tidak mengenalinya.

“Ku…kurasa begitu,” jawab gue.

Tetapi nyatanya gue tidak tahu.

Yang gue tahu hanyalah gue mungkin menaruh harapan bahwa gue dapat merasakan cinta lagi.

Itu saja.

Jalan Jenjang (Cerpen)

 

Sumber Gambar

Aku duduk mencangklong di sebuah bangku panjang di daerah Antah Berantah, menyesap air kelapa muda langsung dari batoknya yang kemahalan, lantas mataku memanah dan menatap orang-orang bertelanjang dada berlalu-lalang di jalanan yang panas terpanggang matahari. Beberapa orang mengipasi tubuhnya dengan kipas kertas, yang lain memandang etalase-etalase kios yang semarak dan semerbak. Becak berwarna merah memar menerobos para pejalan kaki, tidak dengan terburu-buru, melainkan dengan santai dan tanpa huru-hara, seolah-olah becak itu sendiri sedang ikut menikmati pemandangan yang serba mengilap.

By: Sarah Sastrodiryo

Aku sebetulnya kebetulan saja tiba di sini. Aku ingin melupakan penat yang beberapa bulan ini mencakar kenyamananku. Aku ingin menjelajahi setiap lekuk hati dan kalimat yang bergema dari sana, meresapi dengan sebenar-benarnya tanpa tendensi apa-apa. Lantas, apakah kini aku telah memungut jawabannya? Belum. Aku masih meraba-raba. Tapi, santai saja, hidungku sedang berusaha menghidu aroma kebenaran. Sudah tercium? Sayangnya, belum juga.

Belum juga 24 jam aku meninggalkan kota metropolitan, namun aku sudah dicengkeram migren. Karena apa? Karena wajahmu berdansa di pelupuk mata. Ratusan ribu detik telah kita lewati. Jutaan aksara yang dilempar-lempar lantas ditangkap telah kita kunyah baik-baik. Milyaran kalimat menggemaskan yang dironce dari bibir kita telah menguap. Dan kau tahu, semuanya tampak seperti delusi. Benarkah kita pernah bertemu lantas menjalin hubungan istimewa?

Benarkah hati kita pernah saling mengancing? Jika iya, mengapa semuanya serba mengapung?

Seorang Mamah Muda melintas dan menebarkan aroma parfum yang menyengat, membuat hidungku mengernyit. Aku sungguh berharap kamu ada di sini. Kita pasti akan duduk bersisian, memperhatikan berbagai spesies bernama manusia, kamu akan menyodok kakiku untuk menunjukkan laki-laki berperut buncit dengan kalung emas sedang merayu remaja tanggung di sebelah barat daya, kamu juga pasti akan mengulum senyum, dan membuatku ikut nyengir juga, lantas aku tak kuat menahan diri untuk tidak terbahak. Iya, suara tawaku akan mengigit udara. Dan kau berusaha menenangkan diriku yang kegelian hingga bersujud.

Tanpa sadar aku meraba kartu pos di saku kemeja yang kebesaran. Aku telah membelikan kartu

Sumber Gambar

pos di salah satu kios yang kumasuki tadi dengan perasaan gamang. Kartu pos bergambar monyet dan pohon nyiur dengan seuntai kalimat lapuk yang sudah terlalu klise. Aku sebenarnya tidak berencana membeli sesuatu—tetapi saat mataku tak bisa berpaling dari kartu pos, seolah si kartu menggantung di kelopak mata—mendadak aku membayangkan matamu yang berbinar dan senyummu yang ramping tapi memanjang, akan menunjukkan suasana hatimu yang telah kubuat warna-warni, dan aku berharap hubungan kita bisa mulus kembali. Kemarahan yang kita timbun dan kita tumpuk, akan memudar. Ah, mungkin aku terlalu mengandai-andai. Benakku terlalu berpikiran cantik. Harus kutatokan dalam kepala, kemarin  kau berkata. “KITA PUTUS AJA!!!”

Aku memejamkan mata dan memijit dahi. Aku ingin berbaikan; ingin membikin hubungan kita semenarik lolipop. Kehadiranku yang tidak diinginkan keluargamu, telah mendesak kita menjadi tertekan. Sangat tertekan.

Kita seolah berjalan saling memunggungi. Aku ke utara, dan engkau ke selatan. Bagai medan magnet dengan kutub yang sama, yang selalu saling menolak. Semestinya aku sudah bisa memprediksi ini dari titik nol kita berjumpa.

Harusnya aku menolak untuk jatuh cinta padamu. Sebaiknya, aku malah kecanduan dan tergila-gila olehmu. Kebanyakan orang waras akan begitu. Mereka pasti akan mundur teratur. Tidak keras kepala dan pekok sepertiku.

Dan, kau menggandeng wanita itu, aku tertawa jahil dalam hati. Sialnya, engkau bisa menangkap seringai jenaka di mataku. Oleh karenanya kau menjadi salah tingkah. Dengar, aku tidak pernah menengok ke belakang. Kau tahu itu dengan gamblang. Kini, kau masih berada di sampingku. Engkau belum kutinggalkan. Sekarang, pilihan ada di tanganmu. Ingin mendekapku lantas mempertahankanku bergeming di sisimu? Atau membiarkan aku melangkah dan kau akan tertinggal di masa lalu? Aku harap, kau membuat keputusan yang sepadan. Demi kebaikanmu sendiri. Itu saja.

Tenanglah. Aku menunggumu di tempat biasa kita berjumpa. Sampai bintang kejora berhenti mengedip genit.