Cara Mengontrol Berat Badan dengan Metode Termometer

Sumber Gambar

Kalo Anda pikir berat badan yang sudah Anda pangkas itu akan bermukim selamanya, Anda sudah keliru berasumsi. Apalagi sampai Anda mengira, mempertahankan berat badan cukup dengan memenggal kalori di sana dan di sini, ini super meleset.

Kedengarannya sih, menjanjikan, tetapi, Anda tidak menembak basis dilemanya. Ribuan pelaku diet telah mengeluarkan air mata nanah, dan studi telah dilakukan sampai tak terhitung lagi jumlahnya. Mereka sangat putus asa dengan menghitung kalori, sama seperti Ebenezer Scrooge menghitung setiap sen yang dimilikinya.

Mengapa kita masih aja menutup mata tentang fakta bahwa saran diet yang dijejalkan para ahli nutrisi itu sia-sia belaka? Bukti ilmiahnya sama sekali tidak shahih. So, where are the studies that show that cutting calories causes long term weight loss? Jadi, coba tunjukan, studi mana saja yang sanggup mengekspos bahwa memotong kalori menyebabkan penurunan berat badan jangka panjang?

Setelah 50 tahun pesimis, dengan ribuan penelitian intensif, coba tebak, berapa banyak riset yang membuktikan keefektifannya? Bagaimana jika ternyata hasilnya adalah nol? That’s right,

Sumber Gambar

Zilch. Zero. Satu-satunya argumen menganggap strategi pengurangan-kalori-adalah-metode-jempolan, karena omongan ini sering diulang.

Ini seperti cerita Kuntilanak dan para kaumnya. Ketika saya masih kecil, saya bertanya pada ibu saya, “Jadi, di dunia ini ada sejenis makhluk seram sebangsa hantu bernama Kuntilanak, Genderuwo, Tuyul, yang gentayangan kalo kita sering main ke keluar rumah setelah magrib, Bu?”

By: Dokter Jason Fung (How to Control the Body Weight ‘Thermometer’)

Tetapi karena sering direpetisi, kisah-kisah ini mengantongi gelar ini-adalah-sebuah-fakta-yang-sejujurnya-nggak-pantes-bingit-bray. Kita semua tahu persis, Kuntilanak hanyalah mitos. Sesungguhnya, SIASAT JITU UNTUK MERAMPING adalah dengan mengontrol termostat tubuh kita, berdasarkan yang sudah ditetapkan oleh BSW. Apaan, sih, termostat itu? BSW? APA PULA ITU? Nama sebuah keripik singkong? Karena kita tinggal di negara tropis, mungkin kita nggak terbiasa dengan termostat. Jadi gini, lho, termostat ruangan mengatur suhu kamar yang Anda inginkan, di musim panas, ketika suhu di luar panas menyengat, termostat akan mengubahnya secara mekanis menjadi AC atau Air Conditioner.

Sumber Gambar

Di musim dingin, karena alat mendeteksi suhu dingin telah melampaui batas, secara otomatis si alat akan menyalakan panas. Rumah Anda tetap pada suhu yang paripurna meskipun kondisi luar sangat bervariasi. Dalam tubuh kita, kita memiliki BSW, juga disebut appestat atau obesistat, pada dasarnya pengatur suhu untuk lemak tubuh.

Beberapa orang percaya bahwa kita dirancang untuk melahap segala sesuatu di depan wajah kita dan karena masa kini makanan tersedia dengan gampang, kita tidak punya pilihan selain menimbun berat badan. Ini ngawur dan mengabaikan fisiologi manusia normal mentah-mentah. Sebaliknya, kita memiliki beberapa mekanisme kenyang yang tumpang tindih dan masif untuk mengerem makan.

Sumber Gambar

Kita memiliki reseptor peregangan di perut kita untuk memberi sinyal ketika makanan terlalu berjejal di perut. Kita memiliki hormon kenyang yang perkasa seperti:

  1. Peptida YY dan,
  2. Cholecystokinin yang menyudahi kita dari makan.

Pikirkan tentang saat Anda makan munjung banget ketika prasmanan, menumpuk hidangan di piring sampai luber. Apakah Anda bisa nambah dua potong daging lagi, hanya karena mereka tersuguh dan gratis. Pikirkan tentang restoran-restoran yang akan mentraktir Anda makanan gratis jika Anda dapat makan 40 ons steak dalam 1 jam. Apakah mereka akan bangkrut dalam waktu sekejap?

Tidak. Karena ultra sulit untuk menelan lagi setelah si perut pol. Padahal ini adalah daging atau steak yang sama persis dengan daging yang kita kunyah beberapa menit yang lalu lho, tapi kenapa sulit sekali menelan sepotoooooooong lagi aja. Dari sudut pandang evolusi, mekanisme kenyang ini super masuk akal. Tubuh kita dirancang untuk konsisten berada di dalam parameter lemak tubuh yang spesifik.

Jika Anda ceking bingit, Anda akan mati selagi masa-masa sulit (musim dingin). Jika Anda terlalu gembrot, Anda tidak akan bisa meringkus mangsa. Hewan liar nyaris tidak pernah menjelma tambun bengkak sampai nggak bisa berfungsi lumrah. Di mana Kijang obesitas tidak sehat? Karibu? Singa? Harimau? Ikan?

Sumber Gambar

Ketika makanan bergelimang, jumlah hewan melambung. Anda tidak menjumpai beberapa tikus tembem yang tidak fit. Anda menangkap ribuan tikus berukuran relatif purata atau biasa aja. BSW menetapkan adipositas atau jumlah lemak tubuh ideal-yang-kukuh-seperti-batu-karang seperti termostat rumah kita. Jika kita terlalu kurus, kita mencoba menabung berat badan.

Jika kita gemuk sekali, kita berusaha melorotkan berat badan. Demonstrasi eksperimental paling transparan ini dilakukan oleh Dr. Rudy Leibel pada tahun 1995. Dalam eksperimen ini dia mendaulat relawan, dan lantas para voluntir ini makan secara bombastis untuk mencetak estra lemak sebanyak10%, dan angka di penimbang merayap. Kemudian dia membalikkan ke berat badan yang regular, lalu selanjutnya menjadi 10% atau 20% bobot badan awal.

Pada setiap titik, ia mengukur tingkat metabolisme basal (BMR), atau berapa banyak energi (kalori) yang dicampakkan oleh tubuh. Setelah berat badan menanjak sekitar 10%, tubuh membakar sekitar 500 kalori per hari lebih banter dibandingkan dengan baseline. Ketika tubuh meretur ke berat semula, begitu juga peringkat metabolisme. Setelah 10% berat badan anjlok, tubuh membakar sekitar 300 kalori tiap hari kian sedikit.

Tubuh bertarung sangat keras untuk mempertahankan BSW-nya di posisi semula, beraksi laksana termostat di rumah kita. Hal ini secara direct bentrok dengan pandangan-pandangan Kalori Masuk/ Kalori Keluar (CICO) salah kaprah yang menafsirkan bahwa ‘mengoplos’ terlalu banyak kalori merupakan bibit kegemukan tubuh tanpa memonitor BSW atau hormon kenyang atau sinyal yang cukup berjibun atau simptom fisiologis lainnya.

Sumber Gambar

Jika Anda sengaja makan ekstrem, tubuh Anda akan pontang-panting serta menjajal membakar dengan membabi buta. Kalori bukanlah inisiatif fisiologis, seperti yang telah kita ulas sebelumnya. Tubuh kita tidak mengantongi reseptor ‘kalori’ dan nggak paham berapa banyak kalori yang kita kunyah atau nggak kita kunyah.

Selama separo abad terakhir, kita telah mendobrak misteri jalur metabolisme manusia berlipat-lipat jumlahnya. Apakah Anda melihat ‘kalori’ yang disitir di MANA SAJA dalam diagram rumit ini? Kalori karbohidrat dimetabolisme berlainan dan bersifat beda-absolut dari lemak atau protein. Jadi mengapa berpura-pura mereka identik?

Ini seperti mengatakan bahwa manusia dan batang pohon memiliki fisiologi yang sekufu karena kita memiliki bobot yang sama dan akan menghasilkan panas yang ekuivalen jika dibakar dalam kalorimeter. Mengimani gagasan yang benar-benar konyol ini adalah kepingan kapital teka-teki dari mengapa kita kalah perang terhadap obesitas.

Sumber Gambar

Gagasan tentang ‘Kalori adalah kalori’ sebagian besar disokong oleh perusahaan makanan olahan yang mencoba mencekoki Anda bahwa boleh-boleh saja menukar 100 kalori alpukat dengan Coke.

Anda harus cukup bernas untuk meyakininya. Untuk perusahaan makanan, model kalori (kalori masuk dikurangi kalori keluar) sama seperti cerita Kuntilanak. Selama mereka membuat orang percaya, itu bagaikan film hantu akan terus mengalir. Mereka dapat menjual minuman manis dan memberi tahu orang-orang dengan wajah polos bahwa 100 kalori gula sepadan dengan 100 kalori buncis. Bubuhkan pemanis buatan pada semua minuman Anda.

Ia tidak memiliki kalori, jadi kita bisa menipu selera kita, tetapi bisakah kita menipu appestat kita? Nggak, dong. Mustahil itu.

Mengapa ‘Pengurangan Kalori sebagai Trik Kece’ adalah Metode Impoten


Misalkan termostat rumah kita diatur ke 25 derajat celcius, tetapi kini kita ingin berada di 16 celcius. Karena kita nggak tau,  kita mengabaikan termostat, lantas kita malah mencolok AC portabel. Pada mulanya, suhu turun menjadi 16C tetapi kemudian termostat menyalakan panas untuk mengembalikan ruangan ke 25C. Kita nggak demen itu, gerah, bos. Jadi kita menyetel AC kedua dan ketiga.

Termostat menyahut dengan mengubah panas pada ledakan maksimal. Kita terus bergulat dengan membangkang pada tubuh kita sendiri dalam taktik yang bahlul. Yah, itu nggak cespleng.

Sumber Gambar

Apa solusi yang lebih simplistis? Matikan termostat. Ini analogi metode-menyusutkankalori-dengan-tujuan-melangsing-terbukti-tidak-jitu, karena sepenuhnya menganaktirikan BSW. Misalkan BSW kita dikukuhkan pada angka 60 KG, tetapi kita ingin berat 50 KG. Saran konvensional mewartakan kita untuk memangkas 500 kalori per hari agar bisa melenyapkan lemak sebanyak 1 pon setiap minggu. Awalnya berat badan tergelincir menjadi 55 KG, tetapi kemudian appestat kita turun tangan untuk memicu berat badan menanjak. Kita menjadi lebih lapar dan metabolisme basal menjadi gontai lantas kita membulat lagi.

Jadi kita berusaha lebih gigih dengan memotong lebih berlipat-lipat kalori. Tetapi tubuh kita merespons dengan membuat metabolisme kita menjadi lelet. Kita terus angkat senjata dan berseteru dengan diri kita sendiri dalam upaya sia-sia untuk meramping. Yah, itu gagal total.
Apa solusi yang lebih simpel? Bekukan apestat atau BSW. Bagaimana cara menggarapnya? Baca terus, teman.

Berat Badan ‘Termostat’

Jadi bagaimana formula kerja apestat? Ingat bahwa obesitas adalah penyakit yang kausanya adalah insulin yang kelewatan, bukan kalori yang berlebihan. Ini adalah ketidakseimbangan hormon, bukan kalori. Jika Anda tidak akrab dengan ide-ide ini, Anda dapat menemukan rincian dalam tulisan-tulisan sebelumnya.

Sumber Gambar

Insulin mengulurkan sinyal tubuh kita untuk mengendapkan energi makanan dalam timbunan lemak tubuh. Ketika kita berpuasa, dan insulin turun, kita membakar sebagian dari energi yang tersimpan dan inilah mengapa kita tidak mati dalam tidur kita setiap malam. Ya, kita bisa bertahan tanpa memasukkan kue cucur ke mulut kita setiap 2 jam. Sebuah termostat berfungsi pada loop umpan balik negatif.

Jika suhu terlalu minor, termostat menstarter panas sampai menggapai suhu yang tepat dan kemudian mandek. Tubuh juga mengaplikasikan loop umpan balik negatif di BSW. Insulin yang berlimpah-limpah menyebabkan ukuran sel-sel lemak membengkak. Mereka menelurkan lebih banyak hormon leptin yang beringsut ke otak dan memberi sinyal bahwa ‘kita terlalu tambun.

Nafsu makan menukik, kita pensiun makan, dan ini menurunkan insulin. Ini menandakan tubuh kita mulai memanggang lemak daripada makan dan mengemasi dan mendeportasi kita ke BSW asli kita yang diinginkan. Lingkaran umpan balik ini membentengi berat badan kita relatif stabil meskipun terdapat fluktuasi yang luas dalam penyetoran kalori dan penyingkiran kalori hari demi hari, minggu demi minggu, dan tahun demi tahun.

Setelah semua proses itu, mayoritas orang menjadi gemuk dengan mengindra 1-2 gram per tahun. Lebih dari 40 tahun, ini bisa membengkak. Asumsikan bahwa 1 gram lemak tubuh adalah sekitar 3500 kalori. Dalam setahun, kita mungkin makan 2000 kal/ hari kali 365 hari = 730.000 kalori. Untuk menangkap 1 gram setahun (3500 kalori), kita perlu secara akurat menyinkronkan asupan kalori dan pengeluaran ke tingkat akurasi 99,5%.

Itu imposibel, Bung.

Saya telah makan sejak berusia 6 bulan, tapi saya tidak tahu berapa banyak kalori yang saya makan dan berapa banyak yang ludes dibakar tubuh. Bagaimana cara mengawal tingkat akurasi 100%? Jelas, saya tidak bisa melakukan ini melalui sistemasi sadar asupan/ edukasi makanan saya.

Sayang, lemak tubuh diatur oleh prosedur umpan balik—‘termostat’ BSW. Oleh karena itu, obesitas bukan masalah ekuilibrium kalori, melainkan peningkatan berjenjang dalam termostat BSW (appestat) dari waktu ke waktu. Mari kita lirik cara kerjanya.

Kegemukan

BSW dibikin oleh kesetimbangan efek insulin versus efek leptin, seperti termostat yang diatur oleh harmoni panas melawan pendinginan. Pada mereka yang melakoni obesitas, kita tahu bahwa efek insulin telah melibas efek leptin. Sebagai contoh, jika kita menyuntikkan insulin eksogen, kita menimbun lemak karena kita telah memiringkan harmonisasi terhadap insulin.

Pada obesitas manusia normal, ini bisa lantaran oleh sejumlah alasan, tetapi mengonsumsi makanan biji-bijian-olahan tingkat dewa, sering makan, makan gula bejibun (menyebabkan resistensi insulin hepatik secara langsung) adalah penyulut dasar, yang pada akhirnya mengayomi kadar insulin tetap tinggi, meskipun leptin sudah melakukan upaya sekeras tenaga kuda dengan mengurangi nafsu makan, dengan tujuan untuk mencopot insulin.

Sumber Gambar

Kedua hormon berat ini yang memantau persentase lemak tubuh adalah gaplokan tubuh bolak-balik, saling meninju. Jika leptin unggul, maka nafsu makan tekor dan/ atau meningkatkan tingkat metabolisme basal sehingga tubuh sanggup membakar ekses kalori yang dimakan.
Inilah yang kami lihat dalam studi Rudy Leibel tentang akumulasi berat badan yang disengaja.

Tetapi obesitas adalah penyakit yang disebabkan oleh terlalu banyak insulin—hiperinsulinemia. Jika Anda mengalami obesitas, itu karena insulin juara atas leptin. Ketika sel-sel lemak tetap terisi ekstensif, buntut mereka lebih banyak dan leptin lebih melimpah dalam upaya menghajar insulin.

Ini akan akan terakomodasi terus menerus dalam Battle Royale. Dan memang, selama separo dekade kondisinya kan berulang lagi dan lagi. Tetapi, masalah akar hiperinsulinemia belum remuk (makan terlalu banyak gula, karbohidrat olahan terlalu melimpah, makan terus-menerus), jadi insulin juga terus berbaris lebih jenjang. Dan tingkat hormon yang semampai menyebabkan resistensi.

Alhasil, tingkat leptin yang tinggi dan kontinu menyebabkan resistensi leptin. Tingginya level insulin yang jangkung menyebabkan resistensi insulin. Tetapi prosesnya sama aja—tingkat leptin tinggi yang persisten menyebabkan resistensi leptin. Resistensi leptin ini nyaris universal pada obesitas komunal.

Jika leptin turun tangan dan keluar, insulin ini dilawan untuk melahirkan kenaikan berat badan. Pertempuran insulin vs leptin telah gugur, dan termostat BSW diset balik ke atas. Jadi, apa jawabannya? Misalkan kita membonceng saran diet standar untuk menyunat lemak makanan, memangkas kalori tetapi menyantap banyak karbohidrat dan makan 6 atau 7 kali per hari.

Karena lemak makanan memiliki sejumput efek insulin, strategi deklinasi kalori ini tak meredam efek insulin dan tidak ada bedanya dengan Insulin vs Leptin. Emang bener, sih, Anda dapat mencacah kalori, tetapi tidak, Anda tidak merampingkan risiko insulin. BSW tidak goyah dan tubuh kita mati-matian menjajal untuk menangkap kembali berat yang tandas.

Inilah advis diet yang disodorkan selama 40 tahun, meski tampak bungsu, tapi basinya sungguh spektakuler. Dahar dengan frekuensi sering berarti stimulasi konstan insulin, yang juga memberatkan upaya melandaikan berat badan.

Kunci untuk berseteru dengan obesitas, kemudian adalah berkontributif dalam memberontak pada hormon tubuh. Jadilah insulin vs Leptin, dengan tujuan membuat insulin menukik. Seluruhnya tercangkel padanya. Leptin sudah mentok.

Sumber Gambar

Satu-satunya yang tersisa adalah menyurutkan insulin. Bagaimana cara menggarapnya?
1. Makan gula dalam porsi miniatur.

2. Biji-bijian halus dibuat minus.

3. Protein moderat.

4. Lemak alami yang banter.

5. Jangan makan setiap waktu (durasi makan definit atau puasa intermiten).

6. Menyetop ngemil.

7. Mengonsumsi makanan yang nggak diolah yang bukan artifisial (lebih daif dalam efek insulin)

Lucu. Itu persis sekotak saran tanpa basa-basi yang akan diutarakan nenek Anda. Lemak Sehat Rendah Karbohidrat + Puasa Intermiten. Boom! Ledakan maksimal!