Ingin Ramping dan Kurus? Baca Mengapa Diet Membuat Kita Lapar

Sumber Gambar

How Dieting Makes Us Hungry – Calories Part VIII

Bagaimana Diet Membuat Kita Lapar—Kalori Bagian VIII

Kita telah melihat pengeluaran energi dalam jangka panjang. Apa saja perubahan hormonal yang menyertai penurunan berat badan? Untuk itu mari kita lihat studi ini:

Long-Term Persistence of Hormonal Adaptations to Weight Loss
N Engl J Med 2011; 365:1597-1604 October 27, 2011 Sumithran P

Penelitian ini merekrut 50 pasien yang diberi makanan cair (51% karbohidrat). Selama 10 minggu pertama percobaan, mereka hanya menerima 500 kalori per hari. Ini menghasilkan penurunan berat badan rata-rata 13,5 kg. So far, so good. Selanjutnya, mereka diberi resep diet untuk memelihara berat badan berdasarkan pengeluaran energi terukur mereka. Pasien juga difollow-up setiap 2 bulan dan dianjurkan berolahraga selama 30 menit per hari. Mereka disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat indeks glisemik rendah dan diet rendah lemak. Sialnya, semua tidak berjalan sesuai rencana. Terlepas dari niat baik mereka, hampir setengah dari berat badannya kembali. Rata-rata, 5,5 kg kembali dari minggu ke 10-62. Mereka kembali menggemuk lho.

Perubahan Hormon

Analisis hormon dilakukan pada peserta pada minggu ke 0, 10 dan 62 setelah puasa dan memakan hidangan standar. Apa hasilnya? Hormon pertama yang harus dilihat adalah ghrelin—yang disebut sebagai hormon penyebab lapar. Pada dasarnya hormon ini membuat kita ingin ngegares atau mengunyah terus. Pasien lebih lapar selama fase penurunan berat badan di tahap awal, tapi bahkan setelah 62 minggu, ada peningkatan hormon ghrelin yang signifikan. Apa artinya? Artinya mereka merasa lebih lapar. Rasa lapar tidak bisa diusir.

By: Dokter Jason Fung

Hormon berikutnya yang harus dilihat adalah peptida YY. Ini adalah hormon kenyang yang dilepaskan tubuh sebagai respons kepada protein dan lemak. Esensinya, Peptide YY membuat kita merasa kenyang. Mereka juga menganalisis hormon amylin dan cholecystikinin, namun hasilnya serupa, jadi saya hanya memasukkan grafik untuk peptide YY.

Sekali lagi, selama fase penurunan berat awal, peptida YY diturunkan, namun bahkan setelah 62 minggu, Peptide YY (dan juga amylin dan cholecystikinin) berkurang secara substansial. Apa artinya? Itu berarti bahwa makanan standar yang dahulu biasa kita makan tidak lagi mengenyangkan. Kita ingin menambah porsi lagi dan lagi. Seperti aksi balas dendam.

Kelaparan dan Hasrat untuk Makan

Perubahan hormonal ini terjadi dengan tiba-tiba dan bertahan hampir tanpa batas waktu. Hasil kelaparan dan keinginan makan bisa dilihat pada grafik di bawah ini.

 

Subjek setelah mengalami penurunan berat badan merasa lebih lapar dan hasrat ingin makan tak dapat dibendung. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pasien yang sedang diet cenderung merasa lebih lapar. Ternyata ini bukan semacam voodoo psikologis. Apa yang membuat kita lapar? Ini adalah hormon.

Hormon lapar (ghrelin) lebih tinggi dan ini menyebabkan kita menjadi lebih lapar. Hormon Satiety lebih rendah (amylin, peptide YY, dan cholecystekinin) dan oleh karena itu subjek merasa kurang kenyang dan hasrat untuk mengunyah lebih menggebu-gebu.

Mari kita menggabungkan semua ini dan memikirkan hal ini dari sudut pandang tubuh. Ingat bahwa tubuh bertindak sebagai termostat dengan Body Set Weight (BSW) tertentu.

Misalkan BSW kita, misalnya 200 pound. Kita bisa membatasi kalori dan meninggalkan kandungan makronutrien sama (misalnya 50% karbohidrat, 30% lemak, 20 protein). Untuk sementara, kita memang akan melangsing— katakanlah sampai 180 kilogram.

Namun, karena BSW masih 200 pound, tubuh akan mencoba menaikkannya hingga 200 pound. Sekonyong-konyong si tubuh akan mencoba menambah asupan kalori kita. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan ghrelin dan menekan amylin, peptide YY dan cholecystikinin (hormon kenyang). Efeknya membuat kita lapar dan melambungkan hasrat untuk memamah biak.

Pada saat bersamaan, penurunan berat badan ini akan menyebabkan menukiknya total pengeluaran energi. Tubuh akan mulai ‘mematikan’ metabolismenya. Seperti yang kita lihat dengan studi kelaparan—suhu tubuh rendah, denyut jantung menurun, tekanan darah menjadi di bawah rata-rata, dan volume jantung menyusut, semua dilakukan dalam usaha untuk menghemat energi, si tubuh tampaknya sudah putus asa. Ada juga efek psikologis yang dihasilkan, seperti terobsesi dengan makanan, dan tidak sanggup berkonsentrasi.

Hasil akhir—kita kembali menggemuk. Hal ini, tentu saja, pasti sudah dialami oleh para pelaku diet.

Seperti yang bisa Anda lihat, gagalnya diet, nothing, nothing, dan nooooothing alias tidak ada hubungannya dengan kurangnya kemauan atau kegagalan moral atau apapun. Ini hanyalah fakta siklus hormonal. Kita merasa lapar, kedinginan, capek dan depresi. Ini semua adalah efek fisik yang nyata dan dapat diukur dari membatasi kalori.

Jadi inilah intinya. Dengan memusatkan perhatian hanya pada kalori dan pembatasan kalori (Caloric Restriction as Primary), kita mengabaikan fakta bahwa melangsing dengan metode ini akan mengakibatkan tubuh mati-matian mencoba mengembalikan berat badan ke berat aslinya. Kita merasa lapar dan tubuh mematikan metabolisme untuk menghemat kalori sehingga kita akan kembali menggemuk. Ini adalah jaminan virtual.

Hampir semua studi diet jangka panjang (seperti Women’s Health Initiative) menunjukkan Anda akan kembali menggemuk. Sebenarnya, bahkan, saya tidak perlu meyakinkan Anda tentang fakta ini. Di lubuk hati yang terdalam, Anda tahu tentang fakta ini.

Sumber Gambar

Ini, inilah lingkaran setan kurang makan. Kita mulai dengan makan lebih sedikit. Kita melangsing. Kemudian metabolisme kita melambat dan kelaparan meningkat. Kita mulai menggemuk. Lantas, kita melipatgandakan usaha kita dengan makan lebih sedikit lagi.

Turun berat badan hanya secuil, tapi kita kembali mengurangi pengeluaran energi dan rasa lapar melonjak. Kita kembali membulat. Siklus ini berlanjut sampai tak bisa ditoleransi lagi.

Pada saat itu, kita tidak bisa mengikuti diet ini lagi, dan berat badan kita kembali seperti sebelum berdiet. Teman, keluarga, profesional medis sekarang menyalahkan korban dengan diam-diam, berpikir bahwa ini adalah ‘kesalahan kita’. Entah bagaimana, kita merasa bahwa kita adalah sebuah kegagalan. Itu terjadi pada kita semua—bahkan dokter/ even doctors. Sound familiar? Yeah, I thought so.

Ingin Ramping dan Kurus? Baca Mengapa Diet Tidak Berhasil Dalam Waktu Jangka Panjang

Sumber Gambar

Why Diets Don’t Work in the Long Term – Calories Part VII

Mengapa Diet Tidak Bekerja dalam Jangka Panjang – Kalori Bagian VII

Kita telah menjelajahi berbagai kemungkinan, bagaimana tubuh beradaptasi jika kita mengurangi kalori. Dan kita juga telah menemukan bahwa tubuh bertindak lebih mirip termostrat, bukan skala. Kelakuan si tubuh, seolah-olah ia memiliki Body Set Weight (BSW), dan biasanya, selalu berusaha keras untuk mempertahankan berat badan, si tubuh tidak ingin adanya kenaikan ataupun penurunan. Tapi berapa lama si tubuh sanggup mempertahankan si adaptasi ini? Jika kita mempertahankan berat badan tertentu, akankah tubuh kita, pada akhirnya sanggup mengenali bahwa kita telah mempunyai BSW baru? Jika dilihat sekilas saja, sepertinya ini asumsi yang masuk akal. Tapi beneran nggak ya?

By: Dokter Jason Fung

Mereduksi Pengeluaran Energi

Mari kita meneliti beberapa studi terbaru untuk menjawab pertanyaan penting ini. Long-term persistence of adaptive thermogenesis in subjects who have maintained a reduced body weight by Dr. Rosenbaum et al.  Atau presistensi termogenesis adaptif jangka panjang pada subyek yang telah mempertahankan berat badan berkurang oleh Dr. Rosenbaum dkk. Dalam penelitian ini, 21 subyek direkrut dan diberi makanan cair yang terdiri dari 45% karbohidrat selama satu tahun dan Total Energy Expenditure (TEE) diukur. Seperti yang diharapkan, selama fase penurunan berat awal (10% dari berat badan) TEE berkurang. Seiring turunnya berat badan, tubuh mencoba untuk mengembalikan lagi ke berat badan semula dengan memangkas TEE. Esensinya, tubuh membikin kokoh si BSW dan mencoba kembali ke berat semula. Tapi berapa lama ini sanggup bertahan? Yang menarik adalah bahwa TEE berkurang sepanjang setahun penuh. Bahkan setelah satu tahun menurunkan berat badan, ke ukuran yang baru, TEE masih terus saja melandai,  rata-rata hampir 500 kalori/ hari.

Sumber Gambar

Dengan kata lain, pengurangan TEE ini dimulai hampir segera setelah pengurangan kalori dan bertahan dalam waktu lama—-setidaknya 1 tahun dan menjadi semakin kuat. Tidak tampak bahwa BSW ini telah berubah sama sekali. Tidak ada tanda bahwa BSW telah berubah. Tubuh masih berusaha kembali ke BSW yang asli. Ingat, bahwa penurunan berat badan ini tercapai tanpa perubahan komposisi makanan—hanya jumlahnya yang dikurangi (strategi pengendalian porsi).

Mari kita menerapkan ini ke dalam aturan diet. Kita mulai dengan makan 2.000 kal/ hari dan membakar 2.000 kal/ hari. Kemudian kita memutuskan untuk menurunkan berat badan dan mengurangi kalori menjadi 1.500 kal/ hari. Tubuh kita segera mengurangi TEE menjadi 1.500 kal/ hari. Pada awalnya, kita kehilangan beberapa kilogram, tapi kemudian penurunan berat badan kita berhenti meski kita masih makan lebih sedikit dari sebelumnya. Karena TEE telah berkurang, kita diserang rasa dingin yang luar biasa, lelah, lapar dan uring-uringan, tetapi, kita tetap patuh dengan memakan lebih sedikit, terus dan terus. Namun, meskipun kini telah lebih dari 1 tahun, keadaannya persis sama. Kita merasa payah dan berat badan tidak turun, padahal kita telah mengusahakan agar makan hanya 1500 kalori/ hari.

Akhirnya, kita berpikir bahwa kita harus kembali ke diet normal 2.000 kal/ hari. Berat badannya merayap naik karena sekarang ia makan 2.000 kalori/ hari dan hanya mengeluarkan 1.500. Sound familiar? Thought so… Itu karena semua yang saya gambarkan di sini telah dijelaskan dengan baik dalam 100 tahun terakhir! Ini sebenarnya mulai masuk akal.

Misalkan kita adalah manajer pembangkit listrik. Setiap hari, kita menerima 2.000 ton batu bara dan membakar 2.000 ton batu bara. Kita juga menjaga pasokan batu bara siapa tahu pasokan tidak cukup (kita harus punya gudang penyimpanan). Sekarang, tiba-tiba, kita hanya menerima 1.500 ton batubara. Kira-kira, di imajinasimu, apakah yang akan kamu lakukan? Jika kita terus membakar 2.000 ton batu bara, kita akan membakar toko batubara dengan cepat, lantas pembangkit listrik kita akan modyar alias sekarat. Pemadaman massal di seluruh kota. Anarki dan penjarahan dimulai. Bos kita akan berteriak dan membentak betapa bodohnya kita lantas mengatakan sesuatu seperti, “your ass is FIRED!”

Sumber Gambar

Masalahnya, pastinya, adalah bahwa ia benar 100%. Karena kita, sebagai manajer pembangkit listrik ini, tidak akan sebodoh itu. Begitu kita sadar pasokan kita hanya 1500 ton barubara, kita akan mengurangi daya outpun kita menjadi 1500 batubara. Sebenarnya, kita bahkan hanya bisa menggunakan 1.400 ton saja untuk berjaga-jaga. Beberapa lampu padam, tapi tidak ada pemadaman listrik. Anarki dan penjarahan sanggup kita hindari. Bos akan mengatakan, “Great job. Anda tidak sebodoh yang saya duga. Raises all around.”

Sekarang, mari pikirkan tubuh kita. Kami makan 2.000 kalori/ hari dan membakar habis 2.000 kalori/ hari. Kita memulai diet, jadi sekarang kita makan hanya 1.500 kalori/ hari. Apa yang terjadi? Nah, tubuh tidak sebodoh itu. Ia tidak mau mati.

Mengapa kita menganggap bahwa the Mother Nature adalah orang yang benar-benar tolol? Hal super mendasar yang kita lakukan adalah mengurangi TEE kita menjadi 1.500 kalori/ hari dan mempertahankannya selama dibutuhkan. Kita tahu, faktanya, bahwa inilah yang terjadi. Sudah terbukti berkali-kali. Kami terus saja tidak percaya dan berharap bahwa strategi pengurangan kalori, yang saat ini kami jalani, akan berhasil.

Itu tidak akan berhasil. Face it. Kita hanya percaya karena otoritas nutrisi selalu memberi tahu kita bahwa itu akan berhasil. Padahal tidak. Mother Nature tidak bodoh. Oleh karena itu, pengurangan kalori konvensional tidak bekerja dalam jangka panjang.

Ingin Ramping? Baca Tentang Mengapa Mengurangi Kalori Bisa Merusak Metabolisme

Sumber Gambar

How Caloric Reduction Wrecks your Metabolism 

Pada postingan sebelumnya, kita telah meninjau bagaimana makan lebih sedikit tidak mengakibatkan penurunan berat badan permanen. Dalam studi klasik tentang pengurangan kalori, hasilnya adalah tingkat metabolisme yang menurun secara signifikan atau Total Energy Expenditure (TEE).

Mari sekarang percepat ke era modern, dan lihatlah penelitian ini yang diterbitkan jurnal bergengsi di New England Journal of Medicine. Dalam percobaan ini, 18 orang obesitas dan 23 subjek non obesitas dengan berat badan stabil direkrut. Mereka diberi makanan cair 45% karbohidrat, 40% lemak dan 15% protein, sampai berat badan yang diinginkan bisa dicapai atau kenaikan berat badan sesuai target.

By: Dokter Jason Fung

Satu kelompok menargetkan penurunan berat badan 10% dan kelompok lainnya menginginkan naik berat badan sekitar 10%. Setelah menggemuk, subjek kemudian kembali ke berat awal mereka.

Pertanyaan yang ingin mereka jawab adalah apa yang terjadi pada TEE saat berat badan meningkat atau menurun.

Jawaban yang ingin mereka dapatkan adalah apa yang terjadi pada TEE saat kita memggemuk atau melangsing. Tidak ada perubahan pada komposisi makanan, dan berat badan yang dinginkan bisa dicapai. Artinya, rasio karbohidrat, protein, dan lemak sama setiap saat. Namun apa yang terjadi pada TEE saat asupan kalori bervariasi?

Dengan kata lain, jika kita mengurangi atau meningkatkan asupan kalori, apa yang terjadi dengan kalori keluar? Menurut hipotesis Pengurangan Kalori konvensional sebagai Primer (CRaP), karena kalori masuk bisa naik atau turun, maka seharusnya kalori keluar tidak akan berubah. Great! Inilah yang ingin kita ketahui juga, karena jawaban yang diberikan oleh penelitian klasik bikin kita garuk-garuk pintu.

Sumber Gambar

Nah, apa yang terjadi? Hasil grafik di atas menunjukkan perubahan pada TEE dengan berbagai kelompok eksperimen. Mari kita mulai dengan melihat kelompok yang menggemuk sekitar 10%. Tanggapan pada kenaikan berat badan menyebabkan pengeluaran energi mereka melonjak hingga 500 kalori/ hari. Semakin banyak kalori masuk, semakin banyak pula kalori keluar.

Ingatlah bahwa salah satu asumsi utama teori CRaP adalah bahwa respons pada perubahan kalori, TEE tidak berubah. Ini jelas SANGAT SALAH. Malah, dengan naiknya asupan kalori masuk, tubuh berusaha membakar kalori yang melimpah.

Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi saat kita melangsing dan berat badan kembali normal. Ternyata ditemukan sesuatu yang sangat menarik. TEE kembali ke garis dasar. Saat berat badan turun, tubuh mengurangi TEE sekitar 300 atau 400 kalori per hari.

Jadi, saat kita mulai menurunkan berat badan, tubuh merespons penurunan berat badan dengan mengurangi TEE, sehingga memperlambat penurunan berat badan lebih lanjut, dan mendorong penambahan berat badan. Ini semua dilakukan tanpa mengubah komposisi makanan, karena semua peserta mengkonsumsi makanan cair yang sama. Dengan kata lain, peningkatan masuk menyebabkan peningkatan kalori keluar. Penurunan kalori masuk menyebabkan penurunan kalori keluar. Hal ini tentu saja cenderung memperkecil efek kenaikan atau penurunan asupan kalori.

Jika Anda mencoba menurunkan berat badan dengan makan lebih sedikit (Kalori Reduksi sebagai Primer), Anda akan semakin sulit melangsing. “WTF?!! OMG, That sucks!”

TERMOSTAT

Alih-alih menyeimbangkan kalori masuk dengan kalori keluar, tampaknya tubuh kita bertindak lebih seperti termostat. Artinya, tubuh nampaknya memiliki Body Set Weight (BSW) tertentu. Setiap upaya untuk meningkatkan di atas BSW ini akan menghasilkan tubuh kita untuk mengembalikan berat tubuh semula dengan meningkatkan TEE (meningkatkan metabolisme untuk membakar kelebihan kalori).

Setiap upaya untuk mengurangi di bawah BSW ini akan mengakibatkan tubuh kita mencoba mengembalikan ke ukuran berat badan semula dengan menurunkan TEE (mengurangi metabolisme untuk mendapatkan kembali kalori yang hilang).

Tidak heran begitu sulit menurunkan berat badan. Seiring kita memperlambat metabolisme kita, kita harus terus mengurangi asupan kalori kita untuk mempertahankan penurunan berat badan.

Hmm. Ini sebenarnya sangat masuk akal. Sesungguhnya, ini adalah asumsi teori #4 dari teori CRaP. Kita berasumsi bahwa regulasi lemak tidak diatur oleh tubuh. Kita beranggapan bahwa saat kita makan lebih banyak, kita terus menggemuk dan saat kita makan lebih sedikit dan kita melangsing. Tapi sistem di tubuh tidak diatur seperti itu! Semuanya berada di bawah kontrol hormon. Ini membuat jauh lebih masuk akal bahwa tubuh memiliki sistem untuk mengendalikan berat badan. (Sebenarnya memiliki banyak sistem).

Mari kita menerapkan ini ke dalam konteks diet. Misalkan kita berada pada bobot yang stabil. Kita makan 2000 kalori dan membakar 2000 kalori setiap hari. Kita menjaga diet kita tetap konstan namun hanya menambah atau mengurangi jumlahnya. Misalkan kita mengukur ukuran porsi kita tapi tetap menjaga diet kita tetap konstan.

Berat badan mungkin sedikit naik, namun respons tubuh juga akan meningkat—suhu tubuh naik, energi dan well-being dapat menanjak menjadi lebih baik. Kita makan 2.500 kal/ hari tapi tubuh sekarang telah meningkatkan TEE menjadi 2.500 kal/ hari. Kita tidak menggemuk dan tubuh akan berusaha mengurangi berat badan kita kembali ke yang asli. Saat itu, kita merasa baik-baik saja dan super segar.

Ayo lakukan sebaliknya—teknik diet salah kontrol porsi/ portion control. Kita mengurangi ukuran porsi makan kita, tapi dilakukan setiap waktu dengan komposisi makanan yang sama. Kita mengurangi konsumsi kalori kita dari 2000 kal/ hari menjadi 1.600 kal/ hari. Berat badan kita bisa berkurang, tapi kemudian tubuh akan merespon dengan mengurangi TEE menjadi sekitar 1.600 kal/ hari. Kita mungkin merasa kedinginan, lelah, sengsara dan lapar. Jika Anda pernah melakukan diet—-Anda mungkin tahu bagaimana rasanya.

Sumber Gambar

 Bagian terburuknya, berat badan kita stag, kita tidak bisa melangsing lagi, karena kita kurang makan dan lemak kita tidak dibakar. Setiap kita khilaf, atau tergelincir dengan makan sedikit lebih banyak, bahkan jika kita makan sama seperti sebelumnya yaitu hanya 2.000 kal/ hari, namun tetap saja, kita menjadi lebih gemuk. Kita mulai digerogoti rasa putus asa. Kita bosan dan merasa sangat payah dan lemas sehingga kita kembali ke hidangan seperti sebelum berdiet. Semua lemak yang telah dienyahkan berbalapan kembali menempel dengan ukuran ekstra jumbo. Faktanya, inilah yang sebenarnya terjadi pada eksperimen semi kelaparan yang dilakukan oleh Dr. Ancel Keys dan juga oleh institusi Carnegie pada tahun 1917.

Kita merasa telah lemah iman. Kita pikir itu salah kita. Dokter, ahli diet, dan profesional medis lainnya diam-diam mengkritik kita karena ‘gagal’ Our doctors, dieticians, and other medical professionals silently criticize us for ‘failing’. Yang lain diam-diam berpikir bahwa kita tidak memiliki ‘kemauan’, dan mengatakan pepesan kosong platitude yang semakin menyudutkan. Sound familiar? Yeah, I thought so.

 Tapi sebenarnya, kegagalan itu bukan salah kita. Diet kontrol porsi dijamin pasti gagal. Telah terbukti berkali-kali dalam 100 tahun terakhir. Satu-satunya alasan mengapa kita berpikir bahwa ini berhasil adalah karena semua orang—dokter, ahli gizi, ‘ilmuwan’, media—telah meyakinkan kita bahwa ini semua tentang kalori.

Jelas ada sesuatu yang menyebabkan kita menggemuk, tapi kalori pasti tidak terlihat seperti masalah di sini. Lantas, apa dong masalahnya?

Ingin Ramping dan Sehat? Baca Kaitan Antara Kegemukan dan Kanker

Sumber Gambar

Obesity and Cancer (1)

Kita telah berbicara secara ekstensif tentang obesitas, sindrom metabolik, puasa, dan diabetes tipe 2. Ini sangat penting karena akan berkembang menjadi penyakit kardiovaskular (serangan jantung dan stroke). Penyakit kardiovaskular merupakan pembunuh nomor 1 di Amerika, namun kita belum menyentuh pembunuh Amerika yang sangat dekat—si besar K—Kanker.

Penyebab kematian yang umum adalah penyakit jantung, dan stroke. Dan kanker sering di-anak-tirikan. Hal yang super duper krusial, hampir semua penyakit disebabkan oleh masalah metabolik. Ini termasuk diabetes, penyakit Alzheimer, penyakit hati, dan penyakit ginjal. Penyebab kematian tertinggi mempunyai benang merah yang sama, yaitu dikarenakan masalah metabolik, kira-kira 6 dari 10 kematian. Penyebab utama lainnya karena infeksi penyakit menular, merokok (penyakit paru-paru) dan bunuh diri/ kecelakaan.
Pada tahun 1977, penelitian apakah adanya hubungan antara penyakit kanker dengan epidemi obesitas baru saja dilakukan. Sebelum tahun 1977, kaitan keduanya belum diteliti. Sebelumnya kanker dianggap sebagai penyakit genetis atau keturunan. Dengan penemuan terbaru ditemukan banyak alasan yang bisa menyebabkan kanker. Tapi, yang perlu digarisbawahi, penyakit kanker bukan penyakit keturunan.

By: Dokter Jason Fung

Sebelum kita mengupas lebih dalam, pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan adalah apa yang dimaksud dengan kanker? Penyebab kanker bukan hanya satu faktor tunggal. Ada beberapa jenis kanker, dan penyebabnya berlainan satu sama lain. Misalnya, ada kanker umum, seperti payudara, kolorektal, prostat, kulit, pankreas, hati dll.

Ada kanker darah seperti berbagai leukemia dan limfoma. Mereka semua berbeda, tapi mereka juga memiliki beberapa karakteristik nyaris serupa. Ciri khas umum inilah yang ingin saya diskusikan. Ini seperti mendiskusikan olahraga profesional.

Anda bisa mengatakan bahwa sepak bola, sepak bola, hoki, pagar dan bola basket semuanya berbeda tapi semuanya bisa dipertimbangkan sama pada umumnya. Sepak bola, hoki, basket semuanya tidak sama, tetapi tetap saja mempunyai benang merah yang sejenis. Semua melibatkan kompetisi dan keterampilan fisik meski berbeda satu sama lain. Begitu pula kanker, mereka mempunyai banyak kesamaan. Salah satu artikel yang paling banyak dikutip dalam onkologi (studi tentang kanker) adalah makalah Weinberg klasik yang merinci 8 karakteristik umum/ Weinberg paper detailing 8 common characteristics. Nanti, kita akan membahasnya secara mendetail.

Hubungan antara kanker dan obesitas benar-benar dibuat kaya raya pada tahun 2003/ solidified in 2003 with a large scale epidemiological study dengan penelitian epidemiologi berskala besar yang diterbitkan di NEJM. Ini adalah studi-kohort-prospektif dengan skala gigantis yang disebut Cancer Prevention Study II. Ini berarti bahwa partisipan diidentifikasi dan terdaftar sebagai orang sehat dan kemudian mengikuti prosedur untuk melihat apa yang terjadi pada mereka. Ini dimulai pada tahun 1982 dan membutuhkan 77.000 relawan, yang berjumlah lebih dari 1 juta. Pada tahun 1984, 1986 dan 1988, relawan secara pribadi memanggil jutaan peserta ini untuk melihat siapa yang meninggal dan mengapa. Itu benar-benar mind-boggling alias menampar kita bolak-balik. Setelah tahun 1988, dengan adanya database nasional sanggup memperlicin segalanya. Variabel yang menarik adalah penyebab kematian karena kanker.

Secara keseluruhan, jika Anda menggemuk, sebenarnya Anda tidak berisiko terkena kanker. Risiko peningkatan kanker nilainya kecil, terkait dengan kelompok ‘kelebihan berat badan’ (BMI 25-30). Setelah itu, risiko meningkat secara bertahap yaitu 1,52 untuk kelompok obesitas yang tidak sehat (BMI lebih dari 40). Dalam bahasa sederhana, itu berarti bahwa peningkatan risiko kematian akibat kanker mencapai angka 52% pada orang sangat gemuk. Kanker tertentu lebih mencemaskan daripada yang lain, termasuk kanker hati dimana risiko Anda meningkat sebesar 452%!

Sumber Gambar

Berita itu membuat kita deg-deg ser. Namun, kanker paru-paru, menunjukkan hubungan terbalik. Risiko relatifnya adalah 0,67, yang berarti jika Anda gemuk, kemungkinan Anda terserang penyakit kanker paru-paru berkurang sebesar 33%. Tapi, bisa jadi itu disebabkan karena perokok cenderung berbadan langsing. Karena kanker paru-paru adalah salah satu pembunuh kanker terbesar, ini berarti bahwa 52% peningkatan risikonya bisa dianggap kelas teri. Jika Anda menghapus semua perokok dari kelompok, maka Anda mulai melihat hubungan yang jelas. Pada wanita yang tidak merokok, risiko relatif meningkat menjadi 1,88 pada BMI> 40 atau peningkatan risiko kanker sebesar 88%. Dengan kata lain, semakin gemuk, risiko terkena kanker pun semakin melonjak.

Namun ada satu hal yang menarik, dengan adanya fenomena yang terkenal yaitu kanker cachexia (kecenderungan yang terjadi pada pasien kanker di stadium lanjut kehilangan nafsu makan dan berat badan melorot drastis), menyebabkan hubungan antara obesitas dan kanker menjadi kabur. Efek ini akan, sekali lagi, menyebabkan kita tidak bisa melihat hubungan antara obesitas dengan kanker.

Dari data ini, peneliti menghitung PAF(Populasi Attributable Fraction), berdasarkan seberapa kuat asosiasi dan prevalensi obesitas. Secara umum, ini memberikan estimasi, berapa persen obesitas berkontribusi pada kanker. Pada pria, perkiraannya adalah 4,2-14,2%, dan pada wanita 14,3-19,8%. Dengan kata lain, kaitan antara obesitas dengan kanker nilainya sebesar 15%.

Perlu diingat, estimasi ini hanya mencakup data sampai tahun 1998. Sembilan belas tahun terakhir, angka obesitas terus melonjak naik, yang artinya fraksi yang ada terlalu rendah, sehingga kaitannya tidak terlalu signifikan lagi. Untuk beberapa jenis kanker, risikonya bahkan lebih tinggi. Untuk kanker endometrium, misalnya, PAF diperkirakan 56,8%.

Jadi, kanker jenis apa  yang kaitannya paling setrong dengan obesitas? Kanker payudara adalah salah satu kanker yang terkuat. Studi epidemiologis sejak tahun 1970an secara konsisten menemukan kaitan ini, relasi antara kanker dan prognosis juga lumayan erat. Pada wanita pascamenopause, tingkat kanker payudara meningkat 30-50% seiring dengan kenaikan berat badan. Beberapa studi menemukan bahwa adipositas sentral atau penumpukan lemak di area perut adalah faktor risiko tambahan, namun ada juga yang tidak. Tingkat kematian pada wanita gemuk akibat kanker payudara 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada wanita langsing. Alasan untuk kaitan ini belum ditemukan 100%, namun satu hipotesis yang kuat adalah bahwa penumpukan jaringan adiposa/ atau semakin Anda gemuk, maka efek estrogen pun semakin merayap naik. Kanker endometrium mungkin menunjukkan hubungan yang sama dengan alasan yang serupa. Tetapi, kanker lain kaitannya juga cukup kuat meskipun esterogen bukan pemain utama. Misalnya, adenokarsinoma (tipe kanker) kerongkongan juga menunjukkan PAF membengkak menjadi 52,4% di Amerika, untuk alasan yang belum jelas. Kanker ginjal juga melambung secara signifikan pada orang gemuk. Kanker pankreas, kanker kolorektal, kanker hati dan kandung empedu semuanya menunjukkan tingkat hubungan yang lebih rendah, namun tetap substansial.

Sumber Gambar

Kanker tertentu tidak terkait dengan obesitas sama sekali. Kanker paru-paru, menunjukkan sedikit asosiasi dengan obesitas, ini tentu saja masuk akal, karena penyebab utama kanker paru-paru adalah kebiasaan merokok. Kanker serviks juga tidak menunjukkan hubungan. Sekali lagi ini masuk akal karena Human Papilloma Virus dianggap merupakan pelaku utama.
Tapi kanker ovarium, dan kanker prostat juga tidak menunjukkan bukti bahwa obesitas bisa mempengaruhi.

Intinya adalah bahwa obesitas merupakan faktor penting dalam kanker pada umumnya, meski tidak semua kanker. Jelas, kanker adalah penyakit multi faktor, ada banyak penyebab yang bisa mengakibatkan kanker. Hal ini mirip dengan penyakit kardiovaskular, dimana tidak ada penyebab tunggal. Merokok, genetika, seks, keadaan menopause, pembengkakan, diet, olahraga, stres, obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, sindrom metabolik semuanya berperan dalam perkembangannya. Ini tidak mengurangi pentingnya salah satu dari faktor-faktor ini, namun berarti kita harus menerima bahwa ada beberapa jalur penting yang tidak bisa diabaikan. Dalam penyakit jantung, ini adalah dogma yang telah mapan.

Namun, pada kanker, telah ada konsensus yang meluas bahwa hal itu disebabkan oleh satu masalah—mutasi, dan bahwa segala sesuatu yang menyebabkan kanker adalah merupakan mutasi genetik. Hal ini tentunya berlaku untuk beberapa hal seperti radiasi ion yang menyebabkan kanker.Tetapi, teori mutasi somatik yang disebut SMT ini hampir pasti salah, nanti kita akan menyimaknya bersama-sama. Hubungan kuat dengan obesitas juga merupakan contoh yang bagus. Hal ini jarang didiskusikan karena obesitas diasumsikan hanya menyumbang 20-30% kanker umum (PAF). Menggemuk tidak menyebabkan mutasi genetik. Sel lemak tidak mutagenik. Tapi tentu saja membuka pintu untuk mempertimbangkan sisi hormon/ metabolik kanker. Karena jika penyakit metabolik memainkan peran kunci dalam kanker tertentu, maka pencegahan penyakit tersebut akan bergantung pada pembalikan cacat metabolik tersebut. Sekali lagi, sebuah harapan baru muncul. Kita bisa mencegah kanker. Horeeeeee.