PCOS, Siklus Anovulasi, dan Hiperinsulinemia

Siklus anovulasi? Apaan tuh? Siklus menstruasi yang mana nggak ada proses ovulasi/ pembuahan. Oleh karena itu, penderita PCOS, sulit dapet anak. Sialnya, PCOS itu sendiri menyebabkan infertilitas anovulasi sebanyak 70%. Nggak ada folikel yang dominan dan tumbuh cukup ‘gendut’ untuk ngelakuin ovulasi, ini selama masa istirahat folikel.

Seseorang dianggap tidak akan memiliki bayi, karena tanpa adanya telur yang matang, konsepsi nggak akan pernah kejadian. Progesteron akan diproduksi setelah ovulasi oleh sisa folikel dominan, dan ini terjadi selama menstruasi normal.

Tanpa adanya ovulasi, progesteron menjadi ultra rendah, oleh karena itu, terjadilah mens yang runyam dan tidak regular. Ini mengarah secara klinis ke siklus nggak teratur yang ‘kepergok’ di PCOS.

Di kasus PCOS, ini tampak eksplisit banget, gejala klinisnya adalah siklus yang nggak rapi. Sebenernya, mayoritas perempuan akan ngalamin siklus anovulasi kok, terutama ketika pubertas dan menopause.

Tetapi, sesungguhnya, penyebab pilarnya adalah:

  1. Insulin tinggi.
  2. Testosteron melimpah.

Mengapa demikian? Karena testosteron adalah produk sampingan aja, cuma res-resan, sementara tersangka utamanya, yang-paling-penjahat-dari-yang-terjahat, yang paling bertanggung jawab akan siklus anovulasi adalah karena insulin yang jangkung bingit.

By: Dokter Jason Fung (PCOS, anovulatory cycles and hyperinsulinemia – PCOS 9)

Metformin digunain sebagai senjata ampuh karena si doski sanggup menurunkan T plasma, dan menaikkan rates dari ovulasi, jadi metformin efeknya ganda, bisa untuk meredakan gejala PCOS, sekaligus sanggup untuk membuat pasien ngalamin weight loss (meramping).

Gejala PCOS bisa dikurangi, plus fungsi ovulasi bisa dinaikkan dengan hal-hal yang berbau memangkas insulin seperti:

  1. Menurunkan berat badan.
  2. Operasi bariatic.
  3. Obat somatostatin.
  4. Metformin.

Hal yang sangat menyentak adalah, pasien penderita diabetes tipe 1 yang mana pake banyak insulin juga memiliki risiko PCOS tingkat dewa.

Ada 3 fitur elementer yang merupakan ciri khas PCOS:

  1. Ovarium polikistik, atau adanya kista di rahim.
  2. Siklus anovulasi atau siklus nggak ada pembuahan.
  3. Tampak maskulin.

Ketiga simptom tadi merefleksikan patofisiologi yang sama, yaitu, testoteron meluber, dan pastinya disebabkan karena insulin yang membludak. Simpelnya, insulin yang tumpah-tumpah risikonya adalah PCOS.

Resistensi insulin. Jadi, sama aja kayak kegemukan, PCOS adalah penyakit hiperinsulinemia. Jadi, sudah jelas ya kaitannya, obesitas dan PCOS, mereka adalah manifestasi dari hiperinsulinemia. Memang, mereka nggak selalu terjadi simultan, namun sangat berkaitan erat.

Teka-teki selanjutnya adalah, apakah yang sesungguhnya nyebabin level insulin meninggi? Apa, sih, yang menyebabkan insulin ini menjadi rafi?

Faktor hidangan seperti gula yang bombastis dan karbohidrat yang dihaluskan, pastinya memang ngaruh, tapi, itu bukan satu-satunya akar perkara. Faktor mayor lainnya yang mencetuskan insulin rabung adalah lahirnya suatu ‘iklim’ bernama INSULIN RESITEN.

Sumber Gambar

Recall ingatan Anda, hormon insulin fungsinya adalah memindahkan glukosa dari darah di dalam sel. Jika kondisinya resisten, kadar insulin yang normal nggak akan sanggup memindahkan glukosa di dalam sel, mau nggak mau, dia musti menambah ‘semprotan’ insulin, dong.

Lantas, tubuh merespons dengan melonjakkan kadar insulin untuk mengikat glukosa di dalam sel. Oleh karena itu, sebenernya, sih, yang menyulut insulin tetap luhur adalah insulin resisten, bukan hanya itu, dia juga merupakan faktor vital yang mengakibatkan insulin tetap tinggi, bahkan jika kita nggak mengubah jenis makanan pun, tetap saja kayak gitu.

Insulin resisten dan hiperinsulinemia berkorelasi ‘intim’ banget dengan PCOS. Rata-rata, sensitivitas insulin pada PCOS menurun sekitar 30-40%, ini sama betul dengan penderita diabetes tipe 2.

Sesungguhnya, insulin resisten memang terikat banget dengan obesitas, namun, ini juga biasa terjadi pada wanita pengidap PCOS dengan berat badan wajar. 75% insulin resisten terdiagnosa ada pada perempuan kurus tetapi PCOS, padahal, sekali lagi, dia nggak gemuk.

Proporsi ini merayap sebesar 95% pada wanita obesitas dengan PCOS. Esensinya, seluruh perempuan obesitas + PCOS = punya resistensi insulin.

Ditambah, perempuan dengan berat badan normal tapi punya PCOS, lemak di selingkung organ hati/ fatty liver, kuantitasnya lebih amboi banyaknya.

Jadi, ini sebuah fakta ekstra yang berasosiasi dengan resistensi insulin.

Diabetes tipe 2 mengantongi atribut spesifik yaitu insulin resisten. Jadi, insulin resisten melahirkan kadar insulin yang lebih adiluhung, yang mana berkontribusi pada PCOS.

Sumber Gambar

Tapi, jika kita tanya lebih kritis lagi, apa, sih, yang menyebabkan level insulin itu tinggi saat pertama kali? Ini telah dibahas berulang kali di blog dokter Fung dan juga bukunya.

PCOS adalah manifestasi lain dari penyakit metabolik doang kok, dan benang merahnya semuanya ekuivalen, karena hiperinsulinema—atau insulin yang meluber.

Ini informasi yang krusial, karena akar masalah PCOS (kegemukan dan diabetes tipe 2) adalah karena terlalu banyak insulin, sehingga solusinya pun udah sangat jelas dong—kudu memangkas insulin.

How to do that? Jalan keluarnya tentu aja bukan dengan mengebor ke lubang ovarium. Solusinya hanyalah diet. Rendah karbohidrat dan puasa.

Mantra Diabetes—Glucotoxicity

Saya telah mengobati pasien selama bertahun-tahun. Jadi saya udah punya mantra untuk mengobati diabetes dong, yaitu, “Glikemik harus dikontrol dengan ketat.” Di tubuh manusia ada ahli kepala endokrinologi dan dia akan menggongong, “turunkan gula darah ke kisaran normal dengan biaya yang juga normal, tentara!”

Tentara akan merespons, “Yes, Sir! Yes, Sir!”

Meskipun ini bukan penyebab penyakit, tetapi diabetes ditandai dengan gula darah tinggi. Padahal gula darah yang jangkung hanyalah gejala penyakit, bukan penyakit itu sendiri. Emang sih, pada penyakit diabetes tipe 1 penyebab utama penyakit ini adalah kekurangan insulin, jadi jelas fondasi manajemen penyakit ini adalah dengan mengganti insulin.

By: Dokter Jason Fung (The Diabetes Mantra – Glucotoxicity – T2D 11)

Tetapi, pada penyakit diabetes tipe 2, penyebab elementer penyakit adalah resistensi insulin. Oleh karena itu, logika yang berlaku adalah, pengobatannya tentu diarahkan untuk membalikkan resistensi insulin, bukan malah menurunkan gula darah, karena gula darah yang tinggi hanyalah gejala.

Lalu, karena diabetes tipe 2 mayoritas disebabkan oleh salah makan, hal yang rasional adalah dengan makan yang benar. Bukan justru mengonsumsi obat. Indeed, ada benang merah antara diabetes tipe 1 dan 2, yaitu, keduanya sama-sama ditandai dengan gula darah yang semampai.

Tetapi, karena kebanyakan meminjam buku pedoman untuk diabetes tipe 1, mereka menyamaratakan pengobatan untuk diabetes tipe 2, yaitu memakai insulin.

Di Amerika Serikat, sebagian besar pasien diabetes diobati menggunakan insulin. Jumlahnya hampir 1/3 pasien. Oleh karena itu, pada dekade terakhir, jumlah insulin yang digunakan untuk pasien meningkat sekitar 50%.

Mengingat bahwa 90-95% mereka mengalami diabetes tipe 2, jadi penggunaan insulin sesungguhnya sangat tidak tepat, jadi ini sangat mengerikan, iya kan? Pasien yang menggunakan obat-obatan dan insulin untuk diabetes mereka angkanya 85,3%, itu berdasarkan data tahun 2011.

Mencoba mengendalikan gula darah dengan ketat nggak akan berguna jika kaitannya untuk penyakit kardiovaskular, ini telah dibuktikan oleh percobaan dalam skala besar. Nggak masuk akal sama sekali, jika penyakit kebanyakan insulin kemudian obatnya dengan menambah asupan insulin, bener nggak?

Analoginya, itu seperti mencuci baju dengan nyemplungin mereka ke dalam air, tapi, ngeringinnya dengan… celupin juga ke air.

Jenis penyakit ini sangat berlawanan meski namanya sama-sama diabetes, yang satu terlalu sedikit insulin, satunya lagi terlalu melimpah. Mana mungkin dua penyakit yang berbeda 180 derajat, diobati dengan cara yang sama? Kita nggak idiot kan ya?

Sampai dengan pertengahan 1990-an, nggak jelas, apakah gula darah adiluhung itu termasuk kategori berbahaya? Padahal gula darah dalam jumlah inferior atau rendah, jauh lebih emergensi untuk jangka pendek. Banyak penyakit jantung dan kematian terkait dengan hipoglikemia.

JAMA Internal Medicine, tahun 2014, telah melakukan sebuah riset untuk melihat adanya fenomena hipoglikemia. Bayangin aja, ada 100.000 orang di IGD, dan 30.000 di rawat inap biasa yang berhubungan langsung dengan hipoglikemia. Perkiraan biaya perawatan ini adalah $600 juta, ini lebih dari 5 tahun. Risiko tinggi biasanya dialami oleh pasien yang lebih tua.

Diestimasikan, sekitar 404.000 pasien, dirawat rumah sakit, karena gula darah rendah, pada tahun 1999-2011. Di sisi lain, hanya 280.000 karena gula darah yang tinggi.

Hipoglikemia ini mempunyai sekuel yang cukup serius:

  1. Kejang.
  2. Pingsan.
  3. Bahkan kematian.

Penerbitan DCCT (Diabetes Control and Complications Trial) pada tahun 1993 di NEJM mengubah segalanya. Pasien diabetes tipe 1, diacak untuk mengontrol glukosa dengan ketat (injeksi sekitar 3- 4/ hari) dan suntikan konvensional (1-2/ hari), pada 1441 pasien. Gula darah rata-rata bisa diturunkan dengan dosis insulin yang besar.

Grup konvensional hasilnya mendekati 9%, dan kelompok-kontrol-ketat kira-kira 7%, ini dilihat dari A1C. AC1 atau 9% dianggap nggak tersupervisi jika membonceng standar ini. Seperti yang diperkirakan 3 kali lebih tinggi pada kelompok pengendalian intesif, pada saat terjadi hipoglikemia.

Kejadian retinopati terjun bebas sebesar 76%, pasca pengamatan lebih dari 6,5 tahun pada periode follow up. Ada penurunan sebesar 50% pada nefropati diabetik/ penyakit ginjal, dan saraf yang rusak berkurang sekitar 60%.

Efek pada pengendalian gula darah ketat pada beberapa eksperimen ditujukan untuk melihat penyakit vascular makro—serangan jantung dan stroke.

Apakah ada benefit dari pengamatan lebih lanjut ini memang masih misteri, tetapi, memang nggak ada efek yang nguntungin sih, pada akhir percobaan.

Pada tahun 2005, NEJM telah menerbitkan EDIC (Epidemiologi Diabetes Intervensi dan Complication), dan para pasien ini telah lama mengikuti uji coba ini. Kelompok pasien ini telah diikuti selama 17 tahun.

Cara kerjanya adalah, grup ini memang tidak diobati secara aktif, hanya diikuti saja, dan hasilnya adalah, kontrol glukosa darah mereka tetap sama, meski yang satu selama 6,5 tahun, dan yang lain 17 tahun. Rata-rata A1c adalah 7,8-7,9%.

Ini berkurang sekitar 50%, meski memang agak lama untuk mendeteksi adanya perubahan pada CVD. Paradigma glucotoxicity di diabetes tipe satu, terbentuk karena hal ini. Insulin yang kurang sebagai penanda diabetes tipe 1. Komplikasi diabetes berkurang secara substansial dengan diberikannya insulin yang berperan mengendalikan gula darah. Artinya, efek gula darah yang tinggi dapat disangkutkan dengan multipel toksisitas pada diabetes tipe 1. Tetapi, ini ada biaya.

Ini akan menjadi periode di mana hipoglikemik meningkat, seperti yang telah disebutkan di atas. Selanjutnya, pada kelompok intensif, kenaikan berat badan akan melonjak secara signifikan.

Jadi ini sangat jauh melampaui apa yang terjadi pada kelompok konvensional, sungguh kasian, karena 30% subjek pada insulin-dosis-tinggi, menggemuk dengan luar biasa. Tetapi, benefitnya memang nggak dapat diabaikan.

Ini nggak bertahan lama, pada akhir 1990-an, dokter telah khawatir dengan adanya kegemukan yang di atas rata-rata.

Indeks Massa Tubuh mereka meningkat dari 24 menjadi 31, ketika episode pengobatan, dan yang paling banyak mengalami kenaikan adalah yang didefinisikan pada kuartil pertama, yaitu 25% naiknya.  Atau dengan bahasa lain, mereka yang tadinya normal menjadi membulat ketika dokter berupaya mengurangi gula darah mereka.

Pengaruhnya bukan hanya itu, tekanan darah dan kolesterol juga kena imbasnya. Problem yang sangat terlihat adalah perut membuncit.

Apakah yang menjadi ciri khas pada diabetes tipe 2 adanya kombinasi hal-hal di bawah ini:

  1. Adipositas sentral (perut buncit).
  2. Hipertensi.
  3. Dislipidemia.

Atau lebih tepat dinamakan karakter sindrom metabolik. Ini bukanlah kabar baik. Plus, ada kabar buruk lain yang akan terjadi.

Pasca mengobservasi studi EDIC, periset mempertanyakan sekali lagi, apakah obesitas yang berlebihan ini ada efek merugikan. Pada subjek yang telah 17 tahun diberikan terapi insulin pada studi EDIC, klasifikasi arteri coroner (CAC), dan intimal medial (CIMT), mulai diukur ketebalannya.

Keduanya merupakan tindakan aterosklerosis yang diterima dengan baik—penumpukan plak di arteri yang menyebabkan serangan jantung dan stroke. Tindakan aterosklerosis harus segera dilakukan karena adanya penumpukan plak di arteri yang menjadi pemicu serangan jantung dan stroke.

Tanda hal buruk yang akan datang adalah adanya:

  1. Klasifikasi kadar yang tinggi
  2. Dinding pembuluh darah yang menebal.

CIMT ini diukur di tahun 1 dan tahun ke-6.

Sementara itu, CAC diukur pada tahun 8 dari EDIC atau 11 sampai dengan 20 tahun pasca eksperimen. Semakin studi EDIC ini diperpanjang, pasien terus menggemuk, lingkar pinggang terus membesar, dan dosis insulin bertambah lagi dan lagi. Tekanan darah yang paling buruk, dan parameter lipid yang terjelek juga dialami oleh mereka yang paling gemuk.

Skor CIMT dan CAC meningkat pada grup yang berat badannya bertambah dengan berlebihan ini, meski harus kita akui, ini nggak bahaya-bahaya banget. Artinya apaan sih? Pengurangan toksisitas glukosa pada diabetes tipe 1 bisa dilakukan dengan insulin, namun, dalam jangka panjang, racun dari treatment ini juga tampak sangat jelas.

Menggemuk karena insulin bukan masalah sepele, ini nggak sesimpel Anda tampak jelek dalam bikini. Konsekuensinya itu lho, sangat merusak. Obesitas disebabkan oleh insulin. Sindrom metabolik (problematika berkaitan dengan lipid, obesitas sentral, tekanan darah tinggi) akan terjadi bersamaan dengan obesitas. Yang lebih parah adalah, Anda mulai melihat adanya tanda subklinis aterosklerosis (CAC dan CIMT). Ada 2 jenis racun di sini.

Jadi apa akibat buruk dari dosis insulin makro ini:

  1. Toksisitas dari gula darah tinggi.
  2. Dalam jangka panjang menyebabkan obesitas.

Insulin yang sangat rendah pada diabetes tipe 1, menyebabkan masalah dominan pada toksisitas glukosa dalam jangka pendek (<10 tahun). Tetapi, jika insulin dosis tinggi diberikan dalam jangka waktu panjang, masalah yang muncul mirip dengan diabetes tipe 2 (kadar insulin yang melimpah).

Perkaranya adalah bahwa masalah toksisitas insulin ini nggak pernah terpikirkan selama ini. Hal yang menjadi konsentrasi dokter adalah hanya mengkonfirmasi adanya glucotoxicity, itu yang ditemukan pada riet DCCT/ EDIC.

Hasil gula darah yang persisten tingginya menyebabkan efek buruk baik pada diabetes tipe 1 dan 2. Dengan paradigma itu, menurunkan gula darah adalah harga mati—bahkan jika itu berarti sledgehammering/ membunuh seseorang dengan memberikan unit insulin beratus-ratus.

Produsen insulin, pastinya nggak seneng dengan riset ini. Jika Anda menanyakan, “Apakah ini berlaku pada diabetes tipe 2?” Ini adalah pertanyaan yang apik.

Gula darah yang tinggi pada diabetes tipe 2 dikarenakan resistensi insulin. Ide cantik jika Anda mengatakan bahwa menyuntikkan lebih banyak insulin, sama aja dengan memalu kepala si pasien.

Bagaimanapun, insulin tinggi adalah ciri khas dari pasien diabetes tipe 2. Tapi sialnya, inilah mantra yang berlaku untuk menurunkan gula darah. Tapi di sisi lain, untungnya, sekarang ada studi UKPDS yang mulai memberi sedikit atensi.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca tentang Asal-Usul Mengejutkan dari Minyak Sayur

Sumber Gambar

Melihat ke belakang selama 40 tahun terakhir, sulit untuk menyelami bagaimana kita bisa begitu mudah tertipu. Kita percaya bahwa lemak, dan lebih khusus lemak jenuh (ditemukan terutama dalam makanan hewani), dianggap menumbuhkan kolesterol dan menyebabkan penyakit jantung.

Sebaliknya, kita harus beringsut ke minyak nabati ‘sehat’ seperti minyak biji kapas, jagung, safflower, dan kedelai. Tetapi bukti mutakhir menunjukkan ini adalah tawar-menawar Faustian. Minyak biji yang diolah secara industri jauh, jauh lebih bobrok.

By: Dokter Jason Fung (The Shocking Origins of Vegetable Oil – Garbage)

Itu semua kesalahan kolosal yang dimulai dengan Crisco. Perkebunan kapas untuk kain dibudidayakan di Amerika Serikat sedari 1736. Sebelum ini, hanyalah ‘sepenggal’ besar tanaman hias.

Pada awalnya, sebagian besar kapas dipintal menjadi pakaian, tetapi kejayaan panen berarti bahwa beberapa dapat diekspor ke Inggris. Dari kapas seberat 600 pon pada warsa 1784, ia tumbuh hingga lebih dari 200.000 pada tahun 1790. Penemuan kapas-gin oleh Eli Whitney pada 1793 mencetuskan produksi kapas mengejutkan 40.000.000 pon.

Tetapi, kapas faktualnya adalah dua tanaman—serat dan biji. Untuk setiap 100 pon serat, ada 162 pon biji kapas tidak berguna, yang sialnya, jumlahnya termasuk kategori hiper. Hanya 5% dari benih ini dianggap krusial untuk penanaman. Separo bisa digunakan untuk pakan ternak, namun, masih ada tumpukan sampah.

Apa yang bisa mereka lakukan dengan gunungan sampah ini?  Seonggok-super-besar dibiarkan membusuk atau dibuang begitu saja ke sungai. Itu limbah beracun, Sob.

Sementara itu, pada tahun 1820-an dan 1830-an, merayapnya permintaan untuk minyak yang digunakan dalam memasak dan penerangan dari populasi yang melambung dan merosotnya pasokan minyak ikan paus, berkonsekuensi pada harga mengangkasa.

Para pengusaha menjadi giat berusaha ngancurin biji kapas yang nggak berfaedah, untuk mengekstrak minyak, tetapi baru pada tahun 1850-an teknologi itu akhirnya matur, hingga produksi komersial dapat dimulai.

Namun, pada 1859, sebuah terjadilah event yang akan mengubah dunia modern. Kolonel Drake ‘mengamuk’ di Pennsylvania pada 1859, lantas menyuguhkan pasokan besar bahan bakar fosil ke dunia modern. Tak lama, permintaan minyak-biji-kapas-untuk-penerangan telah sungguh-sungguh menguap dan biji kapas kembali diklasifikasikan sebagai limbah beracun.

Dengan banyaknya minyak kapas, tetapi nggak ada order, membuahkan keputusan gila, ada oknum yang secara ilegal menambahkannya pada lemak dan lemak hewani. Plus, yang paling membahayakan adalah nggak ada bukti bahwa ini layak dikonsumsi oleh manusia.

Kita nggak mengunyah T-shirt katun kita. Demikian pula, minyak biji kapas, yang ringan dalam rasa, dan sedikit berwarna kuning dicampur dengan minyak zaitun untuk meredam biaya. Hal ini memicu Italia melarang minyak zaitun Amerika yang tercemar pada tahun 1883.

Perusahaan Proctor & Gamble menyedot minyak biji kapas untuk pembuatan lilin dan sabun, however, segera nemuin fakta bahwa mereka dapat menggunakan proses kimia untuk menghidrogenasi sebagian minyak biji kapas menjadi lemak padat yang menyerupai lemak babi.

Proses ini menghasilkan apa yang sekarang disebut lemak ‘Trans’, membuat produk ini sangat serbaguna di dapur, bahkan jika tidak ada yang ngeh apakah kita harus menggejot dan menggelontorkan limbah beracun ini ke mulut kita.

Itu membikin kue lebih flaky atau endes. Juga, bisa dipake untuk menggoreng. Doski bisa difungsikan untuk membuat kue. Apakah itu sehat? Nggak ada yang tahu. Karena lemak semi-padat yang baru ini mirip makanan, dan keputusan dibuat untuk memasarkan ini sebagai jamuan masih tanda tanya besar.

Mereka menyebut produk baru yang revolusioner ini Crisco, yang merupakan singkatan dari minyak biji kapas yang dikristalkan. Crisco dengan terampil dipasarkan sebagai alternatif lemak yang lebih murah.

Pada tahun 1911, Proctor & Gamble meluncurkan kampanye brilian untuk menyisipkan Crisco ke setiap rumah tangga Amerika. Mereka menghasilkan buku resep, yang semuanya mengaplikasikan Crisco, tentu saja mereka ngasih buku itu secara gratis. Ini tidak pernah terdengar, pada saat itu.

Iklan pada jaman itu juga merumuskan bahwa Crisco lebih mudah dicerna, lebih murah dan lebih sehat karena asal tanamannya. Biji kapas itu sendiri yang sejatinya adalah sampah secara validitas nggak disebutkan dong—ya, tepat sesuai dugaan.

Selama 3 dekade berikutnya, Crisco dan minyak kapas lainnya mendominasi dapur Amerika, kemudian memutasikan dan ‘melempar’ lemak babi. Pada 1950-an, minyak biji kapas itu sendiri semakin mahal, dan Crisco sekali lagi beralih ke substitusi yang lebih terjangkau yaitu minyak kedelai. Kedelai menyabet rute yang nggak mungkin ke dapur Amerika.

Berasal dari Asia, kacang kedelai diperkenalkan ke Amerika Utara pada tahun 1765, setelah didomestikasi di Cina sejauh 7000 SM. Kedelai terdiri dari sekitar 18% minyak dan 38% protein, membuatnya ideal sebagai makanan untuk ternak atau untuk kebutuhan industri (cat, pelumas mesin).

Karena orang Amerika hampir nggak pernah melahap hidangan bernama tahu sebelum Perang Dunia II, membuatnya menjadi makanan yang langka.

Berbagai hal mulai berubah selama Depresi Besar, ketika teritori besar di Amerika Serikat dilanda kekeringan yang parah—Dust Bowl. Kedelai dapat ngebantu meregenerasi tanah via memermak nitrogen.

Ternyata bahwa Dataran Amerika yang besar sangat ideal untuk menanam kedelai, sehingga dengan cepat mereka menjadi tumbuhan paling menguntungkan kedua, tepat di belakang jagung.

Sementara itu, pada tahun 1924, American Heart Association dibentuk. Seperti yang dilaporkan Nina Teicholz dalam bukunya, The Big Fat Surprise, AHA bukanlah raksasa kuat seperti sekarang ini, tetapi hanya sekelompok spesialis jantung yang sesekali ‘temu-kangen’ untuk membahas problematika berhubungan dengan hal-hil profesional.

Pada tahun 1948, kelompok kardiolog yang mengantuk ini ditransformasikan oleh sumbangan 1,5 juta US Dollar dari Proctor & Gamble—pembuat sarat lemak kacau balau; Crisco—yang dihidrogenasi. Peperangan untuk mengambil alih lemak hewani dengan minyak sayur sedang berlangsung. Kesepakatan Faustian dibuat—menggadaikan kesehatan suatu bangsa untuk beberapa tumpukan Dollar.

Pada 1960-an dan 1970-an, yang dipimpin oleh Ancel Keys, penjahat diet baru adalah lemak jenuh, jenis yang lebih sering kedapatan pada makanan hewani seperti daging dan susu. American Heart Association (AHA) menulis sugesti resmi pertama dunia pada tahun 1961 yang merekomendasikan bahwa kita harus “mengurangi asupan lemak total, lemak jenuh dan kolesterol. Tingkatkan asupan lemak tak jenuh ganda”.

Dengan kata lain, lemak hewani harus dibasmi dan minyak sayur ‘sehat jantung’ kudu diselinapkan, lemak tak jenuh ganda tinggi, seperti Crisco, juga harus disusupkan. Nasihat ini ‘dipanggul’ dan disisipkan ke Pedoman Dietary 1977 yang berpengaruh bagi orang Amerika. American Heart Association melemparkan otoritas pasar yang sekarang cukup besar untuk memastikan bahwa Amerika makan lebih sedikit lemak, dan lebih banyak lemak jenuh.

Pusat Sains untuk Kepentingan Umum (CSPI), misalnya, mengutarakan peralihan dari lemak daging sapi dan lemak jenuh lainnya ke lemak transgenik yang memuat minyak terhidrogenasi parsial sebagai “sebuah anugerah besar bagi arteri Amerika”. “Jangan menyantap mentega!” Sergah mereka.

Sebagai gantinya, menggantinya dengan minyak nabati terhidrogenasi parsial (baca: lemak trans) yang dikenal sebagai margarin. Bak-plastik-yang-dapat-dilahap-itu jauh lebih sehat daripada mentega yang dikonsumsi manusia setidaknya selama 3000 tahun, kata mereka. Bahkan hingga tahun 1990, CPSI menolak untuk mengakui risiko menulis lemak trans—“Trans, shmans”—Anda mau tak mau harus makan lebih sedikit lemak jika ingin sehat.

Pada tahun 1994, CSPI ngebikin histeria dengan kampanye menakut-nakuti yang cemerlang.

Popcorn pada saat itu menyembul cantik dalam minyak kelapa, yang sebagian besar adalah lemak jenuh. CSPI menuturkan bahwa, “dalam kantong popcorn berukuran sedang, membuat lebih banyak ‘penyumbatan arteri daripada sarapan bacon dan telur, dan makan malam steak juga harus diberantas kalo mau sehat!’

Pemasaran popcorn jatuh, dan bioskop tergopoh-gopoh mengganti minyak kelapa mereka dengan minyak nabati terhidrogenasi parsial. Ya, lemak-trans lageeeee, Sob.

Sebelum itu, perang untuk menyingkirkan lemak sapi dari publik Amerika—bahan rahasia kentang goreng McDonald—mengkonsekuensikan peralihan ke (Anda pasti dapat menebaknya), minyak nabati terhidrogenasi parsial. Namun cerita itu belum final.

Pada 1990-an, lemak trans yang digaungkan oleh AHA dan CSPI terlibat sebagai faktor risiko sentral untuk penyakit jantung. Studi baru sekarang mendedah bahwa lemak trans risikonya hanya dua kali lipat pada penyakit jantung untuk setiap peningkatan 2% kalori trans-lemak. Dengan separo perkiraan, trans-lemak bertanggung jawab atas 100.000 kematian.

Santapan’sehat-jantung’ yang direferesikan oleh AHA, sebenarnya memberi kita serangan jantung.

Ironis.

Pada November 2013, Badan Pangan dan Obat-obatan AS mengeluarkan minyak terhidrogenasi parsial dari daftar santapan manusia ‘Umumnya Diakui sebagai Aman’. Ya, AHA telah memfatwakan kita untuk menyantap racun selama beberapa dekade. Minyak biji industri, seperti biji kapas tinggi asam lemak linoleat omega-6. Asam linoleat disebut induk omega-6 lemak karena lemak omega-6 lainnya, seperti asam gamma linolenat (GLA) dan asam arakidonat terkonfigurasi darinya.

Selama masa evolusi, asupan asam linoleat hanya akan berasal dari hidangan utuh, seperti telur, kacang dan biji, sedangkan asupan omega-6 terisolasi dari minyak biji industri akan menjadi nol.

Namun, Crisco, memperkenalkan jenis asam linoleat yang diisolasi dan dicemari ke dalam makanan kita. Dengan demikian, asupan asam linoleat telah melonjak secara dramatis dan dari sumber yang nggak pernah dikonsumsi manusia sebelumnya.

Minyak biji omega-6 ini sekarang dapat ditemuin di hampir semua makanan yang diproduksi dan juga ditemukan di toko kelontong dalam botol plastik untuk memasak. Sayangnya, minyak ini sangat rentan terhadap panas, cahaya, dan udara dan ketiganya terpapar ketika diproses.

Jadi, sementara asam linoleat yang berasal dari hidangan utuh seperti kacang dan biji sebenarnya dapat bermanfaat, asam linoleat yang tercemar yang kedapatan dalam minyak biji industri tidak. Jadi bagaimana kita tahu lemak yang sehat, dan mana yang ‘melukiskan’ lemak enggak sehat?

Nggak heran, sih, lemak alami, baik yang berasal dari hewan (daging, susu) atau tanaman (zaitun, alpukat, kacang) umumnya sehat. Minyak nabati yang diproses sangat ‘luks’ dan ribet, cenderung tidak sehat. Mari kita tepas fakta-fakta—kita makan minyak sayur karena mereka MURAH, bukan karena mereka sehat.

“Asian Paradox”: Orang Asia Makan Nasi Begitu banyak Tapi Tetap Ramping

Halo, apa kabar kalian? Saya Sarah Sastrodiryo pemilik blog ini. Sudah lama kita berasumsi bahwa makan nasi bikin gemuk. Apakah benar faktanya begitu? Saking takutnya pada nasi dan karbo lainnya, akhirnya kita menghapus nasi untuk selama-lamanya.

Tetapi, jika memang begitu, nggak akan pernah ada istilah Asian Paradoks dong? Oleh karena itu, kali ini saya akan menerjemahkan tulisan dari Mark Sisson tentang Paradoks itu tadi. Cekidot.

By: Mark Sisson.

Manusia suka segala sesuatu yang berbau conterintuitive atau paradoks. Dengan ditemuin beberapa manifestasi dengan jumlah segepok adalah the eargerly point atau pokok, yang membuat kita bergairah untuk meriset. Lantas, kita membongkar bukti demi bukti, spesialnya, yang menyuport bagaimana cara kita makan, hidup, dan bergerak atau konsep:

  1. Eating.
  2. Living.
  3. Moving.

Sebelumnya kita telah membahas bagaimana The French Paradox atau Paradoks Perancis telah menggegerkan para ahli.

Dean Ornish akan menarik helai demi helai rambut yang kusut dan makan bekatul karena serangan tak langsung dari all smug surrender monkeys alias dari semua monyet-monyet bloon yang hobinya makan Brie, butter/ mentega, Duck Confit atau daging bebek super lemak dan  Gauloises yang menurut Mr. Dean akan menyebabkan serangan jantung.

Ada juga yang dinamakan Paradoks Israel atau Israeli Paradox, yang mana penyakit jantung meroket, terlepas dari fakta bahwa mereka mengonsumsi asam lemak omega-6, yang mereka klaim adalah minyak sehat.

Walter Willet mungkin ditemukan menangis di atas se-mug besar minyak Safflower ketika bangun.

Ada juga The American Paradox atau Paradoks ala Amerika, yang paling banyak memakan minyak jenuh tapi paling sedikit mengalami jantung koroner—ini membuat para periset bingung.

Semua paradoks memang merupakan hal yang mengejutkan.

Banyaknya scot-free dan omega-6 dari minyak sayur yang dilepaskan oleh minyak jenuh disapukan di atas arang pada saat barbeque, yang mungkin saja sudah teroksidasi.

Ini semua seharusnya bisa dijadikan alasan untuk mengevaluasi kembali kepercayaan jadul tentang kesehatan dan diet, jika seandainya kita semua mau jujur tentang hal ini.

Lalu, bagaimana dengan The Asian Paradox atau Paradoks ala Asia? Jika memang karbohidrat membuat Anda gemuk? Kok bisa sih mereka makan karbo banyak banget? Bagaimana mungkin mereka selalu langsing padahal makan nasi putih dan mie dengan porsi melimpah?

Bagaimana mereka makan karbo Portugal—porsi tukang gali— dan tetap ramping? Jangan-jangan karbohidrat nggak bikin gemuk?

First of all, saya memang akan mengkonfirmasi bahwa Asia makan banyak nasi. Statistik cukup jelas tentang konsumsi beras di Asia, orang western berasumsi bahwa nasi mungkin side dish atau lauk tambahan aja, bukan hidangan utama, tapi faktanya di Asia nasi memang santapan wajib.

Oleh karena itu, pada kali ini, saya akan menjelaskan mengapa Asian Paradox (seperti semua paradoks), aktualnya adalah bukan paradoks, dan mengapa saya menimbang ini cukup penting dan akan berdampingan dengan damai dengan primal paradoks yang lain.

Ini bagus. Karena Paradoks Asia justru ngasih kita kesempatan untuk mengevaluasi keyakinan kita selama ini.

Mereka bergerak lebih sering dengan ritme lambat

Di mana pun saya berada di kota besar dengan populasi imigran yang besar, saya notice ada pendekatan yang berbeda ketika mereka berjalan.

Baru-baru ini, saya dan Carrie mendatangi Golden Gate Park di San Fransisko, misalnya. Kami berdua menyadari perbedaannya, saat itu kami menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan dan tersesat.

Sumber Gambar

Memang ada banyak orang berjalan, jogging, dan aktif, tapi hanya orang Asia golongan tua yang tampak berolahraga dengan intensitas tinggi.

Exercising on purpose

Berolahraga dengan tujuan

Tujuannya:

  1. Membakar kalori.
  2. Meningkatkan VO2 max.

Nenek cina tua yang lewat menggunakan keds dan sweater rajutan, dan ibu muda mendorong stroller, celana legging ketat, topi baseball, dan sepatu lari trendy termutakhir.

Dengan earphone Bluetooth yang menancap di kuping, berbincang tentang bisnis, politik, masa lalu, dengan Bahasa lain, dua orang pelari yang kelihatan identik (sama-sama memakai sepatu Vibrams) dan mengenakan setelan rapih dan sepatu loafer.

Seorang pria asia yang sudah sepuh menggunakan kemeja berkerah, celana panjang katun atau slacks cruised pants dengan kecepatan sepuluh aja, sungguh sangat simple, dan sekelompok pengendara sepeda yang bisa lulus untuk kategori pro dilengkapi dengan gear, iklan-iklan dan sepatu spesial untuk bersepeda.

Untuk orang-orang Asia yang sudah tua atau the older Asian folks, mereka mayoritas berjalan mengandalkan kaki sendiri atau bersepeda, ini adalah cara untuk berpindah tempat dari sini ke sana.

Itu bukan karena ada acara khusus. Itu adalah kejadian sehari-hari. Itu normal. Bagi semua orang, ini adalah olahraga. Itu bukan acara besar di mana Anda harus prepare dan menghabiskan uang untuk ngerjain gituan.

Berjalan kaki dengan tujuan agar menjadi lebih sehat itu bagus, dan olahraga juga hebat, saya melakukan nyaris setiap saat. Asia yang sudah migrasi ke Amerika, dan orang Asia yang masih berada di negara asalnya memiliki perbedaan kultur yang cukup besar, itu berdasarkan pengamatan saya.

Orang-orang yang belum bermigrasi lebih aktif bergerak. Bukan berarti di negara asal mereka pergi ke gym centre, melakukan weight lifting dan lari sprint, hanya saja aktivitas harian rata-rata mereka memang lebih tinggi. Tindakan sederhana yang dilakukan secara rutin pasti bermanfaat untuk kesehatan, seperti yang sudah kita ketahui bersama.

Daily walking atau berjalan setiap hari dengan konsiten berasosiasi dengan beberapa benefit kesehatan yaitu:

  1. Meningkatkan sensitivitas insulin (sehingga lebih baik menoleransi karbohidrat seperti beras putih).
  2. Mood yang lebih baik.
  3. Menurunkan tekanan darah dan trigliserida.
  4. Dan umur panjang/ longevity.

Sudah seratus tahun Amerika telah menjadi negara mobil. Sudah lebih dari 50 tahun kita tidak harus berjalan kaki. Heck, seringnya kita nggak bisa berjalan kaki meski kita ingin, karena kita tinggal di suburban sprawl yang membutuhkan mobil untuk membeli grocery atau mengantarkan anak-anak ke sekolah. Sehingga, orang Amerika berjalan lebih sedikit dibandingkan dengan negara lain.

Sumber Gambar

Pada saat orang Asia mulai membeli lebih banyak mobil, kemana-mana naik kendaraan, tidak melakukan pekerjaan padat karya, saya curiga akan terjadi yang namanya:

  1. Intolerasi karbohidrat.
  2. Kanaikan lemak tubuh.
  3. Kesehatan umum memburuk secara umum.

It’s already happening, as you’ll see. Kamu lihat kan, ini sudah mulai kejadian, lho. Penentu terbesar untuk toleransi terhadap karbohidrat adalah level aktivitas harian.

Tetapi, meski di Amerika, untuk kota-kota yang nyaman untuk berjalan kaki dibandingkan menyetir seperti New York, masyarakat biasanya lebih sehat, lebih ramping dan berumur lebih panjang.

Sulit dipungkiri, sekarang segalanya telah berubah. Pada tahun 1989 65% of Chinese performed heavy labor, masyarakat Cina nggak lagi melakukan pekerjaan buruh di rutinitas sehari-hari.

Tahun 2000, proporsi mereka telah anjlok menjadi 50%—masih tetap unggul dibandingkan negara-negara western, tapi tren yang menurun jelas sangat terlihat. Proporsi obesitas meningkat pada tahun 2000.

Diet Makanan Bergizi yang Tidak Diproses

Gizi sangat tinggi di makanan tradisional Asia sudah jadi pengetahuan umum, nyaris semua orang tau mengenai hal itu.

Datangi restoran mie ala Vietnam, signature dari mereka adalah PHO, yang berisi:

  1. Kaldu tulang sumsum sapi buatan sendiri.
  2. Babat.
  3. Tendon.
  4. Brisket.
  5. Mie beras.

Pergilah ke restoran Thai kualitas tinggi bukan yang abal-abal, beli sup kaldu tulang dengan isi:

  1. Beberapa kubus darah babi.
  2. Sayuran hijau.
  3. Mie beras.
  4. Telur bebek.
Sumber Gambar

Pergilah ke restoran Cina dan pesan tumisan (sayangnya, minyak kedelai telah diganti dengan minyak jagung), ginjal babi, brokoli cina, nasi di sebelahnya.

Sekarang, datangi restoran Jepang, dan beli telur-salmon-tangkapan-liar yang digulung dengan rumput laut dan nasi, makarel sashimi, beberapa sup miso dengan potongan rumput laut.

Datanglah ke restoran barbekyu tipikal Korea yang berciri khas:

  1. Berlusin-lusin kimchi.
  2. Iga bakar pendek.
  3. Hati sapi.
  4. Hati sapi yang dibungkus selada.
  5. Nasi di sampingnya.

Nyaris di semua kultur, nasi memang selalu ada, tetapi faedah dari kaldu tulang (kontennya adalah kolagen), daging segar, kol fermentasi, jeroan, dan sayuran.

Beras tidak dibatalkan, emang sih nggak ada nutrisinya. Dan selalu eksis hampir pada semua sajian.

Of course, itu adalah makanan restoran. Tapi, jika Anda sangat penasaran, bagaimana rekan-rekan asia memasak, pergi ke supermarket dan perhatikan apa yang dibeli. Bahan pangan mereka nggak mewah atau plavorful, namun, sama bergizinya.

Berdirilah di meja kasir dan Anda akan melihat dua puluh jenis ikan: tiram hidup, kerang, kepiting, siput, bulu babi; seluruh pencernaan babi, seember kaki ayam, se-tas penuh daun herbal, sayuran eksotis seperti pare, makanan yang difermentasi, acar, selusin jenis sayuran akar, dan pastinya, nasi, dong.

Saya mengagumi kaki sapi tampan yang mengeluarkan kolagen dan sumsum yang sehat, dan membayangkan semua hidangan indah yang bisa dihasilkannya (sementara, mental  saya membandingkan isi stroller di pasar Asia dan standar grocery di standar Amerika, tebak siapa yang menang.)

Sudah banyak terjadi perubahan di kultur Asia:

  1. Asupan gula yang meningkat.
  2. Lemak babi dan gajih sapi digantikan oleh minyak jagung dan minyak kedelai.

Sekarang, jika Anda ingin mengisolasi nasi dari list nutrisi berat dan mengatakan, “terus ini tentang apa sih sebenernya?”

Nasi adalah makanan dengan konteks absolut mempunyai kadar gula yang rendah, NO HFCS—atau tanpa fruktosa, kandungannya hanya 55/45—kita seringkali berasumsi bahwa glukosa adalah penjahat nomor wahid, faktanya, fruktosa jauh lebih berbahaya karena ditimbun di organ hati. Fruktosa atau glukosa yang dipecah untuk HFCS adalah kekeliruan besar.

Padahal dulu di Asia:

  1. Konsumsi minyak nabati rendah.
  2. Memakan jeroan juga masih bisa diterima.

Jadi gini lho, katakanlah, memang ada fruktosa di dalam blueberry, tapi bukan berarti Anda mengutuk keseluruhan buah itu, dan mengatakan bahwa tidak melihat adanya vitamin di sana. Kita tetap harus fair, dengan menimbang seluruh komponen makanan.

Sumber Gambar

Similarly, Anda nggak akan mereduksi makanan tersebut hanya karena ‘cacat’ yang nihil, dalam hal menilai sesuatu jangan memakai pepatah, “nila setitik rusak susu sebelanga.”

Anda harus melihat seluruh gambar, faktanya, diet Asia mayoritas memang bergizi.

More Rice, Less Wheat

Lebih banyak nasi, sedikit gandum

Berkat monsoon yang regular atau musim hujan yang biasa, 90% budidaya beras yang diproduksi di dunia berlokasi di Asia. Karena kawasan ini terpapar beras lebih dari 10.000 tahun jadi mereka cenderung makan lebih banyak. Mereka sungguh beruntung, mereka bisa makan nasi, terutama nasi putih (yang sebagian besar merupakan makanan wajib di Asia).

Salah seorang teman saya dari Thailand yang tumbuh besar di USA, datang ke Hollywood pada tahun 60-an pernah berkata, “dedak itu untuk para ayam.”

Oleh karena itu, nasi adalah sumber glukosa non-toksik atau tidak beracun. Jika spektrum biji-bijian, yang mana gandum dan biji-bijian gluten lainnya selalu merupakan produk akhir, nasi dengan rileks sangat berlawanan.

Tetapi, ini nggak baik atau buruk. It just is. It’s pretty much neutral. Cukup netral. Terlepas apakah kamu bisa handle glukosa dalam jumlah banyak, namun, saya bisa pastikan bahwa bebas dari iritasi usus, asam fitat, dan lektin yang merusak.

Di sisi lain, jika makan gandum, dan kebetulan kamu punya alergi gluten, bibit dari agglutin, dan jumlah antinutrien yang mana digunakan untuk bersaing.

Ned Kock, seorang master (yang sayangnya kurang mendapat penghargaan), telah menulis serangkaian posting statistik tentang data studi China, menunjukkan, asupan beras diasosiasikan dengan reduksi penyakit kardiovaskular, sementara, intake tepung terigu berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.

Level konsumsi nasi berkorelasi dengan naiknya CHD, yang mana, bukan faktor utama. Semua sederajat, orang-orang yang lebih sehat meski makan nasi seember besar dibandingkan dengan makanan cepat saji gandum sebaskom.

Apakah warga Asia tetap sesehat dulu?

Sayangnya, warga Asia tidak sesehat dan tidak lagi panjang umur. China dan India menghadapi epidemi diabetes. Di Taiwan, Korea, Vietnam, dan Thailand, angka diabetes juga melambung.

Cuaca yang sempurna—hidup nyaman tenteram loh jinawi, makanan junk food yang penuh dengan karbohidrat dan lemak berbahaya, dan kualitas tidur yang jelek—yang telah menghancurkan Amerika dan negara-negara industrial hampir seabad mendorong setumpuk penyakit yang menghinggapi nyaris seluruh Asia.

Lemak hewan tradisional telah digantikan oleh minyak goreng, dan asupan gula melonjak. Orang-orang lebih banyak makan gandum dan jarang jalan kaki lagi.

Negara-negara Asia mempunyai BMI rendah yang misleading/ menyesatkan. Pada BMI yang sama, Asia lebih berlemak dibanding ras lain. Jadi, secara rata-rata, orang Amerika atau Kepulauan Pasifik dengan BMI 25 memiliki lemak tubuh lebih sedikit daripada orang Cina dengan BMI 25.

Nggak jelas apakah tingginya lemak tubuh (tapi BMI-nya rendah) berkorespondensi dengan naiknya beberapa penyakit, tetapi, ini menunjukkan bahwa BMI sangat tidak bisa dipercaya sebagai barometer apakah diet di negara tertentu itu apik atau tidak. Anda bisa tergolong kategori skinny-fat dengan BMI rendah—dan ini biasa terlihat pada orang-orang Asia.

Jadi, seperti yang udah-udah, fenomena the Asian Paradox jatuh sudah; sesungguhnya nggak ada paradox, Sob. Asia tetap langsing pada pola makan nasi segabruk karena mereka banyak melakukan aktivitas aerobik yang mana bisa meningkatkan sensitivitas insulin, plus, lauk pauk pendamping nasi sangat tinggi nutrisi, karena nasi rasanya netral.

Any questions? Fire away!